PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mengelola sumber daya alam dengan baik, bertanggung jawab, berkelanjutan dan adil akan menjamin bahwa kekayaan tersebut bermanfaat bagi banyak pihak, bukan hanya segelintir orang saja. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik di darat maupun di laut. Pemanfaatan sumber daya alam yang ada di Indonesia baik hayati maupun non hayati tidak lain hanyalah untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beragam kekayaan potensi alam. Pariwisata merupakan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi suatu daerah yang mengelola sumber daya alam. Hal ini pula yang dilakukan pemerintah Kabupaten Enrekang untuk meningkatkan potensi wisata alam di Kabupaten Enrekang.
Berdasarkan uraian di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian untuk memperoleh data pengelolaan sumber daya alam yang lebih akurat mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar objek wisata. Implementasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Dalam Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Wisata Pinus Dante Kabupaten Enrekang).
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dampak sosial ekonomi masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya alam wisata Pinus Dante di Kabupaten Enrekang.
Manfaat Penelitian
Definisi Operasional
Sumber daya alam non hayati/abiotik adalah sumber daya alam yang berasal dari benda mati. Sumber daya alam akan benar-benar bermanfaat apabila pemanfaatannya lebih berkaitan dengan kebutuhan manusia, karena pengelolaan yang kurang memperhatikan kebutuhan manusia tidak hanya akan merusak lingkungan sekitar, namun juga akan menjadi bumerang bagi kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya alam harus berdasarkan prinsip berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Contoh Pengelolaan Sumber Daya Alam antara lain; pengelolaan sumber daya alam pada sektor pertanian, sektor industri, sektor pertambangan, sektor pariwisata dan lain-lain. Masyarakat adalah sekelompok orang yang mempunyai hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain melalui suatu hubungan yang tetap atau suatu kelompok sosial yang besar yang mempunyai beberapa wilayah dan tunduk pada kekuasaan dan kebudayaan yang sama. Secara umum pariwisata merupakan suatu kegiatan rekreasi di luar tempat tinggal seseorang untuk melepaskan diri dari rutinitas pekerjaan dan mencari lingkungan yang berbeda.
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009, “Pariwisata adalah berbagai kegiatan wisata yang didukung fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Pariwisata adalah suatu istilah yang berarti bahwa seorang wisatawan melakukan pekerjaannya sendiri, atau dengan kata lain kegiatan dan peristiwa yang terjadi pada saat pengunjung melakukan perjalanan.
KAJIAN PUSTAKA
Pengelolaan Sumber Daya Alam
Singkatnya, sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan juga sumber daya alam non hayati (abiotik), yaitu benda mati seperti air, tanah, tambang, mineral dan lain-lain. 2). Berdasarkan potensinya yaitu (a) sumber daya alam yang berwujud yaitu sumber daya alam yang dimanfaatkan dalam bentuk fisik.
Yaitu berdasarkan tujuannya, (a) sumber daya alam, bahan industri, sumber daya alam yang umumnya dijadikan bahan baku atau bahan baku industri, misalnya tanah liat, belerang dan sebagainya. Berdasarkan potensinya yaitu sumber daya alam material, sumber daya energi alam, dan sumber daya data alam di antariksa. Berdasarkan tujuannya yaitu sumber daya alam bahan industri, sumber daya alam pangan dan sumber daya alam sandang.
Akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak bijaksana dalam arti tidak memperhitungkan faktor lingkungan hidup, maka akan timbul permasalahan besar bagi masyarakat itu sendiri (Yasin, 1995: 165). Kesimpulannya, pengelolaan sumber daya alam merupakan upaya terstruktur secara sistematis yang dilakukan untuk melestarikannya.
Konsep Pariwisata
Perubahan terjadi sebagai akibat dari campur tangan pihak luar, umumnya dari sistem sosiokultural yang lebih unggul dibandingkan dengan budaya penerima yang lebih lemah; Lebih lanjut ia menyarankan dengan melihat pengaruh pariwisata terhadap masyarakat (kebudayaan) lokal, maka harus disadari bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang bersifat internal, aktif dan selalu berubah. pengaruh', yang kemudian diintegrasikan dengan masyarakat, dimana masyarakat mengalami proses menjadikan pariwisata sebagai bagian dari budayanya, atau yang dikenal dengan proses 'touristifikasi'. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai potensi alam yang besar, baik daratan maupun lautan (pantai).
Kondisi tanah yang subur menjadikan Indonesia menjadi pusat perhatian kelompok manusia untuk menetap dan mengembangkan usahanya masing-masing, sedangkan potensi perairan berupa lautan dan pantai menjadi salah satu tempat wisata yang banyak digandrungi wisatawan mancanegara. Banyaknya wisatawan dengan intensitas tinggi berkunjung ke Indonesia merupakan salah satu manfaat yang dapat meningkatkan devisa negara bagi pembangunan bangsa dan negara (Marliastri, 2015: 17). Kata sosial berasal dari bahasa latin socius yang berarti teman, Yang dimaksud dengan teman disini adalah orang-orang di sekitar kita yang hidup dalam lingkungan tertentu dan mempunyai ciri-ciri yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Ukuran yang digunakan didasarkan pada satu atau kombinasi yang mencakup tingkat pendapatan, pendidikan, prestise atau kekuasaan. Sosial adalah orang-orang di sekitar Anda yang hidup dalam lingkungan tertentu dan mempunyai ciri-ciri yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Teori Pertukaran
Pengelolaan pariwisata dengan demikian harus beradaptasi dengan lingkungan, dengan tujuan ke depan dan menjaga budaya yang ada di masyarakat. Teori pertukaran ini erat kaitannya dengan dampak sosio-ekonomi dalam pengelolaan pariwisata karena pariwisata menyediakan tempat peristirahatan spiritual dan fisik bagi segelintir orang dan menciptakan interaksi antara orang-orang yang memberikan jasa pariwisata dan orang-orang yang ingin menikmati jasa pariwisata dengan imbalan uang. Penukaran uang untuk layanan ini akan berdampak sosial ekonomi pada orang-orang yang terlibat dalam interaksi tersebut.
Kerangka pikir
Apabila dampak sosial ditunjukkan melalui pola interaksi antara pengunjung wisata Pinus Dante dengan masyarakat sekitar Wisata Pinus Dante, maka dampak ekonomi dapat digambarkan melalui tingkat pendapatan pengelola wisata Pinus Dante.
Hasil Penelitian Terdahulu
Informan penelitian ditentukan melalui purposive sampling, dan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah desa dan perusahaan desa “Berjo” mendapat tanggapan berbeda dari para pelaku wisata di kawasan air terjun Jumug. Wisatawan yang berada di kawasan Air Terjun Jumug merupakan pedagang makanan, pemilik usaha, dan pemilik tempat parkir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan tempat wisata minor seperti pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan sumber daya manusia sepenuhnya dikelola oleh pihak swasta. Sementara itu, Pemerintah Desa Kelengger mengelola kontribusi yang diraih oleh objek wisata kecil yang memberikan dampak sosial ekonomi terhadap keadaan masyarakat. Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Objek Wisata Maros Water Park Isu Pattunuang di Kabupaten Maros.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Maros Waterpark memberikan dampak sosial dan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Kebaruan penelitian penulis dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Marliastri adalah penelitian yang akan penulis lakukan ini akan membahas tentang bagaimana implementasi pengelolaan sumber daya alam terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar wisata Pinus Dante di Kabupaten Enrekang.
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Fokus Penelitian
- Informan Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Teknik Keabsahan Data
- Etika Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat diketahui bahwa kawasan wisata Pinus Dante termasuk ke dalam kawasan kehutanan. Objek wisata Pinus Dante di Kabupaten Enrekang mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang berkunjung.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak Geografis
Letak Geografis Kabupaten Enrekang Terletak di jantung Semenanjung Sulawesi Selatan yang berbentuk seperti hati pada peta batas wilayah. Jarak ibu kota provinsi Sulawesi Selatan (Makassar) ke kota Enrekang melalui jalan darat adalah 235 km. Kabupaten Enrekang terletak di daerah pegunungan, terdiri dari pegunungan dan perbukitan yang bersambung, meliputi ±85% dari seluruh wilayah Kabupaten Enrekang, seluas Km atau 2,92 dari seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.
Kabupaten ini terbagi menjadi 12 kecamatan dan secara umum terbagi dalam satuan wilayah kecil yaitu terdiri dari 129 desa/kelurahan. Wilayah Berdasarkan Kecamatan Di Kabupaten Enrekang Tahun 2019 No. Nama Kecamatan Luas (km2) Persentase. Berdasarkan Tabel 4.1 terlihat bahwa Kecamatan Maiwa mempunyai luas wilayah terluas yaitu 392,82 km2 (22%) sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Alla dengan luas wilayah 34,88 km2 (1,94%).
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa Desa Salu Dewata mempunyai wilayah terluas yaitu 13,15 km2, sedangkan yang terkecil adalah Desa Saruran dengan luas 4,10 km2. Penelitian dilakukan di Desa Lakawan, salah satu wilayah administratif di Kecamatan Anggeraja, yang terletak di pusat Kecamatan Anggeraja.
Keadaan Penduduk
Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan hal yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian agar masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan yang baik. Tabel di atas menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan di Kecamatan Lakawan yang hanya tersedia 1 Puskesmas dan 1 unit RS Anggeraja telah memberikan dampak yang besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Lakawan. Kecamatan.
Keadaan Pendidikan
Di Kecamatan Lakawan jika dilihat dari tingkat pendidikannya masih tergolong pendidikan rendah, mungkin karena kesadaran mereka terhadap pendidikan masih kurang dan kondisi geografis yang masih jauh. Dari tabel diatas terlihat bahwa kesadaran masyarakat di Kecamatan Lakawan akan pentingnya pendidikan masih tergolong rendah. Terlihat dari 1.539 jiwa masyarakat, hanya 22 orang yang berpendidikan sarjana, 808 orang tamat SD, 385 orang tamat SD, 168 orang tamat SMP, dan 156 orang tamat SMA.
Sarana pendidikan di Kecamatan Lakawan hanya terdapat 2 (dua) taman kanak-kanak dan 3 (tiga) sekolah dasar (SD), terdapat 1 (satu) sekolah menengah pertama dan 2 (dua) sekolah menengah atas.
Gambaran lokasi wisata dante pine
Dari hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa kawasan wisata Pinus Dante termasuk dalam kawasan kehutanan. Berkembangnya Wisata Pinus Dante juga membawa perkembangan perekonomian bagi pengelola tempat wisata ini.