Nama : Thesa Genuita br Ginting Nim : 502320310010
Jamin Ginting
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Drs. Jamin Ginting Suka atau dikenal sebagai Jamin Ginting merupakan pahlawan yang berasal dari Karo. Beliau lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kabupaten Karo. Jamin Ginting adalah anak dari Lantak Ginting dan Tindang br Tarigan.
Jamin Ginting memulai pendidikannya pada tahun 1927 di Sekolah Volkschool atau sekolah rakyat di desanya. Setelah itu, Ia pun melanjutkan pendidikannya ke Vervolgschool di tahun 1930. Pada tahun 1936, Jamin ginting melanjutkan pendidikan di Ivoorno Institut dan lanjut ke Handelschool untuk belajar kewirausahaan. Sayangnya Ia tidak dapat meneruskan sekolahnya karena pemerintah Jepang menutup sekolah yang didirikan pemerintah Belanda. Karena itu beliau sempat bekerja di sebuah kantor di Medan tetapi banyaknya tekanan yang diberikan Jepang padanya, dan membuatnya pulang ke Berastagi.
Selain ilmu pengetahuan, beliau juga memperdalam ilmu militernya. Jamin Ginting mengikuti pendidikan calon perwira di Siborong-borong pada tahun 1943 dan mendapatkan pangkat Letnan. Lalu, beliau melanjutkan pendidikan militer di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Medan.
Jamin Ginting pernah bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat Kabanjahe dimana badan tersebut dibentuk oleh pemerintahan Indonesia. Jamin Ginting bersama teman- temannya yaitu Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamet Ketaren dan beberapa lainnya muncul sebagai kelompok pejuang Sumatera Utara. Di akhir masa baktinya, Jamin ginting diutus menjadi Duta Besar Indonesia di Kanada. Dan pada tanggal 23 Oktober 1974, Jamin Ginting menghembuskan nafas terakhirnya di Ottawa. Jamin Ginting meninggalkan istrinya yaitu Likas br Tarigan. Jamin Ginting dan Likas br Tarigan mempunyai 5 anak. Jamin Ginting menulis beberapa buku, contohnya adalah “Bukit Kadir” yang ia tulis bersama Payung Bangun. Buku tersebut menggambarkan bagaimana situasi pertempuran di desa Suka, Tigabinanga sampai ke daerah Medan dan sekitarnya.
Untuk mengenangnya didirikanlah Museum Jamin Ginting. Museum ini dibangun di desa Suka dan diresmikan pada September 2013 oleh Purnomo Yusgiantoro yaitu Menteri Pertahanan Indonesia.
Keunikan museum Jamin Ginting terletak pada bentuk bangunan tersebut yang berbentuk seperti kacang tanah. Bentuk tersebut dianalogikan seperti Jamin Ginting yang semasa hidupnya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, gigih dalam menggali ilmu pengetahuan dan kemiliterannya tetapi tidak membuat beliau melupakan desa kelahirannya.
Di luar bangunan museum terdapat patung besar Jamin ginting yang dibelakangnya terdapat kain khas karo yaitu beka buluh atau kain yg sering digunakan oleh para pria yang memiliki keturunan darah karo.
Museum tersebut terdiri atas 2 lantai berisi barang-barang pribadi dari beliau. Barang tersebut seperti alat memasak yang digunakan oleh istri Jamin Ginting yaitu Likas br Tarigan, senjata yang digunakan saat Jamin Ginting seperti, pakaian pribadi, alat tenun, tak lupa juga dan pakaian adat karo.
Pada dinding museum ini terdapat foto – foto beliau sewaktu beliau sedang mengikuti sekolah kemiliteran dan foto bersama teman seperjuangannya. Bahkan ada foto saat pemakaman beliau di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Terdapat juga foto keluarga beliau lengkap dengan kelima anaknya. Di dekat foto keluarga, ada juga susunan keluarga besar Jamin Ginting.
Pada lantai 2, terdapat beberapa cindera mata yang didapatkan oleh Jamin Ginting saat berkunjung ke negara lain. Seperti peralatan teh yang diberikan oleh pemerintah Turki dan Wakizashi yang ia dapatkan dari Jepang. Ada juga tongkat komando yang digunakan beliau sebagai pelengkap kepemimpinannya.
Ada juga kertas yang berisikan riwayat hidup Jamin Ginting. Dimulai dari sekolahnya, pangkat yang ia dapatkan serta jabatan beliau. Disebelahnya terdapat sebuah juga piagam penghargaan yang didapatkan Jamin Ginting atas jabatannya sebagai Duta Besar RI di Kanada.