JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
YULIA FITRI ASTUTI
CGP ANGKATAN 10
KABUPATEN PATI JAWA TENGAH TAHUN 2024
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI
AKADEMIK
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK Salam dan Bahagia
Refleksi Model DEAL: Coaching untuk Supervisi Akademik Description (Deskripsi)
Apa: Saya telah melaksanakan coaching dengan seorang rekan guru IPA di SMPN 1 Trangkil. Tujuan coaching adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris melalui penggunaan media pembelajaran yang lebih variatif.
Siapa: Saya sebagai coach dan rekan guru tersebut sebagai coachee.
Di mana: Coaching dilakukan di ruang Lab IPA SMPN 1 Trangkil.
Kapan: Coaching dilaksanakan pada hari Senin setelah jam pelajaran selesai.
Mengapa: Coaching dilakukan untuk membantu rekan guru mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mengajar Bahasa Inggris dan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Bagaimana: Proses coaching dilakukan dengan mengikuti alur TIRTA.
Saya memulai dengan mendengarkan secara aktif keluhan dan harapan rekan guru, kemudian bersama-sama kami mengidentifikasi masalah yang ingin dipecahkan. Setelah itu, kami merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyusun rencana aksi, dan menyepakati waktu untuk evaluasi.
Examination (Analisis)
Sebelum melaksanakan coaching, saya telah menyusun rencana yang berfokus pada pengembangan kompetensi rekan guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik siswa. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar rencana dapat tercapai. Rekan guru berhasil mengidentifikasi
beberapa media pembelajaran yang potensial untuk digunakan.
Namun, dalam merumuskan rencana aksi, masih terdapat beberapa kendala yang perlu diatasi, seperti keterbatasan waktu dan sumber daya.
Articulation of Learning (Pembelajaran dan Rencana Perbaikan) Melalui pengalaman coaching ini, saya belajar bahwa proses coaching membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Selain itu, penting untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi coachee agar mereka merasa bebas untuk berbagi ide dan
pemikiran.
Untuk perbaikan di masa mendatang, saya akan:
Meningkatkan kemampuan bertanya: Saya akan melatih diri untuk mengajukan pertanyaan yang lebih terbuka dan menantang sehingga coachee dapat berpikir lebih kritis.
Memperkuat kolaborasi: Saya akan melibatkan lebih banyak rekan guru dalam kegiatan coaching agar dapat saling belajar dan berbagi pengalaman.
Memanfaatkan teknologi: Saya akan menggunakan platform digital untuk mendukung proses coaching, seperti Google Meet atau Zoom, sehingga coaching dapat dilakukan secara fleksibel dan efisien.
Kesimpulan
Model DEAL memberikan kerangka yang sangat berguna untuk merefleksikan pengalaman coaching. Dengan menggunakan model ini, saya dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan coaching, serta merumuskan rencana perbaikan yang lebih terarah. Saya berharap dengan terus belajar dan berlatih, saya dapat menjadi coach yang lebih efektif dalam mendukung pengembangan profesional rekan guru.