• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus Penyimpangan di Pendidikan

N/A
N/A
Elisa 30

Academic year: 2024

Membagikan "Kasus Penyimpangan di Pendidikan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN

“KASUS PENYIMPANGAN DI PENDIDIKAN”

DISUSUN OLEH:

1.PUTRI NUR FATHONAH 2.ELISA

3.SOFIATUL AINI 4.EKA AVRILYRA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

TAHUN 2022/2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.Atas rahmat dan

hidayah-Nya,kami dapat menyesaikan tugas makalah yang berjudul

“KASUS PEYIMPANGAN DIPENDIDIKAN’’

Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Pendidikan.Selain itu,makalah ini bertujuan menambah wawasan para pembaca agar dapat memahami apa materi yang kami sampaikan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.Yayan

Sudrajat,M.Pd.,selaku dosen pengampu mata kuliah Pengantar Pendidikan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna.Oleh sebab itu,kami menerima saran dan kritik yang membangun agar nantinya diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta,23 September 2022

Kelompok 11

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……….………i

Daftar Isi……….………...ii

Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang……….………..…....……….1

1.2. Rumusan Masalah………...….……….2

1.3 Tujuan………..………3

Bab II Pembahasan 2.1. Bullying……….…...4

A. Pengertian Bullying……..………..……...…...…………....5

B. Faktor Penyebab Bullying………...………...6

C. Karakterisitik Perilaku Bullying………...……….7

D .Karakteristik Korban Bullying………….………….……….8

E. Bentuk Perilaku Bullyin………...………..9

F. Dampak Akibat Bullying………...…………10

G. Solusi Mengatasi Bullying………11

2.2. Labelling……….……….12

A.Pengertian Labelling………..………13

B.Dampak Pemberian Label kepada Siswa……….14

C.Faktor Penyebab Labelling Siswa………..…15

D.Solusi Mengatasi Labelling Siswa.………..…..…16

Bab III Penutup A. Simpulan……….………...…….……….17

Daftar Pustaka…..……….……….18

(4)

BAB 1

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam upaya mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

pelatihan; proses, metode, tindakan pendidikan. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha sadar dalam rangka untuk mendewasakan diri dan membina seseorang agar mampu memiliki rasa bertanggung jawab dalam kehidupannya secara

moral.Saat ini negara, masyarakat, serta keluarga memiliki harapan yang besar untuk mewujudkan pemuda-pemudi yang bermental tangguh, berprestasi, mampu bersaing di era globalisasi dan mampu mempertahankan budaya serta kehormatan negara dan agamanya.

Namun pada kenyataannya justru banyak sekali remaja yang mengalami kasus-kasus berat seperti narkoba, pencurian, berjudi, minum- minuman keras, bunuh diri, penganiayaan, pembunuhan, dan yang sangat sering terjadi saat ini adalah bullying di sekolah.Selain menambah keahlian dan kreatifitasnya dalam pembelajaran dan pendidikan, ia juga belajar untuk bergaul dengan orang lain dalam lingkungan institusi pendidikan

tersebut.Setiap peserta didik sebenarnya memiliki potensi untuk dapat mencapai kematangan kepribadian yang memungkinkan mereka dapat menghadapi tantangan hidup secara wajar di dalam lingkungannya, namun potensi ini tentunya tidak akan berkembang dengan optimal jika tidak ditunjang oleh faktor fisik dan faktor lingkungan yang memadai.

Dalam pembentukan kepribadian seorang remaja, akan selalu ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor risiko dan faktor protektif. Faktor risiko ini dapat bersifat individual, konstekstual

(pengaruh lingkungan), atau yang dihasilkan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Mungkin ia belajar untuk mengenal si cengeng, si pemarah, si komedian, si cantik,si kurus,si gendut dan lain sebagainya.Karakter labelling ini banyak membuat ketakutan dan cenderung adalah mereka yang dihindari oleh para peserta didik karena perilaku mereka yang tidak menyenangkan.

Budaya bullying atas nama senioritas masih terus terjadi di kalangan peserta didik. Karena meresahkan, pemerintah didesak segera

(5)

menangani masalah ini secara serius. Bullying adalah suatu bentuk kekerasan anak (child abuse) yang dilakukan teman sebaya kepada seseorang (anak) yang lebih ‘rendah’ atau lebih lemah untuk

mendapatkan keuntungan atau kepuasan tertentu. Biasanya bullying terjadi berulang kali.

Bullying dapat terjadi mulai dari kalangan pendidikan pra-sekolah hingga perkuliahan. Perilaku bullying diantaranya adalah labeling

(memberikan julukan terhadap temannya), pemukulan terhadap teman, dan juga pemerasan baik materiil maupun non-materil. Perilaku ini paling sering terjadi pada masa-masa sekolah menengah keatas (SMA), dikarenakan pada masa ini remaja memiliki egosentrisme yang tinggi (Edwards, 2006). Hal senada juga di paparkan oleh Erikson (dalam Desmita, 2012) yang menjelaskan mengenai tahap perkembangan remaja pada umur 12-20 tahun yaitu tahap identitas-kekacauan identitas (identity- identity confusion).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.Apa yang dimaksud dengan bullying?

2.Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya bullying?

3.Apa saja karakteristik perilaku bullying?

4.Apa saja karakteristik korban bullying?

5.Apa saja bentuk-bentuk perilaku bullying ? 6.Apa saja dampak akibat dari perilaku bullying?

7.Bagaimana cara mengatasi bullying?

8.Apa yang dimaksud dengan labelling?

9.Apa saja dampak pemberian label siswa “nakal”?

10.Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya labelling siswa

“nakal”?

11.Bagaimana cara mengatasi labelling siswa “nakal”?

(6)

1.3 Tujuan

Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah “Pengantar Pendidikan” dan untuk menjelaskan apa pengertian,faktor penyebab,serta cara

mengatasi bullying dan labelling siswa “nakal”.Makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembaca dan penulis.

(7)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Bullying

A.Pengertian bullying

Bullying berasal dari kata bully, yang dalam bahasa inggris berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah, menggertak, mengganggu bullying juga diartikan sebagai tindakan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya.Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenppa) RI menjelaskan bullying atau

penindasan/perundungan merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

Berikut ini adalah para ‘peran’ dalam kegiatan bullying :

 Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.

 Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung begantung atau mengikuti perintah bully.

 Rinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, mentertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya.

 Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantu korban, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga.

 Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli.

B.Faktor Penyebab Bullying

Bullying bisa terjadi karena beberapa faktor. Terlepas dari apapun alasannya, tindakan bullying sangat tidak dibenarkan karena dapat merugikan korban seumur hidup. Berikut beberapa penyebab bullying:

1. Anak dengan Kontrol Diri Rendah

Pelaku bullying bisa hadir karena kontrol diri yang rendah. Mereka mungkin sebelumnya menjadi korban kekerasan, lalu menganggap

(8)

dirinya selalu terancam dan biasanya bertindak menyerang sebelum diserang.

2. Faktor Keluarga

Kehidupan keluarga yang tidak harmonis juga bisa menjadi penyebab muncul pelaku bullying. Orang tua yang sering bertengkar dan

melakukan tindakan agresif biasanya mendorong anak melakukan bullying. Orang tua seperti ini juga tidak mampu memberikan

pengasuhan yang baik.

3. Ada Supporter

Teman sebaya yang menjadi supporter atau penonton membuat pelaku bullying makin menjadi-jadi. Secara tidak langsung, kehadiran suporter membantu pembully memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status.

4. Kebijakan Sekolah

Kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar

pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Jika tidak terpenuhi, pelajar bakal bertindak semena-mena.

Mereka akan berusaha mengontrol lingkungan dengan melakukan

bullying. Jadi, manajemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah mengakibatkan munculnya bullying di sekolah.

5. Media Massa

Tidak sepenuhnya media massa menyajikan konten yang mendidik dan sesuai untuk umur anak. Banyak tontonan kekerasan yang muncul di media massa membuat anak terdorong untuk mencontoh dan

melakukan hal serupa di sekolah. Peran orang tua di sini juga

dibutuhkan untuk mengontrol konsumsi dan tontonan anak agar tak muncul bibit-bibit pembully.

 Penyebab Bullying Lainnya - Penampilan Fisik

- Perbedaan Kelas atau Strata Sosial - Tradisi Senioritas

- Karakter Buruk Pelaku Bullying

(9)

C.Karakteristik Perilaku Bullying

Menurut Rigby tindakan bullying mempunyai tiga karakteristik terintegrasi, yaitu :

- Adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban

- Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan rasa tertekan korban

- Perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus

Beberapa pendapat orang tua tentang alasan anak-anak menjadi pelaku bullying, di antaranya:

 Karena mereka pernah menjadi korban bullying

Mereka juga mungkin mengalami kesulitan diterima dalam

pergaulan, kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah, mudah terbawa emosi, merasa kesepian dan mengalami depresi.

 Pengaruh tayangan TV yang negative

Faktor media –seperti media sosial, televisi, dan media cetak, sering memberikan contoh perilaku buruk, termasuk bullying. Jika terpapar terus-menerus, perilaku tersebut akan ditirukan dalam keseharian seseorang, bahkan menganggapnya sebagai hal yang wajar.

 Kebiasaan mengejek orang lain

Kebiasaan mengejek orang lain dinilai sebagai faktor penyebab bullying menurut para ahli. Ejekan ini dapat mengarah pada

penampilan, kemampuan, ras, budaya, dan gaya hidup orang lain.Penindasan yang dilakukan oleh pelaku bullying ini sering kali datang dari rasa takut atau kurangnya pemahaman terhadap lingkungan di sekitarnya.

 Menutupi kekurangan diri

Seorang anak bisa melakukan bullying jika dia tidak percaya dengan latar belakang keluarganya yang serba

kekurangan.Dengan hal ini ia akan melakukan penindasan terhadap orang yang mempunya yang lebih dari dia.

 Mencari perhatian

Kadang pelaku bullying enggak sadar kalau apa yang

dilakukannya termasuk ke dalam penindasan, karena sebenarnya apa yang dilakukannya adalah mencari perhatian.Jenis yang satu ini paling mudah untuk diatasi. Caranya adalah dengan

(10)

memberikannya perhatian yang positif sebelum pelaku mencari perhatian dengan cara yang negatif.

 Balas dendam

Biasanya pelaku juga pernah menjadi korban bullying. Ia

melakukan hal ini untuk membalas apa yang pernah dirasakannya selama menjadi korban bullying.

D.Karakteristik korban bullying

Biasanya mereka yang menjadi korban bullying memiliki karakteristik dibawah ini :

 Mungkin mereka memiliki semacam kekurangan atau perbedaan , baik secara fisik ataupun materi

 Mungkin mereka memiliki masalah di rumah yang membuat mereka sedih

 Mereka memiliki sesuatu yang membuat para bully cemburu, misalnya bakat

 Mereka tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan oleh para bully sehingga mereka dihukum

 Mereka tidak bisa membela diri mereka sendiri.

E.Bentuk perilaku bullying

Bentuk bullying menurut Coloroso dibagi menjadi tiga jenis, yakni :

 Bullying Fisik

Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan

lainnya,Yang termasuk jenis penindasan secara fisik adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting,

mencakar, serta meludahi anak yang ditindas.

 Bullying Verbal

Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-

laki,Kekerasan verbal mudah dilakukan .Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan.

 Bullying Relasional

(11)

Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengecualian, atau penghindaran.

Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat.

 Cyber bullying

Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.

Riauskina, dkk (2005) mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori :

a) Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci, seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain);

b).Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan,

merendahkan (put-down), mengganggu, member panggilan nama (name-calling), sarkasme, mencela/mengejek, memaki, menyebarkan gosip);

c).Perilaku non verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal)

d)Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng)

e) Pelecehan seksual (kadang-kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

F.Dampak akibat bullying

Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Individu

SEJIWA (2006) menyebutkan penelitian tentang bullying telah

dilakukan baik didalam maupun di luar negeri. Penelitian-penelitian tersebut mengungkapkan bahwa bullying memiliki efek-efek negatif seperti :

(12)

- Gangguan psikologis (seperti cemas dan kesepian)

Korban bully seringkali menunjukkan berbagai gejala masalah psikologis, bahkan setelah perundungan berlangsung. Kondisi yang paling sering muncul ialah depresi serta gangguan kecemasan.Selain itu, pengaruh bullying pada kesehatan mental pada remaja dan anak ialah rasa sedih, rendah diri, kesepian, serta hilangnya minat pada hal yang biasa mereka sukai, serta perubahan pada pola tidur ataupun pola makan.Efek bullying juga kemudian akan menyebabkan gejala

psikosomatis, diantaranya masalah psikologis yang memicu gangguan pada kesehatan fisik. Hal ini tak hanya berlaku pada orang dewasa, tapi juga pada anak-anak.

- Konsep diri korban bullying menjadi lebih negatif karena korban merasa tidak diterima oleh teman-temannya.

Konsep diri juga dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan sekitarnya.Jika pengalaman lingkungan sekitar yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, maka dapat menimbulkan konflik pada

dirinya.Remaja yang tidak dapat menyelesaikan konflik tersebut dengan baik maka akan terbentuk konsep diri yang negatif, dan begitupun

sebaliknya.

- Korban bullying merasakan stress, depresi, benci terhadap pelaku, dendam, ingin keluar sekolah, merana, malu, tertekan, terancam bahkan self injury.

Korban bullying biasanya akan memiliki gangguan depresi dan

kecemasan. Hal ini karena meningkatnya perasaan sedih dan kesepian pada dirinya. Selain itu, perlakuan bullying yang diterimanya akan

mengubah pola tidur, makan, hilangnya minat pada aktivitas yang biasa mereka nikmati. Bahayanya, permasalahan ini akan dialaminya jangka panjang hingga dewasa.

- Membenci lingkungan sosialnya

Yang di mana korban bullying memiliki rasa takut untuk berbaur kepada orang di sekitarnya dan hilangnya rasa percaya diri setalah mengalami pembullyan tersebut.

- Korban akan merasa rendah diri dan tidak berharga

Perasaan tidak berharga bisa muncul karena hal-hal seperti harga diri yang rendah, pengabaian, atau trauma. Merasa tidak berharga dapat menciptakan tekanan yang membuat kita sulit beraktivitas normal dalam

(13)

kehidupan sehari-hari.Selain itu, perasaan ini juga mungkin membuat kita sulit termotivasi untuk mengejar impian.Karena itu, penting bagi kita untuk menemukan cara membuat diri merasa lebih berharga dan

mencari bantuan saat dibutuhkan.

- Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada gangguan kepribadian

Gangguan emosional bahkan kadang menjerumus pada gangguan kepribadian yang dimana korban bullying selalu melakukan tindakan- tindakan agresif dan terkadang mereka melakukan tindakan-tindakan kriminal terhadap lawan atau dirinya sendiri.

- Keinginan untuk bunuh diri

Mereka yang menjadi korban perundungan atau bullying rentan mengalami masalah mental, termasuk pikiran bunuh diri. Dampak dari tindak perundungan atau bullying tidak boleh diremehkan. Pasalnya, tindakan tersebut memengaruhi kondisi mental korban, bahkan mereka berisiko memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.Tak jarang ada laporan kejadian tentang anak-anak berusia sekolah yang kemudian meninggal dunia akibat bunuh diri setelah dirundung oleh teman-temannya. Inilah bahaya bullying yang harus orangtua waspadai.

G.Solusi mengatasi bullying

Maka solusi yang bisa dilakukan antara lain adalah:

 Deteksi Tindakan bullying sejak dini

Sebagai seorang guru, kita harus peka dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh siswa. Jangan sampai hal-hal yang

menyebabkan siswa tidak nyaman atau bahkan membahayakan siswa terjadi secara terus menerus. Segera hapuskan bibit-bibit bullying sedini mungkin, seperti memanggil nama siswa dengan nama ayahnya, menghina bentuk fisik, merampas benda-benda, atau menyakiti fisik. Apapun dalihnya, bercanda sekalipun, hal seperti tidak dapat dibenarkan.

 Memberikan sosialisasi terkait bullying

Pembullyan yang terjadi di sekolah sering menjadi bahan pemberitaan baik di media sosial maupun media-media

lainnya.Sering sekali kejadian bullying ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan juga pemahaman tentang bullying. Hal penting yang harus dilakukan oleh pihak sekolah adalah melakukan

(14)

sosialisasi kepada seluruh warga sekolah seperti guru, siswa, pegawai tata usaha, sekuriti, bahkan tenaga kebersihan juga perlu diedukasi tentang hal ini. Jika semua orang memahami bentuk- bentuk perundungan, dampak yang ditimbulkan bagi korbannya, dan juga bagaimana menghindari bullying, maka akan lebih mudah untuk meminimalisir potensi bullying di sekolah. Bentuk- bentuk sosialisasi dapat dilakukan dengan cara menempelkan poster-poster anti bullying, menyelipkan pesan anti bullying dalam pembelajaran, atau ketika kepala sekolah atau guru memberikan amanat pada saat upacara bendera.

 Memberikan dukungan pada korban

Korban bullying biasanya merasakan ketakutan dan kecemasan berada di lingkungan di mana ia mengalami bullying. Oleh karena tunjukkan bahwa guru dan teman-temannya peduli akan dapat membantu korban bullying merasa aman kembali. Jangan lupa untuk bekerjasama dengan orang tua siswa sehingga korban bullying dapat hidup normal kembali.

 Membuat peraturan yang tegas tentang bullying

Perlu bagi guru dan juga sekolah membuat peraturan yang ketat tentang bullying. Peraturan-peraturan ini bisa dimulai dari level peraturan kelas hingga peraturan sekolah. Dengan demikian, semua orang akan tahu konsekuensi yang didapat ketika terjadi pembullyan. Nah, dengan begini para pembully akan menjadi jera dan tidak melakukan pembullyan lagi.

 Tunjukkan prestasi

Orang yang melakukan bullying umumnya beraksi karena rasa iri maupun dengki. Sebagian besar korban bullying pasti memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang yang menindasnya.

Yang harus dilakukan oleh para korban bullying adalah tak ragu menunjukkan prestasinya, entah itu di sekolah maupun lingkungan kerja. Lama kelamaan si pelaku bully akan mundur dengan

sendirinya karena merasa korbannya tidak terkalahkan.

 Jalin pertemanan dengan banyak orang

Cara mencegah bullying adalah menjalin pertemanan dengan banyak orang. Pastikan bahwa circle pertemananmu ini sehat dan tidak suka melakukan bully. Ketika korban bullying memiliki

banyak teman, maka pelaku bully akan berpikir dua kali untuk menindasnya.

 Tumbuhkan rasa percaya diri

(15)

Pelaku bully akan semakin bersemangat ketika mengetahui bahwa korbannya merasa minder dan semakin terpuruk. Untuk mencegah sekaligus memberikan efek jera pada pelaku bully, bangun rasa percaya diri agar tidak terlihat minder atau takut kepada si pelaku.

Percayalah, pelaku bully akan malas menindas orang yang berani dan percaya diri.

 Jadikan bully-an sebagai penyemangat untuk sukses

Sebagian koran bully akan merasa tidak berharga dan putus asa.

Namun, untuk mencegah bullying yang menghancurkan dirimu sendiri, sikapi dengan positif semua perundungan tersebut.

Jadikan bully-an sebagai sarana penyemangat agar kamu bisa meraih suksesmu. Ingat, balas dendam terbaik bukan membalas perbuatan jahat mereka, tetapi dengan membuktikan bahwa dirimu bisa menjadi sukses dan lebih baik dari mereka yang pernah

mem-bully kamu.

 Memberikan teladan atau contoh yang baik

Bullying pada anak sering terjadi karena mencontoh orang-orang di sekitarnya. Sebagai guru, maka Guru Pintar harus sangat

berhati-hati dalam bertindak maupun bertutur kata. Jangan sampai suka memberikan hukuman verbal yang tanpa disadari sudah masuk dalam kategori pembullyan. Hal ini tentu akan dicontoh oleh siswa-siswanya.

 Jangan menunjukkan sikap takut atau sedih

Pelaku bully tentu akan merasa puas ketika berhasil membuat korbannya sedih, takut, dan semakin terpuruk. Cara mencegah bullying yang paling efektif adalah tidak menunjukkan sikap takut atau sedih di depan pelakunya. Jika kamu terus berkonsisten menunjukkan sikap seperti ini, maka pelaku bully lama kelamaan akan mundur karena takut.

 Tidak terpancing untuk melawan

Emosi terkadang memicu kita untuk bertindak ketika merasa ditindas. Akhirnya banyak korban bullying yang melakukan

perlawanan. Boleh-boleh saja melakukan perlawanan, tapi kamu juga harus memikirkan bahwa pelaku akan semakin gencar menindasmu ketika kamu melawannya. Cara mencegah bullying bisa dimulai dengan tetap bersikap tenang dan sabar tanpa terpancing untuk melakukan perlawanan.

2.2 LABELLING

A. Pengertian Labeling

(16)

Perilaku memanggil atau memberi julukan kepada seseorang dapat dikatagorikan sebagai tindakan menyimpang. Menurut Lemert Labeling adalah pemberian julukan, cap, etiket, merek yang diberikan masyarakat kepad seseorang. Lebih lanjut Lemart mengatakan bahwa awal

seseorang melakukan penyimpangan, disebut sebagai penyimpangan primer (primary deviation). Sebagai tanggapan terhadap pemberian cap oleh orang lain maka si pelaku penyimpangan primer kemudian

mendefinisikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi perbuatan menyimpang yang kemudian melakukan penyimpangan sekunder (secondary deviation), sehingga mulai menganut suatu gaya hidup menyimpang (deviant life style) yang menghasilkan karir

menyimpang

Sebagai insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Kejuruan contohnya,yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa “nakal” adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh “kenakalan” lain yang kerap dilakukan siswa. Hal- hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.

Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Kita sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label “nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisi lain ukuran “nakal” tiap guru berbeda- beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya “nakal” bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos/

tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang

“nakal”.

B.Dampak Pemberian Label kepada Siswa

Berikut akan disampaikan dampak dari pemberian label negatif:

a.Mempengaruhi mental siswa

Labeling khususnya dengan menggunakan kalimat negatif jelas memberi dampak kurang baik ke mental siswa yang diberi label. Siswa bisa kehilangan kepercayaan diri, merasa selalu dipandang sebelah mata, selalu berpikir negatif, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebagai guru kita perlu benar-benar memperhatikan kalimat yang

(17)

disampaikan kepada siswa. Karena satu kalimat yang kita ucapkan bisa meninggalkan bekas dalam waktu yang lama pada diri siswa.

b.Menjadikan siswa yang diberikan label menjadi semakin diasingkan.

Siswa yang terlalu sering mendapat label negatif akan merasa diasingkan atau dianggap tidak ada. Hal ini bisa terjadi karena label yang diberikan justru membatasi interaksi serta hubungan sosial antara siswa yang diberi label dengan sekitarnya.

c.Siswa memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan terus- menerus

Labeling secara negatif dapat membuat siswa yang diberi label terus menerus berbuat hal yang sama atau terus menyimpang. Jadi jangan pernah beranggapan apabila kita mengucapkan kalimat buruk kepada siswa, siswa akan termotivasi untuk berubah. Selalu gunakan kalimat positif untuk menyentuh perasaan siswa.

d.Menciptakan stigma buruk

Pemberian label negatif yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan stigma buruk bagi siswa yang diberi label. Akibatnya siswa tersebut akan semakin dikucilkan dari kehidupan sosialnya. Padahal belum tentu selama hidupnya dia terus menerus berbuat negatif.

C.Faktor Penyebab Labelling siswa “nakal”

Menurut saya tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah;

 Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.

Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.

 Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku

“nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

 Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma

(18)

agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada

gurunya.

 Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan

menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya.

 Siswa yang menjadi “korban” dari saudara atau teman

sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.

 Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang.

Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa

“nakal” karena merasa ingin bebas.

 Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah

ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.

 Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap

perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.

D.Solusi Mengatasi Labelling siswa “nakal”

Beberapa tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal”, adalah:

 Berdo’a untuk anak tersebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.

(19)

 Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”.

Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar

belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.

 Hentikan ucapan atau label “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo’a agar dia menjadi nakal.

Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.

 Panggilah dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada

akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.

 Latihlah dia dengan rasa tanggung jawab.Dengan memilikinya tanggung jawab maka seseorang akan dapat dihargai oleh masyarakat. Sebab dengan mempunyai sikap tanggung jawab kamu akan bertanggung jawab terhadap tugas yang telah dibebankannya dan tidak melalaikannya. Sehingga kamu tidak akan melakukan sebuah kesalahan pada tugas yang telah dibebankan kepada dia. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.

 Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tegurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah

mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”,janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan

(20)

menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuha atau membaca Al-Qur’an.

 Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”.

Rekamlah dengan HP dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi,

panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.

 Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk” konsekuensinya buruk.

Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan membuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.

(21)

BAB III A.Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan di atas tentang beberapa kasus penyimpangan di pendidikan yaitu mengenai bullying dan Labeling siswa"nakal",dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha sadar dalam rangka untuk mendewasakan diri dan membina seseorang agar mampu memiliki rasa bertanggung jawab dalam kehidupannya secara moral.Setiap peserta didik sebenarnya memiliki potensi untuk dapat mencapai kematangan kepribadian yang

memungkinkan mereka dapat menghadapi tantangan hidup secara wajar di dalam lingkungannya, namun potensi ini tentunya tidak akan berkembang dengan optimal jika tidak ditunjang oleh faktor fisik dan faktor lingkungan yang memadai.Berikut beberapa penyimpangan yang dapat terjadi dipendidikan:

a. Bullying merupakan suatu tindakan yang bertujuan untuk mengganggu orang yang lemah,sebagai tindakan penguasaan kekuasaan agar di hormati atau dipandang tinggi

b. Labeling sisawa "nakal" yaitu perilaku memanggil atau memberi julukan,cap,etiket,merek yang diberikan masyarakat atau sekelompok mahasiswa kepada korban labelling siswa "nakal".

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Antara.(2012).”Presiden menilai bullying”.[online] Tersedia di : www.antaranews.com

Ali Mohamad dan Asrori Mohamad, (2006). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Bumi Aksara.

Boombox.(2011).”Why bullying happens?”.[online]. Available at : http://www.oxfordshire.gov.uk/cms/content/anti-bullying

https://www.guesehat.com/4-faktor-seseorang-melakukan-bullying

Referensi

Dokumen terkait

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah DASAR-DASAR ADMINISTRASI PENDIDIKAN. Dosen

Tugas makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Qawaid Tafsir

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sistem Hukum

Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah “Strategi Pembelajaran

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Studi

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Relasi

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Keterampilan Berpikir

Makalah "Sunan Giri" disusun untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Atlas