Kerukunan
Umat Beragama
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, M.Th.
Harapan >< Fakta
• Asumsi dan imaginasi tentang hidup keagamaan tidak pernah bisa lepas dari kasih, pengampunan dan penerimaan yang tulus.
• Tetapi asumsi dan imaginasi ideal itu ternyata tidak terwujud. Kita justru menjumpai realita yang kontradiksi.
• Agama-agama yang mengajarkan cinta-kasih dan perdamaian justru dalam praktik menjadi institusi dan komunitas yang hidup dalam
perselisihan, membenci dan memerangi orang-orang yang dianggap tidak seiman.
Agama = Pertikaian?
• Kisah pertikaian dan perang agama bukanlah dugaan, tetapi fakta yang begitu terang-benderang. Riak-riak kebencian, penghujatan, dan permusuhan hadir dalam berbagai bentuk.
Salah Menafsirkan Kitab Suci
• Pertama, menyatakan bahwa karena umat/penganut salah menafsirkan ayat-ayat Kitab Sucinya padahal ayat-ayat Kitab Suci itu mengajarkan hal yang baik yaitu cinta- kasih.
Kitab Suci = Sumber Inspirasi Kekerasan?
• Kedua, menyatakan karena ayat- ayat Kitab Suci justru menjadi sumber inspirasi kekerasan.
• Sebab dianggap secara eksplisit ayat-ayat Kitab Suci tertulis
pernyataan untuk mengkafirkan atau memusuhi kelompok agama lain.
Kitab Suci Mengekalkan Kebencian?
• Ketiga menyatakan bahwa ayat-ayat Kitab Suci yang diwahyukan dari Allah dan bersifat kekal itu justru
mengekalkan pemikiran dan narasi-narasi yang berbau kekerasan dan kebencian.
Karakter dan Perilaku yang Buruk?
• Keempat, karena karakter dan perilaku umat yang jauh dari kasih dan pengampunan.
• Selama umat hidup dengan
karakter duniawi, pastilah akan mempraktikkan kekerasan dan kebencian apa pun agamanya.
Menilai Kualitas suatu “Pohon”
• Namun yang pasti setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula.
• Tuhan Yesus berkata: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Mat. 7:17).
• Kerukunan umat beragama bukanlah polesan, tetapi nilai hakiki.
• Sebagai nilai yang hakiki, maka agama-agama yang tidak mampu hidup dalam kasih akan ditebang dan dibuang.
Diuji dalam Praktik dan Peristiwa
• Kebenaran dan kekudusan ayat-ayat Kitab Suci diuji dalam praktik dan peristiwa.
• Matius 7:19 menyatakan: “Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”
• Karena itu kemampuan rohani dan sikap iman kepada Tuhan seharusnya mampu mengayomi, tidak terjebak oleh kebencian, tidak menghambat perkembangan agama lain, dan lebih
mengutamakan hidup yang berkualitas bagi kesejahteraan sesama.
Keberagaman sebagai Fakta
• Pluralisme dalam segala aspek merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat kita ingkari.
• Kemajemukan bukan hanya berbeda secara etnis, suku, bahasa, bangsa tetapi juga agama dan kepercayaan.
• Bahkan tiap-tiap individu pada hakikatnya unik dan berbeda.
• Tidak ada seorang pun termasuk anak kembar memiliki sidik jari yang sama.
Mereka selalu berbeda secara individual.
Cenderung Homogen?
• Di Kitab Kejadian 11:1 mempersaksikan bagaimana umat manusia yang memilih hidup serba homogen: “Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke
sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.”
• Tampaknya orang-orang dalam konteks Kejadian pasal 11 berusaha menjaga sifat “keseragamannya.”
Motif Membangun Menara
• Untuk mempertahankan keseragamannya, maka umat manusia waktu itu ingin mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit.
• Tujuan dengan pembangunan kota dan menara yang tinggi
menjulang itu adalah agar mereka tidak terserak ke seluruh bumi.
• Sebab apabila berhasil dibangun suatu kota yang megah, penduduk tidak ingin terpencar dan dapat hidup dengan pola yang homogen.
Respons Allah
• Ternyata reaksi Tuhan tidak berkenan dengan upaya homogenitas yang menyeragamkan manusia.
• Kejadian 11:6 menyatakan: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka;
mulai dari sekarang apapun juga yang akan mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.”
Latar-belakang Majemuk
• Apabila kita pelajari konteksnya di Kejadian 10:1-32 maka kita menjumpai kemajemukan suku-suku bangsa.
• Keturunan Nuh melalui ketiga anaknya, yaitu Sem, Ham dan Yafet melahirkan bangsa-bangsa. Waktu itu manusia sudah multi-etnis dengan budaya yang beragam.
• Tetapi tampaknya muncul “penguasa” yang memaksa orang-orang tersebut untuk hidup secara homogen di wilayah Sinear.
• Kepelbagian budaya dan adat-istiadat tersebut “dipaksakan” berada dalam satu tempat. Karena itu secara politis mereka dikurung agar tidak tersebar.
Makna Penggunaan “Kita”
• Sebutan Allah dengan kata “Kita” mengingatkan bahwa Allah yang esa di dalam diri-Nya mengandung kemajemukan (pluralitas)
sebagai Bapa-Firman-Roh Kudus.
• Dari kesaksian Kejadian 11 ini kita dapat menyimpulkan bahwa Allah pada prinsipnya menghendaki “kemajemukan” sebagai tanda
kekayaan dan keunikan dari seluruh ciptaan-Nya.
• Di bumi yang satu ini seharusnya manusia dapat bersatu dalam realitas majemuk, unik dan personal sesuai dengan kodrat, karunia dan panggilan hidupnya masing-masing.
Teknologi Masa Kini
• Apabila dengan teknologi komunikasi umat manusia kini tidak ada lagi dibatasi oleh garis pemisah berupa ras, geografis, bahasa, adat- istiadat dan agama maka kita membutuhkan tatanan dunia yang baru tidak relevan agama melakukan konflik.
• Pola berpikir konvensional yang membatasi pergaulan perlu segera direvisi.
• Sebab semua elemen dalam interaksi dan relasi dengan sesama selalu bersinggungan secara integral dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri Dunia Abad 21
• Dunia di abad 21 ditandai oleh kemajemukan yang semakin luas seraya dipersatukan dengan kemampuan untuk mengakses dan mempelajari secara mandiri dan langsung berbagai sumber dan dokumen yang diperlukan.
• Akibatnya kini tidak ada pengetahuan dan kepercayaan keagamaan yang tersembunyi.
• Terjadilah percakapan, perdebatan, saling mengkritisi dan mengoreksi, dengan akibat terjadilah perpindahan keyakinan iman.
• Setiap orang berhak menentukan agama dan kepercayaan sesuai hati- nuraninya.
Tiga Model Kemajemukan
• Apakah kita menjadi seorang beriman yang dewasa, bijaksana, adil dan penuh
kemurahan kepada sesama yang berbeda.
• Secara garis besar, ada 3 bentuk sikap yang dikembangkan oleh agama-agama dalam menyikapi kemajemukan agama menurut konsep Alan Race, yaitu: eksklusivisme, pluralisme dan inklusivisme.
Makna “Eksklusivisme”
• Sikap eksklusivisme merupakan sikap agama-agama yang cenderung menutup diri dan mengklaim agamanya sendiri yang paling benar seraya mengkafirkan atau menistakan agama-agama lain.
• Klaim keagamaan dalam sikap eksklusivisme merupakan manifestasi perasaan superior dengan menempatkan agama-agama atau
kepercayaan yang tidak sepaham sebagai kelompok inferior.
• Dalam pemikiran eksklusivisme menekankan aspek absolutisme dalam keyakinan atau kepercayaan yang dimiliki oleh suatu agama.
Makna “Eksklusivisme”
• Dalam sikap eksklusivisme agama, penganut agama tersebut mendekati
(approach) ke penganut agama lain dengan pola pendekatan yang superior-inferior.
• Sikap superioritas tersebut sering tidak diimbangi dengan studi yang mendalam
terhadap imannya, sehingga tidak memiliki wawasan yang luas dan kritis.
• Kelompok ini menjadi fanatik dan fundamentalistis.
Makna “Pluralisme”
• Dalam pemikiran kaum pluralisme,
pengalaman religius itu sebagai sesuatu yang sifatnya sangat eksistensial dan batiniah,
absah pada dirinya sendiri.
• Bukankah setiap agama memiliki
keabsahannya untuk mengungkapkan secara personal dan beragam sesuai dengan
keunikannya?
• Sebab pada hakikatnya semua agama mengarah kepada Tuhan yang satu dan sama. Semua
agama sedang menempuh jalan menuju sorga.
Makna “Pluralisme”
• Kaum pluralistis, kepelbagaian agama secara riel sesungguhnya merupakan ekspresi dari The Ultimate yaitu Allah.
• Dalam “The Ultimate” tersebut terdapat: One God many names.
• Dasar pemikiran kelompok pluralisme menyatakan bahwa berbagai agama memiliki bentuk lahiriah dan ritual yang berbeda, tetapi
sesungguhnya secara esensial mereka memiliki sumber yang sama.
• Dengan pemikiran demikian, kaum pluralistik Kristen, Allahlah yang menjadi pondasi final (teosentris), bukan Kristus (bukan: kristosentris).
Makna “Inklusivisme”
• Sikap inklusivisme merupakan sikap keagamaan yang tetap
mengakui keunikan agama/imannya, tetapi mereka bersedia dengan tulus menunjukkan sikap penghormatan kepada keunikan agama-
agama lainnya.
• Dalam kelompok ini dapat disebut Karl Rahner seorang teolog Katolik dan pemikir inklusivisme yang berpengaruh.
• Itu sebabnya Karl Rahner berani menyatakan, bahwa karya Kristus juga berlangsung di dalam agama-agama lain, sekalipun tidak selalu disadari oleh penganut agama-agama tersebut.
Makna “Inklusivisme”
• Di dalam iman dan relasi personal dengan Kristus, setiap umat percaya seharusnya menjadi pribadi yang inklusif.
• Mereka dapat mempelajari dan berdialog dengan semua agama, tetapi akar iman di dalam Kristus semakin kokoh.
• Iman kepada Kristus membuka wawasan yang tak terbatas dan inspirasi kasih yang kaya.
• Di dalam Kristus, setiap umat mengalami pengampunan dari Allah sehingga mereka kaya dalam pengampunan kepada sesama.
Pemahaman Teori George Lindbech
• Cognitive/Propositional: Penekanan pada aspek kognitif atau pemahaman, sehingga ajaran/doktrin suatu agama dipahami
sebagai proposisi informatif. Kebenaran dipahami sebagai realitas yang objektif.
• Experiential-Expressive: menafsirkan doktrin atau pengajaran suatu agama tidak sekadar non-informatif atau bukan sesuatu yang
terlepas dari suatu pengertian belaka.
• Perlu memahami kebenaran dari pengalaman iman yang utuh. Kebenaran didasarkan pula pada ekspresi pengalaman.
Prinsip Teori George Lindbech
• Cultural-linguistic: Pola pendekatan yang berusaha menggabungkan kedua
pemahaman pertama dan kedua, yaitu antara pola cognitive dan experiential sehingga memahami kebenaran suatu agama dengan memperhatikan peran bahasa.
• Sebab memahami kebenaran agama-agama melalui language-game bukan untuk
menentukan soal benar dan salah.
Kritik George Lindbech
• George Lindbech menolak cara berpikir yang dikembangkan baik oleh
konservatisme maupun liberalisme.
• Menurut Lindbech, teologi modern sering didominasi oleh cara berpikir yang hanya cenderung kognitif-proporsional
(sebagaimana muncul dalam
konservatisme atau pre-liberalisme) atau:
“eksperiensial-ekspresif” (sebagaimana muncul dalam liberalisme).
Pola Pikir Konservatisme
• Cara berpikir konservatisme adalah sikap seseorang memahami jika sekali sebuah doktrin benar maka selamanya ia akan benar, dan jika sekali ia salah maka selamanya akan tetap salah.
• Akibatnya dua atau lebih doktrin yang berseberangan selamanya tidak bisa diharmonisasikan dan harus dipilih salah satu sebagai yang paling benar.
Pola Pikir Liberalisme
• Cara berpikir liberalisme adalah seseorang yang meyakini bahwa perbedaan doktriner yang ada sebenarnya hanya merupakan pengalaman dan ekspresi dari
makna yang satu dan yang sama.
• Itu sebabnya George Lindbech mengusulkan opsi ketiga yang disebutnya pendekatan: kultural- linguistik.
Eksistensi agama-agama menurut
George Lindbeck
• “Sebuah agama dapat dipandang sebagai kerangka kerja kultural dan/atau linguistik atau medium yang membentuk keseluruhan kehidupan dan pemikiran ....
• Seperti sebuah kebudayaan atau bahasa, ia merupakan sebuah
gejala komunal yang membentuk subjektivitas dari pribadi-pribadi lebih dari pada pertama-tama menjadi sebuah manifestasi dari
subyektivitas tersebut ....
Sifat Agama:”Partikular”
• Setiap agama pada dirinya bersifat partikular dan singular. Setiap agama memiliki “permainan bahasa” (language-game) yang unik dan berlainan.
• Jalan keluar yang ditawarkan oleh George Lindbeck adalah dengan pendekatan intratekstualitas.
• Arti pendekatan intratekstualitas adalah dunia simbolik yang diciptakan oleh narasi-narasi Kitab Suci sebagai landasan berpikir yang partikular.
Makna Pendekatan Intratekstualitas
• Pendekatan intratekstualitas secara esensial berbeda dengan
pendekatan ekstratekstualitas sebagaimana yang dipahami oleh paham konservatisme dan liberalisme.
• Arti ekstratekstualitas secara umum adalah pronomina atau kata ganti yang menggantikan nomina yang terdapat di luar wacana.
• Misalnya menurut Lindbeck, Allah dan Kristus di dalam iman Kristen adalah intratekstualitas.
Makna Pendekatan Ekstratekstualitas
• Pendekatan ekstratektualitas menempatkan Allah di luar
pemahaman teologis tersebut. Sebab kita hanya mengetahui makna
“Allah” di dalam pengertian suatu teks Kitab Suci, dan bukan di teks Kitab Suci yang lain.
• Misalnya kata “Allah” dalam iman Kristen berbeda maknanya dengan kata
“Allah” dalam agama Islam, walau pun dengan huruf atau istilahnya sama.
• Gambaran dan teologi tentang Yesus Kristus dalam iman Kristen (Kristologi) berbeda dengan ajaran agama Islam tentang Nabi Isa (Isalogi).
Contoh Ekstratekstualitas
• Pengajaran Kristologi dan Isalogi menunjuk pada pribadi Yesus Kristus dari Nazaret, tetapi memiliki perspektif dan substansi karakter yang sangat berbeda.
• Tokoh Maria ibu Yesus dalam Alkitab dengan Quran berbeda latar-belakang.
Maria ibu Yesus (hidup di awal tahun Masehi) dalam Quran disamakan
dengan Maryam saudara Musa dan Harun yang hidup pada abad 15-16 sM.
Masalah “Permainan Bahasa”
• Dengan memperhatikan data-data tersebut konsekuensinya sebuah agama tertentu tidak bisa dinilai dengan “permainan bahasa” yang dimiliki oleh agama lain.
• Agama-agama boleh saja saling “membandingkan” ajaran-ajaran luhurnya, tetapi agama-agama dalam realita kehidupan ini tidak boleh saling “mempertandingkan” apalagi mempertandingkan kekuatan dan perasaan unggul/superioritasnya kepada penganut agama-agama lain.
Prinsip Pemberitaan Injil
• Berita Injil sebagai kabar baik, tidak boleh disampaikan dengan cara menistakan sesama yang tidak seagama.
• Berita Injil tidak dapat disampaikan dengan bentuk spiritualitas yang merasa diri superior dengan menganggap orang lain yang tidak seiman dengan cara pandang yang inferior.
• Tuhan Yesus tidak pernah mendekati orang-orang yang tidak sepaham, bahkan para musuh yang jelas-jelas membenci-Nya dengan pola pendekatan superior-inferior.
Kritik terhadap Kelompok Pluralisme
• Kita perlu bersikap kritis dengan pola pendekatan kelompok
“pluralisme” yang mengukur hanya pada pentingnya pengalaman religius (religious experience) umat manusia yang beragama.
• Pengalaman religius itu dihayati secara eksistensial dan batiniah, serta absah pada dirinya sendiri.
• Dalam pemikiran pluralisme, fenomena kepelbagaian agama secara riil dipahami oleh sebagai ekspresi dan manifestasi dari The Ultimate yaitu Allah.
Bahaya Paham “Pluralisme”
• Sikap pluralisme dari orang-orang Kristen ini mengedepankan
keberagaman dan keunikan agama-agama melebihi berita inti dari kesaksian Injil-Injil dan kesaksian iman dari surat-surat rasuli.
• Di Yohanes 17:3, Tuhan Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan
mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
• Dengan menggunakan prinsip pemikiran dari George Lindbeck tentang intratekstual, dapat kita nyatakan bahwa kesaksian Injil tentang “hidup kekal” (keselamatan) secara hakiki tidak dapat dilepaskan dari iman kepada Kristus.
Makna Percaya kepada Kristus
• Percaya kepada Kristus adalah sikap iman yang partikular dan singular.
• Pengakuan iman dan kesaksian Injil-Injil atau surat-surat rasuli tentang keselamatan dalam iman kepada Kristus tidak boleh direlatifkan hanya karena kita menghadapi fakta kemajemukan agama-agama dan menjalin kerukunan umat beragama.
• Kerukunan bersama juga perlu dibangun di atas kebenaran yang membebaskan yaitu kasih Allah yang memberikan nyawa-Nya melalui penebusan Kristus.
Sikap Gereja terhadap Keberagaman
• Di tengah-tengah realitas ini gereja-gereja tidak perlu cemas untuk menyikapi realita dan tantangan pluralisme agama-agama dengan sikap inklusif yang menyatakan sikap bahwa Kristus saja sebagai satu-satunya jalan keselamatan.
• Pada pihak lain kita tidak pantas mengkafirkan atau menistakan agama/kepercayaan sesama yang berbeda.
• Dengan sikap inklusif tersebut, kita tidak perlu takut membuka dialog dengan agama lain.
Makna dan Peran Dialog
• Dialog menjadi kondisi yang tidak terelakkan, dialog menjadi conditio sine qua non untuk mencapai kehidupan bersama yang damai dan sejahtera.
• Agar lebih obyektif, kita juga perlu selangkah lebih maju untuk berani
“membandingkan” setiap ajaran iman dari tiap-tiap agama dengan rasa hormat yang tinggi. Pada saat yang sama, kita tidak boleh sekali-kali
“mempertandingkan” agama-agama dalam arena pertarungan.
• Tetapi arah dialog tidak boleh hanya sekadar percakapan “adu
argumentasi” tentang ajaran dari penganut agama-agama yang ada.
Perdebatan di Forum Akademik
• Untuk suatu forum akademik mungkin pola ini diperlukan, sehingga menjadi ajang perdebatan akademis dan ilmiah yang bermutu.
• Sebab dengan mengetahui perbandingan ajaran-ajaran agama secara objektif, jernih dan ilmiah kita dapat memahami ajaran agama yang berbeda secara lebih arif.
• Dialog yang sifatnya “teoritis” hanya dapat menguatkan dan mengasah secara kognitif intelektualitas belaka.
• Dialog seharusnya meliputi percakapan dan pengujian secara lebih
eksistensial, personal dan berwawasan moral di antara penganut agama- agama yang ada.