• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL OBSERVASI SD N TEGALREJO 4 SALATIGA

N/A
N/A
M. Taufiq

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN HASIL OBSERVASI SD N TEGALREJO 4 SALATIGA "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL OBSERVASI SD N TEGALREJO 4 SALATIGA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat_Nya, sehingga kami sebagi penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian yang bertema tentang penggunaan rancangan pelaksanaan pembelajaran yang digunakan oleh guru di SD N Tegalrejo 4 Salatiga Tahun Pelajaran 2011/2012. Laporan penelitian ini dibuat guna menyelesaikan tugas strategi pembelajaran.

Banyak pihak yang terlibat selama kami melakukan penelitian maupun dalam penulisan hasil penelitian ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada:

1. Bapak Stefanus C.R sebagai dosen yang telah telah memberikan arahan dan bimbingannya dalam penyusunan hasil penelitian ini.

2. Kepala Sekolah dan Guru di SDN Tegalrejo 4 Salatiga.

3. Bapak Yustinus sebagai guru kelas V SDN Tegalrejo 4 Salatiga.

4. Siswa – siswa kelas V Tegalrejo 4 Salatiga.

5. Orang tua kami yang selalu memberi dukungan selama penelitian.

6. Teman – teman kelompok penelitian yang telah banyak membantu kami dalam penyusunan laporan penulisan.

Kami sebagai penulis menyadari dalam menyusun laporan hasil penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga laporan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam suatu proses pembelajaran harus terjadi kerjasama yang baik antara siswa dan guru. Guru

sebagai fasilitator dalam proses keberhasilan pembelajaran harus bisa menciptakan pembelajaran

yang menyenangkan bagi peserta didik. Pada anak usia sekolah dasar, anak cenderung lebih tertarik

pada pemebalajaran yang melibatkan mereka secara langsung, karena mereka akan lebih paham dan

(2)

mengerti dengan pembelajaran yang konkret. Guru menjadi faktor penentu manakala siswa sudah tidak mulai tertarik dengan pembelajaran, itu sebabnya sebagai guru yang profesional harus bisa mengondisikan semua aspek pembelajaran menjadi satu kesatuan yang utuh, baik dari aspek persiapan guru seperti materi pembelajaran dan pada aspek teknis di sekolah.

Permasalahan pendidikan akan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada. Oleh karena itu sangat penting bagi guru untuk menjadikan suatu pembelajaran menjadi tempat berkumpulnya pemikir – pemikir muda ( siswa ) yang hebat melalui berbagai pendekatan, model serta metode yang cocok untuk diterapkan pada anak usia sekolah dasar, yang pada akhirnya peserta didik memliki life skill yang baik sebagai bekal di masa yang akan datang. Guru harus bisa merangkum itu semua menjadi sebuah strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Penelitian di kelas 5 SD N Tegalterjo 4 Salatiga ini dilaksanakan untuk mengetahui bahwa guru melakukan pengajaran di dalam kelas dengan

menggunakan sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran, guru mempunyai acauan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pembelajaran yang dilakukan guru di kelas 5 SD N Tegalrejo 4?

2. Apakah guru kelas 5 SD N Tegalrejo 4 menggunakan model atau metode yang tepat?

3. Apa pendekatan yang digunakan guru dalam pembelajaran?

4. Bagaimana guru meningkatkan life skill?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan guru kelas 5 SD N Tegalrejo 4 Salatiga.

2. Menganalisis model atau metode yang digunakan guru kelas 5 SD N Tegalrejo 4 Salatiga.

3. Menganalisis pendekatan yang digunakan guru dalam pembelajaran.

4. Menganalisis cara guru dalam meningkatkan life skill.

D. Manfaat Penulisan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

(3)

1. Bagi Guru

Sebagai masukan dalam mengelola dan meningkatkan kedisiplinan belajar serta dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran agar pemebelajaran yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.Serta guru dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan interaktif.

2. Bagi SDN Tegalrejo 4 Salatiga

Dengan adanya penelitian tentang penggunaan rencana pelaksanaan pembelajaran maka diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan untukmenilai guru yang mengajar.

3. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan terjun langsung ke lapangan dan memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan kemampuan dan ketrampilan meneliti serta pengetahuan yang lebih mendalam terutama pada bidang yang dikaji.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Guru di Kelas

Guru merupakan kunci sentral atas keberhasilan pembelajaran, sebagai guru yang akan

mempengaruhi kehidupan para murid. Guru seolah – olah sedang memimpin konser saat berada di ruang kelas. Guru memahami sekali bahwa setiap murid memiliki karakter masing – masing, sebagai mana alat musik seperti seruling, gitar, misalnya memiliki suara yang berbeda. Bagaimana setiap karakter dapat memiliki peran dan membawa sukses dalam belajar. Proses belajar atau mengajar adalah fenomena yang kompleks, segala sesuatu berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi dan sampai sejauh mana Guru dapat mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung. ( Lozanov, 1978 ). Guru harus dapat membawa siswa kedalam dunia yang akan mereka ajarkan serta antarkan dunia kita kepada para siswa.

Proses Pembelajaran akan berjalan dengan baik jika mengguankan sebuah urutan atau aturan yang sudah dipersiapkan sebelum pembelajaran dilakukan. Guru menetukan stategi pembelajaran yang cocok untuk peserta didik. Semua kegiatan pembelajaran ini tercantum dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Setelah melakukan Penelitian di SD N Tegalrejo 4 Salatiga, bahwa guru kelas 5 SD Tegalrejo 4 Salatiga sudah menggunakan rencana pelaksanaan pembelajaran serta model pembelajaran yang cocok bagi peserta didik, karena pembelajaran dapat mengaktifkan siswa untuk berpikir kritis, hal ini sesuai dengan pendekatan yang dilakukan oleh guru yaitu pendekatan induktif.

B. Pendekatan Pembelajaran

Dalam pembelajaran di kelas 5 SD N Tegalrejo 4 Salatiga yang diterapkan pada pembelajaran matematika

(4)

dengan materi jaring – jaring kubus, guru kelas menerapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Induktif. Pendekatan Induktif adalahpendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali – kali akan membentuk sebuah pola tertentu ( dari hal – hal khusus ke umum ). Pendekatan induktif ini dikembangkan oleh filosof Perancis Bacon yang menghendaki penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang kongkrit sebanyak mungkin.

Semakin banyak fakta semakin mendukung hasil simpulan.Pendekatan induktif dirancang berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Selain itu juga membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya dalam

penerapannya. Melalui pertanyaan – pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun pemahaman terhadap materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide. Tingkat

keefektifanpendekatan pembelajaran induktif ini, jadinya sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, di mana guru harus menjadi pembimbinguntuk membuat siswa berpikir.

Dalam penerapan pendekatan induktif ini, guru kelas 5 SD N Tegalrejo 4 Salatiga, pertama yang dilakukan dalam inti pembelajaran adalah memberikan sebuah penejelasan tentang materi jaring – jaring kubus, kemudian siswa harus membuktikan secara mandiri secara individu maupun kelompok dengan melakukan percobaan dan observasi dengan membuat model – model jaring – jaring kubus. Guru sebelumnya sudah menyiapkan potongan – potongan karton kecil – kecil untuk dibagikan pada siswa sebagai bahan untuk membuat jaring – jaring kubus. Dengan demikian siswa dapat mengonstruksikan pemikirannya untuk terus menggali semua pengetahuan dengan keterampilan membuat jaring – jaring, selain itu secara langsung akan sedikit demi sedikit akan terbentuk life skill anak yang mandiri dalam memecahkan permasalahan tanpa rasa takut akan kegagalan. Dengan percobaan secara langsung maka akan timbul rasa percaya diri pada anak dan akan menumbuhkan semangat belajar yang tinggi, karena pada dasarnya anak usia sekolah dasar sangat cocok dengan pembelajaran secara konkret.

C. Model Pembelajaran

Model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan materi jaring – jaring kubus yang digunakan oleh guru kelas 5 SD N Tegalrejo 4 Salatiga adalah dengan mengguankan model pembelajaran Pair Checks. Guru membentuk kelompok sepasang sebangku, kemudian memberikan tugas membuat jaring-jaring kubus dengan menggunakan potongan karton kecil – kecil. Model Pair Checks ini, siswa dintuntut untuk bekerjasama untuk menghasilkan sebuah pemikiran seperti menentukan jaring – jaring kubus. Pair

checks ( pasangan mengecek ) adalah model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993. Model ini menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut

kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Dalam penerapan model pair checks dalam pembelajaran matematika tentang jaring – jaring kubus di kelas 5 SD Tegalrejo 4 Salatiga guru menggunakan langkah – langkah pembelajaran sebagai berikut :

1). Guru menentukan dan menjelaskan konsep permasalahan ( konsep tentang jaring – jaring kubus ) 2). Bekerja Berpasangan

Guru membentuk tim berpasangan, setiap pasang berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan membuat jaring – jaring kubus dari potongan kardus.

2). Pelatih Mengecek

Setiap partner didalam kelompok saling membantu dalam menegrjakan tugasnya dalam membuat jaring – jaring kubus, setelah yakin dengan hasilnya, salah satu patner maju kedepan untuk melihatkan jaring – jaring kubus pada semua temannya. Di sinilah tugas guru untuk mengecek jawaban siswa, jika jaring – jaring kubus yang dibuat benar, jaring – jaring kubus di tempel di depan, tapi jika salah siswa kembali harus memperbaiki sampai menemukan bentuk jaring – jaring yang dapat dibentuk menjadi kubus.

3). Bertukar Peran

(5)

Seluruh patner bertukar peran, maksudnya siswa bergantian ketika maju. Jadi jika salah satu pasangan maju pada kegiatan pertama, maka pasangan yang satunya maju pada kegiatan kedua. Banyak kegiatan yang dilakukan tergantung dari setiap guru.

4). Pasangan Mengecek

Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.Jadi saat salah satu pasangan dari tim lain maju, maka pasangan tim lainnya mengecek bersama – sama, apakah jaring – jaring yang diperlihatkan bisa dibentuk sebuah kubus.

5). Penegasan Guru

Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep. Ketika pasangan tim lain memeberikan komentar pada tim yang maju guru harus meberikan penegasan kemabali atas jawaban siswa.

Setelah kami melakukan penelitian terhadap cara pengajaran guru kelas 5 SD Tegalrejo 4 Salatiga, bahwa model pembelajaran yang diterapkan oleh guru bisa diterima dengan baik oleh siswa, karena siswa dapat mengikuti pembelajaran yang dilakukan dari awal sampai akhir. Ada kelebihan dan kekurangan model pair checks yang diterapkan pada pembelajaran di kelas 5 SD Tegalrejo 4 Salatiga.

Kelebihannya pembelajaran menjadi aktif, siswa sangat antusias untuk maju kedepan untuk menunjukan hasil karyanya ( jaring – jaring kubus ). Setiap siswa sangat antusias untuk mengikuti setiap instruksi guru, setiap siswa mencoba untuk membuat bentuk – bentuk jaring – jaring kubus, semua siswa aktif saling bekerjasama dalam kelompok.

Kekurangannya membutuhkan pemikiran dan konsentrasi yang tinggi, bagi anak usia sekolah dasar pemikiran dan konsentrasi yang tinggi sulit untuk dilakukan. Selain itu ada sedikit masalah ketika akhir dari pembelajaran, guru akan memberikan penugasan akhir untuk mengevaluasi kemampuan siswa dalam menyerap materi yang telah diajarkan, guru memberikan lima buah soal yang ditampilkan pada LCD karena lampu mati akhirnya sisw diberikan tugas untuk menggambar lima buah jaring- jaring yang bisa dibuat menjadi kubus sesuai daya ingat mereka. Pembelajaran tetap dapat berjalan lancar, karena dari awal siswa sudah tertarik dan sangat antusias untuk mengikuti seluruh jalannya kegiatan pembelajaran.

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan adalah dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, praktikum, dan penugasan. Metode yang dipilih juga sangat menentukan keberhasilan pembelajaran, karena merupakan salah satu komunikasi atau pentransferan ilmu baik dari guru ke siswa, siswa ke guru, maupun siswa ke siswa.

Dengan metode akan terjadi pertukaran pemikiran yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai cara atau solusi dari pemecahan masalahan yang sedang dihadapi. Dengan metode ceramah, siswa dapat menerima informasi secara langsung dari narasumber yang bisa dipercaya ( guru ), dengan metode diskusi, siswa dapat saling bertukar informasi, serta dapat menumbuhkan kerjasama yang baik. Di dalam ceramah pasti akan terjadi tanya jawab, dengan tanya jawab, siswa dapat bertanya materi apa yang belum dipahami, dan guru

memberikan jawaban. Untuk memecahkan permasalahan tentang bentuk – bentuk jaring – jaring kubus, siswa melakukan praktikum dengan membuat bentuk – bentuk jaring – jaring kubus, dengan bimbingan guru ( inkuari terbimbing / penemuan terbimbing ). Selain itu menjadi hal yang sangat penting yaitu penugasan, setelah akhir praktikum siswa diberikan tugas untuk menulis kembali bentuk – bentuk jaring – jaring kubus yang telah ditemukan didalam buku catatan dengan menggunakan penggaris. Setelah itu dinilai, sehingga guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan siswa terhadap materi, serta siswa pun juga dapat megetahuai sejauh mana kemampuan pada dirinya.

E. Peningkatan Life Skill

Dalam pembelajaran matematika yang dialakukan oleh guru di kelas 5 SD N Tegalrejo 4 Salatiga, ini sangat menarik karena anak dituntut untuk bisa menggunakan seluruk pengetahuan serta kemampuannya dalam

(6)

memcahkan masalah. Guru memberikan permasalahan dengan memberikan tugas pada peserta didik untuk bisa menemukan bentuk jaring – jaring kubus sebanyak yang bisa mereka temukan. Hal ini dapat dapat dikatakan meningkatan life skill anak, karena secara mandiri dengan pengawasan serta bimbingan guru anak bisa memecahkan masalah yang mereka hadapi. Mereka juga tidak menyerah sampai gurulah yang harus menentukan batas waktu dalam pemecahan masalah tersebut. Setelah waktu yang ditentukan sudah selesai peserta didik dengan luar biasa dapat menemukan sebelas bentuk jaring – jaring kubus dengan bentuk yang berbeda. Tetapi untuk membuktikan bahwa peserta didik ini benar – benar sudah mengetahui dan paham akan bentuk – bentuk jaring – jaring kubus, guru terus memancing anak untuk menemukan lagi bentuk lain jaring – jaring kubus yang belum ditemukan. Anak – anak pun masih sangat antusias dan mencoba dan terus mencoba untuk menemukan lagi. Hal ini juga dapat membuktikan bahwa peserta didik tidak cepat menyerah serta tidak cepat puas terhadap hasil yang mereka capai,mereka akan terus beruasaha sampai benar – benar yakin akan hasil yang mereka mau. Ini sanagat baik ketika anak mengahadapi masalah diluar permasalahan pelajaran, anak diharapkan pula untuk jangan cepat menyerah dan selalu optimis dalam menjalani kehidupannya.

BAB III PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitia dan pembahasan penelitian sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan, dan saran sebagai berikut:

1. Kesimpulan

Pendekatan, model, serta metode pembelajaran pada pembelajaran yang dilakukan olehguru kelas 5 SD Tegalrejo 4 Salatiga dapat dikatakan berhasil dengan baik, karena peserta didik dapat aktif dalam pembelajara yaitu dengan aktif untuk membentuk jaring – jaring kubus, setelah mencoba – coba untuk membentuk jaring – jaring kubus dan mereka sudah merasa hasil karya mereka benar, siswa akan maju ke depan untuk memamerkan hasil karyanya. Guru menggunakan pendekatan induktif, model Pair Checks (berpasangan sebangku dengan membuat jaring-jaring kubus) dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, partikum, dan penugasan untuk mengaplikasikan dalam proses pengajaran. Selain itu rencana pelaksanaan yang telah disusun guru sudah dilaksanakan sesuai dengan urutan yang benar. Pada akhir pembelajaran untuk mengetahui bahwa siswa dapat menyerap materi pembelajaran dengan baik, guru mengukur kemampuan peserta didik dengan memberikan penugasan. Setelah semua peserta didik mengumpulkan tugas yang telah dikerjakan, guru memberikan nilai pada pekerjaan peserta didik. Hal ini sangat penting dilakukan, karena umpan balik yang positif akan memotivasi siswa untuk selalu giat belajar. Selain

itu pembelajaran dengan model pair check ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan

kemampuan memberi siswa dalam memberikan penilaian.

(7)

2. Saran

Dalam suatu proses pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru adalah kesesuaian proses pembelajaran dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah disusun. Selain itu guru juga harus menggunakan model, pendekatan dan metode yang tepat sehingga peserta didik dapat menerima informasi dengan optimal dan dapat meningkatkan life skill. Kemandirian siswa dalam memecahkan suatu permasalahan dalam proses pembelajaran juga sangar ditekankan, agar siswa tidak mudah menyerah dalam mengikuti pembelajaran. Guru sebagai pemimpin dalam kelas diharapkan untuk memberikan lebih motivasi serta penghargaan berupa pujian pada peserta didik, dan sugestikan pada pemikiran, bahwa setiap peserta didik memliki pengetahuan, disinilah guru berperan sangat penting untuk menerapkan serta membimbing peserta didik untuk mengeksplor semua pengetahuan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-pair-check.html

http://www.sriudin.com/2012/01/model-pembelajaran-pair-check.html

http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-induktif-struktur.html

(8)

RPP ASLI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SD Negeri Tegalrejo 04 Mata Pelajaran : Matematika

Kelas, Semester : V, II

Waktu : 2 x pertemuan ( @ 70’ )

Kompetensi Dasar : 6. 3 Menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana Indikator : Menentukan jarring-jaring kubus

Karakter Bangsa : Kreatif, Bekerjasama,

I. Tujuan Pembelajaran

1. Diberikan 6 potong persegi, siswa dapat membentuk lebih dari 3 jaring-jaring kubus

2. Disajikan susunan 6 persegi siswa dapat menentukan yang merupakan jarring-jaring kubus 3. Disajikan suatu jarring-jaring kubus, siswa dapat menentukan sisi-sisi yang saling sejajar

4. Disajikan suatu jarring-jaring kubus, siswa dapat menentukan sisi-sisi yang saling berpotongan (berhimpit pada salah satu rusuknya)

II. Pokok-pokok materi 1. Ciri-ciri kubus

2. Memiliki 6 sisi, tiap sisi berbentuk persegi 3. Memiliki titik sudut sebanyak 8

4. Memiliki rusuk sebanyak 12

Pengertian jarring-jaring

Jaring-jaring adalah rebahan sisi-sisi pembentuk bangun ruang. Jadi jarring-jaring kubus adalah rebahan seluruh persegi-persegi pembentuk sisi-sisi kubus. Dengan kata lain jarring-jaring kubus merupakan bangun datar yang tersusun oleh enam persegi sedemikian hingga keenamnya membentuk kubus.

(9)

CONTOH LAPORAN OBSERVASI JADI

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Observasi merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam mengetahui bagaimana cara mengajar yang baik. Dalam hal ini saya selaku mahasiswa PGSD melakukan observasi di Sekolah SD NEGERI 09 Pontianak Barat untuk memenuhi tugas dalam bentuk laporan observasi pembelajaran di kelas khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas tinggi. Laporan hasil observasi ini disusun guna mememenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra di Kelas Tinggi. Dengan adanya observasi ini diharapkan kita dapat mengetahui bagaimana seorang guru mengajar suatu pembelajaran ( mata pelajaran bahasa indonesia ). Kemudian kita sebagai sorang calon guru tentunya dapat memilih mana yang baik dan tidak baik untuk diajarkan kepada murid kita ketika sudah mengajar kelak.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana proses kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas tinggi di Sekolah Dasar.

2. Apakah empat aspek ( menulis, membaca, menyimak, bebicara ) ada dalam proses pembelajaran.

3. Apakah empat aspek tersebut sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

C. Tujuan Penyusunan Laporan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penyusunan laporan observasi ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui proses kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas Tinggi di Sekolah Dasar.

2. Mengetahui apakah empat aspek ( menulis, membaca, menyimak, berbicara ) ada dalam proses pembelajaran.

3. Mengetahui apakah empat aspek tersebut sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

D. Manfaat observasi

Setelah melakukan observasi di Sekolah Dasar diharapkan kita dapat memahami bagaimana cara mengajar yang benar dan mengaplikasikannya ketika kita menjadi guru dimasa yang akan datang.

E. Metode

Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan observasi ini adalah : Studi Pustaka, (Pedoman Penulisan Karya Ilmiah PGSD)

Observasi

Wawancara.

(10)

BAB II HASIL OBSERVASI A. Paparan Data

Nama Sekolah : SDN 09 Pontianak Barat Akreditasi : B

Study : Bahasa Indonesia Kelas : III E

Materi : Penjelasan Mengenai Tanda baca dan Transportasi

Hari Tanggal Jam

Sumber informasi

Metode observasi

Informasi Komentar observer

Rabu, 16 Maret 2012 14.30- 15.05

Sri Rizqi S.

Ag Nip : -

Pengamatan Guru melakukan salam pembuka, memeriksa kebersihan, Setelah ituguru menanyakan penjelasan materi yang lalu ( Apersepsi )kepada siswa mengenai kata yang terdiri dari Persamaan

kata(sinonim),Lawan kata(Antonim).

Aspek yang saya dapat:

1.Berbicara:

Dilakukan antara guru dan murid,guru bertanya kepada murid mengenai sinonim,antonim ( pada saat

apersepsi ) dandijawa b oleh murid secara serempak.

2.Menulis: Guru memberikan

penjelasan mengenai tanda baca dan transportasi di papan tulis kemudian siswa mencatatnya.

3.Menyimak: Guru menjelaskan

Guru tidak menggunakan RPP.

Seharusnya sorang guru harus memiliki RPP sebagai peoman ia mengajar. Dalam pembelajaran bahasa ini guru sudah

menggabungkan proses membaca, berbicara, menulis dan menyimak dalam satu materi menjadi satu

kesatuan. Guru juga tidak dapat menguasai kondisi kelas, karena guru itu hanya berdiri didepan kelas saja, sehingga siswa sangat ribut, dan banyak yang tidak memperhatikan.kurangny a bentuk penghargaan / pujian dalam bentuk kata seperti terima kasih, pintar, bagus,dll pada saat siswa melesikan pekerjaan tertentu.

Guru lebih banyak

berbicara bukan pada

materi pembelajaran.

(11)

mengenai tanda baca, transportasi. Serta para siswa menyimak pernyataan yang disampaikan oleh guru secara seksama dan dengan tertib.

4.Membaca:Pertama guru menyuruh dua siswa untuk maju di depan memperagakan bagaimana membaca suatu kalimat dialog dengan

memperhatikan tanda baca yang benar.

Kedua Guru menuliskan contohbagaimana menggunakan tanda baca yang benar pada suatu kalimat,dan guru menyuruh untuk membaca contoh- contoh tersebut secara serentak dan benar.

Observer

Hendra Septian Dalimunthe

F37010058

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Secara umum kegiatan observasi di kelas merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, karena kita bisa memperoleh data informasi yang akuarat langsung dari objek sasaran.

B. Saran

(12)

kegiatan observasi di kelas merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, untuk itu di sarankan pada calon guru seperti kita dapat mengetahui bagaimana seorang guru mengajar suatu pembelajara.

Kemudian kita sebagai sorang calon guru tentunya dapat memilih mana yang baik dan tidak baik untuk diajarkan kepada murid kita ketika sudah mengajar kelak.

DAFTAR RUJUKAN

2010. Pedoman Penulisan karya Ilmiah Program Studi PGSD Jurusan Pendidikan Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak.

LAMPIRAN

Foto – foto pada saat kegiatan observasi

Referensi

Dokumen terkait

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR RANGKA MANUSIA DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI TEGALREJO 1 KECAMATAN SAWIT KABUPATEN BOYOLALI TAHUN

Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penerapan metode Jigsaw dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri Jirapan

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian kognitif pembelajaran IPS siswa kelas 4 SD Gugus Kanigoro Tingkir Salatiga semester 2 tahun

Latar belakang masalah penelitian ini adalah keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SDN Tegalrejo 03 Salatiga rendah karena, dari observasi peneliti terdapat

Hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Salatiga 10 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pra siklus, siklus 1 dan

Pembelajaran tematik yang diterapkan di SD Kristen Satya Wacana Salatiga sudah baik namun akan lebih menarik apabila dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif

Kelas X H termasuk kelas yang cukup ramai, namun 80 persen peserta didik tidak saling mengganggu teman selama proses pembelajaran dan mereka cenderung berdiskusi dengan antar teman

Hasil telaah Rancangan Pembelajaran yang dibuat guru di sekolah dengan pendekatan TaRL Soal evaluasi pembelajaran dibedakan berdasarkan 3 kategori tingkat kemampuan peserta didik