LAPORAN KASUS
Dokter Pembimbing:
dr. Deden Tommy Oembaran, Sp.A
Disusun Oleh:
Septiarani Ariftetri Widiasesa 2018730138
KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKARWANGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PERIODE 14 AGUSTUS – 22 OKTOBER 2023
i
Universitas Muhammadiyah Jakarta
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menuntaskan laporan kasus sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pembelajaran Program Profesi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta di stase Ilmu Kesehatan Anak.
Penyusun mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada dr. Deden Tommy Oembaran, Sp.A selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan kepada penyusun. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat karena berkat bantuan, bimbingan, dukungan, dan doanya, laporan kasus ini dapat diselesaikan. Rasa syukur dan hormat bagi seluruh pihak yang terlibat atas semua yang telah diberikan, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah mereka beri kepada penyusun. Penyusun berharap laporan kasus ini akan bermanfaat bagi pihak lain, walaupun hasil penulisan ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun akan sangat membantu untuk penyusun.
Cibadak, 31 September 2023
Septiarani Ariftetri Widiasesa
ii
Universitas Muhammadiyah Jakarta
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
BAB I LAPORAN KASUS ... 1
1.1 Identitas Pasien ... 1
1.2 Identitas Orang Tua Pasien ... 1
1.3 Anamnesis ... 1
1.3.1 Keluhan Utama ... 1
1.3.2 Riwayat Penyakit Sekarang ... 2
1.3.3 Riwayat Penyakit Dahulu ... 2
1.3.4 Riwayat Penyakit Keluarga ... 2
1.3.5 Riwayat Alergi ... 2
1.3.6 Riwayat Pengobatan ... 2
1.3.7 Riwayat Pola Makan ... 2
1.3.8 Riwayat Psikososial ... 3
1.3.9 Riwayat Kehamilan... 3
1.3.10 Riwayat Persalinan ... 3
1.3.11 Riwayat Imunisasi... 3
1.3.12 Riwayat Perkembangan ... 4
1.4 Pemeriksaan Fisik ... 4
1.5 Pemeriksaan Penunjang ... 7
1.6 Resume ... 9
1.7 Diagnosis ... 9
1.8 Tatalaksana ... 10
1.9 Prognosis ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Epidemiologi ... 11
2.2 Etiologi ... 13
2.3 Patogenesis ... 13
2.4 Manifestasi Klinis ... 14
2.5 Diagnosis ... 16
2.5.1 Anamnesis ... 16
iii
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2.5.2 Pemeriksaan Fisik ... 16
2.5.3 Pemeriksaan Penunjang ... 17
2.6 Diagnosis Banding ... 17
2.7 Penyulit ... 18
2.8 Tatalaksana ... 20
2.8.1 Pencegahan ... 22
2.9 Prognosis ... 24
BAB III ANALISA KASUS ... 25
3.1 Dasar Diagnosis Morbili... 25
3.2 Dasar Diagnosis Bronkopneumonia ... 26
3.3 Dasar Terapi ... 28
DAFTAR PUSTAKA ... 31
1
Universitas Muhammadiyah Jakarta
BAB I LAPORAN KASUS
1.1 Identitas Pasien
Nama : An. A
Tanggal Lahir : 5 Mei 2022
Usia : 1 tahun 4 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Bumi Indah RT 1/RW 5, Mangunjaya, Bantargadung Tanggal Masuk RS : 20 September 2023
Tanggal Pemeriksaan : 22 Agustus 2023 Ruang Perawatan : AIS 2 Iso
Jenis Anamnesis : Alloanamnesis
1.2 Identitas Orang Tua Pasien
Ayah Ibu
Nama Tn. S Ny. A
Usia 35 tahun 31 tahun
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Ojek online Ibu rumah tangga
Alamat Bumi Indah RT 1/RW 5, Mangunjaya, Bantargadung
Bumi Indah RT 1/RW 5, Mangunjaya, Bantargadung
Agama Islam Islam
Hubungan Ayah kandung Ibu kandung
1.3 Anamnesis
1.3.1 Keluhan Utama Demam.
2
Universitas Muhammadiyah Jakarta
1.3.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa oleh orang tuanya ke RSUD Sekarwangi dengan keluhan demam sejak 8 hari yang lalu. Demam naik turun, turun dengan obat penurun demam. Keluhan disertai dengan batuk dan pilek, pilek dengan lendir encer, dan pada 1 hari yang lalu pasien tampak sesak. Selain itu, Ibu pasien juga mengatakan sebelumnya pernah melihat adanya kemerahan pada kedua mata pasien. Terdapat ruam kemerahan yang awalnya terlihat pada daerah pipi kanan pada dan kiri pada 2 hari yang lalu, semakin lama terlihat menyebar ke daerah leher dan dada, lalu pada hari ini ruam kemerahan terdapat di seluruh badan pasien. Ruam kemerahan tidak disertai dengan adanya rasa gatal. Pasien tampak rewel dan nafsu makan menurun. Tidak terdapat keluhan mual, muntah, keluar cairan dari telinga, gusi berdarah, mimisan, kejang dan penurunan BB. Pada 2 hari yang lalu, terdapat BAB cair sebanyak 2-3 kali dalam sehari dengan konsistensi cair, berwarna kuning, tidak terdapat lendir dan darah. Hari ini sudah tidak ada keluhan tersebut. BAK tidak terdapat keluhan.
1.3.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan serupa. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti asma dan lainnya.
1.3.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak terdapat keluhan serupa pada keluarga pasien. Tidak terdapat keluarga yang memiliki riwayat asma dan sedang menjalani pengobatan rutin 6 bulan.
1.3.5 Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-obatan, dan lain-lain.
1.3.6 Riwayat Pengobatan
Pasien sebelumnya hanya mengobati keluhannya dengan obat penurun panas.
Pasien tidak sedang menjalani pengobatan rutin.
1.3.7 Riwayat Pola Makan
Pasien diberikan ASI sampai usia 6 bulan. Pada usia 6 bulan sampai saat ini pasien diberikan susu formula. Pasien makan 2-3 kali dalam sehari berupa bubur
3
Universitas Muhammadiyah Jakarta
dengan telur, tahu, dan sayur sop yang dimasak sendiri oleh Ibu pasien. Terkadang pasien sulit makan dan hanya mau makan roti dan biskuit.
1.3.8 Riwayat Psikososial
Pasien tinggal bersama Ayah, Ibu dan Kakaknya. Rumah terdiri dari 1 kamar mandi, 1 kamar tidur dan 1 dapur. Rumah pasien tidak memiliki ventilasi yang baik, ventilasi hanya terdapat pada bagian depan rumah. Pasien sehari-hari dirawat oleh Ibunya. Ibu pasien mengatakan mencuci peralatan makannya menggunakan air mengalir dan sabun. Botol susu pasien langsung dicuci setelah digunakan dan direndam dengan air panas. Sumber air untuk mencuci menggunakan air PAM. Air untuk minum menggunakan air galon isi ulang dan untuk air panasnya berasal dari air keran yang yang direbus.
1.3.9 Riwayat Kehamilan
Ibu pasien mengatakan rutin memeriksakan kehamilannya sebanyak 6 kali.
Selama kehamilan, Ibu pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti demam, infeksi, perdarahan, diabetes, hipertensi dan lainnya. .
1.3.10 Riwayat Persalinan Tempat Persalinan : Bidan
Jenis Persalinan : Normal, spontan
Penolong : Bidan
BBL : 2700 gram
Panjang Badan : 50 cm Usia Kehamilan : Cukup bulan 1.3.11 Riwayat Imunisasi
Ibu pasien mengatakan terakhir pasien diberi imunisasi pada saat pasien usia sekitar 5 bulan.
4
Universitas Muhammadiyah Jakarta
1.3.12 Riwayat Perkembangan
Pasien saat ini berusia 16 bulan, tahapan perkembangan berdasarkan milestone Denver pada usianya berdasarkan anamnesis adalah sebagai berikut.
Personal sosial Motorik halus
Meniru gerakan
Minum dengan gelas
Mencoret-coret
Ambil manik-manik yang ditunjuk
Bahasa Motorik kasar
Bisa mengucap 3 kata Berjalan dengan baik
Berjalan mundur
Kesan : Perkembangan normal sesuai usia.
1.4 Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : Tidak diperiksa
Frekuensi nadi : 115 kali/menit
Frekuensi pernapasan : 46 kali/menit
Suhu : 39.8 0C
Saturasi Oksigen : 96% free air
5
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Antropometri
BB : 8,7 kg
TB : 75 cm
IMT : 15.46 kg/m2
Status Gizi (Interpretasi menggunakan Kurva WHO) BB/U = Berat Badan Normal
> Persentil -2 s/d 0, status gizi “baik”
TB/U = Perawakan Normal
> Persentil -2 s/d 0, status gizi “baik”
6
Universitas Muhammadiyah Jakarta
BB/PB = Gizi Baik
> Persentil -1 s/d 0, status gizi “baik”
IMT/U
> Persentil -1 s/d 0, status gizi “baik”
Kepala : Normocephal, rambut hitam terdistribusi rata, tidak mudah rontok, UUB cekung (-)
Mata : Injeksi konjungtiva (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cekung (-/-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (+/+)
7
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Telinga : Deformitas (-/-), sekret (-/-)
Mulut : Mukosa bibir kering, bibir sianosis (-), lidah kotor (-), stomatitis (+), bercak Kopliks (-)
Leher : Pembesaran KGB (-) Dada
Inspeksi : Bentuk simetris, pergerakan dinding dada simetris, retraksi dada (+)
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-). gallop (-), rhonki (+/+), wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, distensi abdomen (-) Auskultasi : Bising usus (+) 8x/menit Perkusi : Timpani (+)
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, turgor kulit kembali cepat
Ekstremitas
Atas : Akral hangat, CRT < 2 detik Bawah : Akral hangat, CRT < 2 detik
Kulit : Tampak macula eritematosa pada wajah, leher, badan, ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Berkonfluens menjadi bercak yang lebih besar pada wajah, leher dan badan.
1.5 Pemeriksaan Penunjang
20 September 2023
Hematologi Hasil Satuan Nilai Normal
Hemoglobin 9.1 Gr% 12 – 14
Leukosit 10,550 /mm3 4000 – 11000
Trombosit 467,000 /mm3 150000 - 400000
8
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Hitung Jenis Leukosit/Diff
Eosinofil 0
Basofil 0
Batang 0
Segmen 39
Limfosit 57
Monosit 4
Hematokrit 30 % 36 – 46
Pemeriksaan Radiologi
Rontgen Thorax (21 September 2023)
Kolom udara trakhea tampak baik Daerah mediastinum tidak melebar
Cor tidak membesar, CTR < 50%o, Pinggang Jantung normal, Apex diatas Diafragma.
Sinues dan Diafragma mendatar Pulmo:
Corakan paru bertambah Hili normal
Tampak perbercakan, infiltrat paru bawah kanan KESAN FOTO THORAX
Sugestif Bronikhopneumonia kanan Tidak tampak kardiomegali
9
Universitas Muhammadiyah Jakarta
1.6 Resume
Pasien dibawa oleh orang tuanya ke RSUD Sekarwangi dengan keluhan demam sejak 8 hari yang lalu. Demam naik turun, turun dengan obat penurun demam. Keluhan disertai dengan batuk dan pilek, pilek dengan lendir encer, dan pada 1 hari yang lalu pasien tampak sesak. Selain itu, Ibu pasien juga mengatakan sebelumnya pernah melihat adanya kemerahan pada kedua mata pasien. Terdapat ruam kemerahan yang awalnya terlihat pada daerah pipi kanan pada dan kiri pada 2 hari yang lalu, semakin lama terlihat menyebar ke daerah leher dan dada, lalu pada hari ini ruam kemerahan terdapat di seluruh badan pasien. Ruam kemerahan tidak disertai dengan adanya rasa gatal. Pasien tampak rewel dan nafsu makan menurun. Tidak terdapat keluhan mual, muntah, keluar cairan dari telinga, gusi berdarah, mimisan, kejang dan penurunan BB. Pada 2 hari yang lalu, terdapat BAB cair sebanyak 2-3 kali dalam sehari dengan konsistensi cair, berwarna kuning, tidak terdapat lendir dan darah. Hari ini sudah tidak ada keluhan tersebut. BAK tidak terdapat keluhan.
Pasien belum pernah mengalami keluhan serupa. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti asma dan lainnya. Tidak terdapat keluhan serupa pada keluarga pasien. Tidak terdapat keluarga yang memiliki riwayat asma dan sedang menjalani pengobatan rutin 6 bulan. Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat- obatan, dan lain-lain. Pasien sebelumnya hanya mengobati keluhannya dengan obat penurun panas. Pasien tidak sedang menjalani pengobatan rutin. Ibu pasien terakhir pasien melakukan imunisasi pada saat pasien usia sekitar 5 bulan.
Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan frekuensi napas 46x/menit dan suhu 39.8 C dan pada pemeriksaan generalisata pada hidung didapatkan adanya sekret (+/+), pada mulut terdapat stomatisis (+), retraksi dada (+), rhonki (+/+) dan pada kulit terlihat adanya macula eritematosa pada wajah, leher, badan, ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Berkonfluens menjadi bercak yang lebih besar pada wajah, leher dan badan.. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan Hb 9.1 gr%.
1.7 Diagnosis Morbili
Stomatitis
10
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Bronkopneumonia Anemia
1.8 Tatalaksana
1. Ruang perawatan isolasi 2. IVFD 2A 16 tpm
3. Paracetamol 3 x 85 mg IV 4. Ceftriaxone 2 x 400 mg IV 5. L-Bio 1 x 1 PO
6. Puyer batuk (Ketricin 2 mg, Salbutamol 1 mg, Ambroxol ¼) 3 x 1 PO 7. Nystatin 4 x 2 ml PO
8. Vitamin A 1 x 200.000 IU PO
1.9 Prognosis
Quo ad vitam : Bonam Quo ad functionam : Bonam Quo ad sanationam : Bonam
11
Universitas Muhammadiyah Jakarta
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Campak merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi pada anak, sangat infeksius, dapat menular sejak awal masa prodromal (4 hari sebelum muncul ruam) sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam. Campak timbul karena terpapar droplet yang mengandung virus campak. Sejak program imunisasi campak dicanangkan, jumlah kasus menurun, namun akhir-akhir ini kembali meningkat.
2.1 Epidemiologi
Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempt ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0,77%). Campak merupakan penyakit endemis, terutama di negara berkembang.
Di Indonesia penyakit campak sudah dikenal sejak lama. Di masa lampau campak dianggap sebagai suatu hal yang harus dialami setiap anak, sehingga anak yang terkena campak tidak perlu diobati, mereka beranggapan bahwa penyakit campak dapat sembuh sendiri bila uram sudah keluar. Ada anggapan bahwa semakin banyak ruam yang keluar semakin baik. Bahkan ada upaya dari masyarakat untuk mempercepat keluarnya ram. Ada kepercayaan bahwa penyakit campak akan berbahaya bila ruam tidak keluar pada kulit sebab ruam akan muncul di dalam rongga tubuh lain seperti dalam tenggorokan, paru, perut atau usus. Hal ini diyakini akan menyebabkan anak sesak napas atau diare, yang dapat menyebabkan kematian. Dari penelitian retrospektif dilaporkan bahwa campak di Indonesia ditemukan sepanjang tahun. Studi kasus campak yang dirawat inap di rumah sakit selama kurun waktu lima tahun (1984-1988), memperlihatkan peningkatan kasus pada bulan Mart dan mencapai puncak pada Mei, Agustus, September dan Oktober.
Epidemi campak di Indonesia timbul secara tidak teratur, di daerah perkotaan terjadi setiap 2-4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Telah diketahui bahwa campak menyebabkan
12
Universitas Muhammadiyah Jakarta
penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering dijumpai ialah bronkopneumonia (75,2%), gastroenteritis (7,1%), ensefalitis (6,7%), dan lain-lain (7,9%).
Secara biologik, campak mempunyai sift adanya ruam yang jelas, tidak diperlukan hewan perantara, tidak ada penularan melalui serangga (vektor), adanya siklus musiman dengan periode bebas penyakit, tidak ada penularan virus secara tetap, hanya memiliki satu serotipe virus dan adanya vaksin campak yang efektif.
Sifat-sifat biologik campak ini serupa dengan cacar. Hal ini menimbulkan optimisme kemungkinan campak dapat dieradikasi dari muka bumi sebagaimana yang dapat dilakukan terhadap penyakit cacar. Cakupan imunisasi campak yang lebih dari 90% akan menghasilkan daerah bebas campak, seperti halnya di Amerika Serikat. Di Indonesia penyakit campak mendapat perhatian khusus sejak tahun 1970, setelah terjadi wabah campak yang cukup serius di Pulau Lombok (dilaporkan 330 kematian di antara 12.107 kasus) dan di Pulau Bangka (65 kematian di antara 407 kasus) pada tahun yang sama. Sampai sekarang permasalahan campak masih menjadi sumber perhatian dan keprihatinan. Wabah dan kejadian luar biasa campak masih sering terjadi. Salah satu di antaranya adalah wabah di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang pada tahun 1981, dengan CFR mencapai 15%. Pada kejadian luar biasa campak di Desa Bondokodi, Kabupaten Sumba Barat pada bulan Agustus 1984 sampai Februari 1985, 50% anak balita terserang campak dengan CFR 5,3%, bahkan baru-baru ini terdapat kejadian di Kabupaten Asmat, Papua. Menurut kelompok usia kasus campak yang rawat inap di rumah sakit di Indonesia selama kurun waktu 5 tahun (1984-1988) menunjukkan proporsi yang terbesar dalam golongan usia balita dengan perincian 17,6% berusia
<1 tahun; 15,2% berusia 1 tahun, 20,3% berusia 2 tahun, 12,3% berusia 3 tahun dan 8,2% berusia 4 tahun. Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun. Hasil survei prospektif oleh Badan Litbangkes di Sukabumi tahun 1982 menunjukkan CFR campak pada anak balita sebesar 0,64%. Sedangkan survai retrospektif di Sidoarjo dan 19 provinsi lainnya mendapatkan CFR campak berkisar antara 0,76-1,4%. Sedangkan laporan kasus di rumah sakit menunjukkan CFR campak yang jauh lebih besar. Hal ini disebabkan kebanyakan kasus campak yang
13
Universitas Muhammadiyah Jakarta
dibawa ke rumah sakit merupakan kasus yang parah dan hampir selalu dengan penyulit. Kejadian luar biasa campak lebih sering terjadi di daerah pedesaan terutama daerah yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya dalam program imunisasi. Di daerah transmigrasi sering terjadi wabah dengan angka kematian yang tinggi. Di daerah perkotaan khusus, kasus campak tidak terlihat, kecuali dari laporan rumah sakit. Hal ini tidak berarti bahwa daerah urban terlepas dari campak. Daerah urban yang padat dan kumuh merupakan daerah rawan terhadap penyakit yang sangat menular seperti campak. Daerah semacam ini dapat merupakan sumber kejadian luar biasa penyakit campak.
2.2 Etiologi
Virus campak berada di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ram. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperatur 35°C, dan beberapa hari pada suhu 0°C. Virus tidak aktif pada pH rendah.
2.3 Patogenesis
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi secara droplet melalui udara, sejak 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ram. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk ke dalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear, kemudian mencapai kelenjar getah bening regional. Di sini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak (sel Warthin), sedangkan limfosit-T (termasuk T-supressor dan T-helper) yang rentan terhadap infeksi, turut aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, terbentuklah fokus infeksi yaitu ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, kunjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih dan
14
Universitas Muhammadiyah Jakarta
usus. Pada hari ke 9-10, fokus infeksi yang berada di epitel saluran napas dan konjungtiva akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada satu sampai dua lapis sel.
Pada saat itu, virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respons imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak Kopliks, yang dapat tanda pasti untuk menegakkan diagnosis. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respons delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada sat itu antibodi humoral dapat dideteksi pada kulit. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Penelitian dengan imunofluoresens dan histologik menunjukkan adanya antigen campak dan diduga terjadi suatu reaksi Arthus. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu pneumonia juga dapat terjadi, selain itu campak dapat menyebabkan gizi kurang.
2.4 Manifestasi Klinis
Sebelum era hadirnya vaksin ini, campak adalah penyakit yang tak terelakkan pada masa anak yang dapat mudah dikenali oleh orang tua, orang awam, dan dokter.
Meskipun kadang dibingungkan dengan penyakit exanthematous yang lain, karakter campa biasanya menghasilkan diagnosis yang akurat. Saat ini di Indonesia, sedikit dari generasi baru dari dokter dan tenaga medis lainnya yang belum pernah melihat kasus campa sehingga perlu memperhatikan tanda dan gejala berikut ini.
Periode inkubasi
Periode inkubasi dari campak adalah sekitar 10 hari (kisaran, 8-12 hari).
Meskipun secara virologi dan imunologi terjadi selama periode ini, tetapi hampir
15
Universitas Muhammadiyah Jakarta
tidak ada sakit. Goodall, dkk, menduga pada beberapa pasien memiliki gejala pernapasan yang ringan dan demam setelah terkena virus.
Periode prodromal
Periode prodromal pada campak rata-rata terjadi 3 hari (2-4 hari). Gejala awal adalah pernapasan dan pilek, termasuk pula demam. Secara klinis, campak ditandai dengan malaise umum, demam, pilek, konjungtivitis, dan batuk. Gejala ini terjadi selama 2-4 hari. Pada fase prodromal ini, urtikaria dan macula timbul dengan demam yang kemudian akan menghilang sebelum munculnya eksantema yang khas. Selama periode prodromal, suhu meningkat secara bertahap, yaitu 39,5+1,1°C selama 4 hari. Gejala-gejala yang terjadi mirip dengan infeksi saluran pernapasan virus lainnya, yaitu mirip flu atau nasofaringitis akut. Bersin, rinitis, dan kongesti adalah gejala umum. Konjungtivitis berhubungan dengan lakrimasi dan pasien yang lebih tua kadang terganggu oleh fotofobia. Batuk pada fase prodromal dapat memburuk disertai ada nya suara parau karena keterlibatan laring dan trakea. Pada hari ke-10-11, Koplik spots (Koplik's sign), enantem yang khas pada campak akan muncul. Lesi bercak putih kebiruan/abu-abu pada permukaan mukosa yang merah.
Koplik spots muncul di mukosa buccal bersebrangan dengan molar bagian bawah.
Lesi ini awalnya sebesar 1 mm kemudian setelah itu menjadi lesi yang lebih besar.
Awalnya hanya beberapa lesi yang nampak, tetapi dalam 12 jam jumlahnya menjadi tak terhitung. Yang tak kalah pentingnya dalam menegakkan diagnosis yaitu permukaan mukosa yang berwarna merah terang dan bergranular. Selama period prodromal, lesi eritema makulopapular juga kadang dapat ditemukan di palatum.
Pada akhir periode prodromal, pada faring posterior nampak eritema dan pasien sering mengeluh nyeri tenggorokan.
Periode eksantema
Pada campak yang khas, eksantema muncul pada hari ke-14. Eksantema terjadi pada puncak gejala respiratori dan ketika suhu sekitar 39,5°C. Pada saat ini, manifestasi dari Koplik spots telah memuncak, dan selama 3 hari berikutnya mereka menghilang. Namun, setelah bintik yang spesifik menghilang, latar belakang yang merah tetap ada selama 1-2 hari. Eksantema berupa eritema makulopapular pertama kali muncul di belakang telinga dan di dahi di garis rambut.
Penyebaran ruam adalah sentrifugal dari kepala sampai kaki. Pada hari ke-3, ruam
16
Universitas Muhammadiyah Jakarta
telah muncul di wajah, leher, batang, ekstremitas atas, bokong, dan ekstremitas bawah secara berurutan. Ruam pada awalnya berupa eritematosa dan makulopapular yang kemudian menjadi konfluens sesuai dengan arah penyebarannya. Ruam konfluens nampak lebih prominen di bagian wajah, sedangkan ekstremitas bawah dapat tetap berupa ruam yang diskret. Eksantema mulai jelas di hari ke-3 dan ke-4, mengikuti proses sentrifugal. Tahap awal dari ruam, dengan warna merah dan pucat saat ditekan. Saat ruam mulai pudar, berubah menjadi warna seperti tembaga lalu berubah kecoklatan dan tidak hilang saat ditekan. Pada penyembuhan terjadi deskuamasi di daerah konfluen dengan perubahan menjadi kecoklatan. Lama dari period eksantema biasanya 6-7 hari.
Selama periode eksantema, demam umumnya mengalami puncaknya pada hari kedua dan ketiga dari ruam dan kemudian turn selama 24 jam. Demam yang menetap setelah hari ke-3 dan ke-4 dari eksantema menunjukkan indikasi komplikasi.
Pilek yang menetap baik purulen maupun tidak, diduga mengalami infeksi bakterial sekunder. Batuk biasanya menghilang saat muncul ruam, namun pada usia yang lebih tua sering kali menjadi batuk produktif. Batuk dapat menetap selama 10 hari atau lebih. Faringitis dan pembesaran kelenjar leher adalah umum terjadi pada periode eksantema. Pada anak yang lebih muda kadang-kadang mengalami diare, muntah, laringitis dan croup. Nyeri abdomen juga kadang dikeluhkan.
Periode konvalesens
Pada fase konvalesens, ruam berubah menjadi hiperpigmentasi dan mengelupas.
2.5 Diagnosis 2.5.1 Anamnesis
Anamnesis berupa demam, batuk, pilek, mata merah, dan ruam yang mulai timbul dari belakang telinga sampai ke seluruh tubuh.
2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik berupa suhu badan tinggi (>38 C), mata merah, dan ruam maculopapular.
17
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2.5.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium jarang diindikasikan pada campak yang tipikal dan tanpa komplikasi, karena diagnosis campak dapat ditegakkan hanya berdasar klinis dan epidemiologi. Studi yang dilakukan, yaitu ELISA. Jika sampel serum akut diperoleh selama fase prodromal dan sampel serum kedua diperoleh 7-10 hari kemudian, ditemukan kenaikan signifikan IgG titer antibodi. Pada saat ruam telah muncul, tes untuk mengidentifikasi antibodi campak adalah IgM. Meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua kasus manifestasinya sama dan jelas. Sebagai contoh, pasien yang mengidap gizi kurang, ruamnya dapat sampai berdarah dan mengelupas atau bahkan pasien sudah meninggal sebelum ram timbul (black measles). Pada kasus gizi kurang juga dapat terjadi diare yang berkelanjutan. Dapat disimpulkan bahwa diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu;
seperti pada pemeriksaan sitologik ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi, dan pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM spesifik. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal.
2.6 Diagnosis Banding
Campak harus dibedakan dari beberapa penyakit yang klinisnya juga berupa ruam makulopapular. Gejala klinis klasik campak adalah adanya stadium prodromal demam disertai coryza, batuk, konjungtivitis, dan penyebaran ruam makulopapular. Penyakit lain yang menimbulkan ruam yang sama antara lain:
Rubella (Campak Jerman) dengan gejala lebih ringan dan tanpa disertai batuk.
Roseola infantum dengan gejala batuk ringan dan demam yang mereda ketika ruam muncul.
Parvovirus (fifth disease) dengan ruam makulopapular tanpa stadium prodromal.
Demam scarlet (scarlet fever) dengan gejala nyeri tenggorokan dan demam tanpa konjungtivitis ataupun coryza.
Penyakit Kawasaki dengan gejala demam tinggi, konjungtivitis, dan ruam, tetapi tidak disertai batuk dan bercak Koplik. Biasanya timbul nyeri dan pembengkakan sendi yang tidak ada pada campak.
18
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2.7 Penyulit
Komplikasi umumnya terjadi pada anak risiko tinggi, yaitu:
Usia muda, terutama di bawah 1 tahun
Malnutrisi (marasmus atau kwasiorkor)
Pemukiman padat penduduk yang lingkungannya kotor
Anak dengan gangguan imunitas, contohnya pada anak terinfeksi HIV, malnutrisi, atau keganasan
Anak dengan defisiensi vitamin
Komplikasi dapat terjadi pada berbagai organ tubuh, antara lain:
a. Laringitis akut
Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran napas, yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ditandai dengan distres pernapasan, sesak, sianosis dan stridor. Ketika demam turn keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang.
b. Pneumonia
Dapat disebabkan oleh virus campak maupun akibat invasi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi napas, dan adanya ronki basah halus.
Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang, kecuali batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran napas mash terus berlangsung, dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus.
Gambaran infiltrat pada foto toraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang berkembang di mana malnutrisi mash menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi antibiotik.
c. Kejang demam
Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam saat ruam keluar. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang demam.
19
Universitas Muhammadiyah Jakarta
d. Ensefalitis
Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada hari ke-4-7 setelah timbulnya rum. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dari 1.000 kasus campak, dengan mortalitas antara 30-40%. Terjadinya ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak. Gejala ensefalitis dapat berupa kejang, letargi, kora dan iritabel.
Keluhan nyeri kepala, frekuensi napas meningkat, twitching, disorientasi juga dapat ditemukan. Pemeriksaan cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan kadar glukosa alar batas normal.
e. SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)
Subacute sclerosing panencephalitis merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak yang persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah menderita campak adalah 0,6-2,2 per 100.000 infeksi campak. Risiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan masa inkubasi rata- rata 7 tahun. Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh inkoordinasi motorik, kejang umumnya bersifat mioklonik. Laboratorium menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). Tidak ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan
f. Otitis media
Invasi virus ke dalam telinga tengah umumnya terjadi pada campak.
Gendang telinga biasanya hiperemis pada fase prodromal dan stadium erupsi.
Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus akan terjadi otitis media purulenta. Dapat pula terjadi mastoiditis.
g. Enteritis
Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan diare pada fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus.
Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan protein (protein losing enteropathy) yang akan memperburuk status nutrisi.
20
Universitas Muhammadiyah Jakarta
h. Konjungtivitis
Pada hampir semua kasus campak terjadi konjungtivitis, yang ditandai dengan adanya mata merah, pembengkakan kelopak mata, lakrimasi dan fotofobia. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Virus campak atau antigennya dapat dideteksi pada lei konjungtiva pada hari-hari pertama sakit. Konjungtivitis dapat memburuk dengan terjadinya hipopion dan panoftalmitis hingga menyebabkan kebutaan. Dapat pula timbul ulkus kornea.
i. Sistem kardiovaskular
Pada EKG dapat ditemukan kelainan berupa perubahan pada gelombang T, kontraksi prematur aurikel dan perpanjangan interval AV. Perubahan tersebut bersifat sementara dan tidak atau hanya sedikit mempunyai arti klinis.
j. Adenitis servikal
k. Purpura trombositopenik dan non-trombositopenik
l. Pada ibu hamil dapat terjadi abortus, partus prematurus dan kelainan kongenital pada bayi
m. Aktivasi tuberkulosis n. Pneumomediastinal o. Emfisema subkutan p. Apendisitis
q. Gangguan gizi sampai kwasiorkhor r. Infeksi piogenik pada kulit
s. Kankrum oris (noma)
2.8 Tatalaksana
Pasien campak tapa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Di rumah sakit pasien campat dirawat di bangsal isolasi sistem pernapasan, diperlukan perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai.
21
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Vitamin A
Defisiensi vitamin A pada anak di negara berkembang diketahui berhubungan dengan peningkatan mortalitas dari campak. Di Amerika Serikat, pada penelitian di awal 1990 menunjukkan bahwa 22-72% anak dengan campak mempunyai level retinol yang rendah. Ditunjukkan pula terdapat korelasi antara level dari retinol dengan keparahan penyakit. Pemberian terapi vitamin A di negara berkembang dan di Amerika serikat menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas dari campak. Vitamin A seharusnya diberikan 1 kali sehari selama 2 hari dengan dosis 50.000 IU peroral pada anak dibawah 6 bulan, 100.000 IU per oral pada anak usia 6 bulan-1 tahun, dan 200.000 IU untuk anak usia 1 tahun keatas, apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 I tiap hari.
Apabila terdapat penyulit, pengobatan disesuaikan:
Pneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dan apabila dipandang perl, diberikan kombinasi dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin dapat negatif (anergi) pada saat anak menderita campak. Gangguan reaksi delayed hipersensitivity disebabkan oleh sel limfosit-T yang terganggu fungsinya.
Enteritis, pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis + dehidrasi.
Otitis media, sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, sehingga perlu diberikan antibiotik kotrimoksazol-sulfametokzasol (TMP 4 mg/
kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis)
Ensefalopati, perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga 3/4 kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid. Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah.
22
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2.8.1 Pencegahan
Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berusia 9 bulan atau lebih. Program imunisasi campak secara las baru dikembangkan pelaksanaannya pada tahun 1982. Pada tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonstone B) dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium). Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat.
Sebaliknya, vaksin campak yang berasal dari virus hidup yang dilemahkan, dikembangkan dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965) dan kemudian menjadi strain Moraten (1968) dengan mengembangbiakan virusnya pada embrio ayam. Vaksin Edmonstone Zagreb merupakan hasil biakan dalam human diploid cell yang dapat digunakan secara inhalasi atau aerosol dengan hail yang memuaskan.
Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1.000 TCID-50 atau sebanyak 0,5 ml. Tetapi dalam hal vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID-50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. Cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan, walaupun dari data yang terbatas dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular tampaknya mempunyai efektivitas yang sama dengan subkutan. Intranasal dan cara inokulasi konjungtiva sampai sekarang mash terus dilakukan penyelidikan untuk mengetahui efektivitas pemberian vaksin Edmonstone B yang dilemahkan. Sebaliknya pada pemberian vaksin Edmonstone Zagreb secara aerosol didapatkan respons antibodi yang baik walaupun pada anak usia di bawah 9 bulan. Sayangnya pemberian aerosol in masih sulit dikembangkan. Kombinasi beberapa antigen (vaksin kombinasi) atau secara simultan di beberapa tempt pada waktu yang sama sering digunakan untuk menyederhanakan prosedur dan mengurangi biaya. Dalam hal demikian ada 2 kemungkinan yang mungkin terjadi, yaitu peningkatan respons imun atau sebaliknya, menunggu respons imun. Laporan mengenai peningkatan reaksi yang lebih baik karena pemakaian vaksin yang dikombinasikan dibandingkan dengan
23
Universitas Muhammadiyah Jakarta
vaksin tunggal, oleh peneliti tidak ditemukan. Dikatakan bahwa pada kombinasi dengan virus mati tidak didapatkan penurunan respons imun akan tetapi virus hidup dapat saling memengaruhi.
Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, vaksin difteria-tetanus dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif. Seperti yang ditemukan oleh Schwarz (1975), serokonversi dapat terjadi antara 97-100%, sedangkan geometric mean titer-nya sama tinggi dengan yang didapatkan pada pemberian vaksin tunggal. Efek proteksi dari vaksin campak diukur dengan berbagai macam cara. Salah satu indikator pengaruh vaksin terhadap proteksi adalah penurunan angka kejadian sakit kasus campak sesudah pelaksanaan program imunisasi. Krugman, dkk. mencatat bahwa sebagian besar kasus campak dari suatu populasi kelompok aak sekolah akan menghilang setelah program imunisasi berjalan lancar, sedangkan di masyarakat sekitarnya tingkat penularan yang tinggi mash dijumpai. Hasil pengamatan tersebut sesuai dengan hasil nilai secara nasional di Amerika Serikat maupun negara lainnya yang sudah melaksanakan program imunisasi campak secara melas. Metode lain untuk mengukur efek proteksi dari vaksin campak ialah membandingkan angka kejadian sakit pada kelompok anak yang sudah diimunisasi dan mengukur efektivitas vaksin dengan formula (ARU-ARU) x 100/ARL. Efektivitas vaksin dapat dihitung dengan memakai pendekatan kasus dan kontrol, yaitu membandingkan proporsi kasus dan kontrol yang sudah diimunisasi. Dari data yang benar, efektivitas vaksin adalah sebesar 90-95% atau lebih. Hasil ini harus didukung dengan data serokonversi. Perhitungan in sangat bermanfaat apabila angka cakupan imunisasi campak sangat tinggi, yaitu lebih dari 95%.
Jika proporsi kasus campak pada kelompok yang sudah diimunisasi masih tetap tinggi berarti bahwa vaksinnya yang kurang baik. Proteksi dapat dicatat dengan memeriksa respons imun dan manifestasi klinis yang timbul akibat pemberian imunisasi dengan virus vaksin yang tidak ganas. Akibat setiap pemberian imunisasi akan menyebabkan respons imun anamnestik pada kasus yang tidak menunjukkan gejala klinis dari penyakitnya. Kegagalan vaksinasi perlu dibedakan antara kegagalan primer dan sekunder. Dikatakan primer apabila tidak terjadi serokonversi
24
Universitas Muhammadiyah Jakarta
setelah diimunisasi dan sekunder apabila tidak ada proteksi setelah terjadi serokonversi. Berbagai kemungkinan yang menyebabkan tidak terjadinya serokonversi ialah, (a) Adanya antibodi yang dibawa sejak lahir yang dapat menetralisir virus vaksin campak yang masuk, (b) Vaksin rusak, (c) Akibat pemberian imunoglobulin yang diberikan bersama-sama. Kegagalan sekunder dapat terjadi karena potensi vaksin yang kurang kuat sehingga respons imun yang terjadi tidak adekuat dan tidak cukup untuk memberikan perlindungan pada bayi terhadap serangan campak secara alami..
2.9 Prognosis
Campak merupakan self limited disease, namun sangat infeksius. Mortalitas dan morbiditas meningkat pada penderita dengan faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya komplikasi. Di negara berkembang, kematian mencapai 1-3%, dapat meningkat sampai 5-15% saat terjadi KLB campak.
25
Universitas Muhammadiyah Jakarta
BAB III ANALISA KASUS
3.1 Dasar Diagnosis Morbili
Teori Temuan pada Pasien
Periode inkubasi
Periode inkubasi dari campak adalah sekitar 10 hari (kisaran, 8-12 hari).
Meskipun secara virologi dan imunologi terjadi selama periode ini, tetapi hampir tidak ada sakit. Goodall, dkk, menduga pada beberapa pasien memiliki gejala pernapasan yang ringan dan demam setelah terkena virus.
Stadium Prodromal
3-5 hari biasanya ringan, tetapi pada akhir stadium erupsi dapat meningkat mencapai 40°C. Ditemukan tanda 3 C (coryza, cough, conjunctivitis).
Koplik's spot: patognomonis, ditemukan 1-2 hari sebelum sampai 1-2 hari sesudah timbul ruam (stadium erupsi), berupa lesi punctuta
putih di daerah mukosa bukal (tersering di daerah molar 2 bawah).
Stadium Erupsi
Pada akhir stadium prodromal terjadi 1 suhu tubuh, pada saat panas mencapai
Pasien datang ke RSUD Sekarwangi dengan keluhan demam sejak 8 hari yang lalu. Demam naik turun, turun dengan obat penurun demam. Keluhan disertai dengan batuk dan pilek, pilek dengan lendir encer, dan pada 1 hari yang lalu pasien tampak sesak. Selain itu, Ibu pasien juga mengatakan sebelumnya pernah melihat adanya kemerahan pada kedua mata pasien. Terdapat ruam kemerahan yang awalnya terlihat pada daerah pipi kanan pada dan kiri pada 2 hari yang lalu, semakin lama terlihat menyebar ke daerah leher dan dada, lalu pada hari ini ruam kemerahan terdapat di seluruh badan pasien. Ruam kemerahan tidak disertai dengan adanya rasa gatal. Pasien tampak rewel dan nafsu makan menurun. Tidak terdapat keluhan mual, muntah, keluar cairan dari telinga, gusi berdarah, mimisan, kejang dan penurunan BB.
Pada 2 hari yang lalu, terdapat BAB cair sebanyak 2-3 kali dalam sehari dengan konsistensi cair, berwarna
26
Universitas Muhammadiyah Jakarta
puncaknya timbul ruam berupa ruam makulo-eritrematosus, bersifat konfluens, dimulai dari belakang telinga menyebar ke badan, lengan, dan tungkai. Dalam 3 hari ruam sudah
tersebar ke seluruh tubuh. Panas badan masih tetap tinggi selama 2-3 hr sesudah ruam timbul, bila tidak mengalami penyulit pasien memasuki masa konvalesens. Pada anak yang lebih muda kadang-kadang mengalami diare, muntah, laringitis dan croup.
Stadium Konvalesens
Panas badan mulai & turun, ruam meninggalkan bekas hiperpigmentasi yang dapat bertahan sampai 7-14 hari.
kuning, tidak terdapat lendir dan darah. Hari ini sudah tidak ada keluhan tersebut. BAK tidak terdapat keluhan.
Pada kulit terlihat adanya macula eritematosa pada wajah, leher, badan, ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Berkonfluens menjadi bercak yang lebih besar pada wajah, leher dan badan.
3.2 Dasar Diagnosis Bronkopneumonia
Teori Temuan pada Pasien
Komplikasi campak dapat terjadi pada berbagai organ tubuh, antara lain:
Pneumonia
Dapat disebabkan oleh virus campak maupun akibat invasi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi napas, dan adanya ronki basah halus.
Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang, kecuali
Pasien datang ke RSUD Sekarwangi dengan keluhan demam sejak 8 hari yang lalu. Demam dirasakan semakin lama semakin tinggi, naik turun, turun dengan obat penurun demam. Keluhan disertai dengan batuk dan pilek, pilek dengan lendir encer, dan pada 1 hari yang lalu pasien tampak sesak.
27
Universitas Muhammadiyah Jakarta
batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran napas masih terus berlangsung, dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus.
Gambaran infiltrat pada foto toraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang berkembang di mana malnutrisi mash menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi antibiotik.
Klasifikasi Pneumonia menurut WHO:
Pneumonia berat/sangat berat Pneumonia disertai dengan tanda bahaya (tidak dapat minum, muntah, kejang, letargis atau penurunan kesadaran, suara napas mengorok pada anak tenang atau malnutrisi berat).
Pneumonia
Napas cepat dan/atau tarikan dinding dada ke dalam.
Bukan pneumonia Batuk dan pilek.
Klasifikasi Pneumonia menurut Kemenkes:
Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan frekuensi napas 46x/menit dan suhu 39.8 C. Pada pemeriksaan generalisata didapatkan retraksi dada (+), rhonki (+/+).
28
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Pneumonia berat
Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam atau saturasi oksigen <90%.
Pneumonia Napas cepat saja.
Batuk bukan pneumonia
Tidak ada napas cepat atau Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.
3.3 Dasar Terapi
Teori Temuan pada Pasien
Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Di rumah sakit pasien campat dirawat di bangsal isolasi sistem pernapasan, diperlukan perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai.
Vitamin A
Defisiensi vitamin A pada anak di negara berkembang diketahui berhubungan dengan peningkatan mortalitas dari campak. Di Amerika Serikat, pada
1. Ruang perawatan isolasi 2. IVFD 2A 16 tpm
3. Paracetamol 3 x 85 mg IV 4. Ceftriaxone 2 x 400 mg IV 5. L-Bio 1 x 1 PO
6. Puyer batuk (Ketricin 2 mg, Salbutamol 1 mg, Ambroxol ¼) 3 x 1 PO
7. Nystatin 4 x 2 ml PO
8. Vitamin A 1 x 200.000 IU PO
29
Universitas Muhammadiyah Jakarta
penelitian di awal 1990 menunjukkan bahwa 22-72% anak dengan campak mempunyai level retinol yang rendah.
Ditunjukkan pula terdapat korelasi antara level dari retinol dengan keparahan penyakit. Pemberian terapi vitamin A di negara berkembang dan di Amerika serikat menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas dari campak. Vitamin A seharusnya diberikan 1 kali sehari selama 2 hari dengan dosis 50.000 IU peroral pada anak dibawah 6 bulan, 100.000 IU per oral pada anak usia 6 bulan-1 tahun, dan 200.000 IU untuk anak usia 1 tahun keatas, apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 I tiap hari.
Apabila terdapat penyulit, pengobatan disesuaikan:
Pneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dan apabila dipandang perlu, diberikan kombinasi dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak
30
Universitas Muhammadiyah Jakarta
sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin dapat negatif (anergi) pada saat anak menderita campak. Gangguan reaksi delayed hipersensitivity disebabkan oleh sel limfosit-T yang terganggu fungsinya.
(Hadinegoro et al., 2018; Halim, 2016)
31
Universitas Muhammadiyah Jakarta
DAFTAR PUSTAKA
Hadinegoro, S. R. S., Moedjito, I., Hapsari, M. D., & Alam, A. (2018). Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Halim, R. G. (2016). Campak pada Anak. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran, 43(3), 186–189. https://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-
content/uploads/2017/03/TI07_Morbili-Q.pdf