Epilepsy
Oleh :
Nama : Novia Desi Deria NIM : K1B123007
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo
LAPORAN KASUS
DESEMBER 2023
Pembimbing : dr. Yeni Haryani,
M.Sc., Sp.A
Identitas Pasien
Nama An. Deni Kurniawan
Umur 4 Bulan
Alamat Jl. Bakutaru, Moramo
Agama Islam
Suku Jawa
Jenis Kelamin Laki-laki
No. RM 30 79 xx
Tanggal Masuk RS
17 Oktober 2023 (14.33 WITA) DPJP dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp. A
Alloanamnesis dengan Ibu pasien 1. Keluhan utama : kejang
2. Anamnensis terpimpin :
Pasien masuk ke IGD RSUD Kota Kendari dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan kejang sejak hari ini SMRS. Pada saat dirumah pasien mengalami kejang sebanyak 4 kali, Puskesmas 3 kali, perjalanan menuju RS 2 kali dan IGD sebanyak 2 kali, durasi kejang +/- 1 menit, kejang seluruh tubuh kaku dengan mata keatas, setelah kejang pasien tidak sadar. Ibu pasien mengatakan sebelum kejang pasien tidak mengalami demam. Keluhan lain batuk (+), flu (-), pilek (+), sesak (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan baik, BAB dan BAK dalam batas normal.
Riwayat penyakit sebelumnya dengan keluhan yang sama tidak pernah. Riwayat berobat dengan keluhan kejang disangkal. Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga ada, yaitu saudara pasien. Riwayat alergi tidak ada.
Riwayat imunisasi lengkap. Riwayat kelahiran pasien dilahirkan dari ibu G3P3A0 anak ketiga dengan usia kehamilan 9 bulan berat badan lahir 3,3 kg, lahir secara spontan dibantu oleh bidan di Puskesmas Lapuko. Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan usianya. Riwayat imunisasi lengkap sesuai dengan usianya
Anamnesis
1. Status Pasien
a) Keadaan Umum : Sakit sedang b) Kesadaran : CM, GCS 15
c) Tanta Vital
Nadi : 141x/menit Suhu : 36.80c
Pernapasan : 39x/m
SpO2 : 98%
d) Pucat : (-) e) Ikterus : (-) f) Sianosis : (-) g) Turgor : Baik
h) Tonus : Baik
i) Edema : (-)
Pemeriksaan Fisik
j) Antropometri
Berat badan : 6,5 kg Panjang badan : 68 cm Lingkar kepala : 42 cm Lingkar perut : 49 cm Lindkar dada : 48 cm
Lingkar lengan atas : 12 cm k) Status Gizi
BB/U : 0 – (-2) SD (BB Normal) PB/U : 0 – (-2) SD (PB Normal) BB/PB : -1 – (-2) SD (Gizi Baik)
2. Pemeriksaan Head to Toe Kepala : Normocephal
Muka : Simetris kiri dan kanan Rambut : Hitam dan tidak mudah tercabut
Ubun-ubun besar : Tertutup Telinga : Otitis (-/-), Otorhea (-/-) Mata : Cekung (-/-), Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik(-/-) , Pupil isokor, Refleks kornea (+/+) kesan normal, RCL (+/+), RCTL (+/
+), Strabismus (-/-)
Hidung : Napas cuping hidung (-), Epistaksis (-/-),Rinore (-/-)
Bibir : Pucat (-), Kering (-), Sianosis (-) Lidah : Kotor (-)
Pemeriksaan Fisik
Sel mulut : Stomatitis (-)
Tenggorokan : Hiperemis (-) Tonsil : T1/T1
Leher : Kaku kuduk (-), Brudzinsky I (-) pembesaran KGB (-)
Bentuk dada : Normochest Jantung
Ictus cordis : Tidak teraba
Batas kiri : ICS 5 linea midclavicularis sinistra
Batas kanan : ICS 4 linea parasternalis dekstra
Irama : BJ I/II murni reguler
2. Pemeriksaan Head to Toe Paru
Inspeksi : Simetris kiri kanan, retraksi (-) subcostal
Palpasi : Krepitasi (-), Nyeri tekan (-), Massa (-)
Perkusi : Sonor kiri dan kanan Auskultasi : Bunyi napas vesikuler (+/
+), Bunyi napas tambahan rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Pemeriksaan Fisik
Abdomen
Inspeksi : Datar, ikut gerak napas Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal Perkusi : Bunyi timpani
Palpasi : Supel, Nyeri tekan (-), Pembesaran organ (-)
Limfa : Pembesaran (-) Hepar : Pembesaran (-)
Alat kelamin : Tidak ada kelainan
Kelenjar limfe : Tidak teraba pembesaran Kulit : Tidak terdapat kelainan
Ekstremitas Superior : Akral hangat, CRT <2 detik, tonus (+/+) normal
Ekstremitas Inferior : Akral hangat, CRT <2 detik, tonus (+/+) normal
KPR : -/-
Refleks Patologis : -/-
Columna vertebralis : Dalam batas normal
Pemeriksaan Penunjang
PARAMETER HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN
WBC 7,2 4.00 – 10.00 10^3/uL
Neutrofil # 2,36 1.1 – 7 10^3/uL
Limfosit # 4,12 0.7 – 5.1 10^3/uL
Monosit # 0,50 0.00 – 0.90 10^3/uL
Eosinofil # 0,22 0.00 – 0.90 10^3/uL
Basofil # 0,05 0 – 0.2 10^3/uL
Neutrofil % 32,6 50 – 70 %
Limfosit % 56,8 20 – 40 %
Monosit % 6,9 3 – 8 %
Eosinofil % 3,0 0.5 – 5 %
Basofil % 0,7 0 – 1 %
PARAMETER HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN
RBC 3,97 3,9 – 5.9 10^6/uL
HB 10,4 14,9 – 23,7 g/dL
HCT 32,3 37 – 48 %
MCV 81 81 – 99 fL
MCH 26,3 27 – 31 pg
MCHC 32,3 33 – 37 g/dL
RDW-CV 11,3 11.5 – 14.5 %
RDW-SD 33 35 – 47 fL
PLT 385 150 – 450 10^3/uL
MPV 8,2 7.2 – 11.1 fL
PDW 13,3 9 – 13.0 %
PCT 0,315 0.15 – 0.4 %
Darah Rutin (17/10/2023)
Pemeriksaan Penunjang
EEG (20/10/2023)
Ditemukan gelombang epileptogenic pada
rekaman EEG
Resume
By. DK jenis kelamin laki-laki usia 4 bulan masuk dengan keluhan kejang hari ini sebelum masuk rumah sakit. Pada saat dirumah pasien mengalami kejang sebanyak 4 kali, puskesmas 3 kali, perjalanan menuju RS 2 kali dan IGD sebanyak 2 kali, durasi kejang +/- 1 menit, kejang seluruh tubuh kaku dengan mata keatas, setelah kejang pasien tidak sadar. Ibu pasien mengatakan sebelum kejang pasien tidak mengalami demam. Keluhan lain batuk (+), flu (-), pilek (+), sesak (-), mual - muntah (-), nafsu makan baik, BAB dan BAK dalam batas normal.
Riwayat penyakit sebelumnya dengan keluhan yang sama tidak pernah. Riwayat berobat dengan keluhan kejang disangkal. Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga ada, yaitu saudara pasien. Riwayat alergi tidak ada.
Riwayat imunisasi lengkap. Riwayat kelahiran pasien dilahirkan dari ibu G3P3A0 anak ketiga dengan usia kehamilan 9 bulan berat badan lahir 3,3 kg, lahir secara spontan dibantu oleh bidan di Puskesmas Lapuko. Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan usianya.
Riwayat imunisasi lengkap sesuai dengan usianya.
Resume
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit sedang, kesadaran compos mentis, GCS E4M6V5, tanda vital didapatkan, nadi 141 x/menit, suhu 36,8 C, pernapasan 39 x/menit, SpO2 98%, berat badan 6,8 kg. Pemeriksaan head to toe didapatkan kepala : normocephal dan ubun-ubun besar menutup; mata : RCL (+/+) dan RCTL (+/+); Leher : kaku kuduk (-); jantung, paru dan abdomen dalam batas normal; ektremitas : akral hangat, CRT<2 detik.
Pemeriksaan laboratorium darah rutin tanggal 17 Oktober
2023 didapatkan RBC : 3,97 x 10^6/uL; HB : 10,4 g/dL; HCT :
32,3% kesan anemia. Pemeriksaan EEG pada tanggal 20
Oktober 2023 didapatkan gelombang epileptogenic pada
rekaman EEG yang mendukung suatu Idiopatic Generalized
Epilepsy.
Epilepsi
Diagnosis Banding
Ensefalitis
Meningitis Anjuran
Pemeriksaan
CT-Scan Pungsi Lumbal
Diagnosis Kerja
Non-Medikamentosa Medikamentosa
• Edukasi orang tua mengenai penyakit yang diderita oleh pasien serta bagaimana pengobatannya
• Keluarga diminta untuk memonitoring tanda-tanda kejang pada anak (aura), pencetus, dan mengetaui bentuk serta durasi kejang pada anak.
• Edukasi mengenai tindakan yang dapat kita lakukan jika pasien kejang
• ASI on demand
• O2 4-5 lpm NK
• IVFD asering 10 tpm
• Fenitoin 40mg/12J/IV
• Ceftriaxon 300mg/24J/drips NaCl 50 ml
• Stesolid rectal 5 mg/suppositoria
• LD phenytoin 130mg dalam 20 ml NaCl 0.9% habis dalam 30 menit
• MD phenytoin 40mg/12J/IV (dilarutkan dalam 10 ml NaCl 0.9%) dimasukkan 12 jam setelah LD Inj. Ceftriaxon
Terapi
Follow Up
(17.10.2023)
Follow Up
(18.10.2023)
Follow Up
(19.10.2023)
Follow Up
(20.10.2023)
Follow Up
(21.10.2023)
Analisis
Kasus
Analisis Kasus
Epilepsi
Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh adanya bangkitan (seizure) yang terjadi secara berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermitten, yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan yang berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf diotak, bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked).
Pada kasus ini, bayi tersebut mengalami kejang sebanyak 11 kali, dengan durasi kejang kurang lebih 1 menit, seluruh tubuh kaku dengan mata yang naik ke atas dan setelah kejang pasien tidak sadar.
Pasien di diagnosis
dengan Epilepsi.
Analisis Kasus
Kejang epileptik adalah kejadian klinis yang ditandai dengan kejang pertama kali tanpa demam dan tanpa provokasi (first unprovoked seizure) adalah satu atau lebih kejang tanpa demam maupun gangguan metabolik akut yang terjadi dalam 24 jam disertai pulihnya kesadaran di antara kejang.
Kejang pada pasien
tidak didahului
dengan demam dan
merupakan kejang
pertama kali yang
dialami oleh pasien.
Analisis Kasus
Di Indonesia belum ada data insidens yang pasti karena banyak penderita epilepsi yang tidak terdeteksi. Penderita epilepsi ini sebagian akan mengalami status epileptikus.
Berdasarkan data dari Kemenkes RI, 40% anak penderita epilepsi mengalami status epileptikus sebelum usia 2 tahun, bahkan 75%
penderita epilepsi mengalami status epileptikus sebagai gejala pertama epilepsii.
Pada kasus ini, pasien berusia 4 bulan.
Analisis Kasus
ILAE (1981) membagi kejang menjadi kejang umum dan kejang parsial dengan definisi sebagai berikut:
● Kejang umum
● Kejang parsial (fokal)
Selain itu ILAE (1989) juga membagi epilepsi berdasarkan etiologi. Menurut etiologi epilepsi dapat dibagi menjadi:
● Epilepsi atau sindrom epilepsi idiopatik : epilepsi tanpa kelainan struktur otak dan tidak ditemukan defisit neurologi. Faktor genetic diduga pada tipe ini.
● Epilepsi atau sindrom epilepsi simtomatik : epilepsi yang disebabkan satu atau lebih kelainan anatomi dan ditemukan defisit neurologi
● Epilepsi atau sindrom epilepsi kriptogenik : epilepsi diasumsikan simtomatik tetapi etiologi masih belum diketahui..
Pada kasus ini, pada pasien tidak ditemukan defisit neurologi.
Berdasarkan
klasifikasi epilepsi
berdasarkan etiologi,
pasien masuk dalam
kategori epilepsi
idiopatik yaitu
epilepsi tanpa
adanya kelainan
struktur otak dan
tidak ditemukan
defisit neurologi dan
adanya riwayat
keluhan yang sama
pada keluarganya
yaitu saudara pasien.
Analisis Kasus
Pada pemeriksaan fisik jika ditemukan tanda- tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi, seperti trauma kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan kongenital, dan gangguan neurologic fokal atau difus.
Pemeriksaan fisik harus menepis sebab-sebab terjadinya serangan dengan menggunakan umur dan riwayat penyakit sebagai pegangan.
Pada anak-anak pemeriksa harus memperhatikan adanya keterlambatan perkembangan, organomegaly, perbedaan ukuran antara anggota tubuh dapat menunjukkan awal gangguan pertumbuhan otak unilateral.
Pada pemeriksaan fisik pasien tidak ditemukan tanda- tanda gangguan epilepsi, sehingga kita memerlukan pemeriksaan
penunjang lainnya
salah satunya yaitu
pemeriksaan EEG.
Analisis Kasus
Pada epilepsi akan ditemukan gelombang yang biasanya tidak terdapat pada anak normal, misalnya gelombang tajam, paku (spike), paku-ombak, paku majemuk, dan gelombang lambat yang timbul secara paroksimal.
Tujuan utama pemeriksaan EEG adalah untuk mengevaluasi pasien dengan kejang untuk memungkinkan diagnosis yang akurat mengenai jenis kejang agar terapi dapat diberikan secara tepat.
Temuan yang paling berguna untuk mendukung diagnosis epilepsi adalah aktivasi IED, yang dapat bersifat fokal atau umum dalam distribusinya.
Hasil pemeriksaan
EEG pasien
ditemukan interictal epileptiform
discharge (IED)
berupa spike dan
wave dominan
frontocentrotemporal
pada hemisfer
bilateral yang
mendukung suatu
Idiopatic Generalized
Epilepsy.
Analisis Kasus
• O2 4-5 lpm NK
• IVFD asering 10 tpm
• Fenitoin 40mg/12J/IV
• Ceftriaxon
300mg/24J/drips NaCl 50 ml
• Stesolid rectal 5 mg/suppositoria
• LD phenytoin 130mg dalam 20 ml NaCl 0.9% habis dalam 30 menit
• MD phenytoin 40mg/12J/IV
(dilarutkan dalam 10 ml NaCl 0.9%) dimasukkan 12 jam setelah LD Inj.
Ceftriaxon
Analisis Kasus
Tatalaksana Non-medikamentosa yang dapat diberikan pada anak epilepsi (Kemenkes RI), yaitu :
● Diet ketogenik
● Tindakan bedah
● Stimulasi nervus vagus
Pada pasien tidak dilakukan tatalaksana non- medikamentosa, yaitu diet ketogenik, terapi bedah dan stimulasi nervus vagus karena pada pasien tidak memiliki indikasi untuk dilakukan ketiga hal tersebut. Dimana diagnosis epilepsi pada pasien ini baru ditegakkan, sedangkan pemberian diet ketogenik, tindakan pembedahan dan stimulasi nervus vagus dapat diberikan pada pasien yang tidak responsive terhadap pemberian OAE serta terbukti adanya hasil tes menunjukkan bahwa kejang berasal dari area tertentu pada otak yang tidak mengganggu fungsi vital seperti bicara, bahasa, fungsi motorik, penglihatan atau pendengaran..
• Edukasi orang tua mengenai penyakit yang diderita oleh pasien serta bagaimana
pengobatannya
• Keluarga diminta untuk memonitoring tanda-tanda kejang pada anak (aura), pencetus, dan mengetaui bentuk serta durasi kejang pada anak.
• Edukasi mengenai tindakan yang dapat kita lakukan jika pasien kejang
• ASI on demand
Analisis Kasus
Komplikasi pada pasien ini dikarenakan masih bayi salah satunya yaitu dapat terjatuh yang dapat melukai atau patah tulang dan tenggelam karena memungkinkan dapat mengalami kejang saat sedang didalam air pada saat bermain. Selain itu, bila serangan epilepsi sering relaps dan berlangsung lama, maka akan terjadi kerusakan pada organ otak, dimana tingkat kerusakan biasanya bersifat irreversible dan jika sering terjadi dengan jangka waktu yang lama sering membuat penderita menjadi cacat kemudian hari.
Pada pasien ini, prognosisnya baik, dikarenakan epilepsi yang terjadi pada anak dengan usia muda lebih baik dibandingkan epilepsi pada dewasa, terlebih pada pasien tidak ditemukan gangguan neurologis pasca kejang. Sebaliknya, jika epilepsi yang serangan pertamanya dimulai pada usia 3 tahun atau lebih, adanya gangguan neurologis dan atau retardasi mental akan mempunyai prognosis yang relative jelek.
Resources
● World Health Organization. Epilepsy: Fact Sheet [Internet]. 2017. http://www.who.int/mediacentre/facts heets/fs999/en/ . 19 November 2023 (21.03)
● Berg, A.T., Berkovic, S.F., & Brodie, M.J. 2010. Revised terminology and concepts for organization of seizures and epilepsies: report of the ILAE Commission on Classification and Terminology, 2005-2009.
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1528-1167.2010.02522.x . 19 November 2023 (07.53)
● International League Against Epilepsy. 1981. Proposal for revised clinical and electroencephalographic classification of epileptic seizures. From the Commission on Classification and Terminology of the International League Against Epilepsy. New York: Epilepsia. Chapter 22: 489-501.
● Blume, W.T., Luders, H.O., & Mizhari, E. 2002. Glossary of descriptive terminology for ictal semiology: report of the ILAE Task Force on Classification and Terminology. New York: Epilepsia. Chapter 4:1212-1218.
● Suwarba, I.G.N.M. 2011. Insidens dan Karakteristik Klinis Epilepsi pada Anak. Sari Pediatri. Vol. 13(2): 123-128.
● Kementerian Kesehatan RI. 2022. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Epilepsi pada Anak.
Jakarta.
● Mukherjee, S., Arisi, M. G., et al. 2020. Neuroinflammatory Mechanism of Post-Traumatic Epilepsy.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7301453/ . 19 November 2023 (16.14).
● Kliegman. 2008. Treatment of Epilepsy. Nelson Textbook of Pediatrics. Philadelphia: Saundres Elseviers. Page. 593-
● Wishnuwardhana, M., Rahayuningsih, T.Y., Abbas, Y.W, dkk. 2018. Klinis Praktis Tatalaksana Kegawatan pada Anak. 599.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jawa Barat.
● Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Epilepsi pada Anak. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
● Pandolfo, M. 2013. Pediatric Epilepsy Genetics. Curr Opin Neurol. Vol. 26(4):137-145.
● Britton, J. W., et al. Electroencephalography (EEG): An Introductory Text and Atlas of Normal and Abnormal Findings in Adults, Children, and Infant. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK390347/ . 20 November 2023 (01.11).
● Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2016. Memahami Epilepsi Pada Anak. https://www.idai.or.id/artikel/seputar- kesehatan-anak/memahami-epilepsi-pada-anak . 22 November 2023 (23.22).
● Nugroho, A. E. 2011. Farmakologi Obat-Obat Penting dalam Pembelajaran Ilmu Farmasi dan Dunia Kesehatan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Thank
You!