• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan KE5 Kairos R.P.P. Sitorus M1

N/A
N/A
kairos

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan KE5 Kairos R.P.P. Sitorus M1"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM UNIT OPERASI BIOPROSES

MATERI 1 SEDIMENTASI

Oleh:

Nama: KAIROS R.P.P. SITORUS Kelompok: KE5

Tanggal Praktikum:

19 Maret 2025

Nama Asisten Suci Ramadhan Setiawan

LABORATORIUM REKAYASA BIOPROSES PROGRAM STUDI TEKNIK BIOPROSES

DEPARTEMEN TEKNIK BIOSISTEM FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2025

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sedimentasi merupakan proses alami di mana partikel padat yang tersuspensi dalam fluida, baik cair maupun gas, mengalami pengendapan akibat gaya gravitasi. Proses ini memiliki peran penting dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk geologi, teknik lingkungan, dan teknik bioproses. Dalam bidang geologi, sedimentasi berkontribusi terhadap pembentukan batuan sedimen melalui akumulasi dan pengendapan partikel seperti pasir, lumpur, dan kerikil dalam jangka waktu yang panjang. Akumulasi ini membentuk lapisan-lapisan sedimen yang dapat memberikan gambaran tentang sejarah geologi suatu wilayah berdasarkan pola pengendapannya.

Dalam teknik lingkungan, sedimentasi diterapkan dalam proses pengolahan air limbah untuk memisahkan partikel tersuspensi, sehingga air yang lebih bersih dapat diproses lebih lanjut atau digunakan kembali. Pemanfaatan sedimentasi juga sangat penting dalam teknik bioproses, terutama dalam pemisahan mikroorganisme dari medium fermentasi guna meningkatkan efisiensi produksi berbagai produk bioteknologi. Dengan prinsip kerja berbasis gaya gravitasi, sedimentasi menjadi metode pemisahan yang sederhana namun efektif dalam berbagai aplikasi industri. Oleh karena itu, pemahaman terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi sedimentasi sangat diperlukan untuk mengoptimalkan penerapannya di berbagai bidang.

1.2 Tujuan Praktikum

1. Mengetahui pengertian sedimentasi.

2. Mengetahui proses sedimentasi.

3. Menganalisis hubungan kecepatan pengendapan dengan konsentrasi padatan/koagulan pada proses sedimentasi.

(3)

BAB II DASAR TEORI

2.1 Pengertian dan Prinsip Sedimentasi

Sedimentasi merupakan fenomena alamiah di mana partikel padat, baik yang bersifat organik maupun anorganik, mengalami pengendapan dari suatu medium cair atau gas dan terakumulasi di bagian dasar atau permukaan tertentu. Mekanisme ini terjadi akibat gaya gravitasi yang bekerja pada partikel, sehingga memisahkannya dari fluida yang membawanya. Dengan prinsip ini, sedimentasi menjadi metode pemisahan fisik yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama dalam teknik kimia dan pengolahan air. Aplikasinya berfokus pada proses eliminasi partikel tersuspensi dari cairan atau gas untuk meningkatkan kejernihan dan kemurnian hasil akhir (Amri et al., 2023).

Prinsip dasar sedimentasi menyatakan bahwa partikel sedimen akan mengalami pergerakan dan transportasi ketika terkena gaya eksternal. Jika tegangan geser aliran (τ0) yang bekerja pada partikel lebih besar dibandingkan tegangan geser kritis (τc) yang diperlukan untuk mempertahankannya, maka partikel tersebut akan terlepas dari posisi awalnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketika gaya yang dihasilkan oleh aliran fluida, seperti air atau angin, melebihi gaya tahan partikel, maka terjadi perpindahan material. Akibatnya, partikel-partikel sedimen akan terangkut dan berpindah mengikuti arah aliran fluida hingga mencapai kondisi stabil Kembali (Hermawan dan Erwin, 2021).

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sedimentasi

Faktor-faktor yang berperan dalam proses sedimentasi mencakup kondisi hidrologi, sumber sedimen, karakteristik lingkungan, dan aktivitas manusia. Elemen hidrologi seperti intensitas curah hujan, kecepatan aliran air, serta pasang-surut berpengaruh terhadap jumlah serta kecepatan pengendapan sedimen. Selain itu, suplai sedimen yang berasal dari aliran sungai atau erosi di wilayah sekitar turut menentukan jumlah material yang akan mengendap. Faktor lingkungan, seperti kemiringan permukaan dan struktur geologi, juga memiliki peran dalam membentuk pola distribusi sedimen di suatu daerah (Nasution dan dyah, 2021).

Selain kondisi hidrologi yang mengendalikan aliran air dan tingkat erosi, karakteristik sedimen juga menjadi faktor penentu dalam sedimentasi. Ukuran dan massa partikel memengaruhi laju pengendapan serta stabilitas endapan yang terbentuk. Selain itu, faktor topografi berkontribusi dalam menentukan pola pergerakan air yang berimbas pada distribusi sedimen. Aktivitas manusia, seperti pembangunan infrastruktur bendungan serta perubahan tata guna lahan, dapat secara signifikan mengubah pola sedimentasi dan distribusi material di suatu wilayah (Li et al., 2020).

2.3 Pengertian Laju Sedimentasi

Laju sedimentasi mengacu pada jumlah total material sedimen yang mengendap dalam satuan luas dan waktu tertentu. Parameter ini menjadi indikator utama dalam menganalisis dinamika sedimentasi di suatu lingkungan. Faktor utama yang memengaruhi laju sedimentasi meliputi kecepatan arus, pasang-surut, serta elemen laut lainnya seperti gelombang dan struktur bawah laut. Variasi dalam faktor-faktor ini dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam laju pengendapan, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pola akumulasi sedimen di suatu area (Borang, 2022).

Beberapa faktor yang berperan dalam menentukan laju sedimentasi antara lain kecepatan aliran air atau angin, ketersediaan material sedimen, serta karakteristik topografi dasar sungai atau laut. Selain itu, aktivitas manusia seperti pertanian, pembangunan, dan perubahan tata guna lahan juga berpengaruh terhadap pola sedimentasi. Kecepatan aliran

(4)

air atau angin akan menentukan seberapa besar daya transportasi sedimen sebelum akhirnya terdeposit. Sementara itu, sifat fisik dan kimia sedimen, termasuk ukuran, bentuk, dan komposisinya, turut memengaruhi kemungkinan material tersebut mengendap atau tetap tersuspensi dalam fluida (Li et al., 2020).

Faktor lain yang memengaruhi laju sedimentasi adalah curah hujan, karakteristik geologi dan tanah, serta pola tata guna lahan di suatu daerah. Intensitas hujan dan struktur tanah berperan dalam menentukan tingkat erosi yang terjadi, terutama di daerah hulu sungai. Perubahan penggunaan lahan, seperti alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman, dapat meningkatkan laju erosi yang pada akhirnya mempercepat akumulasi sedimen di daerah hilir. Tekanan terhadap ekosistem lahan juga dapat menimbulkan dampak negatif, termasuk bencana seperti banjir dan tanah longsor, yang semakin memperburuk kondisi lingkungan di daerah aliran sungai (DAS) (Kamis dan Yudit, 2021).

2.4 Pengertian koagulan dan fungsinya pada sedimentasi

Koagulan adalah bahan kimia yang digunakan dalam proses sedimentasi untuk membantu pengendapan partikel tersuspensi yang sulit mengendap secara alami.

Mekanisme utama dari koagulasi adalah penambahan zat kimia yang dapat menetralkan muatan listrik pada partikel-partikel kecil dalam suspensi, sehingga mengurangi gaya tolak-menolak di antara mereka. Hal ini memungkinkan partikel-partikel kecil bergabung membentuk flok yang lebih besar dan berat, sehingga lebih mudah mengendap.

Penambahan koagulan seperti tawas (Al₂(SO₄)₃) telah terbukti meningkatkan efisiensi sedimentasi dengan mempercepat laju pengendapan partikel tersuspensi dalam berbagai kondisi konsentrasi (Fahni et al., 2023).

Proses koagulasi sangat berperan dalam pengolahan air, terutama dalam tahap pemurnian dan pengurangan kekeruhan air. Penambahan koagulan membantu mempercepat proses sedimentasi dengan menggumpalkan partikel kecil menjadi flok yang lebih besar, yang kemudian lebih mudah dipisahkan dari air. Efektivitas koagulasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk jenis dan konsentrasi koagulan yang digunakan, kondisi pH air, serta kecepatan pengadukan dalam proses pencampuran awal.

Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis koagulan dapat meningkatkan efisiensi pemisahan partikel, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan kekeruhan kembali akibat flok yang terlalu besar dan tidak stabil. Oleh karena itu, optimasi dosis koagulan menjadi faktor kunci dalam mencapai proses sedimentasi yang efektif (Dwidewtira et al., 2024).

2.5 Zona Pengendapan/Settling

Zona pengendapan merupakan area dalam suatu sistem aliran atau saluran di mana partikel padatan mengalami pemisahan dari fluida akibat pengaruh gaya gravitasi. Ketika gaya gravitasi lebih besar dibandingkan gaya angkat dari aliran fluida, partikel-partikel mulai bergerak ke bawah dan terakumulasi di dasar saluran. Selama proses ini, interaksi antara partikel padatan dengan fluida sekitarnya menyebabkan laju pengendapan yang berangsur-angsur melambat. Fenomena ini berperan penting dalam berbagai aplikasi teknik, termasuk pengolahan air dan pengendalian sedimen di lingkungan perairan (Ambarsari et al., 2023).

Zona pengendapan juga dapat ditemukan di wilayah lautan, terutama di dasar laut yang menjadi tempat akumulasi material organik dan sedimen. Di area ini, berbagai jenis partikel seperti pasir, lumpur, dan sisa-sisa organisme laut mengalami proses pengendapan secara alami. Keberadaan zona ini mendukung ekosistem bentik, di mana organisme dasar

(5)

laut memanfaatkan material yang terakumulasi sebagai sumber nutrisi dan tempat hidup.

Dinamika pergerakan air laut serta aktivitas biota laut turut memengaruhi pola pengendapan dan membentuk karakteristik khas dari ekosistem di zona ini (Van Dijk et al., 2020).

2.6 Aplikasi Sedimentasi di Teknik Bioproses

Aplikasi sedimentasi mikroba mengacu pada proses pemisahan mikroorganisme dari medium pertumbuhannya melalui mekanisme pengendapan. Metode ini sering diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pemurnian air limbah, produksi bioflok dalam akuakultur, serta pemisahan mikroba untuk industri enzim dan bioteknologi. Proses ini bergantung pada perbedaan densitas antara mikroorganisme dan mediumnya, di mana mikroba yang lebih berat akan mengendap di dasar wadah, sementara medium cair dapat dipisahkan dengan lebih mudah. Teknik ini memberikan solusi efisien dalam pemisahan mikroba tanpa memerlukan peralatan kompleks seperti filtrasi atau sentrifugasi (Hasibuan et al., 2023).

Dalam teknik bioproses, sedimentasi bakteri memiliki peran penting dalam pengolahan hasil fermentasi. Metode ini memungkinkan pemisahan sel bakteri dari medium fermentasi untuk memfasilitasi pemurnian produk sekaligus regenerasi biomassa. Selama fermentasi berlangsung, bakteri berkembang biak dan menghasilkan senyawa yang diinginkan, meninggalkan residu biomassa yang perlu dipisahkan sebelum produk dapat diekstraksi.

Dengan menerapkan teknik sedimentasi, biomassa bakteri dapat diendapkan dan dikumpulkan untuk didaur ulang dalam siklus fermentasi berikutnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan mikroorganisme dalam skala industri (Dewi et al., 2017).

(6)

BAB III METODE

3.1 Alat dan Bahan

1. Kapur : Sebagai bahan uji

2. Koagulan (tawas) : Sebagai koagulan 3. Air : Sebagai pelarut

4. Gelas ukur : Sebagai wadah pengamatan 5. Penggaris : Sebagai pengukur pengendapan 6. Stopwatch : Sebagai alat mengukur waktu 7. Gelas beaker : Sebagai wadah pengadukan 8. Gelas arloji : Sebagai wadah bahan

9. Magnetic stirrer : Sebagai alat menghomogenkan

3.2 Cara Kerja

A. Dengan koagulan

Timbang kapur sebanyak 10 gram dengan gelas arloji

Timbang koagulan berupa tawas sebanyak 2 gram

Buat larutan suspensi berisi air, kapur, dan tawas dengan volume total 500 mL pada beaker

Aduk hingga tercampur rata, kemudian nyalakan stopwatch

Amati tinggi endapan dengan mistar tiap

interval waktu yang diminta

(7)

B. Tanpa dengan koagulan

Timbang kapur sebanyak 10 gram dengan gelas arloji

Buat larutan suspensi berisi airdan kapur dengan volume total 500 mL pada beaker total 500 mL pada beaker

Aduk hingga tercampur rata, kemudian nyalakan stopwatch

Amati tinggi endapan dengan mistar tiap

interval waktu yang diminta

(8)
(9)
(10)
(11)
(12)

DAFTAR PUSTAKA

Ambarsari IS, Suwarto S, Muh DS. 2023. Kajian pengolahan air asam tambang menggunakan kapur tohor (Ca(OH)2) di kolam pengendapan lumpur (settling pond) Daerah Kalimantan Selatan. Mining Science And Technology Journal 2(2): 91-96.

Amri K, Mase LZ, Putra AM. 2023. Analysis of sedimentation rate in the air sambat river, kaur district using the meyer peter muller and van rijn methods. Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) 2(2) : 151-164.

Borang GY. 2022. Analisis laju sedimentasi di perairan pesisir Juata Permai Kota Taraka.

Skripsi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan, Kota Tarakan.

Dewi AF, Agus S, Achyani. 2017. Pengaruh komposisi media tanam dan aplikasi pupuk lcn (limbah cair nanas) terhadap pertumbuhan tanaman tin (Ficus Carica l.) sebagai sumber belajar biologi. Jurnal Lentera Pendidikan Pusat Penelitian Lppm Um Metro 2(2): 188- 200.

Dwidewtira RP, Huda MM, Rachmanto TA. 2024. Pengaruh konsentrasi koagulan terhadap proses pengolahan air di pdam surya sembada kota surabaya. Globe: Publikasi Ilmu Teknik, Teknologi Kebumian, Ilmu Perkapalan 2(2) : 145-153.

Fahni Y, Sufra R, Ahmad IM, Fadhila S. 2023. Pengaruh penambahan koagulan terhadap laju sedimentasi pada proses sedimentasi larutan tepung maizena. Jurnal Ilmiah Teknik 2(1) : 17-22.

Hasibuan S, Novreta ED, Rahmat IM. 2023. Rancangan sedimen trap sebagai alat bantu laju sedimentasi di kolam budidaya ikan patin. In Unri Conference Series: Community Engagement 5: 17-27.

Hermawan A, Erwin NA. 2021. Analisis angkutan sedimen dasar (bed load) pada saluran irigasi Mataram Yogyakarta. Teknisia 26(1): 20-3.

Kamis M, Yudit AP. 2021. analisis laju sedimentasi pada hulu Sungai Togurara Kota Ternate.

Jurnal Sipil Sains 11(1): 59-66.

Li F, Jianjun C, Xin H, Feng H, Eban B, Daniel CWT, Yong SO, Bin G. 2020. Applications of carbonaceous adsorbents in the remediation of polycyclic aromatic hydrocarbon- contaminated sediments: A review. Journal of Cleaner Production 255: 1-11.

Nasution I, Dyah AW. 2021. Dinamika sedimentasi waduk Kedungombo Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Teknik Sipil 7(2): 106-118.

Van Dijk EJ, Mario P, Mark CMvL. 2020. A settling model for full-scale aerobic granular sludge.

Water Research 186: 1-10.

(13)

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Fahni Y, Sufra R, Ahmad IM, Fadhila S. 2023. Pengaruh koagulan terhadap laju sedimentasi pada proses sedimentasi larutan tepung maizena. Jurnal Ilmiah Teknik 2(1) : 17-22.

Dwidewitra R P, Huda M M, Rachmanto T A. 2024. Pengaruh konsentrasi koagulan terhadap proses pengolahan air di PDAM Surya Sembada Kota Surabaya. Globe Vol.2(2):

145-153.

(14)

LAMPIRAN PUSTAKA

(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

LAMPIRAN PUSTAKA TAMBAHAN

(27)
(28)
(29)
(30)

LAMPIRAN

(31)

Referensi

Dokumen terkait

UNTUK MEREDUKSI SULFAT PADA AIR LIMBAH BUANGAN INDUSTRI MINYAK BUMI, Farid Effendi, Dyah Winarni Rahaju, Rully Darmawan, Hidayat Firdaus, Jurusan Teknik Kimia,

dan bidang pengolahan limbah sebesar 35%; 3) Ditingkat desa, semua desa tidak memiliki regulasi terkait sanitasi dan air minum, dimana pelayanan dan pengelolaan

Penelitian hukum ini bertujuan untuk mengetahui arti penting Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bagi perusahaan industri khususnya di Kabupaten Purbalingga serta

Hasil analisis ekonomi teknik pada pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) memiliki tujuan untuk mendapatkan alternatif yang tepat untuk digunakan dalam

LEMBAR KONSULTASI DAN PEMANTAUAN LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN AIR DAN LIMBAH CAIR Nama : Annisa Gustina Saningtya NIM : V2621009 Program Studi : Diploma III Jurusan : Teknik

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan