• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTEK

N/A
N/A
Nona Putria

Academic year: 2025

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTEK"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

PROYEK PEMBAGUNAN GEDUNG

LABORATORIUM TEKNOLOGI (LABTEK) XVII INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Disusun Sebagai Persyaratan Kelulusan Pada Mata Kuliah TS 7412 Kerja Praktik Tahun Ajaran 2022-2023

Disusun Oleh : Nama : Sudirman

NPM : 41155020180007

Nama : Moch. Fikri Hidayatulloh NPM : 41155020180029

Dosen Pembimbing:

Dr. H. Abdul Fatah, Ir., MT.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LANGLANGBUANA BANDUNG - 2022

(2)

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTEK

PROYEK PEMBAGUNAN GEDUNG LABORATORIUM TEKNIK XVII INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)

Disusun oleh:

Sudirman 41155020180007

Moch. Fikri Hidayatulloh 41155020180029

Disetujui / disahkan pada tanggal : ………... 2022

Menyetujui : Dosen Pembimbing

Dr. H. Abdul Fatah, Ir., MT.

NIDK. 8826001019

Mengetahui : Koordinator Kerja Praktik

Fauzia Mulyawati, Dra., ST., MT.

NIDN. 0408026003

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb.

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta senantiasa memberikan kesehatan, kemampuan dan kekuatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini dengan tepat pada waktunya.

Penulisan laporan ini dengan Judul “Proyek Pembagunan Gedung Laboratorium Teknik XVII Institut Teknologi Bandung (ITB)”

penyusunan laporan ini merupakan salah satu dari mata kuliah yang mengharuskan penulis mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja sebagai syarat menyelesaikan studi di Universitas Langlangbuana Bandung.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak berikut:

1. Ibunda serta Ayahanda tercinta yang dengan sabar dan perhatian begitu besar, tidak henti-hentinya memberikan dorongan dan doa restunya dalam penyusunan laporan ini.

2. Bapak Ignatius Sudarsono, ST., MT. selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil Universitas Langlangbuana.

3. Ibu Fauzia Mulyawati, Dra., ST., MT. selaku Koordinator Kerja Praktik.

4. Bapak Dr. H. Abdul Fatah, Ir., MT. selaku Pembimbing Laporan Kerja Praktik yang dengan sabar telah membimbing dan memberikan arahan kepada kami sehingga laporan ini dapat diselesaikan.

5. Pembimbing Kerja Praktik di papangan yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan Kerja Praktik.

6. Rekan-rekan dan pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan bantuannya.

(4)

Dengan berbagai keterbatasan yang ada pada diri penulis, masih banyak permasalahan yang berhubungan dengan kegiatan Kerja Praktik yang belum terungkapkan dan terpecahkan, sehingga hasil praktik ini kiranya dapat dijadikan bahan kajian untuk praktik selanjutnya.

Terlepas dari kelemahan dan keterbatasan yang ada dalam penulisan laporan ini, mudah-mudahan hasil dari laporan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Penulis

Sudirman / Moch. Fikri Hidayatulloh 41155020180007 / 41155020180029

(5)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan Proyek ... 1

1.3. Lokasi Proyek ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1. Teori Manajemen Konstruksi ... 3

2.1.1. Pengertian Manajemen Konstruksi ... 3

2.1.2. Klarifikasi Manajemen ... 4

2.1.3. Fungsi Manajemen ... 5

2.1.4. Tahapan Kegiatan Proyek Konstruksi ... 6

2.1.5. Tipe-tipe Organisasi Dalam Proyek Kontruksi ... 10

2.1.6. Pihak - Pihak Yang Terlibat Dalam Proyek Kontruksi 11 2.2. Teori Manajemen Proyek ... 14

2.2.1. Pengertian Proyek ... 14

2.2.2. Timbulnya Proyek ... 15

2.2.3. Macam-macam Proyek ... 16

2.2.4. Konsep Manajemen Proyek ... 16

2.2.5. Perencanaan Proyek ... 22

2.2.6. Teori Kesehatan Keselamatan Kerja Dan Lingkungan (K3L) ... 25

2.2.7. Definisi Bill of Quantity / RAB ... 29

(6)

2.3. Teori Teknis Proyek ... 31

2.3.1. Pengertian Tender ... 32

2.3.2. Jenis - jenis Tender ... 32

2.3.3. Kriteria Penyedia Jasa Konstruksi ... 34

2.3.4. Konsultan Manajemen Konstruksi ... 34

2.4. Pengertian Struktur ... 40

2.4.1. Struktur Atas ... 41

2.4.2. Struktur Bawah ... 46

BAB III TINJAUAN PROYEK ... 50

3.1. Nama Proyek ... 50

3.2. Lokasi Proyek ... 50

3.3. Data Proyek ... 51

3.3.1. Waktu Pelaksanaan Proyek ... 51

3.3.2. Organisasi Proyek ... 52

3.4. Time Schedule ... 52

3.5. Metode Pelaksanaan Pekerjaan ... 53

3.5.1. Pekerjaan Persiapan ... 53

3.5.2. Pekerjaan Pondasi (Struktur Bagian Bawah)... 55

3.5.3. Pekerjaan Struktur Atas ... 60

3.5.4. Pekerjaan Stuktur Beton Balok dan Plat Lantai ... 62

3.5.5. Pekerjaan Tangga ... 63

3.5.6. Pekerjaan Ramp ... 63

3.6. Waktu Kerja Proyek ... 65

3.7. Urutan Pelaksanaan Proyek ... 65

3.8. Pengurusan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) ... 66

3.9. Alat dan Tenaga Kerja ... 66

BAB IV PELAKSANAAN SELAMA KERJA PRAKTIK ... 73

4.1. Kondisi Lapangan ... 73

4.2. Keikutsertaan Dalam Proyek ... 73

4.2.1. Pekerjaan Pondasi Bore Pile ... 74

4.2.2. Pekerjaan Pile Cap ... 74

(7)

4.2.3. Pekerjaan Sloof (Tie Beam)... 90

4.2.4. Pekerjaan Kolom ... 97

4.2.5. Pekerjaan Plat Lantai Dasar ... 99

4.3. Masalah Yang Dihadapi Selama Kerja Praktik ... 101

4.3.1. Permasalahan Terhadap Cuaca ... 101

4.3.2. Karakteristik Tanah Pada Lokasi Pekerjaan Yang Mengakibatkan Terbatasnya Mobilitas Pekerjaan 102 4.3.3. Terhambatnya Akses Mobilisasi Serta Proses Pengecoran Yang Dipengaruhi Oleh Beberapa Faktor Teknis Di Lapangan ... 103

4.3.4. Terjadinya Ketidaksesuaian Pemasangan Tulangan Pada Balok ... 106

4.3.5. Terjadinya Penurunan Pada Tiang Bore Pile... 107

4.4. Tabel Kegiatan Selama Mengikuti Kerja Praktik ... 108

BAB V PENUTUP ... 115

5.1. Kesimpulan ... 115

5.2. Saran ... 116

(8)

DAFTAR TABEL

2.1. Kriteria Manajemen ... 5

2.2. Tahapan Proyek Konstruksi ... 7

3.1. Material/Bahan yang Digunakan dalam Pelaksanaan Pekerjaan 67 3.2. Alat-Alat yang Digunakan dalam Pelaksanaan Pekerjaan ... 69

3.3. Tenaga Kerja ... 72

4.1. Dimensi Pile Cap. ... 75

4.2. Dimensi Tie Beam ... 91

4.3. Dimensi Tulangan Tie Beam ... 92

4.4. Dimensi Tie Beam ... 97

4.5. Dimensi Tulangan Kolom ... 99

4.6. Kegiatan Selama Kerja Praktik ... 109

(9)

DAFTAR GAMBAR

2.1. Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Proyek Konstruksi ... 14

2.2. Sasaran Proyek yang juga merupakan tiga kendali (triple constraint) ... 18

2.3. Siklus Proyek ... 19

2.4. Plat 1 (satu) Arah ... 42

2.5. Plat 2 (dua) Arah ... 43

2.6. Kolom Beton Bertulang ... 44

2.7. Balok Beton Bertulang ... 45

2.8. Tampak Pondasi Caissons (Bore Pile) ... 49

3.1. Lokasi Kerja Praktik... 50

3.2. Kondisi Eksisting Lapangan. ... 51

3.3. Struktur Organisasi Kontraktor. ... 52

3.4. Papan Nama Proyek ... 53

3.5. Pagar Proyek ... 54

3.6. Pos Jaga ... 55

3.7. Pekerjaan Galian Tanah ... 56

3.8. Pekerjaan Bored Pile... 56

3.9. Pembesian Bored Pile ... 57

3.10. Pengecoran Bored Pile ... 57

3.11. Pembobokan Pile Cap ... 58

3.12. Pemasangan Bekisting Pile Cap ... 58

3.13. Pemasangan Tulangan Pile Cap ... 59

3.14. Hasil Pengecoran Pile Cap ... 59

3.15. Penulangan Plat Lantai 1 ... 60

3.16. Pekerjaan Kolom ... 61

3.17. Tahapan Pekerjaan Kolom ... 62

3.18. Proses Penulangan Balok dan Plat Lantai ... 62

3.19. Potongan Struktur Tangga ... 63

(10)

4.1. Kondisi Lapangan di Awal Kerja Praktik. ... 73

4.2. Pekerjaan Pondasi Bore Pile. ... 74

4.3. Denah Pile Cap Tipe P1 ... 76

4.4. Potongan Pile Cap Tipe P1 ... 76

4.5. Denah Pile Cap Tipe P2 ... 83

4.6. Potongan Pile Cap Tipe P2 ... 84

4.7. Denah Tie Beam ... 91

4.8. Denah Kolom ... 98

4.9. Potongan Kolom ... 98

4.10. Denah Pekerjaan Plat Lantai Pada Lantai Basement ... 99

4.11. Denah Pekerjaan Plat Lantai Pada Lantai Semi Basement ... 100

4.12. Detail Penulangan Plat Lantai ... 100

4.13. Permasalahan Yang Terjadi Akibat Faktor Alam ... 102

4.14. Permasalahan Akibat Terjadinya Genangan Lumpur ... 103

4.15. Permasalahan Akibat Adanya Gunungan Tanah ... 104

4.16. Permasalahan Akibat Tergeletaknya Tulangan dengan Sembarang Tempat ... 104

4.17. Permasalahan Akibat Tidak Stabilnya Dudukan Talang Cor ... 105

4.18. Permasalahan Akibat Tersendatnya Talang Cor ... 105

4.19. Terhalangnya Pengecoran Akibat Tulangan ... 106

4.20. Lendutan Yang Terjadi Pada Tulangan Balok ... 106

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Surat Pengajuan Pelaksaan Kerja Praktik

Lampiran B Surat Balasan Instansi Untuk Persetujuan Kerja Praktik Lampiran C Daftar Hadir dan Kegiatan Selama Kerja Praktik

Lampiran D Kontrak Kerja

Lampiran E Rencana Anggaran Biaya (RAB) Lampiran F Kurva S

Lampiran G Gambar Kerja

Lampiran H Foto Dokumentasi Kerja Praktik

(12)

1BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Institut Teknologi Bandung berencana membangun Gedung LABTEK XVII ITB untuk menampung fasilitas pendidikan dan riset Program Studi Pembangunan ITB. Fasilitas pendidikan dan riset tersebut berupa fasilitas dan ruang yang akan dikembangkan sesuai dengan fungsinya saat ini dan proyeksi di masa yang akan datang guna meningkatkan kualitas Program Studi Pembangunan. Fasilitas dan ruang yang akan dikembangkan perlu dijelaskan dan diuraikan dalam dokumen spesifikasi teknis atau Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) Teknis.

Spesifikasi teknis merupakan deskripsi pekerjaan yang meliputi;

1. Umum (uraian): tebal; benda uji; toleransi; rujukan; batasan cuaca; dll.

2. Material: spesifikasi; sumber pasokan; dll.

3. Peralatan dan metoda pelaksanaan;

4. Pembuatan dan produksi campuran;

5. Pengendalian dan pengujian mutu di lapangan;

6. Pengukuran dan pembayaran.

1.2. Tujuan Proyek

Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan dalam pembangunan Gedung LABTEK XVII ITB ini adalah sebagai salah satu fasilitas pengembangan untuk mendukung keperluan riset pada Fakultas Teknik Penambangan dan Permintakan ITB.

(13)

1.3. Lokasi Proyek

Lokasi pembangunan Gedung LABTEK XVII berada di dalam kawasan Kampus ITB, Jalan Ganesha No.10, Bandung. Gedung LABTEK XVII ini direncanakan akan di bangun pada area timur Gedung Laboratorium Doping yang saat ini berdiri Gedung PPFK (dua lantai) dan Gedung STJR (satu lantai).

(14)

2BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Manajemen Konstruksi

Manajemen adalah suatu fungsi yang melibatkan penyelesaian sesuatu hal melalui orang lain (Drucker, 1996). Implikasi praktis dari definisi ini namun tergantung pada bisnis masing-masing dan industri. Konsepsi kontemporer manajemen akan dipertimbangkan pada periode yang berbeda karena fase yang bervariasi selama waktu yang tak lain dari tahapan proses evolusi manajemen, seperti yang dikenal saat ini.

Manajemen konstruksi diperlukan untuk memastikan tindakan spesialis yang dibutuhkan untuk menghasilkan bangunan modern dan semua bagian dari infrastruktur yang sangat fisik dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Manajemen konstruksi adalah pusat dari kedua perusahaan dan manajemen proyek. Serta hanya perusahaan konstruksi yang dikelola dengan baik dapat melaksanakan proyek-proyek konstruksi secara efisien dandiduga (Radosavljevic dan Bennett, 2012).

Asumsi sentral teori manajemen konstruksi adalah bahwa proyek harus dikelola dengan baik dan perusahaan perlu dikelola dengan sama baiknya.

2.1.1. Pengertian Manajemen Konstruksi

Manajemen konstruksi adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan (Soeharto,1999). Adapun tujuan dari proses manajemen konstruksi adalah sebagai berikut :

a. Agar semua rangkaian kegiatan tersebut tepat waktu, dalam hal ini tidak terjadi keterlambatan penyelesaian suatu proyek.

(15)

b. Biaya yang sesuai, maksudnya agar tidak ada biaya tambahan lagi di luar dari perencanaan biaya yang telah direncanakan.

c. Kualitas sesuai dengan persyaratan.

d. Proses kegiatan sesuai persyaratan.

Menurut Siswanto (dikutip oleh Novitasari, 2014) dalam manajemen proyek penentuan waktu penyelesaian kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan awal yang sangat penting dalam proses perencanaan karena penentuan waktu tersebut akan menjadi dasar bagi perencana yang lain, yaitu :

a. Penyusunan jadwal (scheduling), anggaran (budgeting), kebutuhan sumber daya manusia (manpower planning), dan sumber organisasi yang lain.

b. Proses pengendalian (controling).

2.1.2. Klarifikasi Manajemen

Dalam organisasi perusahaan yang profesional management dapat di klarifiksaikan sesuai dengan tingkatan, kemampuan, dan strateginya.

1. Tingkatan Manajemen

Managemen dalam perusahaan dibagi menjadi 3 tingkatan : a. Managemen Puncak (Higher Managemen)

Merupakan manager teratas (Top Manager) yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap keseluruhan organisasi atau lembaga b. Managemen Tengah (Midlle Managemen)

Merupakan managemen yang beraitan langsung dengan bidangnya dan secara operasional mengkoordinasikan beberapa level seksi dalam suatu organisasi perusahaan.

c. Managemen Tingkat Bawah (Lower Managemen)

Kegiatan managemen yang berhubungan langsung dengan tingkat operasional dalam struktur organisasi perusahaan.

2. Kriteria Manajemen

a. Conceptual skill adalah kemampuan mengatur organisasi perusahaan yang sesuai dengan profesi dan posisinya.

(16)

b. Human skill adalah kemampuan menempatkan, mengkomunikasikan semua kegiatan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.

c. Tecnical skill adalah kemampuan profesional secara oprasional dalam mengelola suatu kegiatan yang ada kesesuaian dan standar prosedur operasionalnya.

Secara grafis dari ketiga konsep skill ini secara porsinya yang harus dikuasai dan dipahami adah sebagai berikut :

Tabel 2.1. Kriteria Manajemen

A : Tecnical Skill B : Human Skill C : Conceptual Skill

2.1.3. Fungsi Manajemen

Manajemen konstruksi adalah proses penerapan fungsi-fungsi management pada suatu proyek dengan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien agar tercapai tujuan proyek secara optimal. Beberapa diantara fungsi manajemen konstruksi lainnya adalah sebagai berikut : a. Perencanaan (Planning)

Fungsi perencanaan dari manajemen konstruksi adalah menentukan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Ini menyangkut pada pengambilan keputusan terhadap beberapa pilihan- pilihan yang berkaitan pada proses pembuatan konstruksi.

b. Mengorganisasi (Organizing)

Fungsi ini berkaitan dengan usaha manajemen untuk menetapkan jenis- jenis kegiatan yang perlu dilakukan. Gunanya agar tugas atau kegiatan-

(17)

kegiatan tadi lebih mudah ditangani oleh bawahannya karena sudah terorganisir dengan sangat baik.

c. Penempatan Orang (Staffing)

Fungsi ini meliputi usaha pengembangan dan penempatan orang-orang yang tepat di dalam jenis-jenis pekerjaan yang sudah direncanakan awalnya.

d. Mengarahkan (Directing)

Fungsi lain dari manajemen konstruksi adalah directing atau biasa juga disebut supervisi. Fungsi ini menyangkut pembinaan motivasi dan pemberian bimbingan kepada bawahan untuk pelaksanaan tugas yang sesuai perencanaan.

e. Mengontrol (Controlling)

Fungsi terakhir adalah controlling. Fungsi ini berguna untuk menjamin bahwa perencaan bisa diwujudkan secara pasti. Proses kontrol pada dasarnya selalu memuat unsur: perencanaan yang diterapkan, analisa atas deviasi atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, dan menentukan langkah-langkah yang perlu untuk dikoreksi.

2.1.4. Tahapan Kegiatan Proyek Konstruksi

Kegiatan proyek kontruksi bukan merupakan kegiatan instansi pada umumnya, melainkan kegiatan yang harus dilalui dengan suatu proses yang panjang dan didalamnya banyak masalah-masalah yang harus diselesaikan antara lain kebutuhn pemikiran untuk kemugkinan terlaksanakanya proyek kontruksi memlalui sebuah isu yang tidak lanjut dengan penyelidikan pendahuluan yang disebut Visibility Study.

Hasil dari FS tadi untuk memutuskan sebuah proyek konstruksi layak atau tidak layaknya untuk dilaksanakan serta membuat penjelasan tentang rumusan kebutuhan yang lebih terperinci, ukuran kebutuhan tersebut:

a. Rancangan awal

b. Membuat rancangan yang pasti c. Memilih calon pelaksana

(18)

d. Melaksanakan pembangunan e. Mengawasi pelaksanaan f. Memelihara persiapan g. Pengunaan bangunan

Tabel 2.2. Tahapan Proyek Konstruksi

Tahapan umum pada proyek konstruksi dapat secara bersamaan dengan berbagai aspek yang di kaji. Berbagai aspek yang harus dikaji disetiap tahapan, sehingga menjadi kerangka dasar dari proses konstruksi tersebut yang dihimpun kedalam beberapa aspek, aspek-aspek tersebut terbagi menjadi :

a. Aspek Fungsional

Yang berisi konsep umum, pola operasional, program tata ulang, dan sebagainya.

b. Aspek Lokasi dan Lapangan

Meliputi iklim, Topografi, jalan masuk, prasarana dan formaitas hukum, dan lain lain.

c. Aspek Konstruksi

Meliputi prrinsip dasar rancangan standar, teknis, karakteristik, bahan bangunan, metoda membangun, dan keselamatan operasional.

d. Aspek Operasional

Meliputi administrasi proyek biaya keperluan, perawatan dan K3.

Adapun tahapan dalam konstruksi dibagi menjadi beberapa tahap diantaranya adalah sebagai berikut :

(19)

1. Studi Kelayakan

Tujuannya adalah untuk menentukan pemilik proyek bahwa yang diusulkan layak untuk diaksanakan. Kriteria layak meliputi aspek perencanaan, aspek perancangan, ekonomi, dan lingkungan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap studi kelayakan adalah:

a) Menyusun rancangan proyek secara khusus dan estimasi biaya untuk menyelesaikan proyek tersebut.

b) Meramalkan manfaat yang diperoleh apabila proyek tersebut dilaksanakan baik manfaat langsung secra aekonomi maupun tidak.

c) Menyusun analisi kkelayakan pryek baik secara ekonomis maupun fungsional.

d) Menganalisi dampak lingkungan yang mungkin terjadi apabila proyek tersebut dilaksanakan.

2. Tahapan Penjelasan

Tujuanya untuk menjelaskan fungsi biaya proyek yang di izikan sehingga konsultan perencana dapat menaksir secara tepat keinginan pemilik proyek dengan membuat taksiran biaya yang diperlukan.

Keinginan yang dilakukan pada tahap ini :

a) Menyusun rencana kerja, menunjuk para perencana dan tenaga ahli.

b) Mempertimbangkan kebutuhan pemakaian lokasi lapangan, perencanaan taksiran biaya dan syarat mutu.

c) Mempersiapkan ruang lingkup kerja, jadwal taksiran biaya dan implikasi suatu rencana pelaksanaan.

d) Mempersiapkan peta lokasi skala besar ( 1:500 ), ( 1:1000).

3. Tahapan Perencanaan / Design

Untuk melengkapi pekerjaan proyek menentukan tata letak, rancangan metode konstruksi, taksiran biaya supaya dapat persetujuan pemilik proyek dan pihak berwenang. Mempersiapkan informasi pelaksanaan yang diperlukan termasuk gambar rencana, spesifikasi teknis, untuk melengkapi dokumen kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada tahap rancangan:

(20)

a) Mengembangkan ikhtisar proyek menjadi penyelesaian akhir.

b) Memeriksa masalah teknis

c) Meminta persetujuan akhir ikhtisar pemilik proyek d) Mempersiapkan :

• RAB

• Rancangan inti konstruksi

• Gambar kerja, Spesifikasi teknis, Jadwal kegiatan

• Daftar kuantitas

• RAP

4. Tahapan Pelelangan

Tujuan dari tahap ini adalah untuk menunjuk Kontraktor sebagai pelaksanan atau sejumlah kontraktor sebagai sub-kontraktor yang melaksanakan konstruksi di lapangan.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah :

a) Prakualifikasi

Seringkali dalam tahap pelelangan diadakan beberapa prosedur agar kontraktor yang berpengalaman dan berkompeten saja yang diperbolehkan ikut serta dalam pelelangan. Prosedur ini dikenal sebagai babak prakualifikasi yang meliputi pemeriksaan sumber daya keuangan, manajerial dan fisik kontraktor yang potensial, dan pengalamannya pada proyek serupa, serta integritras perusahaan.

Untuk proyek-proyek milik pemerintah, Kontraktor yang memenuhi persyaratan biasanya dimasukkan ke dalam Daftar Rekanan Mampu (DRM).

b) Dokumen Kontrak

Dokumen kontrak sendiri didefinisikan sebagai dokumen legal yang menguraikan tugas dan tangjung jawab pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dokumen kontrak akan ada setelah terjadi ikatan kerjasama antara dua pihak atau lebih. Sebelum hal itu terjadi terdapat proses pengadaan atau proses pelelangan dimana diperlukan Dokumen lelang atau dokumen tender.

(21)

2.1.5. Tipe-tipe Organisasi Dalam Proyek Kontruksi

Yang mengkoordinir proyek adalah koordinator, bentuk organisasinya:

A. Organisasi Fungsional

1. Mudah dalam pengawasan.

2. Perkembangan perusahaan terbatas.

3. Sema pihak bisa berhubungan langsung.

4. Tujuan dari proyek lemah/kurang.

B. Organisai proyek murni

1. Terdapat beberapa manager proyek 2. Manager diberi kekuasaan penuh

3. Dibawah manager diebntuk departemen yang selalu memberikan pelaporan tentang kegiatan proyek

4. Dibentuk banyak manager C. Organisasi Matrik

1. Pengelola proyek ditunjuk managemen konstruksi 2. Organisasi matrik ada yang kuat ada yang lemah Pelaku dalam proyek konstruksi secara umum :

A. Pemilik B. Pelaksana C. Konsultan

Pada proyek konstruksi khusususnya bentuk organisasi yang dikaitkan jenis kontrak dikelompokan menjadi 4 jenis diantaranya :

1. Organisasi tradisional

Dalam struktur organisasi tradisional pihak pemilik mempekerjakan seorang perencana, dengan tugas merancang bangunan dan spesifiasi proyek tugas pemilik adalah mengawasi pelaksanaan.

Pembangunan konstruksi dilakukan oleh kontraktor utama yang memberi jasa kepada pemilik melalui kesepakatan kontrak.

Beberapa pekerjaan kontruksi dapat dilepas atau dikerjakan oleh sub kontraktor, hubungan sub kontraktor dan main kontraktor terikat dalam suatu kontrak kerja dibawah pengawasan kontraktor utama dan

(22)

bertanggung jawab kepada kontraktor utama.jenis kontrak harga tetap, harga satuan, maksimum bergaransi kontrak biaya tambah kurang dengan upah tetap.

2. Organisasi Pembangunan Pemilik

Organisasi ini merupakan turunan dan organisasi tradisional. Pemilik bekerja dengan kemampuan sendiri, baik diperencanaan maupun pelaksanaan, sehingga tugas pemilik adalah sebagai perencana dan kontraktor meskipun pemilik sebagai kontraktor beberapa pekerjaan dapat diberikan pada mainkon dan subkon yang lain.

3. Organisasi Putar Kunci

Pada organisasi ini, kegiatan perencanaan, perangcangan, pelaksanaan, dilaksanakan oleh satu perusahaan. Beberapa pekerjaan dilakukan oleh divisi kontraktor atau subkon spesialis, jenis kontrak ini harga tetap, harga maksimal, dengan biaya upah.

2.1.6. Pihak - Pihak Yang Terlibat Dalam Proyek Kontruksi

Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dalam waktu tertentu. Dalam rangkaian kegiatan ini melakukan proses mengolah sumber daya sehingga menjadi bangunan.

dalam proses ini melibatkan pihak-pihak tertentu sehingga dapat terlaksana dengan baik, lancar, aman dan sesuai tujuan.

Managemen proyek mempunyai kewajiban sebagai dan atas pemilik untuk mengkoordinasikan semua pihak yang terlibat supaya tujuan proyek konstruksi dapat tercapai dengan baik secara optimal.

Sasaran dalam proyek konstruksi yang terlibat sebagai berikut : A. Pemilik / owner

3. Biaya proyek cukup murah.

4. Keutungan yang ukup besar.

5. Waktu pelaksanaan cukup singkat.

6. Tidak terdapat kesulitan pelaksanaan/lancar.

(23)

B. Konsultan

1. Imbalan cukup tinggi terhadap layanan jasa yang diberikan.

2. Jadwal waktu cukup longgar.

3. Informasi tentang proyek cukup lengkap.

4. Keputusan yang cepat dan tepat dari pihak pemilik proyek sehubung dengan pekerjaan.

C. Kontraktor

1. Keuntungan yang didapat cukup besar.

2. Tidak ada keterlambatan gambar dari konsultan perencana.

3. Kemungkinan perubhan desain sangat kecil.

4. Kedatangan alat dan bahan tepat waktu.

5. Tidak ada keluhan dari masyarakat sekitar.

6. Izin-izin pelaksanaan terbit dengan cepat.

7. Penyediaan pelayanan ccepat dan tepat waktu.

8. Proses pembayaran lancar, cepat dan tepat waktu.

D. Pemasok / Supplier

1. Persyaratan mengenai kualitas bahan jelas.

2. Cukup waktu melakukan pengiriman bahan.

3. Keuntungan cukup besar.

4. Pemakaian bahan/ alat yang tidak lazim sangat minim.

5. Toleransi kualitas yang cukup layak.

E. Instansi/ Lembaga Keuangan

1. Program yang diberikan cukup aman.

2. Penggunaan uang pinjaman sesuai jadwal.

3. Keuntungan cukup untuk menutupi pelayanan yang nyaman.

F. Masyarakat

1. Tidak ada gangguan dan kecelakaan selama pelaksanaan.

2. Tidak menimbulkan dampak negatif.

3. Dengan adanya proyek, kesejahteraan sosial masyarakat sekitar jadi lebih baik.

(24)

4. Bangunan yang sudah jadi dapat terus dinikmati oleh masyarakat sesuai dengan fungsi yang layak dan berkualitas.

G. Lembaga pelayanan

1. Sesuai dengan permintaan dan penawaran penyelesaian proyek harus tepat waktu.

2. Gangguan proyek selama pelaksanaan berlangsung sangat kecil.

H. Lembaga pemerintah

1. Penggunaan gangguan sesuai dengan tujuan awal.

2. Dalam pelaksanaan pembangunan disesuaikan dengan kebijakan dan peraturan yang berlaku.

I. Ketenagakerjaan/Dokumen Gambar Kerja

1. Gambar-gambar yang dilaksanakan harus diselesaikan tepat waktu.

2. Terjadinya revisi gambar desain sengat kecil.

3. Kedatangan alat dan bahan tepat waktu.

4. Masyarakat disekitar proyek tidak komplen.

5. Metoda pelaksanaan yang diterapkan dengan intruksi yang jelas.

6. Pelayanan tepat waktu.

J. Lembaga-lembaga Eksternal/Internal 1. Jadwal waktu pelaksanaan longgar.

2. Pengumpulan informasi tentang proyek cukup waktu.

3. Pelaksanaan proyek tidak boleh merubah prosedur operasional.

Disamping mengoperasionakan sasaran sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan agar dapat tercapai dengan sukses maka masing-masing pihak terlibat dalam proyek konstruksi diperlukan managemen proyek untuk mengkoordinasikan masing-masing pihak tersebut.

(25)

Gambar 2.1. Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Proyek Konstruksi

2.2. Teori Manajemen Proyek 2.2.1. Pengertian Proyek

Proyek merupakan suatu tugas yang perlu dirumuskann nuntuk mencapai sasaran yang dinyatakan secara kongkrit serta harus diselesaikan dalam suatu priode tertentu dengan menggunakan tenaga manusia dan alat-alat yang terbatas dan begitu kompleks sehingga dibutuhkan pengelolaan dan kerja sama yang berbeda dari yang biasanya digunakan.

Menurut DI Cleland dan Wr. King (1987) proyek merupakan gabungan berbagai sumber daya yang dihimpun dalam organisasi sementara untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

A. Syarat-syarat Dasar Bagi Proyek

Adapun syarat-syarat bagi proyek diantara adalah sebagai berikut:

1. Pemberian kekusaan dari yang berwewenang untuk membuat batasan proyek.

2. Mengajukan usulan untuk menggunakan waktu, waktu dan faktor produksi.

3. Mendapatkan persetujuan dari yang berwenang (yang menawarkan proyek).

4. Memperoleh kesediaan untuk bekerjasama.

(26)

5. Adanya keterlibatan dari orang yang berwenang dalam pelaksanaan proyek.

6. Pemberi informasi terhadap pihak-pihak lain dan pihak-pihak yang terlibat secara langsung pada proyek.

7. Pimpinan proyek diserahi dengan tugas yang terbatas dan wewenang yang sah.

8. Adanya pandangan antara departemen dan kemungkinan untuk menggunakan karyawan baru.

9. Adanya alat pengawasan dan ruangan.

10. Adanya rekan kerja proyek yang memberikan saham (sumbangan) pada perumusan dan perencanaan proyek.

2.2.2. Timbulnya Proyek 1. Berasal dari pemerintah

Contoh : proyek bendungan, jalan raya, irigasi, jembatan untuk kempentingan umum dan lain-lain.

2. Berdasarkan dai permintaan pasar.

3. Hal ini terjadi bila pasar membutuhkan kenaikan jumlah produk cukup besar sehingga perlu dibangun perluasan fasilitas produksi (pabrik baru).

4. Berasal dari penelitian dan pengembangan penelitian dan pengembangan menghasilkan produk uang sangat besar minatnya sehingga perlu dibangun produksi baru.

5. Berasal dari dalam perusahaan itu sendiri untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas produksi agar dapat melayani permintaan pasar maupun menpertinggi daya saing.

(27)

2.2.3. Macam-macam Proyek

Menurut R.D. Achibald (1976), macam proyek adalah sebagai berikut:

1. Proyek Kapital (Modal)

Meliputi : Pembebasan tanah, pembelian mateerial dan peralatan, desain mesin dan konstruksi guna pembangunan instalasi pabrik baru.

2. Proyek pengambangan produk baru adalah kegiatan untuk menciptakan produk baru yang biasanya merupakan gabungan antara proyek kapital dan proyek riset dan pengembangan.

Contoh : penemuan alat elektronik karaoke.

3. Proyek penelitian dan pengembangan berupa kegiatan untuk melakukan penelitian dengan sasaran yang ditentukan. Proyek ini dapat berupa proyek yang bertujuan memperbaiki dan meningkatkan mutu produk, pelayanan dan metode produksi.

4. Proyek sistem informasi adalah kegiatan yang sifatnya spesifik dengan mempergunakan alat-alat pemprosesan data (data processing personal dan alat-alat lainnya).

Contoh : proyek penggunaan data prosesing oleh konsultan.

5. Proyek yang berkaitan dengan manajemen perusahaan merancang reogrganisasi perusahaan merancang program efisien dan penghematan merancang deversifikasi, merger (penggabungan) dan pengambilan alihan proyek ini biasanya dikerjakan oleh para konsultan.

2.2.4. Konsep Manajemen Proyek

Menurut H. Kurzner (1982), manajemen proyek adalah merencanakan, menyusun, organisasi, memimpin, dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan.

Lebih jauh lagi manajemen proyek menggunakan pendekatan hirarki vertikal dan horizontal.

Manajemen proyek merupakan suatu usaha merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan mengkoordinasi dan mengawasi

(28)

kegiatan dalam proyek sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jadwal waktu dan anggaran yang telah ditetapkan.

Oleh sebab itu maka konsep manajemen proyek meliputi :

6. Proyek merupakan suatu kegiatan yang sifatnya sementara dengan tujuan tertentu dan memanfaatkan sumber-sumber daya.

7. Manajemen proyek adalah proses pencapaian tujuan proyek dalam suatu wadah tertentu.

8. Manajemen proyek meliputi langkah-langkah perencanaan, pelaksaan, pengawasan dan penyelesaian proyek.

9. Kendala/hambatan proyek adalah spesifikasi kerja, jadwal waktu dan dana.

10. Bentuk organisasi atau wadah yang dimaksud dalam manajemen proyek adalah organisasi fungsional, koordinator, gugus tugas (task force) dan matrik.

Alasan pemilihan manajemen proyek adalah :

a. Tingakatan tugas-tugas yang diperintahkan meningkat.

b. Cepatnya perkembangan teknik baik teori maupun praktik.

c. Biaya meningkat, lamanya bisa dipakai suatu barang menurun dan hilangnya nilai suatu barang.

d. Risiko-risiko dan biaya-biaya proyek si masa datang dapat menurun.

Sasaran Proyek dan Tiga Kendala (Triple Constraint)

Selain berbentuk bangunan di atas telah disebutkan bahwa tiap proyek memiliki tujuan khusus, misalnya membangun rumah tinggal, jembatan, atau instalasi pabrik. Dapat pula berupa produk hasil kerja penelitian dan pengembangan. Di dalam proses mencapai tujuan tersebut, ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Ketiga batasan di atas disebut tiga kendala (triple constraint). Perhatikan Gambar 2.1.

(29)

Gambar 2.2. Sasaran Proyek yang juga merupakan tiga kendali (triple constraint)

Anggaran Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran. Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal pengerjaan bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan secara total proyek, tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya, per kuartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.

Jadwal Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

Mutu Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi, memenuhi

(30)

persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the intended use.

Ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya, jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal.

Siklus Proyek (Project Life Cycle).

Menurut H. Kerzner dan H. J. Thanhain (1986), siklus proyek merupakan kegiatan mulai dari awal kemudian bertambah macam dan intensitasnya sampai puncak, turun dan berakhir. Yang masing-masing tahap memiliki kegiatan-kegiatan khusus baik kompleksitas, ukuran, jadwal maupun biaya yang diperlukan.

Kompleksitas suatu proyek tergantung pada : 1. Jumlah macam ragam kegiatan.

2. Macam dan jumlah hubungan kegiatan di dalam suatu proyek dan pihak luar.

Gambar 2.3. Siklus Proyek (Sumber : Buku Manajemen Proyek) Konsepsional proyek : - Sasaran

- Lingkup kerja - Keperluan - Kelayakan

(31)

Definisi proyek : - Rencana - Anggaran - Jadwal

- Dokumen tender - Komitmen manajemen Penyususnan organisasi: - Struktur Organisasi

- Pembentukan tim

- Tanggung jawab/wewenang - Rencana pelaksanaan terinci Pelaksanaan proyek : - Pengelolaan

- Pengendalian

- Merencanakan kembali - Pemecahan masalah Penyelesaian proyek : - Penyususnan dokumen

- Penugasan kembali (demobilisasi) - Pembubaran organisasi

- Penutupan proyek

Biasanya dalam setiap akhir tahap diadakan pengkajian dan keputusan apakah proyek tersebut dapat diteruskan atau tidak ketahap berikutnya.

Hasil dari setiap tahap terdahulu merupakan masukan utama bagi tahap berikutnya. Dengan demikian seluruh kegiatan ini merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berkesinambungan.

Sistematika Pentahapan Menurut UNIDO (United Nation Industrial Development Organization).

“Permkumpulan organisasi pembangunan industri nasional”.

a. Tahap persiapan

1. Awalpada tahap ini kegiatan dipusatkan untuk merumuskan gagasan/ide yang timbul, seperti :

- Mengidentifikasi dan menganalisa tujuan gagasan/ide yang timbul;

- Gagasan dikembangkan menjadi konsep-konsep alternatif;

(32)

- Mengidentifikasi dan mengklarifikasikan konsep tersebut;

- Mengkaji konsep alternatif dari semua aspek yaitu ekonomi, teknis, pemasaran, pendanaann dan dampak lingkungan (andal dan amril);

- Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan dan perkiraan jadwal pelaksanaan.

- Lalu mulai difikirkan staregi pelaksaan seandainya ide itu menjadi proyek.

2. Lanjutan, merupakan pemantapan kegiatan sementara dan melanjutkan kegiatan yang telah dirintis sebelumnya.

- Membulatkan rumusan gagasan menjadi suatu proyek yang jelas lingkup kerja dan sasarannya;

- Menyusun perencanaan proyek lebih realistis dalam bentuk perkiraan biaya dan rencana jadwal induk;

- Melanjutkan dan menyimpulkan hasil-hasil pengkajian dalam aspek ekonomi, pasar, dana dan dampak lingkungan;

- Menyusun orgamisasi pelaksana dan identifikasi personal untuk mengisinya;

- Menyiapkan dokumen dan konsep prosedur yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan, misal dokumen lelang, dokumen kontrak, konsep prosedur kerja dan koordinasi.

Setelah aktivitas-aktivitas di atas dilakukan maka selanjutnya diadakan penanda tanganan KONTRAK KERJASAMA.

b. Tahapan Pelaksanaan Proyek

• Menyiapkan rincian desain engineering sampai memproduksi gambar-gambar dan spesifikasi untuk kegiatan pembelian dan konstruksi.

• Menyusun anggaran definitif dan jadwal induk proyek.

• Mobilisasi pengerahan tenaga kerja, pembelian material dan peralatan dilanjutkan dengan konstruksi dan fasilitas-fasilitas pendukung (Fas. Ultility), pengendalian dan instrumen,

(33)

penimbunan bulan mentah dan hasil prod, sistem keamanan dan pemadam kebakaran, pencegah pencemaran, pelabuhan dan dermaga.

• Persiapan kegiatan serah terima proyek yang akan selesai, yaitu:

a. Inspeksi dan pengujian akhir.

b. Ujian coba pra operasi.

c. Star-up.

• Persiapan kegiatan penyelesaian administrasi dan keuangan sampai proyek dinyatakan selesai secara keseluruhan dan ditutup.

2.2.5. Perencanaan Proyek A. Organisasi Proyek

Menurut James D. Mooney, organisasi adalah bentuk setiap perserikatan untuk mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Chester I.

Barnard¸ organisasi sebagai suatu sistem dari pada aktivitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

a. Fungsi Organisasi

3. Merupakan sasaran dimana para peserta atau anggota bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama yang tidak mungkin diperoleh bila kita bekerja sendiri-sendiri.

4. Memberikan pengetahuan secara kontinue, baik mengenai - Pengaturan bagaimana bekerja sama.

- Adanya pembagian pekerjaan untuk menghindari tumpang tindih.

- Adanya pembagian wewenang dan tanggung jawab.

b. Struktur Organisasi / Bagan Organisasi

Adalah suatu diagram yang menunjukan fungsi-fungsi departemen atau posisi dalam organisasi dan bagaimana mereka saling berhubungan.

Dalam struktur organisasi tergambar adanya :

(34)

1. Pembagian pekerjaan;

2. Pimpinan dan bawahan;

3. Tipe-tipe pekerjaan yang harus dilakanakan;

4. Tingkatan-tingkatan dalam manajer.

B. Menyusun Tim Proyek

Tim proyek perusahaan (kontraktor utama) biasanya terdiri dari : a. Manajemen proyek sebagai kepala tim proyek.

Harus mampu mengelola bebagai macam kegiatan, sejumlah besar tenaga kerja dan tenaga ahli terutama dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, seperti jadwal, biaya dan mutu. Pada tahap pembangunan ia harus mampu mengitegrasikan dan mengsinkronisasikan kegiatan menjadi suatu kegiatan yang terpadu dalam rangka mencapai sasaran.

Kriteria manajer proyek :

5. Mempunyai orientasi yang kuat pada pencapaian tujuan, seperti : - Kaya akan inisiatip

- Luwes dalam pendekatan tanpa mengorbankan sasaran pokoknya

- Bertanggung jawab - Kritis

6. Bergairah terhadap tantangan, yaitu ia harus memiliki sikap yang selalu bersedia dan siap menghadapi tantangan juga harus dapat meyakinkan kepada bawahan bahwa persoalan-persoalan tersebut adalah wajar dan merupakan tantangan yang harus dihadapi.

Dan ia juga harus mengantisipasi persoalan dengan tidak jemu- jemunya mengkaji dan menganalisis masalah tersebut dan mempersiapkan alternatif-alternatfi pemecahannya.

7. Menguasai aspek hubungan antara manusia karena adanya hubungan vertikal dan horizontal.

(35)

8. Generalisasi san spesifikasi, yaitu menguasai keseluruhan kegiatan agar tercipta sinkronisasi kegiatan di bidang-bidang fungsional menjadi suatu kegiatan yang terpadu.

9. Kekuasaan berasal dari keahlian (expert power) dan referent power.

- Expert power : kemampuan untuk mengajak anggotanya untuk melakukan sesuatu demi terselenggaranya porek, karena ia dianggap memiliki pengetahuan.

- Referent power : kemampuan untuk membuat para peserta proyek tanggap terhadap keinginan-keinginannya.

b. Tim proyek bertugas penuh (full time) untuk proyek

Faktor-faktor yang menentukan ukuran tim proyek yang timbul karena manajer proyek berkeinginan anggota proyek bekerja sepenuhnya kepadanya organisasi gugus tugas sehingga mengakibatkan pengorbanan tujuan dasar perusahaan, yaitu :

a. Besar kecilnya ukuran lingkup proyek b. Kompleksitas suatu proyek

c. Macam kontrak, biasanya yang berdasarkan harga berubah-ubah membutuhkan lebih banyak karyawan untuk administrasi.

Kontrak : 1. Kontrak harga tetap :

a. harga tetap dengan eskalasi (dapat disesuaikan naik turunnya)

b. harga tetap dengan perangsang bila lebih awal selesainya

c. kontrak dengan satuan tetap seperti M3 (kubik) untuk pembuatan jalan raya pengerukan pelabuhan.

2. Harga tidak tetap :

a. harga tidak tetap dengan suatu batas maksimal b. harga tidak tetap dengan risiko ditanggung

bersama

(36)

c. harga tidak tetap dengan biaya berubah-ubah.

d. Keinginan pemilik memperoleh informasi yang lengkap, seperti : latar belakang evaluasi dan perhitunngan peralatan, dokumen lelang dan lain-lain.

e. Faktor geografi dan komunikasi antara lokasi proyek dengan kantor pusat, seperti lokasi proyek di negara berkembang dengan kantor pusat di luar negeri untuk kontraktor luar negeri.

f. Adanya kepentingan khusus bagi perusahaan, seperti akan mendapatkan kontrak-kontak baru.

Kriteria yang disarankan oleh R. D. Archinbald untuk memindahkan personal secara permanen kedalam tim inti yaitu:

1. Mereka yang berhubungan dengan aspek-aspek manajemen dari proyek.

2. Mereka yang diperlukan full time sekurang-kurangnya 6 bulan berturut-turut.

3. Mereka yang sifat pekerjaanya memerlukan selalu dekat berhubungan dengan manajer proyek atau tim inti proyek.

4. Mereka yang tidak dapat diawasi san dikendalikan karena sebab- sebab geografis maupun pertimbangan-pertimbangan organisasi.

2.2.6. Teori Kesehatan Keselamatan Kerja Dan Lingkungan (K3L) Derajat kesehatan dan keselamatan yang tinggi di tempat kerja merupakan hak pekerja yang wajib dipenuhi oleh perusahaan disamping hak-hak normatif lainnya. Perusahaan hendaknya sadar dan mengerti bahwa pekerja bukanlah sebuah sumber daya yang terus-menerus dimanfaatkan melainkan sebagai makhluk sosial yang harus dijaga dan diperhatikan mengingat banyaknya faktor dan resiko bahaya yang ada di tempat kerja.

Selain perusahaan, pemerintah juga turut bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan keselamatan kerja.

Demikian juga dengan pekerjaan jasa konstruksi bangunan dilaksanakan dengan bertahap yaitu mulai dari tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan

(37)

dan tahapan pemeliharaan pembongkaran. Melihat berbagai masalah keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi dan belum optimal pengawasan karena begitu kompleksnya pekerjaan konstruksi dan kurangnya pengawasan terhadap K3 konstruksi. Hal ini menyebabkan proses kerja konstruksi dan kondisi tempat kerja mengandung potensi bahaya.

Adapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan dengan dikeluarkannya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang K3 yaitu UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Hal ini menjadi penting dalam penerapannya di Perusahaan, sebagai bentuk dari hak tenaga kerja mendapatkan keselamatan dalam melakukan aktifitas kerja serta terciptanya suasana kerja dan lingkungan yang sehat.

Sesuai proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti terjatuh, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3.

Kegiatan observasi lapangan ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan pembinaan calon Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (AK3) dalam mengobservasi bahaya-bahaya di tempat kerja.

A. Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Konstruksi

Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama kecelakaan kerja pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik, lokasi kerja yang berbeda-beda, terbuka dan dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, dinamis dan menuntut ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan tenaga kerja yang tidak terlatih.

Ditambah dengan manajemen keselamatan kerja yang sangat lemah, akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda pelaksanaan konstruksi yang berisiko tinggi. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja berdampak ekonomis yang cukup signifikan.Dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi, pekerjaan-pekerjaan yang paling

(38)

berbahaya adalah pekerjaan yang dilakukan pada ketinggian dan pekerjaan galian.

Pada ke dua jenis pekerjaan ini kecelakaan kerja yang terjadi cenderung serius bahkan sering kali mengakibatkan cacat tetap dan kematian.

Jatuh dari ketinggian adalah risiko yang sangat besar dapat terjadi pada pekerja yang melaksanakan kegiatan konstruksi pada elevasi tinggi.

Biasanya kejadian ini akan mengakibat kecelakaan yang fatal.

Sementara risiko tersebut kurang dihayati oleh para pelaku konstruksi, dengan sering kali mengabaikan penggunaan peralatan pelindung yang sebenarnya telah diatur dalam pedoman K3 konstruksi.

B. Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko merupakan bagian dari manajemen risiko dan dilakukan berdasarkan penilaian risiko terhadap masing-masing item pekerjaan. Dengan mempertimbangkan peralatan yang digunakan, jumlah orang yang terlibat pada masing-masing item pekerjaan, akan dapat diprediksi peluang kejadian dan tingkat keparahan dari risiko kecelakaan. Menurut hirarki cara berpikir dalam melakukan pengendalian risiko adalah dengan memperhatikan besaran nilai risiko/

tahapan pengendalian risiko,seperti berikut :

1. Mengeliminasi/menghilangkan sumber bahaya terhadap kegiatan yang mempunyai tingkat risiko yang paling tinggi/besar.

2. Melakukan substitusi/mengganti dengan bahan atau proses yang lebih aman.

3. Engineering: Melakukan perubahan terhadap desain alat /proses /layout.

4. Administrasi: Pengendalian risiko melalui penyusunan peraturan /standar untuk mengajak melakukan cara kerja yang aman (menyangkut tentang prosedur kerja, ijin kerja, instruksi kerja, papan peringatan/larangan, pengawasan/inspeksi, dsb).

5. Penggunaan alat pelindung diri (APD).

(39)

C. Kebijakan Penerapan SMK3 Konstruksi

Kebijakan Departemen PU dalam penerapan SMK3, dalam rangka mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi serta upaya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi bidang pekerjaan umum. Departemen Pekerjaan Umum telah menerbitkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.09/PRT/M/2008 Pedoman Sistem tentang Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

Sesuai dengan maksud dan tujuan diterbitkannya peraturan menteri tersebut adalah untuk memberikan acuan bagi pengguna dan penyedia jasa dalam penyelenggaraaan SMK3 konstruksi bidang pekerjaan umum, yang dilaksanakan secara sistematis, terencana, terpadu dan terkoordinasi serta semua pemangku kepentingan agar mengetahui dan memahami tugas dan kewajibannya dalam penerapan SMK3.

Berdasarkan Peraturan Menteri PU No. 09/PER/M/2008, tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang merupakan acuan bagi Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa dalam penyelenggaraan SMK3 konstruksi bidang pekerjaan umum, UU.No. 18 Tahun 1999 tentang jasa Konstruksi,dimana mensyaratkan Ahli K3 pada setiap proyek / kegiatan terutama pada kegiatan yang memiliki resiko tinggi.

D. Metrik Program K3L

Safety Health and Environmental Induction Kegiatan ini dilaksanakan setiap ada tamu ataupun pekerja baru yang memasuki wilayah kerja proyek.

1. Safety Health and Environmental Talk Program ini bertujuan untuk sosialisasi dan pembahasan mengenai seluruh permasalahan penerapan K-3L dan Lingkungan selama masa pelaksanaan proyek.

Pelaksanaan Safety talk setiap 1 minggu sekali.

2. Safety Health and Environmental Patrol/Inspection Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin, bertujuan untuk memonitor pelaksanaan

(40)

K-3L di seluruh lingkungan proyek dan menjaga konsistensi pelaksanaan K-3L.

3. Safety Health and Environmental Meeting Program SHE meeting dilaksanakan seminggu sekali dimana dalam kegiatan ini membahas permasalahan dan kejadian yang terjadi dan rencana tindak lanjut untuk memperbaikinya serta membahas permasalahan yang mungkin terjadi serta langkah-langkah pencegahannya.

4. Safety Health and Environmental Audit Program ini dilaksanakan insidental bertujuan untuk melakukan audit terhadap kedisiplinan dalam pelaksanaan standar K-3L di lingkungan proyek terhadap peraturan yang diberlakukan dalam lingkungan perusahaan.

5. Safety Health and Environmental Trainning Pelatihan terhadap seluruh komponen proyek yaitu karyawan, subkon, mandor dan seluruh pekerja mengenai K-3L, P3K dan respon terhadap keadaan darurat.

2.2.7. Definisi Bill of Quantity / RAB

Rencana Anggaran Biaya adalah suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya- biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek. Anggaran biaya merupakan harga dari bahan bangunan yang dihitung dengan teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda- beda di masing- masing daerah, disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja.

Estimasi biaya dalam suatu proyek konstruksi biasanya disajikan dalam bentuk Bill of Quantity. Bill of Quantity ini berisikan tiga hal pokok yaitu deskripsi pekerjaan, kuantitas (volume)+unit dan harga satuan pekerjaan.

Data yang dikumpulkan dimaksudkan untuk memperoleh perhitungan harga satuan pekerjaan yang dibatasi berupa data berbagai jenis dan harga bahan serta data upah pekerjaan. Harga satuan pekerjaan itu sendiri dalam

(41)

penelitian ini dibatasi hanya ditentukan dari harga bahan, upah pekerjaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Data-data tersebut dikumpulkan dan disimpan dalam suatu database menggunakan program Microsoft Access, selanjutnya dengan menggunakan program Microsoft Visual Basic dapat dibuat program Sistem Informasi Estimasi Biaya untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diinginkan. Untuk dapat mengaplikasikan harga satuan pekerjaan yang telah dibuat tersebut ke dalam Bill of Quantity dipergunakan program Microsoft Excel.

Hasil akhir pemakaian program ini adalah sekumpulan harga satuan pekerjaan yang ragam atau jenisnya ditentukan dari ragam atau jenis pekerjaan sesuai kebutuhan proyek yang tertera dalam Bill of Quantity.

Harga atau nilai rupiah suatu proyek hingga selesai harus dituangkan secara lengkap di dalam RAB. RAB atau BOQ yang benar adalah menampilkan semua volume gambar tender secara real dan memperhitungkan waste. Pengertian waste di sini adalah kemungkinan terbuangnya material dari total volume yang di tuangkan di dalam RAB sebagai contoh adalah perhitungan yang berhubungan dengan meter lari seperti pipa, kabel, kabel tray, ducting dll. Setelah itu ada sub bagian lain dari RAB yaitu harga satuan. Harga satuan terbagi atas bahan dan upah dan sebaiknya terpisah nilainya karena akan memudahkan kita untuk mengevaluasi RAB jika satu waktu terjadi negosiasi ataupun perubahan lingkup kerja.

Nilai proyek juga harus memperhitungkan prelimineris atau pekerjaan persiapan. Pekerjaan persiapan adalah nilai nilai yang menyangkut terhadap kesinambungan proyek di luar material dan upah. Nilai tersebut harus di hitung secara mendetail agar penunjang proyek dapat terus terfasilitasi hingga proyek selesai. Banyak item di pekerjaan persiapan salah satu contohnya adalah pembuatan direksi keet atau ruang meeting di lapangan, listrik kerja, air kerja dll.

(42)

Perhitungan RAB harus juga bisa memperhitungan profit perusahaan. Profit tersebut harus bisa tersebar secara merata di setiap item material maupun upah. Nilai besaran dari profit sangat fareatif dan banyak faktor yang di perhitungkan untuk menentukan nilai persen dari profit biasanya faktor yang sangat berpengaruh adalah tingkat kesulitan dari suatu proyek disamping faktor faktor lain seperti lokasi proyek, tingkat keamanan proyek dan faktor repeat order atau proyek berkesinambungan.

Untuk menentukan mark up nilai proyek faktor lain yang perlu di perhitungkan adalah PPH atau pajak penghasilan, nilai fee dan nilai negosiasi. PPH berkisar antara 2 sampai dengan 3 persen dan itu merupakan kewajiban dari perusahaan yang harus di anggarkan di setiap proyek dan jika PPh bisa di siasati bisa di turunkan nilai persen tersebut.

Nilai fee adalah nilai yang harus di anggarkan jika kita membuat sebuah perjanjian fee pada seseorang jika memenangkan tender suatu proyek. Dan yang terakhir adalah negosiasi, negosiasi adalah nilai yang bisa kita rancang sebagai bentuk dari strategi kita untuk memenangkan tender.

2.3. Teori Teknis Proyek

Proyek merupakan suatu kegiatan usaha yang kompleks, sifatnya tidak rutin, memiliki keterbatasan terhadap waktu, anggaran dan sumber daya serta memiliki spesifikasi tersendiri atas produk yang akan dihasilkan.

Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam mengerjakan suatu proyek, maka sebuah organisasi proyek sangat dibutuhkan untuk mengatur sumber daya yang dimiliki agar dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang sinkron sehingga tujuan proyek bisa tercapai.

Organisasi proyek juga dibutuhkan untuk memastikan bahwa pekerjaan dapat diselesaikan dengan cara yang efisien, tepat waktu dan sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Pada umumnya, proyek melibatkan beberapa orang yang saling berhubungan aktivitasnya dan sponsor utama proyek biasanya tertarik dalam penggunaan sumber daya yang efektif untuk menyelesaikan proyek secara efisien dan tepat waktu.

(43)

Tujuan utama proyek adalah memuaskan kebutuhan pelanggan.

Disamping kemiripan, karakteristik dari sebuah proyek membantu membedakan proyek tersebut dari yang lainnya dalam organisasi.

Karakteristik utama proyek adalah : - Penetapan tujuan

- Masa hidup yang terdefinisi mulai dari awal hingga akhir - Melibatkan beberapa departemen dan profesional

- Melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya - Waktu, biaya dan kebutuhan yang spesifik.

2.3.1. Pengertian Tender

Menurut Sudarsono, 2007 Tender adalah suatu hal yang berkaitan dengan kegiatan memborong pekerjaan atau menyuruh pihak lain untuk memborong ataupun mengerjakan sebagian ataupun seluruh pekerjaan sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat. Secara umum tender meliputi tawaran pengajuan harga untuk :

a. Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan b. Menjual barang atau jasa

c. Membeli barang atau jasa, dan d. Mengadakan barang atau jasa.

2.3.2. Jenis - jenis Tender

Berdasarkan kepemilikan dapat dibedakan atas : a. Proyek Pemerintah

Pengadaan barang/jasa di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan pedoman Keputusuan Presiden RI No. 54 Tahun 2010 berserta perubahannya dalam pelaksanaannya melalui metode pelelangan umum untuk pemilihan/seleksi penyedia jasa yang terbagi menjadi 5 (lima) metode, yaitu :

1. Pelelangan umum, metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan kosntruksi / jasa lainnya untuk semua pekerjaan dapat diikuti oleh

(44)

semua penyedia barang / pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memenuhi syarat.

2. Pelelangan terbatas, adalah metode pemilihan penyedia pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks.

3. Pemilihan langsung, adalah metode pemlihan penyedia pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

4. Penunjukan langsung, adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) penyedia barang/jasa.

5. Pengadaan Langsung, adalah pengadaan barang / jasa langsung kepada penyedia barang / jasa, tanpa melalui pelelangan / seleksi / penunjukan langsung.

b. Proyek Swasta

Ketentuan mengenai tender proyek milik swasta biasanya diatur sendiri oleh masing-masing pemilik. Meskipun demikian, ketentuan tersebut mengacu pada standar kontrak tertentu, misalnya standar internasional seperti (Laoren, 2009 pp:27-29) FIDIC ( Federati Internationale Des Ingenieurs Conseil ). Pada umumnya dilakukan dengan cara tender terbatas, dengan mengundang beberapa kontraktor yang sudah dikenal.

Perkembangan saat ini adalah dalam memilih kontraktor yang diundang, pemilih (owner terlebih dahulu mengundang beberapa calon kontraktor untuk melakukan presentasi tentang kemampuan mereka dalam melaksanakan proyek yang akan dilelangkan. Berdasarkan cara pembukaan dokumen penawaran, tender dapat dibedakan menjadi : 1. Tender terbuka, yaitu pembukaan dan pembacaan dokumen

penawaran dari peserta dilakukan didepan seluruh peserta, sehingga masing-masing mengetahui harga penawaran pesaingnya.

(45)

2. Tender tertutup, dimana dokumen penawaran yang masuk tidak dibacakan di depan seluruh peserta tender, bahkan kadang-kadang para peserta tidak saling mengetahui siapa pesaingnya.

2.3.3. Kriteria Penyedia Jasa Konstruksi

Sesuai dengan prinsip terbuka, Penyedia barang dan jasa dapat diikuti oleh semua penyedia barang / jasa yang memenuhi persyaratan / kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas. Dari pengertian prinsip tersebut, penyedia barang/jasa harus memenuhi persyaratan / kriteria tertentu.

Dalam proses pemilihan penyedia, terdapat 2 jenis persyaratan / kriteria yaitu : Kriteria yang berkaitan dengan kualifikasi dari penyedia barang / jasa dan Kriteria yang berkaitan dengan barang/jasa yang ditawarkan penyedia barang / jasa.

2.3.4. Konsultan Manajemen Konstruksi

Konsultan Manajemen Konstruksi pada proses pembangunan berfungsi sebagai mediator dan wakil dari pemberi tugas atau pemilik kegiatan dalam menjalankan komunikasi dengan para pelaksana kegiatan yang lain.

Keberadaannya sangat diperlukan mengingat pemilik kegiatan tidak sepenuhnya memiliki sumberdaya manusia yang kompeten maupun waktu yang cukup untuk mengelola, mengendalikan dan mengawasi kegiatan persiapan pelaksanaan sampai dengan serah terima pekerjaan.

1. Lingkup pekerjaan konsultan manajemen konstruksi.

Manajemen Konstruksi diharapkan menjadi mediator dalam komunikasi, konsultasi, kontrol dan pengendali dari apa yang mungkin timbul di lapangan pada saat tahapan pelaksanaan konstruksi berkaitan dengan adanya perbedaan antara perencanaan dan pelaksanaan sehingga bisa terselesaikan dengan baik.

2. Lingkup Tugas Konsultan Manajemen Konstruksi Sebelum Pelaksanaan Konstruksi.

(46)

Lingkup tugas Konsultan Manajemen Konstruksi sebelum pelaksanaan konstruksi adalah sebagai berikut :

a. Membantu owner dalam menyusun anggaran biaya dan lingkup pekerjaan disesuaikan dengan pagu anggaran yang tersedia.

b. Membantu owner dalam melakukan klarifikasi dan negosiasi atas pengajuan kontraktor terhadap anggaran biaya dan lingkup pekerjaan disesuaikan denganpagu anggaran yang tersedia.

c. Membantu menyiapkan draf surat perjanjian pekerjaan pelaksanaan konstruksi fisik.

3. Lingkup Tugas Konsultan Manajemen Konstruksi Pada Pelaksanaan Konstruksi.

Adapun lingkup pekerjaan konsultan manajemen konstruksi dalam masa pelaksanaan pembangunan adalah sebagai berikut :

a. Mengevaluasi program kegiatan pelaksanaan fisik yang disusun oleh pelaksana konstruksi yang meliputi program pencapaian sasaran fisik, penyediaan dan penggunaan sumber daya berupa tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan bahan bangunan, informasi, dana, program quality assurance, quality control dan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

b. Mengendalikan program pelaksanaan konstruksi fisik, yang meliputi program pengendalian sumber daya, pengendalian biaya, pengendalian waktu, pengendalian sasaran fisik (kualitas dan kuantitas) hasil konstruksi, pengendalian perubahan pekerjaan, pengendalian tertib administrasi, pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja.

c. Melakukan evaluasi program terhadap penyimpangan teknis dan manajemen yang timbul, usulan koreksi program serta melakukan koreksi teknis bila terjadi penyimpangan.

d. Melakukan koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan konstruksi fisik.

e. Melakukan kegiatan pengawasan yang terdiri atas :

(47)

- Memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelelangan konstruksi yang akan dijadikan dasar dalam pengawasan pekerjaan di lapangan.

- Mengawasi pemakaian bahan, peralatan dan metode pelaksanaan, serta mengawasi ketepatan waktu, dan biaya pekerjaan konstruksi.

- Mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas dan laju pencapaian volume / realisasi fisik.

- Mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk memecahkan persoalan yang terjadi selama pekerjaan konstruksi.

- Menyelenggarakan rapat lapangan secara berkala, membuat laporan mingguan dan bulanan pekerjaan manajemen konstruksi, dengan masukan hasil rapat lapangan, laporan harian, mingguan dan bulanan pekerjaan konstruksi fisik yang dibuat oleh pelaksana konstruksi.

- Menyusun laporan dan berita acara dalam rangka kemajuan pekerjaan dan pembayaran angsuran pekerjaan pelaksanaan konstruksi.

- Meneliti gambar-gambar untuk pelaksanan yang diajukan oleh pelaksana konstruksi.

- Meneliti gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan sebelum serah terima I.

- Menyusun daftar cacat sebelum serah terima I dan mengawasi perbaikannya pada masa pemeliharaan.

- Bersama-sama dengan penyedia jasa perencanaan menyusun petunjuk pemeliharaan dan penggunaan bangunan gedung.

- Menyusun berita acara persetujuan kemajuan pekerjaan, serah terima I, berita acara pemeliharaan pekerjaan dan serah terima II pekerjaan konstruksi, sebagai kelengkapan untuk pembayaran angsuran pekerjaan konstruksi.

(48)

- Membantu mengelola kegiatan dalam penyiapan kelengkapan dokumen Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dari Pemerintah, Kabupaten / Kota setempat.

f. Menyusun laporan akhir pekerjaan manajemen konstruksi.

- Konsultan Manajemen Konstruksi sebagai suatu lembaga yang berfungsi Integral dan profesional mempunyai tugas yang lebih panjang dalam suatu proses pengadaan suatu kegiatan proyek dimana diantaranya membantu pemberi tugas dalam proses pengadaan konsultan perencana, jasa pelaksana hingga pelaksanaan di lapangan sampai masa pemeliharaan konstruksi.

- Konsultan Manajemen Konstruksi secara sistemik dan proporsional akan berfungsi manajerial dalam setiap proses.

Pengadaan Konsultan Perencana yang akan membuat dokumen perencanaan terhadap fasilitas yang dikehendaki oleh pemberi tugas dan pengadaan Pelaksana Fisik / Kontraktor yang akan melaksanakan pembangunan fisik dari yang telah direncanakan.

- Manajemen Konstruksi sebagai suatu institusi yang berfungsi Integral dan turut serta memahami hasil perencanaan hingga diaplikasikan dalam pelaksanaan. Konsultan Manajemen Konstruksi merupakan wakil dari pemberi tugas dalam mengendalikan proses pembangunan. Dengan Konsultan Manajemen Konstruksi ini diharapkan akan dapat menjawab pertanyaan - pertanyaan awal sebagai berikut :

• Bagaimana metode yang tepat dan efisien untuk mendudukkan klien (pemberi tugas) dalam situasi yang menguntungkan dilihat dari kemampuan untuk bernegosiasi secara teknis dengan perencana dan Kontraktor.

• Bagaimana mengoptimalkan hasil perencanaan dan pelaksanaan sehingga dapat menghasilkan produk yang dikehendaki baik untuk mutu, waktu dan biaya.

(49)

• Bagaimana metoda yang tepat agar dapat menghemat waktu akibat tersita permasalahan yang timbul di lapangan.

- Konsultan MK bekerja mulai dari persiapan Tahap Pelelangan Kontraktor (bila diperlukan membantu proses pelelangan Kontraktor), pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik dan pengawasan pelaksanaanmasa pemeliharaan dan penyusunan kontraknya.

4. Maksud Keberadaan Konsultan Manajemen Konstruksi.

Maksud diadakannya Konsultan Manajemen Konstruksi adalah secara garis besar sebagai berikut :

a. Untuk mencapai penyelesaian pelaksanaan kegiatan pembangunan mulai dari Perencanaan, Pembangunan dan Pemeliharaan dalam waktu yang telah disepakati dalam rangka penghematan waktu, dengan biaya yang serendah– rendahnya dalam rangka penghematan biaya dengan mutu yang setinggi– tingginya.

b. Membentuk faktor – faktor sistem agar terbentuk pengelolaan kegiatan yang dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

c. Mengendalikan aliran informasi antara berbagai tahap pelaksanaan untuk mendapatkan kesatuan bahasa dan gerak serta kelancaran pelaksanaan.

d. Mengendalikan pengaruh timbal balik antara proyek/kegiatan dengan lingkungannya agar didapat (1) koordinasi yang baik dengan instansi yang terkait, (2) arah perkembangan proyek yang lebih baik, (3) penerapan teknologi yang tepat (4) pendokumentasian dan administrasi proyek yang baik.

e. Menyelaraskan disain produk dan pelaksanaannya sesuai dengan yang diharapkan.

5. Tujuan Keberadaan Konsultan Manajemen Konstruksi.

Sedangkan tujuan akhir dari diadakannya Konsultan Manajemen Konstruksi adalah untuk mendapatkan hasil akhir pembangunan dengan mutu yang maksimal, hemat biaya, hemat waktu dan tertib

Referensi

Dokumen terkait

Akibat tekanan yang rendah pada sisi isap pompa maka fluida akan naik dari kedalaman tertentu, sedangkan akibat tekanan yang tinggi pada sisi discharge akan memaksa fluida

Agar masalah penerangan yang muncul dapat ditangani dengan baik, faktor-faktor yang harus diperhitungkan adalah sumber penerangan, pekerja dalam melakukan pekerjaannya,

Kekeringan merupakan bencana alam yang disebabkan akibat distribusi air hujan yang tidak merat yang terjadi pada suatu wilayah yang kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan

Agenda kegiatan KP minggu 2 tanggal 11 juli s/d 15 juli 2022 NO Hari/Tanggal Uraian Kegiatan 1 Senin/11-07-2022 -Nama kegiatan : Preventive maintenance sub blower -Pengawas kegiatan

Sumber : Google, 2022 3.1.2 Tahap Perkenalan Kegiatan ini di lakukan pada hari pertama mulai KP Kerja Praktek, dimana pada tahap ini mahasiswa melakukan perkenalan kepada staf dan

12 Tabel 2.6 Kegiatan Harian Pada Minggu ke-5 Tanggal 4 s/d 8 juli 2022 Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan Senin/ 4 Juli 2022 Patroli jaringan Patroli jaringan merupakan kegiatan

Diagram Sebab Akibat Berdasarkan permasalahan yang didapatkan dari wawancara pada karyawan dan para mandor, masalah yang ditekankan terjadi pada faktor manusia, karena banyak yang

i LAPORAN KERJA PRAKTIK Lomba “ACOPAT Application Connecting Parents and Teachers Sebagai Inovasi Solusi Permasalahan Komunikasi Orang Tua Siswa dan Guru Pada Era Revolusi Industri