• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Perancangan Kota

N/A
N/A
Andi Nurul Qalbi

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan Praktikum Perancangan Kota"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1

PRAKTIKUM PERANCANGAN KOTA

Oleh:

ANDI NURUL QALBI(60100122029)

DOSEN PEMBIMBING: Ar. Sriany Ersina, ST., MT., IAI

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarokatuh Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan praktikum ini bisa terselesaikan dengan baik. Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan praktikum lapangan yang dilaksanakan di Kecamatan Panakukang, Kota Makassar, sebagai bagian dari Mata Kuliah Perancangan Kota. Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung dalam mengamati, menganalisis, dan mendokumentasikan elemen-elemen perancangan kota, sekaligus memahami kondisi nyata serta faktor-faktor yang memengaruhi proses perencanaan di kawasan tersebut.

Dengan penuh rasa hormat, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu Mata Kuliah Perancangan Kota, Ar. Sriany Ersina, ST., MT., IAI, atas bimbingan, arahan, dan motivasi yang sangat membantu dalam penyelesaian kegiatan ini. Kami juga mengucapkan Terima Kasih kepada seluruh pihak yang ikut membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga Allah SWT membalas kebaikan-kebaikan mereka dengan setimpal, Aamiin.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat menghargai kritik dan saran yang konstruktif untuk penyempurnaan di masa depan. Harapan kami, laporan ini dapat memberikan manfaat, baik bagi mahasiswa sebagai pelaksana kegiatan maupun bagi semua pihak yang berperan dalam pengembangan perencanaan kota yang lebih baik.

Makassar, (18 NOVEMBER 2024)

ANDI NURUL QALBI Penulis

(3)

1 Oleh: 1

ANDI NURUL QALBI(60100122029) ... 1

DOSEN PEMBIMBING: Ar. Sriany Ersina, ST., MT., IAI ... 1

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR ... 1

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI ... 1

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR ... 1

2024 1 KATA PENGANTAR ... 2

Makassar, (18 NOVEMBER 2024)... 2

ANDI P.M. AQSHA YUSUF ... 2

Penulis 2 LATAR BELAKANG ... 4

TUJUAN PRAKTIKUM... 6

Tujuan dari praktikum lapangan yang dilaksanakan di Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, adalah sebagai berikut: ... 6

METODE PRAKTIKUM ... 7

Survey ini dilaksanakan sebanyak 5 kali . ... 7

ALAT DAN BAHAN ... 8

Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam pengumpulan data selama survei lapangan adalah sebagai berikut: ... 8

METODE PENGUMPULAN DATA ... 8

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: ... 8

1. Observasi: Observasi langsung di lapangan dilakukan untuk mengamati elemen-elemen perancangan kota, seperti tata guna lahan, sirkulasi transportasi, ruang terbuka hijau, dan elemen visual yang ada di kawasan Bontoala. ... 8 2. Dokumentasi Visual: Pengambilan foto dan video dilakukan untuk

mendokumentasikan kondisi isik kawasan, serta elemen-elemen desain yang ada. Dokumentasi ini bertujuan untuk memberikan

(4)

gambaran yang jelas mengenai kualitas ruang kota dan penerapan

prinsip-prinsip perancangan kota di lapangan. ... 9

PEMBAHASAN ... 13

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 18

Daftar Pustaka... 21

Error! Bookmark not de ined. LEMBAR OBSERVASI PRAKTIKUM LAPANGANError! Bookmark not de ined. A. Identitas Lokasi ... 22

1. Nama Kawasan:Makassar Area Barat Lokasi:Kecamatan Bontoala22 B. Aspek Pengamatan ... 22

1. Tata Ruang dan Zonasi ... 22

Jenis jalan yang diamati: ... 23

Jenis ruang terbuka yang tersedia: ... 23

Kondisi lingkungan secara umum: ... 24

Jenis kegiatan ekonomi dominan: ... 25

Catatan Tambahan ... 26

1. Temuan khusus atau masalah yang diamati: ... 26

Peluang Pengembangan yang Dapat Diusulkan (Berdasarkan Teori Trancik, Shirvani, dan Lynch): ... 27

Dokumentasi ... 28

 Apakah foto lokasi diambil?... 28 BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not de ined.

(5)

Perencanaan kota adalah proses yang kompleks dan memerlukan pemahaman mendalam tentang beragam aspek fisik, sosial, ekonomi, serta lingkungan. Kecamatan Panakukang di Kota Makassar, sebagai salah satu kawasan urban dengan sejarah dan perkembangan yang dinamis, menjadi lokasi yang relevan untuk dijadikan objek studi lapangan. Kawasan ini meliputi berbagai elemen penting dalam perancangan kota, seperti tata guna lahan, sistem transportasi, ruang terbuka hijau, serta elemen visual yang mencerminkan karakteristik unik perkotaan Berdasarkan teori perancangan kota Shirvani, elemen utama seperti tata guna lahan, sistem sirkulasi, ruang terbuka, elemen estetika, dan struktur tata ruang memiliki peran krusial dalam menentukan kualitas ruang kota. Teori Kevin Lynch menggarisbawahi pentingnya elemen visual kota, seperti jalur (paths), tepian (edges), distrik (districts), simpul (nodes), dan landmark, yang membentuk cara individu merasakan dan mengenali kota. Sementara itu, Trancik memberikan perhatian khusus pada "lost spaces," yaitu ruang-ruang kosong yang sering terabaikan namun memiliki potensi besar untuk dioptimalkan guna meningkatkan fungsi dan estetika perkotaan.

Melalui studi lapangan di Kecamatan Panakukang, dapat diamati bagaimana berbagai elemen perancangan kota saling berinteraksi dan berperan dalam membentuk kualitas ruang yang tersedia. Observasi ini juga mencakup analisis terhadap faktor-faktor yang memengaruhi perencanaan kota, seperti pertumbuhan populasi, kebutuhan infrastruktur, serta pengaruh sosial dan budaya yang berkembang. Dengan mengaitkan teori-teori perancangan kota, seperti yang dikemukakan oleh Shirvani, Lynch, dan Trancik, dengan kondisi nyata di lapangan, studi ini diharapkan mampu memberikan wawasan yang lebih jelas dan aplikatif.

Studi lapangan ini memiliki peran penting dalam mengidentifikasi berbagai permasalahan yang terjadi di wilayah perkotaan sekaligus menemukan solusi yang inovatif dan berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dengan mengadopsi pendekatan yang didasarkan pada teori-teori terkait, diharapkan studi ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perencanaan kota yang tidak hanya efisien, tetapi juga estetis, fungsional, dan mampu menjawab tantangan urban masa kini.

(6)

TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan dari praktikum lapangan yang dilaksanakan di Kecamatan Panakukang, Kota Makassar, adalah sebagai berikut:

1. Melakukan observasi dan pendokumentasian terhadap elemen-elemen perancangan kota, seperti tata guna lahan, sistem sirkulasi, ruang terbuka hijau, serta elemen visual di kawasan Panakukang, guna memahami interaksi elemen-elemen tersebut dalam membentuk kualitas ruang perkotaan.

2. Menggunakan teori perancangan kota dari Shirvani, Lynch, dan Trancik untuk menganalisis elemen-elemen kota yang ditemukan di lapangan, dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang prinsip desain kota yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3. Menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi perencanaan kota, seperti pertumbuhan populasi, perkembangan infrastruktur, serta pengaruh sosial dan budaya di Kecamatan Bontoala, dan mengaitkannya dengan teori-teori perancangan kota.

4. Mengidentifikasi berbagai permasalahan di lapangan, termasuk yang berkaitan dengan fungsi ruang, sistem sirkulasi, dan kurangnya optimalisasi ruang terbuka, untuk memperoleh pemahaman mengenai tantangan perencanaan kota yang dihadapi oleh masyarakat setempat.

5. Mengenali berbagai permasalahan yang ada di lapangan, termasuk yang berkaitan dengan penggunaan ruang, sistem sirkulasi, dan kurangnya pemanfaatan ruang terbuka, untuk memahami tantangan perencanaan kota yang dihadapi oleh masyarakat setempat.

(7)

6. Memberikan saran perbaikan atau solusi dalam perencanaan kota yang dapat meningkatkan kualitas ruang perkotaan serta menciptakan lingkungan yang lebih fungsional, estetis, dan berkelanjutan.

METODE PRAKTIKUM 1. LOKASI

Observasi dilakukan di Kecamatan Panakukang, yang terletak di bagian timur Kota Makassar. Sebagai salah satu kawasan urban yang berkembang pesat, Panakukang memiliki berbagai elemen penting dalam perencanaan kota, seperti tata guna lahan, sistem transportasi, ruang terbuka hijau, dan elemen visual yang mencerminkan karakteristik lingkungan perkotaan.

Kawasan ini dipilih sebagai objek penelitian karena adanya hubungan yang kompleks antara elemen-elemen tersebut, yang secara langsung memengaruhi kualitas ruang kota dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

2. WAKTU PELAKSANAAN

Survey ini dilaksanakan sebanyak 3 kali .

a. survey yang pertama pada hari Kamis tanggal 7 November 2024, dengan survey yang dilakukan pada pukul17.03 WITA.

b. survey yang kedua pada hari Jumat tanggal 8 November 2024, dengan survey yang dilakukan pada pukul 17.51 WITA.

c. survey yang ketiga pada haris Sabtu tanggal 9 November 2024, dengan survey yang dilakukan pada pukul 23.21 WITA.

(8)

Pemilihan waktu ini bertujuan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai aktivitas di kawasan tersebut, baik pada pagi, sore hari, yang merupakan waktu puncak aktivitas sosial dan ekonomi di Bontoala hingga malam hari

ALAT DAN BAHAN

Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam pengumpulan data selama survei lapangan adalah sebagai berikut:

a. Perangkat Dokumentasi:

Kamera digital untuk mendokumentasikan elemen visual di lapangan b. Alat Tulis:

Buku catatan untuk mencatat hasil observasi c. Peta Kawasan:

Peta tata guna lahan dan peta jalan untuk mempermudah pemetaan dan identi ikasi elemen kota

METODE PENGUMPULAN DATA

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi:

Observasi lapangan dilakukan untuk melihat langsung elemen- elemen perancangan kota, seperti tata guna lahan, sistem transportasi, ruang terbuka hijau, serta elemen visual yang terdapat di kawasan Panakukang.

(9)

2. Dokumentasi Visual:

Foto dan video diambil untuk mendokumentasikan kondisi isik kawasan serta elemen-elemen desain yang ada. Dokumentasi ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kualitas ruang kota dan penerapan prinsip-prinsip perancangan kota di lokasi tersebut.

DESKRIPSI AREA

Kecamatan Panakukang berada di bagian barat Kota Makassar dan merupakan kawasan urban dengan karakteristik yang dinamis. Wilayah ini dikenal memiliki berbagai elemen tata ruang yang saling berinteraksi, baik secara isik maupun sosial. Tata ruang di Panakukang terus mengalami perkembangan, mencakup beragam penggunaan lahan seperti permukiman, area komersial, fasilitas umum, serta ruang terbuka hijau.Tata Ruang dan Penggunaan Lahan

Mayoritas tata ruang di Panakukang didominasi oleh permukiman yang padat, diikuti oleh area komersial dan fasilitas publik, seperti pasar dan tempat ibadah. Kawasan komersial yang tersebar di sepanjang jalan-jalan utama berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi bagi masyarakat setempat.

3. Aktivitas dan Mobilitas

Kegiatan di Panakukang umumnya berpusat pada sektor perdagangan dan sosial. Banyak penduduk yang berpartisipasi dalam perdagangan di pasar tradisional atau toko-toko yang tersebar di kawasan ini. Aktivitas sosial

(10)

masyarakat, termasuk pertemuan di tempat ibadah dan kegiatan komunitas lainnya, juga sangat tampak di sini.

Sistem transportasi di Panakukang cukup sibuk, dengan jalan utama yang menghubungkan kecamatan ini dengan berbagai bagian Kota Makassar.

Beragam moda transportasi digunakan, seperti kendaraan umum, sepeda motor, dan angkutan tradisional seperti becak, yang cukup dominan terutama pada jam-jam sibuk.

4. Elemen Visual dan Karakter Lingkungan Perkotaan

Panakukang memiliki karakter visual yang khas, dengan berbagai jenis bangunan yang berdiri berdekatan, mulai dari rumah tinggal, toko, hingga fasilitas umum. Jalan utama yang ramai dilalui kendaraan menjadi pusat aktivitas visual, sementara keberadaan landmark dan ruang terbuka hijau memberikan sentuhan unik di tengah hiruk-pikuk kota.

1. ANALISIS DATA

Berdasarkan observasi yang dilakukan di Kecamatan Panakukang, berikut adalah analisis temuan lapangan yang mengaitkan elemen-elemen perancangan kota dengan teori yang telah dipelajari dalam mata kuliah perancangan kota:

a. Teori / Elemen-Elemen Mata Kuliah (MK)

Menurut Shirvani, perencanaan kota harus mencakup elemen-elemen kunci seperti tata guna lahan, sistem sirkulasi, ruang terbuka hijau, elemen estetika, dan tata ruang lingkungan. Observasi di Panakukang menunjukkan bahwa elemen-elemen ini saling terkait dan saling memengaruhi. Misalnya, variasi penggunaan lahan antara permukiman, area komersial, dan fasilitas

(11)

publik menciptakan aktivitas beragam yang mendukung dinamika sosial dan ekonomi masyarakat. Teori Lynch juga relevan dalam konteks ini, di mana elemen visual seperti jalur (paths), tepian (edges), dan landmark berkontribusi dalam membentuk persepsi warga terhadap kota sekaligus memudahkan orientasi di kawasan perkotaan.

b. Tata Ruang dan Zonasi

Berdasarkan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tata ruang di Panakukang terbagi menjadi beberapa zona utama. Zona permukiman padat mendominasi wilayah tengah hingga utara, ditandai dengan bangunan yang rapat dan cenderung kurang teratur. Di sepanjang jalan utama, zona komersial tumbuh pesat, dengan deretan toko dan pasar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Zona fasilitas publik, seperti sekolah dan tempat ibadah, tersebar di lokasi-lokasi strategis untuk menunjang aktivitas sosial dan pendidikan masyarakat. Namun, ruang terbuka hijau di kawasan ini masih terbatas, hanya berupa beberapa area kecil yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi bagi penduduk setempat.

Zonasi ini menunjukkan bahwa perencanaan kawasan belum sepenuhnya terintegrasi, di mana keragaman fungsi lahan belum sepenuhnya mendukung kebutuhan mobilitas yang e isien dan ketersediaan ruang terbuka hijau yang memadai.

c. Pola Lalu Lintas dan Transportasi

Sistem transportasi di Panakukang terpantau cukup padat, terutama di jalan utama yang menghubungkan kecamatan ini dengan wilayah lain di Makassar. Jalan-jalan utama cenderung sempit, meskipun sering dilalui

(12)

kendaraan pribadi dan umum. Pola lalu lintas menunjukkan tingkat kepadatan yang tinggi, terutama pada jam sibuk, seperti pagi dan sore hari, akibat banyaknya aktivitas perdagangan dan pendidikan. Kendaraan umum seperti bus, mikrolet, dan sepeda motor menjadi pilihan utama bagi warga dalam mobilitas sehari-hari. Namun, sistem transportasi ini belum sepenuhnya e isien, karena terbatasnya ruang untuk transportasi massal dan tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi serta angkutan tradisional seperti becak.

d. Ruang Terbuka Publik

Ruang terbuka hijau di Panakukang sangat terbatas, meskipun terdapat beberapa area kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi bagi warga, seperti lapangan atau taman kecil. Keberadaan ruang terbuka ini sangat penting untuk memberikan keseimbangan di lingkungan yang padat, meskipun masih perlu dioptimalkan lebih lanjut. Selain sebagai tempat bersantai, ruang terbuka hijau juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara dan menyediakan ruang sosial bagi masyarakat.

e. Keadaan Lingkungan dan Infrastruktur

Lingkungan di Panakukang cukup padat, dengan kualitas bangunan yang bervariasi. Beberapa bagian dari kawasan ini menghadapi masalah polusi udara dan kebisingan akibat kepadatan lalu lintas. Infrastruktur seperti saluran air, jaringan listrik, dan pengelolaan sampah masih terbatas dan memerlukan perbaikan. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan infrastruktur, beberapa area masih kesulitan dalam mengakses layanan dasar yang memadai.

(13)

f. Aspek Sosial, Budaya, dan Ekonomi

Aspek sosial di Panakukang sangat dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan yang menjadi sumber utama ekonomi masyarakat. Banyak warga yang terlibat dalam sektor perdagangan, baik di pasar tradisional maupun toko-toko kecil yang tersebar di kawasan ini. Kehidupan sosial juga cukup aktif, dengan banyaknya pertemuan komunitas yang sering diadakan di tempat ibadah atau ruang publik lainnya. Secara budaya, Panakukang mencerminkan keberagaman yang tercermin dalam berbagai kegiatan sosial dan agama yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari warga. Secara ekonomi, kawasan ini didominasi oleh sektor perdagangan kecil, namun keberagaman kegiatan ekonomi ini menunjukkan potensi untuk perkembangan lebih lanjut di masa depan.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di Kecamatan Panakukang, ditemukan keterkaitan yang kuat antara temuan lapangan dengan teori-teori perancangan kota dan permukiman. Hal ini juga mencakup tantangan yang dihadapi serta potensi perbaikan yang dapat diterapkan di kawasan tersebut.

Keterkaitan Temuan dengan Teori Kota & Permukiman

Temuan yang ada di Kecamatan Panakukang menunjukkan kesesuaian dengan teori-teori perancangan kota yang telah dibahas, seperti yang dijelaskan oleh Shirvani, Lynch, dan Trancik.

(14)

1. Teori Shirvani tentang penggunaan lahan, sistem sirkulasi, ruang terbuka hijau, dan tata ruang lingkungan tampak tercermin dalam kondisi yang ada di Panakukang. Keberagaman penggunaan lahan—

termasuk pemukiman padat, area komersial, dan fasilitas publik—

menciptakan dinamika sosial dan ekonomi yang kompleks. Namun, meskipun ada keberagaman tersebut, tantangan utama adalah belum optimalnya integrasi penggunaan lahan untuk mengurangi kepadatan dan menciptakan kualitas ruang yang lebih baik.

2. Teori Lynch, yang menyarankan pentingnya elemen-elemen visual kota seperti jalur (paths), tepian (edges), dan landmark, relevan dengan tata ruang di Bontoala. Jalur utama yang menghubungkan kawasan ini dengan daerah lain di Makassar menjadi bagian penting dari sirkulasi masyarakat, sekaligus memberi identitas visual pada lingkungan tersebut. Namun, masalah kepadatan lalu lintas dan terbatasnya ruang terbuka hijau menunjukkan bahwa beberapa elemen visual kota belum mendukung kualitas hidup secara maksimal.

3. Teori Trancik, yang mengedepankan pentingnya ruang terbuka hijau dan pemanfaatan ruang yang terabaikan, juga relevan untuk kondisi Bontoala. Kehadiran ruang terbuka hijau yang minim menjadi masalah besar, dan dengan mengoptimalkan ruang-ruang yang belum dimanfaatkan, kawasan ini bisa memperoleh keseimbangan antara kebutuhan ruang terbuka dan area padat.

A. Masalah yang Dihadapi

1. Kepadatan Lalu Lintas dan Keterbatasan Ruang Transportasi Masalah utama yang dihadapi Panakukang adalah kepadatan lalu lintas,

(15)

terutama pada jalur utama yang menghubungkan kecamatan ini dengan bagian lain Kota Makassar. Jalan yang sempit dan banyaknya kendaraan pribadi, angkutan umum, serta becak menyebabkan kemacetan pada jam sibuk. Hal ini menunjukkan perlunya perencanaan transportasi yang lebih baik, dengan memperhatikan kapasitas jalan, pengembangan transportasi massal, dan pengelolaan kendaraan pribadi.dan kebanyakan masyarakat sering kali memarkirkan kendaraanya di pinggir jalan sehingga mempersempit ruas dari jalan sehingga menghambat arus kendaraan .

Kepadatan lalu lintas tepatnya di kawasan pasar cidu sering kali terjadi kemacetan pada sore hingga malam hari.kemacetan di sebabkan karena pasar cidu setiap harinya di jadikan pasar malam dan kebanyakan warga yang memarkirkan kendaraanya sampai mengambil ruas jalan dan juga banyaknya penjual yang menjual dagangannya sudah memasuki ruas jalanan.

Kurangnya Ruang Terbuka Hijau

Bontoala memiliki sedikit ruang terbuka hijau, yang sangat diperlukan untuk memberikan kenyamanan sosial dan ekologis bagi masyarakat di

(16)

kawasan padat ini. Terbatasnya ruang hijau berdampak pada kualitas udara yang buruk dan kurangnya area untuk aktivitas sosial bagi warga.

2. KeterbatasanInfrastruktur

Infrastruktur dasar seperti pengelolaan sampah, dan jaringan listrik masih terbatas. Beberapa bagian di

Bontoala kesulitan dalam mengakses layanan dasar yang memadai, menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur belum merata dan membutuhkan perbaikan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

3. Penggunaan Lahan yang Tidak E isien Penggunaan lahan yang tidak terintegrasi dengan baik dan kurang sesuai dengan kebutuhan mobilitas mengarah pada ketidakteraturan dalam tata ruang Bontoala. Kepadatan yang tinggi di beberapa wilayah menyebabkan ketidakseimbangan yang menghambat perkembangan yang berkelanjutan dan menurunkan kualitas ruang kota.

(17)

B. Peluang Perbaikan

1. Peningkatan Sistem Transportasi

Untuk mengatasi masalah kepadatan lalu lintas, penting untuk melakukan perbaikan dalam sistem transportasi, seperti memperlebar jalan utama, mengembangkan transportasi massal, serta mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Pembangunan jalur sepeda karena sering kali pesepeda masuk ke jalur pengendara bermotor yang cukup berbahaya dan trotoar yang memadai juga dapat memperlancar mobilitas dan mengurangi kemacetan.

2. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau

Panakukang membutuhkan lebih banyak ruang terbuka hijau, seperti taman, lapangan, dan ruang publik lainnya. Peningkatan jumlah ruang terbuka hijau tidak hanya memperbaiki kualitas udara, tetapi juga sekaligus meningkatkan estetika kota.

3. Pengembangan Infrastruktur yang Merata Infrastruktur dasar, seperti saluran air, pengelolaan sampah, dan jaringan listrik, perlu ditingkatkan di seluruh kawasan. Pembangunan

(18)

infrastruktur yang lebih baik akan mendukung kualitas hidup warga dan mengurangi kesenjangan akses terhadap layanan dasar.

4. Reorganisasi Penggunaan Lahan

Pengelolaan penggunaan lahan di Panakukang perlu ditata kembali dengan lebih e isien, mengintegrasikan kawasan pemukiman, area komersial, dan fasilitas publik secara lebih terstruktur. Dengan pengaturan zonasi yang tepat, kepadatan bisa dikurangi, serta tercipta lingkungan yang lebih sehat dan nyaman untuk dihuni.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum lapangan di Kecamatan Panakukang, dapat disimpulkan bahwa kawasan ini menghadapi sejumlah tantangan dalam hal perencanaan tata ruang, sistem transportasi, ruang terbuka hijau, dan infrastruktur. Meskipun penggunaan lahan yang beragam mendukung aktivitas sosial-ekonomi, integrasi penggunaan lahan belum optimal, yang menyebabkan kepadatan penduduk dan terbatasnya fasilitas umum.

Kepadatan lalu lintas dan jalan utama yang sempit menyebabkan kemacetan, sementara ruang terbuka hijau yang minim mempengaruhi kualitas udara dan kenyamanan sosial masyarakat. Infrastruktur dasar juga masih perlu diperbaiki agar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dengan mempertimbangkan teori-teori perancangan kota yang relevan, ditemukan adanya gap antara perencanaan yang ada dan kebutuhan riil di lapangan. Beberapa elemen, seperti jalur transportasi dan landmark, sudah memadai, namun pengelolaan ruang terbuka hijau dan pengembangan sistem transportasi massal perlu lebih diperhatikan. Oleh karena itu, pengembangan

(19)

kawasan ini harus fokus pada e isiensi penggunaan lahan, penambahan ruang terbuka hijau, dan perbaikan infrastruktur dasar.

Rekomendasi

Berdasarkan analisis yang dilakukan, berikut beberapa rekomendasi untuk pengembangan, perubahan tata ruang, dan peningkatan fasilitas di Kecamatan Bontoala:

1. Pengembangan Infrastruktur Transportasi

a. Meningkatkan kapasitas jalan utama dan memperbaiki jaringan transportasi dengan memperluas jalan, mengembangkan transportasi massal seperti bus dan kereta ringan, serta mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

b. Membangun jalur sepeda dan trotoar yang lebih lebar untuk mendukung mobilitas ramah lingkungan dan mengurangi kemacetan.

2. Peningkatan Ruang Terbuka Hijau

a. Memperluas ruang terbuka hijau, seperti taman kota, lapangan olahraga, dan ruang publik lainnya, untuk meningkatkan kualitas udara, menyediakan ruang sosial, dan memperindah kawasan.

b. Mengoptimalkan penggunaan ruang terbuka yang belum dimanfaatkan untuk menciptakan lebih banyak ruang hijau yang dapat diakses oleh masyarakat.

3. Reorganisasi Tata Ruang dan Penggunaan Lahan

a. Menata ulang penggunaan lahan secara terstruktur, dengan mengintegrasikan pemukiman, kawasan komersial, dan fasilitas publik untuk lebih e isien dan mendukung mobilitas penduduk.

(20)

b. Mengatur zonasi yang lebih jelas antara area pemukiman, komersial, dan fasilitas publik guna mengurangi kepadatan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman.

4. Peningkatan Infrastruktur Dasar

a. Memperbaiki infrastruktur dasar seperti saluran air, pengelolaan sampah, dan sistem energi untuk memastikan akses yang merata ke layanan dasar di seluruh kawasan.

b. Mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih e isien untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

5. Peningkatan Fasilitas Sosial dan Publik

a. Memperluas dan memperbaiki fasilitas publik seperti sekolah, tempat ibadah, dan pusat kegiatan masyarakat untuk mendukung kehidupan sosial warga.

(21)

Daftar Pustaka

(22)

Lokasi Observasi: Kecamatan Panakukang, Makassar Tanggal Observasi: 7-9 November 2024

Nama Observator: ANDI NURUL QALBI Kelompok :Area Tiimur

A. Identitas Lokasi

1. Nama Kawasan:Makassar AreaTimur Lokasi:Kecamatan Panakukang B. Aspek Pengamatan

1. Tata Ruang dan Zonasi

1. Apa saja zona penggunaan lahan yang ditemukan?

a. Pemukiman b. Komersial c. Fasilitas publik d. Ruang terbuka hijau

e. Lainnya (sebutkan): ___________

2. Bagaimana distribusi zonasi ini? Apakah terintegrasi dengan baik?

a. Ya

b. Tidak (jelaskan): Zonasi pemukiman terlalu dekat dengan kawasan komersial, menyebabkan kebisingan bagi warga.

(23)

Ruang terbuka hijau tidak tersebar merata, sehingga sulit diakses oleh sebagian besar penduduk.

Fasilitas publik seperti sekolah atau tempat ibadah berada terlalu jauh dari pusat pemukiman.

3. Pola Lalu Lintas dan Transportasi Jenis jalan yang diamati:

a. Jalan utama b. Jalan lingkungan c. Jalan setapak

4. Tingkat kepadatan lalu lintas:

a. Rendah b. Sedang c. Tinggi

5. Jenis transportasi yang mendominasi:

a. Kendaraan pribadi b. Angkutan umum c. Becak

d. Sepeda/motor

6. Kendala lalu lintas yang ditemukan: ___________

7. Ruang Terbuka Publik

Jenis ruang terbuka yang tersedia:

(24)

a. Taman

b. Lapangan olahraga c. Alun-alun

d. Lainnya: ___________

8. Apakah ruang terbuka cukup untuk populasi setempat?

a. Ya

Tidak (jelaskan):

Ruang terbuka tidak memadai untuk menampung aktivitas warga, terutama pada waktu-waktu tertentu.

Jumlah ruang terbuka tidak sebanding dengan kepadatan penduduk.

Lokasi ruang terbuka sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat karena tidak tersebar merata.

9. Kondisi ruang terbuka:

a. Terawat b. Kurang terawat

c. Tidak terawat: Banyak kerusakan pada fasilitas, penuh sampah

10. Lingkungan dan Infrastruktur Kondisi lingkungan secara umum:

a. Bersih b. Sedang

c. Kotor: Lingkungan penuh sampah, kurang terawat, dan menciptakan ketidaknyamanan bagi warga sekitar.

(25)

11. Infrastruktur yang tersedia:

a. Saluran air/drainase

b. Sistem pengelolaan sampah c. Jaringan listrik

12. Aspek Sosial, Budaya, dan Ekonomi Jenis kegiatan ekonomi dominan:

a. Perdagangan b. Jasa

c. Industri kecil d. Lainnya: ___________

13. Keberagaman sosial dan budaya:

a. Tinggi: Di Kecamatan Panakukang, terdapat komunitas dari berbagai suku seperti Bugis, Makassar, Toraja, dan Jawa yang hidup berdampingan. Selain itu, terdapat komunitas agama yang beragam, seperti Islam sebagai mayoritas, disertai dengan beberapa komunitas Kristen dan Hindu

b. Sedang c. Rendah

14. Fasilitas sosial yang mendukung:

a. Sekolah

(26)

b. Tempat ibadah

Catatan Tambahan

Temuan khusus atau masalah yang diamati:

Teori Trancik (Ruang Terbuka Hijau):

Terdapat kekurangan ruang terbuka hijau yang dapat diakses oleh warga. Ruang terbuka yang ada masih terbatas, dan beberapa ruang terbuka yang terabaikan tidak dimanfaatkan secara optimal. Hal ini bertentangan dengan konsep Trancik yang menekankan pentingnya ruang terbuka hijau untuk memperbaiki kualitas hidup di kawasan padat. Kurangnya ruang terbuka ini juga berdampak pada kualitas udara dan minimnya area untuk interaksi sosial masyarakat.

Teori Shirvani (Penggunaan Lahan dan Tata Ruang):

Penggunaan lahan di Panakukang terkesan tidak terorganisir dengan baik, mengarah pada pemukiman yang padat dan campuran antara zona

komersial dan fasilitas publik yang tidak terintegrasi secara efisien. Hal ini menunjukkan ketidakteraturan tata ruang yang menghambat mobilitas dan mengurangi kenyamanan. Sesuai dengan teori Shirvani, penggunaan lahan yang terencana dengan baik sangat penting untuk menciptakan

keseimbangan antara berbagai fungsi lahan di kota.

Teori Lynch (Elemen Visual dan Identitas Kota):

Meskipun ada elemen-elemen visual yang membantu orientasi (seperti jalur utama dan landmark), ketidakteraturan tata ruang mengurangi fungsi elemen-elemen tersebut. Kepadatan lalu lintas dan ruang terbuka yang terbatas membuat navigasi kota menjadi lebih sulit, serta mengurangi kualitas identitas kota. Konsep Lynch menekankan pentingnya jalur (paths), tepian (edges), dan landmark untuk menciptakan orientasi yang

(27)

jelas dan pengalaman visual yang menyenangkan, namun hal ini belum sepenuhnya tercapai di Panakukang

Peluang Pengembangan yang Dapat Diusulkan (Berdasarkan Teori Trancik, Shirvani, dan Lynch):

Peningkatan Ruang Terbuka Hijau (Teori Trancik):

Mengembangkan dan memperluas ruang terbuka hijau sebagai bagian dari perencanaan kota. Mengoptimalkan lahan yang terabaikan menjadi taman kota, lapangan olahraga, dan ruang sosial untuk meningkatkan kualitas udara, kesehatan mental warga, dan memperkuat interaksi sosial. Konsep Trancik tentang memanfaatkan ruang-ruang yang terabaikan dapat diterapkan untuk menciptakan ruang terbuka yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.

Reorganisasi Penggunaan Lahan (Teori Shirvani):

Menata ulang penggunaan lahan agar lebih terintegrasi, dengan membedakan dan memisahkan zona pemukiman, komersial, dan fasilitas publik untuk menciptakan kawasan yang lebih terstruktur. Menggunakan prinsip Shirvani mengenai penggunaan lahan yang e isien dan sistem sirkulasi yang mendukung, untuk menciptakan kota yang lebih rapi dan mengurangi kepadatan penduduk pada zona tertentu. Hal ini juga akan meningkatkan mobilitas dan memperbaiki aksesibilitas bagi warga.

Penguatan Identitas Kota Melalui Elemen Visual (Teori Lynch):

Meningkatkan kualitas elemen-elemen visual seperti jalur utama, tepian, dan landmark yang sudah ada. Hal ini bisa dilakukan dengan memperindah tampilan jalur transportasi utama, menciptakan lebih banyak landmark yang mudah dikenali, dan memperbaiki aksesibilitas publik di kawasan-kawasan

(28)

yang penting. Dengan demikian, kota akan memiliki identitas yang lebih kuat dan mempermudah orientasi bagi penghuninya. Selain itu, menciptakan ruang-ruang publik yang lebih fungsional dan dapat diakses oleh masyarakat juga akan memperbaiki pengalaman visual dan isik di kota.

Dokumentasi

Apakah foto lokasi diambil?

a. Ya b. Tidak

Jika ya, sebutkan titik lokasi foto: P

Referensi

Dokumen terkait

Laporan praktikum mata kuliah Mikrobiologi Pertanian mahasiswa Agroeknologi UIN Suska

Laporan praktikum mata kuliah Gelombang Laut yang membahas tentang statistika

Laporan akhir praktikum mata kuliah Biokimia yang disusun oleh Roger

Laporan praktikum higiene industri partikulat sebagai tugas mata

Laporan praktikum kartografi yang disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Laporan praktikum Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Mata sebagai tugas mata kuliah Kecerdasan

Laporan ini membahas survei sanitasi tempat-tempat umum sebagai bagian dari praktikum mata kuliah Sanitasi Pemukiman di Poltekkes Kemenkes

Laporan ini membahas tentang praktikum perawatan transmisi mesin perkakas sebagai bagian dari tugas mata kuliah Teknik Pemesinan di Politeknik Negeri