• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS

N/A
N/A
Faisal Yoga

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS

DISUSUN OLEH : SRI RAMADHANI

SEPTRIANA YOAN PUTRI DAMANIK ENDANG SULASTRI

SETIA RAHMALEMNA PERANGIN-ANGIN

NAMA DOSEN: SARI DESI ESTA ULINA SITEPU, S.Kep, Ns. M.Kep INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

FAKULTAS KEPERAWATAN & FISIOTERAPI PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

T.A 2020/2021

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Penderita HIDROSEFALUS”

dengan sebaik-baiknya.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah ini, maka dengan tulus penulis sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan dapat diterapkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...

DAFTAR ISI...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian hidrosefalus...

B. Etiologi hidrosefalus...

C. Manifestasi klinis...

D. Patofisiologis...

E. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan...

F. Pemeriksaan penunjang...

G. komplikasi...

BAB III PEMBAHASAN

A. Kasus...

B. Pengkajian...

C. Diagnosa Keperawatan...

D. Analisis data...

E. Diagnosa keperawatan...

F. Intervensi keperawatan...

G. Evaluasi...

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan...

B. Saran...

DAFTAR PUSTAKA...

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1. latar Belakang

Hidrosefalus merupakan gangguan yang terjadi akibat kelebihan cairan serebrospinal pada sistem saraf pusat. Kasus ini merupakan salah satu masalah yang sering ditemui di bidang bedah saraf, yaitu sekitar 40% hingga 50%. Penyebab hidrosefalus pada anak secara umum dapat dibagi menjadi dua, prenatal dan postnatal. Baik saat prenatal maupun postnatal, secara teoritis patofisiologi hidrosefalus terjadi karena tiga hal yaitu produksi liquor yang berlebihan, peningkatan resistensi liquor yang berlebihan, dan peningkatan tekanan sinus venosa.

Hidrosefalus pada anak dapat didiagnosis dan diterapi sejak dini. Diagnosis dapat ditegakkan dengan melihat adanya empat tanda hipertensi intrakranial. Pemeriksaan penunjang seperti USG dapat membantu penegakan diagnosis di masa prenatal maupun postnatal, sedangkan CT Scan dan MRI pada masa postnatal. Terapi pada kasus ini sebaiknya dilakukan secepat mungkin. Pada kebanyakan kasus, pasien memerlukan tindakan operasi shunting namun terdapat pula pilihan atau terapi alternatif non-shunting seperti terapi etiologik dan penetrasi membran. Prognosis ditentukan oleh berbagai macam faktor, di antaranya adalah kondisi yang menyertai, durasi dan tingkat keparahan, serta respon pasien terhadap terapi. Tingkat kematian pada pasien hidrosefalus dengan terapi shunting masih tinggi karena berbagai komplikasi yang terjadi, salah satunya adalah infeksi pasca operasi.5,6 Hidrosefalus bukanlah suatu penyakit tunggal melainkan hasil akhir dari proses patologis yang luas baik secara kongenital maupun akibat dari kondisi yang didapat. Gejala klinis, perubahan dan prognosis jangka panjang dari hidrosefalus akan bervariasi tergantung dari usia saat munculnya onset dan keadaan yang menyertai serta yang menjadi penyebabnya. Sangat penting untuk mempertimbangkan banyak hal yang mempengaruhi kondisi ini sehingga penatalaksanaan yang paling tepat dapat direncanakan dan dilaku

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Kata hidrosefalus diambil dari bahasa Yunani yaitu Hydro yang berarti air, dan cephalus yang berarti kepala.5 Secara umum hidrosefalus dapat didefiniskan sebagai suatu gangguan pembentukan, aliran, maupun penyerapan dari cairan serebrospinal sehingga terjadi kelebihan cairan serebrospinal pada susunan saraf pusat, kondisi ini juga dapat diartikan sebagai gangguan hidrodinamik cairan serebrospinal.

Etiologi

Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebro-spinal (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarakhnoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Allan H. Ropper, 2005). Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi. Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak (Allan H. Ropper, 2005:360) 1. Kelainan bawaan (kongenital)

1. Stenosis akuaduktus sylvii 2. Spina bifida dan kranium bifida 3. Sindrom Dandy-Walker

4. Kista araknoid dan anomali pembuluh darah 2. Infeksi

Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. Secara patologis terlihat penebalan jaringan piamater dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Penyebab lain infeksi adalah toxoplasmosis.

3. Neoplasma

Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir

(6)

biasanya suatu glikoma yang berasal dari serebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.

4. Perdarahan

Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.

Manifestasi Klinis

Tanda klinis hydrocephalus bervariasi dan tergantung pada banyak faktor, termasuk usia munculnya, sifat lesi yang menyebabkan obstruksi, dan lama serta kecepatan munculnya tekanan intrakranium. Iritabilitas, lesu, nafsu makan buruk, dan muntah adalah lazim pada bayi dan anak yang menderita hidrosefalus.

Pada bayi, angka percepatan pembesaran kepala merupakan tanda yang paling menonjol.

Fontanela anterior terbuka lebar dan menonjol, dan vena kulit kepala dilatasi. Dahi lebar dan mata dapat berdeviasi ke bawah karena pergeseran pelebaran ceruk suprapineal pada tektum menimbulkan tanda mata “sunset phenomenom” atau matahari terbenam.

Pada anak, sutura cranialis sebagian tertutup sehingga tanda hidrosefalus menjadi lebih tidak kentara. Nyeri kepala merupakan gejala yang menonjol. Perubahan secara bertahap dalam kepribadian dan kemunduran dalam produktivitas akademik menunjukkan adanya bentuk hidrosefalus progresif lambat. Perkusi tengkorak dapat menimbulkan tanda “cracked-pot sign”

atau tanda Macewen, yang menunjukkan adanya pelebaran sutura.

Patofisiologi

Pembentukan cairan serebrospinal terutama dibentuk di dalam sistem ventrikel. Kebanyakan cairan tersebut dibentuk oleh pleksus koroidalis di ventrikel lateral, yaitu kurang lebih sebanyak 80% dari total cairan serebrospinalis. Kecepatan pembentukan cairan serebrospinalis lebih kurang 0,35- 0,40 ml/menit atau 500 ml/hari, kecepatan pembentukan cairan tersebut sama pada orang dewasa maupun anak-anak. Dengan jalur aliran yang dimulai dari ventrikel lateral menuju ke foramen monro kemudian ke ventrikel 3, selanjutnya mengalir ke akuaduktus sylvii, lalu ke ventrikel 4 dan menuju ke foramen luska dan magendi, hingga akhirnya ke ruang subarakhnoid dan kanalis spinalis. Secara teoritis, terdapat tiga penyebab terjadinya hidrosefalus, yaitu:

1. Produksi likuor yang berlebihan. Kondisi ini merupakan penyebab paling jarang dari kasus hidrosefalus, hampir semua keadaan ini disebabkan oleh adanya tumor pleksus koroid (papiloma atau karsinoma), namun ada pula yang terjadi akibat dari hipervitaminosis vitamin A.

(7)

2. Gangguan aliran likuor yang merupakan awal kebanyakan kasus hidrosefalus. Kondisi ini merupakan akibat dari obstruksi atau tersumbatnya sirkulasi cairan serebrospinalis gayang dapat terjadi di ventrikel maupun vili arakhnoid. Secara umum terdapat tiga penyebab terjadinya keadaan patologis ini, yaitu: a. Malformasi yang menyebabkan penyempitan saluran likuor, misalnya stenosis akuaduktus sylvii dan malformasi Arnold Chiari. b. Lesi massa yang menyebabkan kompresi intrnsik maupun ekstrinsik saluran likuor, misalnya tumor intraventrikel, tumor para ventrikel, kista arakhnoid, dan hematom. c. Proses inflamasi dan gangguan lainnya seperti mukopolisakaridosis, termasuk reaksi ependimal, fibrosis leptomeningeal, dan obliterasi vili arakhnoid.

3. Gangguan penyerapan cairan serebrospinal

. Suatu kondisi seperti sindrom vena cava dan trombosis sinus dapat mempengaruhi penyerapan cairan serebrospinal. Kondisi jenis ini termasuk hidrosefalus tekanan normal atau pseudotumor serebri.

Dari penjelasan di atas maka hidrosefalus dapat diklasifikasikan dalam beberapa sebutan diagnosis. Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi ventrikel, sedangkan hidrosefalus eksterna menunjukkan adanya pelebaran rongga subarakhnoid di atas permukaan korteks.

Hidrosefalus komunikans adalah keadaan di mana ada hubungan antara sistem ventrikel dengan rongga subarakhnoid otak dan spinal, sedangkan hidrosefalus non- komunikans yaitu suatu keadaan dimana terdapat blok dalam sistem ventrikel atau salurannya ke rongga subarakhnoid.

Hidrosefalus obstruktif adalah jenis yang paling banyak ditemui dimana aliran likuor mengalami obstruksi. Terdapat pula beberapa klasifikasi lain yang dilihat berdasarkan waktu onsetnya, yaitu akut (beberapa hari), subakut (meninggi), dan kronis (berbulan-bulan). Terdapat dua pembagian hidrosefalus berdasarkan gejalanya yaitu hidrosefalus simtomatik dan hidrosefalus asimtomatik.

Pathway

Penatalaksanaan Medis dan keperawatan 1. Terapi sementara

Terapi konservatif medikamentosa berguna untuk mengurangi cairan dari pleksus khoroid (asetazolamid 100 mg/kg BB/hari; furosemid 0,1 mg/kg BB/hari) dan hanya bisa diberikan sementara saja atau tidak dalam jangka waktu yang lama karena berisiko menyebabkan gangguan metabolik. Terapi ini direkomendasikan bagi pasien hidrosefalus ringan bayi dan anak dan tidak dianjurkan untuk dilatasi ventrikular posthemoragik pada anak. Pada pasien yang berpotensi mengalami hidrosefalus transisi dapat dilakukan pemasangan kateter ventrikular atau

(8)

yang lebih dikenal dengan drainase likuor eksternal. Namun operasi shunt yang dilakukan pasca drainase ventrikel eksternal memiliki risiko tertinggi untuk terjadinya infeksi. Cara lain yang mirip dengan metode ini adalah dengan pungsi ventrikel yang dapat dilakukan berulang kali.

2. Operasi shunting

Sebagian besar pasien memerlukan tindakan ini untuk membuat saluran baru antara aliran likuor (ventrikel atau lumbar) dengan kavitas drainase (seperti peritoneum, atrium kanan, dan pleura).

Komplikasi operasi ini dibagi menjadi tiga yaitu infeksi, kegagalan mekanis, dan kegagalan fungsional. Tindakan ini menyebabkan infeksi sebanyak >11% pada anak setelahnya dalam waktu 24 bulan yang dapat merusak intelektual bahkan menyebabkan kematian.

3. Endoscopic third ventriculostomy

Metode Endoscopic third ventriculostomy (ETV) semakin sering digunakan di masa sekarang dan merupakan terapi pilihan bagi hidrosefalus obstruktif serta diindikasikan untuk kasus seperti stenosis akuaduktus, tumor ventrikel 3 posterior, infark serebral, malformasi Dandy Walker, syringomyelia dengan atau tanpa malformasi Arnold Chiari tipe 1, hematoma intraventrikel, myelomeningokel, ensefalokel, tumor fossa posterior dan kraniosinostosis. ETV juga diindikasikan pada kasus block shunt atau slit ventricle syndrome. Kesuksesan ETV menurun pada kondisi hidrosefalus pasca perdarahan dan pasca infeksi. Perencanaan operasi yang baik, pemeriksaan radiologis yang tepat, serta keterampilan dokter bedah dan perawatan pasca operasi yang baik dapat meningkatkan kesuksesan tindakan ini.

Selain dari gejala-gejala klinik, keluhan pasien maupun dari hasil pemeriksaan fisik dan psikis, untuk keperluan diagnostik hidrosefalus dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang yaitu:

 Rontgen foto kepala

Dengan prosedur ini dapat diketahui:

1. Hidrosefalus tipe kongenital/infantile, yaitu: ukuran kepala, adanya pelebaran sutura, tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial kronik berupa imopressio digitate dan erosi prosessus klionidalis posterior.

2. Hidrosefalus tipe juvenile/adult oleh karena sutura telah menutup maka dari foto rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan tekanan intrakranial.

 Transimulasi

Syarat untuk transimulasi adalah fontanela masih terbuka, pemeriksaan ini dilakukan dalam ruangan yang gelap setelah pemeriksa beradaptasi selama 3 menit. Alat yang dipakai lampu

(9)

senter yang dilengkapi dengan rubber adaptor. Pada hidrosefalus, lebar halo dari tepi sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm.

 Lingkaran kepala

Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dicurigai, jika penambahan lingkar kepala melampaui satu atau lebih garis-garis kisi pada chart (jarak antara dua garis kisi 1 cm) dalam kurun waktu 2- 4 minggu. Pada anak yang besar lingkaran kepala dapat normal hal ini

disebabkan oleh karena hidrosefalus terjadi setelah penutupan suturan secara fungsional. Tetapi jika hidrosefalus telah ada sebelum penutupan suturan kranialis maka penutupan sutura tidak akan terjadi secara menyeluruh.

 Ventrikulografi

Yaitu dengan memasukkan kontras berupa O2 murni atau kontras lainnya dengan alat tertentu menembus melalui fontanela anterior langsung masuk ke dalam ventrikel. Setelah kontras masuk langsung difoto, maka akan terlihat kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. Pada anak yang besar karena fontanela telah menutup untuk memasukkan kontras dibuatkan lubang dengan bor pada kranium bagian frontal atau oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat sulit, dan mempunyai risiko yang tinggi. Di rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT Scan, prosedur ini telah ditinggalkan.

 Ultrasonografi

Dilakukan melalui fontanela anterior yang masih terbuka. Dengan USG diharapkan dapat menunjukkan system ventrikel yang melebar. Pendapat lain mengatakan pemeriksaan USG pada penderita hidrosefalus ternyata tidak mempunyai nilai di dalam menentukan keadaan sistem ventrikel hal ini disebabkan oleh karena USG tidak dapat menggambarkan anatomi sistem ventrikel secara jelas, seperti halnya pada pemeriksaan CT Scan.

 CT Scan kepala

Pada hidrosefalus obstruktif CT Scan sering menunjukkan adanya pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas ventrikel lebih besar dari occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel IV sering ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS. Pada hidrosefalus komunikans gambaran CT Scan menunjukkan dilatasi ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di proksimal dari daerah sumbatan.

(10)

 MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Untuk mengetahui kondisi patologis otak dan medula spinalis dengan menggunakan teknik scaning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh.

Komplikasi 1. Infeksi

Infeksi dapat menyebabkan meningitis (peradangan pada selaput otak), peritonitis (peradangan pada selaput rongga perut), dan peradangan sepanjang

selang Penggunaan antibiotik dapat meminimalkan risiko terjadinya infeksi dan terkadang diperlukan tindakan pencabutan selang shunt.

2. Perdarahan subdural (lokasi yang berada di bawah lapisan pelindung otak duramater) Perdarahan subdural terjadi karena robekan pada pembuluh darah balik (vena). Risiko komplikasi ini dapat diturunkan dengan penggunaan shunt yang baik.

3. Obstruksi atau penyumbatan selang shunt

yang terjadi pada selang shunt mengakibatkan gejala yang terus menerus ada atau timbulnya kembali gejala yang sudah mereda. Sekitar sepertiga kasus hidrosefalus dengan pemasangan shunt memerlukan penggantian dalam waktu 1 tahun. Sebagian besar kasus (80%) memerlukan revisi dalam 10 tahun.

4. Keadaan tekanan rendah(low pressure)

Bila cairan yang dialirkan terlalu berlebihan, maka dapat menjadi keadaan dengan tekanan rendah. Gejaala yang timbul berupa sakit kepala dan muntah saat duduk atau berdiri. Gejala ini dapat membaik dengan asupan cairan yang tinggi dan perubahan posisi tubuh secara perlahan

Obstruksi VP shunt sering menunjukan kegawatan dengan manifestasi klinis peningkatan TIK yang lebih sering diikuti dengan status neurologis buruk. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi VP shunt. Infeksi umumnya akibat dari infeksi pada saat pemasangan VP shunt. Infeksi itu meliputi septik, Endokarditis bacterial, infeksi luka, Nefritis shunt, meningitis, dan ventrikulitis. Komplikasi VP shunt yang serius lainnya adalah subdural hematoma yang di sebabkan oleh reduksi yang cepat pada tekanan intrakranial dan ukurannya. Komplikasi yang dapat terjadi adalah peritonitis abses abdominal, perforasi organ-organ abdomen oleh kateter atau trokar (pada saat pemasangan), fistula hernia, dan ilius.

(11)

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

Klien L, usia 2 bulan, masuk melalui IGD dan dirawat di ruang bedah anak lantai III RS Grand Medistra sejak tanggal 20 februari 2020. Klien dibawa ke rumah sakit dengan alasan mengalami pembesaran kepala sejak lahir. Orangtua klien mengatakan, klien lahir di bidan secara normal.

Pada saat lahir memang kepala klien terlihat agak besar, namun bidan mengatakan klien normal.

Tidak ada kejang. Saat masuk RS, berat badan klien 6,7 kg. Panjang badan 58 cm. Lingkar kepala klien 49,8 cm. Klien telah dilakukan operasi pemasangan VP shunt. Pada saat pengkajian awal, kesadaran klien compos mentis dan keadaan umumnya sedang. Di kepalanya tampak balutan luka operasi. Selain itu di abdomen juga terdapat luka balutan. Tanda-tanda vital klien cukup stabil yaitu N: 110 x/menit, pernafasan 28 x/menit, dan suhu 36,8OC. Klien terlihat berbaring di tempat tidur. Klien terlihat sering menangis, terutama pada saat dilakukan prosedur invasif seperti pemasangan infus dan pengambilan sampel darah. Hasil dari pemeriksaan cairan otak secara makroskopi didapatkan hasil Tes Nonne (+) dan Tes Pandy (+), protein total 53 mg/d, glukosa 45 mg/dl, dan klorida 667 mg/dl. Sedangkan hasil pemeriksaan hematologi semuanya dalam batas normal.

PENGKAJIAN 1. Identitas Data 2. Nama : An.L

3. Tempat/tgl lahir : Galang, 20 desember 2019 4. Usia : 2 bln

5. Nama Ayah/Ibu : Ibu S

6. Alamat : Jln. Galang ,Desa pulau tagor, Kec serbajadi 7. Agama : Islam

8. Suku Bangsa : Jawa 1. Keluhan Utama

An. L (2 bulan), perempuan, dengan hidrosefalus. Klien masuk pada tanggal 20 februari 2020 dengan alasan mengalami pembesaran kepala sejak lahir. Klien direncanakan untuk operasi pemasangan VP shunt. Orangtua anak mengatakan anak lahir di bidan secara normal. Pada saat lahir kepala klien terlihat agak besar, namun bidan mengatakan anak normal. Saat masuk RS, lingkar kepala anak 49,8 cm.

(12)

 Riwayat Penyakit masa lalu

1. Penyakit waktu kecil : batuk pilek dan demam 2. Pernah dirawat di RS : belum pernah

3. Obat-obatan yang digunakan : tidak ada 4. Tindakan (operasi) : belum pernah 5. Alergi : tidak ada alergi 6. Kecelakaan : tidak pernah 7. Imunisasi : BCG dan polio Riwayat Sosial

1. Yang mengasuh : orang tua 1. Hubungan dengan anggota keluarga : baik 2. Hubungan dengan teman sebaya : baik

3. Pembawaan secara umum : sedikit rewel

4. Lingkungan rumah : pemukiman padat penduduk Kebutuhan Dasar

1. Makanan yang disukai/tidak disukai : ASI 2. Selera : baik

3. Alat makan yang dipakai : botol susu

4. Pola makan/jam : minum ASI 3 jam sekali 5. Pola tidur : tidur malam hari 9-10 jam

6. Kebiasaan sebelum tidur : benda yang dibawa saat tidur yaitu boneka, diberi dot 7. Tidur siang : 2 jam

8. Mandi : 2 X sehari, pagi dan sore

9. Aktifitas bermain : terbatas karena kepala membesar 10. Eliminasi : – BAB 1X sehari konsistensi lunak

 BAK 5-6 kali sehari kuning jernih Riwayat Kesehatan saat ini

1. Diagnosa medis : hidrosefalus

2. Tindakan operasi : Pemasangan VP shunt 3. Status nutrisi : BB 6,7 kg, PB 58 cm 4. 1000mlàStatus cairan : rumus 0-10 kg

(13)

5. Obat-obatan : ketorolac 2×7,5 mg , ceftriaxone 2×200 mg 6. Aktifitas : terbatas karena kepala membesar

7. Tindakan keperawatan : manajemen nyeri nonfarmakologis

8. Hasil laboratorium : hasil lab hematologi dalam batas normal, hasil pemeriksaan cairan otak secara makroskopi didapatkan hasil tes Nonne (+) dan tes Pandy (+)

9. Hasil CT scan : tampak dilatasi ventrikel

 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : baik, compos mentis 2. TB/BB : PB= 58cm, BB= 6,7 kg

3. Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, “sunset eyes”

4. Hidung : jalan nafas tidak ada sumbatan, tidak terdapat sekresi sputum 5. Mulut : mukosa lembab berwarna merah muda

6. Telinga : tidak ada sekresi dan tidak ada gangguan pendengaran 7. Tengkuk : tidak ada sakit tengkuk

8. Dada : simetris

9. Jantung : BJ 1 dan BJ2 (+),

10. Paru-paru : bunyi nafas vesikuler, ronchi (-)

11. Perut : datar, bising usus (+), tidak ada distensi dan tidak ada nyeri 12. Punggung : normal, lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-)

13. Genitalia : tidak ada kelainan 14. Ekstremitas : akral hangat CRT<3 15. Kulit : turgor baik

16. Tanda vital : HR 110 x/mnt , RR 28 x/mnt, S= 36,8 OC

 Pemeriksaan tingkat perkembangan 1. Kemandirian dan bergaul :

Anak bermain dengan ibunya di tempat tidur. Anak jarang digendong.

2. Kognitif (piaget) dan bahasa:

Anak belum bisa berbicara, hanya menangis.

3. Perkembangan Psikososial (erikson) Anak hanya bersosialisasi dengan orangtua.

4. Perkembangan Spiritual

(14)

Belum dapat dikaji

DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK (tekanan intrakranial).

 Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan luka post operasi

 Risiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi ANALISA DATA

Data Klien Masalah Keperawatan

Data Subjektif:

Ibu klien mengatakan, klien rewel dan menangis.

Data Objektif:

Anak tampak meringis dan sering menangis

 Pengkajian nyeri neonatus 6 dari 7

 Terpasang balutan luka op di kepala dan abdomen

Gangguan rasa nyaman; Nyeri

Data Subjektif:

Terpasang balutan luka op di kepala dan abdomen

 Data Objektif:

 Leukosit 10.000 uL

 Suhu 36,8 oC

Resiko infeksi

Data Subjektif:

Ibu klien mengatakan, kepala klien membesar sejak lahirData Objektif:

 Kepala tampak membesar, lingkar kepala 49,8 cm terlihat “sunset eyes

pada anak

 Hasil CT Scan tampak dilatasi ventrikel

Resiko gangguan perfusi serebral

(15)

 Hasil pemeriksaan makroskopi cairan otak: tes Nonne (+), tes Pandy (-).

Diagnosa Keperawatan

 Resiko gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK (tekanan intrakranial).

 Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan luka post operasi

 Risiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa: Risiko gangguan perfusi serebral berhubungan dengan peningkatan TIK (tekanan intrakranial)

Kriteria hasil:

1. Tidak terjadi peningkatan TIK (ditandai dengan nyeri kepala hebat, kejang, muntah, dan penurunan kesadaran)

2. Tanda-tanda vital dalam batas normal (nadi: 60-120x/menit , suhu: 36,5- 37,5 oC, RR: 20- 40x/menit)

3. Klien akan mempertahankan atau meningkatkan kesadaran Implementasi:

1. Mempertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital 2. Memantau status neurologis

3. Memantau frekuensi/irama jantung dan denyut jantung

4. Memantau pernapasan, catat pola, irama pernapasan dan frekuensi pernapsan.

5. Meninggikan kepala tempat tidur sekitar 30 derajat sesuai indikasi.

6. Menjaga kepala pasien tetap berada pada posisi netral.

7. Mengukur lingkar kepala setiap 1 minggu sekali, observasi fontanel dari cembung dan palpasi sutura kranial

8. Diagnosa: Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan luka post operasi

(16)

Kriteria hasil:

1. Skala nyeri berkurang menjadi 3

2. Klien tampak tenang dan ekspresi wajah tidak menyeringai 3. Klien mampu berpartisipasi dalam aktifitas dan istirahat Implementasi:

1. Mengkaji tingkat nyeri menurut skala pengkajian neonatus (0-7) 2. Memberikan posisi nyaman pada klien

3. Memberikan terapi non-nutritive sucking 4. Melibatkan orangtua dalam setiap tindakan

5. Melakukan kolaborasi pemberian ketorolac 2×7,5 mg

6. Diagnosa: Risiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi Kriteria hasil:

1. Suhu dan tanda-tanda vital dalam batas normal (nadi: 60-120x/menit , suhu: 36,5-37,5oC, RR: 20-40x/menit)

2. Luka insisi operasi bersih, tidak ada pus

3. Tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka post operasi (kemerahan, panas, dan bengkak) 4. Hasil lab: leukosit dalam batas normal (9.000-12.000/uL )

Implementasi:

1. Memonitor tanda-tanda vital.

2. Mengbservasi tanda infeksi: perubahan suhu, warna kulit, malas minum, irritability.

3. Mengubah posisi kepala setiap 3 jam untuk mencegah dekubitus

4. Mengobservasi tanda-tanda infeksi pada luka insisi yang terpasang shunt, melakukan perawatan luka pada shunt dan upayakan agar shunt tidak tertekan.

5. Melakukan kolaborasi pemberian ceftrixone 2×200 mg

(17)

Evaluasi

1. Diagnosa: Risiko gangguan perfusi serebral berhubungan dengan Peningkatan TIK (tekanan intrakranial)

Subjektif:

 Ibu mengatakan tidak ada demam dan muntah pada anak Objektif:

 Suhu: 36,5 oC

 Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK seperti kejang dan muntah

 Lingkar kepala 49 cm Analisa:

 Gangguan perfusi serebral tidak terjadi Planning:

 Pantau tanda-tanda vital

 Pantau adanya kejang

 Pertahankan posisi kepala 30˚

(18)

BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan

Hidrosefalus adalah salah satu kelainan kongenital, kebanyakan kasus hidrosefalus dialami oleh neonatus. Anak dengan hidrosefalus memerlukan perawatan khusus dan benar karena pada anak yang mengalami hidrosefalus mengalami kerusakan saraf yang menimbulkan kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran sampai pada gangguan pusat vital dan resiko terjadi dekubitus.

Berbagai masalah fisik maupun mental dapat dialami oleh anak dengan hidrosefalus. Masalah fisik yang muncul dapat berupa gangguan rasa nyaman yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan membesarnya kepala anak. Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan untuk mengatasi hidrosefalus pun beragam, salah satunya dengan pemasangan VP shunt. Masalah keperawatan yang dapat muncul pada anak post operasi pemasangan VP shunt adalah risiko infeksi. Risiko infeksi dapat dicegah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat seperti perawatan luka dengan prinsip steril.

Perawatan kepada anak terutama neonatus diberikan secara komprehensif di rumah sakit.

Tindakan keperawatan yang dilakukan kepada anak mencakup tindakan pemasangan infus, perawatan luka dan prosedur invasif lain. Bayi baru lahir cukup bulan yang dirawat di rumah sakit secara kontinu akan dilakukan pemberian terapi, oleh karena itu diperlukan pemasangan infus. Tindakan ini merupakan prosedur invasif yang menyakitkan bagi neonatus. Pemberian Non-nutritive sucking (NNS) dapat membantu untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh neonatus.

2. Saran

Tindakan alternatif selain operasi diterapkan khususnya bagi kasus-kasus yang yang mengalami sumbatan didalam sistem ventrikel. Dalam hal ini maka tindakan terapeutik semacan ini perlu.

Semoga makalah yang kami susun dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga dapat membantu proses pembelajaran, dan dapat mengefektifkan kemandirian dan kreatifitas mahasiswa. Selain itu, diperlukan lebih banyak referensi untuk menunjang proses pembelajaran.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35563-Kep%20Neurobehaviour-Askep

%20Hidrosefalus.html

Mc Closky & Bulechek. (2002). Nursing Intervention Classification (NIC). United States of America:Mosby.

Meidian, JM. (2002). “Nursing Outcomes Classification (NOC).United States of America:Mosby.

Mualim. 2010. Askep Hidrosefalus. Diakses pada tanggal 29 Agustus 2012http://mualimrezki.blogspot.com/2010/12/askep-hydrocephalus.html

Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan BAyi dan Anak (untuk perawat dan bidan). Jakarta:

Salemba Medika.

Price,Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi;Konsep klinis proses-proses penyakit,Jakarta;EGC

(20)

Referensi

Dokumen terkait

∗ Hepatitis adalah penyakit infeksi sistemik yang menimbulkan efek utama pada organ hati yang disebabkan oleh berbagai virus

Peneliti mendapatkan informasi apabila kemungkinan terjadinya komplikasi setelah operasi katarak bisa terjadi pada beberapa pasien dalam berbagai macam

Penelitian ini belum banyak dilakukan di Sumatera Utara, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kejadian infeksi pada pasien hidrosefalus setelah

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran kultur mikrobiologi pada pasien hidrosefalus dengan infeksi setelah tindakan CSF (Cerebrospinal Fluid) Shunts Di

“Gambaran Kultur Mikrobiologi pada Pasien Hidrosefalus Dengan Infeksi Setelah Tindakan Cerebrospinal Fluid Shunts Di RSUP. Tinta Printer 4 kotak

pasca operasi efektif dalam penurunan nyeri pada pasien pasca operasi dengan hasil bahwa pemberian guided imagery signifikan terhadap nyeri yaitu dari nyeri sedang

Pada diagnose ketiga resiko infeksi hasil evaluasi dengan luka operasi pasien tampak bersih dan tidak ada tanda tanda infeksi pada luka operasi, diagnosa resiko infeksi dinyatakan

Infeksi Sebuah komplikasi pasca bedah yang jarang terjadi terkait dengan pengangkatan molar ketiga yang impaksi adalah infeksi.Tingkat infeksi pasca operasi dilaporkan dalam literatur