MAKALAH FILSAFAT KOMUNIKASI
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Komunikasi Dosen Pengampu: Dr. Dadan Anugrah, M.Si.
Disusun oleh:
Rayhan Dwi Aprizal (1224050124)
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI JURNALISTIK FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2024
Kata Pengantar
Pertama-tama, kami mengucapkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas rahmat dan hidayah-Nya yang memungkinkan kami menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Kami juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Dadan Anugrah, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Komunikasi, yang telah memberikan bimbingan serta arahan dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan mungkin terdapat kesalahan yang belum kami sadari. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman dan dosen pengampu agar kami dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas karya kami di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya
.
Bandung, 1 Oktober 2024
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
2.1 Asal Mula Filsafat ... 3
2.2Pemikiran Richard L. Lanigan ... 5
BAB III………...8
PENUTUPAN...8
3.1 Kesimpulan...8
DAFTAR PUSTAKA...9
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan nilai- nilanya. Bidang filsafat sangat luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta, tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya.
Filsafat bisa menggunakan bahan-bahan deskriptif yang disajikan dalam bidang-bidang studi khusus dan melampaui deskripsi tersebut dengan menyelidiki atau menanyakan sifat dasarnya, nilai-nilainya dan kemungkinannya. Tujuannya adalah pemahaman (understanding) dan kebijaksanaan (wisdom). Filsafat komunikasi misalnya, adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (vestehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, kritis, dan holistik terhadap teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya,
tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya.
Filsafat merupakan pendekatan yang menyeluruh terhadap kehidupan dan dunia. Suatu bidang yang berhubungan erat dengan bidang-bidang pokok pengalaman manusia. Filsafat berusaha untuk menyatukan hasil-hasil ilmu dan pemahaman tentang moral, estetik, dan agama.
Para filsuf telah mencari suatu pandangan tentang hidup secara terpadu, menemukan maknanya serta mencoba memberikan suatu konsepsi yang berasalan tentang alam semesta dan tempat manusia di dalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana asal mula filsafat?
2. Apa saja kegunaan filsafat dapat mencakup kehidupan?
3. Mengapa filsafat dapat mempengaruhi kehidupan?
4. Bagaimana pandangan filsafat menurut Richard L. Lanigan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana asal mula filsafat
2. Mengetahui apa saja kegunaan filsafat dalam mencakup kehidupan 3. Mengetahui mengapa filsafat dapat mempengaruhi kehidupan
4. Mengetahui bagaimana pandang filsafat menurut Richard L. Lanigan
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Asal Mula Filsafat
Filsafat memiliki arti apa? Mengapa setiap manusia bertanya dan mau tau apa sebenarnya filsafat itu? Analoginya timbul sama seperti manusia memulai suatu kegiatan atau suatu proyek yang akan diselesaikan. Maka manusia itu harus paham dan yakin bahwa pekerjaan itu akan dapat diselesaikannya dengan benar. Sehingga manusia itu dapat bekerja jika manusia itu memahami pekerjaan itu dan persoalan apa yang harus diselesaikan dengan cara atau metode apa sebagai pisau bedahnya atau strateginya atau Teknik pengerjaannya. Filsafat dapat diartikan mulai dari kata
"pholosopia" yang berasal dari kata Yunani yang bearti cinta akan kebijaksanaan, "love of wisdom"
(Salam, Burhanuddin, 2009: 46).
Filsafat termasuk ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya, oleh karena itu titik tolak untuk memahami dan mengerti filsafat adalah meninjau dari segi etimologi. Tinjauan secara etimologi adalah membahas sesuatu istilah atau kata dari segi asal usul kata terkait kata Filsafat.
Filsafat diartikan dari beberapa persefektif: Filsafat dari Perspektif Etimologi, arti "filsafat" dari suatu Bahasa Indonesia memiliki suatu pandanan kata Falsafah (arab), Philosophy (Inggris), Philosophia (latin), Philosophie (Jerman, Belanda, Perancis), semua arti dari beberapa negara itu bersumber dari pada istilah Yunani Philosophia. Istilah Yunani dari Philein berarti "mencintai", sedangkan Philos berarti "teman", selanjutnya. Sedangkan istilah Sophos berarti bijaksana, sedangkan Sophia artinya "kebijaksanaan". Filsafat secara etimologi dapat dibagi dua arti yang berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mngacu kepada asal kata "philein' dan "sophos" maka artinya mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (bijaksana dimaksudkan sebagai kata sifat kedua apabila filsafat mengacu pada asal kata "PHILOS" dan "SOPHIA" maka artinya adalah teman kebijaksanaan (kebijaksanaan dimaksudkan sebagai kata benda).
Sejarah Pythagoras (572-497 SM) adalah orang yang pertama kali memakai kata Philosophia. Ketika beliau ditanya apakah ia sebagai orang yang bijaksana, maka Pithagoras dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai Philosopos, yakni pencinta kebijaksanaan (lover of wisdom).
Banyak sumber yang menegaskan bahwa "Sophia" mengandung arti yang lebih luas daripada kebijaksanaan. Artinya ada berbagai macam antara lain; (1) kerajinan; (2) kebenaran pertama; (3) pengetahuan yang luas; (4) kebajikan intelektual; (5) pertimbangan yang sehat;
(kecerdikan dalam memutuskan hal hal praktis. Dengan demikian asal mula kata filsafat itu sangat umum, yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellent).
A. Filsafat sebagai Suatu Sikap
Filsafat adalah suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta. Bila seseorang dalam keadaan krisis atau menghadapi problem yang sulit, maka kepadanya dapat diajukan pertanyaan bagaimana menanggapi keadaan semacam itu? untuk kemudian dijawab secara filosofis melalui kerangka berpikir kritis dan ketat sebagaimana telah digariskan dalam ilmu logika. Problem-
problem tersebut ditinjau secara luas, tenang, dan mendalam. Tanggapan semacam itu nantinya akan menumbuhkan sikap ketenangan, keseimbangan pribadi, mengendalikan diri, dan tidak emosional.
B. Filsafat sebagai Metode
Filsafat sebagai metode artinya adalah sebagai cara berpikir yang reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti. Filsafat berusaha untuk memikirkan seluruh pengalaman manusia secara mendalam dan jelas. Metode berpikir semacam ini bersifat inklusif (mencakup secara luas) dan synoptic (secara garis besar).
C. Filsafat sebagai Kelompok Persoalan
Banyak persoalan abadi yang dihadapi manusia dan para filsuf berusaha memikirkan dan menjawabnya. Beberapa pertanyaan yang diajukan pada masa lampau telah dijawab secara memuaskan. Misalnya pertanyaan tentang ide-ide bawaan yang telah dijawab oleh John Locke pada abad ke-17. Namun, masih banyak pertanyaan lain yang dijawab sementara. Di samping itu, juga masih banyak problem yang jawabannya masih diperdebatkan atau pun diseminarkan sampai hari ini, bahkan ada yang belum terpecahkan. Pertanyaan-pertanyaan dalam filsafat itu, misalnya, apa kebenaran itu? Apa perbedaan antara benar dan salah? Mengapa manusia ada di dunia? Apakah segala sesuatu yang ada di dunia ini terjadi secara kebetulan ataukah merupakan peristiwa yang sudah pasti? Apakah manusia mempunyai kehendak bebas untuk menentukan nasibnya sendiri ataukah sudah ditentukan oleh Tuhan? Pertanyaan- pertanyaan semacam itu tidak mudah untuk dijawab, sebab akan menimbulkan pertanyaan susulan secara terus-menerus. Setiap filsuf memiliki wewenang untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan itu dengan mengajukan argumentasi yang logis dan rasional.
D. Filsafat sebagai Teori atau Sistem Pemikiran
Sejarah filsafat ditandai dengan pemunculan teori- teori atau sistem-sistem pemikiran yang terlekat pada nama-nama filsuf besar, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Spinoza, Hegel, Karl Marx, dan Auguste Comte. Teori atau sistem pemikiran filsafat itu dimunculkan oleh masing-masing filsuf untuk menjawab masalah-masalah seperti yang telah dikemukakan di atas. Besarnya kadar subjektivitas seorang filsuf dalam menjawab masalah- masalah itu menjadikan kita sulit untuk menentukan teori atau sistem pemikiran yang baku dalam filsafat.
E. Filsafat sebagai Analisis Logis tentang Bahasa dan Penjelasan Makna Istilah
Kebanyakan filsuf memakai filsafat sebagai metode analisis untuk menjelaskan arti suatu istilah dan pemakaian bahasa. Beberapa filsuf mengatakan bahwa analisis tentang arti bahasa
merupakan tugas pokok filsafat dan tugas analisis konsep sebagai satu-satunya fungsi filsafat. Para filsuf analitika, seperti G.E. Moore, B. Russell, L. Wittgeinstein; G. Ryle, dan J. L. Austin berpendapat bahwa tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti sebuah istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berpendirian bahwa bahasa merupakan laboratorium para filsuf, yaitu tempat menyemai dan mengembangkan ide-ide.
Dalam kaitannya dengan ilmu, maka filsafat mempelajari arti-arti dan menentukan hubungan- hubungan di antara konsep-konsep dasar yang dipakai setiap ilmu. Misalnya, seperti substansi pesan dalam ilmu komunikasi. Dalam menghadapi konsep-konsep dasar tersebut, ada perbedaan tinjauan antara ahli ilmu-ilmu khusus dengan ahli filsafat.
F. Filsafat sebagai Usaha untuk Memperoleh Pandangan yang Menyeluruh
Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengalaman manusia menjadi suatu pandangan dunia yang konsisten. Para filsuf tidak ingin kehidupan beserta pernak-pernik-nya hanya dilihat dari sudut pandang yang tunggal sebagaimana dilakukan oleh sebagian ilmuwan. Para filsuf memakai pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai suatu totalitas. Menurut para ahli filsafat spekulatif (yang dibedakan dengan filsafat kritis), dengan tokohnya C. D. Broad, tujuan filsafat adalah mengambil alih hasil-hasil pengalaman manusia dalam bidang keagamaan, etika, dan ilmu pengetahuan, kemudian hasil-hasil tersebut direnungkan secara menyeluruh.
Dengan cara ini, diharapkan akan diperoleh beberapa kesimpulan umum tentang sifat-sifat dasar alam semesta, kedudukan manusia di dalamnya serta pandangan-pandangan ke depan. Usaha filsafati semacam ini adalah sebagai reaksi terhadap masa lampau di mana filsafat hanya terarah pada analisis bidang khusus. Usaha yang hanya mementingkan sebagian dari pengetahuan atau usaha yang hanya menitikberatkan pada sebagian kecil dari pengalaman manusia. Para filsuf seperti Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Hegel, Bergson, John Dewey, dan A.N. Whitehead adalah sederet nama filsuf yang berusaha untuk memperoleh pandangan tentang kehidupan ini secara komprehensif.
2.2 Pemikiran Richard L. Lanigan
Pemikiran Richard Lanigan, Menurut pemikiran Richard L Lanigam bahwa Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub bidang utama yaitu metafisika, epistemologi, aksiologi dan logika. Richard L. Lanigan secara khusus membahas analisis filosofis atas proses komunikasi. Filsafat dalam disiplin ilmu komuni- kasi biasanya meletakkan titik refleksinya pada pertanyaan-pertanyaan: Apa yang aku ketahui? (masalah ontologi atau metafisika); Bagaimana aku mengetahuinya? (masalah epistemologi); Apakah aku yakin? (masalah aksiologi); Apakah aku benar? (masalah logika)
1. Metafisika/Ontologi.
Richard L. Lanigan menyatakan bahwa metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas. Dalam metafisika, ada beberapa hal yang direfleksikan. Hal-hal itu adalah sifat manusia dan hubungannya dengan alam, sifat dan fakta kehidupan manusia, problema pilihan manusia, dan soal kebebasan pilihan tindakan manusia. Dalam hubungannya dengan teori komunikasi, metafisika berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
a. Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan in dividual dengan realita dalam alam semesta.
b. Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab, dan aturan.
c. Problema pilihan, khususnya kebebasan versus deter? minisme pada perilaku manusia.
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya "Filsafat Ilmu" (2005: 63) mengatakan bahwa, Filsafat Komunikasi merupakan suatu kajian tentang hakikat keberadaan zat, pikiran, dan kaitan zat dengan pikiran. Aristoteles, mengatakan objek metafisika ada dua, yakni ada 2 (dua) sebagai yang ada dan ada sebagai yang Ilahi. Pendapat Aristoteles tersebut dijelaskan oleh Prof. Dr.
Delfgauw dalam karyanya "Metafisika" sebagai berikut:
a. Ada sebagai yang Ada, Mengenai hal ini ilmu pengetahuan berupaya meng- kaji yang ada itu dalam bentuk semurni-murninya, bah- wa suatu benda itu sungguh-sungguh ada dalam arti ka ta tidak terkena perubahan. Ciri bahwa yang ada itu sungguh-sungguh ada, ialah dapat dicerapnya oleh pancain- dra. Oleh karena itu, metafisika disebut juga ontologi.
b. Ada sebagai yang Ilahi., Hal lain adalah keberadaan yang mutlak, yang sama sekali tidak bergantung pada yang lain. Ini berarti bahwa suatu yang ada adalah yang seumum- umumnya dan yang mutlak, yakni Tuhan. Apabila kita berbicara tentang yang Ilahi berarti kita bertolak dari sesuatu yang pada dasarnya tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, kar- ena Tuhan tidak dapat diketahui dengan menggunakan alat-alat inderawi.
2. Epistemologi
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan penge- tahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin, nature, methods, and limits of human knowledge).
Epistemologi lebih merupakan cabang filsafat yang merefleksikan asal usul, hakikat, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih mendasar lagi berkaitan dengan kriteria penilaian atas kebenaran. Dalam epistemologi, terdapat beberapa teori kebenaran berdasarkan koherensi, koresponsdensi, pragmatisme, dan legalisme.
Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang dan mapan, sistematik dan logis. Pada dasarnya metode ilmiah dilandasi:
a. Kerangka pemikiran yang logis.
b. Penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan kerangka pemikiran.
c. Verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.
Kerangka pemikiran yang logis mengandung argumentasi yang dalam menjabarkan penjelasannya mengenai suatu gejala bersifat rasional. Dalam pada itu, hipotesis sebagai deduksi dari suatu kerangka pemikiran merupakan dugaan sementara yang untuk membuktikannya diperlukan suatu pengujian, sedangkan verifikasi berarti penilaian secara objektif terhadap suatu pernyataan yang hipotesis. Lanigan mengatakan bahwa, prosesnya yang progresif dari kognisi menuju afeksi yang selanjutnya menuju konasi, epistemologi berpijak pada salah satu atau lebih teori kebenaran.
3. Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filasafat yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti etika, estetika, dan agama. Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologi diperoleh. Tinjauan terhadap ilmu komunikasi, Richard L. Lanigan mengatakan bahwa aksiologi merupakan studi tenang etika dan estetika.
Hal ini mengartikan bahwa aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya atau mengekspresikannya. Masalah ini sangat penting bagi komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan Bahasa sebagai lambang. Jadi perlu bagi komunikator mempertimbangkan nilai (value judgement) dari pesan yang akan disampaikan apakah etis atau tidak.
4. Logika
Logika adalah cabang filsafat yang menelaah asas dan dasar metode penalaran secara benar dalam hal ini cara berkomunikasi secara lebih baik dan benar. Logika penting dalam berkomunikasi karena pemikiran harus di komunikasikan dan yang dikomunikasikan merupakan putusan sebagai hasil dari proses berpikir. Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar (deals with study of the principles and methods of correct reasoning). Bahwa logika teramat penting dalam komunikasi, jelas karena suatu pemikiran harus dikomunikasikan kepada orang lain, dan yang dikomunikasikan itu harus merupakan putusan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis.
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Filsafat berasal dari kata Yunani "philosophia" yang berarti "cinta kebijaksanaan". Filsafat mencakup pemikiran mendalam tentang berbagai aspek kehidupan dan realitas. Pythagoras dianggap sebagai orang yang pertama kali menggunakan istilah ini. Dalam penerapannya, filsafat tidak hanya menjadi sebuah cara berpikir, tetapi juga menjadi sikap hidup yang memandu seseorang dalam menghadapi krisis dan problem kehidupan secara tenang dan rasional. Metode filsafat melibatkan cara berpikir reflektif dan inklusif, mencakup semua pengalaman manusia secara menyeluruh.
Dalam konteks komunikasi, filsafat komunikasi berperan penting untuk menganalisis teori dan proses komunikasi secara kritis dan holistik. Richard L. Lanigan membagi filsafat komunikasi ke dalam empat bidang utama, yaitu metafisika (ontologi), epistemologi, aksiologi, dan logika.
Masing-masing bidang tersebut mengeksplorasi aspek dasar dari realitas, pengetahuan, nilai, dan cara berpikir.
Richard menyatakan bahwa metafisika atau ontologi mempelajari sifat dasar manusia dan hubungannya dengan alam semesta. Epistemologi mengkaji cara pengetahuan diperoleh dan divalidasi, termasuk teori-teori tentang kebenaran. Aksiologi memfokuskan diri pada nilai-nilai dalam komunikasi, termasuk etika dan estetika pesan yang disampaikan. Sedangkan logika menekankan pentingnya penalaran yang benar dan tepat dalam proses berpikir dan berkomunikasi.
Secara keseluruhan, dapat menyimpulkan bahwa filsafat melalui disiplin yang ketat, menyediakan kerangka berpikir yang kritis dan metodologis untuk memahami komunikasi dan bagaimana manusia berinteraksi dengan dunia serta nilai-nilai yang mereka anut.
Daftar Pustaka
Mufid, Muhammad. 2009. Etika Filsafat Komunikasi. Jakarta: Kencana
Zamroni, M. (2022). Filsafat Komunikasi: Pengantar Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis.
IRCiSoD.
S.Sos., M.M., M.I.kom, D., & S.Sos, M.Si,, D. (2023). Filsafat Komunikasi. Medan: UMSU PRESS.