MAKALAH HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA
GUGATAN DAN PERMOHONAN, TATA CARA MELAKUKAN PERMOHONAN DAN GUGATAN, SERTA PENYELESAIAN SENGKETA
SECARA LITIGASI DAN NON LITIGASI DI PERADILAN AGAMA
DOSEN PENGAMPU:
RAHMI MURNIWATI, S.H., M.H.
KELOMPOK 5 ANGGOTA KELOMPOK:
RUMONDANG MAHARANI (2210112206) MUHAMMAD NABEEL (2210112209) FADHILA RAHMADIANI FASYA (2210112231)
HAFIDZ SMARTILLAH (2210113010)
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ANDALAS TAHUN AJARAN 2023/2024
KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga umat manusia dapat hidup dalam cahaya dan ilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini. Shalawat serta salam juga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia menuju jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rahmi Murniwati, S.H., M.H. selaku dosen pengampu mata kuliah Hukum Acara Peradilan Agama yang telah memberikan ilmu pengetahuan sehingga kami dapat menulis dan menyelesaikan makalah berjudul “Gugatan dan Permohonan, Tata Cara Melakukan Permohonan dan Gugatan, serta Penyelesaian Sengketa Secara Litigasi dan Non litigasi di Peradilan Agama” ini tanpa adanya hambatan yang berarti.
Demikian dibuat makalah ini, kami menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan karena keterbatasan pengetahuan ataupun kemampuan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Padang, 19 Maret 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
ii
DAFTAR ISI...
iii
BAB I PENDAHULUAN...
1
A. Latar Belakang...
1
B. Rumusan Masalah...
2
C. Tujuan...
2
BAB II PEMBAHASAN...
3
A. Gugatan dan Permohonan di Peradilan Agama...
3
B. Tata Cara Melakukan Permohonan dan Gugatan di Peradilan Agama...
?
C. Penyelesaian Sengketa di Peradilan Agama...
?
BAB III PENUTUP...
?
A. Kesimpulan...
?
DAFTAR KEPUSTAKAAN...
?
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peradilan agama merupakan salah satu lembaga peradilan yang memiliki peran penting dalam penyelesaian sengketa yang berkaitan dengan masalah agama, keluarga, dan perkawinan. Dalam konteks hukum Indonesia, sistem peradilan agama diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Peradilan agama bertujuan untuk memberikan keadilan serta menegakkan hukum yang berlandaskan ajaran agama Islam bagi masyarakat muslim, serta ajaran agama lainnya bagi masyarakat non- muslim. Dalam konteks ini, pemohon atau pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan atau gugatan terkait dengan berbagai masalah hukum di peradilan agama, seperti perceraian, hak asuh anak, harta bersama, dan lain sebagainya.
Tata cara mengajukan gugatan atau permohonan di peradilan agama mengikuti prosedur yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Prosedur ini meliputi langkah-langkah yang harus diikuti oleh para pihak yang ingin mengajukan permohonan atau gugatan, termasuk persyaratan administratif, waktu pengajuan, pembayaran biaya perkara, serta penyerahan bukti-bukti yang mendukung tuntutan atau permohonan yang diajukan. Selain itu, dalam beberapa kasus, para pihak diwajibkan untuk mengikuti mediasi atau proses penyelesaian sengketa lainnya sebelum memasuki tahap litigasi di pengadilan.
Penyelesaian sengketa di peradilan agama dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu litigasi dan non-litigasi. Litigasi mengacu pada proses penyelesaian sengketa melalui jalur peradilan, di mana para pihak membawa perselisihan mereka ke pengadilan untuk diputuskan oleh hakim. Sedangkan non-litigasi melibatkan upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan, seperti mediasi,
negosiasi, atau arbitrase, yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan antara para pihak tanpa melibatkan proses peradilan. Keduanya merupakan sarana yang penting dalam menyelesaikan sengketa secara efektif dan efisien, dengan mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan masing-masing pihak yang terlibat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan yang akan dikaji dalam makalah ini antara lain:
1. Apa perbedaan dari perkara voluntair dan perkara contentiosa?
2. Bagaimana tata cara melakukan permohonan dan gugatan di peradilan agama Indonesia?
3. Apa saja bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang terdapat dalam peradilan agama Indonesia?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka pemahaman yang akan dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa perbedaan antara perkara voluntair dengan perkara contentiosa.
2. Untuk mengetahui bagaimana tata cara melakukan permohonan dan gugatan di peradilan agama Indonesia.
3. Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang ada dalam peradilan agama Indonesia.
BAB II PEMBAHASAN
A. Perkara Contentiosa dan Perkara Voluntair
Gugatan adalah surat yang diajukan oleh penggugat padaketua pengadilan yang berwenang yang memuat tuntutanhak yang di dalamnya mengandung suatu sengketa danmelupakan dasar landasan pemeriksaan perkara dan suatu pembuktian kebenaran suatu hak. Sedangkan permohonan adalah suatu surat permohonan yang di dalamnya berisis tuntutan hak perdata oleh satu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa.
Adapun perbedaan dari gugatan dan permohonan yaitu, jika gugatan ada suatu perkara antara penggugat dan tergugat maka permohonan hanya satu pihak yang berkepentingan dan tanpa sebuah perkara atau sengketa, dalam gugatan hakim berfungsi sebagai hakin yang mengadili dan memutuskan serta berproduk vonis (putusan), sedangkan dalam permohonan hakim hanya menjalankan fungsi eksekutif power (administratif) dan berproduk beschikking (penetapan), untuk penetapan pada putusan gugatan mengikat kedua belah pihak (berkekuatan eksekutorial), sedang penetapan pada permohonanhanya mengikat pemohon saja.
a. Perkara Contentiosa (Gugatan)
Gugatan contentiosa yaitu peradilan memeriksa perkara tentang persengketaan antara pihak berperkara yang diajukan lewat surat gugatan.
Gugatan Contentiosa dibagi lagi menjadi 2 jenis. Pertama gugatan lisan, hanya berlaku kepada penggugat yang tidak bisa baca tulis saja. Sehingga gugatan disampaikan secara lisan kepada ketua Pengadilan Negeri dan harus disampaikan sendiri oleh penggugat tanpa perwakilan siapapun.
b. Perkara Voluntair (Permohonan)
Gugatan voluntair biasanya juga dikenal sebagai permohonan. Gugatan voluntair hanya terdiri dari 1 pihak saja, yaitu pemohon yang berperkara. Jadi
tidak ada pihak tergugat, sehingga masalah yang diajukan sifatnya lebih ke kepentingan sepihak. Permohonan pengajuannya merupakan perkara tanpa sengketa pihak lain atau lawan, sehingga menjadikan permohonan ini murni 1 pihak saja. Nantinya, pengadilan perkara akan mengeluarkan putusan penetapan mengenai apa saja yang dimohonkan oleh pemohon. Oleh sebab itu, putusannya bisa berupa dikabulkan atau tidak dikabulkan.
Contoh kasus dalam perkara ini adalah tentang permohonan mengganti identitas, hak atas tanah, perkara pengadilan agama, isbat nikah, pengangkatan wali, pengangkatan anak, perkara pengadilan negeri, dan penetapan ahli waris yang tidak mampu.
Surat gugatan dan permohonan harus memuat:
a. Identitas para pihak (nama lengkap, gelar, alias, julukan, bin atau binti, umur, agama, pekerjaan, tempat tinggal, dan statusnya sebagai penggugat atau tergugat);
b. Posita atau position (fakta-fakta atau hubungan hukum yang terjadi antara dua belah pihak); dan
c. Petita atau petitum (isi tuntutan).
Kelengkapan dari surat gugatan atau surat permohonan diantaranya:
a. Surat permohonan atau gugatan tertulis, kecuali bagi yang buta huruf yang mana menyampaikan ke pada kuasanya atau pada pengadilan agama ke ketua hakim seperti pada kasus gugatan cerai. Surat gugatan atu surat permohonan yang di buat sendiri atau lewat kuasanya di tunjukan ke pengadilan yang berwenang;
b. Foto copy identitas seperti KTP;
c. Panjar (vorschot) biaya perkara dan bagi yang miskin dapat mengajukan dispensasi biaya dengan membawa surat keterangan miskin dari kelurahan atau kecamatan;
d. Surat keterangan kematian untuk perkara waris;
e. Surat izin dari komandan bagi TNI atau POLRI, surat izin atasan bagi PNS (untuk perkara poligami);
f. Surat persetujuan tertulis dari istri atau istri-istrinya (untuk perkara poligami);
g. Surat keterangan penghasilan (untuk perkara poligami);
h. Salinan atau fotocopy akta nikah (untuk perkara gugat cerai, permohonan cerai, gugatan nafkah,istri, dan lainlain);
i. Salinan atau fotocopy akta cerai (untuk perkara nafkah iddah, gugatan tentang mut’ah);
j. Surat keterangan untuk bercerai dari kelurahan.
B. Tata Cara Melakukan Permohonan dan Gugatan di Peradilan Agama 1. Tahap Persiapan
Sebelum mengajukan permohonan atau gugatan ke pengadilan perlu diperhatika hal-hal sebagai berikut:
a. Pihak yang berperkara : Setiap orang yang mempunyai kepentingan dapat menjadi pihak dalam berpekara di pengadilan.
b. Kuasa : Pihak yang berpekara di pengadilan dapat menghadapi dan menghadiri pemeriksaan persidangan sendiri atau mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri persidangan di pengadilan.
c. Kewenangan Pengadilan : Kewenangan relative dan kewenangan absolut harus diperhatikan sebelum me,buat permomohan atau gugatan yang di ajukan ke pengadilan
2. Tahap pembuatan permohonan atau Gugatan
Permohonan atau gugatan pada prinsipnya secara tertulis (pasal 18 HIR) namun para pihak tidak bisa baca tulis (buta huruf) permohonan atau gugatan dapat dilimpahkan kepada hakim untuk disusun permohonan gugatan kemudian dibacakan dan diterangkan maksud dan isinya kepada pihak kemudian ditandatangani oleh ketua pengadilan agama hakim yang ditunjuk berdasarkan pasal 120 HIR.
3. Tahap pendaftaran pemohon atau gugatan
Setelah permohonan atau gugatan dibuat kemudian didaftarkan di kepaniteraan pengadilan agama yang berwenang memeriksa dengan membayar biaya panjar perkara. Dengan membayar biaya panjar perkara maka penggugat atau pemohon mendapatkan nomor perkara dan tinggal menunggu panggilan sidang.
Perkara yang telah terdaftar di pengadilan agama oleh panitera diampaikan kepada ketua pengadilan agama untuk dapat menunjuk majelis hakim yang memeriksa, memutus, dan mengadili perkara dengan suatu penetapan ya g disebut penetapan majelis hokum (PMH) yang terdiri satu orang hakim sebagai ketua majelis dan dua orang hakim sebagai hakim anggota serta panitera siding. Apabila belum ditetapkan panitera yang ditunjuk, majelis hakim dapat menunjuk panitera sidang sendiri.
4. Tahap Pemeriksaan Permohonan atau Gugatan
Pada hari sidang telah ditentukan apabila satu pihak atai kedua belah pihak tidak hadir maka persidangan ditunda dan menetapkan hari sidang berikutnya kepada yang hadir diperintahkan menghadiri sidang berikutnya tanpa dipanggil dan yang tidak hadir dilakukan pemanggilan sekali lagi. Dalam praktek pemanggilan pihak yang tidak hadir dilakukan maksimal tiga kali apabila :
a. Penggugat tidak hadir maka gugatan gugur. Tergugat tidak hadir maka pemeriksaan dilanjutkan dengan putusan verstek atau putusan tanpa hadirnya pihak tergugat.
b. Apabila terdapat beberapa tergugat yang hadir ada yang tidak hadir, pemeriksaan tetap dilakukan dan kepada yang tidak hadir dianggap tidak menggunakan haknya untuk membela diri.
c. Penggugat dan tergugat hadir, maka Pemeriksaan dilanjutkan sesuai dengan hukum yang berlaku.
C. Penyelesaian Sengketa Secara Litigasi dan Nonlitigasi 1. Litigasi
Litigasi merupakan proses penyelesaian sengketa di pengadilan, di mana semua pihak yang bersengketa saling berhadapan satu sama lain untuk mempertahankan hak-haknya di muka pengadilan. Hasil akhir dari suatu penyelesaian sengketa melalui litigasi adalah putusan yang menyatakan win-lose solution.
Prosedur dalam jalur litigasi ini sifatnya lebih formal (very formalistic) dan sangat teknis (very technical). Seperti yang dikatakan J.
David Reitzel “there is a long wait for litigants to get trial”, jangankan untuk mendapat putusan yang berkekuatan hukum tetap, untuk menyelesaikan pada satu instansi peradilan saja, harus antri menunggu
Prosedur penyelesaian perkara yang dilaksanakan di pengadilan (litigasi), lazimnya dikenal juga dengan proses persidangan perkara pidana sebagaimana ditentukan berdasarkan hukum acara pidana (KUHAP). Penegakan hukum melalui litigasi, berarti sesuai dengan sistem peradilan pidana yang berlaku dan ketentuan pasal yang mengatur di Indonesia.
2. Non Litigasi
Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan (Non litigasi). Dalam penyelesaian sengketa melalui non litigasi, kita telah mengenal adanya penyelesaian sengketa alternatif atau Alternative Dispute Resolutin (ADR), yang dijelaskan dalam Pasal 1 angka (10) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan ADR, yang berbunyi sebagai berikut: “Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian
sengketa di luar pengadilan dengan cara konsultasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.”
ADR pada umumnya digunakan di lingkungan kasus-kasus perdata, tidak untuk kasus-kasus pidana. Dalam hukum positif Indonesia, perkara pidana pada dasarnya tidak dapat diselesaikan diluar pengadilan. Akan tetapi praktik penegakan hukum di Indonesia sering juga perkara pidana diselesaikan diluar pengadilan melalui mediasi, lembaga perdamaian dan sebagainya.
Walaupun pada umumnya penyelesaian sengketa di luar pengadilan hanya ada dalam sengketa perdata, namun dalam praktek sering juga kasus pidana diselesaikan di luar pengadilan melalui berbagai diskresi aparat penegak hukum atau melalui mekanisme musyawarah/perdamaian atau lembaga permaafan yang ada di dalam masyarakat (musyawarah keluarga, musyawarah desa, musyawarah adat dan sebagainya.). Dalam diskresi aparat penegak hukum ditingkat penyidikan diperkuat dengan terbitnya Surat Kepolisian Kapolri Nomor Pol : B/3022/XII/2009/SDEOPS, Tentang Penanganan Kasus Melalui Alternatif Dispute Resolusion (ADR) , yang mana berbunyi:
a. Kerugian kecil harus disepakati pihak yang berperkara, bila tidak terdapat kesepakatan baru diselesaikan sesuai dengan prosedur hukum.
b. Berprinsip musyawarah mufakat diketahui masyarakat dengan diikut sertakan RT/RW setempat.
c. Hormati norma hukum, norma sosial/adat serta penuhi azas keadilan.
d. Tidak disentuh lagi oleh tindakan hukum lain yang kontraproduktif dengan tujuan Polisi Masyarakat
Penyelesaian sengketa melalui non-litigasi jauh lebih efektif dan efisien sebabnya pada masa belakangan ini, berkembangnya berbagai cara
penyelesaian sengketa (settlement method) di luar pengadilan, yang dikenal dengan ADR dalam berbagai bentuk, seperti : arbitrase, negosiasi, mediasi, konsiliasi dan penilaian ahli.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dalam konteks peradilan agama Indonesia, perkara voluntair dan contentiosa merujuk pada dua jenis perkara yang berbeda dalam proses hukum. Perkara Voluntair adalah perkara yang dibawa oleh pihak yang tidak terlibat dalam konflik atau sengketa, namun memilih untuk mengajukan perkara tersebut. Dalam peradilan agama, perkara voluntair biasanya dibawa oleh individu atau kelompok yang ingin menyelesaikan masalah hukum tertentu yang tidak secara langsung terkait dengan konflik atau sengketa yang ada.
Sementara itu, perkara contentiosa adalah perkara yang dibawa oleh pihak yang terlibat dalam konflik atau sengketa. Dalam peradilan agama Indonesia, perkara contentiosa biasanya dibawa oleh dua atau lebih pihak yang memiliki klaim atau kepentingan yang saling bertentangan terkait dengan suatu masalah hukum, seperti masalah hak-hak agama, keagamaan, atau masalah lain yang berkaitan dengan agama. Perkara ini biasanya dibawa oleh pihak yang saling bertentangan dan memiliki klaim atau kepentingan yang saling bertentangan terkait dengan suatu masalah hukum.
2. Tata cara melakukan permohonan dan gugatan di peradilan agama Indonesia melibatkan beberapa langkah penting yang harus diikuti oleh penggugat atau pemohon. Yakni Pertama penyusunan surat permohonan atau gugatan yang mencakup informasi penting seperti identitas penggugat dan pemohon, identitas pihak yang terlibat, dan detail perkara yang dibawa. Kedua pengajuan surat permohonan atau gugatan, dimana setelah surat permohonan atau gugatan disusun, penggugat atau pemohon harus mengajukannya ke kepaniteraan agama yang bertanggung jawab atas
wilayah tempat terjadinya perkara. Ketiga pemeriksaan dan penilaian surat, setelah surat permohonan atau gugatan diajukan, kepaniteraan agama akan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap surat tersebut.
Proses ini melibatkan pengecekan terhadap kebenaran dan kelengkapan informasi yang disertakan dalam surat.
3. Penyelesaian sengketa dalam peradilan agama Indonesia dapat dilakukan melalui dua jalur: litigasi dan non litigasi. Litigasi melibatkan proses hukum formal di peradilan agama, termasuk pengajuan perkara, sidang, dan pengambilan keputusan. Non litigasi adalah alternatif informal, seperti mediasi atau negosiasi, yang memungkinkan penyelesaian sengketa tanpa proses hukum formal. Jalur non litigasi biasanya lebih cepat dan murah, tetapi solusinya mungkin tidak memiliki kekuatan hukum yang sama.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
A. Buku
Mertokusumo, Sudikno. (1999). Mengenal Hukum. Liberty.
Wahyudi, Abdullah Tri. (2018). Hukum Acara Peradilan Agama Dilengkapi Contoh Surat-Surat dalam Praktik Hukum Acara di Peradilan Agama. Mandar Majum.
B. Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama
C. Internet
L, Sudirman. (2021). Hukum Acara Peradilan Agama. IAIN Parepare Nusantara Press. https://jdih.situbondokab.go.id