MAKALAH
KETERAMPILAN DASAR KEPERAWATAN
DOSEN PENGAMPU: ISTIANAH, S.Kep.,Ners.,M.Kep
Disusun Oleh:
Ahmad Haekal Maulana (IKYM0124086)
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT INSTITUT KESEHATAN YARSI MATARAM PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
2024/2025
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
"Keterampilan Dasar Keperawatan" ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mata pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, kami mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan serta kepada rekan-rekan mahasiswa yang turut memberikan masukan berharga.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pembaca, kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang.
Mataram, 22 Maret 2025
Penyusun, Ahmad Haekal Maulana
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 1
1.3 Tujuan ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Pengkajian (Anamnesa dan Pengumpulan Data) ... 3
2.2 Pemeriksaan Fisik ... 9
2.3 Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital ... 30
2.4 Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang ... 41
2.5 Pengendalian Infeksi dan Patient Safety ... 59
BAB III PENUTUP ... 77
3.1 Kesimpulan ... 77
3.2 Saran ... 77 DAFTAR PUSTAKA
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perawat tidak hanya dituntut memiliki keterampilan dasar keperawatan yang diajarkan selama Pendidikan Keperawatan, tetapi juga perlu terus mengembangkan keterampilan tingkat lanjut selama bekerja di lapangan.
Meskipun Pendidikan Keperawatan memberikan dasar-dasar seperti memulai infus, memasang kateter Foley, dan mengenakan sarung tangan steril, seiring berjalannya waktu, perawat harus memperdalam pemahaman mereka dalam bidang keperawatan yang lebih kompleks.
Pendidikan keperawatan tidak hanya selesai di bangku kuliah, tetapi melibatkan pembelajaran berkelanjutan di rumah sakit atau lingkungan kerja keperawatan lainnya.
Keterampilan keperawatan bukan hanya sekadar tugas rutin, melainkan fondasi utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Dalam setiap halaman, mahasiswa akan menemukan penjelasan yang komprehensif dan panduan praktis untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu pengkajian dan Anamnesa?
2. Apa itu itu pemeriksaan fisik?
3. apa itu pemeriksaan tanda-tanda vital?
4. apa itu pemeriksaan diagnostic/penunjang?
5. apa itu pengendalian infeksi dan patient safety?
2 1.3 Tujuan
1.mampu menjelaskan tentang pengkajian dan anamnesa 2. mampu memahami tahapan dalam pemeriksaan fisik 3. mampu mamahami bagian tanda-tanda vital
4. memahami pemeriksaan diagnostic/penunjang
5. mampu menganalisis pengendalian infeksi dan patient safety
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengkajian (Anamnesa dan Pengumpulan Data)
a. Definisi dan Tujuan Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan salah satu komponen dari proses keperawatan yang merupakan suatu cara yang dilakukan oleh perawat, dalam pengkajian permasalahan klien. Pada tahap pengkajian keperawatan dilakukan pengumpulan data tentang status kesehatan klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan. Pengkajian keperawatan harus dirancang sesuai dengan kebutuhan klien, dan apabila pada kondisi klinis perawat dihadapkan pada klien yang menderita penyakit akut maka perawat perlu membekali diri tentang kondisi, gejala yang berhubungan dan perawat boleh memilih untuk hanya mengkaji sistem tubuh yang terlibat (Muttaqin, 2014).
Pengkajian keperawatan merupakan tahap pertama dalam proses keperawatan di mana data data pasien dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan pemeriksaan lalu divalidasi kebenarannya, dikelompokkan diidentifikasi tingkat prioritasnnya dan analisis. Pada hal ini perawat hanya bisa mengumpulkan data yang bersifat desriptif, singkat, dan lengkap.
Pengkajian tidak mencakup kesimpulan atau pernyataan interpratif yang tidak didukung oleh data.
Data yang di kumpulkan mencangkup data biologis, psikologi, sosial, kultural, dan spiritual yang ke semuanya saling berkaitan dan mempengaruhi status kesehatan pasien. Dalam proses penyusunan laporan penelitian, koleksi data merupakan tahapan dalam proses penelitian yang penting, karena hanya dengan mendapatkan data yang tepat maka proses penelitian akan berlangsung sampai peneliti mendapatkan jawaban dari perumusan masalah yang sudah ditetapkan. Data yang kita cari harus sesuai dengan tujuan
4
penelitian. Pengumpulan data yang tidak akurat akan mengarah pada identifikasi kebutuhan perawatan klien yang tidak tepat dan akibatnya diagnosa keperawatan yang dibuat tidak akurat, dan tidak lengkap. Data ini perlu disusun dan disimpan dengan mengguanakan metode tertentu, sehingga jika sewaktu-waktu diperlukan dapat dicari kembali dengan mudah dan cepat.
b. Macam – Macam Data
1. Data Primer Sumber data primer adalah data-data yang dikumpulkan dari klien,yang dapat memberikan informasi yang lengap tentang masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapinya.
2. Data Sekunder Sumber data sekunder adalah data-data yang diumpulkan dari orang terdekat klien (keluarga), seperti orang tua, saudara, atau pihak lain yang mengerti dan dekat dengan klien.
3. Data Lainnya Catatan klien (perawatan atau rekam medis klien) yang merupakan riwayat penyakit dan perawatan klien di masa lalu.
c. Klasifikasi Data 1. Data Subjektif
Data Subjektif menunjukan persepsi dan sensasi klien tentang masalah kesehatan. Klien mengungkapkan persepsi dan perasaan subjektif seperti jati diri atau nyeri. Data subjektif adalah informasi yang diucapkan klien kepada perawat selama wawancara pengkajian keperawatan, yaitu komentar yang di dengar oleh perawat. Data subjektif atau gejala adalah fenomena yang dialami oleh klien dan mungkin suatu permulaan kebiasaan dari sensasi normal klien.
Contoh Data Subjektif
"saya sedang sakit kepala"
"saya merasa sesak nafas"
"perut saya terasa panas"
5
"seluruh badan saya sakit semua"
"kaki saya terasa lemah"
2.Data Objektif Data Objektif merupakan data yang diperoleh melalui indra perawat. Data objektif adalah informasi dimana perawat dapat:
a. Melihat (Inspeksi) b. Merasakan (Palpasi) c. Mendengar (auskultasi) d. Mengetuk (perkusi) Contoh data objektif:
Inspeksi: Hidung mengembang Wajah meringis Pernapasan 30, dangkal Hemoglobin (Hb) 7,8g/dl Kalium serum (K+) 2,5 eEq/L Palpasi: Kandung kemih teraba, nyeri tekan di abdomen kuadran kanan bawah.
Auskultasi: Bunyi di lobus kanan bawah paru.
Perkusi: Pekak di lobus kanan bawah paru. Pekak di abdomen kuadran kanan bawah.
d. Sumber Data
• Sumber Data Primer, sumbernya adalah klien itu sendiri. Jika klien tidak sadar atau masih bayi perawat dapat menggunakan data objektif untuk menegakan Diagnosis Keperawatan.
• Data Sekunder Sumber data sekunder adalah data-data yang diumpulkan dari orang terdekat klien (keluarga), seperti orang tua, saudara, atau pihak lain yang mengerti dan dekat dengan klien.
• Data Lainnya Catatan klien (perawatan atau rekam medis klien) yang merupakan riwayat penyakit dan perawatan klien di masa lalu.
6 e. Teknik Pengambilan Data
1. Observasi, Adalah teknik pengumpulan data dimana data dikumpulkan melalui Observasi visual Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi adalah :
a. Tidak selalu pemeriksaan yang akan kita lakukan dijelaskan secara terinci kepada klien (meskipun komunikasi terapeutik tetap harus dilakukan), karena terkadang hal ini dapat meningkatkan kecemasan klien atau mengaburkan data (data yang diperoleh menjadi tidak murni). Misalnya : “Pak, saya akan menghitung nafas bapak dalam satu menit” kemungkinan besar data yang diperoleh menjadi tidak valid, karena kemungkinan klien akan berusaha untuk mengatur nafasnya.
b. Menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual klien c. Hasilnya dicatat dalam catatan keperawatan, sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh perawat yang lain.
2. Anamnesis, anamnesis adalah tanya jawab secara langsung dengan klien atau autoanamnesis maupun secara tidak langsung dengan keluarga atau alloanamnesis utntuk menggali tentang status
kesehatan klien. dalam anamnesis ini perawat membangun hubungan saling percaya antara klien dengan perawat. Anamnesa adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara baik langsung pada pasien (Auto anamnese) atau pada orang tua atau sumber lain (Allo anamnese). 80% untuk menegakkan diagnosa didapatkan dari anamneses. Tujuan anamnesis untuk mendapatkan keterangan sebanyak-banyaknya mengenai penyakit pasien ,Membantu diagnosa sementara,Ada menegakkan beberapa penyakit yang sudah dapat ditegaskan dengan anamnese saja,Menetapkan diagnosa banding menentukan selanjutnya
7
Langkah-langkah dalam Anamnesa, mula-mula dipastikan identitas pasien dengan ,lengkap biografi ),Keluhan (informasi utama,Riwayat kesehatan saat ini ,Riwayat penyakit terdahulu.
Kaji data pasien: Nama, Umur, Jenis Kelamin, Nama Orang tua, Alamat, Penduduk, Pekerjaan Orang Tua, agama, dan suku bangsa
3. Konsultasi, seorang spesialis diminta untuk mengidentifikasi cara-cara untuk pengobatan dan menangani masalah – masalah klien.
4. Pemeriksaan Fisik, Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk menentukan masalah kesehatan klien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah
a. Inspeksi Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. Hasilnya seperti : Mata kuning (icteric), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dll
b. Palpasi Adlaah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui perabaan terhadap bagian-bagian tubuh yang mengalami kelainan. Misalnya adanya tumor, oedema, krepitasi (patah/retak tulang),
c. Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui pendengaran. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.
d. Perkusi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh menggunakan tangan atau alat bantu seperti reflek hammer untuk mengetahui reflek seseorang (dibicarakan khusus).
Juga dilakukan pemeriksaan lain yang berkaitan dengan kesehatan fisik klien. Misalnya : kembung, batas-batas jantung, batas hepar paru (mengetahui pengembangan paru).
8 F. Validasi Data
Validasi data merupakan perbandingan data subjektif dengan data objektif yang dikumpulkan dari sumber primer (klien) dan sekunder (misalnya
catatan kesehatan) dengan nilai dan standar norma yang diterima. Suatu standar nilai merupakan aturan atau ukuran yang lazim dipakai. Perawat membandingkan komentar klien, data subjektif dengan data objektif klien yang dapat diukur. Perawat memeriksa apakah data objektif memvalidasi data subjektif.
Perawat memeriksa apakah nilai klien, subjektif, objektif terletak pada rentang nilai dan standar normal yang lazim di pakai, seperti tanda – tanda vital yang normal, nilai laboratorium, pemeriksaan diagnostik, kelompok makanan dasar, pertumbuhan dan perkembangan yang normal.
G. Pencatatan dan pelaporan pengkajian keperawatan
Fokus dokumentasi pengkajian pada data klinik adalah perawat dapat mengimplementasikan dan mengorganisasi data. Bentuk dokumentasi dapat berupa data dasar, lembar alur (flow sheet) dan catatan perkembangan, yang semuanya termasuk tipe pengkajian informasi. Untuk mencapai catatan pengkajian secara aktual, maka perlu dipertimbangkan pedoman dalam pembuatan pencatatan pengkajian, diantaranya :
1. Gunakan format yang terorganisasi 2. Gunakan format yang telah ada
3. Format yang mencakup pengkajian perkembangan, pemeriksaan dari kepala sampai dengan seluruh tubuh dapat memperluas informasi 4. Catat informasi tanpa bias dan nilai-nilai opini pribadi
5. Masukkan pernyataan yang mendukung klien 6. Jabarkan observasi dan hasil yang jelas
9
7. Ikuti kebijakan dan prosedur yang telah ada untuk pencatatan pengkajian 8. Tulis data secara ringkas
9. Setiap data yang dikumpulkan adalah data baru dan mendapatkan validasi 10. Dilakukan secara sistematis dan terus-menerus
11. Data harus dicatat, dapat dibaca dan dimengerti oleh orang lain 12. Data dikelompokkan dalam bio-psiko-sosio-spiritual, sesuaikan formatnya
13. Data dianalisis dengan dukungan pengetahuan yang relecan dan sesuai 14. Menuliskan identitas waktu
15. Menulis nama dan tanda tangan pelaksana pengkajian.
2.2 Pemeriksaan Fisik Head To Toe a. Definisi Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.
Pemeriksaan fisik dalam keperawatan pada dasarnya sama denan pemeriksaan fisik kedokteran biasanya diklasifikasikan menurut sisitem tubuh manusia yaitu palpasi, inspeksi, auskultasi dan perkusi.
Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki. Mulai dari : keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan tenggorokan, leher, dada, paru, jantung, abdomen, ginjal, punggung, genetalia, rectum, ektremitas.
10 b. Tujuan Pemeriksaan Fisik
Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan:
1. Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.
2. Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat keperawatan.
3. Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
4. Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan penatalaksanaan.
5. Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan c. Manfaat Pemeriksaan Head to Toe
Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi kesehatan lain, diantaranya:
1. Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.
2. Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3. Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat.
4. Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan d. Teknis yang diperlukan pengkajian fisik ada 4 yaitu;
a. Inspeksi
Inspeksi merupakan proses observasi dengan menggunakan mata dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik. Mulailah melakukan inspeksi pada saat pertama kali bertemu dengan pasien. Amati secara cermat mengenai tingkah laku dan keadaan tubuh pasien. Amati dari hal-hal yang umum kemudian ke hal-hal yang khusus.
Fokus pemeriksaan pada setiap bagian tubuh adalah ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, kesimetrisan, lesi dan penonjolan atau pembengkakan. Perlu di
11
bandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu degan bagian tubuh lainnya.
b. Palpasi
Palpasi adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan indra peraba seperti tangan dan jari-jari, untuk mendeterminasi ciri ciri jaringan atau organ seperti temperatur, keelastisan, bentuk ukuran, kelembaban dan penonjolan
c. Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan menghasilkan suara. Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan konsistensi jaringan. Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai menghasilkan suara.
d. Auskultasi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus
e. Alat-Alat Pemeriksaan Fisik
Adapun alat-alat yang diperlukan saat melakukan pemeriksaan fisik yaitu:
sarung tangan, meteran, masker, sudip lidah, lidi kapas, peniti steril, penggaris, timbangan, penlight, stetoskop, sneillen chart, spignomanometer, gelas specimen, reflek hamer, otoskop, oftalmoskop, cairan lubrikan, nasal speculum, dan disposable vagina spekulum.
f. Prosedur Tindakan Pemeriksaan Fisik Dari Kepala s.d Ujung Kaki (Head to Toe)
sebelum melakukan pemeriksaan fisik perawat harus melakukan kontrak dengan pasien, yang didalamnya ada penjelasan maksud dan tujuan, waktu
12
yang di perlukan dan terminasi/ mengakhiri. Tahap-tahap pemeriksaan fisik haruskan dilakukan secara urut dan menyeluruh dan dimulai dari bagian tubuh sebagai berikut:
1. Kulit, rambut dan kuku
2. Kepala meliputi: mata, hidung, telinga dan mulut 3. Leher: posisi dan gerakan trachea, JVP
4. Dada: jantung dan paru
5. Abdomen: pemeriksaan dangkal dan dalam 6. Genetalia
7. Kekuatan otot /musculosekletal 8. Neurologi
Tahap-tahap pelaksanaanya adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Kulit, Rambut dan Kuku:
a. Kulit Tujuan:
1) Untuk mengetahui turgor kulit dan tekstur kulit 2) Untuk mengetahui adanya lesi atau bekas luka Tindakan:
• I = Inspeksi: lihat ada/tidak adanya lesi, hiperpigmentasi (warna kehitaman/kecoklatan), distribusi rambut kulit. edema, dan
• P = Palpasi: di raba dan tentukan turgor kulit elastic atau tidak, tekstur : kasar /halus, suhu : akral dingin atau hangat.
b. Rambut Tujuan:
1) Untuk menbetahui warna, tekstur dan percabangan pada rambut.
2) Untuk mengetahui mudah rontok dan kotor.
Tindakan:
• I = disribusi rambut merata atau tidak, kotor atau tidak, bercabang
13
• P = mudah rontok/tidak, tekstur: kasar/halus c. Kuku Tujuan:
1) Untuk mengetahui keadaan kuku: warna dan panjang 2) Untuk mengetahui kapiler refill
Tindakan:
• I = catat mengenai warna : biru: sianosis, merah: peningkatan visibilitas Hb, bentuk: clubbing karena hypoxia pada kangker paru, beau’s lines pada penyakit
• P = catat adanya nyeri tekan, dan hitung berapa detik kapiler refill (pada pasien hypoxia lambat s/d 5-15 detik.
2. Pemeriksaan Kepala Tujuan:
a. Untuk mengetahui bentuk dan fungsi kepala.
b. Untuk mengetahui luka dan kelainan pada kepala.
Tindakan:
• I = Lihat kesimetrisan wajah jika, muka ka.ki berbeda atau misal lebih condong ke kanan atau ke kiri itu menunjukan ada parese/kelumpuhan, contoh: pada pasien SH.
• P = Cari adanya luka, tonjolan patologik, dan respon nyeri dengan menekan kepala sesuai kebutuhan.
a. Mata Tujuan:
1) Untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata (medan pengelihatan, visus dan otot otot mata).
2) Untuk mengetahui adanya kelainan atau peradangan pada mata.
14 Tindakan:
• I = Kelopak mata ada radang atau tidak, simetris ka.ki atau tidak, reflek kedip baik/tidak, konjungtiva merah/konjungtivitis, hiperbilirubin/gangguan pupil: isokor ka,ki dan sclera:
ikterik/indikasi pada hepar, (normal), miosis/mengecil, pin point/sangat kecil difisisensi fe/anemia fe. (suspek SOL), medriasis/melebar/dilatasi (pada pasien sudah meninggal).
Inspeksi gerakan mata:
1) Anjurkkan pasien untuk melihat lurus ke depan.
2) Amati adanya nistagmus/gerakan bola mata ritmis(cepat/lambat).
3) Amati apakah kedua mata memandang ke depan atau ada yang deviasi.
4) Beritahu pasien untuk memandan dan mengikuti jari anda, dan jaga posisi kepala pasien tetap lalu gerakkan jari ke 8 arah untuk mengetahui fungsi otot-otot mata.
Inspeksi medan pengelihatan:
1) Berdirilah didepan pasien.
2) Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan menutup mata yang tidak di periksa.
3) Beritahu pasien untuk melihat lurus ke depan dan memfokuskan pada satu titik pandang, misal: pasien memandang hidung pemeriksa. disuruh
4) Kemudian ambil benda/ballpoint dan dekatkan kedepan hidung pemeriksa kemudian tarik atau jauhkan kesamping kaki pasien, suruh pasien mengatakan kapan dan dititik mana benda mulai tidak terlihat (ingat pasien tidak boleh melirik untuk hasil akurat).
15 Pemeriksaan visus mata:
1) Siapkkan kartu snllen (dewasa huruf dan anak gambar)
2) Atur kursi pasien, dan tuntukan jarak antara kursi dan kartu, misal 5 meter (sesuai kebijakkan masing ada yang 6 dan 7 meter).
3) Atur penerangan yang memadai, agar dapat melihat dengan jelas.
4) Tutup mata yang tidak diperiksa dan bergantian kanan dan kiri.
5) Memulai memeriksa dengan menyuruh pasien membaca dari huruf yang terbesar sampai yang terkecil yang dapat dibaca dengan jelas oleh pasien.
6) Catat hasil pemeriksaan dan tentukan hasil pemeriksaan.
b. Hidung Tujuan:
1) Untuk mengetahui bentuk dan fungsi hidung 2) Untuk mendetahui adanya inflamasi/sinusitis Tindakan:
• I = Apakah hidung simetris, apakah ada inflamasi, apakah ada secret.
• P = Apakah ada nyeri tekan, massa.
c. Telinga Tujuan:
1) Untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga.
2) Untuk pendengaran.
16 Tindakan:
Telinga luar:
• I = Daun telinga simetris atau tidak, warna, ukuran, bentuk, kebresihan, adanya lesy.
• P = Tekan daun telinga apakah ada respon nyeri, rasakan kelenturan kartilago.
Telinga dalam:
Note:
Dewasa: Daun telinga ditarik ke atas agar mudah di lihat Anak: Daun telinga ditarik kebawah
• I = Telinga dalam menggunakan otoskop perhatikan memberan timpani (warna, bentuk) adanya serumen, peradangan dan benda asing, dan darah.
Pemeriksaan pendengaran:
1) Pemeriksaan dengan bisikan:
a. Mengatur pasien berdiri membelakangi pemeriksa pada jarak 4- 6 m.
b. Mengistruksikan pada klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa.
c. Membisikan suatu bilangan misal “6 atau 5”.
d. Menyuruh pasien mengulangi apa yang didengar.
e. Melakukan pemeriksaan telinga yang satu.
f. Bandingkan kemampuan mendengar telinga 2) Pemeriksaan dengan arloji
a. Mengatur susasana tenang.
b. Pegang sebuah arloji disamping telinga klien
c. Menyuruh klien menyatakan apakah mendengar suara detak arloji.
17
d. Memimndahkan arloji secara berlahan-lahan menjauhi. telinga dan suruh pasien menyatakan tak mendengar lagi.
e. Normalnya pada jarak 30 cm masih dapat didengar 3) Pemeriksaan dengan garpu tala:
Tes Rinne
a. Pegang garpu tala (GT) pada tangkainya dan pukulkan ketelapak tangan
b. Letakkan GT pada prosesus mastoideus klien.
c. Menganjurkan klien mangatakan pada pemeriksa sewaktu tidak merasakan getaran.
d. Kemudian angkat GT dengan cepat dan tempatkan didepan lubang telinga luar jarak 1-2 cm, dengan posisi parallel dengan daun telinga.
e. Mengistrusikan pada klien apakah masih mendengara atau tidak.
f. Mencatat hasil pemeriksaan.
Tes Weber
a) Pegang GT pada tangkainya dan pukulkan pada telapak tangan atau jari.
b) Letakkan tangkai GT di tengah puncak kepala/os. Frontalis atas.
c) Tanyakan pada klien apakah bunyi terdengar saama jelas antara telinga kaki atau hanya jelas pada satu sisi saja.
d) Mencatat hasil pemeriksaan.
Tes Swebeck
a) Untuk mengetahui membandingkan pendengaran pasien dengan pemeriksa.
b) Dekatkan GT pada telinga klien kemudian dengan cepat di dekatkan ke telinga pemeriksa
18 d. Mulut dan Faring:
Tujuan:
1. Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut.
2. Untuk mengetahui kebersihan mulut.
Tindakan:
• I = Amati bibir apa ada klainan kogenital (bibir kesimetrisan, pembengkakkan, lesi. sumbing), Amati jumlah dan bentuk gigi, gigi berlubang, warna, plak, dan kebersihan gigi
Inspeksi mulut dalam dan faring:
1) Menyuruh pasien membuka mulut amati mucosa:tekstur,warna, kelembaban, dan adanya lesi.
2) Amati lidah tekstur, warna, kelembaban, lesi.
3) Untuk melihat faring gunakan tongspatel yang sudah dibungkus kassa steril, kemudian minta klien menjulurkan lidah dan berkata
"AH" amati ovula/epiglottis simetris tidak terhadap faring, amati tonsil meradang atau tidak (tonsillitis/amandel).
• P = Pegang dan tekan daerah pipi kemudian rasakan apa ada massa/
tumor, pembengkakkan dan nyeri. Lakukkan palpasi dasar mulut dengan menggunakkan jari telunjuk dengan memekai handscond, kemudian suruh pasien mengatakan kata “EL” sambil menjulurkan lidah, pegang ujung lidah dengan kassa dan tekan lidah dengan jari telunjuk, posisi ibu jari menahan dagu. Catat apakah ada respon nyeri pada tindakan tersebut.
19 e. Leher
Tujuan:
1) Untuk menentukan struktur integritas leher.
2) Untuk mengetahui bentuk leher dan organ yang berkaitan.
3) Untuk memeriksa sistem limfatik.
Tindakkan:
• I = Amati mengenai bentuk, warna kulit, jaringan parut. Amati adanya pembengkakkan kelenjar tirod/gondok, dan adanya massa.
Amati kesimeterisan leher dari depan, belakang dan samping kanan dan kiri. Mintalah pasien untuk mengerakkan leher (fleksi-ektensi kanan dan kiri), dan merotasi - amati apakah bisa dengan mudah dan apa ada respon nyeri.
• P = Letakkan kedua telapak tangan pada leher klien, suruh pasien menelan dan rasakan adanya kelenjar tiroid (kaji ukuran, bentuk, permukaanya). Palpasi trachea apakah kedudukkan trachea simetris atau tidak.
3. Dada atau Thorax a. Paru atau Pulmonalis Tujuan:
4) Untuk mengetahui kesimetrisan, ekspansi paru. bentuk, 5) Untuk mengetahui frekuensi, irama pernafasan.
6) Untuk mengetahui adanya nyeri tekan, adanya massa, peradangan, edema, taktil fremitus.
7) Untuk mengetahui batas paru dengan organ disekitarnya.
8) Mendengarkan bunyi paru / adanya sumbatan aliran udara.
Tindakkan:
20
• I = Amati kesimetrisan dada ka.ki, amati adanya retraksi interkosta, amati gerkkan paru. Amati klavikula dan scapula simetris atau tidak.
• P = Palpasi ekspansi paru:
o Berdiri di depan klien dan taruh kedua telapak tangan pemeriksa di dada dibawah papilla, anjurkan pasien menarik nafas dalam, rasakkan apakah sama paru kiri dan kanan.
o Berdiri deblakang pasien, taruh telapak tangan pada garis bawah scapula/setinggi costa ke-10, ibu jari kanan dan kiri di dekatkan jangan samapai menempel, dan jari- jari di regangkan lebih kurang 5 cm dari ibu jari. Suruh pasien kembali menarik nafas dalam dan amati gerkkan ibu jari kanan dan kiri sama atau tidak.
Palpasi Taktil vremitus posterior dan anterior:
1) Meletakkan telapak tangan kanan di belakang dada paru/stinggi tepat supra pada scapula posterior).
2) apex (posisi Menginstrusikkan pasien untuk mengucapkkan kata “Sembilan-sembilan” (nada rendah).
3) Minta klien untuk mengulangi mengucapkkan kata tersebut, sambil pemeriksa mengerakkan ke posisi ka.ki kemudian kebawah sampai pada basal paru atau setinggi vertebra thoraxkal ke 12.
4) Bandingkan vremitus pada kedua sisi paru.
5) Bila fremitus redup minta pasien bicara lebih rendah.
6) Ulangi/lakukkan anterior.
21 Perkusi = pada dada
1) Atur pasien dengan posisi supinasi.
2) Untuk perkusi anterior dimulai batas clavikula lalu kebawah sampai intercosta 5 tentukkan batas paru ka.ki (bunyi paru normal: sonor seluruh lapang paru, batas paru hepar dan jantung: redup).
3) Jika ada edema paru dan efusi plura suara meredup.
Auskultasi:
1) Gunakkan diafragma stetoskop untuk dewasa dan bell pada anak.
2) Letakkan stetoskop pada interkostalis, menginstruksikkan pasien untuk nafas pelan kemudian dalam dan dengarkkan bunyi nafas: vesikuler/wheezing/creckels.
b. Jantung atau Cordis
• I = Amati denyut apek jantung pada area midsternu lebih kurang 2 cm disamping bawah xifoideus.
• P = Merasakan adanya pulsasi
1) Palpasi spasium interkostalis ke-2 kanan untuk menentukkan area aorta dan spasium interkosta ke-2 kiri letak pulmonal kiri.
2) Palpasi spasium interkostalis ke-5 kiri untuk mengetahui trikuspidalis/ventikuler pulsasi. amati area adanya 3) Dari interkosta ke-5 pindah tangan secara lateral
midklavicula 5-7 cm ke garis kiri dimana akan ditemukkan daerah apical jantung atau PMI (point of maximal impuls) temukkan pulsasi kuat pada area ini.
4) Untuk mengetahui pulsasi aorta palpasi pada area epigastika atau dibawah sternum.
22 Perkusi
1) Perkusi dari arah lateral ke medial untuk menentukkan batas jantung bagian kiri,
2) Lakukan perkusi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui batas jantung kanan.
3) Lakukan dari atas ke bawah untuk mengetahui batas atas dan bawah jantung.
4) Bunyi redup menunjukkan organ jantung ada pada daerah perkusi.
Auskultasi
1) Menganjurkkan pasien bernafas normal dan menahanya saat ekspirasi selesai
2) Dengarkkan suara jantung dengan meletakkan stetoskop pada interkostalis ke-5 sambil menekan arteri carotis
• Bunyi S1: dengarkan suara “LUB” yaitu bunyi dari menutupnya katub mitral (bikuspidalis) dan tikuspidalis pada waktu sistolik.
• Bunyi S2: dengarkan suara “DUB” yaitu bunyi meutupnya katub semilunaris (aorta dan pulmonalis) pada saat diastolic.
• Adapun bunyi S3: gagal jantung “LUB DUB-CEE…” S4: pada pasien hipertensi “DEE..-LUB-DUB”.
4. Perut atau Abdomen Tujuan:
a. Untuk mengetahui bentuk dan gerak gerakkan perut b. Untuk mendengarkan bunyi pristaltik usus
c. Untuk mengetahui respon nyeri tekan pada organ dalam abdomen
23 Tindakkan:
• I = Amati bentuk perut secara umum, warna kulit, adanya retraksi, penonjolan, adanya ketidak simetrisan, adanya asites.
• P = Palpasi ringan: Untuk mengetahui adanya massa dan respon nyeri tekan letakkan telapak tangan pada abdomen secara berhimpitan dan tekan secara merata sesuai kuadran.
• Palpasi dalam: Untuk mengetahui posisi organ dalam seperi hepar, ginjal, limpa dengan metode bimanual/2 tangan.
a. Hepar
1) Letakkan tangan pemeriksa dengan posisi ujung jari keatas pada bagian hipokondria kanan, interkosta ke 11-12. kira;kira pada 2) Tekan saat pasien inhalasi kira-kira sedalam 4-5 cm, rasakan
adanya organ hepar. Kaji hepatomegali.
b. Limpa
1) Metode yang digunakkan seperti pada pemeriksaan hapar.
2) Anjurkan pasien miring kanan dan letakkan tangan pada bawah interkosta kiri dan minta pasien mengambil nafas dalam kemudian tekan saat inhalasi tenntukkan adanya limpa.
3) Pada orang dewasa normal tidak teraba.
c. Renalis
1) Untuk palpasi ginjal kanan letakkan tangan pada atas dan bawah perut setinggi Lumbal 3-4 dibawah kosta kanan.
2) Untuk palpasi ginjal kiri letakkan tangan setinggi Lumbal 1-2 di bawah kosta kiri.
3) Tekan sedalam 4-5 cm setelah pasien inhalasi jika teraba adanya ginjal rasakan bentuk, kontur, ukuran, dan respon nyeri.
24 5. Genetalia
Tujuan:
a) Untuk mengetahui adanya lesi
b) Untuk mengetahui adanya infeksi (gonorea, shipilis, dll) c) Untuk mengetahui kebersihan genetalia
Tindakkan :
a. Genetalia laki-laki:
• I = Amati penis mengenai kulit, ukuran dan kelainan lain. Pada penis yang tidak di sirkumsisi buka prepusium dan amati kepala penis adanya lesi. Amati skrotum apakah ada hernia inguinal, amati bentuk dan ukuran.
• P = Tekan dengan lembut batang penis untuk mengetahui adanya nyeri. Tekan saluran sperma dengan jari dan ibu jari.
b. Genetalia wanita:
• I = Inspeksi kuantitas dan penyebaran pubis merata atau tidak.
Amati adanya keputihan/candidiasis. lesi, eritema,
• P = Tarik lembut labia mayora dengan jari-jari oleh satu tangan untuk mengetahui keadaan clitoris, selaput dara, orifisium dan perineum.
6. Rektum dan Anal Tujuan:
a) Untuk mengetahui kondisi rectum dan anus.
b) Untuk mengetahui adanya massa pada rectal.
c) Untuk mengetahui adanya pelebaran vena pada rectal/hemoroid.
25 Tindakkan:
a) Posisi pria sims/ berdiri setengah membungkuk, wanita dengan posisi litotomi/terlentang kaki di angkat dan di topang.
b) Inspeksi jaringan perineal dan jaringan sekitarnya kaji adanya lesi dan ulkus.
c) Palpasi: ulaskan zat pelumas dan masukkan jari-jari ke rectal dan rasakan adanya nodul dan atau pelebaran vena pada rectum
7. Pemeriksaan Muskuloskeletal Tujuan:
a) Untuk memperoleh data dasar tentang otot, tulang dan persendian.
b) Untuk mengetahui mobilitas, kekuatan otot, dan gangguan- gangguan pada daerah tertentu.
Tindakkan:
Muskuli atau Otot:
a) Inspeksi mengenai ukuran dan adanya atrofi dan hipertrofi (ukur dan catat jika ada perbedaan dengan meteran).
b) Palpasi pada otot istirahat dan pada saat otot kontraksi untuk mengetahui adanya kelemahan dan kontraksi tiba-tiba.
c) Lakukan uji kekuatan otot dengan menyuruh pasien menarik atau mendorong tangan pemeriksa dan bandingkan tangan kanan dan kiri.
d) Amati kekuatan suatu otot dengan memberi penahanan pada anggota gerak atas dan bawah, suruh pasien menahan tangan atau kaki sementara pemeriksa menariknya dari yang lemah sampai yang terkuat amati apakah pasien bisa menahan.
26 Tulang atau Ostium:
a) Amati kenormalan dan abnormalan susunan tulang.
b) Palpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan pembengkakkan.
Persendiaan atau Articulasi :
a) Inspeksi semua persendian untuk mengetahui adanya kelainan sendi.
b) Palpasi persendian apakah ada nyeri tekan.
c) Kaji range of mosion/rentang gerak (abduksi-aduksi, rotasi, fleksi- ekstensi, dll).
8. Pemeriksaan Sistem Neurologi Tujuan:
Untuk mengetahui integritas sistem persyrafan yang meliputi fungsi nervus cranial, sensori, motor dan reflek.
Tindakkan:
a. Pengkajian 12 syaraf cranial (O.O.O.T.T.A.F.A.G.V.A.H)
1) Olfaktorius/penciuman: Meminta pasien membau aroma kopi dan vanilla atau aroma lain yang tidak menyengat. Apakah pasien dapat mengenali aroma.
2) Opticus/pengelihatan: Meminta kilen untuk membaca bahan bacaan dan mengenali benda-benda disekitar, jelas atau tidak.
3) Okulomotorius/kontriksi dan dilatasi pupil: Kaji arah pandangan, ukur reaksi pupil terhadap pantulan akomodasinya. cahaya dan 4) Trokhlear/gerakkan bola mata ke atas dan bawah: Kaji arah
tatapan, minta pasien melihat k etas dan bawah.
5) Trigeminal/sensori kulit wajah, pengerak otot rahang: Sentuh ringan kornea dengan usapan kapas untuk menguji reflek kornea (reflek nagatif (diam)/positif (ada gerkkan)). Ukur sensasi dari
27
sentuhan ringan sampai kuat pada wajah kaji nyeri menyilang pada kulit wajah. Kaji kemampuan klien untuk mengatupkan gigi saat mempalpasi otot otot rahang.
6) Abdusen/gerakkan menyamping: bola mata Kaji arah tatapan, minta pasien melihat kesamping kiri dan kanan.
7) Facial/ekspresi pengecapan: Meminta klien wajah dan tersenyum, mengencangkan wajah, menggembungkan pipi, menaikan dan menurunkan alis mata, perhatikkan kesimetrisanya.
8) Auditorius/pendengaran: Kaji klien terhadap kata-kata yang di bicarakkan, suruh klien mengulangi kata/kalimat.
9) Glosofaringeal/pengecapan, kemampuan menelan, gerakan lidah:
Meminta pasien mengidentifikasi rasa asam, asin, pada bagian pangkal lidah. Gunakkan penekan lidah menimbulkan “reflek gag”.
untuk Meminta klien untuk mengerakkan lidahnya.
10) Vagus/sensasi faring, gerakan pita suara: Suruh pasien mengucapkan “ah” kaji gerakkan palatum dan faringeal. Periksa kerasnya suara pasien.
11) Asesorius/gerakan kepala dan bahu: Meminta pasien mengangkat bahu dan memalingkan kepala kearah yang ditahan oleh pemeriksa, kaji dapatkah klien melawan tahanan yang ringan.
12) Hipoglosal/posisi lidah: Meminta klien untuk menjulurkan lidah kearah garis tengah dan menggerakkan ke berbagai sisi.
b. Pengkajian syaraf sensori:
Tindakkan:
1) Minta klien menutup mata 2) Berikan rangsangan pada klien:
• Nyeri superficial: gunakkan jarum tumpul dan tekankan pada kulit pasien pada titik titik yang pemeriksa inginkan, minta
28
pasien untuk mengungkapkan tingkat nyeri dan di bagian mana
• Suhu: sentuh klien dengan botol panas dan dingin, suruh pasien mengatakkan sensasi yang direasakan.
• Vibrasi: tempelkan garapu tala yang sudah di getarakan dan tempelkan pada falangeal/ujung jari, meminta pasien untuk mengatakkan adanya getaran.
• Posisi: tekan ibu jari kaki oleh tangan pemeriksa dan gerakkan naik-turun kemudian berhenti mengtakkan diatas/bawah. Suruh
• Stereognosis: berikkan pasien benda familiar ( koin atau sendok) dan berikkan waktu beberapa detik, dan suruh pasien untuk mengatakkan benda apa itu.
c. Pengkajian reflex:
Refleks Bisep
1) Fleksikan lengan klien pada bagian siku sampai 45 derajat, dengan posisi tangan pronasi (menghadap ke bawah).
2) Letakkan ibu jari pemeriksa pada fossa antekkubital di dasar tendon bisep dan jari-jari lain diatas tendon bisep.
3) Pukul ibu jari anda dengan reflek harmmer, kaji reflex Refleks Trisep
1) letakkan lengan tangan bawah pasien diatas tangan pemeriksa
2) tempatkan lengan bawah diantara fleksi dan ekstensi 3) meminta pasien untuk merilekkan lengan
4) raba terisep untuk memastikan otot tidak tegang 5) pukul tendon pada fossa olekrani, kaji reflek
29 Refleks Patella
1) Minta pasien duduk dan tungkai menggantung di tempat tidur/kursi
2) Rilexkan pasien dan alihkan perhatian untuk menarik kedua tangan di depan dada
3) Pukul tendo patella, kaji refleks Refleks Brakhioradialis
1) Letakkan lengan tangan bawah pasien diatas tangan pemeriksa
2) Tempatkan lengan bawah diantara fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
3) Pukul tendo brakhialis pada radius bagian distal dengan bagian datar harmmer, catat reflex.
Reflex Achilles
1) Minta pasien duduk dan tungkai menggantung di tempat tidur/kursi seperti pada pemeriksaan patella
2) Dorsofleksikan telapak kaki dengan tangan pemeriksa 3) Pukul tendo Achilles, kaji reflek.
Reflex Plantar (babinsky)
1) Gunakkan benda dengan ketajaman yang sedang (pensil/ballpoint) atau ujung stick harmmer.
2) Goreskan pada telapak kaki pasien bagian lateral, dimulai dari ujung telapak kaki sampai dengan sudut telapak jari kelingking lalu belok ke ibu jari. Reflek positif telapak kaki akan tertarik ke dalam.
30 Refleks Kutaneus
1) Gluteal
a) Meminta pasien melakukan posisi berbaring miring dan buka celana seperlunya
b) Ransang ringan bagian perineal dengan benda berujung kapas
c) Reflek positif spingter ani berkontraksi 2) Abdominal
a) Minta klien berdiri/berbaring
b) Tekan kulit abdomen dengan benda berujung kapas dari lateal ke medial, kaji gerakkan reflek otot abdominal
c) Ulangi pada ke-4 kuadran (atas kiri dan kanan dan bawah kiri dan kanan)
3) Kremasterik/pada pria
a) Tekan bagian paha atas dalam menggunakkan benda berujung kapas
b) Normalnya skrotum akan naik/meningkat pada daerah yang diransang
2.3 Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
Pemeriksaan tanda vital adalah pengukuran objektif fungsi fisiologis pada tubuh manusia. Pengukuran tanda vital juga merupakan langkah awal penting untuk evaluasi klinis apapun. Perubahan tanda – tanda vital berkorelasi dengan perubahan status kardiopulmoner. Kelainan yang dijumpai pada saat pemeriksaan tanda vital juga dapat memprediksi hasil kesehatan pasien jangka panjang, kunjungan kembali ke rumah sakit, dan pemanfaatan sumber layanan kesehatan primer yang tersedia di lingkungan tempat tinggal.
31
Perubahan –perubahan yang dijumpai pada tanda vital sering terjadi dikarenakan gaya hidup dan beban pikiran yang ditanggung oleh tiap – tiap individu.
Pemeriksaan tanda-tanda vital wajib dilakukan untuk memberi gambaran awal pasien yang akan dirawat. Dengan pemeriksaan tanda-tanda vital kita dapat mengetahui kondisi perkembangan kesehatan pasien dengan pemeriksaan tanda-tanda vital yang akurat dan tepat. Pemeriksaan tanda- tanda vital, meliputi pemeriksaan suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, dan pemeriksaan oksimeter. Rentang normal untuk hasil pemeriksaan ini berbeda-beda, tergantung pada kelompok usia dan jenis kelamin.
a. Takanan Darah
Tekanan darah merupakan kekuatan lateral pada dinding arteri oleh darah yang didorong dengan tekanan dari jantung. Aliran darah yang mengalir pada sistem sirkulasi karena perubahan tekanan. Pengkajian tekanan darah dapat diukur baik secara langsung (invasif) maupun tidak langsung (non invasif).
Tekanan Darah Normal Rata-rata
Usia Tekanan darah (mm/Hg)
Bayi Baru Lahir (300 g) 1 Bulan
1 Tahun 6 Tahun 10-13 Tahun 14-17 Tahun Dewasa Tengah Lansia
40 (rerata) 85/54 95/65 105/65 110/65 120/75 120/80 140/90
32
Klasifikasi tekanan darah untuk usia dewasa 18 tahun dan lansia
Prosedur pemeriksaan:
1. Pemilihan sphymomanometer (blood pressure cuff) Sphygmomanometer adalah alat yang digunakan untuk pengukuran tekanan darah, yang terdiri dari cuff, bladder dan alat ukur air raksa. Dalam melakukan pemeriksaan ini harus diperhatikan:
• Lebar dari bladder kira-kira 40 % lingkar lengan atas (12 - 14 cm pada dewasa).
• Panjang bladder kira-kira 80 % lingkar lengan atas.
• Sphygmomanometer harus dikalibrasi secara rutin.
2. Persiapan pengukuran tekanan darah Pada saat akan memulai pemeriksaan, sebaiknya :
• Pasien dalam kondisi tenang.
• Pasien diminta untuk tidak merokok atau minum yang mengandung kafein minimal 30 menit sebelum pemeriksaan.
• Istirahat sekitar 5 menit setelah melakukan aktifitas fisik ringan.
• Lengan yang diperiksa harus bebas dari pakaian.
• Raba arteri brachialis dan pastikan bahwa pulsasinya cukup.
Kategori sistole diastole
Normal Normal tinggi Hipertensi:
Derajat 1(Ringan) Derajat 2 (Sedang) Derajat 3 (Berat)
Derajat 4 (Sangat Berat)
<130 130-139
140-159 160-179 180-209
≥210
<85 85-89
90-99 100-109 110-119
≥120
33
• Pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan dengan posisi pasien berbaring, duduk, maupun berdiri tergantung dari tujuan pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan tersebut dipengaruhi oleh posisi pasien.
• Posisikan lengan sedemikian sehingga arteri brachialis kurang lebih pada level setinggi jantung.
• Jika pasien duduk, letakkan lengan pada meja sedikit diatas pinggangdan kedua kaki menapak di lantai.
• Apabila menggunakan tensimeter air raksa, usahakan agar posisi manometer selalu vertikal, dan pada waktu membaca hasilnya, mata harus berada segaris horisontal dengan level air raksa.
• Pengulangan pengukuran dilakukan beberapa menit setelah pengukuran pertama.
3. Pengukuran tekanan darah
Tekanan sistolik, ditentukan berdasarkan bunyi Korotkoff 1, sedangkan diastolik pada Korotkoff 5. Pada saat cuff dinaikkan tekanannya, selama manset menekan lengan dengan sedikit sekali tekanan sehingga arteri tetap terdistensi dengan darah, tidak ada bunyi yang terdengar melalui stetoskop.
Kemudian tekanan dalam cuff dikurangi secara perlahan. Begitu tekanan dalam cuff turun di bawah tekanan sistolik, akan ada darah yang mengalir melalui arteri yang terletak di bawah cuff selama puncak tekanan sistolik dan kita mulai mendengar bunyi berdetak dalam arteri yang sinkron dengan denyut jantung. Bunyi-bunyi pada setiap denyutan tersebut disebut bunyi korotkoff. Ada 5 fase bunyi korotkoff:
• Fase 1 Bunyi pertama yang terdengar setelah tekanan cuff diturunkan perlahan. Begitu bunyi ini terdengar, nilai tekanan yang ditunjukkan pada manometer dinilai sebagai tekanan sistolik.
• Fase 2 Perubahan kualitas bunyi menjadi bunyi berdesir Fase
• 3 Bunyi semakin jelas dan keras
• Fase 4 Bunyi menjadi meredam
34
• Fase 5 Bunyi menghilang seluruhnya setelah tekanan dalam cuff turun lagi sebanyak 5-6 mmHg. Nilai tekanan yang ditunjukkan manometer pada fase ini dinilai sebagai tekanan diastolic
Prosedur Pengukuran Tekanan Darah terdiri dari 2 teknik, antara lain:
A. Palpasi
1) Siapkan tensimeter dan stetoskop.
2) Posisi pasien boleh berbaring, duduk atau berdiri tergantung tujuan pemeriksaan.
3) Lengan dalam keadaan bebas dan rileks, bebas dari pakaian.
4) Pasang bladder sedemikian rupa sehingga melingkari bagian tengah lengan atas dengan rapi, tidak terlalu ketat atau terlalu longgar. Bagian bladder yang paling bawah berada 2 cm/ 2 jari diatas fossa cubiti.
Posisikan lengan sampai membentuk sedikit sudut (fleksi) pada siku.
5) Carilah arteri brachialis/arteri radialis, biasanya terletak di sebelah medial tendo muskulus biceps brachii.
6) Untuk menentukan seberapa besar menaikkan tekanan pada cuff, perkirakan tekanan sistolik palpatoir dengan meraba arteri
brachialis/arteri radialis dengan satu jari tangan sambil menaikkan tekanan pada cuff sampai nadi menjadi tak teraba, kemudian tambahkan 30 mmHg dari angka tersebut. Hal ini bertujuan untuk menghindari ketidaknyamanan pasien dan untuk menghindari auscultatory gap.
Setelah menaikkan tekanan cuff 30 mmHg tadi, longgarkan cuff sampai teraba denyutan arteri brachialis (tekanan sistolik palpasi). Kemudian kendorkan tekanan secara komplit (deflate).
7) Hasil pemeriksaan tekanan darah secara palpasi akan didapatkan tekanan darah sistolik dan tidak bisa untuk mengukur tekanan darah diastolik.
B. Auskultasi
1) Pastikan membran stetoskop terdengar suara saat diketuk dengan jari.
2) Letakkan membran stetoskop pada fossa cubiti tepat di atas arteri brachialis.
3) Naikkan tekanan dalam bladder dengan memompa bulb sampai tekanan sistolik palpatoir ditambah 30 mmHg.
4) Turunkan tekanan perlahan, ± 2-3 mmHg/detik.
5) Dengarkan menggunakan stetoskop dan catat dimana bunyi Korotkoff I terdengar pertama kali. Ini merupakan hasil tekanan darah sistolik.
6) Terus turunkan tekanan bladder sampai bunyi Korotkoff V (bunyi terakhir terdengar). Ini merupakan hasil tekanan darah diastolik.
35
7) Untuk validitas pemeriksaan tekanan darah minimal diulang 3 kali.
Hasilnya diambil rata rata dari hasil pemeriksaan tersebut.
Prosedur Pengukuran suhu aksila:
Turunkan air raksa pada termometer sedemikian sehingga air raksa pada thermometer menunjuk angka 35°C atau di bawahnya.
1) Letakkan termometer di lipatan aksila. Lipatan aksila harus dalam keadaan kering. Pastikan termometer menempel pada kulit dan tidak terhalang baju pasien.
2) Jepit aksila dengan merapatkan lengan pasien ke tubuhnya.
3) Tunggu 3-5 menit. Baca suhu pada termometer.
4) Cuci thermometer dengan air sabun kemudian air bersih. Lalu turunkan kembali air raksa dalam thermometer
b. Pemeriksaan Nadi
Jantung bekerja memompa darah ke sirkulasi tubuh (dari ventrikel kiri) dan ke paru (dari ventrikel kanan). Melalui ventrikel kiri, darah disemburkan melalui aorta dan kemudian diteruskan ke arteri di seluruh tubuh. Sebagai akibatnya, timbullah suatu gelombang tekanan yang bergerak cepat pada arteri dan dapat dirasakan sebagai denyut nadi. Dengan menghitung frekuensi denyut nadi, dapat diketahui frekuensi denyut jantung dalam 1 menit.
a. Prosedur pemeriksaan nadi/arteri radialis:
• Penderita dapat dalam posisi duduk atau berbaring. Lengan dalam posisi bebas dan rileks.
• Periksalah denyut arteri radialis di pergelangan tangan dengan cara meletakkan jari telunjuk dan jari tengah atau 3 jari (jari telunjuk, tengah dan manis) di atas arteri radialis dan sedikit ditekan sampai teraba pulsasi yang kuat.
36
• Penilaian nadi/arteri meliputi: frekuensi (jumlah) per menit, irama (teratur atau tidaknya), pengisian, dan dibandingkan antara arteri radialis kanan dan kiri.
• Bila iramanya teratur dan frekuensi nadinya terlihat normal dapat dilakukan hitungan selama 15 detik kemudian dikalikan 4, tetapi bila iramanya tidak teratur atau denyut nadinya terlalu lemah, terlalu pelan atau terlalu cepat, dihitung sampai 60 detik.
• Apabila iramanya tidak teratur (irregular) harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan auskultasi jantung (cardiac auscultation) pada apeks jantung.
b. Pemeriksaan nadi/arteri karotis
Perabaan nadi dapat memberikan gambaran tentang aktivitas pompa jantung maupun keadaan pembuluh itu sendiri. Kadang-kadang nadi lebih jelas jika diraba pada pembuluh yang lebih besar, misalnya arteri karotis.
Catatan: pada pemeriksaan nadi/arteri karotis kanan dan kiri tidak boleh bersamaan.
c. Pemeriksaan nadi/arteri ekstremitas lainnya 1) Pemeriksaan nadi/arteri brachialis 2) Pemeriksaan nadi/arteri femoralis
3) Pemeriksaan nadi/ arteri tibialis posterior 4) Pemeriksaan nadi/arteri dorsalis pedis Hasil pemeriksaan nadi/arteri :
• Jumlah frekuensi nadi per menit (Normal pada dewasa : 60-100 kali/menit) Takikardia bila frekuensi nadi > 100 kali/menit, sedangkan bradikardia bila frekuensi nadi< 60 kali/menit
• Irama nadi: Normal irama teratur
• Pengisian : tidak teraba, lemah, cukup (normal), kuat, sangat kuat
• Kelenturan dinding arteri : elastis dan kaku
37
• Perbandingan nadi/arteri kanan dan kiri (Normal: nadi kanan dan kiri sama)
• Perbandingan antara frekuensi nadi/arteri dengan frekuensi denyut jantung (Normal: tidak ada perbedaan).
Abnormalitas pemeriksaan nadi/arteri:
• Pulsus defisit: frekuensi nadi/arteri lebih rendah daripada frekuensi denyut jantung (misalnya pada fibrilasi atrium).
• Pulsus seler (bounding pulse, collapsing pulse, water-hammer pulse, Corrigan's pulse), disebabkan upstroke dan downstroke mencolok dari pulsus, misalnya pada tirotoksikosis, regurgitasi aorta, hipertensi, Patent Ductus Arteriosus (PDA), fistula arteriovenosus.
• Pulsus tardus (plateau pulse): disebabkan karena upstroke dan downstroke yang per lahan, misalnya pada stenosis katup aorta berat.
• Pulsus alternan: perubahan kuatnya denyut nadi yang disebabkan oleh kelemahan jan tung, misalnya pada gagal jantung, kadang-kadang lebih nyata dengan auskultasi saat mengukur tekanan darah.
• Pulsus bigeminus: nadi teraba berpasangan dengan interval tak sama dimana nadi kedua biasanya lebih lemah dari nadi sebelumnya. Kadang- kadang malah tak teraba sehingga seolah-olah merupakan suatu bradikardia atau pulsus defisit jika dibandingkan denyut jantung.
• Pulsus paradoksus: melemah atau tak terabanya nadi saat inspirasi.
Sering lebih nyata pada auskultasi saat pengukuran tekanan darah, dimana pulsus terdengar melemah saat inspirasi, dan biasanya tak melebihi 10 mmHg. Bisa pula disertai penurunan tekanan vena jugularis saat inspirasi, misalnya pada gangguan restriksi pada effusi perikardium, tamponade perikardium, konstriksi perikard, sindrom vena kava superior, atau emfisema paru.
38 3. Pemeriksaan Pernapasan
Bernafas adalah suatu tindakan involunter (tidak disadari), diatur oleh batang otak dan dilakukan dengan bantuan otot-otot pernafasan, Saat inspirasi, diafragma dan otot-otot interkostalis berkontraksi, memperluas kavum thoraks dan mengembangkan paru-paru. Dinding dada akan bergerak ke atas, ke depan dan ke lateral, sedangkan diafragma terdorong ke bawah.
Saat inspirasi berhenti, paru-paru kembali mengempis, diafragma naik secara pasif dan dinding dada kembali ke posisi semula.
Persiapan pemeriksaan:
1) Pasien dalam keadaan tenang, posisi tidur terlentang.
2) Dokter meminta ijin kepada pasien untuk membuka baju bagian atas.
Cara pemeriksaan frekuensi pernapasan:
1) Pemeriksaan inspeksi: perhatikan gerakan nafas pasien secara menyeluruh tanpa pasien mengetahui saat kita menghitung frekuensi nafasnya. Posisi pemeriksa ada di bottom penderita di dekat telapak kaki pasien atau di samping kanan. Pada inspirasi, perhatikan : gerakan iga ke lateral, pelebaran sudut epigastrium, adanya retraksi dinding dada (supraklavikuler, suprasternal, interkostal, epigastrium), penggunaan otot-otot pernafasan aksesoria serta penambahan ukuran anteroposterior rongga dada. Pada ekspirasi, perhatikan: masuknya kembali iga, menyempitnya sudut epigastrium dan pengurangan diameter anteroposterior rongga dada.
2) Pemeriksaan palpasi: pemeriksa meletakkan telapak tangan untuk merasakan naik turunnya gerakan dinding dada.
3) Pemeriksaan auskultasi: menggunakan membran stetoskop diletakkan pada dinding dada di luar lokasi bunyi jantung. Pemeriksaan ini digunakan sebagai konfirmasi dari inspeksi yang telah dilakukan.
Interpretasi pemeriksaan frekuensi dan irama pernapasan :
39
1) Frekuensi: Hitung frekuensi pernafasan selama 1 menit dengan inspeksi. Pemeriksa juga dapat melakukan konfirmasi pemeriksaan dengan cara palpasi atau menggunakan stetoskop. Gerakan naik (inhalasi) dan turun (ekshalasi) dihitung 1 frekuensi napas. Normalnya frekuensi nafas orang dewasa sekitar 14 – 20 kali per menit dengan pola nafas yang teratur dan tenang.
2) Irama pernapasan : reguler atau ireguler 4. Pemeriksaan Suhu
Tubuh Suhu merupakan gambaran hasil metabolisme tubuh.Termogenesis (produksi panas tubuh) dan termolisis (panas yang hilang) secara normal diatur oleh pusat thermoregulator hipothalamus.
Pemeriksaan suhu dapat dilakukan di mulut atau rektal dan ditunggu selama 3–5 menit. Pemeriksaan suhu dilakukan dengan menggunakan termometer baik dengan glass thermometer atau electronic thermometer. Bila menggunakan glass thermometer, sebelum digunakan air raksa pada termometer harus dibuat sampai menunjuk angka 35 derajat Celcius atau dibawahnya.
Pengukuran suhu oral biasanya lebih mudah dan hasilnya lebih tepat, tetapi termometer air raksa dengan kaca tidak seyogyanya dipakai untuk pengukuran suhu oral, yaitu pada penderita yang tidak sadar, gelisah atau tidak kooperatif, tidak dapat menutup mulutnya atau pada bayi dan orang tua.
Prosedur Pemeriksaan Suhu secara Oral:
1) Turunkan air raksa sedemikian sehingga air raksa pada termometer menunjuk angka 35 derajat Celcius atau dibawahnya dengan cara mengibaskan termometer beberapa kali.
2) Letakkan ujung termometer di bawah salah satu sisi lidah. Minta pasien untuk menutup mulut dan bernafas melalui hidung.
3) Tunggu 3-5 menit. Baca suhu pada termometer.
40
4) Apabila penderita baru minum dingin atau panas, pemeriksaan harus ditunda selama 10-15 menit agar suhu minuman tidak mempengaruhi hasil pengukuran.
Prosedur Pengukuran suhu aksila :
1) Turunkan air raksa sedemikian sehingga air raksa pada termometer menunjuk angka 35 derajat Celcius atau dibawahnya.
2) Letakkan termometer di lipatan aksila. Lipatan aksila harus dalam keadaan kering. Pastikan termometer menempel pada kulit dan tidak terhalang baju pasien.
3) Jepit aksila dengan merapatkan lengan pasien ke tubuhnya.
4) Tunggu 3-5 menit. Baca suhu pada thermometer Prosedur pengukuran suhu secara rektal:
1) Pemeriksaan suhu melalui rektum ini biasanya dilakukan terhadap bayi.
2) Pilihlah termometer dengan ujung bulat, beri pelumas di ujungnya.
3) Masukkan ujung termometer ke dalam anus sedalam 3-4 cm.
4) Cabut dan baca setelah 3 menit (Catatan: pada prakteknya, untuk menghemat waktu pemeriksaan, sambil menunggu pemeriksaan suhu dilakukan pemeriksaan nadi dan frekuensi nafas).
Rata-rata suhu normal dengan pengukuran oral adalah 37 derajat Celcisus.
Suhu rektal lebih tinggi daripada suhu oral ±0,4 -0,5 derajat Celcius. Suhu aksila lebih rendah dari suhu oral sekitar 0,5 0C - 1 derajat Celcius.
41 2.4 Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang 1. Pengertian Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan diagnostik adalah suatu pemeriksaan medis yang dilakukan atas indikasi tertentu yang digunakan untuk memperolch keterangan yang lebih jelas. Pemeriksaan penunjang umumnya dilakukan setelah pemeriksaan fisik dan penelusuran riwayat keluhan atau riwayat penyakit pada pasien.
2. Tujuan Pemeriksaan Penunjang 1. Menegakan diagnosis kerja
2. Menyingkirkan differential diagnosis 3. Petunjuk tatalaksana
4. Mengetahui komplikasi penyakit 5. Petunjuk prognosis
6. Memantau efek samping
3. Jenis-Jenis Pemeriksaan Penunjang
Terdapat _beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi klinis pasien. Setiap pemeriksaan mempunyai indikasinya jersendiri. Pemeriksaan penunjang terdiri dari :
1. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sampel dari pasien dalam bentuk darah, sputum (dahak), urine, kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya dengan tujuan untuk menentukan diagnosis atau membantu menegakkan diagnosis penyakit.
42
Pemeriksaan laboratorium tidak hanya dilakukan bagi individu yang sakit.
Individu sehat yang rutin melakukan pemeriksaan laboratorium akan memperoleh banyak manfaat. Pemeriksaan laboratorium dapat berupa Medical Check Up berkala sehingga individu dapat memantau terus keschatannya. Melakukan Medical Check Up secara rutin hampir tidak ada ruginya.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk beberapa tujuan seperti untuk mendeteksi penyakit, menentukan resiko, memantau perkembangan penyakit, memantau perkembangan pengobatan, dan lain-lain. Melihat beberapa tujuan dari pemeriksaan laboratorium yang disebutkan tadi, maka pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan sedini mungkin atau segera setelah dokter mendiagnosa suatu penyakit. Seperti slogan yang sudah cukup dikenal dimasyarakat "Lebih baik mencegah daripada mengobati”.
2. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi atau yang biasa dikenal sebagai USG, merupakan teknik menampilkan gambar atau citra dari kondisi bagian dalam tubuh. Alat medis ini memanfaatkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi untuk mengambil gambar tubuh bagian dalam. Misalnya, organ tubuh atau jaringan lunak.
USG ini digunakan agar tim medis mendapatkan ketepatan dalam mendiagnosis penyakit. Dengan kata lain, USG merupakan pemeriksaan penunjang untuk membantu dokter mengidentifikasi penycbab penyakit pada sescorang.
3. Rontgen
Foto Rontgen adalah prosedur pemeriksaan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik atau sinar-X untuk menampilkan gambar bagian dalam tubuh. Sclain untuk mendeteksi masalah keschatan, foto Rontgen juga dapat digunakan scbagai prosedur penunjang dalam tindakan medis tertentu.
43 4. Pap Smear
Pap smear adalah prosedur untuk mendeteksi kanker leher rahim (serviks) pada wanita. Pap smear juga dapat menemukan sel-sel abnormal (sel prakanker) di Icher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker. Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel di serviks. Setelah itu, pemeriksaan di laboratorium akan dilakukan agar diketahui apakah di dalam sampel tersebut terdapat sel prakanker atau sel kanker.
5. Mammografi
Mammografi atau mammogram adalah tes pemindaian untuk menangkap gambar jaringan payudara dengan sinar-X. Pemeriksaan medis ini digunakan untuk mendeteksi lebih dalam kelainan pada payudara. Lewat mammografi dokter bisa mengetahui ada tidaknya tumor, kanker, kista, atau penumpukkan kalsium pada jaringan payudara. Sescorang disarankan untuk melakukan mamografi setahun sekali jika berusia lebih dari 40 tahun atau ada riwayat kanker payudara di keluarga.
6. Laparoskopi
Laparoskopi adalah jenis prosedur bedah yang memungkinkan ahli bedah untuk mengakses bagian dalam perut dan panggul tanpa harus membuat sayatan yang besar di kulit. Prosedur ini juga dikenal sebagai operasi lubang kunci ata operasi invasive Melalui tindakan laparoskopi dengan menggunakan alat laparoskop, pasien bisa menghindari sayatan besar yang biasa dilakukan pada operasi konvensional.
Laparoskop berbentuk seperti sebuang tabung kecil. Alat ini dilengkapi dengan cahaya dan kamera berfungsi untuk menyampaikan gambar bagian dalam perut atau panggul ke monitor di luar.
Pada foto Rontgen, gambaran dari benda padat, seperti tulang, akan ditampilkan sebagai area benvarna putih. Sedangkan, udara yang terdapat
44
pada paru-paru akan tampak berwarna hitam dan gambaran dari lemak atau otot ditampilkan dengan warna abu-abu.
4. Persiapan dan Prosedur Pemeriksaan Penunjang
Persiapan untuk Pemeriksaan Laboratorium Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.
a. Pengambilan Darah
Yang harus dipersiapkan antara lain :
• kapas alkohol 70 %,
• karet pembendung (torniket)
• semprit sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml
• penampung kering bertutup dan berlabel
• penampung (dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti koagulan)
• tergantung pemerikaan yang diminta oleh dokter
• kadang-kadang diperlukan pula tabung kapiler polos atau yang mengandung antikoagulan.
b. Penampungan urin
Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel, kering, bersih, bertutup rapat dapat steril (untuk biakan) atau tidak steril. Untuk urin kumpulan dipakai botol besar kira-kira 2 liter dengan memakai pengawet urin.
c. Penampung khusus
Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain. Hal yang enting dingat adalah label harus ditulis lengkap identitas penderita seperti pada formulir termasuk jenis pemeriksaan schingga tidak tertukar.
45 Persiapan Pengambilan Spesimen
1. Darah
Tempat pengambilan darah untuk berbagai macam pemeriksaan laboratorium,
a) Perifer (pembuluh darah tepi) b) Vena
c) Arteri
d) Pada orang dewasa diambil pada jung jari atau daun telinga bagian bawah
e) Pada bayi dan anak kecil dapat diambil pada ibu jari kaki atau tumit Bentuk pemeriksaan:
a) Jenis/golongan darah
b) B untuk mendeteksi adanya penyakit anemia dan ginjal
c) Hematokrit untuk mengukur konsentrasi sel darah merah dalam darah d) Trombosit untuk mendeteksi adanya trombositopenia dan trombosis e) SGPT (serum Glumatik Piruvik Transaminase) untuk mendeteksi
adanya kerusakan hepatoseluler
f) Albumin untuk mendeteksi adanya gangguan hepar seperti luka bakar dan gangguan ginjal
g) Asam urat untuk mendeteksi penyakit pada ginjal, luka bakar h) Billirubin (Direct: deteksi ikterik, Indirect: anemia & malaria) i) Gula darah untuk mendetcksi diabetes
Persiapan alat:
a) Lanset darah atau jarum khusus b) Kapas alcohol
c) Kapas kering
d) Alat pengukur Hb/kaca objek/botol pemeriksaan, tergantung macam pemeriksaan
46 e) Bengkok
f) Hand scoon
g) Perlak dan pengalas Prosedur kerja
a) Mendekatkan alat
b) Memberitahu klien dan menyampaikan tujuan serta langkah prosedur c) Memasang perlak dan pengalas
d) Memakai hand scoon
e) Mempersiapkan bagian yang akan ditusuk, tergantung jenis pemeriksaan
f) Kulit dihapushamakan dengan kapas alcohol g) Bekas tusukan ditekan dengan kapas alcohol h) Merapikan alat
i) Melepaskan hand scoon 2. Urine
Kegunaan:
a) Menafsirkan proses-proses metabolisme
b) Mengetahui kadar gula pada tiap-tiap waktu makan (pada pasien DM) Jenis pemeriksaan:
a) Urine sewaktu, Urine yang dikeluarkan sewaktu-waktu bilamana diperlukan pemeriksaan
b) Urine pagi, Urine yang pertama dikeluarkan sewaktu pasien bangun tidur.
c) Urine pasca prandial, Urine yang pertama kali dikeluarkan setelah pasien makan (1,5-3 jam sesudah makan)
d) Urine 24 jam, Urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam.
47 Persiapan alat:
a) Formulir khusus untuk pemeriksaan urine b) Wadah urine dengan tutupnya
c) Hand scoon d) Kertas ctiket e) Bengkok
f) Buku ekspedisi untuk pemeriksaan laboratorium Prosedur tindakan:
a) Mencuci tangan b) Mengisi formulir
c) Memberi etiket pada wadah d) Memakai hand scoon
e) Menuangkan 100 cc urine dari bengkok ke dalam wadah kemudian ditutup rapat.
f) Menyesuaikan data formulir dengan data pada etiket g) Menuliskan data dari formulir ke dalam buku ckspedisi
h) Meletakkan wadah ke dalam bengkok atau tempat khusus bertutup.
i) Membereskan dan merapikan alat j) Melepas hand scoon
k) Mencuci tangan 3. Faeces
Pengertian:
Menyiapkan feses untuk pemeriksaan laboratorium dengan cara pengambilan yang tertentu.
Tujuan:
a) Untuk menegakkan diagnosa
b) Pemeriksaan tinja untuk pasien dewasa
48
c) Untuk pemeriksaan lengkap meliputi warna, bau, konsistensi, lendir, darah, dan telur cacing. Tinja yang diambil adalah tinja segar.
Persiapan alat:
a) Hand scoon bersih b) Vasseline
c) Botol bersih dengan penutup
d) Lidi dengan kapas lembab dalam tempatnya e) Bengkok
f) Perlak pengalas g) Tissue
h) Tempat bahan pemeriksaan i) Sampiran
Prosedur tindakan:
a) Mendekatkan alat b) Memberitahu pasien c) Mencuci tangan
d) Memasang perlak pengalas dan sampiran e) Melepas pakaian bawah pasien
f) Mengatur posisi dorsal recumbent g) Memakan hand scoon
h) Telunjuk diberi vaselin lalu dimasukkan ke dalam anus dengan arah keatas kemudian diputar kekiri dan kekanan sampai teraba tinja
i) Setelah dapat dikeluarkan perlahan-lahan lalu dimasukkan ke dalam tempatnya.
j) Anus dibersihkan dengan kapas lembab dan keringkan dengan tissue.
k) Melepas hand scoon dan Merapikan pasien l) Mencuci tangan