DISUSUN OLEH SUHAYLA MUMTAZA
(NIM : 5022023016)
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM IAIN LANGSA
2023
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur Penulis tujukan kepada Allah Swt yang masih memberi nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya. Penulis berharap bahwa makalah yang telah disusun ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan terutama oleh Dosen pengampu kami bapak DR. Jamaluddin, MA. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada rekan dan sahabat kami yang banyak memberikan masukan saran selama dalam masa penyusunan makalah kami ini.
Kami selaku penulis menyadari betul bahwa apa yang kami susun didalam makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna, maka dari itu kami juga terbuka atas semua kritik dan saran yang akan diberikan, karena kami menganggap bahwa kritik dan saran yang membangun dari semua pihak, nantinya itulah yang akan menjadikan kami lebih baik kedepannya.
Demikian makalah ini kami buat, apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, atau pun adanya ketidaksesuaian materi yang kami angkat pada makalah ini, kami mohon maaf. Penulis menerima kritik dan saran seluas-luasnya dari pembaca agar bisa membuat karya makalah yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Langsa, 01 Desember 2023 Hormat kami
pemakalah
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Makalah ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Istihsan ... 3
1. Pengertian Istihsan ... 3
2. Dalil Tentang Istihsan ... 4
3. Bentuk-Bentuk Istihsan ... 5
B. Istiṣḥāb ... 8
1. Pengertian Istiṣḥāb ... 8
2. Dalil Istishab ... 9
3. Macam-Macam Istishab ... 10
BAB II PENUTUP ... 15
A. Kesimpulan ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 16
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Dalam mekanisme ijtihad dan istinbath hukum Islam, Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu intrumen penting yang harus dilakukan. Dalam pembahasan criteria seorang Mujtahid, penguasaan akan ilmu ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat mutlak untuk menjaga supaya proses ijtihad dan istinabath tetap pada jalan yang semestinya, Ushul Fiqih-lah salah satu penjaganya. Meskipun demikian, ada satu fakta yang tidak dapat dipungkuri bahwa penguasaan Ushul Fiqih tidak menjamin kesatuan hasil ijtihad dan istinbath para Mujtahid. Salah satu cabang dari Ilmu Ushul Fiqih ialah Istihsan & istihab, pada makalah ini kami akan bahas semua tentang Istihsan dan istishab
Dalam peristilahan ahli ushul, Istiṣḥāb berarti menetapkan hukum menurut keadaan yang terjadi sebelumnya sampai ada dalil yang mengubahnya. Dalam ungkapan lain, ia diartikan juga sebagai upaya menjadikan hukum peristiwa yang ada sejak semula tetap berlaku hingga peristiwa berikutnya, kecuali ada dalil yang mengubah ketentuan itu.
Melalui latar belakang tersebut, beberapa hal yang hendak didiskusikan dalam tulisan ini yaitu definisi, pembagian, macam-macam, serta syarat-syarat ketentuan B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Istihsan dan istishab?
2. Apa saja Perbedaan Ulama akan keabsahan Mazhab Istihsan dan istishab sebagai Sumber Hukum?
3. Bagaimana Relevansi Istihsan dan istishab dengan sumber hukum islam lainnya?
4. Apa saja contoh Istihsan dan istishab sebagai Sumber Hukum ?
C. Tujuan Makalah
1. Mengetahui Pengertian Istihsan & istishab
2. Mengetahui apa saja Perbedaan Ulama akan keabsahan Mazhab Istihsan &
istishab sebagai Sumber Hukum.
3. Mengetahui Relevansi Istihsan & istishab dengan sumber hukum Islam lainnya.
4. Mengetahui Contoh Istihsan & istishab sebagai Sumber Hukum islam
3 BAB II PEMBAHASAN A. Istihsan
1. Pengertian Istihsan
Kata istihsan berasal dari bahasa Arab yang berarti “baik” atau “yang baik”.1 Secara etimologi, kata نسح yang kemudian menjadi ناسحتسا berarti “menganggap sesuatu itu baik.”.2 Dengan demikian, menurut pengertian ini, istihsan berarti
“menyatakan dan mengakui baiknya sesuatu.3
Sedangkan seecara terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan istihsan, yaitu:
a. Ulama usûl menyatakan, bahwa istihsan adalah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasarkan dalil syara, menuju hukum lain dari peristiwa itu juga, karena ada suatu dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkannya.4
b. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa istihsan adalah berpalingnya seorang mujtahid dari suatu hukum pada suatu masalah yang sebanding kepada hukum yang lain, karena ada suatu pertimbangan yang lebih utama menghendaki berpaling. Bukan sekedar menafikan makna tanpa ada dalil yang mendasarinya5.
c. Muhammad Abu Zahrah mengatakan bahwa istihsan adalah penetapan hukum yang berbeda dengan kaidah umum, sehingga dalam hal ini istihsan lebih kuat daripada kias (al-qiyas).
1 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah/
Penafsir al-Quran, 1973), h. 103.
2 Louis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lugah wa al-A’lam (Beirut: Dar al-Masyriq, 1984), h. 134
3 Nasrun Haroen, Ushul Fiqh (Jakarta: Publishing House, 1996), h. 102.
4 Moh. Tolchah Mansoer, et al., Ushul Fiqh (Jakarta: Proyek Pembinaan Pesantren dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, 1986), h. 142.
5 Muhammad al-Khudari Bik, Usûl al-Fiqh (Kairo: Dâr al-Fikr al-Arabi, 1981), h. 336.
d. Mazhab Maliki mengatakan bahwa istihsan adalah berpegang kepada kemaslahatan khusus dalam berhadapan dengan dalil umum.6
e. Mazhab Hanbali mengatakan bahwa istihsan adalah menyimpang dari ketentuan suatu masalah yang bersifat khusus7.
f. Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa istihsan adalah cara istinbat hukum dengan hawa nafsu dan mencari enaknya.8
Banyaknya ragam definisi tentang istihsan karena sejak seribu tahun yang lalu sejak kemunculannya hingga sekarang belum ada definisi yang komprehensif dan diakui oleh semua pihak. Artinya konsep istihsan itu masih diselimuti oleh kabut kesamaran.
2. Dalil Tentang Istihsan
Dasar-dasar istihsan terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW antara lain:
a. Dasarnya Dalam Al-Quran
َنْوُعِبَّتَ يَ ف َلْوَقْلا َنْوُعِمَتْسَي َنْيِذَّلا
.هَنَسْحَا
ۗ ٗ َكِٕى ٰۤ
لوُا َنْيِذَّلا ُمُهى دَه ُ ّللا َكِٕى ٰۤ
لوُاَو ْمُه اوُلوُا ِباَبْلَْلْا
Artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Q.S. Az-Zumar:18)9
b. Dasarnya Dalam Al-Hadits
نسح اللها دنع وهف انسح نوملسلما هأر امف
6Al-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Usûl al-Syari’ah, Juz 4 (Kairo: Dâr al-Fikr al-Arabi, t.th.) h.207.
7 Abd al-Wahab Khallaf, Masâdir al-Tasyri’ al-Islam fi Ma La Nass Fih (Kuwait: Dâr al- Kalam, 1972), h. 70.
8 Abd al-Wahab Khallaf, Ilmu Usul al-Fiqh (Kairo: Maktabat Da’wah al-Islamiyah, 1986), h.
80.
9 Departemen Agama, Al-Qur’an Al-Karim Dan Terjemahnya (Bandung: PT. Diponegoro, 2004 ), h. 415.
5
Artinya “Apa yang dianggap baik oleh umat Islam, adalah juga baik disisi Allah.”
(HR. Ahmad)
3. Bentuk-Bentuk Istihsan
Ulama usûl mengemukakan pembagian istihsan dilihat dari berbagai segi sebagai berikut: 10
a. Dari segi pengertiannya
Istihsan dilihat dari segi pengertiannya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1) Beralih dari qiyâs jali kepada qiyâs khafî karena ada dalil yang mendukungnya;
2) Memberlakukan pengecualian hukum juz’i dari hukum kulli (kaidah umum), didasarkan pada dalil khusus yang mendukungnya.
b. Dari segi Sandarannya
Istihsan dilihat dari segi sandarannya, yaitu:
1) Mazhab Hanafi dan Muhammad Abu Zahrah membagi Istihsan atas tiga bagian, yakni: (1) istihsan dengan nas, (2) istihsan dengan ijmak, dan (3) istihsan dengan darurat.11
2) ‘Abd al-Wahab Khallaf membaginya atas dua bagian, yaitu istihsan qiyas khafi dan istihsan ‘urf.
3) Mazhab Maliki membagi istihsan atas empat bagian, yakni; (1) istihsan dengan
‘urf, (2) istihsan maslahat, (3) istihsan ijma’, dan (4) kaidah raf’ al-haraj wa al- masyaqqat. 12
Berdasarkan pembagian yang dikemukakan di atas, maka berikut ini akan dijelaskan satu persatu pembagian tersebut.
10 Abd al-Wahab Khallaf, Ilmu…..h 81
11 Ibid,…h 81
12 Ibid,…h 82
1) Istihsan dengan nash,
Yaitu istihsan berdasarkan ayat atau hadis. Maksudnya, ada ayat atau hadis tentang hukum suatu kasus yang berbeda dengan ketentuan kaidah umum13. Contohnya, dalam kasus orang yang makan dan minum di saat berpuasa karena ia lupa.
Menurut kaidah umum (qiyas), puasa orang ini batal karena ia telah memasukkan sesuatu ke dalam kerongkongannya dan tidak menahan puasanya sampai ia berbuka.
Akan tetapi, hukum ini dikecualikan oleh hadis Rasulullah saw.
ٌ مِئاَص ٌَوُهَو ٌَيِسَن ٌ نَم – ملسو ٌهيلع ٌالل ىلص – ٌِّللََا ٌُلوُسَر ٌَلاَق : ٌَلاَق – ٌهنع ٌالل ٌيضر – ٌَةَر يَرُه ٌِبَأ ٌ نَع ,
ٌِه يَلَع ٌ قَفّ تُم – ٌُهاَقَسَو ٌُّللََا ٌُهَمَع طَأ اَّنَِّإَف , ٌُهَم وَص ٌّمِتُي لَ ف , ٌَبِرَش ٌ وَأ ٌَلَكَأَف
‘Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang makan atau minum karena lupa, tidaklah batal puasanya, karena itu hal merupakan rezeki yang diturunkan Allah kepadanya.’ 14
Berdasarkan hadis ini menunjukkan, bahwa tidak batal puasa orang yang tidak sengaja makan atau minum. Yang dianggap membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum. Sebab secara psikologi, makan atau minum karena kelupaan tidaklah dilandasi oleh kesadaran, sehingga orang yang makan atau minum tanpa sengaja tidak menyebabkan puasanya batal.
Namun demikian pengecualian ini hanya berkaitan dengan hak Tuhan, dan tidak dapat diterapkan kepada tindak pidana yang berkaitan dengan hak manusia meskipun dilakukan tanpa disengaja, misalnya dalam pembunuhan karena khilaf yang tetap dikenai sanksi pidana bagi pelakunya.15
2) Istihsan ijma’,
13 Nasrun Haroen, ushul …..h. 105
14 Muslim. Sahih Muslim. Beirut: Dar Jail, t.t. Jil. 4. h 367
15 Abd al-Wahab Khallaf,ilmu ,….h 86
7
Yaitu meninggalkan qiyas karena ada kesepakatan umum16. Contohnya, penetapan sahnya akad jual beli yang tidak yang tidak menghadirkan obyeknya, karena transaksi semacam itu sudah jelas dan dikenal sepanjang zaman. Hal seperti ini menurut qiyas tidak sah, kerena obyeknya tidak ada.
3) Istihsan qiyas khafi,
Yaitu qiyas yang antara asal dan cabangnya terdapat perbedaan yang mempengaruhi hukumnya.17 Contohnya, seseorang yang telah mewakafkan sebidang tanah pertanian. Secara istihsan, hak-hak yang bersangkut paut dengan tanah itu, seperti hak mengairi, membuat saluran air di atas tanah tersebut sudah tercakup dalam pengertian wakaf secara langsung, meskipun hak-hak itu tidak disebutkan secara terinci. Sedangkan secara qiyas, hak-hak itu tidak langsung masuk ke dalamnya, kecuali hak-hak itu tercakup di dalamnya atas ketetapan nas.
4) Istihsan darurat,
Yaitu penetapan hukum suatu peristiwa yang menyimpang dari hukum yang ditetapkan melalui qiyas, karena adanya keadaan darurat yang mengharuskan menyimpangan tersebut, dengan maksud untuk menghindari kesulitan18. Contohnya syariat melarang seorang laki-laki melihat aurat wanita, tetapi dalam keadaan darurat, misalnya dokter yang hendak mengobati diperbolehkan oleh istihsan melihat aurat pasien wanita. Kebolehan di sini hanya bisa berlaku ketika hendak mengobati, dan apabila penyakit yang diobati itu telah sembuh, maka kebolehan tersebut kembali menjadi terlarang.
5) Istihsan ‘urf,
16 Iskandar Usman, Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1994), h. 53.
17 Ibid.
18 Umar Syihab, Hukum Islam dan Transformasi Pemikiran (Cet. 1; Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1996), h. 27.
Yaitu sesuatu berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku umum19. Contohnya, sama dengan contoh istihsan yang berdasarkan ijmak, seperti pada nomor 2 di atas.
6) Istihsan maslahat,
Yaitu meningalkan qiyas karena adanya maslahat (kebaikan). Contohnya, adanya jaminan bagi buruh yang berserikat. Menurut Imam Malik, bahwa hal itu diperlukan, sekalipun berdasarkan qiyas tidak perlu ada jaminan, sebab yang berserikat pada umumnya memiliki kejujuran. Namun Imam Malik melihat kebiasaan ada buruh yang tidak mempunyai tanggung jawab.
7) Istihsan raf al-haraj wa al-masyaqqat (menolak kesukaran dan kesulitan).
Hal ini merupakan kaidah yang qath’i, yakni meninggalkan masalah kecil dan menghindari kesukaran. Contohnya, memperbolehkan pemakaian kamar mandi umum tanpa ketentuan jumlah sewa, lama pemakaian dan banyaknya air yang dipakai. Karena itu asal hukumnya tidak boleh, sebab termasuk sewa menyewa, dan objeknya tidak jelas. Akan tetapi, hal ini dibatalkan oleh Imam Malik.20
Berdasarkan penjelasan tentang istihsan di atas dapat dipahami, bahwa menurut Hanafi dan Maliki, istihsan tidak keluar dari dalil-dalil syarak, melainkan beramal dengan dalil yang satu dan meninggalkan dalil yang lain. Istihsan ini merupakan hasil pemikiran seorang mujtahid berdasarkan akalnya dan juga sebagai istinbat hukum.21 B. Istiṣḥāb
1. Pengertian Istiṣḥāb
Secara lughawi (etimologi) Istiṣḥāb itu berasal dari kata ةبحصلابلط kata ṣuḥbah berarti membandingkan lalu mendekaktkan. Dengan dekimian, secara bahasa istiṣḥāb ialah mendekatkan suatu peristiwa dengan hukum tertentu dengan peristiwa lainnya,
19 Hasan Hamid Hasan, Nasabiyah al-Maslahat fi al-Fiqh al-Islamiyah (Mesir: Dâr alMaktabat al-Arabiyah, t.th.), h. 250.
20 Abd al-Wahab Khallaf, ilmu., h. 251.
21 Ibid,….h 255
9
sehingga keduanya dinilai sama status hukumnya. Sedangkan secara istilah (terminologi), terdapat beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama sebagai mana ditulis oleh Rosyid,22 di antaranya ialah:
Imam Al-Ghazālī memaknai Istiṣḥāb sebagai berikut:23
ملعلا ٌعم لبلد لىا لب ليلدلبا ملعلا مدع لىا اعجار سيل ٌو يعرش ٌوا يلقع ليلدب كسمتلا نع ةرابع بلطلا ثوحبلا فى ٌدهلج لاذب ٌدنع يرغلما ءافتنا نظ ٌعم وا يرغلما ءافتنلبا
Artinya: tetap berpegang teguh dengan dalil akal atau dalil syar’i, bukan karena tidak mengetahui adanya dalil, melainkan karena mengetahui tidak adanya dalil yang mengubahnya setelah berusaha keras mencari.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyah dan ‘Abdul-Karim Zaydan24 memaknainya dengan menetapkan keberadaan sesuatu yang sudah ada sebelumnya dan meniadakan keberadaan sesuatu yang memang tidak ada sebelumnya
Istiṣḥāb juga dapat berarti melanjutkan berlakunya hukum yang telah tetap di masa lalu, diteruskan sampai yang akan datang selama tidat terdapat yang mengubahnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Istiṣḥāb adalah menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada sebelum ada dalil atau bukti yang mengubah hukum tersebut.25
2. Dalil istishab a. Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an Surat al-'Araf Ayat 32, Allah azza wa jalla telah berfirman:
22 Rosyid, ‘Istiṣḥāb Sebagai Solusi Pemecahan Masalah Kekinian’, h 47–48.
23Abu HAmid Muhammad Ibn Mu ammad Al-Ghazza lī , Al-Mustaṣfā Min ‘Ilm Al-Uṣūl (Madinah: al-Ja mi’ah al-al-Isla miyyah, n.d.), vols II, h 410.
24 Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, I’lām Al-Muwaqqi’īn ‘an Rabb Al-‘Ᾱlamīn (Riyad: Da r Ibn alJawzi, n.d.), vols III, 100; ‘Abd al-Karīm Zayda n, Al-Wajīz Fī Uṣūl Al-Fiqh (Mu’assasah Qurt ubah, 1976)h, 267.
25 Satria Effendi, Ushul Fiqh, ed. M. Nurul Irfan Aminuddin Ya’kub (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008),h 159.
َةَنيِز َمَّرَح ْنَم ْلُق َِّلل ٱ
ىِتَّل ٱ ِهِداَبِعِل َجَرْخَأ َوٱ ۦ
ِت َبِّيَّطل َنِم ِقْزِّرل ٱ ِفِ ۟اوُنَماَء َنيِذَّلِل َىِه ْلُق ۚ ِة وَ يَْلْ ٱ
اَيْ نُّدل ٱ ًةَصِلاَخ
َمْوَ ي ِةَم َيِقْل ٱ ُلِّصَفُ ن َكِل َذَك ۗ ِت َياَءْل ٱ
َنوُمَلْعَ ي ٍمْوَقِل
Artinya: ‘’Katakanlah "siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.’’ (QS al-'Arof ayat 32).26
b. Al-Hadits
Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
ْنَعف َلَْو َرَرَض َلْ ْنَأ ىَضَق ملسو هيلع الله ىلص َِّللا َلوُسَر َّنَأ ِتِماَّصلا ِنْب َةَداَبُع ٍديِعَس ِبَِأ ْنَعو َراَرِض
َّقاَش ْنَمَو َُّللا ُهَّراَض َّراَض ْنَم َراَرِض َلَْو َرَرَض َلْ َلاَق ملسو هيلع الله ىلص َِّللا َلوُسَر َّنَأ ِّيِرْدُْلْا َُّللا َّقَش
ِهْيَلَع
Artinya: ’’Dari Ubadah bin al-Shamiti sesungguhnya Rasulullah menentukan bahwa tidak ada kemudaratan dan tidak ada yang dimudaratkan. Sedangkan dari Abi Sa'id al-Khudri sesungguhnya Rasulullah telah bersabda bahwa tidak ada kemadaratan dan tidak yang dimudaratkan, siapa yang membuat bahaya maka Allah yang membahayakannya dan siapa yang menyulitkan, maka Allah akan menyulitkannya.’’
( HR Ibnu Majah)27
3. Macam-Macam Istishab 28
26 Departemen Agama, Al-Qur’an Al-Karim Dan Terjemahnya (Bandung: PT. Diponegoro, 2004 ), h. 154.
27 Ibnu Majah. Sunan Ibni Majah. Saudi Arabia: Maktabah as-Sa’udiyah. Jilid. 5.h 1404
28 Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Al-Ghazza Lī , Al-Mustaṣfā……….h. 412
11
Para ulama ushul fiqih mengemukakan bahwa Istiṣḥāb ada 5 macam yang sebagian disepakati dan sebagian lain diperselisihkan. Kelima macam Istiṣḥāb itu adalah:29
1. Istiṣḥāb hukum Al-Ibahah Al-Asliyyah
Maksudnya menetapkan hukum sesuatu yang bermanfaat bagi manusia adalah boleh selama belum ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Misalnya seluruh pepohonan di hutan adalah merupakan milik bersama umat manusia dan masing- masing orang berhak menebang dan memanfaatkan pohon dan buahnya, sampai ada bukti yang menunjukkan bahwa hutan tersebut telah menjadi milik sesorang.
Berdasarkan ketetapan perintah ini, maka hukum kebolehan memanfaatkan hutan tersebut berubah menjadi tidak boleh. Istiṣḥāb seperti ini menurut para ahli ushul fiqih dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum.30
2. Istiṣḥāb yang menurut akal dan syara’ hukumnya tetap dan berlangsung terus.
Misalnya hukum wudhu seseorang yang telah berwudhu dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya. Apabila seseorang merasa ragu apakah wudhunya masih ada atau sudah batal, maka berdasarkan Istiṣḥāb wudhuya dianggap masih ada karena keraguan tidak bisa mengalahkan keyakinan. Hal ini sejalan dengan Sabda Rasul “Jika seseorang merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu ia ragu apakah ada sesuatu yang keluar atau tidak, maka sekali- kali janganlah ia keluar dari masjid (membatalkan shalat) sampai kamu mendengar suara atau mencium bau kentut.
(HR. Muslim dan Abu Hurairah). Istiṣḥāb bentuk kedua ini terdapat perbedaan pendapat ulama ushul fiqih. Inu Qayyim al- Jauziyyah berpendapat bahwa Istiṣḥāb seperti ini dapat dijadikan hujjah.31
29 Muhammad Abu Zahrah, Uṣūl Al-Fiqh (Kairo: Da r al-Fikr al-’Arabī, n.d.), 297–99; Abu Bakr Muh ammad ī bn Ah mad Ibn Abī Sahl Al-Sarakhsī, Uṣūl Al-Sarakhsī (Mesir: Da r al-Kita b al-
‘Arabi, n.d.),h 224
30 Ibid,…h 24
31 Ibid,…h 25
Ulama’ Hanafiyah berpendirian bahwa pendapat seperti ini hanya bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan dan menegaskan hukum yang telah ada, dan tidak bisa dijadikan hujjah untuk hukum yang belum ada.
Imam Ghazali menyatakan bahwa Istiṣḥāb hanya bisa dijadikan hujjah apabila didukung oleh nash atau dalil, dan dalil itu merujukkan bahwa hukum itu masih tetap berlaku dan tidak ada dalil yan laing yang membatalkannya.
Sedangkan Ulama Malikiyah menolak Istiṣḥāb sebagai hujjah dalam beberapa kasus, seperti kasus orang yang ragu terhadap keutuhan wudhunya. Menurut mereka dalam kasus seperti ini Istiṣḥāb tidak berlaku, karena apabila sesorang merasa regu atas keutuhan wudhunya sedangkan sedangkan di dalam keadaan shalat, maka shalatnya batal dan ia harus berwudhu kembali dan mengulangi shalatnya.32
3. Istiṣḥāb terdapat dalil yang bersifat umum sebelum datangnya dalil yang menghususkannya dan Istiṣḥāb dengan nash selama tidak ada dalil nasakh(yang membatalkannya). Contoh Istiṣḥāb dengan nash selama tidak ada yang menasakhkannya. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan yang berlaku bagi umat sebelum Islam tetap wajib bagi umat Islam berdasarkan ayat di atas, selama tidak ada nash lain yang membatalkannya. Kasus seperti ini menurut Jumhur ulama’ ushul fiqih termasuk Istiṣḥāb. Tetapi menurut ulama ushul fiqih lainnya, contoh di atas tidak dinamakan Istiṣḥāb tetapi berdalil berdasarkankaidah bahasa.33
4. Istiṣḥāb hukum akal sampai adannya hukum syar’i
Maksudnya, umat manusia tidak dikenakan hukum syar’i sebelum datangnya syara’. Seperti tidak adanya pembebanan hukum dan akibat hukumnya terhadap umat manusia,sampai datangnya dalil syara’ yang menentukan hukum. Misalnya seseorang menggugat orang lain bahwa ia berhutang kepadanya sejumlah uang, maka penggugat
32 Rosyid, ‘Istiṣḥāb,……h 51
33 Effendi, Satria, Ushul Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005 h 211
13
berkewajiban untuk mengemukakan bukti atas tuduhannya, apabila tidaksanggup, maka tergugat bebas dri tuntutan dan ia dinyatakan tidak pernah berhutang pada penggugat. Istiṣḥāb seperti ini diperselisihkan menurut ulama Hanafiyah, Istiṣḥāb dalambentuk ini hanya bisa menegaskan hukum yang telah ada, dan tidak bisa menetapkan hukum yang akan datang. 34
Sedangkan menurut ulama Malikiyah, Syati’iyah, dan Hanabilah, Istiṣḥāb seperti ini juga dapat menetapkan hukum syar’i, baik untuk menegaskan hukum yang telah ada maupun hukum yang akan datang.
5. Istiṣḥāb hukum yang ditetapkan berdasarkan ijma’ tetapi keberadaan ijma’ itu diperselisihkan.
Istiṣḥāb sepeti ini diperselisihkan para ulama tentang kehujahannya. Misalnya para ulama fiqih menetapkan berdasarkan ijma’ bahwa tatkala air tidak ada, seseorang boleh bertayamum untuk mengerjakan shalat. Tetapi dalam keadaan shalat, ia melihat ada air, apakah shalat harus dibatalkan ?35
Menurut ulama’ Malikiyyah dan Syafi’iyyah, orang tersebut tidak boleh membatalkan shalatnya, karena adanya ijma’ yang mengatakan bahwa shalatnya sah apabila sebelum melihat air. Mereka mengaggap hukum ijma’ tetap berlaku sampai adanya dalil yang menunjukkan bahwa ia harus membatalkan shalatnya kemudian berwudhu dan mengulangi shalatnya.36
Ulama Hanabilah dan Hanafiyyah mengatakan orang yang melakukan shalat dengan tayamum dan ketika shalat melihat air, ia harus membatalkan shalatnya unruk berwudhu. Mereka tidak menerima ijma’ karena ijma’ menurut mereka hanya terkait
34 Ibid,…h 212
35 Alauddin Koto, Ilmu Fiqhi dan Ushul Fiqih. Cet. 1; (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) h 160
36 Ibid,….h 164
denganhukum sanya shalat bagi orang dalam keadaan tidak adanya air, bukan keadaan tersedianya air37
Contoh Istiṣḥāb:
Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dan perempuan B, kemudian mereka berpisah dan berada di tempat yang berjauhan selama 15 tahun. Karena telah lama berpisah itu maka B ingin kawin dengan laki-laki C. Dalam hal ini B belum dapat kawin dengan C karena ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada perubahan hukum perkawinan mereka walaupun mereka telah lama berpisah. Berpegang ada hukum yang telah ditetapkan, yaitu tetap sahnya perkawinan antara A dan B, adalah hukum yang ditetapkan dengan Istiṣḥāb
37 Ibid
15
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Istihsan suatu hal yang baik dan dijadikan pedoman untuk melakukan suatu hal.
Istihsan merupakan suatu metode istinbath hukum yang dapat dijadikan hujjah, mazhab maliki dan hanafi menyatakan bahwa istihsan memiliki peranan yang penting dalam pengembangan hukum Islam.Istiṣḥāb merupakan landasan hukum yang masih diperselisihkan akan tetapi kita sebagai umat Islam sepatutnya kita mempelajari dan mengatahui setiap hukumhukum yang ada. Istiṣḥāb merupakan suatu hukum yang menganggap tetapnya status sesuatu seperti keadaanya semula selama belum terbukti sesuatu yang mengubahnya.
Dalam melihat hukum Istiṣḥāb, kita jangan melihat jangan melihat dari satu sudut pandang saja, akan tetapi mempejari secara cermat mengenai seluk beluk Istiṣḥāb itu sendiri. Dari pembahsan diatas bahwa istihsan dan istishab merupakan cara untuk menentukan suatu hukum tertentu. Istihsan yaitu mencari ketentua hukum yang lebih baik, sedangkn istishab merupakn menetapkan suatu hukum sesuai dengan nash sebelum ada dalil yang mengatakanya. Para jumhur ulama memperbolehkan pemakaian istihsan dan istishab.
DAFTAR PUSTAKA
Alauddin Koto, Ilmu Fiqhi dan Ushul Fiqih. Cet. 1; (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004)
Al-Ghazza lī, Abu H a mid Muh ammad Ibn Muhammad. Al-Mustaṣfā Min ‘Ilm Al- Uṣūl. Madinah: al-Ja mi’ah al-al-Isla miyyah, n.d.
Al-Jawziyyah, Ibn Qayyim. I’lām Al-Muwaqqi’īn ‘an Rabb Al-‘Ᾱlamīn. Riyad: Da r Ibn alJawzi, n.d.
Al-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Usûl al-Syari’ah, Juz 4 (Kairo: Dâr al-Fikr al-Arabi, t.th.) Effendi, Satria, Ushul Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005
Hasan Hamid Hasan, Nasabiyah al-Maslahat fi al-Fiqh al-Islamiyah (Mesir: Dâr alMaktabat al-Arabiyah, t.th.), h. 250.
Iskandar Usman, Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1994)
Louis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lugah wa al-A’lam (Beirut: Dar al-Masyriq, 1984) Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara
Penerjemah/ Penafsir al-Quran, 1973)
Muhammad Abu Zahrah, Uṣūl Al-Fiqh (Kairo: Da r al-Fikr al-’Arabī, n.d.), 297–99;
Abu Bakr Muh ammad ī bn Ah mad Ibn Abī Sahl Al-Sarakhsī, Uṣūl Al- Sarakhsī (Mesir: Da r al-Kita b al-‘Arabi, n.d.)
Nasrun Haroen, Ushul Fiqh (Jakarta: Publishing House, 1996) Rosyid, ‘Istiṣḥāb Sebagai Solusi Pemecahan Masalah Kekinian’
Umar Syihab, Hukum Islam dan Transformasi Pemikiran (Cet. 1; Semarang: PT.
KaryaToha Putra, 1996)