MAKALAH
METODOLOGI STUDI ISLAM
Islam dan Kemanusiaan
Dosen Pengampu: Dr. Masripah, M.SI.
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam Disusun oleh: Kelompok 10
M. Zaki ridho G. : 24062122038 Neng Andritya P : 240621220 Asti Hildawati : 24062122071
Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan
Universitas Garut 2023
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah dan puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang
telahmemberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah inidengan baik dan tepat waktu. Tanpa ridha dan petunjuk dari-Nya mustahil makalah inidapat dirampungkan.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Metodologi Studi Islam sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“Islam dan Kemanusiaan”.
Besar harapan kami bahwa makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai pegangan dalam mempelajari materi tentang Metodologi Studi Islam. Juga merupakan harapan kami dengan hadirnya makalah ini, akan mempermudah semua pihak dalam proses perkuliahan pada mata kuliah Metodologi Studi Islam.
Sesuai kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, kami mengharapkan saran dan kritik, khususnya dari rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Semoga segala daya dan upaya yang kami lakukan dapat, aamiin.
Garut, 07 Oktober 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I... 4
PENDAHULUAN...4
A. Latar Belakang...4
B. Rumusan Masalah...4
C. Tujuan Penulisan...4
BAB II...5
PEMBAHASAN... 5
A. Kedudukan Manusia di Antara Makhluk Allah...5
B. Tugas Kekhalifahan Manusia... 9
C. Pemahaman Islam tentang kemanusiaan dan nilai-nilai yang mendasarinya...10
DAFTAR PUSTAKA...11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah Agama yang hadir di muka bumi ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran tentang kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Tidak bisa dipungkiri, nilai- nilai humanisme universal memang menjadi pesan umum dari seluruh agama di dunia. Hanya saja, dalam Islam, kita dapat menemukan contoh praktisnya dalam kehidupan Rasulullah di seluruh dimensi kehidupan, dari tingkat individu hingga level negara.
Keesaan Tuhan dan kemanusiaan merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Kemanusiaan dalam Islam jauh sangat berakar dalam tradisi Islam seperti tercermin dalam fikih, tasawuf, dan akhlak. Perintah Allah agar manusia menghargai kemanusiaannya sangat terlihat dari perilaku Rasulullah SAW dalam keseharian beliau. Kita juga perlu menilik kembali tugas kita sebagai hamba Allah yang di percayakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, dengan cara berusaha mencontoh semua perilaku Rasulullah SAW serta memahami dengan sebenar-benarnya kedudukan kita serta makhluk Allah yang lain di bumi ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kedudukan manusia diantara makhluk Allah?
2. Apa saja tugas kekhalifahan manusia?
3. Apa saja Pemahaman Islam tentang kemanusiaan?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui kedudukan manusia diantara makhluk Allah 2. Untuk mengetahui tugas kekhalifahan manusia
3. Umtuk mengetahui pemahaman islam tentang kemanusiaan
BAB II PEMBAHASAN
A. Kedudukan Manusia di Antara Makhluk Allah
Manusia merupakan makhluk ciptaan Alloh SWT yang paling sempurna, Manusia memiliki akal yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan yg lainnya, kebanyakan ciptaan Tuhan yang ada di bumi ini hanya memiliki nafsu. Sehingga manusia pun dinobatkan sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan yang kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.
Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Jalaluddin Rakhmat (lihat Budhy Munawar-Rachman (ed.), 1994: 75-80) menulis sebuah artikel dengan judul "Konsep-konsep Antropologis". Dalam tulisannya, ia
mengatakan bahwa dalam Al- Qur'an terdapat tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia basyar, insan, dan al-nas
Basyar yang dalam Al-Qur'an berjumlah sebanyak 27 kali, memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologi. Adapun acuan pendapat ini adalah surat Ali Imran [3]
47, al-Kahfi [18] 110; Fushshilat [41] 6; al-Furqan [25] 7 dan 20, dan Yusuf [12] 31.
Sebagai makhluk biologi, manusia dapat dilihat dari perkataan Maryam kepada Allah:
“Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku tidak menyentuh basyar” (Ali Imran [3] 47). Nabi Muhammad Saw disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologi, ia seperti manusia lain. Allah berfirman, "Katakan lah, Aku mi manusia biasa (basyar) seperti kamu, hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu adalah Tuhan yang satu" (QS. al-Kahfi [18] 110 dan Fushshilat [41] 6) Orang-orang yang bertentangan dengan Nabi atau orang kafir selalu berkata, "tidak adanya ia basyar seperti kamu la makan apa yang kamu makan, dan minum apa yang kamu minum (QS. al-Ahzab [33]: 33).
Perkataan itu ditegaskan dalam surat al-Furqan [25 ] ayat 7. "Mereka berkata, 'tidaknya Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar, juga dalam surat al-Furqan [25]
ayat 20, "Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar." Dalam surat Yusuf [12] ayat 31 dikatakan bahwa
ketika para wanita Mesir terkagum- kagum terhadap ketampanan Yusuf as, mereka berkata, "Ya Allah, ini bukan basyar, tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang diutus."
Konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologi manusia: makan, minum, seks, dan berjalan di pasar Dari segi inilah, kita dapat percaya kepada 'Abd al-Jalil' Isa yang cenderung berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw melakukan ijtihad
sebagaimana sahabat melakukannya. Kecenderungan itu ia tuliskan dalam kitabnya, Ijtihad al-Rasul Shalla Allah alih wa al-Sallam.
Adapun kata msan, yang dalam Al-Qur'an disebut sebanyak 65 kali, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori: pertinu, insan dihubungkan dengan konsep manusia sebagai khalifah atau pemikul amanah, kedua, insan dihubungkan dengan predisposisi negatif manusia, dan ketiga, insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Semua konteks insan menunjuk pada sifat- sifat psikologis atau spiritual.
Pada kategori pertama, manusia digambarkan sebagai wujud makhluk istimewa yang berbeda dengan hewan. Oleh karena itu, dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa insan adalah makhluk yang diberi ilmu, makhluk yang diberi kemampuan untuk mengem bangkan ilmu dan daya nalarnya dengan nazhar (merenungkan. memikirkan, menganalisis, dan
mengamati perbuatannya). "Proses terbentuknya dari makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan dikaitkan dengan penyebutan insan Dalam hubungan inilah, Tuhan menjelaskan sifat insan yang tidak stabil.
Selanjutnya manusia dikatakan sebagai makhluk yang memikul amanah (QS. al- Ahzab [33]: 72). Karena manusia adalah makhluk yang menanggung amanah, maka insan dalam Al-Qur'an dihubungkan dengan konsep tanggung jawab. "Ia (insan) diharuskan berbuat baik," amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan kerjanya.
Oleh karena itu, insan-lah yang dimusuhi setan."
Dalam menyembah Allah, insan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Apabila ditimpa musibah, insan cenderung menyembah Allah dengan ikhlas; sedangkan jika mendapat keberuntungan, insan cenderung sombong, takabur, dan bahkan musyrik. (QS.
Yunus [10]: 12)
Dalam kategori yang kedua, insan dihubungkan dengan predisposisi negatif. Menurut Al-Qur'an, manusia cenderung zalim dan kafir; tergesa-gesa," bakhil;" bodoh, banyak mem- bantah dan mendebat; gelisah dan enggan membantu; ditak- dirkan untuk bersusah payah dan menderita, tidak berterima kasih," berbuat dosa, dan meragukan hari kiamat.
Apabila dihubungkan dengan kategori pertama, sebagai makhluk spiritual, insan menjadi makhluk paradoksal yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling berten- tangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan
mengikuti predisposisi negatif. Kedua kekuatan ini digambarkan dalam kategori yang ketiga.
Kategori yang ketiga adalah insan dihubungkan dengan proses penciptaannya.
Sebagai insan, manusia diciptakan dari tanah liat, saripati tanah, dan tanah. Demikian juga
basyar berasal dari tanah liat, tanah, dan air. Hal ini mendorong Jalaluddin Rakhmat untuk berkesimpulan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis
karakteristik basyari dan karakteristik insani. Yang pertama, unsur material, dan yang kedua unsur ruhani. Yang pertama unsur basyari, yang kedua unsur insani. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan, tidak boleh mengurangi hak yang satu atau melebihkan hak yang lainnya.
Konsep kunci yang ketiga adalah al-nas yang mengacu pada manusia sebagai
makhluk sosial. Ia disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 240 kali. Sebagai makhluk sosial, al- nas dapat kita lihat dalam beberapa segi.
Pertama, banyak ayat yang menunjukkan kelompok sosial dengan karakteristiknya.
Ayat-ayat ini lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-nas (dan di antara sebagian manusia). Dengan memperhatikan ungkapan tersebut, dalam Al-Qur'an ditemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman tetapi sebetulnya tidak beriman, yang mengambil sekutu terhadap Allah, yang hanya memikirkan kehidupan dunia, yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia tetapi memusuhi kebenaran, yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu, petunjuk, dan al-Kitab, yang menyembah Allah dengan iman yang lemah, yang menjual pembicaraan yang menyesatkan, meski- pun ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.
Kedua, dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-nas, Jalaluddin Rakhmat
menyimpulkan bahwa sebagian besar manusia mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun iman. Menurut Al-Qur'an, sebagian manusia tidak berilmu, tidak bersyukur, tidak beriman, fasik, melalaikan ayat-ayat Allah, kafir, dan kebanyakan harus
menanggung azab. Ayat-ayat in dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman, yang berilmu atau yang dapat mengambil pelajaran, yang bersyukur, yang selamat dari siksa Allah, dan yang tidak diperdayakan setan.
Ketiga, Al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk Al-Qur'an bukan hanya dimaksudkan kepada manusia secara perorangan, tetapi juga manusia secara sosial. Al-nas sering dihubungkan dengan petunjuk atau al-Kitab. (Q.S. al-Hadid [57]: 25) Setelah uraian yang cukup panjang untuk ukuran sebuah artikel, Jalaluddin Rakhmat menjelaskan bahwa manusia dalam artian basyar berkaitan dengan unsur material; ia sepadan dengan matahari, hewan, dan tumbuhan. Dengan sendirinya, ia musayyar (tunduk kepada takdir Allah).
Sedangkan manusia dalam artian insan dan nas, bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. Ia dikenai aturan-aturan tetapi diberikan kekuatan untuk tunduk dan melepaskan diri darinya.
Ia dengan sendirinya mukhayyar.
Selanjutnya, ia menjelaskan dua komponen yang membedakan hakikat manusia dengan hewan, yaitu potensi untuk mengembangkan iman dan potensi untuk
mengembangkan ilmu. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut amal saleh. Oleh karena itu, Jalaluddin Rakhmat berkesimpulan bahwa iman dan ilmu adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Meskipun demikian, dalam Al-Qur'an sudah
digariskan bahwa jumlah manusia yang mampu mengembangkan iman dan ilmu sekaligus sangatlah sedikit.
Singkatnya, kedudukan manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk biologis dan makhluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antara unsur ma- terial (basyari) dan unsur ruhani. Dari segi hubungannya dengan Tuhan, kedudukan manusia adalah sebagai hamba (makhluq); dan kedudukan manusia dalam konteks makhluk Tuhan adalah makhluk yang terbaik (Q.S. al-Tin [95]: 4).
1. Tugas manusia sebagai khalifah Allah
Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini dapat dipahami dari firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah: 30, “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “ sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. “ mereka berkata:” Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?” Tuhan berfirman:
sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Kata khalifah berasal dari kata “khalf” (menggantikan, mengganti), atau kata “khalaf”
(orang yang datang kemudian) sebagai lawan dari kata “salaf” (orang yang terdahulu).
Sedangkan arti kata khalifah adalah menggantikan yang lain, adakalanya karena tidak adanya (tidak hadirnya) orang yang diganti, dan adakalanya karena memuliakan (memberi penghargaan) atau mengangkat kedudukan orang yang dijadikan pengganti.
Pengertian terakhir inilah yang dimaksud dengan "Allahmengaja manusia khalifah di muka bumi", sebagaimana firman-Nya dalam QS Fathir ayat 39, QS Al an'am ayat 165.
Manusia adalah makhluk yang termula di antara mahluk- makhluk yang lain (QS Al Isra:
70) dan iz dijadikan oleh Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psihisnya (QS At Tim: 5), serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi potensi dase (fitrah) yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena itulah maka sudah selayaknya manusia menyandang tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (QS Hud: 61 ), serta mewujudkan keselamatan dan kebahgiaan hidup di muka bumi (QS al- maidah: 16), dengan cara beriamn dan beramal shaleh (QS Al-ra'ad: 29), bekerjasama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam menegakkan kesabaran (QS Al-Ashr: 1-3). Karena itu tugas
kekhalifahan merupakan tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia akhir zaman yang akan dating, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadanya (abdullah).
B. Tugas Kekhalifahan Manusia
1. Tugas kekhalifahan terhadap Diri Sendiri
Menuntut ilmu pengetahuan (QS Al-Nahl: 43), karena manusia itu adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/ diajar (QS al-baqarah 31) dan yang mampu mendidik /mengajar (QS Ali imran:187, al-an'am :51)
Menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan kesengsaraan (Q.S al-Tahrim : 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dn sebagainya
Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlak berasal dari kata khuluq atau khalq. Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/jasmani.
2. Tugas Kekhalifahan dalam Keluarga/Rumah Tangga
Membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah, mawaddah dan wa rahmah cinta kasih (Q.S ar-Rum: 21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-istri atau ayah-ibu dalam rumah tangga.
3. Tugas Kekhalifahan dalam Masyarakat
1) Mewagiudkan persatuan dan kesatuan umat (QS al-Hujurat: 10 dan 13, al- Anfal : 46)
2) Tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (QS al-Maidah : 2) 3) Menegakkan keadilan dalam masyarakat (Q.S al-Nisa: 135)
4) Bertanggung jawab terhadap mar ma'ruf nahi munkar (QS Ali Imran 104 dan 110) 5) Berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk di dalamnya adalah para fakir miskin serta anak yatim (Q.S al Taubah : 60, al Nisa' : 2)
6) orang yang cacat tubuh (QS 'Abasa: 1-11)
4. Tugas kekhalifahan terhadap alam (natur) meliputi:
Mengulturkan natur(membudayakan alam), yakni alam yang tersedia ini agar dibudayakan, sehingga menghasilkan karya- karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia.Menaturkan kultur (mengalamkan budaya), yakni budaya atau hasi karya manusia harus disesuaikan dengan kondisi aam, jangan sampai merusak alam atau lingkungan hidup, agar tidakmenimbulkan malapetaka bagi manusia dan lingkungannya.
Menglslamkan kultur (mengislamkan budaya), yakni dalam berbudaya harus tetap
komitmen dengan nilai- nilai Islam yang rahmatan lil-'alamin, sehingga berbudaya berarti mengerahkan segala tenaga, cipta, rasa dan karsa, serta bakat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran ajaran Islam atau kebenaran ayat-ayat serta keagungan dan kebesaran Ilahi.
C. Pemahaman Islam tentang kemanusiaan dan nilai-nilai yang mendasarinya 1. Pentingnya Akhlaq (Moralitas)
Pentingnya moralitas dan etika dalam islam, islam mengajarkan prinsip-prinsip moral yang kuat yang melibatkan kemanusiaan, seperti kasih sayang, keadilan, dan kebaikan.
2. Keadilan Dan kemanusiaaan
Keadilan dalam islam merupakan bagian penting dari pesan kemanusiaan islam, islam mengajarkan perlakuan adil terhadap semua individu, tanpa memandang latar belakang, agama, atau suku.
3. Pendekatan Terhadap Keanekaragaman
Melihat bagaimana islam memandang keanekaragaman manusia, islam mengajarkan bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan hawa, sehingga semua memiliki kesamaan esensial.
4. Hak Asasi manusia
Konsep hak asasi manusia dalam konteks islam dan bagaimana nilai-nilai islam seperti kebebasan beragama dan perlindungan terhadap individu tercermin dalam ajaran islam.
5. pandangan Tentang Keadilan Sosial
Pandangan islam tentang keadilan sosial dan tanggung jawab sosial umat muslim terhadap kemanusiaan