A. Kewarisan Adat
Menurut Prof. Betrand Ter Haar, hukum waris adat adalah proses penerusan dan peralihan kekayaan materiil dan immateriil dari keturunan20. Kemudian menurut Prof. Dr. R. Soepomo, hukum waris adat memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta
18 Elfrida R Gultom, Hukum Waris Adat di Indonesia, (Jakarta: Literata, 2010), h . 22.
19 Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet. 3, h. 281.
20 Zainuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h.1.
1. Hukum Warisan Adat
Hukum Adat di Indonesia tidak lepas dari pengaruh susunan masyarakat yang kekerabatannya berbeda. Hukum waris adat memiliki corak tersendiri dari alam pikiran masyarakat yang tradisional dengan bentuk kekerabatan yang sistem keturunannya patrilineal, matrilineal, dan bilateral atau parental. Walaupun bentuk kekerabatan yang sama, belum tentu berlaku sistem kewarisan yang sama.18
Hukum waris adat adalah salah satu aspek hukum dalam lingkup permasalahan hukum adat yang materiil dan immaterial, yang mana dari seorang dapat diserahkan kepada keturunannya sekaligus mengatur saat, cara dan proses peralihan dari harta tersebut.19
mengoperkan harta benda dan benda yang tidak berwujud (immaterielegoederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya.21 Sedangkan menurut Prof. H. Hilman Hadikusuma hukum waris adat adalah aturan-aturan hukum adat yang mengatur bagaimana harta peninggalan atau harta warisan diteruskan atau dibagi-bagi dari
Terdapat tiga asas dalam hukum waris adat, diantaranya :
1. Apabila seseorang meninggal dunia maka yang berhak mewarisi adalah anak-anaknya dan mereka yang garis keturunannya menurun apabila
21 Elfrida R Gultom, Hukum Waris Adat di Indonesia, h. 45.
22 Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia, h . 282.
23 Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia, h. 283.
pewaris kepada para ahli waris dari generasi ke generasi.22
Sebagaimana yang telah dikemukan di atas, jadi hukum waris adat adalah aturan dan norma hukum yang menetapkan harta kekayaan seseorang baik materiil dan nonmateriil yang dapat diserahkan kepada keturunannya.
Hal-hal yang penting dalam masalah hukum waris adat adalah bahwa pengertian warisan itu memperlihatkan adanya tiga unsur yang masing- masing merupakan unsur esensial yaitu, seseorang peninggal warisan yang pada waktu wafatnya meninggalkan warisan, seseorang atau beberapa orang para ahli waris yang berhak menerima kekayaan yang ditinggalkan, harta warisan atau harta peninggalan yaitu kekayaan yang ditinggalkan dan beralih kepada ahli waris.23
mendapatkan bagiannya masing-masing secara layak.
3. Tidak semua harta peninggalan dapat dibagi-bagi seperti tanah atau barang pusakalainnyatetapmerupakanhartakeluargasecara
bersama.24
Hukum waris adat di Indonesia memiliki sifat tersendiri. Hukum waris adat di Indonesia memiliki sifat sebagai berikut:
Tidak mengenal legitieme portie,25 hukum waris adat menetapkan dasar persamaan hak. Hak sama ini mengandung hak untuk diberlakukan sama oleh orang tuanya di dalam proses meneruskan dan mengoperkan harta benda.
Meletakkan dasar kerukunan pada proses pelaksanaan pembagian harta waris dengan memperhatikan keadaan istimewa setiap pewaris.
tidak ada anak maka yang mewarisi adalah orang tuanya atau saudara- saudaranya (garis keturunan naik menyamping).
2. Tidak ada ketentuan tentang hak tiap-tiap pewaris atas bagian-bagian yang mutlak yang telah ditentukan besarnya yang berdasarkan asas kerukunan dan keadilan sehingga tiap-tiap ahli waris akan
a. Harta warisan tidak boleh dipaksakan untuk dibagi antara para ahli waris.
24 Umar Said Sugianto, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2013), h.
127.
25Menurut pasal 913 KUHPerdata yang dimaksud dengan Legitime Portie adalah sesuatu bagian dari harta peninggalan yang harus diberikan kepada ahli waris, garis lurus menurut ketentuan undang-undang, sebagaimana pewaris yang meninggal tak diperbolehkan menetapkan sesuatu, baik selaku pemberian antara yang masih hidup, maupun selaku wasiat.
neneknya dan saudara orang tuanya.
g. Harta peninggalan bukan merupakan satu kesatuan harta warisan, melainkan wajib diperhatikan sifat atau macam asal-usul dan kedudukan hukum dari barang masing-masig yang terdapat dalam harta
peninggalan.26
Masing-masing unsur ini pada pelaksanaan proses penerusan serta pengoperan kepada yang berhak menerima harta kekayaan itu selalu menimbulkan persoalan seperti: Pertama, menimbulkan persoalan bagaimana dan sampai sejauhmana hubungan seseorang peninggal warisan dengan kekayaan yang dipengaruhi sifat lingkungan kekeluargaan di mana si peninggal warisan itu berada. Kedua, menimbulkan persoalan b. Harta peninggalan dapat bersifat tidak dibagi lebih dahulu atau
pelaksanaanya dapat ditangguhkan atau sebagian saja yang dibagi.
c. Memberikan kepada anak angkat, hak nafkah dari harta peninggalan orang tua angkatnya.
d. Anak perempuan, khususnya di Jawa, apabila tidak ada anak laki-laki dapat menutup hak mendapat bagian harta peninggalan kakek
bagaimana dan sejauhmana harus adanya tali kekeluargaan antara si peninggal warisan dan ahli waris. Ketiga, menimbulkan persoalan bagaimana serta sampai sejauhmana wujud kekayaan yang beralih itu
26 Umar Said Sugianto, Pengantar Hukum Indonesia, h. 128.
dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan di mana si peninggal warisan dan ahli waris bersama-sama berada.27
2. Sistem Kewarisan Adat
Di dalam sistem kewarisan adat dapat kita kenal beberapa sistem kewarisan diantaranya adalah sistem kewarisan individual, sistem
kebanyakan berlaku di masyarakat adat perantauan yang telah jauh dari kampungnya.30
27 Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia, h. 284.
28 Soeryono Soekanto, Hukum Adat Indonesia,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2015), cet. 2, h. 260.
29 Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia, h. 285.
30 Ter Haar, terjemahan Soebakti Poespotono, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, (Jakarta: Gunung Agung, 1983), h.281.
kewarisan kolektif dan sistem kewarisan mayorat.
Sistem kewarisan Individual yaitu sistem kewarisan di mana para ahli waris mewarisi secara perorangan, seperti suku Batak, Jawa, Sulawesi, dan lain sebagainya.28 Cirinya adalah bahwa harta peninggalan dapat dibagi-bagikan diantara para ahli waris seperti pada masyarakat bilateral.29
Para ahli waris bebas menentukan kehendaknya atas warisan yang menjadi bagiannya. Kelemahan dari sistem ini bukan saja pecahnya harta warisan dan merenggangnya hubungan kekerabatan antara para ahli waris yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat menyebabkan lemahnya asas hidup kebersamaan dan tolong menolong antara keluarga yang satu keturunan, yaitu timbulnya perselisihan antara keluarga pewaris. Hal ini
Sistem kewarisan Kolektif yaitu harta peninggalan itu diwarisi secara bersama-sama, misalnya harta pusaka tidak dimiliki atau dibagi- bagikan hanya dapat dipakai atau menjadi hak pakai.31 Hanya penerusan dan pengalihan hak penguasaan atas harta yang tidak terbagi-bagi itu dilimpahkan kepada anak-anak tertua yang bertugas sebagai pemimpin
Sedangkan kelemahan dari sistem kewarisan kolektif ini adalah menimbulkan cara berfikir yang sempit dan kurang terbuka bagi orang luar, karena tidak selamanya suatu kerabat memiliki kepemimpinan yang
31 Elfrida R Gultom, Hukum Waris Adat di Indonesia, h. 47.
32 Arwin Rio Saputra, dkk, Persepsi Masyarakat Semende Terhadap Harta Warisan Dengan Sistem Tunggu Tubang. Jurnal sosiologi Mahasiswa Universitas Lampung.
(http://publikasi.fisip.unila.ac.id/index.php/sosiologi/article/view/167.2014). Diakses pada 13 November 2016
rumah tangga atau kepala keluarga menggantikan kedudukan ayah atau ibu sebagai kepala keluarga.32 Jadi harta peninggalan diteruskan dan dialihkan pemilikannya dari pewaris kepada ahli waris sebagai kesatuan yang tidak terbagi-bagi penguasaan dan pemilikannya, melainkan setiap ahli waris hanya berhak untuk mengusahakan, menggunakan atau mendapatkan hasil dari harta peninggalan itu.
Kebaikan dari sistem kewarisan kolektif ini adalah apabila fungsi harta kekayaan itu dipergunakan untuk kelangsungan hidup keluarga besar dan masa seterusnya, tolong menolong antara keluarga yang satu dengan yang lain di bawah pimpinan kepala kerabat yang penuh tanggung jawab.
dapat diandalkan dan aktifitas hidup yang makin meluas bagi para anggota kerabat.33
Sistem kewarisan mayorat yaitu harta peninggalan diwariskan keseluruhan atau sebagian besarnya pada salah satu anak saja. Sistem kewarisan mayorat dibagi dua yaitu:34 Pertama, mayorat laki-laki di mana
33 Tamakiran, Asas-Asas Hukum Waris menurut Tiga Sistem Hukum, (Bandung: Pionir Jaya, 1992), h.79.
34 Soerjono Soekanto dan Soleman b. Taneko , Hukum Adat Di Indonesia, (Jakarta:
CV.Rajawali, 1981), h. 285-286.
35 Pepadun adalah adalah salah satu dari dua kelompok adat besar dalam masyarakat Lampung
36 Elfrida R Gultom, Hukum Waris Adat di Indonesia, h. 47.
37 Umar Said Sugianto, Pengantar Hukum Indonesia, h. 286.
harta peninggalan jatuh kepada anak laki-laki seperti berlaku di lingkungan masyarakat adat Lampung, terutama yang beradat pepadun,35 atau juga berlaku sebagaimana di Teluk Yos Soedarso Kabupaten Jayapura lrian Barat. Kedua, mayorat perempuan yaitu harta peninggalan jatuh kepada anak perempuan tertua36 seperti berlaku di lingkungan masyarakat adat Semende Sumatera Selatan.
Ketiga sistem kewarisan ini masing-masing tidak langsung menunjuk kepada suatu bentuk susunan masyarakat tertentu di mana sistem kewarisan ini berlaku, sebab suatu sistem itu dapat dikemukakan juga dalam berbagai bentuk susunan masyarakat ataupun dalam suatu sistem kewarisan dimaksud. 37
B. Adat Tunggu Tubang
1. Pengertian Adat Tunggu Tubang
Tunggu Tubang terdiri dari dua kata yang sangat berlainan artinya yaitu, “Tunggu” dan “Tubang”. Kata “Tunggu” dapat diartikan menanti atau menunggu, sedangkan kata “Tubang” berasal dari bahasa semende yang memiliki arti sepotong bambu, yang tutupnya terbuat dari bambu
anak perempuan tertua.
Adat atau tradisi Tunggu Tubang merupakan wujud kebudayaan, norma atau seperangkat aturan yang diyakini oleh masyarakat Semende,
38 Yuni Sartika, Kadar Mahar Perkawinan terhadap Anak Tunggu Tubang di Kecamatan Semende Darat Muara Enim di tinjau dari Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi. Skripsi, (http://eprints.radenfatah.ac.id/648/ 07 juni 2016). Dikases pada 23 Desember 2016
39 Habidin, Pelaksanaan Kewarisan Tunggu Tubang Masyarakat Adat Semende dalam Persfektif Hukum Islam. Tesis, (http://eprints.walisongo.ac.id/521/2012). Diakses pada 20 Desember 2016.
yang kegunaannya untuk menyimpan alat-alat atau bahan-bahan dapur.38 Tunggu Tubang juga berarti menunggu barang yang dijadikan keluarga sebagai tempat untuk menyimpan bahan keperluan sehari-hari ini merupakan makna kiasan dari menunggu harta orang tua. Dinisbahkan kepada anak perempuan tertua pada masyarakat Suku Semende yang garis keturunannya dari ibu. Dengan demikian, seorang yang menjadi Tunggu Tubang harus sanggup memikul berbagai masalah dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, baik yang berat maupun yang ringan.39
Jadi, Tunggu Tubang adalah suatu adat yang terdapat pada masyarakat Semende yang masih berlaku sampai sekarang dan berjalan secara turun temurun, di mana harta pusaka warisan dari nenek moyang jatuh kepada
yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang yang dibebankan dan diberlakukan pada anak perempuan tertua dalam sebuah keluarga yang harta warisannya tidak dapat dibagikan.
Dalam penguasaan harta, anak yang mendapatkan sebutan Tunggu Tubang diawasi dan dibantu anak laki-laki yang disebut Payung Jurai.
Jabatan Tunggu Tubang hanya bisa diterima oleh orang-orang tertentu
menduduki jabatan sebagai anak Tunggu Tubang yang dihadiri oleh apit jurai41 yang bertujuan agar harta Tunggu Tubang tetap terjaga dan terpelihara.
40 Kurnaesih, Hak dan Kewajiban Anak Tunggu Tubang dalam Adat Semende. Jurnal (http://alhukama.uinsby.ac.id/index.php/alhukama/article/view/130/2015). Diakses pada 23 Desember 2016.
41Apit jurai adalah sebutan istilah keluarga dekat maupun saudara jauh pada masyarakat Semende.
saja. Adapun yang berhak menerima jabatan tersebut adalah:40
a) Anak perempuan tertua sampai turun temurunnya yang disebut dengan istilah “Anak Tue” .
b) Bagi anak tunggal, maka secara otomatis pula menjabat sebagai Tunggu Tubang. Hal ini dikuatkan oleh Mr. B. Ter Haar yang menerangkan: “Di kalangan orang-orang Semende dan Rebang di Sumatera Selatan yang susunannya berhukum ibu, maka anak tertua bersama inti kekayaannya mempertahankan hukum ibu dengan jalan bentuk perkawinan yang dipilihnya (Tunggu Tubang).
c) Jika dalam keluarga tidak ada keturunan, maka dilaksanakan musyawarah keluarga untuk menentukan siapa yang berhak untuk
42 HS Dova, dkk, Peranan Tokoh Adat dalam Mempertahankan Adat Tunggu Tubang pada Masyarkat Semende. Jurnal ( 02 januari 2016). Diakses pada 27 Desember 2016.
d) Jika dalam keluarga hanya ada anak kandung laki-laki saja, maka dilaksanakan musyawarah keluarga untuk menentukan siapa yang akan menjabat sebagai anak Tunggu Tubang.
2. Macam-macam Tunggu Tubang
Adapun macam dari adat Tunggu Tubang terdiri dari:
sebagai berikut :43
1. Memegang pusat jale (jala), yang artinya bila dikipaskan batu jale itu bertaburan dan apabila ditarik kembali bersatu. Dengan kata lain,
43 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, ( Palembang:Pustaka Dzumirroh,1997), h. 138
1. Tunggu Tubang Ulucunjung, yaitu Tunggu Tubang yang menduduki keturunan kedua atau ketiga yang lazim disebut Tunggu Tubang turun- temurun.
2. Tunggu Tubang Tihi, yakni Tunggu Tubang yang baru satu generasi yaitu anak dari anak perempuan yang nomor dua dan seterusnya.
3. Tunggu Tubang Tugane, yaitu Tunggu Tubang yang betul-betul menuruti dan menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.
4. Tunggu Tubang Ngancur Kapur, yaitu Tunggu Tubang yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, atau lazim disebut
“Tunggu Tubang Dik Belakham”.42
Orang yang menjadi Tunggu Tubang harus mengamalkan dasar-dasar atau fungsi Tunggu Tubang. Dasar atau fungsi Tunggu Tubang itu adalah
menghimpun semua sanak keluarga, baik yang jauh maupun yang dekat.
2. Memegang kapak, artinya segala pengurusan tidak boleh berbeda-beda antara kedua belah pihak, tidak boleh memihak kepada siapapun baik dari keluarga dari suami ataupun keluarga dari pihak isteri. Yang
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang akan menjadi Tunggu Tubang haruslah bisa menjadi panutan bagi sanak saudara terutama adik-adiknya, harus bersikap adil, dapat
44 Entue Meraje adalah istilah bahasa Semende yang artinya kakak atau adik dari anak perempuan yang mendapat julukan Anak Tunggu Tubang
keduanya itu harus adil, tidak boleh berat sebelah.
3. Harus bersifat balau (tombak), yang artinya kalau dipanggil atau diperintahkan harus segera melaksanakan, yang menurut kebiasaannya, perintah itu datang dari Entue Meraje.
4. Harus bersifat guci yang artinya orang yang menjadi Tunggu Tubang harus tabah dalam menghadapi segala macam persoalan yang menimpa diri mereka.
5. Memelihara tebat (kolam) yang artinya menggambarkan ketenangan dan ketentraman dalam rumah tangga, tidak membocorkan rahasia rumah tangga. Walaupun ada masalah dalam rumah tangga, harus dijaga jangan sampai bocor, terutama kepada Entue Meraje.44 Kesemuanya ini harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
diandalkan, sabar dalam menghadapi segala persoalan dalam rumah tangga dan dapat dipercaya.45
Menurut Chopa CH Mulkan, selain memiliki kewajiban dan tanggung jawab, Tunggu Tubang memiliki larangan-larangan yang harus dijauhi, larangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :46
1. Menolak keluarga yang datang ke rumahnya.
Tubang ini pada awalnya memang menyebabkan anak laki-laki yang telah berkeluarga “mencar” atau mencari sumber kehidupan keluarga (atau yang sering disebut bahasa semendo anak ambur-amburan atau semendo
45 Muhammad Hamka, dkk, Sikap Masyarakat terhadap Anak Tunggu Tubang di Desa Pulau Panggung Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim. Jurnal, (http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/JKD/article/view/1951/2014). Diaskes pada 12 November 2016.
46 Alip Susilowati Utama, Budaya Politik Perempuan Semende di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Tesis, (http://digilib.unila.ac.id, 26 Oktober 2016). Diakses pada 20 Desember 2016.
2. Berperilaku kasar terhadap keluarga.
3. Menjual harta keluarga atau harta tubang.
4. Menggadaikan harta keluarga atau harta tubang tanpa meminta izin dan pertimbangan dari jenang jurai (musyawarah keluarga).
5. Menelantarkan saudara-saudaranya sekandung yang belum berkeluarga yang berada di bawah asuhannya sebagai pengganti orang tua.
6. Membuka rahasia keluarga.
Falsafah Tunggu Tubang merupakan Pusat Jala, artinya di sanalah tempat seluruh keluarga berkumpul. Hal ini merupakan simbol bahwa Tunggu Tubang utamanya adalah rumah sebagai tempat jala (tempat pulang) dan berkumpulnya sebuah keluarga. Adanya konsep Tunggu
rajo-rajo). Pada umumnya pencarian sumber kehidupan baruini sangat bergantung kepada hutan yang kemudian dirambah, hal ini terpaksa dilakukan karena kurangnya tingkat pendidikan dan kesadaran akan lingkungan dari masyarakat Semende.47 Berbeda dengan saat ini, di manaanak laki-laki Suku Semende telah menyadari akan pentingnya pendidikan. Hal ini yangmenyebabkan anak laki-laki Suku Semende tidak
minta persetujuan orang tua dalam memanfaatkan harta. Namun setelah orang tua meninggal, jika ingin membelanjakan hasil dari harta Tunggu
47 M. Rendy Praditama, Sikap Masyarakat terhadap Anak Tunggu Tubang di Desa Pulau Panggung Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim. Skripsi (http://digilib.unila.ac.id/760/04 Febuari 2014). Diaskes pada 12 November 2016.
48 Hasil wawancara pribadi dengan Tokoh Adat Semende Drs. H. Asy’ari, di Waydadi, 20 April 2017.
lagi mencari kehidupan di hutan, akan tetapi kebanyakan dari mereka pada saat ini yang telah menjadi Wiraswasta, Polisi, PNS dan lain sebagainya.
3. Hak dan Kewajiban Pewaris Tunggu Tubang
Tunggu Tubang diberikan hak dari kedua orang tuanya yaitu untuk memakai, menempati, memelihara dan mengambil harta pusaka tersebut tetapi tidak berhak menjualnya, karena harta tersebut milik bersama seluruh anggota kerabat.48
Hak anak Tunggu Tubang setelah kedua orang tuanya meninggal dunia yaitu tetap melanjutkan hak yang telah diberikan kepadanya. Hanya saja bedanya, ketika kedua orang tua masih hidup, anak Tunggu Tubang masih
Tubang dalam jumlah besar, maka ia bisa langsung membelanjakannya dengan syarat yang digunakan dalam hal kebaikan.49
Kewajiban yang harus dijalankan dari anak Tunggu Tubang yaitu memelihara dan mengurusi harta pusaka yang telah diwariskan kepadanya, memelihara dan mengurus kedua orang tua, mertua, kakek, nenek, serta membiayai adik-adik yang belum dapat hidup mandiri dan
Harta warisan yang menjadi harta Tunggu Tubang pada masyarakat Semende terdiri dari rumah, tanah dan sawah. Sedangkan harta selain
49 M. Rendy Praditama, Sikap Masyarakat terhadap Anak Tunggu Tubang di Desa Pulau Panggung Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim. Skripsi (http://digilib.unila.ac.id/760/04 Febuari 2014). Diaskes pada 12 November 2016.
50Hasil wawancara pribadi dengan tokoh agama dan ketua masyarakat Adat Semende Drs.
H. Darmi Ujang, di Waydadi, 19 April 2017.
51 Hasil wawancara pribadi dengan Tokoh Adat Semende Drs. H. Asy’ari, di Waydadi, 20 April 2017.
menjaga hubungan baik kepada keluarga besar.50
Berdasarkan hak dan kewajiban bahwa adanya pembagian harta waris Tunggu Tubang bertujuan, agar harta pusaka warisan dari nenek moyang yang bersifat turun temurun tetap terjaga dengan baik, dan sebagai tempat berkumpulnya sanak keluarga.
4. Pembagian Waris dalam Adat Tunggu Tubang
Suku Semende dalam pembagian waris adat Tunggu Tubang tidak mengatur secara rinci tentang pelaksanaannya, karena dalam adat Tunggu Tubang pembagian harta warisan disesuaikan dengan adat saja yakni secara turun temurun yang otamatis jatuh kepada anak perempuan tertua dan tidak ada upacara dalam pembagian adat Tunggu Tubang tersebut.51
harta Tunggu Tubang seperti uang dibagi sama rata kepada setiap ahli waris.52
Pembagian harta Tunggu Tubang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian:53
1. Ketika pewaris masih hidup, di mana harta warisannya dapat diberikan kepada anaknya, yaitu anak perempuan tertua (Tunggu Tubang) yang
suatu permintaan dari salah seorang dari ahli warisnya. Dan kewajiban anak Tunggu Tubang setelah orang tuanya meninggal ia mengambil alih semua tanggung jawab orang tuanya dan mengurusi saudara- saudaranya sampai menikah.
52 Hasil wawancara pribadi dengan tokoh agama dan ketua masyarakat Adat Semende Drs.
H. Darmi Ujang, di Waydadi, 19 April 2017.
53 Hasil wawancara pribadi dengan pelaku Tunggu Tubang Hj. Sukmawati, M.Pd, di Waydadi, 19 April 2017.
biasanya dilakukan setelah anaknya melangsungkan pernikahan atau memasuki umur dewasa, dialah yang berhak melanjutkan dan meneruskan harta kekayaan dari orang tuanya yang berasal dari harta turun-temurun itu. Ketika, orang tua masih hidup, ahli waris yang menduduki sebagai Tunggu Tubang jika ada sesuatu atau hal yang berkaitan tentang harta Tunggu Tubang, ia harus minta persetujuan terlebih dahulu kepada orang tuanya meskipun harta tersebut sudah menjadi miliknya.
2. Setelah orang tuanya meninggal, karena menurut adat kebiasaan Suku Semende, harta peninggalan dapat diwariskan oleh setiap ahli warisnya, yaitu dari seluruh anak-anaknya yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya, adapun hal tersebut dapat dilaksanakan karena adanya
Anak perempuan pertama yang tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai Tunggu Tubang dapat digantikan dan dilakukan dengan jalan musyawarah keluarga. Musyawarah tersebut bertujuan untuk menentukan siapa yang dapat menggantikan dan berhak menduduki kewajiban sebagai anak Tunggu Tubang. Harta warisan yang tidak termasuk dari harta Tunggu Tubang dibagi rata kepada semua ahli waris. Begitu halnya jika di
Tubang) hanya boleh mengambil manfaat dari harta itu saja. Apabila suatu waktu ada keinginan dan keperluan dari anak Tunggu Tubang untuk menjual harta Tunggu Tubang tersebut, maka ia harus meminta izin kepada entue meraje (paman-pamannya) karena harta tersebut bukan
54Hasil wawancara pribadi dengan pelaku Tunggu Tubang Rusmianah, di Waydadi, 20 April 2017.
55Hasil wawancara pribadi dengan pelaku Tunggu Tubang Hj. Sukmawati, M.Pd, di Waydadi, 19 April 2017.
dalam keluarga tidak memiliki anak perempuan, maka keluarga bermusyawarah dengan anak-anaknya dan menanyakan kepeda mereka siapa yang sanggup menduduki jabatan sebagai Tunggu Tubang.54
Selanjutnya, Anak perempuan yang memiliki kedudukan sebagai Tunggu Tubang harus tetap tinggal di daerah tanah warisan yang menjadi harta tungguan dari nenek moyang. Mereka tidak boleh meninggalkan harta Tunggu Tubang tersebut, karena ketika mereka meninggalkan harta Tunggu Tubang kehidupan mereka menjadi tidak tenang dan diyakini kehidupan mereka akan tertimpa banyak masalah.55
Harta yang menjadi harta Tunggu Tubang itu tidak boleh dijual, digadaikan, dihibahkan oleh anak Tunggu Tubang, ia (Anak Tunggu
milik individu akan tetapi milik bersama yang sudah menjadi harta pusaka secara turun temurun.56
C. Suku Semende
1. Pengertian Semende
Menurut Thohlon Abd Rauf, secara bahasa kata Semende memiliki
kalimat syahadat. Kedua,kata Semende merupakan gabungan dari kata Semahnde, yang artinya rumah kesatuan milik bersama. Semende mengajarkan supaya setiap pribadi merasa terikat dengan rumah keluarga, dan rumah keluarga ini mesti terikat dalam satu kesatuan dengan rumah induk yang secara adat Semende dinamakan Rumah Tunggu Tubang.
56 Hasil wawancara pribadi dengan Tokoh Adat Semende Drs. H. Asy’ari, di Waydadi, 20 April 2017.
57 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, hal.12-13.
tiga pengertian, yakni : Pertama, Semende berarti akad nikah atau kawin.
Kedua, kata Semende merupakan rangkaian dari kata same dan nde. Same artinya sama dan nde artinya sama miliki atau kepunyaan bersama.
Ketiga, kata Semende berasal dari kata Semahnde, Se artinya satu atau kesatuan, mah artinya rumah, dan nde artinya milik, kepunyaan, atau hak.
Jadi semahnde maknanya rumah kesatuan milik bersama.57
Adapun pengertian Semende secara istilah memiliki tiga pengertian juga yaitu : Pertama, Semende sama dengan akad nikah, dengan artian ikatan tali Allah dan tali Rasulullah, karena itu Semende juga berarti syahâdatain yang menjelaskan bahwa orang-orang Semende telah memiliki kesaksian bahwa Allah Yang Maha Esa sebagai Tuhannya dan Muhammad SAW sebagai Rasulullah yang di buktikan melalui dua
Ketiga, kata Semende merupakan gabungan dari kata Samende, yang berarti sama memiliki atau persamaan kedudukan. Jelasnya bahwa Semende mengajarkan semua manusia laki-laki dan perempuan memiliki persamaan derajat dihadapan Allah SWT dan sesama manusia dengan pembagian tugas dalam persamaan kewajiban dan persamaan hak yang disesuaikan dengan fitrah dan kemampuan masing-masing.58
karîmah dan aqîdah Islâmiyah. Pada masa remajanya, beliau mendapat gemblengan para ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya.
58 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h. 14-16
59 M. Rendy Praditama, Sikap Masyarakat terhadap Anak Tunggu Tubang di Desa Pulau Panggung Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim. Skripsi, (http://digilib.unila.ac.id/760/04 Febuari 2014). Diakses pada 12 November 2016.
2. Sejarah Semende
Menurut H. Kohafah, bahwa Suku Semende mulai ada pada tahun 1650 M atau tahun 1072 H yang dibentuk oleh Puyang yang bernama Syekh Nurqadim al-Baharuddin. Dia lebih dikenal dengan sebutan Puyang Awak. Ditambahkan oleh Kohafah, bahwa Puyang Awak merupakan keturunan Sunan Gunung Jati melalui silsilah Puteri Sulung Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Mpu Hyang Dade Abang. Beliau mewarisi ilmu kewalian dan kemujahidan Sunan Gunung Jati.59
Syekh Nurqadim al-Baharuddin dan ketiga adiknya dibesarkan oleh ayah dan bundanya di Istana Pelang Kedidai, yang terletak di Tanjung Lematang. Pada waktu kecilnya, beliau dididik akhlâq al-
Ketika tiba masanya untuk menikah, ia menyunting seorang gadis dari Muara Siban, sebuah desa di kaki gunung Dempo. Setelah mufakat dengan mantap, beliau sekeluarga beserta keluarga adik-adiknya dan keluarga para sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi pusat daerah Semende.60
Adapun yang melatar belakangi berdirinya Semende adalah sebagai berikut :62
60 I Suntoro, dkk, Sikap Masyarakat terhadap Anak Tunggu Tubang di Desa Pulau Panggung Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim. Jurnal, (http://digilib.unila.ac.id/760/2013). Diakses pada 12 November 2016.
61M. Rendy Praditama, Sikap Masyarakat terhadap Anak Tunggu Tubang di Desa Pulau Panggung Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim. Skripsi, (http://digilib.unila.ac.id/760/04 Febuari 2014). Diakses pada 12 November 2016.
62 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h. 24.
Lama-kelamaan tersebarlah berita bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang wali Allah yang bernama Syekh Nurqadim al- Baharuddin, banyaklah para penghulu atau pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Nurqadim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh. Setelah banyak orang yang berdiam di sana, diresmikanlah talang itu oleh Ratu Agung Dade Abang menjadi dusun yang dinamakan Pardipeyang artinya “Para penghulu agama”. Peresmian itu terjadi pada tahun 1650 M atau 1072 H. Pada akhirnya, nama Para Dipe ini lebih mudah disebut orang dengan Pardipe. Di Pardipe inilah, Syekh Nurqadim al-Baharuddin Puyang Awak bersama para keluarga dan sahabatnya memulai penerapan ajaran Islam, sekaligus penerapan ajaran adat yang mereka namakan Semende.61
1. Kemunduran kekuasaan umat Islam di Barat, Timur Tengah dan Timur Jauh, khususnya di Asia Tenggara.
2. Pimpinan, persiapan gerakan menghadap serbuan Perang Salib dari Bangsa Barat.
3. Nusantara Semende Raye sudah mulai diserbu tentara Salib Belanda, Portugis, Inggris, Spanyol, Prancis dengan cara perampokan
g. Masih ada suku bangsa melayu dan daerah yang sangat potensial dan strategis keadaan kemuslimannya dalam tingkatan mu’allaf yang sangat memerlukan Ulama pemimpin.
h. Ratu kesultanan Aceh sudah di bawah pengaruh Portugis sedangkan Kerajaan Malaka telah jatuh dalam penjajahan Portugis, Kesultanan Mindanau telah dirampas Spanyol, Bengkulu mulai dicaplok Inggris, ekonomi, pecah belah untuk mencapai perampasan kekuasaan menuju penghancuran Islam secara total dan terus menerus.
d. Kebangsawanan Kesultanan di Nusantara Semende Raye mabuk nafsu kemewahan dunia dan sangat takut untuk mati.
e. Kesultanan dan Umat Islam bangsa melayu sedang dilanda musibah besar berupa: Tarekat, Tasawuf, dan Filsafat. Syirik yang menghancurkan Aqidah dan Ahlak yakni paham bahwa manusia dapat menyatu dengan Allah, paham emanasi, dan tajali.
f. Adanya persengkokolan Yahudi dan Cina untuk menghancurkan Islam melalui penghancuran ekonomi Islam yakni menghancurkan semua usaha umat Islam yang memungkinkan mereka mampu berzakat dan berinfaq fisabilillah.
Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur telah dirampok Belanda, dan lain-lain.
Tokoh-tokoh yang berkontribusi dalam berdirinya Semende ini di antaranya adalah Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin, Kiyai Masende Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin, dan Baginde Hulu Lurah Kerie Arasy.
4. Ajaran Semende
Ajaran Adat Semende disesuaikan dengan ajaran Islam (ilmu tauhid dan syariat Islam) untuk keselamatan dunia akhirat. Jadi adat Semende itu termasuk kebudayaan Islam. Di dalam Al-Qur'an berbunyi
63 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h.25-27.
3. Tujuan Pendirian Ajaran Semende
Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa tujuan berdirinya ajaran Semende adalah:63
a. Gerakan Da’wah dan Pedidikan Islam.
b. Hijrah penyusunan kekuatan dan Jihad fisabilillah menghadapi perampok penjajah kafir Barat.
c. Mewujudkan lembaga kesatuan kepemimpinan agama, peradaban, tungguan perjuangan dan kebudayaan. Untuk mengerjakan amar ma’ruf nahi mungkar yang melekat didalam tubuh dan prilaku umat Islam.
artinya “bertaqwalah kepada Allah dengan mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarang.”64
Dalam Adat Semende terdapat perintah atau suruhan dan larangan.
Adapun perintah atau suruhan dari ajaran Semende diantaranya menganut atau memeluk agama, beradat Semende, beradab Semende, dan harus
Pimpinan terdiri dari Mas Penghulu Geci Mataram, anggotanya:
Syaikh Putre Sunan Bonang dan Waliullah Nakanadin.
64 Habidin, Pelaksanaan Kewarisan Tunggu Tubang Masyarakat Adat Semende dalam Persfektif Hukum Islam. Tesis, (http://eprints.walisongo.ac.id/521/2012). Diakses pada 20 Desember 2016.
65 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h.28
membela kebenaran. Sedangkan larangan dari ajarannya terdiri dari:
bahwa sesama Tunggu Tubang pantang untuk dimadukan, karena mengingat tanggung jawabnya berat, tidak boleh menikah dengan satu dusun, sirik, dan melanggar larang.
Ajaran Semende adalah sistem hasil dari musyawarah dengan penguasa research yang terdiri dari beberapa ajaran diantaranya :
1) Tauhid Semende yang meliputi tentang:65
a) Pendalaman pengajian Al-Qur’an, Terjemah, dan Tafsirannya.
b) Penghayatan Hadist Shahih dengan sarahnya.
c) Pemahaman yang benar tentang Asmaul Husna.
d) Pemahaman sifat Allah yang 20.
2) Adat Semende yang meliputi tentang :66
a) Mengokohkan para pemimpin Agung Jagat Lampike Empat Merdike Due (Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang).
b) Menyempurnakan lembaga Adat Keluarga Jagat Bersemah Lebar menjadi Lembaga Adat Semende Meraje Anak Belai.
rumah keluarga laki-laki turun temurun.
Pimpinan terdiri dari Ahmad Pendekar dan Pagar Ruyung Minang Kabau, anggotanya: Puyang Belulus Jemaring, Jagat Bersemah Lebar, Baginde Kerie Lebar.67
66 Iskandar, Kedudukan Anak Tunggu Tubang dalam Pewarisan Masyarakat Semende di Kota Palembang. Tesis, (http://eprints.undip.ac.id/10748/2003). Diaskes pada 20 Desember 2016.
67Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h. 30.
Menyempurnakan Lembaga Adat Minang Kabau menjadi Adat Smende, Meraje Anak Belai.
Menyesuaikan Adat Melayu lama dengan cahaya (petunjuk) Al-
Qur’an dan Sunah Rasullah SAW yang kemudian termasyur dengan nama Selimbur Caye.
e) Menetapkan status adat Berumah Tangga dalam Keluarga setelah akad menikah: semendean yaitu berkedudukan yang sama baik dirumah orang tua atau mertua (anak adalah keturunan Bapak sekaligus keturunan Ibu), teambik anak yaitu laki-laki yang dinyatakan berkedudukan dirumah keluarga perempuan turun-
temurun,yaitu ngangkit perempuan dinyatakan berkedudukan di
3) Adab Semende yaitu Akhlaqul Karimah yang intinya menjaga :68 a) Sikap seluruh tubuh dan bagian anggota badan.
b) Sikap rohani, fikiran, perasaan, kemauan dan lain-lain.
c) Tingkah laku.
d) Peribahasa.
keluarga, saudara, tetangga dan kaum muslimin dengan tenaga, harta maupun nyawa.
68 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h. 32.
69 H Setiawan, dkk, Upaya Pelestarian Adat Semende di Desa Ulu Danau, Provinsi Sumatera Selatan. Journal of Urban Society's Arts, (journal.isi.ac.id/02 Oktober 2016). Diakses pada 20 Febuari 2017.
70 Tholhon Abd Ra’uf, Jagat Bersemah Lebar Semende Panjang, h. 40.
4) Tungguan Semende
Tungguan Semende adalah mengetahui Tungguan, berarti mempelajari tentang kesetiaan, janji, sumpah ucapan, jihad, kepahlawanan. Tungguan menjelaskan pembelaan pribadi dan semua warga terhadap rukun Semende ajaran Puyang Awak yakni pembelaan atau pengorbanan dengan salah satu, kedua, atau ketiganya dari harta, tenaga, dan nyawa.69
Tungguan Semende adalah Tungguan Jagat Bersemah Panjang, sendi Tungguan menurut Puyang Awak ialah Betunam (Memiliki yang enam), yakni:70
a) Begantian, ialah cepat tanggap, peka waspada, siap membela
b) Bepatian, ialah memiliki cita dan citra luhur, hidup dalam rencana shaleh, menjaga harga diri, keluarga, suku, bangsa, dan agama.
c) Bersindat, artinya orang yang tahu dengan garis batas, dapat membedakan dan bersikap yang benar terhadap, tua muda, laki-
teladan, langsung mendidik, amar ma’ruf nahi munkar pada generasi muda atau anak buahnya.
laki, perempun, suami-isteri, nenek-cucu, mertua-mantu, orang tua, kakak-adek, dan lain- lain.
Bemalu, artinya memiliki malu sebagai iman, sebagaimana sabda Rasullah SAW “Al-Haya’u Minal Iman”. Malu apabila tidak Bepatian,
Besingkuh, adalah wujud ketaatan pada perintah Allah “Laa taqrobuz Zina” (jangan mendekati zina) yaitu segala sikap rohani, jasmani, tingkah laku, dan pribahasa wajib ada dalam jalan lurus.
Besundi, adalah kelanjutan watak pribadi Besingkuh dalam
tingkat yang lebih tinggi, yakni dalam keteladanan orang tua, pemimpin agama, dan pemimpin adat. Bersikap, memberi