MAKALAH
MOTIVASI DAN AKTIVITAS
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah
“Etika Profesi Keguruan”
Disusun Oleh : Kelompok 8 PMTK 5A Dwi Sri Mulyani 2422024 Aisyah Marzeti 2422027
Dosen Pengampu: Fathur Rahmi, M. Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SJECH M.
DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI TAHUN AKADEMIK
2024/2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan ke Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Motivasi dan Aktivitas ini dengan tepat waktu.
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini khususnya kepada dosen mata kuliah Etika Profesi Keguruan yaitu ibu Fathur Rahmi, M. Pd.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna bagi siapapun yang membacanya dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik dan saran dari ibu dosen demi perbaikan makalah kami di masa yang akan datang. Sebelumnya, kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan. Atas perhatian ibu kami ucapkan terima kasih.
Bukittinggi, 18 Oktober 2024
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisan...1
BAB II PEMBAHASAN...3
A. Pengertian Motivasi...3
B. Fungsi Motivasi...4
C. Macam-Macam Motivasi...6
D. Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah...8
E. Definisi dari Aktivitas...10
F. Prinsip Aktivitas...12
G. Jenis-Jenis dari Aktivitas...14
BAB III PENUTUP...17
A. Kesimpulan...17
B. Saran...18
DAFTAR PUSTAKA...19
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Motivasi adalah kunci keberhasilan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam proses belajar. Motivasi yang tinggi dapat mendorong peserta didik untuk lebih aktif, kreatif, dan mencapai prestasi yang optimal.
Aktivitas yang bervariasi dan menarik dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Ketika peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mereka akan lebih mudah memahami materi dan mengingat informasi.
Di era digital, peserta didik dihadapkan pada berbagai tantangan baru dalam belajar. Persaingan yang ketat, akses informasi yang mudah, dan perkembangan teknologi menuntut peserta didik untuk terus beradaptasi dan memiliki motivasi yang tinggi. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan masa depan peserta didik. Salah satu tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, termasuk motivasi dan kemampuan belajar mereka.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik yang mengalami motivasi belajar yang rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor internal (minat, kepercayaan diri) maupun eksternal (lingkungan keluarga, lingkungan sekolah).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian Motivasi?
2. Bagaimana Fungsi Motivasi?
3. Apa Saja Macam-Macam Motivasi?
4. Apa Saja Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah?
5. Bagaimana Definisi dari Aktivitas?
6. Bagaimana Prinsip Aktivitas?
7. Apa Saja Jenis-Jenis dari Aktivitas?
C. Tujuan Penulisan
1. Memahami pengertian motivasi.
2. Memahami fungsi motivasi.
iii
3. Memahami macam-macam motivasi.
4. Memahami bentuk-bentuk motivasi di Sekolah.
5. Memahami definisi dari aktivitas.
6. Memahami prinsip aktivitas.
7. Memahami jenis-jenis dari aktivitas.
BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Motivasi
Secara etimologis, motif atau dalam bahasa Inggrisnya berasal dari kata motion, yang berarti “gerakan” atau “sesuatu yang bergerak”. Jadi istilah “motif” erat kaitannya dengan “gerak”, yakni gerakan yang dilakukan oleh manusia atau disebut juga perbuatan atau tingkah laku.
Motif dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku (Huda, 2018). Motivasi merupakan konsep hipotetis untuk suatu kegiatan yang dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku seseorang untuk merubah situasi yang tidak memuaskan atau tidak menyenangkan (Hamzah, 2006).
Motivasi belajar merupakan suatu dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk meningkatkan dan mempertahankan kondisi belajarnya yang diwujudkan dalam aktivitas bersekolah. Kemampuan belajar dalam rangka memperoleh hasil belajar yang baik adalah sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Jika seseorang mempunyai mempunyai motivasi besar, maka ia akan lebih giat untuk melakukan sesuatu tersebut, dan demikian juga jika motivasinya rendah, maka untuk melakukan sesuatu juga rendah pula. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, yang penting adalah bagaimana menciptakan kondisi atau suatu proses yang mengarahkan peserta didik melakukan aktivitas belajar (Ummah, 2019).
Menurut T. Hani Handoko motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang terdapat pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku untuk mencapai tujuan kepuasan dirinya (Mayasari, 2023).
Menurut Sudarwan motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurut Hakim
v
motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (Anggina et al., 2022).
Menurut Sondang P. Siagian mendefinisikan motivasi sebagai daya dorong yang mengakibatkan seseorang bersedia untuk mengerahkan kemampuan, tenaga dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Motivasi dapat dikatakan sebagai pengaruh kebutuhan dan keinginan pada intensitas dan arah seseorang yang menggerakkan orang tersebut untuk mencapai tujuan dari tingkat tertentu (Andi, 2018).
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya penggerak atau pendorong yang ada di dalam diri setiap individu maupun di luar diri individu untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan.
B. Fungsi Motivasi
Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan seseorang individu (jasmani dan rohani), kegiatan pembelajaran tidak pernah dilakukan tanpa adanya dorongan atau motivasi yang kuat dari dalam diri individu ataupun dari luar individu yang mengikuti kegiatan pembelajaran. Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh motivasi belajar siswa. Guru selaku pendidik perlu mendorong siswa untuk belajar dalam mencapai tujuan.
Menurut Wina Sanjaya fungsi motivasi dalam proses pembelajaran adalah :
1. Mendorong Siswa untuk Beraktivitas, perilaku setiap orang disebabkan karena dorongan yang muncul dari dalam yang disebut dengan motivasi. Besar kecilnya semangat seseorang untuk bekerja sangat ditentukan oleh besar kecilnya motivasi orang tersebut.
Semangat siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tepat waktu dan ingin mendapatkan nilai yang baik karena siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar.
2. Sebagai Pengarah, tingkah laku yang ditunjukkan setiap individu pada dasarnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik (Harahap, et al., 2021).
Menurut Hamalik mengemukakan tiga fungsi motivasi belajar siswa, yaitu:
1. Mendorong timbulnya kelakuan atau sesuatu perbuatan. Motivasi mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan. Tanpa adanya motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Motivasi sebagai pengarah yaitu berfungsi menggerakkan perbuatan ke arah pencapaian tujuan yang di inginkan.
3. Motivasi berfungsi penggerak. Motivasi ini berfungsi sebagai mesin, besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan atau perbuatan (Ayu et al., 2014).
Selanjutnya menurut Winarsih ada tiga fungsi motivasi dalam pembelajaran yaitu:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang dilakukan.
2. Menentukan arah perbuatan kearah yang ingin dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan, jadi adanya motivasi akan memberikan dorongan, arah dan perbuatan yang akan dilakukan dalam upaya mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.
Fungsi motivasi sebagai pendorong usaha dalam mencapai prestasi, karena seseorang melakukan usaha harus mendorong
vii
keinginannya, dan menentukan arah perbuatannya kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian siswa dapat menyeleksi perbuatan untuk menentukan apa yang harus dilakukan yang berfungsi bagi tujuan yang hendak dicapainya (Harahap et al., 2021).
C. Macam-Macam Motivasi
1. Motivasi Dilihat dari Dasar Pembentukannya
a. Motif-motif bawaan, yaitu motif yang di bawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Contoh: dorongan untuk makan, minum, bekerja, dan lain-lain.
b. Motif-motif yang dipelajari, maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara sosial. Di samping itu, Frandsen menambahkan jenis-jenis motif berikut ini;
1) Cognitive motives 2) Self-expression 3) Self-enhancement
2. Jenis Motivasi Menurut Pembagian dari Woodworth dan Marquis a. Motif atau kebutuhan organis, meliputi kebutuhan untuk makan, minum, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat.
b. Motif-motif darurat, yang termasuk dalam jenis motivasi ini antara lain dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu, jelasnya motif ini timbul karena rangsangan dari luar.
c. Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif- motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Motivasi Jasmaniah dan Rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmani seperti misalnya reflex , insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk dari empat momen yaitu:
a. Momen timbulnya alasan, sebagai contoh seorang pemuda yang sedang giat berlatih olah raga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya tetapi tiba-tiba di suruh ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta.
b. Momen pilih, momen pilih maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan di antara alterntif atau alasan-alasan itu.
Kemudian sesorang menimbang berbagai alrternatif untuk kemudian menentukan pilihan yang akan di kerjakan.
c. Momen putusan, dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu akan berakhir dengan dipilihnya satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
d. Momen terbentuknya kemauan kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak, melaksanakan putusan itu (Jainiyah et al., 2023).
Menurut Sardiman berdasarkan sifatnya, motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik:
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Jika dilihat
ix
dari segi tujuan kegiatan belajar maka yang dimaksud motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Jadi motivasi muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Misalnya seseorang belajar karena besok akan ujian dengan harapan mendapat nilai yang baik dan pujian. Jadi bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapat nilai bagus atau pujian. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar (Mayasari, 2023).
D. Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar, di antaranya:
1. Memberi Angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nila-nilai pada rapor angkanya yang baik- baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar asalkan naik kelas saja. Namun demikian semua itu harus di ingat oleh guru bahwa pencapaian angka- angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru adalah bagaimana cara memberikan angka-angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap
pengetahuan yang di ajarkan kepada para siswa sehinggga tidak sekedar kognitif saja, tetapi juga keterampilan dan afektifnya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga di katakana sebagai motivas, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan/Kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdagangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego Involvement
Menumbuhkan kesadaran pada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa si subjek belajar.
Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi Ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan selalu sering karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru juga harus terbuka, maksudnya kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
xi
6. Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka akan ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Ujian
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian, pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.
8. Hukuman
Sebagai reinforcement yang negative tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru juga harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9. Hasrat untuk Belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud.
10. Minat
Motivasi sangat erat hubungannya dengan minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan. Juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi (Jainiyah et al., 2023).
E. Pengertian Aktivitas
Aktivitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran.
Aktivitas belajar adalah sebuah proses pelaksanaan kegiatan belajar siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 harus menyediakan pengalaman belajar yang erat kaitannya dengan melakukan kegiatan, interaksi sosial, bahkan interaksi dengan lingkungan fisik. Sehingga pengalaman belajar bukan sekedar mempelajari mata pelajaran tertentu saja, namun yang terpenting adalah pengalaman
melakukan aktivitas, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat (Artika, 2022).
Aktivitas belajar merupakan latihan pengganti dalam sistem pembelajaran, mulai dari tugas proaktif ke latihan mental. Tugas proaktif sebagai kemampuan esensial, sedangkan latihan mental sebagai kemampuan terkoordinasi. Kemampuan esensial menggabungkan memperhatikan, mengelompokkan, mengantisipasi, memperkirakan, menyimpulkan dan menyampaikan. Kegiatan belajar sangat penting bagi siswa karena memberikan siswa paparan yang seluas-luasnya terhadap objek studi, karena proses pembangunan pengetahuan yang berlangsung dengan cara ini lebih baik. Kegiatan belajar memerlukan kegiatan karena pada prinsipnya belajar adalah tentang mengubah perilaku, demikian pula kegiatan. Tidak ada pembelajaran tanpa aktivitas (Nuraini et al., 2018).
Aktivitas siswa adalah semua kegiatan di dalam kelas selama proses pembelajaran yang menghasilkan perilaku yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan kata lain, siswa dituntut untuk secara aktif menangkap/menerima topik dengan cara proaktif dalam proses pembelajarannya, aktif membaca ketika ada kesempatan untuk membaca, aktif mengangkat tangan saat guru mengajukan pertanyaan, aktif mengungkapkan pendapat ketika ada kesempatan. Kesempatan untuk mengungkapkan pendapat, dan mengajukan pertanyaan aktif mengajukan pertanyaan kesempatan untuk bertanya (Nelisma et al., 2022).
Menurut Sardiman aktivitas belajar adalah asas atau prinsip yang penting dalam interaksi belajar mengajar. Karena pada dasarnya, learning by doing. Tidak akan terjadi proses belajar jika tidak didukung aktivitas karena jika tidak didukung aktivitas proses belajar tidak dapat berjalan dengan baik. Begitu pula pada pembelajaran matematika sangat menuntut aktivitas belajar siswa (Aprilia et al., 2022). Menurut Dimyati dan Mudjiono aktivitas belajar merupakan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri.
Peserta didik aktif dalam membangun pemahaman atas persoalan dan segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Setiap
xiii
individu harus belajar aktif mengembangkan potensinya, tanpa adanya aktivitas pembelajaran proses pembelajaran tidak menarik, peserta didik dituntut untuk selalu memproses dan mengolah perolehan belajar yang didapat peserta didik. Untuk memunculkan proses belajar yang menarik peserta didik harus berinteraksi dengan baik dalam proses pembelajaran ( Purbayanti et al., 2022).
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, aktivitas adalah kegiatan pembentukan diri melalui kegiatan yang dilaksanakan secara fisik, mental maupun emosional guna memperoleh keberhasilan dan manfaat dari suatu kegiatan yang difasilitasi pendidik maupun peserta didik itu sendiri.
F. Prinsip Aktivitas
Prinsip aktivitas merupakan hal yang berkaitan dengan aktivitas.
Thomas M. Risk dalam bukunya Principles and Practices of Teaching mengemukakan bahwa pengalaman belajar itu sendiri hanya mungkin diperoleh jika peserta didik itu dengan keaktifannya sendiri bereaksi dengan lingkungannya. Seorang guru dalam melaksanakan program pengajaran harus selalu memberikan kesempatan pada peserta didik agar selalu aktif dalam mengikuti proses pembelajaran yang sedang dilaksanakan (Agustianto, 2016).
Apabila seorang anak ingin memecahkan suatu persoalan dia harus dapat berpikir sistematis atau menurut langkah-langkah tertentu, termasuk ketika dia menginginkan suatu keterampilan tentunya harus pula dapat menggerakkan otot-ototnya untuk mencapainya. Termasuk dalam pembelajaran, peserta didik harus selalu aktif. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai pada kegiatan psikis yang susah diamati.
Dengan demikian belajar yang berhasil harus melalui banyak aktivitas baik fisik maupun psikis. Bukan hanya sekedar menghafal sejumlah rumus-rumus atau informasi tetapi belajar harus berbuat, seperti membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya (Ramli et al., 2024).
Prinsip aktivitas di atas menurut pandangan psikologis bahwa segala
sendiri. Jiwa memiliki energi sendiri dan dapat menjadi aktif karena didorong oleh kebutuhan-kebutuhan (Ahmad, 2004). Jadi, dalam pembelajaran yang mengolah dan mencerna adalah peserta didik sesuai dengan kemauan, kemampuan, bakat dan latar belakang masing-masing, guru hanya merangsang keaktifan peserta didik dengan menyajikan bahan pelajaran.
Prinsip-prinsip aktivitas dalam belajar dalam hal ini akan dilihat dari sudut pandang perkembangan konsep jiwa menurut ilmu jiwa. Untuk melihat prinsip aktivitas belajar dari sudut pandangan ilmu jiwa ini secara garis besar dibagi menjadi dua pandangan yakni Ilmu Jiwa Lama dan Ilmu Jiwa Modern.
1. Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Lama
John Locke dengan konsepnya Tabularasa, mengibaratkan jiwa (psyche) seseorang bagaikan kertas putih yang tidak bertulis. Siswa diibaratkan kertas putih, sedang unsur dari luar yang menulis adalah guru. Dengan demikian aktivitas didominasi oleh guru, sedang anak didik bersifat pasif dan menerima begitu saja. Guru menjadi seseorang yang memiliki kuasa di dalam kelas. Menurut Herbert memberikan rumusan bahwa jiwa adalah keseluruhan tanggapan yang secara mekanis dikuasai oleh hukum-hukum asosiasi. Atau dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar.
Berdasarkan dua konsep yang dikemukakan John Locke maupun Herbert, dalam proses belajar mengajar guru akan senantiasa mendominasi kegiatan. Siswa terlalu pasif, sedang guru aktif dalam segala inisiatif datang dari guru. Aktivitas anak terutama terbatas pada mendengarkan, mencatat, menjawab pertanyaan bila guru memberikan pertanyaan. Mereka para siswa hanya bekerja karena atas perintah guru, menurut cara yang ditentukan guru, begitu juga berpikir menurut yang digariskan oleh guru. Memang sebenarnya anak didik itu tidak pasif secara mutlak, hanya proses belajar mengajar semacam ini jelas tidak mendorong anak didik untuk berpikir dan beraktivitas.
xv
2. Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Modern
Aliran ilmu jiwa yang tergolong modern akan menerjemahkan jiwa manusia sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri. Dalam hal ini, anaklah yang beraktivitas, berbuat, dan harus aktif sendiri. Belajar adalah berbuat dan sekaligus merupakan proses yang membuat anak didik harus aktif. Ini menunjukkan bahwa yang aktif dan mendominasi aktivitas adalah siswa. Perlu ditambahkan bahwa aktivitas yang dimaksud aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar ke dua aktivitas itu harus selalu berkait. Sehubung dengan hal ini, Piaget menerangkan bahwa seseorang anak itu berpikir sepanjang ia berbuat.
Tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berpikir. Oleh karena itu, agar anak berpikir sendiri maka harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri. Berpikir pada taraf verbal baru akan timbul setelah anak itu berpikir pada taraf perbuatan. Dengan demikian, aktivitas dalam arti luas, baik yang bersifat fisik/jasmani maupun mental/rohani. Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktivitas belajar yang optimal (Sardiman, 2010).
G. Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar
Menurut Hamalik Oemar jenis-jenis aktivitas belajar dikelompokkan ke dalam beberapa kegiatan, yaitu:
1. Aktivitas Fisik. Seperti membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang bekerja, atau bermain.
2. Aktivitas lisan. Seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.
3. Aktivitas Menulis. Seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
4. Aktivitas Menggambar. Seperti menggambar, membuat grafik,
5. Aktivitas metrik. Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan ( simulasi), menari, berkebun.
6. Aktivitas Fisik Mental. Seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.
7. Aktivitas Emosional. Seperti minat, membedakan, berani, semangat, tenang dan sebagainya (Young, 2012).
Adapun jenis-jenis aktivitas dalam belajar yang digolongkan oleh Paul B. Diedric adalah sebagai berikut:
1. Latihan Visual, yang menggabungkan, misalnya, membaca dengan teliti, fokus pada menampilkan gambar, tes, pekerjaan orang lain.
2. Latihan Lisan, misalnya mengungkapkan merinci, bertanya, memberi ide, anggapan, percakapan, interferensi.
3. Latihan Mendengarkan, misalnya memperhatikan penggambaran, diskusi, percakapan, musik, pembicaraan.
4. Latihan Menulis, seperti mengarang cerita, eksposisi, laporan, duplikasi.
5. Latihan Menggambar, seperti menggambar, membuat grafik, peta.
6. Latihan Mesin, yang meliputi antara lain tes memimpin, membuat pengembangan, model, memperbaiki, menanam, memelihara hewan.
7. Latihan Mental, misalnya bereaksi, mengingat, mengurus masalah, memeriksa, memutuskan.
8. Latihan Antusias, misalnya merasa lelah, cemas, mengembara di negeri fantasi, tak kenal takut, tenang (Nelisma et al., 2022).
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Abimanyu menyatakan bahwa, keterlibatan pelajar dalam pembelajaran itu dapat berbentuk keterlibatan peserta didik yang dijelaskan sebagai berikut.
1. Keterlibatan Fisik, seperti melakukan pengukuran, perhitungan, pengumpulan data dan memperagakan suatu konsep.
2. Keterlibatan Mental
xvii
a. Keterlibatan Intelektual, yang dapat berbentuk mendengarkan informasi dengan cermat, berdiskusi dengan teman sekelas, melakukan pengamatan terhadap suatu peristiwa sehingga memberikan peluang terjadinya asimilasi dan akomodasi kognitif terhadap pengetahuan yang baru.
b. Keterlibatan Intelektual, dalam bentuk latihan keterampilan intelektual seperti menyusun suatu rencana program, menyatakan gagasan dan segalanya.
c. Keterlibatan Emosional, dapat berbentuk penghayatan terhadap perasaan, nilai dan sikap (Arsyi, 2019).
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Motivasi adalah daya penggerak atau pendorong yang ada di dalam diri setiap individu maupun di luar diri individu untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan.
2. Motifasi berfungsi sebagai pengarah dimana tingkah laku yang ditunjukkan setiap individu pada dasarnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Mendorong timbulnya kelakuan atau sesuatu perbuatan, motivasi mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan, selamjutnya motivasi berfungsi sebagai penggerak dimana besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan atau perbuatan.
3. Macam-macam motivasi dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Motivasi Intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan seseuatu.
b. Motivasi ekstrinsik yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar.
4. Bentuk motivasi yang dapat dilakukan di sekolah adalah dengan memberi angka, hadiah, kompetisi, ego-involvement, ulangan, ujian, hukuman, hasrat untuk belajar dan minat.
5. Aktivitas adalah kegiatan pembentukan diri melalui kegiatan yang dilaksanakan secara fisik, mental maupun emosional guna memperoleh keberhasilan dan manfaat dari suatu kegiatan yang difasilitasi pendidik maupun peserta didik itu sendiri.
6. Prinsip aktivitas dilihat dari sudut pandang perkembangan konsep jiwa menurut ilmu jiwa dibagi menjadi dua, yaitu menurut pandangan ilmu jiwa lama dan pandangan ilmu jiwa modern.
7. Jenis-jenis aktivitas dalam belajar adalah latihan visual, latihan lisan, latihan mendengarkan, latihan menulis, latihan menggambar, latihan mesin, latihan mental, dan latihan antusias.
xix
B. Saran
Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai materi makalah ini.
Dalam makalah ini tentu banyak terdapat kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan kami. Maka dari itu kami sebagai pemakalah mengharapkan kritik dan saran yang baik dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Sehingga makalah ini bermanfaat bagi penulis, khususnya bagi pembaca pada umumnya. Semoga pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Agustianto. (2016). Kontribusi Prinsip-Prinsip Pengajaran Dalam Praktik Instrumen Musik Gesek. 13 (2).
Ahmad. (2004). Pengelolaan Pembelajaran: 20 Andi. (2018). Belajar dan Pembelajaran: 30-34
Anggina, Asih, Alya Mahyani, Siti Fadilah, and Salsha Nabila Ayumi. (2022).
IKAMAS: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam MOTIVASI GURU MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DISEKOLAH. 02 (01):
76–81.
Aprilia, Suci, Zubaidah R, and Dona Fitriawan. (2022). “Aktivitas Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Pada Masa Pandemi Covid-19.”
Jurnal AlphaEuclidEdu 3 (1): 100.
Arsyi. (2019). Mengelola Aktivitas Pembelajaran di Sekolah.
Artika, Lyna Yuni. (2022). Kooperatif Tipe Team Game Tournament Untuk Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Sds Jaya Kec. Rebang Tangkas.
Tadzkirah : Jurnal Pendidikan Dasar 3 (1): 28–33.
Ayu Desy N. Endah Lulup T P. dan Suharsono Naswan. (2014). Pengaruh Motivasi Belajar Dan Aktivitas Belajar Spiritual Hasil Belajar Akuntansi.
Jurnal Ekonomi : 4.
Hamzah.(2006). Teori Motivasi & Pengukurannya: 2-3
Harahap, Neni Fitriana, Dewi Anjani, and Nabsiah Sabrina. (2021). Analisis Artikel Metode Motivasi Dan Fungsi Motivasi Belajar Siswa. Indonesian Journal of Intellectual Publication 1 (3): 198–203.
Huda, Mualimul. (2018). Kompetensi Kepribadian Guru Dan Motivasi Belajar Siswa (Studi Korelasi Pada Mata Pelajaran Pai). Jurnal Penelitian 11 (2):
237–66.
Jainiyah, Jainiyah, Fuad Fahrudin, Ismiasih Ismiasih, and Mariyah Ulfah.
(2023). Peranan Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.Jurnal Multidisiplin Indonesia 2 (6): 1304–9.
Mayasari, Novi; johar Alimuddin. (2023). Strategi Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Vol. 14.
Nelisma, Yulia, Aydha fifi Sasnita, Irman Irman, Silvianetri Silvianetri, and Hariah Susanti. (2022). Hubungan Aktivitas Belajar Dengan Prestasi Siswa Smkn 1 Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat. Jurnal Konseling Gusjigang 8 (1): 1–7.
Nuraini, Fitriani, & Fadhilah, R. (2018). Pengertian Aktivitas Belajar.
Hubungan Antara Aktivitas Belajar Siswa Dan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Kimia Kelas X Sma Negeri 5 Pontianak.
xxi
Purbayanti, Ratih Lisma, Suherdiyanto Suherdiyanto, and Ivan Veriansyah.
(2022). Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP Negeri 03 Sukadana Kabupaten Kayong Utara. Jurnal Inovasi Pendidikan Dan Pengajaran (JIPP) 1 (1): 22–29.
Ramli, Rahmawati, Muljono Damopolii, and Yuspiani Yuspiani. (2024).
Prinsip-Prinsip Belajar Dan Pembelajaran. JUPEIS : Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial 3 (3): 91–99.
Sardiman. (2010). Motivasi dan Interaksi Belajar Mengajar.
Ummah, Masfi Sya’fiatul. (2019). PSIKOLOGI PENDIDIKAN:130
Young. (2012). Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Dengan Menggunakan Metode Bermain Peran Pada Siswa Kelas IV Sdn 19: 32.