• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nurul Huda dan Mohammad Hosnan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Nurul Huda dan Mohammad Hosnan"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PUDARNYA KHARISMA KIAi ALAM

KONTESTASI POLITIK LOKAL MADURA Nurul Huda dan Mohammad Hosnan

MEMBUMIKAN ISLAM WASATIYAH DI SEKOLAH Abrori dan Zainal Arifin

ASBABU AN-NUZUL: KAJIAN INTEGRATIF INTERKONEKTIF

ALAM MENGHUBUNGKAN AL-QUR'AN DENGAN REALITAS Su ai d i

ANALISIS KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN MAX WEBER [PERSPEKTIF ISLAM)

Munafaroh dan Masyhur i

ANALSISI TERHADAP KURIKULUM PEMBELAJARAN

KITAB KUNING DI PONDOK PESANTREN CILIK AL-AMIEN [PONCILA) TEGAL PRENDUAN

A. Washil dan F irdaus i

D iterbitkan oleh :

LP2D lnstitut Iln1u Keislaman Annuqayah Sumenep

JPIK Vol. 2 No.2 Hal. Sumenep ISSN (Cetak): 2621- 1130

308-612 September 2019 ISSN (Online): 2621-1149

(2)

ISSN (Online) : 2621-1149

(3)

Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep

Penyunting Pelaksana:

Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Penyunting:

Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.

Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.

Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِAl-Khairat, Pamekasan.

IT Support:

Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia

Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK

Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)

Jl. Bukit Lancaran PP.

Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:

[email protected] Website:

http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik

Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah

(4)

307-327 Pudarnya Kharisma Kiai dalam Kontestasi Politik Lokal Madura

Nurul Huda dan Mohammad Hosnan

328-352 Membumikan Islam Wasatiyah di Sekolah Abrori dan Moh Zainal Arifin

353-389 Asbabu An-Nuzul: Kajian Integratifinterkonektif dalam Menghubungkan Al-Qur’an dengan Realitas

Suaidi

390-409 Analisis Kritis Terhadap Pemikiran Max Weber (Perspektif Islam)

Munafaroh dan Masyhuri

410-427 Analisis Terhadap Kurikulum

Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Cilik Al-Amien (Poncila) Tegal Prenduan

A Washil dan Firdausi

(5)

Kabupaten Sumenep: Perspektif Islam dan Kearifan Lokal

M Mushthafa dan Fadhilah Khunaini

475-495 Modernisasi Pendidikan Pesantren dalam Dinamika Wacana Pembaharuan Pendidikan Islam

Muhammad Nihwan Asep Saifullah Munir

496-525 Tradisionalisme dan Rasionalisme dalam Pemikiran Teologi Islam

Abd Rahman

526-551 Manajemen Pengembangan Kurikulum Pendidikan Madrasah dalam Mewujudkan Madrasah Bermartabat

Ah Syamli dan Abd Warits

552-573 Dampak Globalisasi terhadap Pendidikan Islam di Indonesia

Dila Fitri Nabila dan Abd Hayyi

(6)

KURIKULUM PENDIDIKAN MADRASAH DALAM MEWUJUDKAN MADRASAH

BERMARTABAT

Ah Syamli

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]

Abd Warits

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]

Abstrak

Kurikulum merupakan komponen yang berperan strategis dalam menyukseskan proses pendidikan dan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan. Karena itu, sistem kurikulum sangat menentukan sukses tidaknya sebuah madrasah/sekolah untuk menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa kurikulum mengandung empat komponen, yaitu tujuan, isi, metode atau proses belajar mengajar, dan evaluasi. Keempat komponen dalam kurikulum tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain.Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua bagian yaitu pelaksanaan kurikulum tingkat madrasah/sekolah dan tingkat kelas. Antara kurikulum sekolah dengan kurikulum kelas merupakan tumpuan proses pembelajaran yang menjadi petunjuk utama pelaksanaan pendidikan disebuah lembaga pendidikan.

Dalam tingkat madrasah/sekolah, seorang kepala sekolah merupakan penanggung jawab utamanya, sementara guru berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum ditingkatan kelas. Kajian ini berupaya memberikan gambaran tentang pentingnya pengembagan kurikulum pada tingkatan madrasah sehingga mampu menjadi pedoman dan rujukan utama dalam pelaksanakan pembelajaran sehingga mampu menciptakan suasanan pembelajaran optimal dan unggul.

Keywords: Kurikulum, Pembelajaran, dan Kualitas Pendidikan

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Melalui proses pendidikan, kita berupaya untuk

(7)

memanusiakan manusia,1 sekaligus mengenalkan manusia pada segenap potensi dan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Melalui pendidikan, manusia akan mengetahui hakikat dirinya sebagai makhluk yang berketuhanan, sehingga hidup dengan saling menghargai antarsesama, menjadi warga negara yang baik dan bermartabat.

Menyadari hal tersebut, berdasarkan UUD 45 pasal 5 ayat 1 yang berkenaan dengan hak dan kewajiban warga negara terdapat sadu peraturan berberbunyi ‚Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memeroleh pendidikan yang bermutu ‚. Maka menjadi satu kewajiban bagi warga negara Indonesia untuk mendapatkan (memberikan) pendidikan yang baik bagi semua kalangan tanpa terkecuali, karena hal tersebut menjadi hak bagi seluruh warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

Pada realisasinya, demi menciptakan suasana proses pembelajaran berkualitas, pemerintah telah membuat pedoman yang menjadi acuan proses pembelajaran yaitu seperangkat kurikulum yang dapat diadopsi oleh setiap lembaga pendidikan dalam proses pembelajaran sehingga terget dan tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.

Dalam perkembangannya, negeri ini telah mengalami berbagai perubahan kurikulum (contoh perubahan dari KBK ke KTSP dan Kurikulum 2013) yang tentu itu disesuaikan dengan kebutuhan jangka panjang masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan demi terselenggaranya pendidikan yang sesuai dengan standart nasional

1 Lihat pada Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4, Pendidikan Lintas Bidang, yang disusun oleh Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007) hal. 239.

(8)

pendidikan yang terdiri dari standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian, maka diharuskan setiap madrasah dalam mengembangkan kurikulumnya tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.

Dalam UU. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum merupakan komponen yang berperan strategis dalam menyukseskan proses pendidikan dan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan.

Karena itu, sistem kurikulum sangat menentukan sukses tidaknya sebuah madrasah/sekolah untuk menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan berkualitas.

Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa kurikulum mengandung empat komponen, yaitu tujuan, isi, metode atau proses belajar mengajar, dan evaluasi. Keempat komponen dalam kurikulum tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain.2 Maka dari itu, untuk menciptakan proses pembelajaran berkualitas, lembaga pendidikan dituntut mampu menyusun kurikulum tingkat madrasah/sekolah sesuai dengan potensi yang dimiliki sehingga ia mampu menyukseskan program pembelajaran dengan baik.

2 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000) hal. 54

(9)

Dalam hal ini, pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua bagian yaitu pelaksanaan kurikulum tingkat madrasah/sekolah dan tingkat kelas. Antara kurikulum sekolah dengan kurikulum kelas merupakan tumpuan proses pembelajaran yang menjadi petunjuk utama pelaksanaan pendidikan disebuah lembaga pendidikan. Dalam tingkat madrasah/sekolah, seorang kepala sekolah merupakan penanggung jawab utamanya, sementara guru berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum ditingkatan kelas. Antara kepala dan guru diperlukan kerjasama, bahu membahu dan bersama-sama mengupayakan penyusunan kurikulum madrasah/sekolah lalu melaksanakan proses kurikulum tersebut secara baik dan profesional.3

Namun demikian, implementasi kurikulum pada tingkat satuan pendidikan tidak semudah sebagaimana yang kita bayangkan.

Apalagi ketika dihadapkan pada persoalan tingkat sumber daya manusia (SDM) tenaga pengajara yang tidak merata, sarana prasana yang tidak memadai, belum lagi sumber pembiayaan yang tidak merata ini menjadi problem tersendiri bagi berbagai madrasah/sekolah dalam memberikan akses pendidikan sesuai dengan ketentuan dalam kurikulum.

Dalam makalah ini, penulis berupaya memberikan pemaparan mengenai beberapa hal yang harus dilakukan oleh pihak madrasah/sekolah ketika akan menyusun acuan kurikulum sebagai dasar proses pembelajaran lembaga pendidikan tersebut. Sebab, sebaik apa pun kurikulum yang dicanangkan pemerintah namun tidak

3 Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung, Rosda Karya, 2007), hlm. 171.

(10)

mampu diimplementasikan dengan baik oleh lembaga pendidikan tentu tidak akan memberikan efek apa-apa.

Dengan demikian, makan akan dimungkinkan terbangungnya sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU.

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kelak akan menjadi tolok ukur proses pendidikan di madrasah/sekolah yang mampu mengelola potensi lokal sehingga menghasilkan lulusan (output dan outcome) dalam menciptakan manusia berwawasan luas, berlandaskan pada keimanan, ketakwaan, intelektualitas dan berkebangsaan yang demokratis.

Manajemen Kurikulum; Langkah Strategis Mengembangkan Mutu Pembelajaran

Banyak sekali pengertian manajemen yang dapat ditemukan dari berbagai sudut pandang. Dalam bahasa Arab, Manajemen disebut An- Nizhaam; Al-Tanzhiim, yang bermakna aktivitas menertibkan, mengatur dan berfikir yang dilakukan oleh seseorang, sehingga mampu mengurutka, menertibkan dan menyeleraskan hal-hal yang prioritas.4

Selain itu, SP. Hasibuan mengartikan Manajemen sebagai ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif, efisien, untuk mencapai suatu

4 Muhammad Abdul Jawwad, Menjadi Manajer Sukses, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004). hal. 119

(11)

tujuan tertentu.5 Selain itu juga dijelaskan bahwa Manajemen adalah kegiatan menggerakkan seseorang dengan menggunakan segenap fasilitas, sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan tertentu mulai dari perencanaan, pengorganisasi, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan, untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama.6

Sementara M. Manullang memahami manajemen sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan dari pada sumber daya manusia untuk mencapai untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.7

Berdasar pada beberapa pengertian di atas, Dalam konteks lembaga pendidikan, Manajemen dapat dimaknai sebagai proses pengelolaan yang meliputi Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan Pendidikan dan Standar Penilaian Pendidikan

Sedangkan pengertian Kurikulum, secara gamblang dijelaskan dalam UU Nomor 20 tahun 2003, menyebutkan bahwa Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.8

5 Lihat pada Mulayu SP. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia,(Jakarta:

Bumi Aksara, 1991). Hal. 02

6 Telaah pada Sudirman Anwar, Management Of Stdunt Develomen: Perpektif al-Qur’an dan Al-Sunnah (Tembilahan Riau, Yayasan Indragiri, 2015). Hal. 2

7M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, (Jakarta: Balai Aksara, 1963). hal. 15 -17 8

Lihat pada 8 UU Sisdiknas (UU RI No. 20 Tahun 2003), Bab I, Pasal 1.

(12)

Dalam pandangan lain Kurikulum dijelaskan sebagai seperengkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.9 Selain itu, Oemar Hamalik mendifinisikan bahwa kurikulmu adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa.10

Pada dasarnya, Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan di tengah-tengah masyarakat seiring dengan perkembangan dinamika kehidupan.

Namun demikian, setidaknya terdapat tiga konsep kurikulum yang dapat memberikan gambaran secara detail untuk menjelaskan apa sebenarnya kurikulum tersebut, antara lain: kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan kurikulum sebagai bidang studi.11

Pertama, kurikulum sebagai suatu substansi. Dalam hal ini, Kurikulum diposisikan sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi siswa-siswa di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang hendak dicapai. Selain itu, ia juga dapat menunjuk pada suatu dokumen berisi rumusan tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar- mengajar, jadwal, dan evaluasi proses pembelaharan dalam bentuk dokumen tertulis yang telah disetujui bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat.

9 Rusman, Dr. M.pd., Manajemen kurikulum,( Jakarta PT. Raja Gravindo Persada, 2009), hal 3

10 Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Bina Aksara, 1988). Hal. 18. Bandingkan pula pada Oemar Hamalik, Manajemen…., hal. 10

11 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000). Hal. 27

(13)

Kedua, kurikulum sebagai sistem, yaitu sistem kurikulum.

Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat yang mencakup struktur personalia, prosedur kerja melingkupi cara menyusun kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu rumusan kurikulum yang berfungsi untuk memelihara kurikulum agar tetap danamis.

Ketiga, kurikulum sebagai bidang studi yang menjadi objek kajian para ahli kurikulum, ahli pendidikan dan pengajaran. Sebagai bidang studi, maka ia akan ditelaah guna mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum untuk medalami mendalami bidang kurikulum, mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai penelitian dan percobaan, nantikan akan ditemukan hal-hal baru untuk memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.12

Ketiga konsep tentang kurikulum tersebut, menggambarkan tentang pentingnya posisi kurikulum dalam tatanan pendidikan.

Kegagalan pendidikan salah satunya, dapat disebabkan karena tidak tersusunya kurikulum dengan baik, baik pada tatanan subtansi, sebagai sistem, maupun sebagai bagian dari kajian keilmuan tentang kurikulum. Tentunya, agar kurikulum pendidikan dapat berjalan dengan maksimal, maka berbagai praktisi pendidikan, baik sebagai pelaku, maupun pengamat dan tenaga ahli harus saling berpartisipasi agar dapat menyempurnakan rumusan kurikulum sehingga semakin meningkatkan kualitas pendidikan.

12 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum…, hal. 27

(14)

Dalam hal ini, berbagai para ahli yang memberikan pandangan berbeda mengenai pengertian kurikulum tersebut, ternyata memiliki pandangan ketika menyebutkan poisisi dan peran kurikulum dalam pendidikan, bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.13 Fakta ini semakin memperkokoh bahwa kurikulum yang baik, akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Kiranya bukanlah sesuatu berlebihan jika dikatakan bahwa proses pendidikan dikendalikan, diatur, dan dinilai berdasarkan kriteria yang ada dalam kurikulum. Pengecualian dari ini adalah apabila proses pendidikan itu menyangkut masalah administrasi di luar isi pendidikan. Meski pun demikian terjadi perbedaan mengenai koordinat posisi sentral tersebut di mana ruang lingkup setiap koordinat ditentukan oleh pengertian kurikulum yang dianut.

Analisis Perumusan dan Tahapan Proses Pengembangan Kurikulum Tingkat Madrasah/Sekolah

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP. No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah harus menyusun kurikulum dengan mengacu kepada Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Pengelolaan, Standar Proses, dan Standar Penilaian,

13 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran; Teori dan Praktik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 3.

(15)

serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.

Maka dari itu, untuk memenuhi amanat tersebut sebuah lembaga pedidikan perlu menyusun kurikulum terapan yang dapat dijadikan sebagai acuan utama dalam proses pembelajaran dengan cara mengadopsi, mengadaptasi kurikulum Nasional. Tentunya, dalam proses penyusunan tersebut terlebih dahulu perlu dilakukan analisis kelembagaan sehingga nantinya tersusun sebuah rencana proses pembelajaran (kurikulum) pemebelajaran yang sesuai dengan potensi madrasah/sekolah tersebut.

Untuk melakukan hal tersebut, setidaknya ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh pihak madrasah/sekolah, antara lain:

1. Membentuk Tim Penyusun14

Tim penyusun kurikulum untuk satuan pendidikan, setidaknya terdiri dari Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Tim Pengembangan Kurikulum,15 Unsur Guru, Konselor, Komite Sekolah, dan didampingi oleh seorang pakar (nara sumber). Selain itu juga bisa melibatkan beberapa

14 Disadur dari Juknis Analisis SI dan SKL tahun 2006 yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Panduan Menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah yang diterbitkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2006.

15 Tim Pengembang Kurikulum tingkat sekolah yang selanjutnya disebut TPK sekolah adalah sekelompok tenaga yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan oleh Kepala Sekolah untuk melaksanakan keseluruhan proses perancangan dan pengembangan KTSP. Tim ini setidaknya bertugas untuk menyusun draft (awal) kurikulum yang nantinya bisa dijadikan rujukan dasar dalam perumusan kurikulum tingkat madrasah/sekolah tersebut. Dengan demikian, proses penyusunan tersebut dapat berjalan lebih cepat, teraarah dan efektif serta efisien. Disadur dari Juknis Analisis SI dan SKL tahun 2006.

(16)

tokoh masyarakat setempat agar didapatkan gambara mengenai proses pembelajaran yang diinginkan oleh masyarakat setempat.

Melalui Tim ini proses kinerja penyusunan kurikulum bisa lebih efesien dan efektif.

2. Analisis Swot16

Analisis SWOT (Strenght atau Kekuatan, Weakness atau Kelemahan, Opportunity atau Peluang, dan Threat atau Tantangan) merupakan sebuah proses analisis menyeluruh yang dapat dijadikan pedoman sebuah lembaga untuk menentukan program kerja yang hendak dilakukan. Harapannya, kinerja dari lembaga tersebut bisa terlaksana dengan sempurna. Analisis SWOT merupakan sebuah tahapan analisis yang penting untuk dilakukan sebuah lembaga; tidak hanya lembaga pendidikan, sebelum merumuskan program kerja. Tanpa analisis yang mendalam terlebih dahulu, kemungkinan besar program yang dicanangkan tidak bisa berjalan dengan baik.

Terkait hal ini, pihak madrasah/sekolah bersama tim penyusun kurikulum hendaknya melakukan analisis yang mendalam terkait dengan kekuatan dan keunggulan lain yang dimiliki pihak madrasah, sehingga dapat dijadikan fokus utama dalam proses pembelajaran selanjutnya.

16 Lebih mendalam silahkan periksa dalam Muhaimin, dkk., Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Pada Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 35

(17)

Setidaknya beberapa unsur berikut yang penting dianilisis secara mendalam, antara lain:

a. Potensi Siswa dan Guru

b. Peran Komite Madrasah/Sekolah c. Sarana dan Prasana kelembagaan

- Perpustakaan

- Sarana proses pembelajaran - Bahan ajar yang disediakan d. Kepedulian masyarakat dan wali siswa e. Sumber Dana

f. Peran dan keadaan Alumni (lulusan)

Selain hal tersebut, analisis juga perlu diarahkan membahas visi, misi dan tujuan, standart isi dan kompetensi lulusan yang hendak dicapai dalam tahun berjalan ataupun pada tahun-tahun selanjutnya.

3. Mengidentifikasi SI dan SKL

Berdasarkan PP. No. 19 tahun 2005 Bab I Pasal I No. 1, dijelaskan bahwa Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal pengelolaan dan sistem pendidikan yang harus tercapai di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlu digaris bawahi dalam PP. ini terdapat kalimat ‚krititeria minimal‛ yang merupakan titik tekan amanat dalam peraturan ini. Artinya, pemerintah Indonesia bukan menginginkan ‚keseragaman‛ dalam proses pembelajaran dalam segala hal.

(18)

Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.17

Berikut beberapa Analisis tentang Standar Kompetensi Lulusan yang perlu dilakukan:

a. Analisis substansi SKL dan hubungannya dengan Standar Isi untuk pengembangan kurikulum, Silabus dan RPP;

b. Analisis Pemetaan Pencapaian SKL, untuk membandingkan antara kondisi ideal dan kondisi riil lembaga pendidikan dalam mencapai pemenuhan Standar Kompetensi Lulusan, dilanjutkan dengan identifikasi kesenjangan dan perumusan rencana tindak lanjut yang harus dilakukan oleh madrasah/sekolah. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan dalam penyusunan rencana jangka menengah (RKJM) dan rencana kerja dan anggaran sekolah (RKAS – tahunan).

Sementara Ruang lingkup kajian analisis SKL mencakup hal-hal berikut:

17 PP. No. 19 Tahun 2005 Pasal 26 ayat 2

(19)

a. Analisis SKL Satuan Pendidikan, dengan fokus kajian pada keterkaitan SKL satuan pendidikan dengan SKL Kelompok Mata Pelajaran dan SKL Mata Pelajaran;

b. Analisis SKL kelompok mata pelajaran, dengan fokus kajian pada keterkaitan Kelompok Mata Pelajaran dengan aspek dan bentuk penilaiannya;

c. Analisis SKL mata pelajaran, dengan fokus kajian pada analisis substansi Ranah, Tingkat kompetensi penjabaran pada SK-KD dan tingkatan kelas.

Dari hasil analisis terhadap beberapa poin tersebut nantinya dapat dijadikan pijakan untuk merumuskan strategi, metode pembelajaran dalam proses pembalajaran di kelas.

Dengan demikian, pelaksanaan proses pembelajaran diharapkan mampu mengantarkan siswa untuk mencapai standart kelulusan minimal dan menguasai materi-materi yang telah dirumuskan dalam standart isi dalam kurikulum.

Landasan, Prinsip dan Orientasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Madrasah/Sekolah

Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi

(20)

signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik.18

Pengembangan kurikulum tingkat satuan Madsrasah/Sekolah tentunya mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapain tujuan pendidikan nasional, yang mleliputi 8 Standar Nasional Pendidikan. Standar Isi dan Standart Komptensi Lulusan merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan hendaknya disusun dengan tujuan agar dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk:

a) Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b) Belajar untuk memahami dan menghayati

c) Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif

d) Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan

e) Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melaluih proses belajar yang aktif, kreatif efektif dan menyenangkan 1. Landasan Pengembangan Kurikulum

Penyusunan kurikulum untuk satuan pendidikan berlandaskan beberapa hal beriktu, antara lain:

1. Undang-undang Republik Indonesia no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan.

18 Lihat pada Dokumen Kurikulum 2013, terbitan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, tahun 2012. Dapat diakses pada http://tania.fkip.uns.ac.id/wp- content/uploads/dokumen-kurikulum-2013.pdf

(21)

2. Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang satandar nasional pendidikan.

3. Standar isi

SI mencakup lingkup materi dan tingkat kopetensi untuk mencapai kopetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu termasuk SI adalah : KD setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menegah. SI ditetapkan oleh kepmendiknas No 22 tahun 2006.

4. Standar kopetensi lulusan

SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan kepmendiknas No 23 tahun 2006.

Dalam pelaksanaannya, kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawa koordinasi dan supervise dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah pengembangan kurikulum mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah.

2. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Dari beberapa landasan hukum tersebut ditas, dalam buku KTSP: Konsep dan Implementasinya di Madrasah19 setidaknya

19 Lihat pada Khairuddin.,dkk., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implemetasinya di Madrasah, (Jogjakarta: Pilar Media, 2007), hal. 79-90

(22)

tercover beberapa prinsip yang mesti diperhatikan dalam proses pengembangan Kurikulum tingkat satuan pendidikan, antara lain:20

a. Memperhatikan Potensi Siswa

Dalam hal ini, penyusunan kurikulum diarahkan untuk mengakomudir dan mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Dalam hal peserta didik diyakini sebagai insan yang tidak kosong, tapi dia memiliki potensi tertentu yang semestiya mendapatkan perhatian serius dari pihak madrasah/sekolah. Selain itu, dalam pemetaan potensi tersebut pihak madrasah bisa menentukan lebih awal strategi dan metode pembelajaran yang hendak dilakukan, sehingga dapat disesuaikan dengan potensi yang dimiliki siswa.

Selain itu, penyusunan kurikulum juga diarahkan untuk mengakomudir hasil analisis perkembangan dan kebutuahan, sesuai dengan kepentingan peserta didik dan lingkungan sekitar. Dengan demikian diharapkan terciptanya kompetensi lulusan yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

b. Beragam dan terpadu

Aspek ini menekankan bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan memperhatikan keragaman dan

20 Dalam perumusan Prinsip Kurikulum ini penulis sadur dari beberapa peraturan pemerintah, peranturan menteri pendidikan dan beberapa buku panduan penyusunan kurikulum KTSP dalam bentu PDF yang diterbitkan oleh Kemendikbut.

Selain itu penulis berupaya memandingkan dengan buku Khaeruddin., dkk., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah, (Jogjakart: Pilar Media, 2007), hal 79-95 dan pada hal. 161-166. Selain itu juga diadopsi dari buku Prof. Muhamimin, MA., dkk., Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pada Sekolah dan Madrasah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 13-37 dan juga pada buku Panduan Lengkap KTSP yang diterbitkan oleh Pustaka Yustira tahun 2007.

(23)

karakteristik peserta didik. Selain itu juga diarahkan untuk mengakomudir karakteristik baik yang berkenaan dengan latar belakang peserta didik atau karakter lingkungan sosial kemasyarakatan dari lembaga pendidikan tersebut.

c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

Pendidikan seharusnya memang senantiasa tanggap dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, sebuah lembaga pendidikan semestinya senantisa selalu mampu mengakses perkembangan informasi. Sebab, kegagalan proses pembelajaran di Indonesia (utamanya di pedesaan) salah satunya karena tidak adanya akses informasi yang memadai. Karena itu, dalam penyusunan kurikulum mesti dikembangkan atas dasar pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis.

d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Pengembangan kurikulum diarahkan untuk ‚menciptakan‛

anak didik yang siap berperan aktif di masyarakat maupun di dunia usaha. Satu sisi hal ini tanpak matrialistik. Namun aspek ini memang tidak dapat kita pungkiri, bahwa hampir semua orang menginginkan anak didikya mampu mengaktualisasikan pengetahunnya ketika ia menyelesaikan studinya. Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mengakomodir dan mengembangkan keterampilan pribadi, dalam hal berfikir, dan bertindak.

e. Menyeluruh dan berkesinambungan

(24)

Proses pembelajaran harusnya mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang disajikan. Dalam hal ini, kurikulum perlu mengarahkan proses pembelajaran yang mampu menciptakan sistem pembelajaran yang menyeluruh dan berkesinambungan atar semua materi berikut jenjang pendidikan.

f. Belajar sepanjang hayat

Pengembangan kurikulum diarahkan untuk memotivasi siswa atau guru sekalipun agar berkeinginan untuk terus belajar tanpa mengenal batas. Sebab, teori ilmu, tradisi dan kemudayaan di masyarakat akan senantiasa berkembang.

Untuk itu, kurikulum perlu mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, non forma dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntunan lingkungan yang selalu berkembang serta pengembangan manusia seutuhnya.

g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Akhir-akhir ini kita seringkali mendapatkan informasi mengenai beberapa daerah yang menginginkan otonomi penuh dalam tata pemerintahan daerah dengan undang- undang daerah yang seringkali berbenturan dengan perundang-ungan nasional. Hal ini salah satunya disebabkan karena arah pengembangan pendidikan kurang seimbang antara kebutuhan Nasional dan kebutuhan daerah.

Bahkan, saat ini kita seringkali dihadapkan pada minimnya rasa nasionalisme siswa, mereka sudah mulai

(25)

melupakan dan tidak peduli dengan beberapa peristiwa penting terkait dengan perkembangan bangsa ini.

Situasi ini tentu tidak boleh kita biarkan. Karena itu, penyusunan kurikulum perlu memperhatikan adanya keseimbangan antara kebutuhan tingkat nasional dan juga tidak melupakan kepentingan daerah.

3. Orientasi Penyusunan Kurikulum

Selain beberapa prinsip diatas, arah penyusunan kurikulum tingkat madrasah/sekolah perlu diorientasikan pada beberapa hal berikut:

a. Agama dan Keimanan

Tampaknya aspek agama dan keimanan sudah menjadi persoalan krusial bagi perkembangan masyarakat bangsa ini.

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada beberapa persoalan korupsi, diskriminasi, kriminalisasi, bahkan dekadensi moral pemuda bangsa ini, yang itu semua menunjukkan bahwa sudah mulai banyak orang-orang yang tidak mampu menampakkan aspek keimanannya dalam aktvitas sehari-hari.

Karena itu, penyusunan kurikulum tingkat madrasah/sekolah perlu memperhatikan aspek spritual (agama) yang tidak hanya sekedar pengetahuan kognitif. Tapi lebih menekankan pada aspek tingkah laku. Karena itu, proses pembelajaran perlu diarahkan untuk mengembangkan kadar keimanan dan ketakwaan serta unsur akhlak mulia.

b. Peningkatan dan keragaman potensi

(26)

Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik dari segi afektif, kognitif, dan psikomotorik. Karena itu, kurikulum perlu memperhatikan keragaman potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intlektual, emosional, sosial dan spritual baik dari segi peserta didik maupun potensi daerah dengan berbagai karakteristiknya.

c. Tuntunan pemenuhan peningkatan pembangunan nasional Pelaksanaan pendidikan perlu memperhatikan keragaman kebutuhan pemerintah daerah guna meningkatkan partisipasi masyarakat untuk pembangunan daerah dengan tetap mengedepankan wawasan nasional.

d. Tuntutan dunia kerja

Tetap berorientasi dan mendukung tumbuh kembangnya pribadi perserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Melalui hal ini diharapkan, lembaga pendidikan tidak hanya melahirkan pencari kerja namun sosok yang mampu menciptakan peluang pekerjaan dengan memaksimalkan segenap potensi lokal yang dimilikinya.

e. Perkembangan ilmu pengetahuan

Proses pembelajaran perlu mengantisipasi dampak global dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi yang saat ini begitu pesat. Karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan secara berkala

f. Agama

Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung peningkatan keimanan dan ketakwaan peserta didik, karena itu

(27)

proses pembelajaran perlu menekankan dan berupaya meningkatkan kadar keimanan, ketakwaan, dan prilaku mulia g. Dinamika perkembangan global

Persaingan dunia global semakin ketak, karena itu kurikulum perlu diarahkan untuk menciptakan generasi yang mandiri sehingga kelak mereka lebih ‚berani‛ untuk bersaing di era pasar bebas

h. Persatuan nasional dan nasinalisme

Prose pembelajaran perlu diarahkan untuk meningkatkan semangat nasionalisme dan memperkuat NKRI tanpa perlu meningkari adanaya karakteristik dan keragaman potensi daerah.

i. Kesetaraan Gender

Kurikulum harus diarahkan untuk terciptanya keadilan dan memperhatikan kesetaraan gender

j. Proaktif terhadap tradisi dan budaya lokal

Kita sangat kaya dengan tradisi dan budaya lokal, karena itu arah penerapan kurikulum dalam proses pembelajaran perlu diarahkan untuk menghayati dan mengapresiasi keragaman tradisi dan budaya loka tersebut.

k. Karakteristik dan kekhasan sistem pendidikan

Kurikulm perlu dikembangkan berdasarkan pada visi, misi, tujuan, kondisi dan ciri khas satuan pendidikan tertentu ditingkatan daerah

Komponen Penting dalam Menysusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Madrasah/Sekolah)

(28)

Dalam penyusunan kurikulum untuk tingkat satuan pendidikan setidaknya memuat beberapa hal berikut:21

1. Visi, Misi dan Tujuan

Visi merupakan dambaan atau mimpi mengenai kondisi dan situasu yang ingin dicapai oleh sebuah lembaga pendidikan di masa depan, sementara Misi merupakan tahapan-tahapan atau program jangka pendek yang dilakukan oleh sebuah lembaga untuk mencapai tujuan utama (visi) yang ingin dicapai lembaga tersebut.

Sementara Tujuan merupakan indikator capaian yang diinginkan dan merupakan penjabaran dari visi dan misi

2. Struktur dan Muatan Kurikulum

Sesuai dengan Standart Isi maka kelompok mata pelajaran dibagi sebagaimana berikut:

a. Agama dan Akhlak Mulia

b. Kewarganegaraan dan Kepribadian c. Ilmu pengetahuan dan Teknologi d. Estetika

e. Jasmani, olahraga dan kesehatan 3. Pembagian mata pelajaran antar kelas

21 Komponen Kurikulum ini penulis sadur dari beberapa peraturan pemerintah, peranturan menteri pendidikan dan beberaapa buku panduan penyusunan kurikulum KTSP. Selain itu penulis berupaya memandingkan dengan buku Khaeruddin., dkk., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah, (Jogjakart: Pilar Media, 2007), hal 79-95 dan pada hal. 161-166. Selain itu juga diadopsi dari buku Prof. Muhamimin, MA., dkk., Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pada Sekolah dan Madrasah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 13-37 dan juga pada buku Panduan Lengkap KTSP yang diterbitkan oleh Pustaka Yustira tahun 2007.

(29)

Dari kelima kelompok materi pokok tersebut, kemudian dibagi ke beberapa mata pelajaran sesuai dengan pedoman SI berserta sebarannya ke beberapa jenjang kelas dilengkapi dengan waktu yang dialokasikan bagi masing-masing materi tersebut baik yang berkaitan dengan materi pokok maupun muatan lokal.

4. Kegiatan Pengembangan Diri

Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan bagi anak didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan keutuhan, minat, dan bakan anak didik.

Dalam prakteknya, pengembangan diri ini menjadi tanggung jawab guru bidan Bimbingan dan Konseling (BK) yang bertugas memberikan pengarahan dan bimbingan bagi siswa sehingga mereka bisa mengenal lebih dini mengani potensi pribadinya sekaligus membantu mereka untuk meningkatkan potensinya.

5. Pengaturan Beban Belajar

Dalam hal ini dijabarkan mengenai beban belajar bagi siswa yang disesuaikan dengan jenjang pendidikannya. Selain itu juga perlu dijabarkan alokasi jam pelajaran untuk masing-masing materi di setiap jenjang kelas.

6. Ketuntasan Belajar

Setiap satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelaaran.

(30)

7. Kenaikan Kelas dan Kelulusan

Berdasarkan PP 19 tahun 2005 pasal 72 ayat 1 peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dengan beberap ketentuan

a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran

b. Memperoleh nilai baik pada penilaian akhir untuk semua materi pelajaran

c. Lulus ujian sekolah materi untuk kelompok mata pelajaran tertentu

d. Lulus ujian nasional

8. Penjurusan (untuk tingkat lanjut)

Penjuruan dilakukan pada kelas XI dan XII di MA/SMA sebagaimana diatur oleh oleh direktorat terkait

9. Pendidikan Kecakapan Hidup

Penyusunan kurikulum dapat diarahkan memasukkan proses pembelajaran yang berhubungan dengan kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik atau kecakapan vokasional yang kesemuanya sejatinya merupakan bagian integral dari semua mata pelajaran yang diajarkan.

10. Pendidikan berbasis keunggulan Lokal dan Global

Dalam KTSP, lembaga pendidikan memiliki keleluasan bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan unsur potensi lokal.

Namun begitu juga tidak melupakan unsur kepentingan global yang lebih besar. Pernyusunan kurikulum perlu diarahkan untuk mengadopsi kedua kepentingan tersebut. tampaknya, dalam Kurikulum 2013 hal ini pun mendapatkan perhatian besar, oleh sebab itu lembaga pendidikan berkesempatan untuk

(31)

memasukkan muatan lokal yang berbasis keunggulan potensi setempat sehingga bisa menjadi keunggulan global.

11. Kalender Pendidikan

Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran.

Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

Beberapa aspek penting yang menjadi pertimbangan dalam menyusun kalender pendidikan sebagai berikut:

a. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah pada bulan Juli setiap tahun.

b. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran yang dapat ditetapkan oleh madrasah sesuai dengan keadaan dan keutuhannya.

c. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran dalam setiap minggu

d. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal

12. Silabus

Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran yang menjadi acuan dasar proses pembelajaran. Dalam KTSP Guru masih memiliki beban untuk menyusun silabus, namun dalam K13 Guru tidak perlu lagi karena sudah termaktup dalam pedoman kurikulum, termasuk

(32)

buku teks, serta buku pedoman guru. Tentunya, Guru bisa mengembangkan aspek ini bila memang diperlukan untuk meningkatan kompetensi anak didik.

Penutup; Kurikulum 2013 Sebagai Langkah Awal Menuju Perubahan Sistem Pendidikan22

Secara umum, kurikulum 2013 (K.13) memiliki banyak kelebihan ketimbang dengan kurikulum KTSP. Meski pada awalnya K.13 mendapatkan banyak kecaman bahkan penolakan dari berbagai kalangan. Hanya saja memang, bila mengigat kondisi riil masyarakat Indonesia, nada pesimis suksesnya pendidikan dengan K.13 patut diperhatikan secara seksama. Apalagi ditengah-tengah kondisi birokrasi bangsa Indonesia yang belum tuntas dari persoalan korupsi dan tindakan tidak bermoral lainnya, maka wajar bila banyak pakar dan praktisi pendidikan belum bisa menyambut ‚gembira‛ K.13 tersebut.

22 Dalam proses analisis ini penulis titik beratkan pada beberapa permendiknas (permendikbud) yang diantaranya: Permendiknas No. 12, tahun 2007 tentang Standart Pengawas Madasarah/Sekolah, Permendiknas No. 16, tahun 2007 tentang Standart Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Permendiknas No. 13, tahun 2007 tentang Standart Kepala Sekolah, Permendiknas No. 22, tahun 2006 tentang Standart Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendiknas No. 41, tahun 2007 tentang Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendiknas No. 23, tahun 2006 tentang Standart Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendikbud No. 67 Tahun 2013 Tentang Krangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah, Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standart Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendikbud No. 54 Tahun 2013 tentang Standart Kompetensi Lulusan.

(33)

Beberapa kelebihan tersebut setidaknya dapat dilihat dari beberapa prinsip dan karakter pembelajaran yang diamanatkan dalam K.13. Dalam hal ini, penulis hanya membatasi pada penekanan Standart Proses yang menitikbertkan pada proses pembelajaran di dalam kelas. Semakin baik proses pembelajaran maka dapat dipastikan mampu meningkatkan kualitas Output sehingga kualitas pendidikan terus membaik.23 Sebab, tak dapat kita pungkiri berbicara tentang pendidikan itu sama saja dengan membincang sistem pembelajaran di tingkatan madrasah/sekolah tertentu. Semakin baik kualitas pembelaran di madrasah/sekolah maka secara perlahan kualitas pendidikan nasional juga akan mengalami peningkatan.

1. Perbedaan KTSP dan K.13; ditinjau dari Standart Proses Pada dasarnya, penerapan standart proses dalam pembelajaran di tingkat satuan pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan standart lain, seperti pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi.

Pada tahapan ini, Standar Kompetensi Lulusan menjadi semacam kerangka konseptual tentang sebuah proses dan sasaran pembelajaran yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan. Proses pembelajaran diarahkan untuk melahirkan lulusan Sementara Standar Isi menjadi kerangka konseptual tentang bagaimana proses kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung, yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi, sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan

23 Telaah pada Muchith, Pembelajaran Kontekstual, (Semarang: RaSAIL Media Grup, 2008), hal. 73

(34)

ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diklaborasi untuk setiap satuan pendidikan.

Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Komptensi Sikap diperoleh melalui aktivitas‚ menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan‛. Kompetensi Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas‚ mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta. Sementara Kompetensi Keterampilan diperoleh melalui aktivitas ‚mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta‛.

Karena itu pada Kurikulum 2013, pada tataran proses pembelajaran dan untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) akan mengupayakan agar para guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning).

Hal ini bertujuan untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).

Beberapa tahapan proses pembelajaran tersebut, jauh berbeda dengan tahapan proses yang terteta dalam PP. No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menjadi rujukan Kurikulum KTSP dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Dalam PP. No. 19 tahun 2005, Standar proses dijabarkan sebagaikan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan

(35)

pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Dari beberapa jabaran itu, masih bersifat konseptual sehingga ada banyak guru yang belum mampu menerjemahkan dalam tindakan nyata saat proses pembelajaran berlangsung.

Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester.

Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

Maka dari itu, Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka seorang guru dalam K.13 memiliki peran dan tugas lebih berat terutama dalam ketika mereka dituntut untuk mererapkan beberapa prinsip dalam proses pembelajaran sebagaimana berikut:

a) Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;

(36)

b) Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;

c) Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;

d) Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;

e) Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;

f) Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju 2 pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;

g) Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

h) Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);

i) Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

j) Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

k) Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;

l) Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.

(37)

m) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan n) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang

budaya peserta didik.

Dari beberapa poin diatas, Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah memiliki tugas yang cukup berat. Mereka dituntut untuk meningkatkan kompetensi dan keahliannya terkait dengan metode dan strategi pembelajaran. Sebab, sukses tidaknya proses pendidikan dalam mewujudkan siswa yang sesuai dengan stantard kompetensi lulusan, itu tergantung pada keahlian seorang guru dalam ‚merencanakan‛ proses pembelajaran di dalam kelas yang tertuang dalam Silabus dan RPP.

Dalam KTSP beberapa poin diatas belum terjabarkan dengan detail. Oleh karenya, bila beberapa tahapan tersebut mampu diterapkan dengan baik oleh berbagai elemen pemangku kepentingan pendidikan ini tentunya kita pantas berharap adanya angi segar perubahan kualitas pendidikan kearah yang lebih cerah. Namun bila mengintar kondisi riil saat ini, terobosan K.13 hanya akan menjadi mimpi disiang bolong yang hanya menghabiskan waktu dan dana.

Karena itu, untuk mewujudkan semua tahapan tersebut diperlukan kesunguhan dan keseriusan dari beragai kalangan terutama dari pengelola pendidikan ditingkatan bawah (Kabupaten/Kota) yang memiliki ketersinggungan langsung dengan praktek sistem pembelajaran.

(38)

2. Analisis KTSP dan K.13 dalam Standart Kompetensi Lulusan KTSP, untuk tingkat MI-SD

Standar Kompetensi Lulusan dalam KTSP

1. Menyebutkan, menghafal, membaca dan mengartikan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, mulai surat Al- Fatihah sampai surat Al-‘Alaq

2. Mengenal dan meyakini aspek-aspek rukun iman dari iman kepada Allah sampai iman kepada Qadha dan Qadar 3. Berperilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari serta

menghindari perilaku tercela

4. Mengenal dan melaksanakan rukun Islam mulai dari bersuci (thaharah) sampai zakat serta mengetahui tata cara pelaksanaan ibadah haji

5. Menceritakan kisah nabi-nabi serta mengambil teladan dari kisah tersebut dan menceritakan kisah tokoh orang- orang tercela dalam kehidupan nabi

Dari poin diatas, sangat jelas tergambar bahwa arah KTSP masih terpusat pada ranah Kognitif. Sehingga aspek prilaku tidak tersentuh. Artinya, siswa yang dapat menyebutkan dan juga menjelaskan mengenai jenis-jenis prilaku terpuji, namun tidak ‚bertindak terpuji‛ dalam kegiatan sehari-hari akan tetap mendapatkan ‚penilaian‛ baik dari guru daripada siswa yang mampu ‚berprilaku terpuji‛ dilingkungannya namnu tidak bisa menyebutkan dan menjabarkan mengenai tindakan terpuji tersebut.

Standart Kompetensi Kelulusan dalam Kurikulum 2013

(39)

SD/MI/SDLB/Paket A

Dimensi Kualifikasi Kemampuan

Sikap

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.

Pengetahuan

Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan,

kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.

Keterampilan

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya.

Dalam penjajabaran kurikulum 2013 tersebut sangat jelas perbedaanya dengan Kurikulum KTSP. Ranah kurikul 2013 fokos pada dimensi Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan siswa yang pencabarannya pun mengarah pada prilaku. Dari jabaran tersebut diharapkan tidak ada lagi siswa yang hanya mampu menyebut dan menjabarkan prilaku terpuji tampa adanya aplikasi nyata dari pengetahuan tindakn terpuji tersebut. Siswa boleh saja ‚tidak

(40)

mampu‛ menyebutkan tentang pengertian tindakan terpuji, namun mereka harus mampu mengaplikasikan ‚tindakan terpuji‛ dalam kehidupan nyata.

Karena itu, Guru sebagai pemeran utama standart proses dalam lingkup pembelajaran ini memiliki ‚beban‛ yang sangat berat dan dituntut untuk terus menerus meningkatkan kompetensi keilmuan dan kreativitasnya terkait dengan kehalian proses pembelajaran yang minimal meliputi, penyusan Silabus dan RPP, model dan strategi pembelajaran, dan aspek lain.

Namun realitasnya, kita masih mendapatkan Guru yang tingkat kompetensinya belum mumpuni. Misalnya, mereka lebih memilih copy-paste Silabus dan RPP dari pada menyusun sendiri.

Bila sudah begitu, jangan berharap mereka mampu memberikan proses pembelajaran baik di sekolah. Sebab, sangat jelas sekali bahwa mereka tidak ‚merencakan‛ proses pembelajaran tersebut dengan baik.

Pemerintah memang berupaya keras untuk meningkatkan kualitas mutu Guru terkait kamampuannya dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Melalui progara sertifikasi guru, yang salah satunya menyaratkan seorang guru proa aktif dalam penyusan Silabus dan RPP. Namun, prakterk di lapangan mereka hanya copy-paste saja, untuk sekedar ‚memenuhi‛ persyaratan pengajuan sertifikasi tersebut.

Padahal, silabus dan RPP merupakan tonggak utama sukses tidaknya sebuah proses pembelajaran. Dalam Silabus dan RPP itulah segala bentuk perencaan proses pembelajaran yang hendak dilakukan

(41)

tersusun sehingga nantinya proses pembelajaran di kelas dapat terarah dengan baik, efektif dan efisien.

Diakui atau tidak, bahwa masih banyak guru yang tidak mampu memasukkan beberapa poin diatas dalam proses pembelajarannya. Apalagi dalam Kurikulum 2013 menambahkan Kompetensi Inti yang merupakan ciri khas dari Kurikulum 2013.

Dalam hal ini seorang guru dituntut mampu memberikan pelajaran yang berorientasi pada aspek sikap, pengetahun dan keterampilan.

Adanya tambahan dua aspek tersebut (sikap, dan eterampilan), yang sebelumnya dalam KTSP hanya fokus pada aspek pengetahuan: dua aspek lain hanya tambahan saja, maka beban kerja Guru kian bertambah. Sebab, seorang guru tidak hanya dituntut mencerdaskan siswa secara akademik, tapi juga membimbing agar siswa tersebut bisa memperaktekkan apa yang ia pahami dalam proses pembelajaran tersebut.

Simpulan

Untuk meningkatkan dan membantu guru agar mampu melaksakan ‚amanah‛ tersebut, memang telah banyak pelatihan dan workshop proses pembelajaran yang dilakukan pemerintah. Namun, tidak memberikan efek positif bagi guru yang bersangkutan, utamanya yang ada di daerah berkembang. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, para guru tersebut belum mampu atau memang tidak berkemauan mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam praktek pembelajarannya. Karena beberapa tahapan tersebut, satu sisi memang membuat para guru tersebut ‚kerepotan‛ dan merasa

‚terbebani‛ dengan banyaknya tugas tambahan mereka.

(42)

Semua hal tersebut berlangsung karena tidak ada

‚pengawasan dan bimbingan‛ berkelanjutan dari kepala sekolah dan pengawas sekolah (supervisor). Mereka dalam proses pengawasannya, terkesan membiarkan persoalan tersebut terus terjadi secara berulang- ulang. Bahkan, dalam implementasi kepengawasan mereka terkesan

‚minta setoran‛ semata. Sehingga kondisi guru yang tidak sesuai dengan standar, tapi dalam pelaporannya keadaan Guru yang tidak profesional tetap dilaporkan baik.

Untuk itu, proses penyelesain masalah ini tidak cukup hanya pada peningkatan kompetensi guru. Adanya pengaawasan yang serius terhadap kineja guru; terlebih yang sudah sertifikasi, menjadi faktor penting suksesnya proses pendidikan di sekolah. Tanpa itu, tradisi copy-paste Silabus dan RPP akan terus berulang. Karena itu, adanya komitmen serius dari pihak dinas terkait peningkatan peran pengawas, juga penting untuk ditingkatkan.

Dengan begitu, maka penerapan standart proses di sekolah tidak hanya bisa diselesaikan dengan meningkatkan kualitas Guru melalui beberapa pelatihan dan worksop. Melainkan juga meningkatkan peran dan keseriusan para pengawas dalam menjalankan tugasnya.

Referensi

Dokumen terkait

Keinginan dan kebutuhan Keinginan dan kebutuhan Perencanaan Perencanaan Pengorganisasian Pengorganisasian Pengarahan Pengarahan Pengkoordinasian Pengkoordinasian Pengawasan

Manajemen adalah suatu proses pencapaian tujuan melalui fungsi-fungsinya yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Kajian ini penting untuk untuk

Secara umum, Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap usaha- usaha para anggota organisasi dan pengguna sumber

(Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan

• Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-­‐usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar

 Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar

Manajemen sumber daya manusia adalah suatu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian,

Manajemen adalah proses mengatur, mengurus, dan mengelola untuk mencapai tujuan organisasi melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan