• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Tentang Peserta Didik dan Pembelajaran

N/A
N/A
Sofi Febrilia

Academic year: 2024

Membagikan "Pemahaman Tentang Peserta Didik dan Pembelajaran"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

Cetakan 1

(2)

Cetakan 1

(3)

Pemahaman Tentang Peserta Didik dan Pembelajaran

Mata Kuliah Inti

Pendidikan Profesi Guru Prajabatan Tahun 2022

Cetakan 1

Kurator/Penulis :

Penny Handayani, M.Psi, Psikolog

Penelaah:

Caesilia Ika W, M.Psi. Psi Lestia Primayanti, S.Psi.

Maryam Mursadi, S.Sos., M.Pd.

Desain Grafis dan Ilustrasi:

Tim Desain Grafis

Copyright © 2022

Direktorat Pendidikan Profesi Guru

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi

(4)
(5)

Kata Pengantar Direktur Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan

Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). mengamatkan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Selanjutnya dalam Pasal 8 UUGD menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sesuai dalam Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi bahwa pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang menyiapkan Mahasiswa dalam pekerjaan yang memerlukan persyaratan keahlian khusus.

Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan merupakan program pendidikan yang menyiapkan guru sebagai sumber daya manusia berkualitas untuk memenuhi kondisi ideal guru di Indonesia yang meliputi aspek kuantitas, distribusi, kualifikasi, dan kompetensi. PPG Prajabatan bertujuan menghasilkan guru profesional pemula yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila, semangat gotong royong, dan mampu menggunakan teknologi digital, serta melahirkan hal-hal yang inovatif dan kreatif. Selain itu, PPG Prajabatan menekankan pada konsep Merdeka Belajar, yang berpusat kepada peserta didik dan pembelajarannya, berkomitmen menjadi teladan dan pembelajar sepanjang hayat serta memiliki dasar-dasar kepemimpinan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, PPG Prajabatan mengedepankan penguatan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional melalui clinical practice atau program praktik lapangan yang diintegrasikan dalam perkuliahan. Sebagai calon guru pemula, mahasiswa PPG Prajabatan perlu dibekali pengalaman pembelajaran yang bermakna yang nantinya akan bermanfaat ketika mereka mengajar di kelas. Hal ini dilaksanakan dengan perkuliahan berbasis kegiatan dan refleksi yang dikombinasikan dengan

(6)

praktik lapangan, termasuk di sekolah tempat guru pemula akan ditugaskan.

Pelaksanaan PPG Prajabatan melibatkan pengajar dari unsur akademisi, praktisi pendidikan, dan Guru Penggerak. Keterlibatan pengajar dari berbagai unsur ini bertujuan untuk menjembatani teori dan praktik di lapangan.

Paket-paket modul digunakan dalam perkuliahan yang dilaksanakan selama dua semester melalui tiga kelompok mata kuliah, yaitu: Mata Kuliah Inti, Mata Kuliah Pilihan Selektif, dan Mata Kuliah Pilihan Elektif. Setiap modul perkuliahan mencakup komponen Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan asesmen, perangkat pembelajaran, dan isi modul. Asesmen ketercapaian CPMK dilaksanakan di antaranya melalui projek, studi kasus, portofolio, dan tes.

Perangkat pembelajaran meliputi Lembar Kerja (LK), media, dan sumber belajar yang dilengkapi dengan pranala ke sumber belajar lainnya sebagai pengayaan.

Isi modul disusun berdasarkan alur MERDEKA, yaitu: Mulai dari diri (M), Eksplorasi konsep (E), Ruang kolaborasi (R), Demonstrasi kontekstual (D), Elaborasi pemahaman (E), Koneksi antar materi (K), dan Aksi nyata (A). Modul dengan alur MERDEKA diharapkan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri dalam mencapai tuntutan profesi sebagai agen yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan mampu mencetak generasi yang membawa perubahan ke hal yang lebih baik.

Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim penyusun dan berbagai pihak yang telah bekerja keras dan berkontribusi positif mewujudkan penyelesaian modul ini serta membantu terlaksananya PPG Prajabatan. Semoga Allah Yang Mahakuasa senantiasa memberkati upaya yang kita lakukan demi pendidikan Indonesia. Amin.

Jakarta, September 2022

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,

Dr. Iwan Syahril, Ph.D

(7)

Kata Pengantar Direktur Pendidikan Profesi Guru

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah mengambil kebijakan untuk secara bertahap mengganti guru-guru yang memasuki masa pensiun/purna tugas melalui pengangkatan guru baru yang telah lulus Pendidikan Profesi Guru Prajabatan (PPG Prajabatan).

Kebijakan tersebut menuntut kesiapan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menyelenggarakan PPG Prajabatan dengan jumlah peserta PPG Prajabatan sesuai dengan kebutuhan dan kualitas lulusan untuk menjawab tantangan kebutuhan pendidikan di sekolah.

Menanggapi tuntutan tersebut, Direktorat Pendidikan Profesi Guru (Direktorat PPG) mengkoordinasikan proses peningkatan kapasitas LPTK dalam menyelenggarakan PPG Prajabatan dalam hal jumlah dan mutu pendidikan. Untuk menanggapi tuntutan kualitas penyelenggaraan PPG Prajabatan, salah satu aktivitas yang telah dilakukan oleh Direktorat PPG, di bawah arahan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, telah mengembangkan Modul PPG Prajabatan. Hasil pengembangan tersebut dimuat di dalam dokumen ini.

Modul PPG Prajabatan memuat materi, alur, aktivitas, dan penugasan mahasiswa PPG Prajabatan. Kami berharap dengan adanya Modul PPG Prajabatan ini penyelenggaraan PPG Prajabatan di seluruh LPTK dapat terselenggara secara terstandar agar dihasilkan guru yang memiliki profil dan kompetensi sesuai kebutuhan perkembangan dunia pendidikan secara global.

Kami berterimakasih kepada LPTK penyelenggara PPG Prajabatan atas dukungan dan kerjasama dalam menyelenggarakan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Jakarta, September 2022 Plt. Direktur Pendidikan Profesi Guru,

Temu Ismail, S.Pd., M.Si.

(8)

Kata Pengantar Penyusun Modul

Salam iman, imun dan aman…

Menurut Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mengingat pentingnya seorang guru dapat memahami muridnya, maka mata kuliah ini akan membahas lebih lanjut dinamika peserta didik dan pembelajarannya.

Mata kuliah Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya ini memiliki bobot 3 SKS, dengan 6 topik utama pada kegiatan perkuliahannya. Mata kuliah Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya juga akan terhubung dengan mata Kuliah Praktek Pengalaman Lapangan (atau yang lebih dikenal sebagai PPL), khususnya PPL I.

Pada mata kuliah ini mahasiswa akan memperdalam penguasaan kerangka berpikir dalam pemahaman cara peserta didik belajar dengan pengintegrasian teori perkembangan kognitif, perkembangan sosial emosional dan latar belakang budaya. Keterhubungan dengan mata kuliah PPL di sekolah membuat mahasiswa dapat belajar lebih dalam dari sekedar konsep teoritis.

Mahasiswa dapat memperkuat keterampilan penggunaan strategi pembelajaran, seperti pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran yang responsif kultur, dan pengajaran sesuai level untuk membedah profil dan cara belajar peserta didik. Dengan demikian mahasiswa dapat membuat keputusan terkait pengajaran yang inklusif serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan berpihak pada anak.

Paska mengambil mata kuliah MK. Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya, maka diharapkan mahasiswa dapat :

(9)

1. Menguasai pemahaman konseptual tentang cara belajar peserta didik.

2. Mampu mengintegrasikan teori-teori perkembangan kognitif, sosial emosional, dan konteks budaya dalam pembelajaran

3. Memahami prinsip dan melakukan pengukuran (assessment) dalam pembelajaran

4. Memiliki dasar keterampilan penggunaan strategi-strategi pendekatan pembelajaran (sesuai tahap perkembangan, pembelajaran yang responsif terhadap kultur dan pengajaran sesuai level kemampuan peserta didik) 5. Mampu membuat profil tingkat penguasaan dan cara belajar peserta didik 6. Mempraktikkan kemampuan pedagogik dalam pembelajaran, merencanakan,

mengimplementasi dan merefleksikan (didasarkan pada hasil pengalaman) 7. Menghasilkan program pembelajaran yang inklusif serta menciptakan lingkungan

belajar yang aman, nyaman dan berpihak pada anak di kelas dengan menerapkan strategi pendekatan pembelajaran berdasarkan profil siswa

Guna mencapai tujuan di atas, maka modul mata kuliah Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya ini akan menggunakan pendekatan alur MERDEKA yang didasarkan dari teori pembelajaran orang dewasa oleh Bransford dan rekan (2000). Alur MERDEKA yang digunakan akan dilakukan pada seluruh rangkaian perkuliahan dengan :

1. Mulai dari Diri Sendiri 2. Eksplorasi Konsep 3. Ruang Kolaborasi

4. Demonstrasi Pemahaman 5. Elaborasi Pemahaman 6. Koneksi Antar Materi 7. Aksi Nyata

Materi kuliah yang akan dibahas adalah :

1. Materi-materi Teori Belajar dan Motivasi Belajar Anak

2. Teori Perkembangan (Kognitif, Psikososial, Emosional, Sosial-Konteks) 3. Profiling Siswa Didik

(10)

4. Kerangka Strategi:

a. Pembelajaran Berdiferensiasi (developmentally appropriate practice) b. Pengajaran yang Responsif Kultur (culturally responsive pedagogy) c. Pengajaran Sesuai Level (teaching at the right level)

5. Pengukuran Pemahaman Belajar Peserta Didik (Assessment) 6. Lesson Planning (RPP) - Penyusunan, Evaluasi, Refleksi

Kegiatan pembelajaran dalam mata kuliah ini terdiri dari : tatap muka, tugas terstruktur dan tugas mandiri. Mahasiswa dapat menggunakan beragam metode seperti: observasi di sekolah, analisis kasus, baik dilakukan secara individual maupun kelompok, serta praktik pembelajaran dan asesmen yang efektif.

Penilaian terhadap mahasiswa dilakukan dengan presentasi kasus, partisipasi dan keterlibatan, jurnal refleksi dan project pameran perayaan akhir perkuliahan.

Semoga dengan materi yang diberikan pada mata kuliah Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya ini, akan semakin membuat mahasiswa kita menjadi guru yang dapat lebih memahami siswa didik, sehingga dapat lebih memfasilitasi kebutuhannya guna KBM yang lebih optimal dan efektif.

Salam iman, imun dan aman.

(11)

Daftar Isi

Hlm.

Kata Pengantar Direktur Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan ... Error!

Bookmark not defined.

Kata Pengantar Direktur Pendidikan Profesi Guru ... Error! Bookmark not defined.

Kata Pengantar Penyusun Modul ... iv

Daftar Isi ... vii

Daftar Gambar ... xi

CPMK dan Assessment ... xii

Assessment ... xiii

Ringkasan Alur MERDEKA ... xiv

Topik 1. Materi Teori Belajar ... 1

A. Mulai dari Diri ... 1

B. Eksplorasi Konsep ... 4

1. Belajar ... 4

2. Teori-teori belajar ... 5

3. Motivasi belajar... 25

4. Paradigma personal Peserta didik (Fixed mindset and Growth mindset) ... 26

C. Ruang Kolaborasi ... 28

D. Demonstrasi Kontekstual ... 28

E. Elaborasi Pemahaman ... 29

F. Koneksi Antar Materi ... 30

G. Aksi Nyata ... 30

(12)

Topik 2. Teori Perkembangan (Kognitif, Psikososial, Emosional, Sosial-

Konteks) ... 31

A. Mulai dari Diri... 31

B. Eksplorasi Konsep ... 32

1. Perkembangan Fisik ... 34

2. Perkembangan Kognitif ... 35

3. Perkembangan Sosio-emosional ... 38

4. Sosial-Konteks Perkembangan ... 42

C. Ruang Kolaborasi ... 47

D. Demonstrasi Kontekstual ... 47

E. Elaborasi Pemahaman ... 48

F. Koneksi Antar Materi ... 48

G. Aksi Nyata ... 48

Topik 3. Profiling Siswa Didik ... 49

A. Mulai dari Diri... 49

B. Eksplorasi Konsep ... 49

1. Etnik ... 50

2. Kultural ... 51

3. Status sosial ... 51

4. Minat ... 51

5. Perkembangan kognitif ... 52

6. Kemampuan awal ... 52

7. Gaya belajar ... 53

8. Motivasi ... 53

9. Perkembangan emosi ... 53

10. Perkembangan sosial ... 54

11. Perkembangan moral ... 54

(13)

12. Perkembangan motorik ... 54

C. Ruang Kolaborasi ... 55

D. Demonstrasi Kontekstual ... 55

E. Elaborasi Pemahaman ... 56

F. Koneksi Antar Materi ... 56

G. Aksi Nyata ... 56

Topik 4. Kerangka Strategi ... 57

A. Mulai dari diri ... 57

B. Eksplorasi Konsep ... 59

1. Developmentally Appropriate Practice (DAP) ... 59

2. Pengajaran dan Pembelajaran Secara Kebudayaan-Responsif (Culturally Responsive Pedagogy) ... 70

3. Pengajaran Sesuai Level (Teaching at the Right Level (TaRL)) ... 76

C. Ruang Kolaborasi ... 80

D. Demonstrasi Kontekstual ... 81

E. Elaborasi Pemahaman ... 81

F. Koneksi Antar Materi ... 81

G. Aksi Nyata ... 81

Topik 5. Pengukuran Pemahaman Belajar Peserta Didik (Assesment) ... 83

A. Mulai dari Diri ... 83

B. Eksplorasi Konsep ... 85

1. Assessment : Pengertian, Fungsi, Tujuan, Jenis, Contoh ... 85

C. Ruang Kolaborasi ... 90

D. Demonstrasi Kontekstual ... 91

E. Elaborasi Pemahaman ... 91

F. Koneksi Antar Materi ... 91

G. Aksi Nyata ... 92

(14)

Topik 6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Rpp) Penyusunan, Evaluasi

Dan Refleksi ... 93

A. Mulai dari Diri... 93

B. Eksplorasi Konsep ... 94

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/Lesson Plan ( RPP ) ... 94

2. Mengapa Perlu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan)? 96 3. Unsur-unsur Utama dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / Lesson Plan ... 97

C. Ruang Kolaborasi ... 101

D. Demonstrasi Kontekstual ... 101

E. Elaborasi Pemahaman ... 101

F. Koneksi Antar Materi ... 102

G. Aksi Nyata ... 102

H. DAFTAR BACAAN ATAU SUMBER BELAJAR LAIN ... 103

LAMPIRAN ... 105

A. Lampiran 1 ... 105

B. Lampiran 2 ... 110

C. Lampiran 3 ... 114

D. Lampiran 4 ... 116

Penutup ... 125

Profil Pengembang Modul ... 126

(15)

Daftar Gambar

Hlm.

Gambar 1. 1 Eksperimen Pavlov ... 6

Gambar 1. 2 Eksperimen Thorndike ... 9

Gambar 1. 3 Eksperimen Skinner ... 12

Gambar 1. 4 Teori Kognitif Sosial Bandura (Reciprocal Determination Model) .. 16

Gambar 1. 5 Hierarki Kebutuhan Maslow ... 25

Gambar 1. 6 Growth vs Fixed Mindset ... 27

Gambar 2. 1 teori ekologi Bronfenbrenner ... 39

Gambar 4. 1 Culturally Responsive Pedagogy ... 70

Gambar 6. 1 Alur RPP ... 95

(16)

CPMK dan Assessment

1. Menguasai pemahaman konseptual tentang cara belajar peserta didik.

(P1, P2)

2. Mampu mengintegrasikan teori-teori perkembangan kognitif, sosial emosional, dan konteks budaya dalam pembelajaran (P2, P3)

3. Memahami prinsip dan melakukan pengukuran (assessment) dalam pembelajaran (P1, P4)

4. Memiliki dasar keterampilan penggunaan strategi-strategi pendekatan pembelajaran (sesuai tahap perkembangan, pembelajaran yang responsif terhadap kultur dan pengajaran sesuai level kemampuan peserta didik) (P3)

5. Mampu membuat profil tingkat penguasaan dan cara belajar peserta didik (P2)

6. Mempraktikkan kemampuan pedagogik dalam pembelajaran, merencanakan, mengimplementasi dan merefleksikan (didasarkan pada hasil pengalaman) (KU1)

Menghasilkan program pembelajaran yang inklusif serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan berpihak pada anak di kelas dengan menerapkan strategi pendekatan pembelajaran berdasarkan profil siswa (P1, P2, P3, P4)

(17)

Assessment

No Jenis Tugas Bobot (%) CPMK Catatan*

1 Jurnal Refleksi 10 % 1,2,3,4 Daily

individual

2

UTS :

Panduan Observasi dan Pengambilan Data Observasi

30 % 1,2,3, 5 Daily individual

3

UAS :

Pameran Perayaan Akhir Perkuliahan (Hasil PPL 1) a. 30 % : Presentasi

program pembelajaran b. 10 % : Desain pameran c. 10 % : Pelaksanaan

pameran

50 % 1,2,3,4,5,6,7 Final assessment

4 Partisipasi dan

Keterlibatan 10 % 1,2,3,4,5,6,7

Individual Assessed throughout the semester

(18)

Ringkasan Alur MERDEKA

Nama MK : Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya Jumlah Topik : 6

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Materi-materi Teori Belajar &

Motivasi Belajar Siswa

2 1 & 2

M

Mahasiswa diminta untuk mengungkapkan pengalaman / apa yang ia ketahui tentang belajar dan teori-teori belajar (behaviorism, social-cognitivism, constructivism), motivasi belajar (berdasarkan kebutuhan, tujuan, emotional-interest, keterampilan regulasi diri), serta paradigma personal peserta didik (growth mindset dan fixed mindset)

Pengalaman pribadi mahasiswa

E

Mahasiswa diminta untuk menjelaskan kembali tentang konsep belajar dan teori belajar

Mahasiswa diberikan kasus yang berkaitan dengan motivasi belajar kemudian mengaitkannya kepada pengalaman sehari-hari

Mahasiswa diminta untuk bisa menunjukkan kesiapan belajar dengan pola pikir yang bertumbuh (growth-mindset)

Modul dan ppt pembelajaran

(19)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Materi-materi Teori Belajar &

Motivasi Belajar Siswa

2 1 & 2

R

Mahasiswa diminta untuk berpartisipasi aktif dalam mendiskusikan dan membuat makalah mengenai teori belajar

Mahasiswa diminta untuk menyelesaikan kasus yang berkaitan dengan teori belajar.

RTM, soal studi kasus

D Mahasiswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok

di dalam kelas Rubrik penilaian

E Diseminasi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa mengenai materi teori belajar

Modul pembelajaran

K Mahasiswa diminta untuk membuat infografis/peta konsep/video pembelajaran yang mencakup teori belajar

Modul pembelajaran

A

Mahasiswa diminta untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari di pertemuan ke 1 & 2

Mahasiswa membuat panduan observasi perkembangan peserta didik

Lembar tugas

(20)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Teori

Perkembangan (Kognitif, Psikososial, Emosional, Sosial-Konteks)

1 3

M

Mahasiswa diminta untuk mengungkapkan pengalaman / apa yang ia ketahui tentang konsep perkembangan (tahap perkembangan dan indikator di setiap tahap perkembangan dan kaitannya dengan konteks sosial budaya peserta didik)

Pengalaman pribadi mahasiswa

E

Mahasiswa diminta untuk menjelaskan tahap-tahap perkembangan dan indikator di setiap tahap perkembangan berkaitan dengan belajar dan kaitannya dengan konteks sosial budaya peserta didik.

Modul dan ppt pembelajaran

R

Mahasiswa mampu menunjukkan partisipasi aktif dalam mendiskusikan teori-teori perkembangan peserta didik.

Mahasiswa diminta untuk membuat panduan observasi mengenai tahapan perkembangan peserta didik dan motivasi belajar peserta didik di kelas. .

RTM, soal studi kasus

D

Mahasiswa melakukan observasi perkembangan peserta didik di sekolah

Mahasiswa mempresentasikan hasil observasi perkembangan peserta didik di depan kelas

Rubrik penilaian

(21)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Teori

Perkembangan (Kognitif, Psikososial, Emosional, Sosial- Konteks

1 3

E Diseminasi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa mengenai

materi teori perkembangan kognitif Modul pembelajaran

K Mahasiswa diminta untuk membuat laporan mengenai gambaran

peserta didik di dalam kelas Modul pembelajaran

A Mahasiswa diminta untuk membuat rancangan rencana tindak lanjut

untuk melengkapi kekurangan data yang diperoleh di pertemuan 3 Lembar tugas

Profiling Siswa

Didik 2 4 & 5

M Mahasiswa bercerita tentang gambaran umum kondisi peserta didik di sekolah / yang diajar..

Catatan hasil observasi di lapangan

E Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi data-data yang perlu dilengkapi dari kegiatan observasi di pekan sebelumnya.

Modul dan ppt pembelajaran

R Mahasiswa diminta untuk melakukan observasi lanjutan untuk

melengkapi kebutuhan data yang masih belum lengkap RTM, soal studi kasus

D

Mahasiswa membuat profiling demografi dan tingkat penguasaan peserta didik berdasarkan hasil observasi secara ringkas dan informatif.

Rubrik penilaian

(22)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Profiling Siswa

Didik 2 4 & 5

E Diseminasi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa

mengenai hasil observasi mahasiswa Laporan hasil observasi

K Mahasiswa diminta untuk membuat laporan hasil profiling

demografi dan tingkat penguasaan peserta didik Lembar Tugas

A Mahasiswa membuat rencana aksi nyata mengenai strategi

pembelajaran berdasarkan profiling peserta didik yang dimiliki. Lembar Tugas

Kerangka Strategi: (1) Pembelajaran Berdiferensiasi (developmentally appropriate practice), (2) Pengajaran yang

5 6 - 10

M

Mahasiswa diminta untuk menceritakan pengalaman dalam menyusun strategi pembelajaran saat mengajar di sekolah.

Mahasiswa merefleksi diri terkait pengalaman menyusun strategi pembelajaran sebagai pembelajaran diri.

E

Mahasiswa mampu mengaitkan proses belajar peserta didik dengan konteks sosial budaya peserta didik.

Mahasiswa diminta untuk menjelaskan kerangka strategi pembelajaran pada peserta didik.

Modul dan ppt pembelajaran

(23)

Responsif Kultur (culturally responsive pedagogy), dan (3) Pengajaran Sesuai Level (teaching at the right level)

R Menunjukkan sikap terbuka untuk mau belajar hal yang baru

RTM, daftar nama kelompok, soal studi

kasus

D

Mahasiswa melakukan diskusi dalam kelompok untuk dapat menentukan strategi pembelajarans sesuai dengan hasil profiling demografi dan tingkat penguasaan peserta didik.

Menunjukkan sensitivitas terhadap kebutuhan dan kondisi peserta didik berdasarkan hasil observasi

Rubrik penilaian

E Diseminasi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa mengenai strategi pembelajaran yang dibuat mahasiswa

K

Mahasiswa diminta untuk menyusun strategi pembelajaran berdasarkan hasil profiling demografi dan tingkat penguasaan peserta didik.

A Mahasiswa membuat rencana aksi nyata berupa rencana asesmen hasil belajar peserta didik yang dimiliki

(24)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Pengukuran Pemahaman Belajar Peserta Didik

(Assessment)

1 11

M

Mahasiswa diminta untuk menceritakan pengalaman dalam proses pengukuran pemahaman belajar peserta didik.

Mahasiswa merefleksi diri terkait pengalaman menyusun instrumen pengukuran pemahaman belajar peserta didik

E

Mahasiswa mampu memahami asesmen sebagai pengukuran bukan penilaian

Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam asesmen yang dapat dilakukan dan tujuannya.

Modul dan ppt pembelajaran

R Mahasiswa berpartisipasi aktif dalam berdiskusi proses asesmen pada peserta didik di sekolah.

RTM, daftar nama kelompok, soal

studi kasus

D

Mahasiswa melakukan proses evaluasi diri, dan refleksi sebagai salah satu alat pengukuran.

Mahasiswa menunjukkan keterampilan observasi dan pedagogik.

Rubrik penilaian

E Diseminasi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa mengenai proses pengukuran yang dilakukan mahasiswa

(25)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Pengukuran Pemahaman Belajar Peserta Didik (Assess- ment)

1 11

K Mahasiswa mampu membuat rencana pengukuran yang dilakukan selama pembelajaran di sekolah.

A Mahasiswa membuat rencana aksi nyata berupa RPP yang akan diberikan kepada peserta didik.

Lesson Planning (RPP) - Penyusunan, Evaluasi, Refleksi

4 12 - 15

M

Mahasiswa diminta untuk merefleksikan diri (mengenal kelebihan dan kekurangan diri) dalam rangka mempersiapkan diri sebelum turun ke lapangan.

E Mahasiswa mereview kembali materi-materi sebelumnya untuk dapat dimasukkan ke dalam RPP, evaluasi dan refleksi.

Modul dan ppt pembelajaran

R

Mahasiswa mempraktekkan kemampuan pedagogik dalam proses pembelajaran

Mahasiswa diminta untuk menerapkan kemampuan dalam penggunaan strategi pendekatan pembelajaran yang sesuai

Mahasiswa diminta untuk menerapkan strategi pendekatan pembelajaran yang kontekstual (sesuai kebutuhan peserta didik, sesuai tahap perkembangan, sesuai kultur budaya, dan kemampuan belajar peserta didik)

RTM, daftar nama kelompok, soal studi

kasus

(26)

Judul Topik Jumlah Pertemuan

Pertemuan Ke-

Alur

Merdeka Rincian Kegiatan Kebutuhan

Lesson Planning (RPP) - Penyusunan,

Evaluasi, Refleksi

4 12 - 15

D Mahasiswa mampu menyajikan program pembelajaran yang telah

dilakukan, dievaluasi dan direfleksikan Rubrik penilaian

E Diseminasi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa mengenai proses pengajaran yang dilakukan mahasiswa

K

Mahasiswa melakukan evaluasi proses pembelajaran dan merefleksikannya untuk mengoptimalkan proses belajar di pekan berikutnya.

Mahasiswa membuat laporan mengenai pelaksanaan praktik pembelajaran di sekolah

A Mahasiswa membuat rencana tindak lanjut untuk mahasiswa berikutnya.

(27)

Topik 1. Materi Teori Belajar

Durasi 2 Petemuan

Capaian Pembelajaran Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa dapat 1. Mampu menunjukkan pemahaman tentang belajar dan teori-teori belajar

2. Mampu menjelaskan dengan bahasa sendiri dan pemahaman mengenai motivasi belajar

3. Menunjukkan kesiapan belajar dengan pola pikir yang bertumbuh (growth-mindset)

A. Mulai dari Diri

Belajar mengajar merupakan proses yang penting dalam pendidikan. Bahkan, tidak jarang hasil dari pendidikan ditentukan oleh keberhasilan proses belajar mengajar ini. Memastikan pemahaman peserta didik dan pembelajarannya menjadi tanggung jawab utama seorang guru saat pembelajaran di kelas. Untuk mendukung proses tersebut, pendidik harus mempelajari teori-teori tentang belajar. Dengan mempelajari teori belajar, pendidik akan dapat lebih mudah dalam memahami hakikat belajar dan membuat kerangka dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Sebelum masuk ke materi yang lebih mendalam, jawablah pertanyaan di bawah ini:

1. Mengapa proses belajar menjadi penting dalam kegiatan pendidikan?

2. Setiap individu tentu saja pernah mengenyam pendidikan formal. Ceritakan pengalaman menarik Anda, ketika Anda menjadi seorang peserta didik yang berusaha memahami penjelasan dari guru Anda. (Cerita diharapkan memuat gambaran kondisi pada saat itu, upaya apa yang Anda lakukan untuk dapat

(28)

memahami penjelasan guru, dan apa saja yang dilakukan oleh guru Anda pada saat itu untuk membantu Anda memahami pelajaran tersebut).

3. Saat pembelajaran berlangsung, seorang guru menyadari bahwa siswa di dalam kelas terlihat kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Saat itu, guru berinisiatif untuk memberikan hadiah kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. Setelah satu bulan, guru itu tidak lagi memberikan hadiah kepada siswa ketika berhasil menjawab pertanyaan guru. Akan tetapi, siswa tetap bersemangat menjawab setiap pertanyaan, karena berharap akan mendapatkan hadiah dari guru ketika berhasil menjawab dengan benar. Setelah menyadari tidak ada hadiah lagi yang diberikan guru, para siswa kembali lagi kurang bersemangat saat belajar.

Menurut Anda, apa yang menyebabkan para siswa tersebut menampilkan perilaku seperti di awal pembelajaran (kurang bersemangat saat belajar)? Jika Anda menjadi guru, apa yang akan Anda lakukan agar semangat belajar siswa dapat bertahan walaupun tidak mendapatkan hadiah?

4. Dalam kegiatan pertemuan tatap muka terbatas, pihak sekolah menempelkan poster perilaku hidup bersih dan sehat di setiap sudut sekolah, untuk membuat siswa menyadari pentingnya berperilaku hidup bersih dan sehat ketika berada di sekolah. Selain itu, guru juga secara berkala mengingatkan dan memberikan contoh bagaimana menerapkan perilaku hidup bersih kepada muridnya.

Karena terbiasa melihat poster dan perilaku guru di sekolah, para siswa selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat saat berada di sekolah.

(29)

Menurut Anda, apa yang menyebabkan para siswa tersebut mampu menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat tanpa perlu diingatkan?

5. Bayangkan jika Anda adalah seorang guru matematika di kelas VII. Saat ini, anda hendak menyampaikan materi mengenai matematika sosial yakni mencari nilai rata-rata (mean). Untuk memudahkan siswa dalam memahami pembelajaran, Anda mencoba untuk membuat urutan atau langkah-langkah yang perlu diikuti oleh siswa agar dapat mencari nilai rata-rata pada sebuah soal. Anda meminta kepada siswa untuk mengerjakan soal yang Anda berikan.

Hasilnya, siswa mampu mengerjakan dengan benar, sesuai dengan langkah yang telah Anda siapkan. Beberapa saat kemudian, Anda meminta kepada siswa untuk mengulangi soal yang sama tanpa melihat urutan pengerjaan soal, dan siswa mampu mengerjakannya dengan benar.

Menurut Anda, apa yang membuat siswa mampu mengerjakan soal dengan baik pada percobaan kedua (tanpa melihat urutan/langkah pengerjaan soal)?

Sebagai seorang calon guru, dalam kegiatan belajar yang seperti apa metode di atas dapat diterapkan?

6. Coba ingat-ingat pengalaman Anda ketika sekolah (SD/SMP/SMA), guru apa saja yang dapat membuat Anda tertarik mengikuti pembelajaran dan sebaliknya? Ceritakan sebuah pengalaman menarik Anda berkaitan dengan cara Anda membangkitkan motivasi pada diri Anda ketika menjadi seorang pelajar!

(30)

7. Pernahkah anda mendengar istilah mindset atau pola pikir? Menurut Anda, apakah mindset itu? Apakah peran mindset dalam proses pembelajaran para peserta didik? Bagaimana cara Anda mengembangkan mindset yang Anda miliki saat ini?

B. Eksplorasi Konsep

1. Belajar

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar memiliki arti sebagai upaya memperoleh kepandaian atau ilmu. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.

Pritchard (2008) belajar (to learn) memiliki arti “to gain knowledge of, or skill in, something through study, teaching, instruction or experience”. Menurut definisi tersebut, belajar dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan, melalui studi, pengajaran, instruksi atau pengalaman.

Sedangkan menurut Schunk (2012) belajar memiliki arti “learning is an enduring change in behavior, or in the capacity to behave in a given fashion, which results

(31)

from practice or other forms from experience”. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian perubahan perilaku yang bertahan lama, atau dalam kapasitas untuk berperilaku dengan cara tertentu, yang dihasilkan dari latihan atau bentuk lain dari pengalaman.

Berdasarkan definisi di atas, belajar merupakan upaya manusia untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan, sehingga mencapai kapasitas untuk berperilaku dengan cara tertentu, melalui studi, pengajaran, instruksi, latihan atau bentuk pengalaman lainnya.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa ciri dalam belajar, yakni:

a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior).

Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat mengetahui ada tidaknya hasil belajar.

b. Perubahan tingkah laku tidak harus segera diamati pada proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.

c. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.

d. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.

2. Teori-teori belajar

Agar dapat lebih memahami konsep belajar lebih dalam lagi, kita perlu memahami konsep belajar dari beberapa sudut pandang teori. Dalam proses pembelajaran, belajar dapat dilihat dari 3 sudut pandang yakni: 1) Behaviorism (behaviorisme);

2) Social - Cognitivism (Sosial Kognitif); dan 3) Constructivism (Konstruktivisme).

Mari kita pahami satu persatu ketiga sudut pandang tersebut.

(32)

a.

Behaviorism (Behaviorisme)

1) Teori belajar Ivan Petrovich Pavlov (1849 - 1936)

Ivan Petrovich Pavlov adalah seorang behavioristik yang terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons. Classical conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dengan melibatkan perangsang asli dan netral yang dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.

Ivan Pavlov melakukan eksperimen yang disebut classical conditioning seperti yang dijelaskan dalam gambar berikut ini:

Gambar 1. 1 Eksperimen Pavlov

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:

a) Gambar pertama. Bila Anjing diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otomatis anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).

b) Gambar kedua. Jika anjing hanya dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.

(33)

c) Gambar ketiga. Dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.

d) Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang- ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).

Pada eksperimen ini menjelaskan bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walaupun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.

Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menampilkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction atau penghapusan.

Apabila dikaitkan dalam proses pembelajaran, penerapan teori Pavlov dapat diilustrasikan sebagai berikut: Saat pembelajaran matematika berlangsung, ketika guru memberikan hadiah kepada siswa (unconditioning stimulus), siswa secara otomatis akan senang/bersemangat (unconditioning response). Ketika guru memberikan tugas matematika kepada siswa, sebagian besar siswa kurang bersemangat. Akan tetapi, saat itu guru menjanjikan akan memberi hadiah (Unconditioning Stimulus) kepada siswa yang berhasil mengerjakan matematika dengan baik (Conditioning Stimulus), sehingga siswa bersemangat mengerjakan tugas tersebut (Unconditioning Response).

Setelah lama mengajar, guru itu tidak lagi memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil mengerjakan matematika dengan baik, akan tetapi, siswa tetap bersemangat (Conditioning response) mengerjakan dengan

(34)

harapan akan mendapat hadiah. Jika guru tidak lagi memberi hadiah, lama- kelamaan siswa tidak lagi bersemangat mengerjakan matematika.

Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:

a) Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

b) Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun

Menurut teori conditioning belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Hal terpenting dalam belajar menurut teori classical conditioning adalah adanya latihan-latihan yang terus-menerus, agar menghasilkan perilaku yang terjadi secara otomatis.

2) Teori belajar Edward Lee Thorndike (1874 - 1949)

Menurut Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus (S) dan respon (R). Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan oleh individu ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dalam teori S-R dikatakan bahwa proses belajar, kali pertama organisme (hewan, orang) belajar melalui proses trial and error. Apabila suatu organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, organisme itu akan mengeluarkan tingkah laku yang serentak dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk

(35)

memecahkan masalah itu. Untuk menjelaskan teori belajar trial and error, Thorndike melakukan eksperimen dengan seekor kucing seperti gambar berikut ini:

Gambar 1. 2 Eksperimen Thorndike

Pada gambar di atas, diperlihatkan bahwa kucing yang lapar dimasukkan ke dalam kotak kerangkeng (puzzle box) yang dilengkapi alat pembuka bila disentuh. Sementara, di luar kotak ditaruh ikan, kucing dalam kotak kerangkeng bergerak kesana kemari untuk mencari jalan untuk keluar, tetapi gagal. Kucing terus melakukan usaha dan gagal, keadaan ini berlangsung terus. Pada suatu ketika, kucing tanpa sengaja berhasil menarik seutas tali untuk pembuka pintu sehingga tanpa disengaja pintu kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan ikan di depannya.

Percobaan Thorndike tersebut diulang-ulang, dan pola gerakan kucing sama saja namun semakin lama kucing dapat membuka pintunya. Gerakan usahanya semakin sedikit dan efisien. Pada kucing tadi terlihat ada kemajuan-kemajuan tingkah lakunya. Sehingga pada akhirnya kucing

(36)

dimasukkan dalam box terus dapat menarik seutas tali (sekali usaha sekali terbuka) hingga pintu terbuka.

Berdasarkan eksperimen Thorndike terhadap seekor kucing menghasilkan hukum-hukum pokok belajar, diantaranya:

a) Law of Readiness yakni hukum yang menyatakan bahwa dalam belajar organisme atau individu harus dalam keadaan siap, baik secara fisik maupun mental untuk menerima atau mempelajari pengetahuan dan perilaku baru agar mencapai keberhasilan. Thorndike menjelaskan bahwa terdapat tiga keadaan berkaitan dengan kesiapan belajar individu, antara lain:

 Kesiapan untuk belajar atau merespons stimulus dapat menimbulkan kecenderungan untuk bertindak

 Organisme atau individu yang sudah siap untuk bertindak, apabila tidak bertindak akan menimbulkan ketidakpuasan, dan akan menimbulkan respon-respon yang lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasan itu.

 Apabila organisme atau individu yang tidak siap untuk bertindak dipaksa akan menimbulkan ketidakpuasan dan berakibat dilakukannya tindakan-tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasan itu.

b) Law of Exercise yakni hukum yang menyatakan bahwa untuk menghasilkan tindakan yang sesuai dan memuaskan untuk merespons suatu stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-ulang. Thorndike membagi hukum ini menjadi dua hukum, yakni law of use dan law of disuse.

c) Law of Effect, yakni hukum yang menyatakan bahwa setiap organisme memiliki respon sendiri-sendiri dalam menghadapi stimulus dan situasi yang baru, jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meningkat, begitu juga sebaliknya.

(37)

Selain ketiga hukum di atas, masih ada beberapa hukum lainnya dari hasil eksperimen Thorndike. Hukum-hukum tersebut adalah sebagai berikut:

a) Law of Multiple Response menyatakan bahwa ketika suatu respon tidak menghasilkan kepuasan, maka individu akan cenderung berinisiatif untuk melakukan respons baru yang lain.

b) Law of Attitude (Law of Set, Law of Disposition) menyatakan bahwa respon yang dilakukan oleh individu itu ditentukan oleh cara penyelesaian individu yang khas dalam menghadapi lingkungan kebudayaan tertentu. Sikap tidak hanya menentukan yang dikerjakan oleh seseorang, tetapi juga apakah respon-respon tersebut memuaskan atau tidak memuaskan baginya.

c) Law of Partial Activity (Law of Prepotency Element) menyatakan bahwa individu atau organisme dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam situasi tertentu.

d) Law of Response by Analogy (Law of Assimilation) menyatakan bahwa setiap individu bereaksi terhadap situasi baru yang sebagaimana dia bereaksi terhadap situasi yang mirip dengan itu sebelumnya, atau ia akan bereaksi terhadap hal atau unsur tertentu dalam situasi yang telah berulang kali dihadapinya.

e) Law of Associative Shifting menyatakan bila suatu respon dapat dipertahankan berlaku dalam serangkaian perubahan-perubahan pada situasi yang merangsang, maka respon itu akhirnya dapat diberikan kepada situasi yang baru.

3) Teori Belajar Burrhus Frederic Skinner

Skinner memulai penemuan teori belajarnya dengan kepercayaan bahwa prinsip-prinsip classical conditioning hanya sebagian kecil dari perilaku yang bisa dipelajari. Pada dasarnya, Skinner mendefinisikan belajar sebagai proses perubahan perilaku yang dicapai sebagai hasil belajar melalui proses penguatan perilaku baru yang muncul, proses ini biasa disebut dengan operant conditioning.

(38)

Pada operant conditioning, Skinner menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh dua hal, yakni anteseden (peristiwa yang mendahului perilaku) dan konsekuen (peristiwa yang mengikuti perilaku). Hubungan ini dapat ditunjukkan secara sederhana sebagai rangkaian antecedents- behavior-consequences atau A-B-C.

Tidak seperti dalam teori belajar sebelumnya, respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Untuk menjelaskan teori belajar operant conditioning, Skinner melakukan eksperimen dengan seekor tikus seperti gambar berikut ini:

Gambar 1. 3 Eksperimen Skinner

Pada eksperimen skinner, mula-mula tikus mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada di sekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Tingkah laku tikus ini disebut dengan emitted behavior (tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa mempedulikan stimulus tertentu). Kemudian salah satu tingkah laku tikus (seperti cakaran kaki atau sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam wadahnya. Butir-butir makanan yang muncul merupakan reinforcer bagi tikus yang telah menekan pengungkit.

(39)

Penekanan pengungkit inilah yang disebut dengan tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi reinforcement, yaitu penguatan berupa butiran makanan ke dalam wadah makanan.

Berdasarkan eksperimen Skinner terhadap seekor tikus menghasilkan hukum-hukum pokok belajar, diantaranya:

a) Law Operant Conditioning menyatakan apabila suatu tingkah laku diiringi oleh sebuah penguat (reinforcement), maka tingkah laku akan meningkat

b) Law of Extinction menyatakan apabila suatu tingkah laku yang diperkuat dengan stimulus penguat, maka tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah.

Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Skinner, terdapat beberapa prinsip belajar yang menghasilkan perubahan perilaku, antara lain:

a) Reinforcement, merupakan sebuah konsekuensi yang menguatkan tingkah laku. Secara umum, reinforcement dapat dibedakan menjadi tiga, berdasarkan hal di bawah ini:

 Berdasarkan jenisnya

Reinforcement Primer Reinforcement Sekunder

Berupa kebutuhan dasar manusia Reinforcement yang diasosiasikan dengan reinforcement primer

 Berdasarkan bentuknya

Reinforcement positive Reinforcement negative

Berupa konsekuensi yang diberikan untuk menguatkan atau meningkatkan perilaku.

Merupakan aktivitas menarik diri dari situasi yang tidak menyenangkan untuk menguatkan tingkah laku.

(40)

Contoh: hadiah, pujian, dsb Contoh: seorang guru membebaskan muridnya dari tugas membersihkan kamar mandi apabila muridnya dapat menyelesaikan PR nya.

 Berdasarkan waktu pemberiannya

Ratio Interval

Fixed Reinforcer diberikan setelah sejumlah tingkah laku.

Contoh: guru mengatakan “jika kamu dapat menyelesaikan 10 soal

matematika dengan cepat dan benar, maka kalian boleh pulang lebih dulu”

Reinforcer diberikan ketika seseorang menunjukkan perilaku yang diinginkan pada waktu tertentu.

Contoh: setiap 30 menit sekali

Variable Sejumlah perilaku yang dibutuhkan untuk berbagai macam reinforcement dari reinforcement satu ke

reinforcement yang lain.

Contoh: guru tidak hanya melihat apakah tugas dapat diselesaikan, tetapi juga melihat kemajuan yang diperoleh pada tahap-tahap menyelesaikan tugas tersebut.

Reinforcement diberikan tergantung pada waktu dan sebuah respon, tetapi antara waktu dan reinforcement

bermacam-macam.

b) Punishment, merupakan upaya menghadirkan situasi yang tidak menyenangkan atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku. Punishment terdiri atas dua bentuk, yakni:

(41)

Time Out Response Cost Bentuk hukuman yang diberikan

kepada seseorang dengan cara menghilangkan sesuatu yang disukai atau disenangi sampai pada waktu tertentu.

Bentuk hukuman yang diberikan kepada seseorang dengan cara menghilangkan reinforcement positif jika melakukan perilaku yang tidak diinginkan.

c) Shaping, merupakan langkah-langkah kecil yang disertai dengan feedback untuk membantu siswa mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Misalnya: mengajarkan anak kecil menata sepatunya dengan rapi dengan menunjukkan cara menata yang benar terlebih dahulu dan kemudian membiarkan anak melakukan pekerjaan tersebut sampai selesai, baru diberikan reinforcement.

d) Extinction adalah mengurangi atau menurunkan tingkah laku dengan menarik reinforcement yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi.

Penerapan teori behaviorisme dalam pembelajaran di sekolah:

Belajar dalam pendekatan behaviorisme tidak terlepas dari stimulus yang sudah dibuat oleh guru agar siswa mampu mengulangi atau berperilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh guru. Pemberian stimulus berulang sehingga terjadi pembiasaan, dilakukan kepada peserta didik tentu saja harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Adanya stimulus sesungguhnya menjadi sebuah perangkat keras agar proses dan hasil belajar bisa dikembangkan sedemikian rupa namun tetap berada dalam konteks tujuan pembelajaran.

Berikut ini merupakan contoh penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran di kelas antara lain:

1. Guru harus menyusun materi atau bahan ajar secara lengkap. Dimulai dari materi sederhana sampai kompleks.

2. Guru lebih banyak memberikan contoh berupa instruksi selama mengajar.

(42)

3. Saat guru melihat ada kesalahan, baik pada materi maupun pada siswa maka guru akan segera diperbaiki.

4. Guru memberikan banyak drilling dan latihan agar terbentuk perilaku atau pembiasaan seperti yang diinginkan.

5. Evaluasi berdasarkan perilaku yang terlihat.

6. Guru dituntut memiliki kemampuan memberikan penguatan (reinforcement), baik dari sisi positif dan negatif.

4) Social - Cognitivism (Sosial Kognitif)

Teori kognitif sosial dikemukakan oleh Albert Bandura lahir berdasarkan kritik atas teori yang dikembangkan oleh ahli behavioristik. Menurut Albert Bandura, walaupun prinsip belajar cukup menjelaskan dan meramalkan perilaku, namun prinsip tersebut harus memperhatikan suatu fenomena yang diabaikan oleh paradigma behaviorisme, yaitu manusia mempunyai kemampuan berpikir dan mengatur tingkah laku nya sendiri. Bandura merumuskan Teori Belajar Sosial dengan mengakomodasi kemampuan kognitif manusia dalam berpikir dan belajar melalui pengamatan sosial.

Agar lebih mudah dalam memahami teori sosial kognitif dari bandura, silahkan amati gambar berikut ini:

Gambar 1. 4 Teori Kognitif Sosial Bandura (Reciprocal Determination Model) Gambar di atas menjelaskan bahwa perilaku, kognitif dan lingkungan saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku dan sebaliknya, faktor kognitif mempengaruhi

(43)

perilaku dan sebaliknya, serta faktor lingkungan mempengaruhi kognitif dan sebaliknya.

Bandura menyatakan bahwa, orang belajar banyak perilaku melalui proses peniruan. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model dan akibat yang ditimbulkannya. Proses belajar semacam ini disebut observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan. Selama berjalannya observational learning, seseorang mencoba melakukan tingkah laku yang dilihatnya dan melakukan reinforcement/punishment yang berfungsi sebagai sumber informasi bagi seseorang mengenai tingkah laku mereka. Teori belajar sosial ini menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang berkembang melalui proses pengamatan.Istilah yang terkenal dalam teori belajar sosial adalah modeling (peniruan). Modeling lebih dari sekedar peniruan atau mengulangi perilaku model tetapi juga melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan, sekaligus melibatkan proses kognitif.

Bandura mengemukakan empat komponen dalam pembelajaran observasional, yaitu:

a) Atensi. Sebelum melakukan peniruan, orang terlebih dahulu menaruh perhatian terhadap model yang akan ditiru.

b) Retensi. Setelah memperhatikan dan mengamati suatu model, maka pada saat lain anak akan memperhatikan tingkah laku yang sama dengan model tersebut.

c) Produksi. Agar bisa memproduksi tingkah laku, seseorang harus bisa memperlihatkan kemampuan motoriknya.

d) Motivasi. Setelah seseorang melakukan pengamatan terhadap suatu model, ia akan mengingatnya. Diperlihatkan atau tidaknya hasil pengamatan tersebut bergantung pada kemauan/motivasi yang ada.

(44)

Penerapan teori kognitif sosial dalam pembelajaran:

Pada menerapkan teori belajar kognitif, seorang guru perlu fokus pada proses berpikir siswa dan memberikan strategi yang tepat berdasarkan fungsi kognitif mereka. Libatkan siswa dalam berbagai kegiatan, seperti memberikan waktu bagi mereka untuk bertanya, kesempatan untuk membuat kesalahan dan memperbaikinya berdasarkan hasil pengamatan, serta merefleksikan diri agar dapat membantu mereka dalam memahami proses mental. Di bawah ini terdapat beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan seorang guru dalam pembelajaran kognitif, antara lain:

a) Minta siswa untuk merefleksikan pengalaman mereka melalui pembuatan jurnal atau laporan harian tentang kegiatan apa saja yang mereka lakukan.

b) Mendorong diskusi berdasarkan apa yang diajarkan dengan meminta siswa untuk menjelaskan materi pembelajaran di depan kelas dan ajak siswa lainnya untuk mengajukan pertanyaan.

c) Membantu siswa menemukan solusi baru untuk suatu masalah untuk mengembangkan cara berpikir kritis.

d) Minta siswa untuk memberikan penjelasan tentang ide atau pendapat yang mereka miliki.

e) Membantu siswa dalam mengeksplorasi dan memahami bagaimana ide-ide bisa terhubung.

f) Meningkatkan pemahaman dan ingatan siswa melalui penggunaan visualisasi dan permainan dalam menyampaikan materi.

b.

Constructivism (Konstruktivisme)

1) Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget

Pada pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat

(45)

apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti sebuah kotak-kotak yang masing-masing memiliki makna yang berbeda- beda. Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda.

Oleh karena itu, pada saat manusia belajar, sebenarnya telah terjadi dua proses dalam dirinya, yaitu:

a) Proses organisasi informasi, yaitu proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses ini, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapat, sehingga manusia dapat mengasimilasi atau mengakomodasi informasi atau pengetahuan.

b) Proses adaptasi, yaitu proses yang berisi dua kegiatan. Pertama, menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia, atau disebut dengan asimilasi. Kedua, mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga terjadi keseimbangan.

2) Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky

Salah satu konsep dasar pendekatan konstruktivisme dalam belajar adalah adanya interaksi sosial individu dengan lingkungannya. Menurut Vygotsky, belajar adalah sebuah proses yang melibatkan dua elemen penting.

Pertama, belajar merupakan proses secara biologi sebagai proses dasar.

Kedua, proses secara psikososial sebagai proses yang lebih tinggi dan esensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya. Munculnya perilaku seseorang adalah karena keterlibatan dua hal tersebut. Pada saat seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungan, ia akan menggunakan fisiknya berupa alat indera untuk menangkap atau menyerap stimulus, kemudian menggunakan saraf otak untuk mengolah informasi yang sudah diterima. Keterlibatan alat indera dalam menyerap stimulus dan saraf otak

(46)

dalam mengelola informasi merupakan proses secara fisik-psikologis sebagai elemen dasar dalam belajar.

Pengetahuan yang telah ada sebagai hasil dari proses elemen dasar ini akan lebih berkembang ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial budaya mereka. Oleh karena itu, Vygotsky menekankan pentingnya peran interaksi sosial bagi perkembangan belajar seseorang. Pemikiran Vygotsky yang sangat berarti dalam konsep pendidikan salah satunya adalah Zone of Proximal Development (ZPD) atau zona perkembangan proksimal. ZPD merupakan suatu tingkat yang dapat dicapai oleh seorang anak ketika ia melakukan perilaku sosial. Zone atau Zona yang dimaksud disini diartikan sebagai seorang anak yang tidak dapat melakukan sesuatu sendiri tetapi memerlukan bantuan kelompok atau orang dewasa. ZPD dipercaya sebagai salah satu langkah untuk membangun suasana belajar yang efektif.

Ide dasar lain dari teori belajar Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau bantuan setelah anak mampu untuk memecahkan masalah dari tugas yang dihadapinya.

Penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran:

1. Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar. Dengan menghargai gagasan atau pemikiran siswa serta mendorong siswa berpikir mandiri, berarti guru telah membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Para siswa yang merumuskan pertanyaan- pertanyaan dan kemudian menganalisis serta menjawabnya berarti telah mengembangkan tanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri serta menjadi pemecah masalah (problem solvers).

2. Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespons. Berpikir reflektif memerlukan waktu yang cukup dan seringkali atas dasar gagasan- gagasan dan komentar orang lain. Cara-cara guru mengajukan

(47)

pertanyaan dan cara siswa merespons atau menjawabnya akan mendorong siswa mampu membangun keberhasilan dalam melakukan penyelidikan atas informasi yang diterimanya.

3. Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking). Guru yang menerapkan proses pembelajaran konstruktivisme akan menantang para siswa untuk mampu menjangkau hal–hal yang berada di balik respons faktual yang sederhana. Guru mendorong siswa untuk menghubungkan dan merangkum konsep-konsep melalui analisis, prediksi, justifikasi dan mempertahankan gagasan atau pemikirannya.

4. Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru dan siswa lainnya. Dialog dan diskusi yang merupakan interaksi sosial dalam kelas yang bersifat intensif sangat membantu siswa untuk mampu mengubah atau menguatkan gagasan-gagasannya. Jika mereka memiliki kesempatan untuk mengemukakan apa yang mereka pikirkan dan mendengarkan gagasan orang lain, maka mereka akan mampu membangun pengetahuan sendiri yang didasarkan atas pemahaman sendiri. Jika merasa nyaman dan aman untuk mengemukakan gagasan- gagasan mereka, maka dialog yang sangat bermakna akan tercipta di dalam kelas.

5. Siswa terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi. Jika diberi kesempatan untuk menyusun berbagai macam prediksi, sering kali siswa menghasilkan hipotesis tentang informasi maupun kejadian yang sedang dialaminya. Guru yang menerapkan konstruktivisme dalam pembelajaran memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menguji hipotesis mereka, terutama melalui diskusi kelompok dan pengalaman nyata.

6. Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan materi- materi interaktif. Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan konstruktivisme melibatkan para siswa dalam mengamati dan menganalisis fenomena alam dalam dunia nyata. Guru kemudian membantu siswa untuk menghasilkan abstraksi atau pemikiran-pemikiran tentang fenomena-fenomena alam tersebut secara bersama-sama.

(48)

c. Humanistik

Terdapat dua prinsip yang diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Pertama, memfokuskan pada peran pendidikan dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan siswa. Gerakan yang berdasarkan prinsip ini disebut dengan pengajaran langsung (direct instruction). Kedua, lebih memfokuskan pada hasil afektif, belajar bagaimana belajar serta meningkatkan kreativitas dan potensi manusia. Inilah yang disebut dengan gerakan pendidikan humanistik.

Teori humanistik atau sering juga disebut sebagai teori belajar humanistik adalah satu

Gambar

Gambar 1. 1 Eksperimen Pavlov
Gambar 1. 2 Eksperimen Thorndike
Gambar 1. 3 Eksperimen Skinner
Gambar 1. 4 Teori Kognitif Sosial Bandura (Reciprocal Determination Model)  Gambar di atas menjelaskan bahwa perilaku, kognitif dan lingkungan saling  berinteraksi  untuk  mempengaruhi  pembelajaran
+5

Referensi

Dokumen terkait

Model pembelajaran STAD dapat digunakan untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada peserta didik dimana materi tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar

agar kemampuan pemahaman matematik peserta didik menjadi lebih baik, atau guru dapat mencoba model-model yang baru demi tercapainya tujuan pembelajaran matematika; (3) Kepada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan media VCD pembelajaran terhadap kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 Bandar

Hasil penelitian yaitu menghasilkan video pembelajaran materi kubus dan balok untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis peserta didik dan hasil validasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan media VCD pembelajaran terhadap kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 Bandar

Keyword: Group Investigation, Mathematical Understanding, Activity ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman matematik peserta didik dengan

Memahami Perkembangan Peserta Didik dalam Pendidikan Resume Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan dan Bimbingan dengan Dosen Pengampu Dadang Sudrajat, M.Pd

1 September 2021 Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Pedidikan Agama Islam MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MODEL PEMBELAJARAN MAKE-A-MATCH PADA PESERTA DIDIK MATERI PUASA RAMADHAN