PELAJARAN 2020/2021
TESIS
Oleh :
MUHAMMAD PARHUN NIM. 180 401 022
Email :[email protected]/
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MATARAM 2020
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MADRASAH ALIYAH NAHDLATUL WATHAN SAMAWA SUMBAWA BESAR TAHUN
PELAJARAN 2020/2021
TESIS
Pembimbing:
Dr. Wildan, M.Pd.
Dr. Saleh Ending, M.Ag.
Oleh :
MUHAMMAD PARHUN NIM. 180 401 022
Email :[email protected]/
Tesis ini dibuat untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapat gelar Magister
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MATARAM 2020
ABSTRAK
Implementasi Pendidikan Karakter Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah NW Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021
Kegelisahan peneliti terhadap merosotnya akhlal generasi muda yang mendapat pendidikan di lingkungan Madrasah maupun di tingkat sekolah menengah atas. Pengimplementasian pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk generasi yang bermoral dan berakhlak islami. Dengan pendidikan karakter juga dapat memberikan jalan keluar untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang baik di muka bumi melalui lingkungan Madrasah maupun di luar Madrasah. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan menganalisis tentang Implementasi Pendidikan Karakter melalui Mata Pelajaran Aqidah Akhlak.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif diskriptif dengan mengambil lokasi di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Desa Labuhan Sumbawa Kecamatan Labuhan Badas Kabupaten Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi untuk mengetahui bentuk implementasi pendidikan karakter melalui Pelajaran Aqidah Akhlak, kendala dan solusi dalam implementasi pendidikan karakter.
Adapun analisis data menggunakan teknik deskriptif melalui tiga alur kegiatan, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter melalui pelajaran Aqidah Akhlak sebagai berikut: melalui pengajaran yang di lakukan oleh pendidik Aqidah Akhlak melalui Implementasi pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak pendidik menggunakan 3 cara:
penjelasan, prilaku dan sikap. Faktor pendukung adalah Fasilitas, Silabus, RPP, Program Pemerintah, Susunan Visi dan Misi serta Guru Agama yang lain. Yang menjadi kendala adalah kurangnya inovasi pembelajaran kreatif. Adapun solusinya adalah pendidik harus menentukan topic dan media ajar yang yang selektif.
Kata Kunci: Implementasi Pendidikan Karakter, Pembelajaran Aqidah Akhlak.
ةيب عل ( ص ل )
ABSTRACT
Implementation of Character Education in Moral and Aqeedah lesson at High School of NW Samawa T.P 2020/2021
Researcher‟s anxiety toward the sagging lesson of young people who got education in Madrasah and the upper secondary school level environment.
Implementazed character education is expected to form moral and Islamic Aqeedah generation. With character education can also provide a way out to form students to be good human beings on the earth within Madrasah and outside. This study aims to describe and analyze about the implementation of the character education in Morals and Aqeedah lesson.
This research is a descriptive qualitative research to take place in the High School of NW Samawa village subdistrict Labuhan Sumbawa central Sumbawa district West Nusa Tenggara province. Data was collected through observation, interviews and documentation to determine the internalization of character education in Morals and Aqeedah lesson, enabling and inhibiting factors and the implications for learners. The analysis of the data use descriptive techniques through three grooves of activity, namely data reduction, data presentation, and conclusion.
Research results indicate that the implementation of the character education in Morals Aqeedah lesson as follows: through the teaching that had done by the educators of Morals and Aqeedah lesson in Internalization of character education in Morals and Aqeedah lesson, educators use three different methods: description, behavior and attitude. Supporting factor is the Facility, the Government Program, Structure of the vision and mission as well as other religious teachers. Inhibiting factor is a book about character education is not available yet. While its implication is understanding, courtesy, has a soul friendship, and discipline students.
Keywords: Implementation of Character Education, Aqeedah lesson.
MOTTO
ا ٌ تق ْ ه ج قهْ ي ا ٌة ي ى ْسحْل سْحأ ي َ ل ل خ يف ْ ه ةَ جْل حْصأ ك ل أ ٌةَل
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya . Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak kehinaan .Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan”1. (Q.S. Yunus: 26-27)
1Depertemen Agama RI, AL-Qur’an dan Terjemah (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), .
PERSEMBAHAN:
1. Ibunda tercinta (Bariah) dan ayahanda (Muhammad Yunus), yang telah memberikan pendidikan sejak kecil
2. Istri dan anak - anakku tercinta
3. Pengelola Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Sumbawa Besar
4. Almamater tercinta Pascasarjana UIN mataram 5. Seluruh karib-kerabat yang telah membantu dalam
penyusunan tesis ini
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Subhanahu wata‟ala, Tuhan Semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Amin.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian Tesis ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, antara lain :
1. Dr. Wildan, M.Pd, sebagai Pembimbing I dan Dr. Saleh Ending, M.Ag.
sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus menerus, dan tanpa bosan ditengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan thesis ini;
2. Dr. Fathurrahman Mukhtar, M.Ag. sebagai Ketua Prodi PAI Program Magister Pasca Sarjana UIN Mataram;
3. Prof.Dr. Suprapto, M.Ag, sebagai Direktur Pascasarjana UIN Mataram;
4. Prof.Dr. Mutawali, M.Ag, sebagai Rektor UIN Mataram ; 5. Kepala UPT Perpustakaan UIN Mataram ;.
6. Teman-teman Mahasiswa di Pascasarjana UIN Mataram;
Semoga Amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah Swt. Dan semoga karya Ilmiah ini bermanfaat sebagai hazanah keilmuan bagi semesta alam.Amin.
Mataram, 23 Oktober 2020 Peneliti
Muhammad Parhun
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
ب = B ط = ṭ
ت = T ظ = ẓ
ث = Th ع = „
ج = J غ = Gh
ح = ḥ ف = F
خ = Kh ق = Q
د = D ك = K
ذ = Dh ل = L
ر = R م = M
ز = Z ن = N
س = S و = W
ش = Sh ه = H
ص = ṣ ء = ′
ض = ḍ ي = Y
Short: a = ; i = ; u = Long: ā = ا ; ī = ي ; ū = و
Diphthong: ay = يا ; aw = وا
DAFTAR ISI
KOVER LUAR ……….. ..i
LEMBAR LOGO ...ii
KOVER DALAM ……… ....iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iv
PENGESAHAN PENGUJI ...v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...vi
LEMBAR PENGECEKAN PLAGIARISME...vii
ABSTRAK (Indonesia, arab,dan inggris) ... ..viii
MOTTO...xi
PERSEMBAHAN ...xii
KATA PENGANTAR ... ..xiii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ...xv
DAFTAR ISI ... ..xvi
DAFTAR TABEL ... ..xix
DAFTAR GAMBAR ... ..xx
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah ...6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...7
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ...8
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ...9
F. Kerangka Teori...12
1. Pendidikan karakter ...12
2. Tujuan Pendidikan karakter ...17
3. Nilai-Nilai Dalam Pendidikan karakter ...19
4. Desain Pendidikan Karakter ...23
5. Prinsip Pendidikan Karakter ...24
6. Tahapan Pendidikan Karakter ...25
7. Pembelajaran Aqidah Akhlak ...29
G. Metode Penelitian...40
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...56
B. Bentuk Perencanaan Pembelajaran ...65
C. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran ...68
D. Bentuk Evaluasi ...97
E. Kendala dan Solusi………101
BAB III PEMBAHASAN A. Bentuk Perencanaan Pembelajaran………109
B. Pelaksanaan Pembelajaran……….112
C. Bentuk Evaluasi Pembelajaran………..116 D. Keendala dan Solusi ………..117
BAB IV PENUTUP A. Simpulan ... 135
B. Saran ... 137
DAFTAR PUSTAKA ... 140
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 147
1. Transkrip Wawancara Peneliti ... 147
2. Dokumen Wawancara ... 155
3. Tata tertib MA NW Samawa ... 157
4. Tabel 1: Daftar keadaan tenaga pendidik MA NW Samawa ... 160
5. Tabel 2: Daftar keadaan tata usaha MA NW Samawa ... 160
6. Tabel 3: Daftar sarana dan prasarana MA NW Samawa ... 160
7. Tabel 4: Daftar keadaan siswa MA NW Samawa ... 160
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR GAMBAR/LAMPIRAN
Gambar 1: Wawancara dengan kepala Madrasah ... 155Gambar 2: Wawancara dengan waka kurikulum ... 155
Gambar 3: Wawancara dengan waka humas ... 155
Gambar 4: Wawncara dengan Guru Mata Pelajaran Aqidah Akhlak ... 156
Gambar 5: Wawancara dengan pembina imtaq ... 156
Gambar 6: Wawancara dengan siswa ... 156
Tabel 1: Daftar keadaan tenaga pendidik MA NW Samawa ... 159
Tabel 2: Daftar keadaan tata usaha MA NW Samawa ... 160
Tabel 3: Daftar sarana dan prasarana MA NW Samawa ... 161
Tabel 4: Daftar keadaan siswa MA NW Samawa ... 161
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang MasalahPendidikan merupakan sarana atau alat untuk membentuk manusia seutuhnya yang kemudian menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia. Tanpa lembaga pendidikan manusia zaman sekarang akan menjadi manusia tanpa arah. Peraturan yang dibentuk oleh pemerintah membuat manusia harus menjalani pendidikan di bawah lembaga pendidkan karena tanpa hal tersebut kecerdasan, kepintaran, kemuliaan dan hal-hal yang baik lainnya tidak akan bermanfaat karena paradigma pemikiran manusia terutama di Indonesia dinilai sampai mana pendidikan akademiknya pernah ditempuh.
Dalam membangun manusia yang beradab dan berakhlak, pendidikan merupakan tulang punggung untuk membangun karakter mulia. Maka lembaga pendidikan mutlak diperlukan sebagai wadah tempat nilai-nilai akhlak yang sesuai dengan pancasila dan Undang – undang dasar 1945 yang beragam dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan berkomitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi, pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya, khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial.
Disisi lain masalah pendidikan tidak habis-habisnya menjadi wacana publik karena besarnya dan implikasinya terhadap keberlansungan eksistensi suatu bangsa. “Kuat dan majunya suatu bangsa tergantung seberapa maju dan
suksesnya pendidikan”.2 Sehingga untuk memajukan suatu bangsa harus membenahi pendidikan dalam berbagai macam segi, seperti pengetahuan, kredibilitas dan lain-lain.
“Maju mundurnya dunia pendidikan yang kita hadapi sekarang ini disebabkan karena dunia globalisasi yang terbuka lebar sehingga terbentuklah berbagai macam jenis pendidikan dan melupakan pendidikan karakter bangsa.
Padahal pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.”3 Di Indonesia pelaksanaan pendidikan karakter sangat diperlukan untuk menopang dan bahkan mengangkat derajat kemanusiaan sebagaimana juga terdapat dalam hadist rasulullah yang mengatakan
A. قاخأ ك تأ تثعب إ
Artinya: “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”4
Mayoritas penduduk Indonesia yang berAgama Islam tentunya, pendidikan yang ada di Indonesia hendaknya merujuk kepada pendidikan yang diajarkan oleh rasulullah dan mempertahankan eksistensi keIslamannya sehingga sebesar apapun arus global yang menerpa mampu diatasi dan dilewati. Banyak kejadian-kejadian yang membuat kita perihatin saat ini tentang keberadaan siswa yang jauh sekali dari harapan dan tujuan pendidikan
2 Winarno Surakhmad, Dkk.Mengurai Benang Kusut Pendidikan Gagasan Para Pakar Pendidkan( Jakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2003), V.
3MansurMuslich.Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 1.
4Muhammad Bin Ismai>l Al-Bukha>ri.Al-A<da>bul Mufra>d (Bairut: Da>rul Fikr, tt), 107.
seperti tawuran siswa, kenakalan remaja bahkan yang paling memprihatinkan keinginan untuk membangun kantin kejujuran di sejumlah sekolah banyak yang gagal, “banyak kantin kejujuran yang bangkrut karena belum bangkitnya sifat jujur pada anak”.5
Implementasi pendidikan karakter dalam dunia pendidikan sungguh selalu dilakukan melalui Pelajaran Aqidah Akhlak dan bahkan merupakan Mata Pelajaran yang berkaitan khusus dengan karakter, terutama dalam lembaga pendidikan yang bernaung di bawah kementrian Agama Republik Indonesia. Untuk mempertahankan pendidikan yang berbasis Islam dan mampu membentuk peserta didik yang berkarakter mulia hendaknya nilai- nilai Agama yang diajarkan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Sehingga peserta didik selalu mencerminkan karakter yang mulia dalam bergaul dan bertingkah laku.
Pembentuk karakter dalam progam-program pendidikan Agama
“lazimnya berupa pelajaran tentang norma-norma atau kaidah-kaidah yang hendak ditaati dalam hidup. Pendidikan Agama pada dasarnya berusaha membekali para peserta didik dengan seperangkat nilai dan norma yang diharapkan merupakan pegangan hidup mereka di kemudian hari. “Nilai-nilai ini lazim diajarkan dalam bentuk yang abstrak. Relevansinya terhadap kenyataan-kenyataan social yang tidak mudah ditangkap oleh peserta didik
5 Muchlas Samani dan Harianto.Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung:
Rosdakarya, 2011), 2.
terutama oleh mereka yang belum cukup memiliki pengalaman sosial seperti di masa SMA”.6
Sebagaimana diketahui bahwa anak pada masa MA/SMA disebut “fase genital yang di tandai oleh perilaku yang tidak narcistik. Mereka mulai tertarik lawan jenis bersosialisasi dan beraktivitas kelompok. Sepanjang fase ini mereka lebih memfokuskan pada hubungan dengan orang lain. Tidak terjadinya integrasi pada fase ini seringkali dihubungkan kesalahan-kesalahan pada fase-fase sebelumnya.”7 Keadaan yang ada pada anak tersebut hendaknya menjadi perhatian para Guru sehingga siswa tumbuh dengan karakter yang baik.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa: “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”Adapun Undang- Undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 di sebutkan bahwa Guru adalah pendidik professional dengan “tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”8
Peranan Guru dalam membangun karakter peserta didik sebagaimana yang di amanatkan UU sangat urgen. Proses Implementasi pendidikan
6Soejatmoko. Menjadi Bangsa yang Terdidik (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010), 116.
7 Sukarta.Perkembangan Dan Pendidikan Anak Atau Peserta Didik Dalam Tinjauan Psikilogi Islam (Psikologi Pendidikan Islam)(materi Perkuliahan Psikologi pendidikan islam, IAIN Mataram, 10/2013).
8 Pasal 1 (1) UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen
karakter dan pengalaman dalam dirinya.dalam perspektif ini, Agama yang diterima dari pengetahuan atau yang dihayati dari pengalaman rohani masuk dalam struktur keperibadian seseorang orang yang menguasai ilmu Agama atau ilmu akhlak tidak otomatis memiliki keperibadian yang tinggi, karena keperibadia bukan hanya aspek pengetahuan.”9 Sehingga untuk mengetahui peserta didik seorang Guru harus mengamati, melihat tingkah laku peserta didiknya dalam bergaul.Tapi apabila dimensi kekuasaan dan karisma berpusat pada pendidik maka Implementasi terarah pada peserta didik. Pengembangan kebebasan disertai dengan pertimbangan rasional, perasaan, nilai dan sikap semuanya menjadi khazanah situasi pendidikan yang didominasi oleh konfomitas Implementasi”.10
Pendidikan karakter yang diimplementasi Guru tidak sebatas di ruang kelas saja tapi melingkupi pergaulan mereka dengan Guru, siswa dan yang lainnya.Dalam hal ini peran Guru Mata Pelajaran Agama dalam membentuk karakter peserta didik meliputi pembelajaran dalam kelas, luar kelas bahkan sampai saat pulang sekolah.
Peneliti memilih lokasi di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa karena tertarik dengan Akhlak peserta didik yang ada dilingkungan Madrasah tersebut, dibandingkan dengan Akhlak peserta didik yang ada dibawah naungan Yayasan Pontren NW Samawa yaitu dari RA sampai PerGuruan Tinggi. Peneliti melakukan wawancara secara formal untuk mendukung pendekatan secara informal, yakni dengan menyampaikan surat ijin resmi,
9 Maria Ulfa, Dkk.Parenting With Love, (Bandung: Mizan Pustaka, 2010),16.
10 Prayitno.Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2009), 80.
wawancara secara informal kepada Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa, serta melakukan wawancara dengan Guru Mata Pelajaran Aqidah Akhlak dan observasi mengenai implementasi pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud peneliti mengadakan penelitian di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa, Pendidikan karakter yang ditanamkan oleh Guru hendaknya harus sampai melekat pada jiwa peserta didik sehingga perbedaan karakter tidak muncul antara lingkungan Madrasah dan lingkungan luar Madrasah.
Kegiatan dalam mengimplementasi pendidikan karakter di Madrasah tersebut akan lebih baik lagi dalam melahirkan generasi Islam yang memiliki karakter muslim yang mulia, cerdas dalam keilmuan, terampil dalam beraktivitas, tanggap dalam permasalahan global dengan landasan iman dan taqwa, baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Penjelasan di atas menjadi ketertarikan peneliti untuk mengungkap phenomena yang terkait dengan “Bentuk Perencanaan Implementasi Pendidikan Karakter, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi serta kendala dan solusi pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa, Desa Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Sumbawa Besar.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana bentuk perencanaan Implementasi pendidikan karakter Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021?
2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak siswa di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021?
3. Bagaimanakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak siswa di Madrasah Aliyah Nahdlatul Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021?
4. Bagaimanakah bentuk kendala dan solusi dalam pelaksanaan pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian
a. Menganalisa bentuk perencanaan Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021.
b. Menganalisa pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak siswa di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021.
c. Menganalisa pelaksanaan evaluasi pembelajaran pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak siswa di Madrasah Aliyah Nahdlatul Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021.
d. Menganalisa bentuk kendala dan solusi dalam pelaksanaan pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021.
2. Manfaat Penelitian :
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmu dan manfaat ilmiah baik secara teori maupun secara praktis.
a. Manfaat Teoritis: dapat memberikan sumbangan hasil penelitian tentang implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, sehingga memperkaya khazanah keilmuan, pengetahuan dan pemahaman nilai-nilai pendidikan karakter;
b. Manfaat Praktis: dapat memberikan gambaran yang lebih kongkrit tentang penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dan memberi masukan kepada para pendidik dan calon pendidik agar dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam semua Mata Pelajaran, khususnya Aqidah Akhlak.
c. Manfaat Teoritis dan praktis yang diperoleh bagi siswa itu sendiri, Guru, dan juga bisa bermanfaat bagi Pemerintah dan Masyarakat pada umumnya.
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Agar masalah dalam penelitian ini tidak menyimpang dari apa yang akan diteliti dan dikaji, maka peneliti membatasi penelitian ini pada masalah: “Bagaimana bentuk perencanaan, kendala dan solusi
Implementasi pendidikan karakter dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Tahun Pelajaran 2020/2021”.
2. Setting Penelitian
Setting penelitian merupakan tempat peneliti akan melakukan penelitian untuk mendapatkan data-data yang menjadi objek penelitian.
Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian ini adalah Siswa Kelas XI IPS MA NW Samawa Kabupaten Sumbawa Besar Tahun Pelajaran 2020/2021.
Peneliti memilih lokasi ini karena peneliti melihat apa hambatan- hambatan yang terjadi dalam proses implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Watahan Samawa.
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Dalam rangka membuktikan keaslian karya atau penelitian yang sedang dilakukan, penulis akan ajukan judul peneliti yang serupa yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, yakni:
1. Penelitian yang dilakukan Muhammad Ali Ramdani, yang berjudul
“Lingkungan Pendidikan dalam Implementasi Pendidikan Karakter.” Jurnal ini menjelaskan bagaimana peran lingkungan dalam pendidikan
karakter yang menunjukkan dan memberikan pengaruh besar dalam pendidikan karakter”.11
Adapun persamaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian Muhammad ali Ramdani adalah sama-sama membahas tentang Pendidikan Karakter yang dilakukan Guru untuk membina anak didik. Sedangkan perbedaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian Muhammad Ali Ramdani yaitu dari lokasi dan subjek penelitian. Riset peneliti lebih membahas tentang Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilakukan Guru di Madrasah Sedangkan penelitian Muhammad ali Ramdani lebih membahas tentang bagaimana Pendidikan Karakter yang di pengaruhi oleh lingkungan sekitar.
2. Penelitian yang dilakun oleh Binti maunah, yang berjudul “ Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Kepribadian Holistik Siswa” Jurnal ini menjelaskan bagaimana(1) pengelolaan pendidikan karakter secara internal dan eksternal sekolah; (2) strategi internal sekolah dapat ditempuh melalui empat pilar, yakni kegiatan belajar mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk school culture, kegiatan habituation, kegiatan ko-kurikuler, dan ekstra kurikuler;
dan )3) “strategi eksternal dapat ditempuh melalui kerja sama dengan orang tua dan masyarakat”.12
Adapun persamaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian maunah adalah sama-sama membahas tentang Pendidikan Karakter yang dilakukan Guru untuk membina anak didik. Sedangkan perbedaan penelitian
11Muhammad Ali Ramdhani, “Lingkungan Pendidikan dalam Implementasi Pendidikan Karakter,” Jurnal Pendidikan UNIGA 8, no. 1 (February 20, 2017): 28–37.
12Binti Maunah, “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Kepribadian Holistik Siswa,” Jurnal Pendidikan Karakter 0, no. 1 (2015),
https://doi.org/10.21831/jpk.v0i1.8615.
yang penulis lakukan dengan penelitian maunah yaitu dari lokasi dan subjek penelitian dan tema pokok yaitu Pembentukan Kepribadian Holistik Siswa di MTs N Jabung dan SMPN 1 Talun Blitar. Riset peneliti lebih membahas tentang pengelolaan Pendidikan Karakter yang dilakukan Guru di MTs N jabung.
Dari semua penelitian yang dikaji diatas, peneliti lebih difokuskan pada bentuk implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Kabupaten Sumbawa Besar.Hal ini didasarkan pada banyaknya sekolah yang mengupayakann pembinaan karakter melalui pendidikan Agama, terutama sekolah - sekolah yang dikelola oleh yayasan Agama, meskipun tidak menutup kemungkinan sekolah - sekolah umum yang lain. Menurut peneliti semua kajian atau penelitian di atas, belum ada yang mengkaji secara khusus tentang implementasi pendidikan karakter pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak tingkat Madrasah Aliyah, bentuk perencanaan implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaranAqidah Akhlak serta kendala dan solusi mengatasi hambatan-hambatan implementasi dalam pembelajarn Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Samawa Kabupaten Sumbawa Besar.
Tabel.1
Perbedaan dan Persamaan Penelitian Yang Dikaji dengan Penelitian Terdahulu Yang Relevan
No Judul Penelitian Nama Peneliti
Perbedaan Persamaan
1
Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Kepribadian Holistik Siswa”
Maunah perbedaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian maunah yaitu dari lokasi dan subjek penelitian dan tema pokok yaitu
sama-sama membahas sama- sama tentang pondok pesantren tempat
membentuk karakter santri,
Pembentukan
Kepribadian Holistik Siswadi MTs N Jabung dan SMPN 1 Talun Blitar. Riset peneliti lebih membahas tentang Pendidikan Karakter melalui dalam Proses Pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilakukan Guru di MA MA NW Samawa Kabupaten Sumbawa Besar.
2
Linlingkungan Pendidikan dalam
Implementasi Pendidikan Karakter
M.Ali Ramdani
perbedaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian M.
Ali Ramdani yaitu dari lokasi dan subjek penelitian. Riset peneliti lebih membahas tentang Pendidikan Karakter melaluiPembelajaran Aqidah Akhlak yang dilakukan Guru di Madrasah Sedangkan penelitianMuhammad Ali Ramdanilebih membahas tentang bagaimana Pendidikan Karakter yang di pengaruhi oleh lingkungan sekitar.
sama-sama
membahas tentang Pendidikan
Karakter yang dilakukan Guru untuk membina anak didik
3
Pendidikan Karakter Pada Anak Sekolah Dasar Di Era Digital
Dini Palupi Putri
lokasi tempat penelitian dilakukan, subjek yang diteliti dan tidak
mencantumkan variable judul tentang lokasi yang diteliti
sama-sama meneliti tentang pendidikan karakterdi tengah arus teknologi yang berkembang
F. Kerangka Teori
1. Pendidikan Karakter
Pengertian Pendidikan Karakter
Kata karakter diambil dari bahasa Inggris character.Awalnya, kata ini digunakan untuk menandai hal yang menegaskan dari koin (keping uang).Belakangan, “secara umum istilah character digunakan untuk mengartikan hal yang berbeda antara satu hal dan yang lainnya, dan akhirnya juga digunakan untuk menyebut kesamaan kualitas pada tiap orang yang membedakan dengan kualitas lainnya”.13
Pengertian pendidikan karakter menurut Mulyasa merupakan
“upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak-anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratinya menuju ke arah peradaban yang manusiawi dan lebih baik”.14 Sedangkan Muchlas Samani & Hariyanto memberikan pengertian “pendidikan karakter yaitu: Nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari”.15
Lickona dalam bukunya Educating for Character menjelaskan tentang pengertian karakter dalam pembelajaran, yaitu:
13 Fatchul Mu‟in, Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), 162.
14Mulyasa E., Manajemen Pendidikan Karakter(Jakarta: BumiAksara, 2011), 1.
15Muchlas Samani & Hariyanto,Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung:
RemajaRosdakarya, 2011), 43.
“Character consist of operatif values, values in action. We progress in our character as a value becomes a virtue, a reliable inner disposition to respond to situations in moral good way.
Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling and moral behavior. Good character consists of knowing the good, desiring the good, doing the good- habits of the mind, habits of the heart, and habits of action”.16 Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa karakter terdiri dari nilai- nilai tindakan.Karakter yang dipahami memiliki tiga komponen saling berhubungan yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral.Karakter yang baik terdiri dari pengetahuan yang baik, menginginkan yang baik dan melakukan kebiasaan yang baik pula dari pikiran, kebiasaan dan tindakan.
Selanjutnya Doni Koesoema A. menyatakan tentang pendidikan karakter adalah:”Keseluruhan dinamika relasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati kebebasannya, sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka”.17
Pendidikan karakter tidak hanya sebagai pembentuk pribadi seutuhnya namun pendidikan mengajarkan tentang bersosialisasi dengan lingkungan. Dalam hal ini faktor lingkungan keluarga dan sekolah menjaditempat pembinaan karakter tiap individu yang nantinya dapat memberikan manfaat bagi kehidupan dirinya pribadi
16Lickona, Thomas, Educating for Character: How Our School…, 51.
17Doni Koesoema A., Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global (Jakarta: Grasindo, 2007), 3.
maupun orang lain untuk terciptanya kehidupan selaras, serasi,seimbang dalam masyarakat.
Menurut Zubaedi “pendidikan karakter adalah:Segala upaya yang dilakukan Guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik.
Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku Guru, cara Guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana Guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya”.18
Pendidikan karakter perlu kita tanamkan sejak dini mulai dari jenjang pendidikan dasar. Pendidikan karakter yang dilaksanakan memang tidak serta merta menampakkan hasil atau bentuknya tetapi melalui sebuah proses yang panjang dan berkelanjutan. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengajarkan hakekat karakter kedalam tiga ranah yaitu “kognitif yang mengajarkan bagaimana kita berpikir yang positif, afektif yang mengajarkan kita berperilaku atau tata cara yang sesuai dengan etika atau norma-norma yang ada dan psikomotorik yang mengajarkan bagaimana kita bertindak dengan bijaksana dan penuh tanggungjawab terhadap apa yang kita perbuat”.19 Peran pendidikan karakter tidak hanya menimbulkan pencerpahan berupa konsep-konsep akan tetapi juga sekaligus praktek dalam kegiatan peserta didik kesehariannya. Pendidikan karakter harus
18Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsidan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2011), 19.
19Prayitno dan Erman.A., Dasar-dasar Bimbingan Konseling (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), 163-164.
memberikan ruang yang luas kepada peserta didik untuk bebas memilih dengan menekankan kepada tanggungjawab yang dipikulnya, apabila terjadi kesalahan dalam mengambil pilihan yang bertentangan dengan etika atau norma yang berlaku pada masyarakat. Tanggung jawab dan sanksi harus diterima dengan lapang dada dan peserta didik harus mengakui dan meminta maaf atas kesalahan dalam memilih atau berkehendak.”20 Pendidikan karakter tidak lagi sekedar mengenalkan berbagai aturan atau definisi tetapi lebih menekankan kepada sikap dan tanggungjawab peserta didik.
Lebih khusus lagi yang menjadi sosok penting dalam pendidikan karakter di sekolah adalah pendidik atau Guru. “Sebaik apapun konsep sebuah pendidikan karakter tidak akan berhasil dengan baik apabila Guru yang mendidik dan mengajar anak didiknya tidak bisa dijadikan teladan di dalam berprilaku. Dengan Guru yang patut dijadikan teladan, pendidikan karakter akan mudah dibangun dalam sebuah lembaga pendidikan atau sekolah”.21
Jadi dapat disimpulkan bahwa karakter yang baik merupakan salah satu sifat yang diharapkan dimiliki oleh siswa sebagai peserta didik.Oleh karena itu, pendidikan karakter sedini mungkin sudah diperkenalkan pada peserta didik untuk menghasilkan sumber daya yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan. Karakter lebih dititik
20Endang, E.S., Bagaimana Konselor Sekolah Bersikap (Yogyakarata: Pustaka Pelajar, 2012), 124.
21Mary, et al. Teaching Knowledge Test (Cambride: Cambridge University Press, 2005), 145.
beratkan pada watak, perangai, perilaku, atau bisa disebut juga tata karma atau etika. Jadi, pendidikan karakter secara sederhana diartikan sebagai penanaman nilai-nilai akhlak, tata karma, bagaimana berprilaku baik kepada seseorang.
2. Tujuan Pendidikan Karakter
Menurut Agus Zaenul Fitri “Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berahlak karimah, berjiwa luhur dan bertanggung jawab”.22 Sedangkan Nurul Zuhriah mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan karakter yaitu “memfasilitasi peserta didik agar mampu menggunakan pengetahuan, mengkaji dan mengimplementasi serta mempersonalisasikan nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia dalam diri peserta didik serta mewujudkannya dalam perilaku sehari-hari, dalam berbagai konteks sosial budaya yang berbhineka sepanjang hayat”.23
Dharma Kusuma, Cepi Triatna, & Johar Permana menyatakan
“bahwa pendidikan karakter dalam setting sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/
22Agus Zaenul Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2012), 22.
23Nurul Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan (Jakarta: Bumiaksara, 2008), 64-65.
kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan;
b. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah;
c. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama”.24
Karakter merupakan persyaratan agar kompetensi yang dimiliki seseorang dipakai secara bijaksana. “Kompetensi hanya akan menjadi kekayaan dan membawa maslahat bagi orang banyak apabila kompetensi tersebut disertai dengan karakter baik. Sebaliknya orang yang berkompetensi tinggi namum karakternya tidak baik cenderung akan memakai kompetensinya untuk hal-hal yang merugikan masyarakat”.25 Dengan demikian, apabila dalam satu masyarakat kerusakan karakter meluas, maka bangsa tersebut akan digerogoti sendiri oleh warganya, atau dengan kata lain masyarakatnya akan melakukan tindakan merusak diri sendiri.
Tujuan diterapkannya pendidikan karakter yang menyatu dengan Mata Pelajaran disemua jenjang pendidikan pada Mata Pelajaran tiada lain karena adanya perubahan kualitas tiga aspek pendidikan yakni kognitif, afektif dan psikomotorik yang mengacu pada peningkatan
24Dharma Kusuma, Cepi Triatna, & Johar Permana, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), 9.
25Lailatul Fitriah dan M. Jauhar, Pengantar Psikologi Umum (Jakarta: Prestasi Pustaka Publishing, 2014), 86.
wawasan, perilaku dan keterampilan yang berlandaskan kepada pilar- pilar pendidikan sehingga terwujud insan yang berilmu sekaligus berkarakter. “Karakter yang diharapkan tidak lepas dari kebudayaan asli Indonesia sebagai perwujudan nasionalisme dan religius.Salah satu nilai karakter budaya asli Indonesia adalah sopan santun”.26 Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk membentuk karakter peserta didik menjadi pribadi yang berahlak karimah dengan memfasilitasi peserta didik agar mampu menggunakan pengetahuan, mengkaji dan mengimplementasi serta mempersonalisasikan nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia dalam diri peserta didik agar dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.Jadi, pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan membentuk manusia secara keseluruhan serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.Yang tidak hanya memiliki kepandaian dalam berpikir tetapi juga respek dalam bertindak, dan juga melatih setiap potensi diri anak agar dapat berkembang ke arah yang positif.
3. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter
Karakter berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu karakter melekat dengan nilai dari perilaku seseorang. Karenanya tidak ada perilaku anak yang tidak
26Bachrie, Membangun Karakter Bangsa melalui Kursus dan Pelatihan (2013),
62.Diakses pada tanggal 24 juni 2014 dari
http//www.pendidikankarakter.com./signifikansinilaikarakter/blog.html.
bebas dari nilai. Dalam kehidupan manusia, begitu banyak nilai yang ada didunia ini, sejak dahulu sampai sekarang”.27 Nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan Kementerian Pendidikan ada delapan belas karakter.
“Nilai-nilai tersebut bersumber dari Agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Adapun delapan belas nilai tersebut yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab”.28
Sementara itu Barth menjelaskan bahwa nilai adalah “the result of judgments made by an individual or the society as a whole which determine the relative importance or worth of a thing, idea, practice or believe”.
Penjelasan tersebut maksudnya adalah bahwa nilai merupakan hasil pertimbangan yang dibuat oleh seseorang atau masyarakat secara kelompok untuk menentukan penting atau berharganya suatu hal, gagasan atau praktik”.29
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai adalah “suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi, berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah tidak indah dan layak atau tidak layak. Dapat dikatakan juga nilai merupakan suatu esensi
27Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2011), 11.
28Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas, Pengembangan dan PendidikanBudaya
&karakter Bangsa: Pedoman Sekolah (Jakarta: Puskur Balitbang Kemdiknas, 2009), 9-10.
29 Barth, J.L, Methods of Instruction in Social Studies Education (3rded) (Lahham:
University Press of America, 1990), 370.
yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagikehidupan manusia.Nilai adalah sesuatu yang abstrak dan ideal.Nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya sekedar soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki yang disenangi atau tidak disenangi. Nilai itu terletak diantara hubungan subjek penilai dengan objek.
Nilai yang terletak di bawah keyakinan berada dalam dunia rohaniah/bathiniah, spiritual, tidak berwujud, dan tidak empirik tetapi sangat kuat pengaruh dan peranannya dalam setiap perbuatan dan penampilan seseorang sehingga nilai menjadi standar tingkah laku yang bersifat tetap dan abadi. Oleh karena itu, nilai pada dasarnya merupakan standar perilaku, ukuran yang menentukan kriteria seseorang tentang baik buruk sehingga standar tersebut akan mewarnai perilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikaan nilai yang dilaksanakan merupakan proses penanaman nilai kepada anak didik yang diharapkan dapat berprilaku sesuai dengan pandangan yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Penanaman nilai ini merupakan dasar yang kuat dengan menfungsikan keluarga sebagai agen dasar pembentukan karakter dengan nilai kasih sayang”.30
Sedangkan Rynders dalam Zamroni mengungkapkan, UNESCO telah melakukan kajian dan memperoleh kesimpulan ada enam dimensi karakter yang bersifat universal. Artinya Agama dan bangsa manapun mengakui dimensi karakter tersebut, keenam dimensi tersebut adalah:
30Mustaqim, Psikologi Pendidikan (Yograkarta: Pustaka Pelajar, 2008), 150.
a. Trustworthiness artinya dapat dipercaya, berarti orang tersebut memiliki kejujuran, integritas, loyalitas dan dapat reliabilitas;
b. Respect artinya senantiasa menghormati dan menghargai orang lain tanpa memandang latar belakang yang menyertainya, menjunjung tinggi martabat dan kedaulatan orang lain, memiliki sikap toleransi yang tinggi, dan mudah menerima orang lain dengan tulus;
c. Responsibility artinya watak yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Watak bertanggung jawab akan melahirkan kerja keras dan bekerja sebaik mungkin untuk mencapai prestasi terbaik;
d. Fairness artinya senantiasa mengedepankan standar adil, tanpa dipengaruhi oleh sikap dan perasaan yang dimilikinya ketika berhadapan dengan orang lain;
e. Caring artinya senantiasa akan mempergunakan kehalusan budi dan perasaan sehingga bisa memahami kegembiraan atau kepedihan yang dialami orang lain;
f. Citizenship artinya “kepatuhan menjadi warga negara yang baik, yang memahami dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang warga negara”.31
Dari berbagai paparan di atas dapat disimpulkan bahwa semua muatan yang menyangkut nilai karakter harus diajarkan kepada peserta didik tidak hanya sebatas pemaparan teori tapi harus dipraktekkan oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari karena nilai merupakan suatu esensi yang
31Zamroni, Dinamika Peningkatan Mutu (Yogyakarta: Gavin Kalam Utama, 2011), 275- 277.
melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai karakter yang baik jika sudah tertanam dalam diri peserta didik sangat kuat pengaruh dan peranannya dalam setiap perbuatan dan penampilannya sehingga nilai menjadi standar tingkah laku yang bersifat tetap dan abadi.
4. Desain Pendidikan Karakter
Dilihat dari segi komponennya, pendidikan karakter dalam pandangan Thomas Lickona menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu “moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral”.32
Kemudian dalam desain pelaksanaan pendidikan karakter, menurut Doni Koesoma setidaknya ada tiga desain, yakni: pertama, desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada hubungan Guru sebagai pendidik dan peserta didik sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah “proses hubungan komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi antara Guru dengan pembelajar bukan menolong, melainkan dialog dengan banyak arah. Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini membangun budaya sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri peserta didik. Ketiga, desain
32Thomas Lickona, Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (New York: Bantam Books, 1993), 21.
pendidikan karakter berbasis komunitas”.33 Dalam mendidik, komunitas sekolah negeri maupun swasta tidak berjuang sendirian. Kalau ketiga komponen bekerjasama melaksanakan dengan baik, maka akan terbentuk karakter bangsa yang kuat.
5.Prinsip Pendidikan Karakter
Secara konsep, “pembangunan pendidikan karakter dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan akan sikap dan kecerdasan yang mampu berpikir kreatif dan dinamis. Proses pembelajaran seharusnya diselenggarakan secara interaktif dan inspiratif yang menyentuh aktivitas belajar yang menyenangkan”.34
Mengutip penjelasan Zainal Aqib & Sujak memaparkan prinsip- prinsip yang dijadikan dasar dalam menumbuh kembangkan pendidikan karakter sebagai berikut:
1. “Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter;
2. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku;
3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter;
4. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik;
33DoniKoesoema, Pendidikan Karakter Integral (2011), 2diakses 20 Maret 2014 dari http://www.pendidikankarakter.org/articles_003.html,
34Jamal Ma‟mur Asmani, Tips Efektif Menjadi Sekolah Berstandar Nasional dan Internasioanl (Yogyakarta: Diva Press, 2011), 86).
5. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses;
6. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada peserta didik;
7. Menfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagai tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama;
8. Menfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter”.35
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip yang harus dijadikan dasar penanaman pendidikan karakter kepada peserta didik ialah dengan cara menanamkan motivasi yang sifatnya berkesinambungan.
Pemberian motivasi akan tumbuh optimisme yang tinggi sehingga fungsi dan peran otak bekerja dengan maksimal dalam memberikan respon dan stimulus yang membangun daya pikir untuk lebih kreatif, mandiri, berdaya saing serta santun dalam berperilaku dan bertindak.
6. Tahapan Penerapan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter membutuhkan proses atau tahapan secara sistematis sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Menurut Ary Ginanjar Agustian, “pembangunan karakter tidaklah cukup hanya dimulai dan
35Zainal Aqib dan Sujak, Panduan & Aplikasi Pendidikan Karakter (Bandung: Yrama Widya, 2011), 11
diakhiri dengan penetapan misi, akan tetapi, hal ini perlu dilanjutkan dengan proses yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang hidup”.36
Dalam pendidikan karakter menuju terbentuknya akhlak mulia dalam diri setiap anak didik, ada tiga tahapan strategi yang harus dilakukan, yaitu: Moral Knowing/Learning to Know.
Tahapan ini merupakan langkah pertama dalam pendidikan karakter.Dalam tahapan ini tujuan diorientasikan pada penguasaan pengetahuan tentang nilai-nilai. “Siswa harus mampu: a) membedakan nilai- nilai akhlak mulia dan akhlak tercela serta nilai-nilai universal, b) memahami secara logis dan rasional (bukan secara dogmatis dan doktriner) pentingnya akhlak mulia dan bahayanya akhlak tercela dalam kehidupan, c) mengenal sosok Nabi Muhammad Saw sebagai figur teladan akhlak mulia melalui hadits-hadits dan sunnahnya”.37
Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing untuk mengisi ranah kognitif adalah “kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), logika moral (moral reasoning), keberanian dalam mengambil sikap (self knowledge)”.38 Moral Loving/ Moral Feeling.
Belajar dengan melayani orang lain. Belajar mencintai dengan cinta tanpa syarat. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa
36Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual;ESQ, Emotional Spiritual Quotient (Jakarta: Arga, 2008), 278.
37Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 86.
38Jamal Ma‟mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter diSekolah (Yogyakarta: DIVA Press, 2011), 86.
butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia.Dalam tahapan ini yang menjadi sasaran Guru adalah dimensi emosional siswa, hati atau jiwa, bukan lagi akal, rasio dan logika. Guru menyentuh emosi siswa sehingga tumbuh kesadaran, keinginan, dan kebutuhan sehingga siswa mampu berkata kepada dirinya sendiri. “Untuk mencapai tahapan ini Guru bisa memasukinya dengan kisah- kisah yang menyentuh hati, modelling, atau kontemplasi. Melalui tahap inipun siswa diharapkan mampu menilai dirinya sendiri (muhasabah), semakin tahu kekurangan-kekurangannya”.39
Inilah puncak keberhasilan Mata Pelajaran Aqidah Akhlak, siswa mempraktikkan nilai-nilai Karakter mulia itu dalam perilakunya sehari-hari.
“Siswa menjadi semakin sopan, ramah, hormat, penyayang, jujur, disiplin, cinta, kasih, dan sayang, adil serta murah hati dan seterusnya. Selama perubahan akhlak belum terlihat dalam perilaku anak walaupun sedikit, selama ini pula kita memiliki setumpuk pertanyaan yang harus selalu dicari jawabannya. Contoh atau teladan adalah apa yang paling baik dalam menanamkan nilai, siapa kita dan apa yang kita berikan. Tindakan selanjutnya adalah pembiasaan dan pemotivasian”.40
Menurut Zaenal Aqib dan Sujak bahwa “karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja.Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut.Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga
39Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter...,112-113.
40Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter..., 133.
komponen “karakter yang baik (components of good character), yaitu pengetahuan tantang moral (moral knowing), perasaan atau penguatan emosi (moral feeling), dan perbuatan moral (moral action). Hal ini diperlukan agar peserta didik atau warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan) nilai-nilai kebajikan (moral)”.41
Sejalan dengan hal ini Allah SWT dalam Al- Qur‟an Surat Ar-Rahman (55): 1- 4 berfirman;
“Tuhan yang maha pemurah yang telah mengajarkan al- Qur’an dan telah menciptakan manusia dan mengajarkan pandai berbicara.”42 Kata ar-rahman pada ayat diatas mengandung pengertian bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan siapa saja yang menunjukan profesionalisasi pada Kompetensi Personal. Pendidik yang berhasil adalah Guru yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik sehingga mampu mentransfer ilmu ke peserta didik sehungga proses belajar mengajar yang diinginkan yaitu dari tidak tahu menjadi tahu dan bias mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya
41Zainal Aqib dan Sujak, Panduan & Aplikasi…, 9.
42Kementrian Agama RI, al-Qur’an da Terjemahannya (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), 773.
7. Pembelajaran Aqidah Akhlak
a. Pengertian Pembelajaran Aqidah Akhlak
Sebelum dijelaskan pengertian Aqidah Akhlak terlebih dahulu dijelaskan pengertian pembelajaran, Menurut Dimyati dan Mudjiono,
“pembelajaran adalah kegiatan Guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat peserta didik belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.43 Sedangkan arti pembelajaran adalah proses mental dan emosional, serta berfikir dan merasakan. Seseorang pembelajar dikatakan melakukan pembelajaran apabila pikiran dan perasaannya aktif.”44 Berbeda menurut Ahmad Sabri disampaikan tentang orang yang sudah aktif terlibat pada proses pembelajaran diharapkan akan bisa merasa lebih bahagia, lebih pantas dalam pemanfaatan alam sekitar, penjagaan kesehatan, peningkatan pengabdian untuk ketrampilan, dan berhasil dalam pengimplementasian pembedaan (terdapat perbedaan keadaan antara sebelum dan sesudah melakukan proses pembelajaran).”45
“Dengan demikian dalam pembelajaran peserta didik ditekankan punya kesadaran, motivasi, dan kondisi yang dimungkinkan untuk terjadinya interaksi antara peserta didik terhadap sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.”46 Lebih jauh peserta didik diharapkan terlatih
43Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), 297.
44R. Ibrahim, dkk., Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Rajawal, 2011), 125.
45Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching(Jakarta: Quantum Teaching, 2005),34.
46Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 20.
pada pembiasaan diri dalam pemecahan masalah dan mampu terbiasa dalam penggunaan empati beserta logikanya. Oleh karena itu dapat disimpulkan pembelajaran bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di dalam kelas yang sangat formal dan kaku.
Ada tiga faktor penting yang terkandung dalam kegiatan pembelajaran, yaitu (a) Kondisi pembelajaran, yakni faktor yang mempengaruhi metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran, yang meliputi: tujuan (pernyataan tentang hasil belajar apa yang harus dan diharapkan tercapai) dan karakteristik bidang studi (aspek-aspek Mata Pelajaran yang ditekankan dan hendak diberikan atau dipelajari oleh peserta didik); kendala (keterbatasan sumber-sumber, seperti waktu, media, personalia dan uang atau dana); serta karakteristik peserta didik (aspek-aspek atau kualitas individu peserta didik, seperti bakat, motivasi, hasil belajar yang telah dimilikinya); (b) Strategi pembelajaran, yang meliputi: strategi pengorganisasian isi pembelajaran; strategi penyampaian isi pembelajaran; dan strategi pengelolaan pembelajaran; (c) Hasil pembelajaran, yang menyangkut efektivitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.”47 Jadi yang dimaksud pembelajaranadalah proses kegiatan belajar mengajar secara terencana sistematis yang menyangkut kondisi, strategi, dan hasil yang akan dicapainya.
Sedangkan pengertian Aqidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
47Zainal Aqib dan Sujak, Panduan…,53- 56.
memahami, menghayati, dan mengimani Allah SWT. Dan merealisasikannya dalam perilaku Akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan keteladanan.” 48
Menurut Ibnu Hadjar, Aqidah Akhlak merupakan sebutan yang diberikan pada salah satu subyek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa-siswi muslim dalam menyelesaikan pendidikannya pada tingkat tertentu. Subyek ini diharapkan dapat memberikan keseimbangan dalam kehidupan anak kelak, yakni manusia yang memiliki “kualifikasi” tertentu )yang dapat dicapai dengan subyek studi selain pendidikan Agama Islam) tetapi tidak terlepas dari nilai-nilai Agama Islam. “Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu subyek pelajaran yang bersama-sama dengan subyek lain, dimaksudkan untuk membentuk manusia yang utuh”.49
Konsep manusia seutuhnya dalam pandangan Islam dapat diformulasikan secara garis besar sebagai pribadi muslim yakni “manusia yang beriman dan bertaqwa serta memiliki berbagai kemampuan yang teraktualisasi dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya secara baik, positif dan konstruktif.
48Zainal Aqib dan Sujak, Panduan…,53- 56.
49Ibnu Hadjar, Pendekatan Keberagaman dalam Pemilihan Metode Pengajaran Pendidikan Karakter, dalam Metodologi Pengajaran Karakter (Fakultas Tarbiyah IAIN WalisongoSemarang bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999), 4.
demikianlah kualitas manusia produk pendidikan Islam yang diharapkan pantas menjadi khalifah fi al-ardl”.50
Dari beberapa pendapat tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah proses kegiatan belajar mengajar secara terencana sistematis yang menyangkut kondisi, strategi, dan hasil yang akan dicapainya. Proses mengembangkan seluruh potensi baik lahir maupun batin menuju peribadi yang utama ( insan kamil ) yaitu sebagai manifestasi “khalifah dan abdi“ dengan mengacu pada dua sumber pokok ajaran Islam yaitu al-Qur‟an dan al-Hadits. Sehingga nanti peserta didik bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab kepada diri sendiri, lingkungan (masyarakat) dan tanggung jawab tertinggi yaitu kepada Allah SWT.
b. Dasar-dasar Pembelajaran Aqidah Akhlak
Dasar atau fundamen merupakan sumber kekuatan dan keteguhan suatu
bangunan. Demikian pula halnya dengan Aqidah Akhlak, maka sudah barang tentu memiliki dasar atau fondasi yang kuat untuk berdiri yaitu al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah SAW, dimana Mata Pelajaran Aqidah Akhlak itu sendiri ibarat sebuah bangunan, maka al- Qur‟an dan hadistlah yang menjadi fundamennya.
Menurut Zakiah Daradjat mengatakan bahwa “landasan Aqidah Akhlak terdiri dari al-Qur‟an dan as-Sunnah, yang dapat dikembangkan
50Achmadi, Ideologi Pendidikan Karakter (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 29.