• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP KECURANGAN PELAPORAN KEUANGAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP KECURANGAN PELAPORAN KEUANGAN "

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Oleh:

MOCHAMAD RIZKY DAMARA 4515013051

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Ekonomi

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BOSOWA

MAKASSAR 2019

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan (Analisis Persepsi Mahasiswa Universitas Bosowa)

Nama Mahasiswa : Mochamad Rizky Damara

Stambuk/NIM : 4515013051

Fakultas : Ekonomi

Program Studi : Akuntansi

Tempat Penelitian : Universitas Bosowa Telah Disetujui :

Pembimbing I Pembimbing II

Mengetahui dan Mengesahkan : Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Universitas Bosowa Makassar

Tanggal Pengesahan : Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Bosowa

Ketua Program Studi Akuntansi

Dr. FirmanMenne.,S.E.,M.Si.,Ak.,CA Thanwain,S.E.,M.Si

Dr.H.A.ArifuddinMane,S.E.,M.Si.,S.H.,M.H Dr. FirmanMenne.,S.E.,M.Si.,Ak.,CA

(3)

ii

PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Mochamad Rizky Damara

Nim : 4515013051

Jurusan : Akuntansi Fakultas : Ekonomi

Judul :Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan (Analisis Persepsi Mahasiswa Akuntansi Universitas Bosowa)

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulis skripsi ini berdasarkan hasil penelitian, pemikiran, dan pemaparan asli dari saya adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah skripsi ini tidak pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik disuatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan daftar pustaka.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan sama sekali.

Makassar, 5 Juli 2019 Mahasiswa yang bersangkutan

Mochamad Rizky Damara

(4)

iii

PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP KECURANGAN PELAPORAN KEUANGAN

(Analisis Persepsi Mahasiswa Akuntansi Universitas Bosowa) Oleh :

MOCHAMAD RIZKY DAMARA Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Bosowa

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh Reward terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan. (2) Pengaruh Punishment terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan. Metode sampel yang dilakukan dengan purposive sampling.

Jumlah mahasiswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 110 mahasiswa. Data yang digunakan adalah data primer berupa kuisioner yang dibagikan kepada responden. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas, pengetahuan akuntansi dan pertimbangan pasar kerja berpengaruh secara signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi berkarir di lembaga keuangan syariah.

Kata Kunci : Reward , Punishment , Kecurangan Pelaporan Keuangan

(5)

iv

THE EFFECT OF REWARD AND PUNISHMENT AGAINST FAILURE OF FINANCIAL REPORTING

(Analysis of Accounting Students Perception of Bosowa University)

By :

MOCHAMAD RIZKY DAMARA Accounting Program Faculty of Economics

University of bosowa ABSTRACT

This study aims to determine : (1) Effect of Reward on Financial Reporting Fraud. (2) Effect of Punishment on Financial Reporting Fraud. The sample method is done by purposive sampling. The number of students sampled in this study was 110 students. The data used are primary data in the form of questionnaires distributed to respondents. Data analysis method used in this study is multiple linear regression analysis.

The results showed that religiosity, accounting knowledge and labor market considerations significantly influence the interests of accounting student careers in Islamic financial institutions.

Keywords : Reward , Punihsment , Fraudulent Financial Reporting

(6)

v

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Wr.Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah menjadikan manusia sebagai kholifah dimuka bumi ini. Sholawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah membimbing dan mendidik umat manusia menuju jalan kebenaran. Berkat rahmat Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi mengenai “Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan” (Analisis Persepsi Mahasiswa Akuntansi Universitas Bosowa). penulis ucapkan terima kasih kepada Allah SWT, kepada seluruh dosen yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi tugas akhir ini.

Skripsi yang penulis buat ini merupakan salah satu persyaratan untuk kelulusan dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Bosowa. Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Saleh Pallu, M. Eng , selaku Rektor Universitas Bosowa.

2. Bapak Dr. H. A. Arifuddin Mane, SE.,M.Si.,SH.,MH selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa.

3. Ibu Dr. Hj. Herminawati Abu Bakar, SE.,M.M selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa.

(7)

vi

4. Bapak Dr. Lukman Setiawan, S. Si.,S.Psi.,SE.,MM selaku Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa.

5. Bapak Firman Menne.,SE.,M.Si.,Ak.,Ca selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa.

6. Bapak Firman Menne.,SE.,M.Si.,Ak.,Ca dan Bapak Thanwain SE.,M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah mengarahkan penulis hingga penulisan skripsi ini selesai, semoga barokah atas ilmu dan pengetahuan yang diberikan selama ini.

7. Bapak dan ibu penulis beserta keluarga besar, terima kasih atas doa dan support maupun materil yang telah kalian berikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

8. Kepada teman-teman penulis khususnya Akuntansi Angkatan 2015 yang telah memberikan banyak motivasi.

9. Kepada Organisasi Internal Universitas Bosowa Himpunan Mahasiswa Akuntansi dan Lembaga kesenian Mahasiswa Unibos yang telah memberikan dukungan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, akan tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat keilmuan yang berarti dalam bidang ilmu Akuntansi.

Makassar, 3 Agustus 2019 Penulis,

Mochamad Rizky Damara

(8)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN KEORISINILAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Kerangka Teori ... 8

2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan ... 8

2.1.2 Kecurangan Pelaporan Keuangan ... 9

2.1.3 Persepsi ... 16

2.1.4 Reward ... 18

2.1.5 Punishment ... 20

2.2 Kerangka Fikir ... 24

2.3 Hipotesis ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 28

3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 28

3.2 Populasi dan Sampel ... 28

3.2.1 Populasi Peneltian ... 28

3.2.2 Sampel Penelitian... 28

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 29

3.4 Jenis dan Sumber Data ... 30 Halaman

(9)

viii

3.4.1 Jenis Data ... 30

3.4.2 Sumber Data... 30

3.5 Metode Analisis ... 30

3.5.1 Analisis Deskriptif ... 30

3.5.2 Analisis Regresi Linear Berganda ... 33

3.6 Definisi Operasional ... 35

3.6.1 Variabel Bebas (Independen) ... 35

3.6.2 Variabel Terikat (Dependen) ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37

4.1 Deskriptif Data ... 37

4.1.1 Gambaran Umum Penelitian ... 37

4.1.2 Karakteristik Responden ... 41

4.2 Analisis Data ... 43

4.2.1 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 43

4.2.2 Hasil Uji Kualitas Data ... 44

4.2.3 Uji Asumsi Klasik ... 47

4.2.4 Uji Persamaan Regresi Linear Berganda ... 49

4.2.5 Uji R2 (Koefisien Determinasi) ... 50

4.2.6 Uji t (Uji Parsial) ... 51

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

5.1 Kesimpulan Penelitian ... 56

5.2 Saran Penelitian ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 60

LAMPIRAN ... 62

(10)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Pengembalian Kuesioner oleh responden ... 41

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Kelamin ... 42

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 42

Tabel 4.4 Analisis Deskriptif ... 43

Tabel 4.5 Uji Validitas Data Reward ... 45

Tabel 4.6 Uji Validitas Data Punishment ... 45

Tabel 4.7 Uji Validitas Data Kecurangan Pelaporan Keuangan... 46

Tabel 4.8 Realibilitas Data..………...46

Tabel 4.9 Multikolinearitas ……….……….47

Tabel 4.10 Heteroskedestistitas …….………...48

Tabel 4.11 Normalitas ……….………..49

Tabel 4.12 Uji Persamaan Regresi Linear Berganda……….50

Tabel 4.13 Koefisien Determinasi……….……….50

Tabel 4.14 Uji Parsial ……….. 51

(11)

x

Daftar Gambar

Halaman Gambar 2.1 Kerangka Pikir ... 41

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu perusahaan atau organisasi baik itu laba maupun nirlaba tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut biasanya telah ditetapkan pada awal pendirian organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan penetapan tujuan merupakan salah satu unsur pokok dalam suatu organisasi. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila individu-individu dalam organisasi dapat bekerja sama dengan baik dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Sumber daya yang penting dalam suatu organisasi yaitu sumber daya manusia. Sumber daya manusia disini disebut dengan karyawan. Karyawan yang dimaksud yaitu karyawan dalam menentukan tercapainya tujuan. Diperlukannya strategi untuk mencapai suatu tujuan dalam organisasi, hal ini sangatlah tidak mudah. Masalah mendasar yang sering dihadapi dalam organisasi adalah bagaimana mengelola sumber daya manusia untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Individu- individu dalam organisai juga diarahkan untuk menghindari kecurangan maupun tindakan tidak jujur dalam berkerja.

Pada saat ini, kecurangan merupakan tindakan yang telah menarik perhatian di berbagai kalangan masyarakat. Kecurangan merupakan bentuk penipuan yang sengaja dilakukan sehingga dapat menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan.

(13)

Suatu perusahaan atau organisasi baik itu profit oriented maupun non profit oriented tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut biasanya telah ditetapkan pada awal pendirian organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan penetapan tujuan merupakan salah satu unsur pokok dalam suatu organisasi.

Tujuan tersebut dapat tercapai apabila individu-individu dalam organisasi dapat bekerja sama dengan baik dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Sumber daya manusia disini disebut dengan karyawan. Karyawan yang dimaksud yaitu karyawan dalam menentukan tercapainya tujuan. Diperlukannya strategi untuk mencapai suatu tujuan dalam organisasi, hal ini sangatlah tidak mudah. Masalah mendasar yang sering dihadapi dalam organisasi adalah bagaimana mengelola sumber daya manusia untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Individu- individu dalam organisasi juga diarahkan untuk menghindari kecurangan maupun tindakan tidak jujur dalam bekerja. Pada saat ini, kecurangan merupakan tindakan yang telah menarik perhatian di berbagai kalangan masyarakat.

Masalah mendasar yang sering dihadapi dalam organisasi adalah bagaimana mengelola sumber daya manusia untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kecurangan merupakan bentuk penipuan yang sengaja dilakukan sehingga dapat menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan.terdapat hubungan yang erat antara penghargaan dan prestasi karyawan. Kejujuran merupakan dasar individu untuk melakukan kinerja guna mencapai suatu tujuan. Sehingga, perusahaan diharuskan mengelola sumber

(14)

daya manusia dengan menggunakan strategi efektif. Strategi ini dirancang untuk memotivasi para individu untuk berkerja sesuai dengan prosedur perusahaan supaya terhindar dari tindakan kecurangan. Beberapa organisasi telah membuat sistem kompensasi khusus untuk memotivasi individu dengan mengkombinasikan beberapa jenis kompensasi seperti reward dan punishment. Dalam upaya peningkatan karyawan usaha yang dilakukan organisasi tidak akan terlepas dari berbagai hal, diantaranya yaitu kompensasi yang diberikan kepada karyawan.

Selain kompensasi positif yaitu reward, individu juga dapat dipengaruhi oleh kompensasi negatif yaitu berupa punishment. Reward merupakan feedback positif yang diberikan oleh organisasi atas pencapaian yang telah dilakukan oleh individu. Sedangkan punishment merupakan suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan yang diberikan oleh atasan atas suatu perilaku tertentu yang telah ditentukan.

Kejujuran merupakan dasar individu untuk melakukan kinerja guna mencapai suatu tujuan. Sehingga, perusahaan diharuskan mengelola sumber daya manusia dengan menggunakan strategi efektif. Strategi ini dirancang untuk memotivasi para individu untuk berkerja sesuai dengan prosedur perusahaan supaya terhindar dari tindakan kecurangan. Association of Certified Fraud Examinations (ACFE) merupakan organisasi anti kecurangan terbesar di dunia dan sebagai penyedia utama pendidikan dan pelatihan anti kecurangan.

Menurut ACFE atau Association ofCertified Fraud Examinations (2012)

“terdapat 1.388 kasus kecurangan di seluruh dunia. Kasus kecurangan ini juga semakin bertambah setiap tahun. Menurut data ACFE jumlah persentase

(15)

kecurangan pelaporan keuangan yang terjadi pada tahun 2010 adalah 86,3%

sedangkan pada tahun 2012 jumlah presentase penyalahgunaan aset meningkat menjadi 86,7%‟‟. Kecurangan laporan keuangan di Indonesia banyak juga terjadi dalam level perusahaan, baik perusahaan swasta maupun pemerintah. Pada 6 Desember 2012, diumumkan skor Indonesia dalam Corruption Perception Index (CPI) adalah 32 dan menempati urutan ke 118 dari 176 negara yang diukur tingkat korupsinya (Transparancy International, 2012).

Selain jenis kecurangan pelaporan keuangan memiliki peningkatan yang paling besar, disisi lain jumlah kasus kecurangan yang paling tinggi adalah penyalahgunaan aset oleh karyawan. Data dari ACFE tersebut juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh KPMG‟s. Menurut KPMG‟s Barometer Fraud Survey 2013 hasil survey dari tahun 2010 sampai dengan 2012

„‟dikatakan bahwa employee fraud yang dilakukan oleh karyawan adalah tipe kecurangan yang paling banyak terjadi‟‟.

Kecurangan yang dilakukan oleh karyawan ini bisa dilakukan oleh karyawan itu sendiri atau berkelompok. Dengan adanya data ini diperlukan tindakan yang dilakukan perusahaan atau sebuah instansi untuk mengurangi adanya tindakan kecurangan. Hal ini dikarenakan kecurangan yang ada di lingkungan kerja akan merugikan banyak pihak seperti rekan kerja dan perusahaan itu sendiri.

System pengendalian manajemen yang tepat diperlukan menghindari maupun mengurangi tindakan kecurangan pelaporan yang dilakukan karyawan.

Manajemen atas akan lebih memperhatikan system tersebut guna mengurangi

(16)

tindakan kecurangan yang beredar. Ada beberapa cara yang digunakan oleh instansi atau perusahaan untuk mengurangi terjadinya hal tersebut yaitu diantaranya dengan cara penerapan reward dan punishment yang tepat. Semakin sering karyawan memperoleh penghargaan atas tindakan baik yang dilakukan, semakin besar pula karyawan mengulangi tindakan yang baik. Sebaliknya, semakin sering individu mendapatkan sanksi atau hukuman atas kesalahan yang dilakukan maka akan semakin berkurang pula tindakan kesalahan yang dilakukan.

Dengan kata lain, keberhasilan organisasi ditentukan oleh baiknya pemberian penghargaan dan adilnya pemberian hukuman.

Keberhasilan organisasi ditentukan oleh baiknya pemberian penghargaan dan adilnya pemberian hukuman. Selain itu, reward dan punishment merupakan suatu cara yang dapat diberlakukan oleh organisasi agar individu dapat memperbaiki sikap dan perilakunya yang menyimpang. Selain itu, motivasi kerja juga sangat membantu dalam pembentukan sistem kompensasi bagi individu.

Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan diatas terkait kompensasi reward dan punishment, kecurangan pelaporan keuangan. Maka penelitian ini mengangkat judul “Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan” (Analisis Persepsi Mahasiswa Akuntansi Universitas Bosowa).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarakan latar belakang permasalahan diatas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan, maka peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai berikut :

(17)

1. Pengaruh Reward terhadap kecurangan pelaporan keuangan berdasarkan analisis persepsi mahasiswa akuntansi ?

2. Pengaruh Punisment terhadap kecurangan pelaporan keuangan berdasarkan persepsi mahasiswa akuntansi ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka penelitian mengajukan tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Mengatahui persepsi mahasiswa akuntansi mengenai pengaruh Reward terhadap kecurangan pelaporan keuangan.

2. Mengetahui persepsi mahasiswa akuntansi mengenai pengaruh Punishment terhadap kecurangan pelaporan keuangan.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik, yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang akuntansi keperilakuan yang berkaitan dengan perilaku karyawan. Selain itu penulis mengharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya khususnya dalam bidang akuntansi manajemen dan akuntansi keperilakuan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat membantu manajemen sebuah organisasi atau perusahaan dalam mempertimbangkan kebijakan yang dapat diterapkan untuk

(18)

menghindari atau mengurangi terjadinya tindakan kecurangan yang terjadi di organisasi atau perusahaan tersebut. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber acuan bagi para mahasiswa yang dipersiapkan sebagai calon karyawan di masa mendatang. Bagaimana mereka akan mengambil keputusan atau menyikapi persoalan ketika mereka menjadi seorang karyawan.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

Kerangka pikir ini menguraikan mengenai teori-teori yang mendasari penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan harapan untuk menghindari teori- teori yang tidak mempunyai hubungan dengan penelitian ini. Kerangka teori ini juga menguraikan tentang teori-teori yang mendukung alat analisis yang dipergunakan dalam penelitian kerangka pikir.

2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan catatan tentang informasi keuangan perusahaan pada suatu waktu akutansi, yang dipakai untuk menggambarkan kondisi atau kinerja perusahaan tersebut. Atau bisa juga diartikan dengan catatan informasi keuangan yang disusun rapi oleh perusahaan untuk mengevaluasi kinerja perusahaannya, yang berguna untuk memenuhi pihak-pihak yang memakainya. Namun, laporan keuangan tidak memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk menentukan kebijakan ekonomi karena hanya menggambarkan secara umum pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu serta tidak ada kewajiban untuk menyediakan informasi non financial.

Menurut Munawir (2010:5) “Laporan keuangan pada umumnya terdiri dari neraca dan perhitungan laba rugi serta perubahan ekuitas. Neraca menggambarkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan pada periode tertentu.

Sedangkan laba rugi menunjukan hasil-hasil dan beban perusahaan yang telah dicapai.

(20)

Laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah susunan yang telah menyajikan posisi keuangan dan kinerja keuangan dalam sebuah entitas. Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas.

Untuk mencapai tujuan ini, dalam laporan keuangan harus berisi elemen yang terdiri dari aset, kewajiban, beban, networth, pendapatan dan perubahan ekuitas serta arus kas.

2.1.2 Kecurangan Pelaporan Keuangan 1. Pengertian Kecurangan

Menurut Arens (2008) “Kecurangan adalah setiap upaya penipuan yang disengaja yang dimaksudkan untuk mengambil harta atau hak orang atau pihak lain. Kaitannya dengan konteks audit atas laporan keuangan, kecurangan didefinisikan sebagai salah saji laporan keuangan yang disengaja”.

Kecurangan menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) adalah perbuatan melawan hukum yang dilakukan secara sengaja dengan tujuan tertentu seperti manipulasi, memberikan laporan yang keliru atau bentuk perbuatan lain yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu baik dari dalam organisasi maupun dari luar organisasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat merugikan pihak lain.

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance/ KNKG (2008),”fraud didefinisikan sebagai sebuah perbuatan tidak jujur yang dapat menimbulkan potensi kerugian yang nyata terhadap sebuah perusahaan, karyawan maupun

(21)

orang lain”. KNKG menyebutkan bahwa perbuatan yang mencakup fraud yaitu:

pencurian baik berupa uang maupun barang, penipuan, pemalsuan, penyembunyian ataupenghancuran dokumen/ laporan, menggunakan dokumen palsu untuk keperluan bisnis, dan membocorkan informasi perusahaan.

Dalam penelitian Wells (2001) “alasan utama seorang karyawan melakukan kecurangan adalah karena adanya motivasi. Motivasi disini terjadi karena adanya tekanan baik diri sendiri maupun dari luar”. Biasanya semakin karyawan merasa bahwa gaji maupun kompensasi yang didapat tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan, maka kemungkinan terjadinya kecurangan pun akan lebih besar. Selain itu tekanan finansial juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seorang karyawan melakukan kecurangan. Tekanan finansial ini biasanya terjadi karena adanya desakan dari pihak luar misalnya dari pihak keluarga untuk selalu memenuhi kebutuhan tersier mereka. Akan tetapi kecurangan yang dilakukan karyawan tidak akan terjadi jika tidak adanya kesempatan.

Kesempatan merupakan kunci utama adanya kecurangan.”Kecurangan pelaporan keuangan adalah kesengajaan atau kelalaian dalam pelaporan laporan keuangan yang disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum”

Wells (2001).

Dalam penelitian Suhermadi (2006) mendefinisikan “fraud sebagai suatu tindakan kesengajaan untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara tidak wajar dan salah menyajikan fakta untuk memperoleh keuntungan pribadi”. Dalam bahasa yang lebih sederhana, fraud adalah penipuan yang disengaja. Hal ini

(22)

termasuk berbohong, menipu, menggelapkan, dan mencuri. Penggelapan adalah merubah aset kekayaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya secara tidak wajar adalah untuk kepentingan dirinya. Perbuatan yang dilakukan biasanya adalah untuk menyembunyikan, menutupi atau dengan cara tidak jujur lainnya melibatkan atau meniadakan suatu perbuatan atau membuat pernyataan yang salah dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi di bidang keuangan atau keuntungan lainnya atau meniadakan suatu kewajiban bagi dirinya dan mengabaikan hak orang lain.

Dari berbagai pengertian tentang fraudelent financial reporting yang dijelaskan penulis menyimpulkan secara garis besar bahwasanya fraudelent financial reporting atau kecurangan pelaporan keuangan adalah tindakan penyalahgunaan wewenang dalam pelaporan keuangan guna mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok yang melanggar prosedur organisasi atau instansi.

2. Jenis – jenis Kecurangan

Menurut Association of Certified Fraud Examiners/ ACFE (2012) adalah salah satu asosiasi di Amerika Serikat yang kegiatannya dalam pencegahan dan pemberantasan kecurangan, mengkategorikan kecurangan dalam 3 kelompok sebagai berikut:

a. Korupsi

Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukan pengertian korupsi menurut undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia. Menurut ACFE korupsi terbagi dalam:

(23)

1. Pertentangan kepentingan (conflict of interest) yaitu pertentangan kepentingan terjadi ketika karyawan, manajer dan eksekutif suatu organisasi atau perusahaan memiliki kepentingan pribadi terhadap transaksi yang mengakibatkan dampak kurang baik terhadap organisasi atau perusahaan.

2. Suap (bribery) adalah penawaran, pemberian, penerimaan/ permohonan sesuatu dengan tujuan untuk mempengaruhi pembuat keputusan dalam membuat keputusan bisnis.

3. Pemberian ilegal (illegal gravity), pemberian ilegal hampir sama dengan suap, tetapi pemberian ilegal ini bukan untuk mempengaruhi keputusan bisnis, ini hanya sebuah permainan. Orang yang memiliki pengaruh akan diberi hadiah yang mahal atas pengaruh yang dia berikan dalam negosiasi/ kesepakatan bisnis.

4. Pemerasan secara ekonomi (economic extortion), pada dasarnya pemerasan secara ekonomi lawan dari suap (bribery fraud). Penjual menawarkan untuk memberi suap/ hadiah pada pembeli yang memesan produk dari perusahaan.

b. Penyalahgunaan asset

Penyalahgunaan asset atau harta perusahaan adalah bentuk kecurangan yang dilakukan dengan cara memiliki secara tidak sah dan penggelapan terhadap asset perusahaan. Penyalahgunaan aset dapat digolongkan ke dalam:

(24)

1. Kecurangan kas (cash fraud), yang termasuk kecurangan kas adalah pencurian kas dan pengeluaran-pengeluaran secara curang seperti pemalsuan cek.

2. Kecurangan atas persediaan dan aset lainnya (fraud of inventory and all other asset) adalah kecurangan berupa pencurian dan pemakaian untuk kepentingan pribadi terhadap persediaan atau aset lainnya.

c. Pernyataan Palsu atau Salah Pernyataan

Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material dalam laporan keuangan yang dapat merugikan investor dan kreditor.

Selain klasifikasi di atas, fraud juga dapat diklasifikasikan berdasarkan korbannya yaitu:

a. Fraud dimana organisasi adalah korbannya 1. Penggelapan Oleh Pegawai

Fraud jenis dilakukan oleh seorang pegawai menggunakan posisi mereka untuk mengambil atau mengalihkan aset yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi untuk kepentingan pegawai. Korban dari fraud jenis ini adalah pemberi kerja atau organisasi yang bersangkutan.

2. Kecurangan Oleh penjual

Pada fraud jenis ini dilakukan oleh penjual dengan cara melebihkan tagihan, merendahkan kualitas barang, mengurangi jumlah barang dari persetujuan awal. Korban dari fraud jenis ini yaitu organisasi yang membeli dari penjual barang atau jasa.

(25)

3. Kecurangan Oleh Pembeli

Korban dari fraud jenis ini yaitu organisasi yang menjual barang atau jasa ke pembeli. Pembeli melakukan kecurangan dengan cara tidak membayar tagihan, membayar dengan jumlah lebih sedikit dari tagihan, atau mengambil barang lebih banyak dengan cara menipu organisasi.

b. Fraud Oleh Manajemen

Kecurangan ini dilakukan oleh manajemen dengan cara memanipulasi pernyataan keuangan yang bertujuan untuk memperlihatkan bahwa keadaan organisasi lebih baik dari kenyataannya. Korban dari kecurangan ini yaitu pemegang saham, kreditor dan pemerintah.

c. Penipuan berkedok investasi dan fraud oleh konsumen lainnya

Tipe fraud ini dilakukan di internet secara pribadi untuk mendapatkan kepercayaan individu dengan menginvestasikan uangnya untuk hal yang tidak berharga. Korban dari fraud jenis ini yaitu investor yang tidak hati- hati.

d. Tipe Fraud Lainnya

Fraud ini dilakukan ketika seseorang memiliki kesempatan untuk mengecoh orang lain. Pada fraud jenis ini dapat dilakukan dan menimpa siapa saja.

3. Faktor – faktor kecurangan

Menurut singleton et.al (2006) terdapat 3 faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan yang dikenal dengan sebutan “fraud triagle” sebagai berikut:

(26)

a. Pressure

Tekanan merupakan faktor pendorong pelaku kecurangan untuk melakukan kecurangan.

Misalnya adanya tekanan karena dia memiliki utang atau tekanan untuk dapat memperbaiki posisinya di perusahaan.

b. Opportunity

Kecurangan dapat terjadi jika ada kesempatan untuk melakukan kecurangan perusahaan.

Perusahaan yang tidak memiliki pengendalian internal yang efektif, kesempatan untuk melakukan kecurangan terbuka lebar. Tetapi dengan pengendalian internal yang memadai akan mengurangi atau menghilangkan kesempatan atau godaan para pelaku kecurangan untuk melakukan kecurangan.

c. Rationalization

Para pelaku kecurangan menganggap bahwa kecurangan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang wajar sehingga mereka melakukan kecurangan dan mereka

beranggapan bahwa mereka hanya mengambil sedikit atau meminjam harta perusahaan dan tidak akan merugiakan perusahaan.

4. Kecurangan dalam Pelaporan Keuangan

Kecurangan akuntansi sebagai salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan yaitu salah saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabui pemakai laporan keuangan, salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap asset (seringkali disebut penyalahgunaan atau penggelapan) berkaitan dengan pencurian asset entitas yang berkaitan laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kecurangan pelaporan keuangan (fraudelent financial reporting) terdiri dari tindakan- tindakan seperti:

a. Manipulasi, pemalsuan, atau pengubahan catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang menjadi sumber penyusunan laporan keuangan.

b. Representasi yang salah atau penghapusan yang disengaja atas peristiwa- peristiwa, transaksi-transaksi, atau informasi signifikan lainnya yang ada dalam laporan keuangan.

c. Salah penerapan yang disengaja atas prinsip-prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan.

(27)

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa kecurangan dalam laporan keuangan terdiri dari tindakan manipulasi, pemalsuan catatan akuntansi, penghapusan secara sengaja terhadap informasi yang ada dalam laporankeuangan, dan terdapat salah penerapan secara sengaja terhadap prinsip-prinsip akuntansi.

2.1.3 Persepsi

1. Pengertian Persepsi

Pada umumnya istilah persepsi digunakan dalam bidang psikologis.

Menurut Asrori (2009:214) ”adalah proses individu dalam menginterprestasikan, mengorganisasikan dan memberi makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan dimana individu itu berada yang merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman”. Dalam pengertian persepsi tersebut terdapat dua unsur penting yaitu interprestasi dan pengorganisasian. Interprestasi merupakan upaya yang diperolehnya. Sedangkan perorganisasian adalah proses mengelola informasi tertentu agar memiliki makna. Presepsi sesungguhnya memerlukan proses belajar dan pengalaman. Hasil proses belajar dan interaksi seorang akan memberikan pengalaman bagi dirinya untuk dapat membandingkan yang dihadapi.

Menurut Slameto (2010:102) “adalah proses yang berkaitan dengan masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui presepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya”. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya. Yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa dan pencium.

Berdasarkan bebrapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud presepsi adalah proses menerima, membedakan, dan memberi arti

(28)

terhadap stimulus yang diterima alat indra, sehingga dapat memberi kesimpulan dan menafsirkan terhadap objek tertentu yang diamatinya.

2. Jenis-jenis Persepsi

Menurut Slameto (2010:104) menyatakan bahwa presepsi terbagai menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Presepsi Visual

Dari indera penglihatan yaitu mata. Presepsi ini adalah presepsi yang paling awal berkembang pada bayi dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya.

Presepsi visual adalah hasil dari apa yang kita lihat, baik sebelum kita melihat atau masih membayangkan serta sesudah melakukan objek yang ditinju.

b. Presepsi Auditoria atau Pendengaran

Merupakan presepsi yang didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga. Seseorang dapat mempersepsikan sesuatu dari apa yang didengarkan.

c. Presepsi Perabaan

Merupakan presepsi yang didapatkan dari indera perabaan yaitu kulit. Seseorang dapat mempresepsikan sesuatu dari apa yang disentuhnya atau akibat persentuhan seseuatu dengan kulitnya.

d. Presepsi Penciuman

Merupakan presepsi yang didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung. Seseorang dapat mempersiapkan sesuatu dari apa yang dicium.

e. Presepsi Pengecapan

Merupakan jenis presepsi uyang didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah. Seseorang dapat mempersiapkan sesuatu dari apa yang dirasakan.

3. Faktor-faktor Presepsi a. Faktor Internal

Faktor Internal mencakup perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan, atau harapan, perhatian (focus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga niat, dan motivasi.

b. Faktor Eksternal

Faktor Eksternal mencakup latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intesitas, ukuran,

(29)

keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal dbaru dan informasi atau ketidak asingan suatu objek.

2.1.4 Reward

1. Pengertian Reward

Lubis (2011) mengatakan bahwa “ Reward dapat berfungsi sebagai alat untuk memengaruhi dan memotivasi manajer maupun karyawan dalam meningkatkan kompetensi kerjanya”. Faktor yang memengaruhi peningkatan kompetensi seorang karyawan adalah dengan pemberian motivasi dan sistem penghargaan yang proporsional. Salah satu cara yang dapat dilakukan atasan untuk memotivasi bawahan adalah dengan memberikan reward. Reward merupakan padanan kata dari kompensasi, penghargaan, ganjaran, imbalan atau hadiah. (Abdullah, 2014:3). Salah satu cara yang dapat dilakukan atasan untuk memotivasi bawahan adalah dengan memberikan reward. Reward merupakan padanan kata dari kompensasi, penghargaan, ganjaran, imbalan atau hadiah.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa reward merupakan penghargaan yang diberikan oleh perusahaan atas prestasi yang telah dicapai oleh karyawannya sebagai bentuk balasan karena mereka dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik.

2. Manfaat Reward

“Manfaat reward yang dapat dirasakan oleh karyawan adalah mereka dapat termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi dan mampu meningkatkan kepuasan kerja serta meningkatkan status sosial atau prestasi bagi karyawan” . Kadarisman (2012: 10). ”Pemberian reward dapat memicu peningkatan kinerja,

(30)

sesuai dengan Teori Motivasi Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow bahwa seseorang ingin dihargai atas prestasi yang dapat dicapainya” Abdullah (2014).

Manfaat reward bagi perusahaan yaitu:

a. menarik karyawan dengan tingkat kemampuan yang tinggi untuk bekerja pada perusahaan.

b. memberikan rangsangan agar karyawan bekerja dengan maksud mencapai prestasi yang tinggi,

c. mengikat karyawan untuk tetap bekerja pada perusahaan.

3. Bentuk-bentuk Reward

a. Reward Intrinsik yaitu sebuah penghargaan yang diterima oleh seorang karyawan yang berasal dari dalam diri karyawan tersebut. Penghargaan ini biasanya berupa rasa puas dan terkadang juga berupa perasaan bangga terhadap sebuah pekerjaan yang telah dikerjakan sebelumnya. Beberapa bentuk penghargaan intrinsik yaitu :

1. Penyelesaian

Beberapa orang memiliki kebutuhan untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaannya, dan mereka akan merasa puas setelah tugas atau pekerjaan tersebut telah terselesaikan dengan baik. Rasa puas yang diperoleh dari penyelesaian tugas ini dapat menjadi motivasi positif terhadap upaya untuk menyelesaikan tugas selanjutnya.

2. Pencapaian

Terkadang seseorang akan merasa bangga terhadap dirinya sendiri setelah meraih sebuah tujuan yang menantang. Perasaan bangga tersebut

(31)

muncul karena mereka telah melalui usaha untuk mencapai tujuan yang lebih sulit dibanding orang lain.

3. Otonomi

Sebagian orang memiliki perasaan bahwa mereka perlu dihargai dalam sebuah organisasi.Salah satu contoh agar seseorang merasa dihargai adalah diberinya kesempatan untuk mengambil sebuah keputusan penting dalam organisasi.

4. Pertumbuhan Pribadi

Dengan berbagai macam jenis tugas yang diberikan oleh seorang karyawan tentu saja akan meningkatkan keterampilan yang dimilikinya.

b. Reward Ekstrinsik adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki jabatan lebih tinggi atas pencapaian yang telah seseorang capai. Bentuk penghargaan ini mencakup kompensasi langsung (gaji dan upah, tunjangan, bonus), kompensasi tidak langsung (pesangon, jaminan sosial, asuransi) dan penghargaan bukan uang (promosi jabatan).

Reward bukan uang adalah kepuasan yang diterima karyawan dari pekerjaan

itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau phisik dimana karyawan bekerja.

2.1.5 Punishment

1. Pengertian Punishment

Punishment merupakan kebalikan dari sistem reward, dimana reward merupakan bentuk motivasi positif sementara punishment adalah bentuk motivasi negatif. Menurut Ivancevich, et.al (2007) “punishment adalah suatu konsekuensi

(32)

yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan yang diberikan oleh atasan atas suatu perilaku tertentu yang telah dilakukan”. Hal ini senada dengan penelitian (Siahaan 2013) ”bahwa punishment adalah suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap suatu respon perilaku tertentu dengan tujuan untuk memperlemah perilaku tersebut dan mengurangi frekuensi perilaku yang sama untuk selanjutnya”. Dari kedua pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa punishment dalam konteks perusahaan atau organisasi adalah suatu sistem yang diterapkan oleh atasan untuk mengendalikan perilaku bawahan yang berupa hukuman agar bawahan merasa jera dan tidak melakukan perilaku yang serupa di kemudian hari.

Menurut penelitian Nurmiyati (2011) “punishment akan diberikan karena adanya pelanggaran terhadap aturan yang berlaku. Perusahaan akan memberikan punishment kepada karyawan yang lalai atau melakukan suatu kesalahan yang merugikan perusahaan”. Punishment (hukuman) jika digunakan secara efektif dapat menekanperilaku menyimpang dalam organisasi, dengan kata lain punishment sebaiknya diberikan setelah melalui pertimbangan yang cermat dan objektif dari semua aspek yang relevan dengan situasi yang terjadi. Pertimbangan tersebut meliputi waktu, intensitas, jadwal, klarifikasi, dan impersonalitas (tidak bersifat pribadi).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa punishment merupakan konsekuensi yang tidak menyenangkan yang diberikan oleh perusahaan atas tindakan atau perilaku tertentu untuk meminimalisir tindakan atau perilaku tersebut.

(33)

2. Fungsi Punishment

Dalam penelitian Siahaan (2013) meyebutkan tiga fungsi penting dari punishment yang berperan besar bagi pembentukan tingkah laku yang diharapkan, antara lain: “a.Membatasi perilaku sehingga akan menghalangi terjadinya pengulangan tingkah laku yang tidak diharapkan. b. Bersifat Mendidik. c.

Memperkuat motivasi untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang tidak diharapkan”.

Di satu sisi apabila pemberian punishment tidak diterapkan dengan bijaksana dan tanpa melakukan pertimbangan sebelumnya, maka adanya punishment ini justru merupakan cara yang kurang efektif dalam menekan perilaku karyawan.

3. Bentuk – bentuk Punishment

Dalam penelitian Eni Nurmiyati (2011) “punishment akan diberikan karena adanya pelanggaran terhadap aturan yang berlaku”. Dalam konteks perusahaan, punishment akan diberikan kepada karyawan yang lalai atau melakukan suatu kesalahan yang merugikan perusahaan. Punishment ini dapat berupa teguran, surat peringatan, scorsing maupun penghentian pekerjaan serta dapat juga berupa pembatalan bonus di bulan terkait.

Dengan kata lain punishment dapat membuat kesempatan bonus maupun promosi dibatalkan. Tujuan punishment ini adalah agar karyawan lebih giat dan berusaha semaksimal mungkin dalam pekerjaannya.

(34)

Menurut Anwar Prabu Mangkunegaran (2013:131) pelaksanaan sanksi/

hukuman terhadap seorang pegawai yang melakukan pelanggaran yaitu dengan memberikan peringatan, harus segera, harus konsisten, dan harus impersonal.

a. Pemberian peringatan , Pegawai yang telah melakukan pelanggaran harus diberikan surat peringatan. Pemberian surat peringatan ini bertujuan agar pegawaitersebut menyadari perbuatannya dan dapat pula sebagai bahan pertimbangan dalam penilaian pegawai.

b. Pemberian sanksi harus segera , Pegawai yang melakukan pelanggaran harus segera diberikan sanksi oleh organisasi sesuai dengan peraturan yang telah dibuat. Tujuannya adalah agar pelanggar mengetahui sanksi pelanggaran yang berlaku. Apabila organisasi lalai dalam memberikan sanksi ini maka akan memperlemah disiplin yang ada dan dapat memberikan peluang bagi pelanggar untuk mengabaikan peraturan yang ada.

c. Pemberian sanksi harus konsisten , Tujuan dari kekonsistenan pemberian sanksi ini adalah agar pegawai menyadari dan menghargai peraturan- peraturan yang ada di organisasi. Inkonsistensi pemberian sanksi dapat mengakibatkan adanya perasaan diskriminasi, ringannya sanksi dan pengabaian disiplin.

d. Pemberian sanksi harus impersonal , Setiap pelanggaran harus diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perusahaan dengan tidak membedakan- bedakan setiap pegawai.

(35)

2.2 Kerangka Pikir

1. Pengaruh Reward Terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan

Reward merupakan feedback positif yang diberikan organisasi bagi individu yang telah memenuhi persyaratan tertentu. Individu dalam menentukan reward yaitu bonus telah mempertimbangkan banyak aspek mengenai kontrak kompensasi. Individu akan menerima bonus apabila semua target yang ditetapkan oleh organisasi tercapai dan apabila kinerjanya baik. Meningkatnya bonus yang diberikan pada individu akan menyebabkan peningkatan pada semangat dan motivasi kerja individu untuk bekerja lebih baik.

Christian (2003) mengungkapkan bahwa ada delapan tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah Fraud. Pemberian reward termasuk didalam delapan tindakan tersebut. Menurutnya karyawan yang patuh dan ikut dalam memerangi Fraud perlu diberikan reward. Bila perlu perusahaan dapat membantu struktur reward bagi karyawan yang membantu dalam memerangi Fraud. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Xu dan Ziegenfuss (2003) menunjukkan company’s wrongdoing atau bahkan Fraud.

2. Pengaruh Punishment Terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan

Punishment merupakan hukuman dalam bentuk uang karena telah melanggar aturan yang telah disepakati. Denda merupakan hukuman bagi individu yang tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik dan benar. Individu akan menerima denda apabila individu tersebut tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik dan benar. Kompensasi denda diterapkan guna memberikan motivasi terhadap individu agar bekerja sesuai dengan harapan dan mencapai target yang

(36)

telah ditetapkan oleh organisasi. Meningkatnya denda pada sebuah organisasi, maka individu akan menghindari kecurangan ataupun tindakan yang menyimpang dalam pelaporan keuangan. Dengan adanya sistem denda bagi individu, maka akan lebih termotivasi dan menghindari kegagalan dalam kecurangan pelaporan keuangan.

Christian (2003) mengungkapkan bahwa ada delapan tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah Fraud. Pemberian punishment termasuk di dalam delapan tindakan tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan Xu dan Ziegenfuss (2003) menunjukkan bahwa perusahaan juga arus memberikan punishment terhadap karyawan yang melakukan Fraud. Pemberian punishment ini harus diberikan saat menemukan Fraud meskipun kerugian akibat Fraud tersebut tidak besar.

(37)

Gambar 2.1

Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh Reward dan Punisment terhadap kecurangan pelaporan keuangan berdasarkan persepsi mahasiswa akuntansi

Bagaimana pengaruh persepsi mahasiswa akuntansi mengenai Reward terhadap kecurangan pelaporan keuangan dan Bagaiamana pengaruh persepsi mahasiswa akuntansi mengenai

Punisment terhadap kecurangan pelaporan keuangan

Bagaimana pengaruh persepsi mahasiswa akuntansi mengenai Reward terhadap kecurangan pelaporan keuangan dan Bagaiamana pengaruh persepsi mahasiswa akuntansi mengenai

Punisment terhadap kecurangan pelaporan keuangan Metode Analisis

Rekomendasi Kesimpulan 1. Analisis Deskriptif

2. Analisis Regresi Linear Berganda Mahasiswa Akuntansi

Universitas Bosowa

(38)

2.3 Hipotesis

Berdasarkan penjelasan mengenai kerangka pemikiran , maka hipotesis penelitian yang diajukan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 : Diduga Persepsi Mahasiswa Akuntansi mengenai Reward berpengaruh terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan.

H2 : Diduga Persepsi Mahasiswa Akuntansi mengenai Punishment berpengaruh terhadap Kecurangan Pelaporan Keuangan.

(39)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Universitas Bosowa dengan melibatkan Mahasiswa Akuntansi. Penelitan ini dilakukan pada bulan Maret 2019 sampai dengan Mei 2019. Pemilihan Mahasiswa Akuntansi Universitas Bosowa ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa akuntansi tentang pengaruh reward dan punishment terhadap kecurangan pelaporan keuangan.

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Penelitian

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya” Sugiyono (2016: 80). “sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian” Bungin (2013:101) dalam intan (2017).

Jadi, populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi di Univeristas Bosowa.

3.2.2 Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari elemen-elemen yang dimiliki populasi Bungin (2013) dalam Intan (2017). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah reward dan punishment berpengaruh terhadap kecurangan pelaporan keuangan.

(40)

Digunakannya metode eksperimen dikarenakan tingkat validitas internal yang tinggi pada metode ini. Dengan Sampel dari penelitian ini adalah persepsi mahasiswa di Universitas Bosowa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu sampel yang sengaja dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan peneliti. Sampel dari penelitian ini adalah Mahasiswa Akuntasi Universitas Bosowa Angkatan 2015

3.3 Metode Pengumpulan Data

Peneliti dapat menggunakan metode-metode atau teknik tertentu untuk memperoleh data/informasi. Metode pengumpulan data dalam penilitian ini adalah:

1. Metode Kepustakaan (Library Research), yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membaca berbagai buku yang berhubungan dengan pembahasan yang ada dalam skripsi.

2. Metode Dokumentasi, yaitu pengumpulan data terhadap jurnal pribadi, data server, dokumen website dan lain-lain.

3. Metode Lapangan (Field Reseacrh), yaitu pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian.

Metode ini peneliti mampu untuk mengendalikan variabel independen dengan cara memanipulasi serta mampu mengkontrol variabel ekstrane, sehingga hubungan variabel independen dan dependen mampu dijelaskan secara baik.

Pemilihan desain between subjects ditujukan untuk menghindari risiko adanya efek latihan dan efek carryover dalam eksperimen. Hal in dikarenakan dalam desain between subjects tiap partisipan hanya akan mendapatkan satu manipulasi

(41)

saja. Dalam penelitian ini setiap partisipan dalam satu kelompok hanya akan mengalami satu kondisi perlakuan saja, dan kemudian dilihat apakah mereka akan melakukan pengungkapan kecurangan pelaporan keuangan atau tidak.

3.4 Jenis dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif.

Data ini berupa nilai atau skor atas jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner.

3.4.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer.

Penelitian premier membutuhkan data atau informasi dari sumber pertama, biasanya disebut dengan responden. Data atau infromasi diperoleh melalui pertanyaan tertulis dengan menggunakan kuesioner atau lisan dengan menggunakan metode wawancara Hikmawati (2017:18).

3.5 Metode analisis 3.5.1 Analisis Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tana bermakud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi Hikmawati (2017:18).

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness Ghozali (2013: 19).

(42)

1. Uji Kualitas Data

Uji kualitas data dilakukan untuk menguji kecukupan dan kelayakan data yang digunakan dalam penelitian. Uji kualitas data dilakukan menggunakan uji validitas dengan Korelasi Pearson dan uji reliabilitas dengan Cronbach Alpha.

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut Ghozali (2013:52). Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan Pearson Correlation yaitu dengan cara menghitung korelasi antara nilai yang diperoleh dari pertanyaan pertanyaan. Apabila Pearson Correlation yang di dapat memiliki nilai di bawah 0.05 berarti data yang diperoleh adalah valid.

b. Uji Reabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Uji reliabilitas dimaksudkan untuk melihat sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu Ghozali (2013:47). Pengujian ini menggunakan metode statistik Cronbach Alpha dengan nilai 0.7. Apabila Cronbach Alpha dari suatu variabel > 0.7 maka butir pertanyaan dalam instrumen penelitian tersebut adalah reliabel atau dapat diandalkan, dan sebaliknya jika nilai Cronbach Alpha < 0.7 maka butir pertanyaan tersebut tidak reliabel.

(43)

2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik pada penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas dengan pendekatan keilmuan yaitu statistik.

a. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adaanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen. Uji multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflantion Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai Tolerance > 0,10 atau sama dengan nilai VIF < 10. “Setiap peneliti harus menentukan tingkat kolinearitas yang masih dapat ditolerir”

Ghozali (2013:105-106).

b. Uji Heteroskedestistitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

(44)

pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas Ghozali (2013:139).

c. Uji Nomalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau tidak. Jika data ternyata berdistribusi normal, maka analisis nonparametik dapat digunakan. “Jika data berdistribusi normal, maka analisis parametik termasuk model-model regresi dapat digunakan” Umar (2008:77).

3.5.2 Analisis Regresi Linear Berganda

Metode regresi linear berganda dimaksudkan untuk mengetahui keeratan hubungan yang ada diantara kedua variabel. Metode regresi linear ini juga dapat digunakan untuk peramalan dengan menggunakan data berkala (timeseries).

Berdasarkan hubungan antara variabel pengaruh Reward (X1), pengaruh Punishment (X2), dan kecurangan pelaporan keuangan (Y), maka akan digunakan model analisa regresi linear sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X + e Dimana:

Y = Variabel dependen (Kecurangan Pelaporan Keuangan) a = Konstanta

bi = Koefiensi Regresi (i = 1,2,)

X1= Variabel independen (Pengaruh reward)

(45)

X2 = Variabel independen (Pengaruh Punishment) e = Error

Dari perhitungan SPSS 20.0 akan diperoleh keterangan atau hasil tentang koefisien determinasi, Uji F, Uji t untuk menjawab perumusan masalah penelitian.

Berikut ini keterangan yang berkenaan dengan hal tersebut diatas, yakni:

1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.Nilai koefisien determinasi adalah nol (0) dan satu (1).Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen Ghozali (2013:97).

2. Uji Parsial (Uji Statistik t)

Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013:

98). Variabel independen secara individu dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen apabila nilai p value (sig) lebih kecil dari tingkat signifikansi (α). Tingkat signifikansi yang diterapkan dalam penelitian iniadalah α = 5%. Hal ini berarti apabila nilai p value (sig) lebih kecil dari 5%

(46)

maka variabel independen secara individu dikatakan memiliki pengaruh yang signifikann terhadap variabel dependen Ghozali (2013: 98).

3.6 Definisi Operasional

3.6.1 Variabel Bebas (Independent Variabel)

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel Independent antara lain : 1. Reward (X1)

Dalam penelitian ini terdapat variabel independen yaitu Reward merupakan feedback positif yang diberikan oleh perusahaan atas pencapaian yang telah dilakukan oleh karyawan. Pengukuran variabel ini dengan memberikan skor 1 dan 2, skor 1untuk perlakuan.

2. Punishment (X2)

Dalam penelitian ini terdapat variabel independen yaitu Punishment merupakan feedback negatif yang diberikan oleh perusahaan atas pencapaian yang telah dilakukan oleh karyawan. Konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap suatu respon perilaku frekuensi perilaku yang sama untuk selanjutnya. Pengukuran variabel ini dengan memberikan skor 1 dan 2, skor 1untuk perlakuan (ada).

3.6.2 Variabel Terikat (Dependent) 1. Kecurangan Pelaporan Keuangan (Y)

Variabel terikat adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel terikat (Y) pada penelitian ini adalah Kecurangan Pelaporan Keuangan.Variabel ini merupakan fokus utama dalam penelitian ini, Dengan kata lain, merupakan aspek penting dalam menentukan keberhasilan

(47)

dalam penelitian ini. Kecurangan pelaporan keuangan adalah kesengajaan atau kelalaian dalam pelaporan laporan keuangan yang disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Dalam penelitian eksperimen ini untuk mengetahui tingkat kecurangan dalam pelaporan keuangan maka peneliti memberikan kasus. Setiap responden yang berbeda-beda akan mengerjakan tugas yang sama, sehingga terdapat 2 kelompok kompensasi yang berbeda yaitu Reward dan Punishment. Masing-masing responden mengerjakan satu tugas saja dengan kompensasi yang dipilih secara random.

(48)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskriptif Data

4.1.1 Gambaran Umum Penelitian

Universitas Bosowa adalah transformasi dari Universitas “45” Makassar.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI, Founder dari Bosowa Corporation, H M Aksa Mahmud resmi mengambil alih pengelolaan Universitas

‟45 setelah menandatangani dokumen penyerahan pengelolaan universitas di Kampus Universitas ‟45, Jl Urip Sumoharjo, Sabtu (17/8/2013).

Sebelumnya, pengelolaan Universitas ‟45 dikelola oleh Yayasan Andi Sose. Sosok Andi Sose merupakan pejuang Sulsel dan veteran Kemerdekan RI yang berkomitmen melanjutkan semangat perjuangan 45 dengan mendirikan Universitas ‟45.

Bagi Aksa Mahmud, ini adalah momen penting dan berbahagia. Sebab bersamaan dengan peringatan HUT- ke-68 Kemerdekaan Republik ini, yang seusia dengan saya.”Ini adalah pengalihan generasi. Angkatan 45 ke Angkatan 66,” Katanya. Pertama kali berdiri tanggal 9 Desember 1985 berdasarkan Akta Notaris Sitske Limoa, SH. Nomor 45, dan secara resmi menerima mahasiswa baru pada Tahun Akademik1986/1987 setelah mendapat Izin Operasional dari Kopertis Wilayah IX Sulawesi dengan SK No. 595 Tanggal 13 Juni 1986.

Berdasarkan surat Direktur Jenderal. Pendidikan Tinggi No.

143/DIKTI/Kep/1996, Fakultas/Jurusan pada Universitas “45” memperoleh Status Disamakan. Pada tahun 1998 – 2000 Universitas “45” memperoleh Status

(49)

Terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Depdiknas untuk semua fakultas/jurusan pada Universitas “45”. Sesuai SK Dirjen Dikti No. 34/Dikti/Kep/2002 tentang Hasil Evaluasi Diri Elektronik (Self Evaluation) laporan penyelenggaraan program studi per semester, maka Universitas “45” memperoleh Perpanjangan Izin Penyelenggaraan, dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas melalui SK Dirjen Dikti No. 0733- 1805/D/T/2004 untuk 21 Program Studi dari 6 Fakultas dan Program Diploma yang dibina oleh Universitas “45” Makassar.

Pada tanggal 29 Mei 2005 sampai dengan 15 Nopember 2005 telah dilaksanakan Visitasi untuk 21 Program Studi yang dibina Universitas “45” oleh Tim Asesor Badan AKreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Depdiknas, untuk memperoleh Perpanjangan Akreditasi Program Studi yang ada pada Universitas “45” Makassar. Universitas “45”hingga saat ini selama 21 tahun (1985 – 2007) membina 30 Program Studi yang ada pada 10 Fakultas, Program Diploma (D1/D3) dan Program Pasca Sarjana (S2) sebagai berikut :

a. Fakultas Ekonomi dan Bisnis : Program Studi Ilmu Ekonomi; Manajemen;

dan Akuntansi.

b. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik : Program Studi Ilmu Administrasi Negara; Sosiologi; dan Hubungan Internasional (HI).

c. Fakultas Pertanian : Program Studi Budidaya Pertanian (Agribisnis);

Teknologi Pangan; Sosial Ekonomi; Budidaya Perikanan (Aquakultur);

dan Produksi Ternak.

(50)

d. Fakultas Teknik : Program Studi Sipil; Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi); Arsitektur; dan Teknik Industri.

e. Fakultas Sastra : Program Studi Sastra Inggris.

f. Fakultas Hukum : Program Studi Ilmu-ilmu Hukum.

g. Fakultas Psikologi : Program Studi Psikologi.

h. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia; Pendidikan Bahasa Inggris; dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

i. Program Diploma : Perhotelan (D3/D1) dan Manajemen Informatika (D3).

j. Program Pasca Sarjana (S2) : Program Studi Manajemen, Ilmu Hukum, Administrasi Negara; Perencanaan Wilayah dan Kota; dan Budidaya Perairan.

Seiring perkembangan tersebut, Universitas 45 yang saat ini telah menjadi Universitas Bosowa, sejak 2016 lalu juga telah mendapat izin secara resmi untuk membuka Fakultas Kedokteran. Untuk mengembangkan FK Unibos, ini juga dilakukan dengan menggait FK Universitas Airlangga sebagai mitra kerjasama untuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pada awal tahun 2017, Universitas Bosowa pun dipercaya untuk kembali mengelola 5 Program Studi baru. Diantaranya, S1 Pendidikan Matematika, S1 Pendidikan Fisika, S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, S2 Pendidikan Bahasa Inggris dan S2 Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar. Pada awal tahun 2018, Universitas Bosowa kembali menunjukan perkembangan dan kembali dipercaya

(51)

membuka 4 Program Studi baru. Termasuk, S1 Teknik Pertambangan, S1 Teknik Lingkungan, S1 Teknik Geologi, dan S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

1. Visi Dan Misi

Adapun Visi dan Misi yang diterapkan oleh Universitas Bosowa adalah sebagai berikut :

a. Visi

”Menjadi Universitas unggul yang melahirkan tokoh nasional berjiwa entrepreneur, berbasis IT dan berwawasan global.”

b. Misi

1. Menyelenggarakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis Informasi Teknologi (IT).

2. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS), yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

3. Melaksanakan kerjasama dengan instansi pemerintah dan dunia usaha baik dalam negeri maupun luar negeri untuk mengembangkan mutu sumber daya manusia (SDM) yang smart, religius, berjiwa entrepreneur dan berwawasan global.

2. Tujuan

Diarahkan untuk melahirkan lulusan-lulusan Universitas Bosowa adalah sebagai berikut:

a. Menghasilkan tokoh nasional yang smart, religius, berjiwa entrepreneur, dan berdaya saing global.

Gambar

Tabel 4.1 Pengembalian Kuesioner oleh responden  Mahasiswa Akuntansi di Universitas Bosowa
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Mahasiswa Akuntansi  Di Universitas Bosowa Berdasarkan Umur
Tabel diatas menjelaskan hasil statistik deskriptif tentang variabel-variabel  dalam penelitian ini, antara lain :
Tabel  menunjukkan  hasil  uji  validitas  pada  instrument  Reward  dengan  menggunakan  software  SPSS  pengolah  data,  semua  item  memiliki  nilai  korelasi  Product Moment (r hitung ) pernyataan lebih besar dari nilai r tabel  sebesar 0,324 (tarif  s
+7

Referensi

Dokumen terkait

PERNYATAAN KEORSINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Hermiliana Petra Saiman Nim : 4515013030 Jurusan : Akuntansi Fakultas : Ekonomi Judul : Pengaruh

PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Hardianti Amiruddin Nim : 4513012127 Jurusan : Manajemen Fakultas : Ekonomi Judul : Analisis Pengaruh

PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Ni Wayan Muriati Nim : 4517012039 Jurusan : Manajemen Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Judul : Pengaruh

PERNYATAAN KEORSINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Khairil Fitriani Nim : 4514013043 Jurusan : Akuntansi Fakultas : Ekonomi Judul : Pengaruh Akuntansi

iii PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Nevi paula angraeny NIM :4516012021 Jurusan : Manajemen Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Judul

iii PERNYATAAN KOERSINILAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Nur Hawalya NIM : 4519013004 Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Program Studi : Akuntansi Judul : Pengaruh

PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Dhea Arista Putri NIM : 4518013049 Jurusan : Akuntansi Fakultas : Ekonomi Dan Bisnis Judul :

ii PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Zul Fahri NIM : 90400117052 Tempat/Tgl.Lahir : Ujung Pandang, 02 Juli 1999 Jurusan : Akuntansi