MAKALAH
PERKEMBANGAN SOSIO EMOSIONAL, KONSEP DIRI DAN PERKEMBANGAN MORAL PESERTA DIDIK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Dosen pengampu: Abdul Karim, S.Pd.I., M.Pd.I.
Kelas AUD 1 Disusun Oleh Kelompok 6:
Nur Imamah 211101050005
Silvia Alimatul 212101050002 Qoyimatuz Zahro 212101050012
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD
SIDDIQ JEMBER
APRIL 2023
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ialah suatu perubahan yang terjadi pada manusia, yakni proses peningkatan kapasitas untuk kebaikan atau keburukan, serta perkembangan seorang anak. Meningkatkan kemampuan anak yang dilihat dari keadaannya, berjalan dengan sempurna. Perkembangan melibatkan perubahan sel, jaringan, organ, dan sistem organ tubuh yang berkembang sedemikian rupa sehingga setiap individu dapat melakukan tugasnya. Anak tidak bisa mendapatkan hak seperti itu, tetapi membutuhkan upaya yang dilakukan sejak anak masih kecil. Mengetahu i berbagai kemampuan dengan baik akan membawa orang menuju kesuksesan dal am hidup. Untuk mendukung kesuksesan hidup setiap orang, sejak kecil anak haru s belajar berbagai keterampilan, terutama keterampilan sosial yang baik. Kompete nsi sosial emosional merupakan dasar bagi perkembangan kemampuan anak dala m berinteraksi dengan lingkungannya. Seseorang tidak hanya dituntut untuk berga ul dengan baik dengan orang lain, tetapi juga mempengaruhi bagaimana ia mampu mengendalikan dirinya sendiri. ketakcakapan setiap orang dalam mengendalikan dirinya dapat menimbulkan berbagai masalah sosial emosional dengan orang lain.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses perkembangan sosioemosional anak?
2. Bagaimana teori perkembangan sosioemosional menurut Urie Bronfenbrenner dan Erikson?
3. Bagaimana proses perkembangan konsep diri anak?
4. Bagaimana proses perkembangan moral peserta didik?
5. Apa saja model perkembangan moral anak?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui definisi perkembangan sosioemosional anak 2. Mengetahui teori perkembangan sosioemosional menurut Urie
Bronfenbrenner dan Erikson
3. Untuk mengetahui perkembangan konsep diri anak
4. Mengetahui definisiproses perkembangan moral peserta didik 5. Mengetahui definisi modal perkembangan moral anak
BAB II KAJIAN TEORI
A. Perkembangan Sosioemosional
Perkembangan sosial merupakan perkembangan perilaku adaptif anak dalam mengikuti aturan-aturan yang berlaku di masyarakat tempat anak tersebut berada. Dapat juga diartikan sebagai belajar menyesuaikan diri dengan norma- norma kelompok, moralitas, tradisi, bersatu dalam satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Perkembangan sosial anak dimulai dari arah individual yang berpusat pada diri sendiri, interaktif masyarakat.
Pada awalnya anak egois, hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu diri anak, anak tidak mengerti bahwa orang lain dapat memiliki pandangan yang berbeda, kemudian di usia 2-3 tahun anak masih senang bermain sendiri, berikutnya anak mulai berkomunikasi dengan anak lain, mulai bermain bersama serta mengembangkan karakter sosialnya. Perkembangan sosial meliputi dua aspek penting, kompetensi sosial serta tanggung jawab sosial. Kompetensi sosial mendeskripsikan kemampuan anak buat beradaptasi secara efektif ke dalam lingkungan sosial. Misalnya, jika temannya menginginkannya mainan yang dia gunakan, dia ingin bergiliran. tanggung jawab sosial Yang terlihat pada komitmen anak terhadap tanggung jawab dan menghargai perbedaan individu dan memperhatikan lingkungan.
Emosi didefinisikan sebagai keadaan kompleks yang dapat berbentuk perasaan atau getaran jiwa ditandai oleh perubahan biologis yang tampak terkait dengan suatu perilaku yang terjadi. Sesuai dengan pendapat di atas, emosi juga dimaknai sebagai perasaan atau cinta yang menyertakan kombinasi gairah, pengetahuan dan perilaku yang terlihat. Ketertarikan, ketergantungan dan rasa kesal yang hadir sejak lahir, senyum sosial muncul pada usia sekitar 4-6 minggu.
Marah, heran dan sedih terjadi sekitar usia 5-7 bulan, rasa malu muncul sekitar 6- 8 tahun setelah sebulan, rasa malu dan rasa bersalah muncul selama kurang lebih dua tahun. Dalam 2 tahun awal, wali dari keluarga memiliki peran yang sangat penting dan berkuasa dalam mengembangkan aspek sosioemosional anak. Dengan bertambahnya umur anak, sehingga perkembangan sosioemosional ditentukan oleh syarat lingkungan pada mana anak bersosialisai.
Implikasi antara perubahan sosial dan emosional anak, bahwasanya emosi ialah perilaku yang timbul dari hati. Robert K.Copper dan Ary Ginanjar
Agustian mengatakan bahwa pikiran mengubah nilai terdalam kita, mengubahnya dari pikiran menjadi pengalaman kita. Hati dapat mengetahui hal hal yang tidak d apat diterima atau hal yang tidak kita ketahui. Hati adalah sumber kekuatan dan an tusiasme, keutuhan dan kewajiban. Hati adalah asal energi dan emosi mendalam yang mendorong kita untuk belajar, berbagi, mengawasi, dan menjamu.1
Tiga langkah terakhir (kerja sama, pimpinan, dan melayani) adalah aktivitas sosia. Dalam kerangka sosioemosional, emosi memandu kegiatan kemasyarakatan seseorang. Cooper mengatakan bahwa, perasaan yang disebutkan di atas ada di hati. Tuntutan hati manusia belajar membangun kemitraan, memimpin dan melayani. Hati adalah sumbernya emosi, dari emosi tersebut muncul tanggungan sosial. lantaran, Kemampuan sosial ditetapkan oleh kompetensi emosional. Sampai kapan Biasanya orang dengan kemampuan sentimental yang tinggi akan menjadikan orang tersebut mampu saat berinteraksi dengan orang lain.
Berdasarkan definisi di atas, bisa dipahami bahwasanya perkembangan sosioemosional adalah perubahan sikap yang ada dalam situasi emosional dan keterampilan anak untuk menanggapi lingkungannya di dalam hubungan dengan sahabat dan orang yang lebih tua darinya.
B. Teori perkembangan sosio-emosional menurut Urie Bronfenbrenner &
Erikson
Teori ekologi Bronfenbrenner berfokus pada konteks sosial di mana anak hidup dan orang-orang yang berinteraksi dengan perkembangan anak. Teori ini terdiri dari lima sistem lingkungan yang terdiri dari mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem.
a). Microsystem merupakan tempat orang menghabiskan sebagian besar waktunya, dengan keluarga, sahabat, teman sekelas serta tetangga. pada hal ini, orang tersebut bukanlah orang yang merespon lingkungan, namun orang yang berinteraksi menggunakan orang lain serta membantu membangun struktur.
b). Mesosistem merupakan korelasi antar mikrosistem. contohnya, korelasi antara pengalaman keluarga peserta didik dan pengalaman sekolah, keluarga serta sahabat.
1 Khairiah Dina, Assesmen Perkembangan Sosio-emosional AUD, 2018 hal.3-4
c). Proses lingkungan terjadi saat pengalaman pada lingkungan lain mensugesti pengalaman peserta didik dan pengajar dalam situasi mereka sendiri. Sekolah serta pengelola sekolah, misalnya, berperan penting dalam memilih kualitas pendidikan dan sumber daya sekolah.
d). Makrosistem adalah budaya yang luas yang meliputi kiprah ras serta komponen kemasyarakatan saat perubahan anak. misalnya budaya sumatera tengah yang berfilosofi syarak mangato, (pola kehidupan minangkabau), mewajibkan siswanya menggunakan sandang Islami ketika belajar. Sedangkan sekolah-sekolah di Jawa tidak mewajibkan busana muslim buat dikenakan di sekolah saat pembelajaran. Selain itu, kondisi kemasyarakatan misalnya kesusahan bisa mempengaruhi perubahan peserta didik serta menghambat kemampuan anak untuk belajar, sekalipun rajin dan terus belajar.
e). Chronosystem merupakan fenomena sosial bagi perkembangan anak.
contohnya, mahasiswa sekarang sedang mengembangkan dan menciptaka n bentuk komunikasi kabar yang sarat menggunakan beraneka macam alat.
Bronfenbrenner menunjuk dua masalah utama dalam bentuk zona ini, ialah anak yang hidup pada kesusahan, terutama anak yang dibesarkan oleh single parent, serta nilai yang rendah.
Berikutnya teori perkembangan siklus hidup Erik Erikson mengungkapkan bahwa perubahan manusia melewati siklus tumbuh dalam delapan tahap. Setiap bagian terjadi pada perubahan yang dihadapi seorang dalam suatu krisis. Bertambah baik seseorang akan selamat dari krisis dan kesehatan psikologinya. Setiap tahapan memiliki aspek baik dan buruk.
tingkatan hidup ialah sebagai berikut:
1. Trust Vs mistrust ialah mengembangkan keyakinan memerlukan perawatan yang lembut dan bersahabat untuk membagikan rasa tenang. Keraguan muncul ketika anak dibiarkan atau disalahgunakan.
2. Kemandirian melawan rasa segan dan bimbang ialah bagian dimana anak memperhatikan perilakunya sendiri. Ketika anak-anak diperiksa, mereka akan merasa segan.
3. Initiative against Guilt merupakan tahap anak usia dini yang telah mengalami cobaan hidup dan harus aktif serta bertekad untuk mengatasi tantangan tersebut. Mereka harus diberi tanggung jawab dan mengembang kan rasa bersalah ketika mereka tidak bertanggung jawab.
4. Usaha Vs kerendahan. Masa ini terjadi pada masa sekolah dasar, pada masa ini anak menggunakan kekuatannya untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian.
5. Jati diri Vs Kekeliruan. Masa ini terjadi pada masa baliq, di mana mereka mempelajari identitas mereka, tujuan diri dan ke mana tujuan mereka.
Mereka diberi waktu untuk mengetahui dan memahami jati diri mereka.
6. Keintiman Vs pemisahan. Masa ini terjadi pada awal masa dewasa yang menciptakan korelasi baik dengan lawan jenis. Keheningan dapat menuruti hidupnya.
7. Keturunan Vs depresi ialah umur paruh baya (40-50 tahun) yang membantu mengembangkan umur generasi berikutnya (generativitas) dan menggambarkan stagnasi ketika tidak ada yang bisa dilakukan untuk keturunan selanjutnya.
8. Kejujuran Vs Keputusasaan. Masa ini sesuai dengan masa dewasa akhir dari umur 60 hingga kematian. Pria lansia itu melihat kehidupannya dan bertanya-tanya, apa yang dia lakukan. Bila melihat ke belakang baik, muncul keutuhan, tetapi jika refleksi negatif, muncul keputusasaan.2 C. Perkembangan Konsep diri
Konsep diri adalah pemikiran, keyakinan, dan kesan seseorang tentang sifat dan karakteristiknya, keterbatasan dan kemampuannya, serta tanggung jawab dan kekayaannya. Konsep diri juga digambarkan sebagai skema dasar dari identitas seseorang, yang terdiri dari keyakinan terorganisir dan sikap terhadap diri sendiri.Setiap individu memiliki kemungkinan yang relatif tidak terbatas untuk membentuk konsep diri yang positif dan realistis. Potensi ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan, seperti orang, tempat, praktik, program, dan proses yang dirancang secara sadar untuk mewujudkan potensi tersebut.
Konsep diri pula didefinisikan menjadi elemen mayoritas dari contoh kepribadian, yang mengatur reaksi ciri individu terhadap orang serta situasi serta memilih kualitas perilakunya. Dapat juga diartikan bahwa konsep diri adalah pengetahuan dan kepercayaan individu tentang dirinya, gagasan, rasa, perilaku dan harapannya.
Beberapa Aspek konsep diri sebagai berikut:
2 Naldi Hendra. Perkembangan kognitif bahasa dan perkembangan Sosio emosional serta implikasinya dalam pembelajaran. 2018. Hal. 109-111
a. Kesadaran diri subjektif (subjective self-awareness), yaitu kompetensi dalam membedakan dirinya dari lingkungan jasmani dan kemasyarakatannya.
b. Kesadaran diri objektif (objective self-awareness), yaitu kompetensi untuk menjadikan objek perhatiannya sendiri, menyadari keadaan pikirannya sendiri.
c. Kesadaran diri simbolik (symbolic self-awareness), yaitu kompetensi dalam membangun bentuk kogmitifself yang abstrak melalui bahasa. Kemampuan ini membuat seseorang mampu berkomunikasi, menjalin korelasi dan menentukan tujuan.3
Konsep diri memiliki tiga komponen yang berbeda diantaranya : 1. Citra diri.
Citra diri mencakup bagaimana kita memandang diri sendiri, apakah kita menganggap diri kita baik atau tidak. Citra diri juga mencakup bagaimana perasaan kita tentang kepribadian kita. Itu membuat Anda merasa baik atau buruk. Citra diri memengaruhi emosi dan perilaku 2. Hormati diri sendiri
Harga diri melibatkan bagaimana kita memandang diri kita sendiri.
Rogers percaya bahwa rasa harga diri berkembang selama masa kanak- kanak dan dilakukan melalui hubungan anak dengan orang tua. Diri sejati Anda sebagai seorang anak bukanlah diri sejati Anda sebagai seorang anak atau di usia dua puluhan
Faktor faktor yang Mempengaruhi konsep Diri, setiap orang memiliki kese mpatan yang tidak terbatas untuk mengembangkan konsep diri yang positif dan wajar. Kemampuan ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti keluarga, teman,tempat, perilaka, sekolah, kegiatan sekolah dan metode yang digunakan un tuk memahami keterampilan tersebut.
Konsep sekolah secara keseluruhan memiliki konsep yang lebih spesifik.
termasuk konsep diri non-akademik, seperti hubungan sosial atau penampilan fisik, serta konsep diri akademik, seperti mata pelajaran sekolah. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan akademik siswa, diantaranya konsep diri yang berbeda. Siswa berprestasi lebih mungkin untuk menyelesaikan pendidikan merek a saat ini dan melanjutkan ke tingkat studi berikutnya daripada rekan mereka yang berkinerja lebih rendah.
3 Sitepu Juli maini dan melyani Sari Sitepu, Perkembangan konsep diri anak usia dini di masa pandemi. 2021. hal 404
D. Perkembangan Moral Pada Peserta Didik
Mendidik moral anak-anak ke tingkat tindakan moral, Tiga program studi berkelanjutan penting, yaitu: Pengetahuan moral, Pengaruh moral, Perilaku moral.
Pada awalnya setiap orang membutuhkan pengetahuan moral (moral unders tanding). Dengan pemahaman tentang kebajikan ini, setiap orang akan mengetahu i aturan hidup yang baik dan buruk yang berbeda. kemudian muncul perasaan moral, dimana pemahaman moral mampu mewarnai perasaan setiap orang yang mampu memilih dan membimbingnya dalam memilih tingkah laku, tingkah laku, tingkah laku dan tingkah laku yang baik. Perasaan yang terlatih akan mampu memandang sesuatu dengan hati yang jujur yang tidak berbohong dan berbicara serta bertindak jujur di sisi kebenaran dan kebaikan. Kemudian perilaku moral adalah akhir dari apa yang telah dicapai seseorang dalam mengembangkan perilakunya sendiri.4
E. Model Perkembangan Moral
Kohlberg (Gunarsa, 1985) mengusulkan 3 tingkatan dengan 6 bagian perubahan moral:
1. Tingkat 1: Prakonvensional, Pada tahap ini, hukum terdiri atas asas- asas moral yang dibentuk atas dasar kekuasaan. Anak tidak akan melanggar peraturan moral lantaran khawatir akan peringatan dan ketentuan dari penguasa. Tingkatan ini terbagi jadi 2 bagian: (1) petunjuk ketaatan dan ketentuan saat itu anak hanya tahu bahwa peraturan tersebut ditetapkan oleh adanya kekuatan yang tidak dapat dihancurkan. A nak perlu mematuhinya, bila tidak ia akan dihukum, (2) bagian hedonisme relativistik, di masa ini anak tidak sepenuhnya bergantung pada aturan eks ternalnya yang diputuskan oleh orang lain yang mempunyai kekuasaan.
Anak mulai paham bahwa setiap kegiatan memiliki aspek yang berbeda- beda tergantung kepentingannya (relativisme) dan kesenangannya.
2. Tingkat 2: Kepatuhan di tingkat ini, anak memahami aturan yang diciptakan bersama supaya sesuai dengan golongannya. Tingkatan ini juga mencakup dua langkah: (1) tingkat pengenalan mengenai anak anak yang pantas. Pada masa ini, anak mulai menunjukkan pengenalan tingkah laku yang bisa dinilai baik atau buruk oleh rakyat. Sesuatu dikatakan baik dan tepat jika orang lain atau masyarakat dapat menerima sifat dan perilakunya. (2) bagian mempertahankan asas sosial. Di masa ini, anak memperlihatkan perilaku yang baik dan tidak hanya untuk bisa
4 Sukmawati Ati, Peran guru dalam mengembangkan moral bagi anak usia dini. 2015. Hal. 89
menerima masyarakat di sekitarnya, tetapi juga untuk dapat berpartisipasi dan menjaga peraturan/standar seperti pekerjaan dan tanggung jawab peran perilaku. melaksanakan. undang-undang yang ada.
3. Level 3: post custom Pada level ini, anak memahami hukum untuk terhindar dari hukum hati nuraninya. Tingkatan ini mencakup 2 tingkat:
(1) tingkat arah kesepakatan antara diri sendiri dan lingkungan. Pada saat itu, ada korelasi antara dia dengan lingkungan serta masyarakat. Seorang yang taat hukum sebagai kewajiban dan kewajiban atas dirinya sendiri dal am menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat; (2) tahap universal. Di sini, selain nilai-nilai pribadi, ada nilai-nilai moral (positif/negatif, benar/salah) yang bersifat universal sebagai asal penentu peristiwa moral.5
Anak terlahir -moral untuk bersikap sesuai standar yang baik di masyarakat yang tidak diketahuinya. Program yang berlangsung juga melalui pelatihan dan lingkungan sosial yang mendukung perkembangan sifat perilaku, terlihat dari keluarga dan teman serta kegiatan dan lingkungannya. Yang mempengaruhi perkembangan perilaku sebagai berikut:
1. Perkembangan lingkungan serta pertumbuhan pada beragam bidang mengakibatkan nilai akhlak dan perilaku masyarakat negara bisa berubah selama perubahan kemajuan/regresi moral. perbedaan dalam sikap moral individu memainkan peran pengalaman dan belajar dari lingkungan nilai masyarakat. Lingkungan memberi Penghargaan serta eksekusi. dalam arti tertentu, ini mempromosikan pembelajaran serta perkembangan moral bersyarat 2. Struktur kepribadian Psikoanalisis (Freud) menjelaskan tentang perkembangan kepribadian termasuk moralitas. Dimulai dengan sistem pengenalan, karena sisi biologisnya rasional dan tidak Dipahami Berikutnya merupakan sisi psikologis, yaitu subsistem ego yang logisl serta sadar. Lalu membentuk super ego menjadi aspek sosial yang mencakup sistem nilai dan moralitas rakyat.
5 Maharani Laila, Perkembangan Moral Pada anak. 2014. hal. 95
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Setiap anak mempunyai keunikan dengan karakteristik perkembangan yang berbeda-beda di semua bidangnya. Artinya, anak mampu melalui tahapan perkembangannya melalui tahapan yang berbeda-beda. Namun perlu dipahami bahwa setiap anak akan dapat melalui proses perkembangan, bila terlebih dahulu dapat melalui langkah-langkat perkembangan tersebut. Orang tua dan lingkungan perlu memahami setiap langkah proses perkembangan yang meliputi tonggak perkembangan, transisi, dan tahapan perkembangan. Sehingga anak akan selalu melalui pola perkembangan tersebut.
B. Saran
Dari adanya kajian pada makalah ini, pembaca dapat mengetahui tentang perkembangan sosial emosional, konsep diri, dan perkembangan moral peserta didik yang telah dikaji di atas. Maka, diperlukan kajian yang mendalam lagi, supaya pembaca dapat lebih mengetahui dan dapat mengamalkan pada kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Dina khairiah. Assessmen perkembangan sosioemosional AUD. Al-atfhal. 2018 Juli maini Sitepu dan melyani Sari Sitepu. Perkembangan konsep diri anak usia
dini di masa pandemi. Sistesa. 2021.
Hendra Naldi. Perkembangan kognitif bahasa dan perkembangan Sosio emosional serta implikasinya dalam pembelajaran. Jurnal socius 2018.
Ati Sukmawati. Peran guru dalam mengembangkan moral bagi anak usia dini.
Biota. 2015.
Laila Maharani. Dengan moral pada anak. E-journal konseli. 2014.