PERTAMA DAN TERAKHIR Oleh Adellia Ramadhani
Bagaskara yang mulai terlihat bergulir kini memunculkan lukisan di atas cakrawala, perpaduan jingga dan kuning saling berbaur menjadi rona merah kekuningan tidak pernah gagal membuatku terpana. Silir semilir angin bersama senja yang kian mendekorasi langit selalu menjadi dua hal kegemaranku kala kembali kampus. Selain itu, sejujurnya terdapat satu hal lagi yang selalu dan akan selalu aku gemari, sebuah tempat. Tempat yang tatkala itu lebih sering aku kunjungi ketimbang rumahku sendiri, tempat untukku melepas penat manakala bumi sedang memuakkan, tempat yang selalu membuatku antusias menunggu datangnya hari esok, tempat pertama yang aku datangi kala kembali sekolah, tempat dimana dipertemukannya aku dengan seorang insan muda yang membuatku jatuh hati ke hari demi hari dan waktu demi waktu. Bukan, aku bukan menaruh hati karena iba ataupun merasa kasihan kepadanya, melainkan lantaran kegigihannya untuk terus bertahan hidup sekalipun semesta berat sebelah terhadapnya, sekalipun orang-orang sekitarnya selalu menganggapnya layaknya semut kecil yang tidak akan berdampak besar jika terinjak. Aku akan memperkenalkan kepada kalian seorang Insan dengan kalbu nan kalis baswara, Alkantara Pratama―laki-laki penyadang disabilitas wicara yang memiliki sejuta kelebihan namun dipandang dengan sejuta kekurangan.
. .
Celotehan Ibu mengenai perguruan tinggi seminggu ini benar benar membuatku tidak ada hasrat untuk kembali ke rumah. Aku memutuskan untuk mengajak kekasih pertamaku, Radipta, untuk berkelana sesaat selepas sekolah.
Sebelum-sebelumnya aku selalu mengikuti pilihan rekomendasi tempat Radipta, tapi untuk kali ini, Radipta menyerahkan semua keputusan pemilihan tempat kepadaku karena ia pun tahu betul bahwa aku saat ini benar-benar dalam keadaan pikiran yang kacau.
“Mau kemana kita sore ini?” tanya Radipta.
“Sebentar, kasih aku waktu lima menit lagi please, butuh waktu untuk research pencarian tempat yang sesuai.”
Radipta tertawa kecil melihatku menjawab dengan raut wajah yang terlihat begitu frustasi. “Nggak apa-apa, santai. Bahkan aku rela nungguin sampe rambut kita putih bareng nanti,” godanya seraya mengusap pucuk kepalaku.
“Gak usah alay Dipta, aku lagi pusing,” jawabku dengan nada sok ketus. Padahal Dipta sendiri juga tahu bahwa jantungku hampir turun ke dengkul karena salah tingkah.
Menarik, batinku. Benar-benar menarik, setelah melakukan riset tempat dari berbagai website internet selama kurang lebih 10 menit, akhirnya aku menemukan tempat yang sepertinya cocok untuk melepas penat pikiranku.
Tanpa basa-basi aku langsung berdiri dengan gairah yang menggebu-gebu karena ingin cepat sampai di sana. “Ayo Dipta! kita berangkat sekarang,” seruku sekaligus menarik tangan Dipta untuk ikut berdiri.
“Tunggu, lokasinya dimana?” tanya Dipta bingung.
“Jalan dulu aja Dipta, nanti aku arahin pakai maps.”
“Okay then,” jawab Dipta dengan nada yang sangat meyakinkan. Tenang saja, aku bisa menjamin bahwa aku pandai membaca maps.
Palang berbentuk arah petunjuk dengan bahan papan kayu berukuran tidak begitu besar mulai terjangkau oleh netraku dari kejauhan 150 meter, lantas aku menyipitkan mata untuk berusaha membaca tulisan yang tertera “Café … Mod
—” ah sedikit lagi, “café … mod … jok? Itu dia! Café Modjok!” ucapku penuh ketidaksabaran. “Sebentar lagi belok kiri ya Dipta, kamu bisa lihat kan arah palang kayu yang ada di depan?” tambahku sembari menunjuk palang kayu yang sekarang sudah berjarak lima puluh meter. “I see I see,” balas Dipta yang ikut tidak sabar untuk segera sampai.
Sekitar lima belas menit perjalanan dari sekolah dengan sepeda motor, aku dan Dipta akhirnya sampai di tempat tujuan. Sesuai dengan namanya, ‘Modjok’
tempat yang aksesnya terletak di pojok jalan dan benar-benar terasa sangat asing karena bisa kukatakan rute perjalanan ke Café Modjok tidak bisa dilewati dengan kendaraan mobil, mungkin inilah penyebab tempat ini memiliki rating rendah dan sepi, tetapi memang itu tujuan utamaku, aku mencari tempat yang tidak dikunjungi banyak orang. Ketika pertama kali sampai, netraku langsung tertuju pada tanaman rimbun berwarna gradasi hijau tua yang sudah bersarang di atas atap, alih-alih terlihat menjijikan, justru hal itu benar-benar menarik perhatian panca inderaku, Sepertinya memang sengaja tidak dirambah, gumamku. Aku lanjut memperhatikan dari luar dengan netraku secara seksama, hanya ada empat orang di sini termasuk aku dan Dipta, semilir angin yang mengibas rambutku ditambah inggang-inggung rimbun pepohonan nan mengililingi Café Modjok rasanya benar-benar membuatku lupa dengan semua masalah yang sedang terjadi. Café Modjok yang memiliki nuansa dinding hijau toska kusam berbentuk kayu vertikal di bagian luar serta warna cokelat di bagian pintu dan jendela menurtku benar-benar perpaduan yang sungguh eye-catching.
“Kamu nemu dimana tempat se-sejuk ini?” tanya Dipta yang penasaran karena sepertinya ia merasakan perasaan serupa denganku.
“Rahasia,” jawabku meledek, “yang jelas seleraku nggak pernah salah.”
Dipta terkekeh, “Aku setuju selera kamu gak pernah salah, buktinya kamu suka aku.”
Aku mencubit kecil lengan Dipta, “Diptaaa stop teasing me dumbass, ayo ah masuk.”
Pertama kali membuka pintu, kombinasi wangi creamy coffee acord sweetned vanilla ginger with vibrant musky-ambery yang tersebar ke seluruh penjuru ruangan langsung menyambut indra penciumanku, membuatku menjadi semakin yakin bahwa aku tidak salah memilih tempat. Ternyata di dalamnya cukup luas, aku sendiri terkejut sekaligus terkesima terlebih lagi ketika melihat kafe ini ternyata memiliki berbagai koleksi vinyl di sudut ruangannya yang tidak terlihat dari luar. Interior yang tidak monoton seperti meja-meja yang sudah dilapisi
dengan kain putih serta disediakan lilin aromaterapi dan bunga mawar dalam vas kaca di tengah-tengah setiap meja, perpaduan dinding bagian dalam berwarna nuansa cokelat kayu dengan lampu warm white serta suhu ruangan yang cukup dingin benar-benar membuatku jadi menyayangkan tempat ini begitu sepi pengunjung. Terbuai oleh kenyamanan suasana Café Modjok menciptakan diriku menjadi tenggelam dalam lamunan.
“Permisi teteh, silahkan ingin pesan sesuatu?” ujarnya.
“Eh-’’ lamunanku terpecah oleh suara lembut dari wanita paruh baya di depanku, lantas aku bergegas untuk melihat daftar menu di meja order,
“hmmVanilla Sweet Cream Cold Brew coffee nya satu, kamu apa Dip?”
“Samain aja kayak kamu,” balas Dipta.
“Dua ya bu jadinya, terima kasih,” ucapku kepadanya.
“Baik, silahkan ditunggu dulu, pilih saja tempat senyaman kalian, nanti kami antar.” Katanya dengan nada yang amat lembut. Aku tebak, beliau pemilik tempat ini, karena hanya ada beliau sendiri yang ada di meja order tadi.
Sebentar, berarti beliau sendirian? Kalau beliau hanya sendiri, mengapa menyebut ‘kami’ ya? Apa mungkin sebenarnya ada banyak pelayan tapi belum ada yang datang, atau ‘kami’ yang dimaksud adalah hanya Ibu itu sendiri dan café kepunyaan nya? Pertanyaan-pertanyaan dan pikiran acak yang suka tiba- tiba muncul dikepalaku sepertinya mulai menjadi kebiasaan, padahal semua hal itu sebenarnya bukan menjadi urusanku untuk dipikirkan.
Aku dan Dipta menempatkan diri di meja dekat koleksi vinyl kepunyaan café ini, kami mengobrol kala menunggu datangnya pesanan.
“Kesan pertama kamu pas sampe gimana, Dip?” Tanyaku ke Dipta yang sekarang sudah duduk di hadapanku.
“Such a really comforting place, salah satu hidden gem terkeren di Bandung yang pernah aku temuin.” jawab Dipta.
Aku sudah menduga kesan Radipta akan sama sepertiku, “I KNOW RIGHTTTTT?! Kayaknya aku bakal sempetin waktu untuk kesini setiap hari deh.”
“Sama aku, ya?” tanya Dipta.
“Sendir-”
“Pokoknya aku mau temenin kamu, titik,” potong Dipta.
Lima menit berlalu setelah berbincang kecil dengan Dipta, akhirnya minuman kami datang tanpa ada yang menyadarinya karena aku dan Dipta terlalu sibuk berbincang.
“Hatur nuhu—” ketika mendongak, aku sedikit terkesiap ketika mendapati seorang laki-laki yang terlihat sepantaran denganku atau mungkin lebih tua setahun diatasku yang membawakan minumannya, Kukira hanya ada ibu tadi seorang diri, pikirku. “—hatur nuhun kak.” rupanya Café Modjok memiliki dua pekerja, yang satu seorang wanita paruh baya, satunya lagi seorang laki-laki satu tahun diatasku kayaknya.
Lantas aku langsung berbalik ke arah Dipta selepas mengucap terima kasih, tapi sebentar … kelihatannya ada yang aneh di sini. Saat berbalik ke hadapan
Dipta, aku melihat Radipta dengan pelayan laki-laki itu saling menatap netra satu sama lain cukup lama seperti tatapan orang yang sudah saling kenal.
“Loh, kalian saling kenal?” tanyaku penasaran seraya bergantian menengokkan kepala ke arah Radipta kemudan ke arah pelayan laki-laki itu.
Seakan lamunan Dipta buyar mendengar pertanyaanku, “Eh- terima kasih ya.”
Pelayan itu hanya membalas dengan anggukan sebanyak dua kali ke arah aku dan Dipta sambil tersenyum tanpa menjawab sepatah kata. Tidak sampai disitu, pelayan laki-laki itu mengeluarkan lighter dari sakunya kemudian ia menempelkan kedua tangannya didada dilanjut dengan mengarahkan tangannya ke lilin aromaterapi yang terletak di tengah meja. Penangkapanku, ia terlihat meminta izin untuk menyalakan lilin aromaterapi. “Oh silahkan.” Aku menjawab dengan sedikit terheran-heran mengapa ia tidak bicara saja daripada repot-repot menginstruksikan menggunakan tangan, wangi vanilla dari aromaterapi yang berbaur dengan wangi biji kopi yang sedang dihaluskan sungguh menciptakan atmosfer kenyamanan menjadi lebih meningkat dan tentunya semakin membuatku enggan untuk pulang ke rumah. “Terima kasih,” ucapku kepadanya dan lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan.
“Kamu betulan nggak kenal, Dip?” aku memberanikan diri melontarkan pertanyaan setelah pelayan laki-laki itu pergi.
“Engga kok, kaget aja karena mukanya familiar sama temanku.” balas Dipta dengan ekspresi yang terlihat tegang.
“Are you okay?” tanyaku khawatir.
Dipta terkekeh kecil, “Aku gapapa deh perasaan, why do you ask as if I'm in trouble?”
Bohong, Dipta berbohong. Aku bisa merasakan perubahan Dipta yang kini menjadi lebih gugup dan terlihat tidak tenang. Benar-benar aneh, batinku.
Akupun berinisiatif mengajak Dipta berbincang seputar kesukaannya untuk menjadi distraksi agar Dipta bisa merasa lebih tenang, padahal aku sendiri juga tidak tahu alasan mengapa Dipta seperti itu.
Kala berbincang dengan Dipta, dapat kudengar ada pengunjung lain yang membuka pintu, aku reflek menoleh ke arah meja order dan melihat lima laki-laki sepertinya satu atau dua tahun diatasku. Aku agak bersyukur melihatnya karena Café Modjok menambah pengunjung, padahal aku bukan pemilik tempat ini.
Mereka―lima orang laki-laki―duduk di meja belakangku persis di samping tempat vinyl-vinyl berada, sepertinya mereka juga terkesima dengan koleksi vinyl yang dimiliki Café Modjok. Tengah menikmati minuman sembari mengobrol dengan Dipta, secara tidak sengaja indera pendengaranku menangkap obrolan mereka.
“Katanya si bisu kerja di sini, kok ga ada ya?” Ucap salah satu dari mereka yang membuka topik obrolan.
“Jangan-jangan kita salah tempat?!”
“Ga mungkin salah tempat, kan waktu itu kita jelas-jelas ngeliat si bisu ke tempat ini.”
“Yah elah baru juga mau makan gratis orangnya malah ga ada.”
“Ngumpet kali ya si bisu? coba lu cari di tong sampah kali aja ketemu.”
“Tong sampah? Jaga omongan lu, udah tau dia tinggalnya di COMBERAN!
HAHAHAHA.” Mereka satu persatu menyambar bak petir yang saling bersautan.
Aku yang mendengarnya sontak mengerutkan kening bertanya-tanya dalam benakku mengapa obrolan mereka begitu kasar atau memang ini merupakan candaan yang wajar bagi lelaki, tetapi disaat yang bersamaan aku menyadari satu hal. Si bisu? Kerja di sini? lantas pikiranku langsung mengacu pada pelayan laki-laki tadi kemudian tersadar akan semua alasan pelayan itu hanya berkomunikasi menggunakan anggukan dan instruksi tangan. Sebutan si bisu dan celotehan kasar yang dilontarkan benar-benar sudah kelewat batas. Entah kenapa aku tidak terima mendengarnya, secara spontan aku berdiri berniat untuk mendatangi mereka, Radipta sadar akan hal yang terjadi langsung refleks menarik tanganku untuk tidak menghampiri mereka.
“Jangan,” tegas Dipta seraya menahan tanganku.
Aku menepis tangan Dipta, “Nggak bisa dibiarin, Dipta.” Jawabku kekeuh.
“Tenang dulu,” lanjut Dipta dengan sorot mata tajamnya yang membuatku ciut untuk melawannya.
Aku menurut dan terpaksa duduk kembali di kursiku. Dalam lubuk hatiku, aku benar-benar berharap pelayan laki-laki itu tidak keluar sampai mereka pulang.
Kini waktu menunjukan pukul lima sore dan aku sangat tidak keberatan jika harus ada di sini sampai malam tiba.
“Pulang yuk? Aku takut kesorean.” Ajakan Dipta sangat tidak sesuai dengan ekspetasiku.
“Yaudah … ayo,” jawabanku yang sejujurnya sangat bertolak belakang dengan isi hati.
“Hmmm sebentar, can I ask for a favor?” Dipta tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang entah mengapa membuat atmosfer diantara kami sedikit berbeda.
“What kind of favor, Dip?”
“Maaf banget, tapi boleh ngga aku minta tolong untuk kita gak perlu ke sini lagi?” Tanya Dipta dengan nada yang ragu-ragu dan terlihat tidak enak denganku.
“You said this place was so comforting loh Dip, kenapa sekarang tiba-tiba begini?”
“I know, that’s why I said sorry. Aku ngga bisa kasih alasannya sekarang, tapi aku bener-bener minta tolong sama kamu untuk kita gak perlu ke sini lagi. Kamu boleh ke sini asal sama aku dan aku yang ajak, maaf kalau aku kesannya ngatur kamu but I swear I didn’t mean to be like this.” Aku menahan rasa kesal setelah Dipta berbicara seperti itu.
“You’re so weird.” Aku sebenarnya tidak bisa membendung rasa kesal ku terhadap Dipta, namun aku mengontrol diriku untuk tetap tenang mencoba memahami Dipta. Aku merapihkan barang-barangku dan memasukannya kembali ke dalam tas, “Ayo pulang.” Dipta hanya membalas dengan anggukan, sepertinya ia peka terhadap perasaan yang aku rasakan saat ini.
Dipta yang berbicara demikian justru semakin menciptakan rasa penasaran yang memuncak dalam benakku. Kalau kalian perhatikan, aku tidak berkata iya disana. Benar, karena aku memang tidak mau menuruti Dipta, bukannya jahat, lagipula Dipta sendiri belum memberi tahuku alasan yang jelas. Akupun bertekad untuk mengunjungi Café Modjok esok hari tanpa sepengetahuan Dipta.
Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku sudah menumpuk, esok aku akan mencari jawaban atas semua yang kupertanyakan melalui pelayan laki-laki Café Modjok yang terlihat memiliki hubungan dengan Dipta dan menjadikan alasan Dipta tidak ingin berkunjung ke sana lagi. Kutegaskan sekali lagi, kali ini benar- benar tanpa sepengetahuan Dipta.
. .
Waktu menunjukan pukul 15.40 menandakan aku harus segera bersiap-siap menemui pelayan laki-laki di café Modjok, aku berlari keluar kelas dengan perasaan yang menggebu-gebu karena ingin cepat mengetahui semua jawaban yang ada dikepalaku. Saat keluar kelas, tanpa kuprediksi Dipta sudah berdiri di sana menugguku untuk keluar.
“Hey?” Dipta menyapaku dengan senyum yang sudah terukir diwajahnya.
“Halo, Dip,” jawabku singkat.
“Jalan yuk? Kita berburu tempat hidden gem lagi?” Tanya Dipta semangat
“Maaf Dip, aku ada janji sama temen hari ini. Duluan ya”
“Tapi—" Belum selesai Dipta berbicara, aku sudah duluan meninggalkannya.
Aku sangat tidak mengerti dengan diriku, sebenearnya aku sudah tidak marah dengan Dipta tapi entahlah, saat ini aku tidak bisa mengontrol rasa jengkelku.
. .
Sesampainya di sana, lagi-lagi perasaan itu muncul, perasaan tenang seakaan lupa dengan semua masalah yang terjadi. Aku membuka pintu, wangi dan suasananya masih tetap sama seperti Café Modjok yang aku kunjungi kemarin. Aku memesan green tea emperor’s clouds & mist untuk hari ini.
Kutempatkan diriku persis di kursi yang aku duduki kemarin bersama Dipta.
Lima menit berlalu, akhirnya pesananku datang. Sesuai dugaanku, pelayan laki- laki itu yang mengantarkannya.
“Halo … kak?” Sapaku kepadanya selepas ia menaruh minumanku di atas meja. Ia membalas dengan senyuman dengan raut wajah yang seolah mengatakan Ada yang bisa dibantu?
“Boleh ngobrol sebentar nggak, kak?” Wajahnya terllihat bingung setelah aku melontarkan pertanyaan itu, tetapi dirinya mengangguk dan ibu jarinya menunjuk ke arah luar. “Ngobrolnya … di luar?” tanyaku yang berusaha memahami gerak-geriknya. Ia mengangguk dan tersenyum, lantas aku langsung berdiri menuju luar. Di luar memang ada kursi panjang yang dikhususkan tempat tunggu untuk berjaga-jaga jika Café Modjok ramai antrean dan kebetulan pelanggan di Café Modjok saat ini hanya ada aku seorang diri, jadi aku bisa duduk di kursi panjang itu sekarang. Dia mempersilahkan aku untuk duduk lebih
dulu lalu dia menempatkan dirinya persis di sampingku, entah kenapa aku agak lumayan grogi. Suasana di luar sangat menyejukkan, ingin rasanya memejamkan mata dan membiarkan angin menerpa semua masalahku.
Pelayan laki-laki yang kulihat ini tampak sangat berbeda ketimbang sebelum- sebelumnya. Detail dari setiap wajahnya sangat terlihat jelas ketika berada di sampingku, warna mata cokelat muda, alis tebal, kulit kecoklatan, menurutku struktur wajahnya benar-benar hampir mendekati sempurna. Tanpa aku prediksi, ia menolehkan kepalanya ke arahku, sontak kedua mata kami saling beradu. Aku refleks mengalihkan pandanganku ke arah lain kemudian mengerjap sesaat dan kembali ke realita. Sial, kenapa harus salah fokus sih, batinku.
“Kenalan dulu kali ya … kak.” Aku membuka obrolan, kemudian pelayan laki- laki itu mengambil hp nya dan seperti mengetik sesuatu dari notesnya. Laki-laki itu kemudian memperlihatkan ponselnya, dan menampilkan notes dengan sebaris kalimat singkat, “Aku bisu aku tidak bisa bicara.” Aku tidak kaget karena aku sudah mengetahuinya lebih dulu, “Aku tau, terus kenapa?” Ia memperlihatkan raut wajah bingung, seolah berkata “Kamu tau dari mana?”
Melihat gerak-gerik itu, aku refleks menjawab tanpa ada yang menyuruh,
“Rahasia.” Sambil terkekeh kecil. “Nanti kalau aku kasih pertanyaan, kakak bisa tolong jawab lewat catatan hp nggak?” Ia mengangguk bersemangat. Terlihat menggemaskan.
“Kenalan dulu ya kak … namanya?” Dimulai dari pertanyaan pertamaku. Ia langsung dengan sigap mengetik.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu ia selesai mengetik, “Alkantara Pratama. Orang-orang panggil aku Alka.”
Aku takjub melihat nama yang baru pertama kali kudengar, sepertinya hanya ia yang memilikinya. “Wow, you got endearing name, Kak Alka.” Kemudian ia tersenyum dan lanjut mengetik, aku sedikit bingung padahal aku belum lompat ke pertanyaan selanjutnya.
“Nama kamu?” Oh … ternyata aku sampai lupa memperkenalkan diri. Aku menjulurkan tangan dan ia membalas dengan menjulurkan tangannya kepadaku.
“Aku Allegra, lengkapnya Allegra Nibiru.” Aku melepas julurannya, “Teman- temanku memanggil dengan sebutan Alle. Kakak boleh panggil aku senyamannya as long as it’s not weird.”
Ia kembali mengetik dilayar ponselnya, “Nama kamu cantik sekali, boleh aku panggil Biru?” Aku mengangguk menyetujui, “Boleh banget! Oke langsung aja ke pertanyaan inti ya kak.” Aku menarik dan membuang nafas dengan perasaan gugup saat ingin masuk ke pertanyaan, “Kak Alka … kamu kenal sama Radipta?”
Senyum yang terukir di wajah Kak Alka seketika luntur mendengar pertanyaanku. “Kak? Maaf aku salah nanya ya, nggak apa apa kalau gak mau jawab kak,” tanyaku dengan perasaan sedikit merasa bersalah. Ia membalas dengan gelengan kecil dan kembali mengetik lewat ponselnya.
“Radipta itu adikku.” Aku terdiam beberapa detik karena berusaha menyerap kalimat yang ditampilkan lewat notes ponsel Kak Alka. “Kak … kamu bercanda?
Tapi Radipta nggak pernah bilang kalau dia punya abang, kak ….” Kak Alka tersenyum lirih kemudian kembali mengetik, kali ini cukup lama. “Keluargaku tidak ingin mengakui keberadaanku sejak kecil, mereka merasa malu memiliki anak cacat seperti aku. Satu-satunya keluarga yang menerimaku dengan apa
adanya adalah nenekku. Pemilik tempat ini, adalah nenekku. Yang selalu kamu lihat pertama kali di meja order adalah nenekku. Sejak kecil aku tinggal sama nenek, karena tidak ada selain nenek yang ingin menerimaku.” Membaca kalimat itu dari ponsel Kak Alka membuatku menjadi menyampingkan masalahku dengan Radipta dan hanya ingin terfokus dengan Kak Alka sekarang. “Kak … I’m so sorry to hear that,” aku berkata dengan perasaan tidak tega, “tapi kak, aku pengen kamu tau kalau dimataku, kamu normal dan sama sekali nggak ada kesalahan didalam diri kamu. Jadi kalau kamu lagi ngerasa gak pantes buat siapapun, tolong selalu inget kalau ada aku yang akan selalu mengakui eksistensi kamu, ya? Kak Alka?”
Mata Kak Alka terlihat seperti bergelinang setelah aku berkata seperti itu,
“Terima kasih banyak, Biru. Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar kalimat seindah itu.”
“Sama-sama, Kak Alka. Kak, can I ask one more question?” Kak Alka mengangguk kecil, “kamu masih sekolah atau udah kuliah, kak?”
Lagi-lagi Kak Alka tersenyum mendengar pertanyaanku, aku perhatikan, Kak Alka sangat suka tersenyum ramah kepada siapapun. Bahkan disaat seperti ini, Kak Alka masih bisa tersenyum. Dia benar-benar sosok yang sangat kuat.
“Seharusnya saat ini aku kuliah, tapi aku lebih memilih untuk bekerja membantu nenek. Lagipula SMA ku juga tidak selesai, tidak ada pilihan lain selain ikut membantu nenek. Aku tahu kamu pasti akan bertanya kenapa aku tidak tamat SMA, aku akan jawab secara singkat, aku tidak ada kekuatan lebih untuk bertahan sendirian di sekolah tanpa siapapun yang berada dipihakku, kebanyakan orang menganggap sekolah sebagai tempat terbaik selain rumah, tetapi untukku, sekolah adalah tempat terburuk yang tidak akan mau aku kunjungi sampai kapanpun, hari-hariku selalu diganggu karena aku satu-satunya anak cacat, Biru. Dan lima orang laki-laki yang kamu lihat kemarin, mereka adalah sebagian kecil pelaku perundungan saat masa SMAku.”
Sungguh, hatiku terasa sakit sekali ketika membaca notes dari ponsel Kak Alka, “Kenapa kamu gak lawan mereka, Kak Alka?”
Kak Alka lagi-lagi tersenyum lirih, “Aku melawan sekuat tenaga pun percuma, Biru. Aku tidak akan didengar, aku tidak punya kuasa untuk melawan mereka.”
Aku bingung harus merespon apa dan berakhir hanya menepuk-nepuk pundak Kak Alka. Tak terasa matahari yang kini sudah mulai bergulir, sepertinya aku harus bergegas untuk kembali ke rumah.
“Terima kasih banyak ya kak untuk obrolan hari ini, terima kasih juga udah jawab semua pertanyaanku.”
“Terima kasih kembali, Biru. Besok kamu datang lagi?” Kalimat yang diketik Kak Alka lewat notesnya menciptakan ukiran senyum diwajahku, kesannya Kak Alka seperti ingin melihatku lagi hari esok.
“Iya, aku datang ke sini lagi besok,” aku berdiri bersiap-siap untuk pulang,
“duluan Kak Alka, sampai ketemu besok.”
Setelah melalui percakapan dengan Kak Alka, entah mengapa detik itu juga aku bertekad untuk belajar bahasa isyarat di rumah. Aku ingin mengetahui tentang Kak Alka lebih dalam.
. .
Aku sangat menunggu hari ini, aku sudah belajar sedikit mengenai dasar- dasar bahasa isyarat dan ingin menunjukannya kepada Kak Alka. Bel pulang sudah berbunyi dan aku langsung bergegas ke Café Modjok. Aku berjalan dengan langkah yang mengendap-endap karena takut bertemu dengan Dipta. Rupanya aku lolos keluar dari gerbang sekolah, aku sama sekali tidak bertemu dengan Radipta.
Sesampainnya di sana, aku melihat ada motor Radipta yang sudah terparkir di sana. Aku agak panik melihatnya dan takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Benar saja, saat masuk ke dalam, aku sudah melihat Kak Alka yang sedang terpojok.
“LO JANGAN LANCANG YA BISU, BERANI- BERANINYA DEKETIN ALLEGRA.” Aku benar-benar terkejut Radipta yang selama ini kukenal, berbicara sekasar itu.
“DIPTA STOP!” Aku berusaha melerai pertikaian antara mereka berdua. Aku menahan tangan Radipta yang sudah siap untuk melayangkan pukulan ke Kak Alka.
Radipta menepis tanganku dengan cukup kencang sampai aku tersungkur ke lantai, aku bisa melihat muka panik dari Kak Alka. “KAMU JUGA BOHONG ALLEGRA, KAMU BILANG ADA JANJI SAMA TEMEN, TAPI APA? KAMU BERDUAAN DUDUK SAMA SI BISU KAN KEMAREN?! KAMU PIKIR AKU GAK TAU.” Radipta membentakku.
Aku cukup shock mendengar Dipta membentakku dengan sangat kasar. Disaat itu juga aku mati-matian berusaha menahan air mata yang sudah bergelinang ditambah dengan rasa sakit dibentak Radipta. Aku dengan sigap berdiri sebelum Kak Alka menghampiriku untuk membantu. “Kita putus.” Satu kalimat singkat yang terucap dari mulutku berhasil membuat Radipta berhenti berkoar.
“Maksud kamu apa Allegra?” tanya Dipta sambil memajukan langkahnya ke arahku, “kamu lebih pilih SI BISU ini ketimbang aku?”
“Stop Dip aku mohon … kita putus.” Kali ini aku benar-benar terisak-isak, tidak sanggup lagi untuk menahannya. “Keluar dari sini sekarang KELUAR,” Teriakku kepada Radipta.
“BERANI YA LU SAMA GUA SEKARANG,” Dipta makin mempercepat langkahnya ke arahku. Sementara aku memundurkan langkahku dan sudah berancang- ancang dengan semua kemungkinan yang akan Dipta lakukan terhadapku. Tanpa kuduga, Kak Alka mendorong Radipta dengan sekuat tenaga ke arah pintu keluar, bisa kulihat wajah Kak Alka memerah seperti menahan amarah yang menggebu-gebu. “WOI BISU APA-APAAN LO.” Radipta sekuat mungkin untuk menepis tangan Kak Alka, untungnya tenaga Kak Alka jauh lebih besar dari Radipta. Sampai akhirnya Kak Alka berhasil membawa Radipta keluar dan mengunci pintu Café Modjok sementara untuk berjaga-jaga.
Ketika Radipta berhasil jauh dari jangkauan Café Modjok, aku langsung tersungkur di lantai dan menumpahkkan semua air mataku yang bercampur rasa sedih, kesal, marah, kecewa. Kak Alka yang melihatku langsung menuntunku untuk berdiri dan duduk di kursi. Kak Alka membiarkanku untuk menangis
sampai aku mereda dengan sendirinya, Kak Alka mengusap air mataku dengan sangat lembut dan mengelus pundakku dengan maksud tujuan agar aku bisa merasa lebih tenang.
“Kak Alka … kamu nggak apa-apa?” aku mendongak ke hadapan Kak Alka.
Kak Alka menggeleng dengan cepat, dan menunjukku dengan tangannya, “Aku
…? Aku nggak apa-apa kak ….”
Aku melihat Kak Alka mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dinotesnya.
“Maaf kamu harus terlibat dengan aku dan Radipta.” Aku menggeleng, “Enggak kak, aku udah ngga ada hubungan apa-apa lagi sama Radipta.” Sungguh, detik itu aku benar-benar tidak sudi lagi melihat Radipta di depanku sampai kapanpun.
“Omong-omong nenek ada di mana kak?” tanyaku tiba-tiba karena tidak melihat ada wanita itu di kafe ini.
Kak Alka memperlihatkan ponselnya setelah selesai mengetik, “Hari ini nenek aku suruh libur untuk istirahat, jadi hanya ada aku yang melayani seorang diri di sini.”
“Ooh begitu ya, pantesan aja gak kelihatan.”
“Aku marah sekali waktu Radipta membuatmu jatuh,” aku terkejut melihat Kak Alka yang tiba tiba menulis seperti itu diponselnya, “Jika aku menjadi Radipta, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mengeluarkan air mata sedikitpun.
Aku bersumpah.” Lanjut Kak Alka yang memperlihatkan layar posnelnya kepadaku.
“Kenapa harus menjadi Radipta kalau bisa jadi diri kamu sendiri, Kak Alka?”
Senyuman terukir di wajah Kak Alka, “Aku bakal berusaha, Biru.”
. .
Hari demi hari terlewati, setiap hari aku mengunjungi Café Modjok selepas sekolah, soal Radipta? Aku sudah benar-benar cut off dengan Radipta, walaupun ia berkali-kali berusaha menemuiku utnuk balikan, aku tetap menolaknya, sekalipun ia mengajak seribu kali pun, aku akan tetap menolak.
Soal aku dan Kak Alka, tentunya kami semakin dekat. Kak Alka tidak perlu lagi berkomunikasi denganku melalui catatan ponsel, sekarang aku sudah mengerti bahasa isyarat bisindo maupun sibi.
Ojek online yang baru saja kutumpangi menurunkanku tepat di depan palang kayu Café Modjok. Bisa kulihat, ternyata Kak Alka sudah menungguku di kursi luar dan ia melambaikan tangannya ketika melihatku. Aku langsung berlari menghampirinya.
“KAK ALKAAA HALOO,” aku menyapa dengan nada yang sangat excited seraya melambaikan tangan dan langsung menempatkan diri di sebelahnya.
“Lain kali jangan lari, Biru. Kamu bisa jatuh.” Ucapnya menggunakan bahasa isyarat.
“Biarin! Aku kangen kamu tau kaaak,” jawabku jujur.
“Baru juga kemarin kita ketemuan, kamu udah kangen?”
“IYA! Gak tau sih ya kenapa tapi kayaknya aku kalau nggak lihat kamu sehari langsung lemes deh, langsung pusing, mual, muntah, sakit, demam, pingsan.”
Balasku lebay.
Kak Alka terkekeh mendengarku, “Kamu benar-benar menggemaskan.”
Aku suka sekali jika melihat Kak Alka salah tingkah. Ibaratnya, ketika melihat Kak Alka layaknya 5-hydroxytryptamine―zat kimia yang memiliki tugas untuk membawa pesan antarsel saraf pada otak dengan fungsi pemberi perasaan nyaman dan senang―untukku.
“Kak Alka,” panggilku.
“Iya?”
“Sebenarnya akhir-akhir ini aku lagi ngerasa kurang percaya diri.”
“Soal apa?”
“Semuanya yang ada di dalam diri aku kak, nggak tau kenapa tapi dateng aja secara tiba-tiba, not trying to be pick me dan bukannya aku gak bersyukur, tapi aku sendiri juga gak ngerti penyebabnya apa.”
“Nibiru … kamu itu cantik dari sisi manapun, bahkan hati kamu jauh lebih cantik. Kamu tahu bunga camelia? Menurutku bunga camelia itu bunga yang cocok untuk menggambarkan isi hatiku ke kamu. Bunga camelia punya varietas merah yang artinya ‘saya jatuh bangun untuk Anda,’ itu dari aku untuk kamu sedangkan varietas putih yang artinya ‘kecantikan tanpa cela,’ itu menggambarkan kamu, Biru. Kamu itu cantik luar dalam tanpa cela. Bahkan apa yang menjadi kekurangan kamu, itu nggak mengurangi rasa suka aku ke kamu.
Aku suka semua yang ada didalam diri kamu tanpa cela, Nibiru.”
Aku yang melihat Kak Alka berkata seperti itu menggunakan bahasa isyarat benar-benar membuatku kalut dengan manisnya perkataan Kak Alka. Aku benar- benar heran mengapa manusia semanis, sebaik, selucu ini begitu dibenci banyak orang.
“Kak Alka … layaknya perasaanku ke kamu sama kayak bunga anyelir merah putih dan bunga peony, bunga anyelir merah artinya kekaguman, yang berarti rasa kagum aku ke kamu, anyelir putih berarti keberuntungan, keberuntungan aku dipertemukan sama kamu itu salah satu anugerah yang perlu aku syukuri, kak. Sedangkan bunga peony punya arti ‘paling indah.’ Perkataan kamu ke aku tadi, juga berlaku dari aku buat kamu, kak. Apa yang menjadi kekurangan kamu, menurutku itu hal-hal paling indah yang ada didalam diri kamu tanpa mengurangi rasa kagum aku ke kamu, Kak Alka.”
Aku melihat telinga Kak Alka yang memerah setelah mendengar ucapanku.
“Nibiru ….”
“Iya kak …?”
“Kira-kira lancang nggak kalau aku menginginkan diriku menjadi yang terakhir untuk kamu?”
Aku tersenyum puas. Aku benar-benar menunggu momen Kak Alka mengatakan hal ini. “Bahkan sebelum kamu mengatakan itu, aku lebih dulu menganggap kamu pertama dan terakhirku, kak.”
“Mulai sekarang bisa kupastikan, tidak akan ada pria lain yang bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu, Allegra Nibiru.”
“And I’ll also make sure no girl can ever love you the way I love, Alkantara Pratama.”
Bagiku, cinta pertama bukan soal siapa yang menjadi pacar pertama, bukan juga siapa orang yang pertama kali disuka. Melainkan orang yang pertama kali bisa mengenaliku apa makna cinta yang sesungguhnya, orang yang pertama kali bisa membuatku merasa takut untuk kehilangan, dan seseorang yang pertama kali memiliki ketulusan yang tidak bisa digantikan dengan siapapun. Seperti halnya aku dengan Alka, Kak Alka menganggapku sebagai cinta pertama dan terakhirnya, begitupun aku yang sudah lebih dulu menganggap Kak Alka sebagai yang pertama dan terakhir. Aku harap, Allegra Nibiru dan Alkantara Pratama adalah dua insan yang sama-sama takut kehilangan sampai jatah waktu mereka yang memisahkan dengan sendirinya.