• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL - Universitas Muhammadiyah Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PROPOSAL - Universitas Muhammadiyah Makassar"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

Judul Topik: PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI PADA SISWA KELAS V SD NEGERI BONTOMAERO I. Peningkatan keterampilan berbicara menggunakan model pembelajaran artikulasi pada siswa kelas V SD Negeri Bontomaero I Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan model pembelajaran artikulasi bahasa Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Bontomaero I Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa melalui penerapan model pengajaran artikulasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran artikulasi dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bontomaero I Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

Latar Belakang

Beberapa model pembelajaran yang sesuai dan umum diterapkan atau digunakan di sekolah dasar antara lain: NHT, STAD dan JIGSAW, namun penggunaan model pembelajaran yang selaras dengan kurikulum di tingkat satuan belum sepenuhnya dilaksanakan khususnya di kelas V bahasa Indonesia. mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan hasil mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diperoleh dari sekolah yaitu hanya 60,00% atau sekitar 12 siswa Kelas V yang lulus (nilai siswa ≥ 60) setelah mengikuti ulangan harian dan selebihnya harus remedi karena memperoleh hasil. are not Minimum Perfection (MMC) adalah 65. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mengembangkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Model pembelajaran yang relevan dan konsisten dengan kurikulum tingkat satuan pengajaran adalah model pembelajaran kooperatif yang benar-benar berpusat pada siswa. Irmawati (2011) Penerapan model artikulasi dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V SD Inpres Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kajian Pustaka

  • Hakikat Berbicara
  • Hakikat Keterampilan Berbicara
  • Tujuan Pembelajaran Berbicara
  • Prinsip Pembelajaran Keterampilan Berbicara
  • Bentuk dan Metode Kegiatan pembelajaran Berbicara
  • Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Berbicara
  • Penilaian Berbicara
  • Media Pembelajaran Berbicara

Kenyataan bahwa hakikat bahasa melambangkan bunyi-bunyi yang diucapkan menjadikan keterampilan berbicara sebagai keterampilan berbahasa yang paling penting. Keterampilan berbicara merupakan salah satu jenis keterampilan yang sangat penting dalam berkomunikasi.Komunikasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien dengan menggunakan bahasa. Karena siswa yang mengikuti kelas bahasa Indonesia sudah dapat menguasai keterampilan berbicara secara tatap muka (satu lawan satu) atau dalam kelompok kecil, dalam situasi informal atau informal (Kaswanti, 1997: 4).

Tujuan pengajaran keterampilan berbicara dapat ditemukan secara lebih rinci dalam kurikulum, tergantung pada jenis dan jenjang sekolah. Pengajaran keterampilan berbicara harus dilakukan dengan menciptakan situasi belajar dimana siswa dapat mengembangkan potensi keterampilan berbicaranya semaksimal mungkin.

Konsep Dasar Artikulasi

Anak berlatih dengan harapan mampu mengucapkan/mengucapkan kata-kata sehingga pola bicaranya jelas. Latihan artikulasi merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk melatih alat-alat tutur dalam melafalkan bunyi-bunyi bahasa agar alat tutur bekerja dengan baik dalam menghasilkan bunyi/bunyi bahasa yang sesuai dengan kaidah pengucapan optimal pola bunyi bahasa Indonesia bagi anak tunarungu. Bahasa Indonesia mempunyai pola bunyi bahasa baku yang berupa fonem-fonem menurut abjad: a sampai z dan bunyi bahasa sy, ng, kh, ny yang dapat dimiliki oleh anak-anak.

Pembatasan pengucapan pola bunyi vokal dan konsonan baku bahasa Indonesia dapat diucapkan dengan baik. Terbentuknya ujaran, lambang bunyi bahasa, merupakan hasil kerja sama gerak alat artikulasi (alat bicara), alat vokal, dan alat pernafasan dalam pembentukan kata. Membatasi pengucapan setiap bunyi bahasa dalam urutannya agar menjadi sebuah kata yang bermakna bagi setiap individu anak dalam memfungsikan alat bantu artikulasi (speech aids).

Upaya melalui pelatihan artikulasi diharapkan dapat menjamin anak mampu mengucapkan rangkaian bunyi ujaran dengan benar dan berfungsi dengan baik pada organ bicaranya. Anak dapat mengolah bunyi-bunyi bahasa menjadi kata-kata yang bermakna sebagai wujud bahasa melalui penggunaan lisan/verbal dengan lingkungannya. Pembentukan pola bunyi ujaran bahasa Indonesia dengan baik sesuai dengan kaidah pembentukan yang baik dan benar.

Materi yang diajarkan merupakan materi tambahan untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan pengucapan huruf vokal dan konsonan, yang digabungkan menjadi kata-kata yang akan diucapkan. Dalam pengajaran artikulasi, kita tidak sekedar mengajarkan setiap bunyi bahasa berdiri sendiri, namun tetap membentuk satu kata utuh (dikenal dengan metode “kata global”). Dalam prakteknya, pembentukan pola bicara dikoreksi untuk setiap bunyi bahasa yang masih salah diucapkan oleh anak.

Kerangka Pikir

Hipotesis Tindakan

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan melalui penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bontomaero I Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dengan menggunakan model pembelajaran artikulasi. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Lokasi Penelitian

Subjek dan Objek Penelitian

Prosedur/Desain Penelitian

Siklus I

Bentuk tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: 1) Pembelajaran bahasa Indonesia dengan pokok bahasan berbicara; Prosedur observasi yang dilakukan dalam hal ini adalah mendokumentasikan dampak tindakan yang diberikan selama proses pembelajaran keterampilan berbicara estetis, yaitu pengamatan terhadap kondisi pada saat pelaksanaan tindakan. Dari analisis tersebut peneliti dapat melihat dan memikirkan apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan proses peningkatan keterampilan mendengarkan.

Siklus II

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada Siklus II terdiri dari pengulangan tahapan pada Siklus I, sekaligus melakukan perbaikan atau penyempurnaan berdasarkan hasil yang diperoleh pada Siklus I.

Instrumen Penelitian

Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

Indikator Keberhasilan

Membahas dan menyatukan konsep dan bentuk penerapan mengenai tata cara pembelajaran keterampilan berbicara dengan strategi pembelajaran kooperatif dengan guru. Memberikan informasi kepada siswa mengenai keterampilan berbicara melalui bercerita untuk dikuasai dalam kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara. Setelah siswa berlatih menceritakan pengalamannya sesuai pokok-pokok pengalamannya dan menceritakan pengalaman masing-masing secara individu, peneliti memberikan informasi tentang peningkatan keterampilan berbicara dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. n) Kegiatan penelitian berikut menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi belajar siswa serta menyajikan informasi terkait keterampilan berbicara (20).

Observasi dilakukan dengan mendokumentasikan dampak tindakan yang diberikan selama proses pembelajaran keterampilan berbicara dengan menceritakan pengalaman yang paling berkesan yaitu observasi. Berkenaan dengan pelaksanaan siklus I, peneliti mengambil kesimpulan sementara bahwa peningkatan keterampilan berbicara dengan model pembelajaran artikulasi memberikan hasil yang signifikan, namun masih perlu dilakukan pengulangan proses kegiatan, termasuk perubahan kelompok siswa dalam pembelajaran bersama. , serta cara bertutur yang belum menunjukkan relevansi isi dengan teknik bercerita, relevansi visualisasi dengan isi cerita, pengucapan kata yang akurat dan jelas serta kesesuaian antara ekspresi wajah, gerak, postur dan ucapan. Hasil yang diperoleh masih perlu ditingkatkan sesuai dengan kelengkapan pencapaian hasil belajar keterampilan berbicara yang diharapkan.Langkah-langkah yang akan kita terapkan pada II. siklus, merupakan hasil refleksi dari siklus pertama. seperti pada siklus I dengan beberapa perbaikan dan perbaikan sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. A.

Rencana pelaksanaan pembelajaran bagi siswa kelas V SD Negeri Bontomaero I Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa semester genap tahun ajaran 2011/2012 yang disusun dan disepakati oleh peneliti dan guru pembimbing sama dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. rencana pelaksanaan pada siklus I 2) Membuat lembar observasi yang bertujuan untuk mengamati perilaku belajar anak selama pembelajaran keterampilan berbicara. Lembar observasi yang digunakan pada siklus ini sama dengan lembar observasi pada Siklus I. 3) Berbincang dengan guru pembimbing tentang menawarkan tindakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan mengubah kelompok siswa saat belajar bersama, serta penjelasannya cara berbicara, menunjukkan kesesuaian isi, dengan teknik naratif, kesesuaian visualisasi dengan isi cerita, pengucapan kata yang akurat dan jelas, serta keselarasan antara ekspresi wajah, gerak, postur dan ucapan. Kegiatan penelitian berikut menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi belajar siswa serta menyajikan informasi terkait keterampilan berbicara (20).

Observasi dilakukan untuk mendokumentasikan dampak tindakan yang diberikan selama proses pembelajaran keterampilan berbicara dengan menunjukkan pengalaman yang paling mengesankan, yaitu mengamati kondisi pada saat pelaksanaan tindakan, baik aktivitas individu yang dilakukan siswa maupun aktivitas yang terjadi ketika tindakan tersebut dilakukan. para siswa dikelompokkan. . Peneliti menyimpulkan mengenai pelaksanaan siklus II bahwa peningkatan keterampilan berbicara melalui pendekatan pembelajaran kooperatif menunjukkan hasil yang signifikan, yaitu meningkat dari 5 siswa dengan kategori sangat tinggi menjadi 8 orang, dari 15 siswa dengan kategori tinggi yang sebelumnya meningkat menjadi 19 orang. rakyat. Siswa kategori sedang sebanyak 14 orang berkurang menjadi 10 orang, siswa yang teori rendah sebanyak 5 orang berkurang menjadi 2 orang siswa saja. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif artikulasi yang dilaksanakan dalam dua siklus sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bontomaero I Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

Pembahasan Hasil Penelitian

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan berbagai pendekatan yang diterima untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Beberapa pendekatan tersebut dipadukan dimaksudkan untuk menghasilkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan potensi dirinya secara optimal. “Kegiatan tersebut memungkinkan siswa berinteraksi aktif dengan lingkungan dan kelompoknya, sebagai media untuk mengembangkan pengetahuannya.”

Hal ini sesuai dengan teori tinjauan pustaka yang menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip keterampilan berbicara mencakup beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, yaitu sebagai berikut: 1) Memberikan latihan berbicara sebanyak-banyaknya. Untuk menguasai suatu keterampilan, termasuk keterampilan berbicara, diperlukan latihan praktik yang dilaksanakan secara rutin dan terarah. Oleh karena itu, harus ada koordinasi antara guru bahasa Indonesia dengan guru bidang studi lain, dalam hal memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih berbicara.

Jadi siswa aktif berlatih berbicara dalam komunikasi yang tepat; dan 3) tumbuhnya rasa percaya diri. Salah satu kendala yang dihadapi oleh para siswa, khususnya siswa pemula adalah kurangnya rasa percaya diri. Latihan berbicara secara teratur sangat membantu dalam membangun rasa percaya diri siswa.

Berdasarkan hasil penelitian dan pendapat di atas terlihat bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif model artikulasi keterampilan berbicara dapat ditingkatkan.

Kesimpulan

Saran-Saran

Sekembalinya ke rumah, Pak Garam menceritakan kepada istrinya semua kejadian yang terjadi saat memandikan jenazah. Ternyata pembicaraan Pak Garam didengar oleh Bujang Selamat (utusan kerajaan) yang sedang memancing burung puyuh tak jauh dari rumahnya. Kejadian ini memperjelas pendapat Pak Salt tentang manfaat dan kegunaan batu tersebut.

Dari kejadian itu Pak. Garam memberikan nasehat yang kemudian dikenal masyarakat Sakai sebagai nasehat Pak Garam. Pak Garam adalah tokoh utama cerita di atas, dia adalah orang yang baik dan jujur. Tn. Sifat Garam yang lain adalah menuruti rajanya ketika raja meminta batu ajaib yang diberikan oleh Tuan. menemukan Garam.

Hubungkan isi cerita rakyat di atas dengan bahasa Anda sendiri, perhatikan artikulasinya. Kisah “Nasihat Pak Garam” mengajarkan kita sikap sederhana terhadap aktivitas atau tindakan apa pun.

RIWAYAT HIDUP

Gambar

Gambar 1: Bagan Kerangka Pikir  Pembelajaran Bahasa

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai Analisis Status Pencemaran Air

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan beberapa peneliti, bahwa peneliti ini tertarik dalam menggunakan terapi non farmakologi dengan mengkombinasikan terapi musik

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan peninjauan lebih mendalam mengenai Implementasi dari Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, dan Ukuran

Beberapa penelitian yang relevan dengan judul penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model cooperative tipe scrift terhadap hasil belajar

Penelitian Relevan Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengambil masukan dari beberapa skripsi penelitian ilmiah yang sesuai dengan materi pembahasannya diantaranya adalah yang

Adapun peneliti melakukan wawancara kepada bapak Ahmad, S.Pd yang mengatakan bahwa: Metode pembelajaran Agama Islam yang diberikan kepada siswa berbeda, misalanya pada anak yang tuna

Namun jika ditinjau dari beberapa aspek yang lain guru telah melakukan tugasnya dengan baik serta telah mengeluarkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk terciptanya proses