1
PEMBANGUNAN AUDITORIUM GEDUNG PASCA SARJANA FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2023
R K S
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT
KATA PENGANTAR
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) ini disusun sebagai bagian dari dokumen tender Pekerjaan Pembangunan Auditorium Gedung Pasca Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Tahun 2023.
Dalam laporan ini dibahas secara singkat Rencana Kerja Dan Syarat-Syarat terdiri dari : - Syarat Umum Pelaksanaan Pekerjaan,
- Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur,
- Spesifikasi Teknik Pekerjaan Mekanikal Elektrikal, - Spesifikasi Bahan dan Peralatan.
Demikian Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) ini dibuat, semoga bermanfaat dalam pelaksanaan Pembangunan Auditorium Lantai 5 Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Malang, 2023 CV. GLOBAL PRESISI
WIDYOTOMO HAYUNINGTYAS, ST Direktur
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………..………...………. i
DAFTAR ISI ….………..……… ii
BAB I SPESIFIKASI TEKNIK KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN PEKERJAAN ………. 5
I. Ruang Lingkup ….………..……….…...……….. 5
II. Peraturan Teknis Umum ………... 6
A. Persyaratan dan Peraturan Umum ………... 6
B. Merk Dagang ………... 6
C. Tertib Pelaksanaan ………... 7
D. Syarat Pemeriksaan Bahan ………... 8
E. Situasi ………... 9
F. Jadwal ………... 9
G. Pengukuran ………... 10
H. Letak Bangunan ………... 11
I. Lapangan Kerja ………... 11
J. Kebersihan dan Ketertiban ………... 11
K. Alat-alat Kerja dan Alat-alat Bantu ………... 12
L. Pembangkit Tenaga dan Sumber Air ………... 12
M. Iklan ………... 13
N. Jalan Masuk dan Jalan Keluar ………... 13
O. Perlindungan Terhadap Ruangan Lain dan Sekitar ………..… 13
P. Ketentuan Pelaksanaan K3 ………... 13
Q. Pengawasan ………... 21
R. Pemeriksaan dan Penyediaan Bahan dan Barang ……….. 22
S. Rencana Kerja dan Syarat Serta Gambar Kerja ………... 22
T. Penjelasan Perbedaan Dokumen ………... 23
U. Gambar Pelaksanaan (Shop Drawing) ………... 24
V. Kerusakan Bagian Pekerjaan Oleh Pelaksanaan/ Kontraktor/ Penyedia Barang/Jasa/Sub Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa 25 W. Penyerahan Pertama ………... 25
X. Perihal Lainnya ………... 25
Y. Unsur Pekerjaan yang Disebutkan Kembali ………... 26
BAB II PERSYARATAN TEKNIS ……… 27
I. Persiapan ………...………. 27
A. Pekerjaan Persiapan ………... 27
B. Pekerjaan Arsitektur ………... 28
1. Pekerjaan Backdrop Stage, Stage/Panggung, Ruang Kontrol ………. 28
a. Umum ………. 28
b. Lingkup Pekerjaan ……… 28
c. Persyaratan Bahan ……… 28
d. Syarat Pelaksanaan ……… 29
e. Pemasangan Rangka Besi Baja Hollow Galvanis ……….. 29
2. Pekerjaan Backdrop Stage/Panggung 30 a. Umum ……… 30
b. Lingkup Pekerjaan ……… 30
c. Persyaratan Bahan ……… 31
d. Syarat Pelaksanaan ……… 31
e. Pemasangan Rangka Besi Backdrop dan Ruang Operator 32
f. Backdrop Multiplex dan Accessories .………..…………. 32
g. Jendela dan Pintu Kamuflase Ruang Kontrol …..……… 33
h Pekerjaan Pintu Maintenance ………. 35
3. Pekerjaan Tribun Penonton ……… 36
a. Umum ……… 36
b. Lingkup Pekerjaan ……… 36
c. Persyaratan Bahan ……… 36
d. Syarat Pelaksanaan ……… 37
e. Pemasangan Rangka Besi Baja Hollow Galvanis ………. 37
4. Pekerjaan Lantai Karpet ……… 38
a. Umum ……… 38
b Bahan dan Produk ……… 39
c. Syarat dan Proses Pekerjaan ………. 39
5. Pekerjaan Plafond ……….. 39
a. Umum ………... 39
b. Lingkup Pekerjaan ……….. 40
c. Spesifikasi Produk ………..……… 40
d. Teknis Pemasangan ………..……… 40
6. Pekerjaan Pengecatan ……….……… 41
a. Umum ………. 41
b. Bahan Produk ……….. 42
c. Syarat Pelaksanaan ……… 43
7. Pekerjaan Meubelair ……… 45
a Umum ……… 45
b Lingkup Pekerjaan ……… 45
c Spesisifikasi Produk ……… 45
d Teknis Pemasangan ……… 47
e Referensi Produk ……….. 48
f Dukungan Teknis ……….. 48
8. Pekerjaan Gorden ……… 48
a Umum ……….. 48
b Lingkup Pekerjaan ……….. 49
c Spesisifikasi Produk ……….. 49
d Teknis Pemasangan ……….. 49
e Pengujian Testing Commision ……… 51
C. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal ……… 52
1. Pekerjaan Videotron ………... 52
a. Uraian Pekerjaan ……… 52
b. Ruang Lingkup Pekerjaan ………. 52
c. Spesifikasi Videotron ……… 53
d. Topologi Videotron ……….. 53
e. Syarat Pengadaan ………. 54
f. Proses Pekerjaan Konstruksi/Rangka Videotron ………. 55
g. Dukungan Teknis Purnal Jual 55 2. Pekerjaan Sound System ……….. 56
a. Lingkup Pekerjaan ………. 56
b. Persyaratan Teknis ……….. 56
c. Ketentuan Bahan dan Peralatan ……… 56
d. Dukungan Teknis Purnal Jual ………. 58
e. Lain-lain ………... 59
3. Pekerjaan Kelistrikan ……… 59
a. Umum ………... 59
b. Lingkup Pekerjaan ……….... 59
c. Ketentuan Bahan dan Peralatan ……… 60
d. Persyaratan Teknis Pemasangan ……… 65
f. Pengujian ……….. 4. Pekerjaan Tata Udara ……… 68
a. Umum ……….. 68
b. Lingkup Pekerjaan ………. 69
c. Spesifikasi Teknis ………. 69
d. Referensi Produk ………. 70
5. Pekerjaan Pemadam Kebakaran ……… 70
a. Umum ……….. 70
b. Lingkup Pekerjaan ………. 70
c. Spesifikasi Bahan ………. 71
d. Ketentuan Penyediaan ………. 71
BAB III PENUTUP ……….……….. 72
BAB I
SPESIFIKASI TEKNIK KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN PEKERJAAN
I. Ruang Lingkup
Yang dimaksud dengan pekerjaan pada proyek ini adalah Pekerjaan Pembangunan Auditorium Gedung Pasca Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Tahun 2023. Pekerjaan tersebut diatas harus selesai tepat waktu sesuai jadwal yang ditentukan, dengan kualitas yang memenuhi ketentuan sebagaimana disyaratkan dalam Surat Perjanjian Penyedia/Kontraktoran dan Pelaksanaannya harus dilaksanakan berdasarkan :
1. Rencana Kerja dan Syarat-syarat Pekerjaan/RKS dan Spesifikasi Teknis.
2. Gambar-gambar perencanaan dan detail.
3. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) dan penjelasan tambahan lainnya.
4. Petunjuk Direksi.
5. Peraturan peraturan umum lainnya yang berlaku.
Sedangkan pekerjaan-pekerjaan apa saja dalam Pembangunan Auditorium Gedung Pasca Sarjana Fakultas Peternakan ini adalah meliputi :
I. PEKERJAAN PERSIAPAN II. PEKERJAAN ARSITEKTUR
A. PEKERJAAN BACKDROP STAGE B. PEKERJAAN TRIBUN
C. PEKERJAAN LANTAI D. PEKERJAAN PLAFOND E. PEKERJAAN PENGECATAN F. PEKERJAAN MEUBELAIR
G. PEKERJAAN GORDEN Maintenance III. PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL
A. PEKERJAAN VIDEOTRON B. PEKERJAAN SOUND SYSTEM
C. PEKERJAAN KELISTRIKAN DAN AC (RUANG UDARA) D. PEKERJAAN PEMADAM KEBAKARAN
Pekerjaan Pembangunan Auditorium Gedung Pasca Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Tahun 2023 akan dilaksanakan dalam waktu 100 (serratus) hari kalender
II. Peraturan Teknis Umum
A. Persyaratan dan Peraturan Umum
Semua pekerjaan dalam kontrak ini harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan teknis yang tertera dalam persyaratan Normalisasi Indonesia (NI), Standar Industri Indonesia (SII), Peraturan Nasional maupun Peraturan Pemda setempat lainnya yang berlaku atas jenis pekerjaan maupun bahan tersebut, peraturan tersebut antara lain :
1. Standar Industri Indonesia untuk bahan yang digunakan.
2. Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung, SNI 2847-2019.
3. Spesifikasi Desain untuk Konstruksi Kayu , SNI 7973:2013.
4. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung SNI-03-2847- 2002.
5. Peraturan Umum Instalasi Listrik.
6. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia, SNI 1729:2015 7. Peraturan Beban Desain Minimum dan Kriteria Terkait, SNI-1727-2020
8. Untuk bahan dan pekerjaan yang belum termasuk dalam standar tersebut diatas, maupun standar lainnya, maka diberlakukan Standar Internasional atau persyaratan teknis dari pabrik / produsen yang bersangkutan.
9. Dan lain-lain yang secara nyata termasuk didalam Dokumen/ Gambar, RKS, Spesifikasi Teknis, Berita Acara Penjelasan Pekerjaan/ Aanwijzing dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut diatas, Penyedia/Kontraktor harus menyediakan:
1. Tenaga-tenaga kerja, tenaga-tenaga ahli yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya (jumlahnya) untuk semua jenis pekerjaan.
2. Alat-alat yang cukup untuk setiap jenis pekerjaannya.
3. Bahan-bahan yang memenuhi syarat dalam jumlah yang cukup dan didatangkan tepat waktunya, sehingga tidak terjadi stagnasi yang mengakibatkan keterlambatan pada waktu penyerahan pertama.
B. Merk Dagang
Merk dagang untuk bahan-bahan Pekerjaan Pembangunan Auditorium Gedung Pasca Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Tahun 2023 yang disebutkan dalam Persyaratan Teknis ini dimaksudkan sebagai bahan yang digunakan sesuai Spesifikasi yang telah ditentukan dalam hal bentuk, model, mutu, jenis dan sebagainya, sehingga Merk dan Bahan yang digunakan harus sesuai dengan yang telah ditentukan dan dicantumkan di dalam Daftar SIMAK, RKS dan Gambar Kerja. Penyedia/Kontraktor hanya dapat mengusulkan satu merk dagang lain yang setara (sekualitas setelah mendapat persetujuan dari direksi pelaksana. Dalam hal disebutkan 1 (satu) merk dagang atau lebih untuk
jenis bahan yang sama, maka Penyedia/Kontraktor diwajibkan untuk mengajukan salah satu dari padanya (bukan setara) untuk diperiksa dan disetujui direksi.
C. Tertib Pelaksanaan
Penjelasan umum mengenai tata tertib pelaksanaan pekerjaan:
1. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan mempelajari dengan seksama gambar kerja dan RKS Pelaksanaan beserta Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
2. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan mengukur ulang dan mengechek ulang seluruh besaran yang ada, kemudian mencocokan hasil pengukuran dengan gambar kerja dan hasilnya dikoordinasikan dengan Direksi .
3. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan melaporkan kepada Direksi setiap ada perbedaan ukuran diantara gambar-gambar, perbedaan antara gambar kerja dan RKS untuk mendapatkan keputusan. Tidak dibenarkan sama sekali bagi Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa memperbaiki sendiri perbedaan tersebut diatas. Akibat-akibat dari kelalaian Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa dalam hal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
4. Daerah area kerja akan diserahkan kepada Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa (selama pelaksanaan) dalam keadaan seperti diwaktu pemberian kerja dan dianggap bahwa Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa mengetahui benar-benar mengenai :
a. Letak bagian/area bangunan yang akan dibangun.
b. Batas-batas serta lingkup maupun keadaannya.
c. Keadaan fisik bangunan sesuai dengan gambar
5. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib menyerahkan hasil pekerjaannya hingga selesai dan lengkap yaitu membuat (menyuruh membuat) memasang serta memesan maupun menyediakan bahan- bahan bangunan alat-alat kerja dan pengangkutan, membayar upah kerja dan lain-lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan.
6. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib menyediakan sekurang- kurangnya 1 (satu) salinan gambar-gambar dan RKS ditempat pekerjaan untuk dapat digunakan setiap saat oleh Pemilik atau Direksi.
7. Atas perintah Direksi kepada Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa dapat dimintakan membuat gambar-gambar penjelasan dan perincian bagian-bagian khusus. Semuanya atas beban Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa. Gambar tersebut setelah disetujui oleh Direksi, secara tertulis akhirnya menjadi gambar perlengkap dari gambar-gambar pelaksanaan.
8. Setiap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya maupun yang sedang dilaksanakan, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan berhubungan dengan Direksi untuk ikut menyaksikan sejauh tidak ditentukan lain, untuk mendapatkan pengesahan/persetujuannya.
9. Setiap usul perubahan dari Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa ataupun persetujuan pengesahan dari Direksi dianggap berlaku sah serta mengikat jika dilakukan secara tertulis.
10. Semua bahan yang akan dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan proyek ini harus benar-benar baru dan diteliti mengenai mutu, ukuran dan lain-lain yang sesuaikan standard/peraturan-peraturan yang dipergunakan didalam RKS ini. Semua bahan-bahan tersebut diatas harus mendapatkan pengesahan/persetujuan dari Direksi sebelum akan dimulai pelaksanaannya.
11. Pengawasan terus menerus terhadap pelaksanaan penyelesaian/perapihan, harus dilakukan oleh tenaga-tenaga dari pihak Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa yang benar-benar ahli.
12. Semua barang-barang yang tidak berguna selama pelaksanaan pembangunan harus dikeluarkan dari lapangan pekerjaan.
13. Cara-cara menimbun bahan-bahan di lapangan maupun di gudang harus memenuhi syarat-syarat teknis, dan dapat dipertanggung jawabkan.
D. Syarat Pemeriksaan Bahan
Adapun persyaratan didalam pemeriksaan bahan sebagai berikut :
1. Untuk pedoman pemeriksaan bahan-bahan bangunan digunakan Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia Peraturan Badan Standardisasi Nasional Nomor 12 Tahun 2020, Skema Penilaian Kesesuaian Terhadap Standar Nasional Indonesia Sektor Bahan Bangunan, Konstruksi Dan Teknik Sipil.
2. Sebelum mendatangkan bahan-bahan bangunan ketempat pekerjaan, Penyedia/Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh-contoh terlebih dahulu kepada Direksi untuk diminta persetujuannya.
3. Adapun bahan-bahan yang akan digunakan harus sesuai dengan contoh- contoh yang telah disetujui.
4. Apabila bahan yang didatangkan tidak sesuai dengan contoh yang telah disetujui, maka Direksi berhak menolak/memerintahkan Penyedia/Kontraktor untuk mengeluarkan bahan-bahan tersebut di lapangan (tempat pekerjaan) selambat-lambatnya 2 x 24 jam sejak ditolaknya bahan-bahan tersebut.
5. Tidak diperkenankan menggunakan bahan-bahan yang telah ditolak oleh Direksi, apabila ternyata Penyedia/Kontraktor tetap menggunakan bahan- bahan tersebut diatas baik secara sengaja maupun tidak sengaja, maka Direksi
berhak membongkar pekerjaan yang menggunakan bahan-bahan tersebut dengan biaya dibebankan kepada Penyedia/Kontraktor.
6. Untuk setiap perselisihan kualitas bahan bangunan yang digunakan antara direksi dengan Penyedia/Kontraktor, Penyedia/Kontraktor diwajibkan memeriksa kualitas-kualitas bahan itu ke Lembaga Penelitian Bahan Bangunan di lokasi pekerjaan tersebut, atau ditempat lain yang disetujui Direksi Pelaksana, dengan biaya ditanggung oleh Penyedia/Kontraktor. Dalam jangka waktu 2 x 24 jam sejak timbulnya perselisihan, sebelum diperoleh hasil pemeriksaan tersebut, Penyedia/Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan bahan bangunan tersebut didalam pekerjaannya.
E. Situasi
Pemeriksaan situasi pekerjaan, ditentukan sebagai berikut :
1. Site (tempat pembangunan) akan diserahkan kepada Penyedia/Kontraktor, sebagaimana keadaannya. Untuk itu Penyedia/Kontraktor harus meneliti keadaan tapak, terutama keadaan tanah (kontur, letak bangunan yang sudah ada serta sifat lingkup pekerjaan lain-lain yang dapat mempengaruhi harga penawarannya.
2. Kelalaian atau kekurang telitian Penyedia/Kontraktor dalam mengevaluasi keadaan lapangan segala sesuatunya menjadi tanggungjawab Penyedia/Kontraktor dan tidak dapat dijadikan alasan untuk mengajukan tuntutan.
F. Jadwal
Paling lambat 2 (dua) minggu setelah dinyatakan sebagai Pemenang Pelelangan, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diharuskan mengajukan :
1. Jadwal waktu (Time Schedule) pelaksanaan secara terperinci yang digambarkan secara Diagram Panah (Network Planning) dan diagram balok (Barchart).
2. Jadwal Pengadaan Tenaga Kerja.
3. Jadwal Pengadaan Bahan.
Bagian-bagian yang disebutkan diatas poin a s/d b harus mendapat persetujuan dari Direksi sebagai dasar/patokan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa dalam melaksanakan pekerjaan dan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib mengikutinya. Kelalaian dalam memasukan bagian-bagian dimaksud poin a s/d b tersebut diatas dapat menyebabkan pekerjaan dihentikan sementara. Akibat dari penghentian sementara ini menjadi tanggung jawab Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa seluruhnya.
G. Pengukuran
1. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib memberitahukan kepada Direksi bagian pekerjaan yang akan dimulai, untuk dicek terlebih dahulu ketentuan ukuran-ukurannya.
2. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan senantiasa mencocokan ukuran- ukuran satu sama lain dalam tiap pekerjaan dan segera melaporkan secara tertulis kepada Direksi setiap terdapat selisih/perbedaan-perbedaan ukuran, untuk diberikan keputusan pembetulannya. Tidak dibenarkan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa membetulkan sendiri kekeliruan tersebut tanpa persetujuan Direksi.
3. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan menurut ukuran-ukuran yang ditetapkan dalam gambar kerja.
4. Mengingat setiap kesalahan selalu akan mempengaruhi bagian-bagian pekerjaan selanjutnya, maka ketepatan peil dan ukuran tersebut mutlak perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Kelalaian Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa dalam hal ini tidak akan ditolerir dan Direksi berhak untuk membongkar pekerjaan dan mengganti dengan yang baru atas biaya Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
Pemakaian Ukuran
1. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa tetap bertanggung jawab dalam menepati semua ketentuan yang tercantum dalam Rencana Kerja &
Syarat dan gambar-gambar berikut tambahan dan perubahannya.
2. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib memeriksa kebenaran dari ukuran-ukuran keseluruhan maupun bagian-bagiannya dan memberitahukan Direksi tentang setiap perbedaan yang ditemukannya didalam RKS dan gambar-gambar maupun dalam pelaksanaan.
Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa baru diijinkan membetulkan kesalahan gambar dan melaksanakannya setelah ada persetujuan tertulis dari Direksi Proyek yang ditentukan oleh Pemberi Tugas.
3. Pengambilan ukuran-ukuran yang keliru dalam pelaksanaan, didalam hal apapun menjadi tanggung jawab Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa. Oleh karena itu sebelumnya kepadanya diwajibkan mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua gambar-gambar yang ada.
Ukuran / Dimensi
1. Ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar adalah ukuran yang mengikat dan mutlak harus ditepati.
2. Satuan ukuran yang dicantumkan dalam gambar dinyatakan dalam : - Milimeter (mm).
- Centimeter (cm).
- Meter (m)
3. Kecuali untuk hal khusus, satuan dinyatakan sesuai kebutuhan / ketentuan umum yang berlaku.
4. Apabila terdapat perbedaan ukuran antara gambar struktur dan detail dalam jenis yang sama, maka yang menjadi pegangan adalah gambar yang berskala lebih besar (gambar detail).
5. Bila ada perbedaan antara gambar struktur, gambar arsitektur dan gambar ME atau ketidaksesuaian atau keraguan diantara gambar kerja yang tidak bisa diatasi menurut point no. 3 diatas, Penyedia/Kontraktor harus melaporkan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas untuk diberi keputusan gambar mana yang akan dijadikan pegangan/acuan di dalam pelaksanaan pekerjaan.
Sinkronisasi antara gambar, spesifikasi dan BQ (Daftar Volume dan Biaya Pekerjaan) diambil yang mempunyai bobot teknis yang paling tinggi dan tidak saling menghilangkan, demikian pula gambar- gambar, antara gambar Arsitektur, Sipil dan Mekanikal/Elektrikal adalah saling melengkapi dan tidak saling menghilangkan.
H. Letak Bangunan
Keterangan mengenai letak bangunan ditentukan dalam gambar situasi dan untuk awal pelaksanaan harus diadakan pengukuran dulu dibawah pengawasan Konsultan Pengawas.
I. Lapangan Kerja
1. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib menyediakan perlengkapan kantor direksi kelompok Direksi dan alat-alatnya yang nantinya menjadi milik Pemilik Proyek.
2. Untuk menyimpan bahan-bahan bangunan yang dianggap perlu Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus membuat gudang.
3. Penggunaan bangunan yang ada di lapangan, hanya dilakukan dengan izin dari Direksi.
J. Kebersihan dan Ketertiban (K3)
1. Selama berlangsungnya pembangunan pelaksanaan proyek ini, kebersihan halaman dan lingkungan terutama jalan-jalan disekitar proyek, kantor, gudang, los kerja dan bagian dalam bangunan yang dikerjakan harus tetap bersih dan tertib, bebas dari bahan bekas/puing dan lain-lain. Khusus
kebersihan lingkungan disekitar proyek, yang harus dibersihkan adalah adanya kotoran yang diakibatkan oleh keluar masuknya kendaraan proyek ini. Kelalaian dalam hal ini dapat menyebabkan Direksi memberi perintah penghentian seluruh pekerjaan. Akibat dari hal ini seluruhnya menjadi tanggungan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
2. Penimbunan bahan-bahan yang ada dalam gudang-gudang maupun yang berada di halaman bebas harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu kelancaran dan keamanan pekerjaan/umum dan juga agar memudahkan jalannya pemeriksaan dan penelitian bahan- bahan oleh Direksi maupun oleh Pemilik Proyek.
3. Hal yang tidak diperkenankan :
a. Pekerjaan menginap ditempat pekerjaan kecuali dengan izin Direksi.
b. Memasak ditempat bekerja kecuali izin Direksi.
c. Membawa masuk penjual-penjual makanan, buah, minuman, rokok dan sebagainya ke tempat pekerjaan.
d. Keluar masuk dengan bebas.
K. Alat-Alat Kerja dan Alat-Alat Pembantu
1. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara sempurna dan efisien, misalnya : lift crane memakai hois, steger, mesin- mesin dan alat-alat lain yang diperlukan, untuk pemindahan mesin/ Peralatan Bengkel yang akan dipindahkan. Bila pekerjaan telah selesai, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan segera menyingkirkan alat-alat tersebut, pada butir 1 Pasal ini, serta memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya membersihkan bekas-bekasnya.
2. Disamping harus menyediakan alat-alat yang diperlukan seperti dimaksud pada butir 1 Pasal ini. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus menyediakan alat-alat bantu sehingga dapat bekerja pada kondisi apapun, seperti tenda- tenda untuk bekerja pada waktu hujan dan lain- lain.
L. Pembangkit Tenaga dan Sumber Air
1. Setiap pembangkit tenaga sementara untuk penerangan pekerjaan, harus diadakan oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa termasuk pemasangan sementara kabel-kabel, meteran, upah dan tagihan serta pembersihannya kembali pada waktu pekerjaan selesai adalah beban Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
2. Air untuk keperluan pekerjaan harus diadakan dan bila memungkinkan didapatkan dari sumber air yang sudah ada dilokasi pekerjaan tersebut.
Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus memasang sementara pipa-pipa dan lain-lain pekerjaan untuk mengalirkan air dan mencabutnya kembali pada
waktu pekerjaan selesai. Biaya untuk pekerjaan pengadaan air sementara adalah beban Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
3. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa tidak diperbolehkan menyambung dan menghisap air dari saluran induk dan sebagainya tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin tertulis dari Pemilik Proyek atau Direksi .
M. Iklan
Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa tidak diizinkan memasang iklan dalam bentuk apapun di lapangan kerja atau di tanah yang berdekatan tanpa izin dari Pemilik Proyek atau Direksi .
N. Jalan Masuk dan Jalan Keluar
1. Pemakaian jalan masuk ketempat pekerjaan menjadi tanggung jawab pihak Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa dan disesuaikan dengan kebutuhan proyek tersebut.
2. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan membersihkan kembali jalan masuk pada waktu penyelesaian, dan memperbaiki segala kerusakan yang diakibatkannya dan menjadi beban Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
O. Perlindungan Terhadap Ruangan Lain Disekitarnya
1. Selama masa pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan akibat operasi pelaksanaan pekerjaan terhadap ruangan yang ada dan lain- lain yang ada dilapangan pekerjaan dan lingkungan selama hal tersebut diatas tidak termasuk didalam pekerjaan.
2. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa juga bertanggung jawab atas gangguan dan pemindahan yang terjadi atas perlengkapan umum seperti saluran air, telepon, listrik dan sebagainya yang disebabkan oleh operasi Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa. Segala biaya untuk pemasangan kembali beserta perbaikan-perbaikannya adalah menjadi beban Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
P. KETENTUAN PELAKSANAAN K3 1. Ketentuan administrasi
a. Kewajiban umum
Kewajiban umum di sini dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan Penyedia Jasa Konstruksi, yaitu :
1) Penyedia Jasa berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat kerja, peralatan, lingkungan kerja dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa sehingga tenaga kerja terlindungi dari resiko kecelakaan.
2) Penyedia Jasa menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan atau alat-alat lain yang akan digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan peraturan keselamatan kerja, selanjutnya barang-barang tersebut harus dapat dipergunakan secara aman.
3) Penyedia Jasa turut mengadakan pengawasan terhadap tenaga kerja, agar tenaga kerja tersebut dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan selamat dan sehat.
4) Penyedia Jasa menunjuk petugas keselamatan kerja yang karena jabatannya di dalam organisasi Penyedia Jasa, bertanggung jawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang dilakukan untuk menghindarkan resiko bahaya kecelakaan.
5) Penyedia Jasa memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai dengan keahlian, umur, jenis kelamin dan kondisi fisik/kesehatannya.
6) Sebelum pekerjaan dimulai Penyedia Jasa menjamin bahwa semua tenaga kerja telah diberi petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masing-masing dan usaha pencegahannya, untuk itu Penyedia Jasa dapat memasang papan-papan pengumuman, papan-papan peringatan serta sarana-sarana pencegahan kecelakaan yang dipandang perlu.
7) Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap semua tempat kerja, peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan kerja dan cara-cara pelaksanaan kerja yang aman.
8) Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka penyelenggaraan keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
b. Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja
Penyedia Jasa Konstruksi harus memperhatikan ketentuan sebagai berikut : 1) Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh
(full-time) untuk mengurus dan menyelenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja.
3) Panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit struktural dari organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia jasa.
4) Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia pembina keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah koordinasi pengurus atau Penyedia Jasa, serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.
5) Penyedia jasa harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
a) Memberikan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja fasilitas-fasilitas dalam melaksanakan tugas mereka.
b) Berkonsultasi dengan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja dalam segala hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dalam proyek.
c) Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi dari panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja.
6) Jika 2 (dua) atau lebih Penyedia Jasa bergabung dalam suatu proyek mereka harus bekerja sama membentuk kegiatan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.
c. Laporan kecelakaan
Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang terkait dengan K3, dimana :
1) Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan kepada Instansi yang terkait.
2) Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukkan hal- hal sebagai berikut:
a) Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masing-masing dan
b) Menunjukkan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab- sebabnya.
d. Keselamatan kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan
Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus dibuat sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas pertolongan pertama pada kecelakaan dan peralatan, alat- alat komunikasi dan alat-alat lain serta jalur transportasi, dimana :
1) Tenaga kerja harus diperiksa kesehatannya :
a) Sebelum atau beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali.
b) Secara berkala, sesuai dengan risiko-risiko yang ada pada pekerjaan tersebut.
2) Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan untuk referensi.
3) Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba- tiba, harus dilakukan oleh Dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK).
4) Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat kerja dan dijaga agar tidak dikotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain.
5) Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat untuk kompres, perban, antiseptik, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular.
6) Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain alat-alat PPPK yang diperlukan dalam keadaan darurat.
7) Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan- keterangan/instruksi yang mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti.
8) Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga supaya tetap berisi (tidak boleh kosong).
9) Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan cepat, jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke rumah sakit atau tempat berobat lainnya.
10) Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan strategis yang memberitahukan antara lain :
a) Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK, ambulans, tandu untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat dicari petugas K3.
b) Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor telepon dan nama orang yang bertugas dan lain-lain.
c) Nama, alamat, nomor telepon Dokter, rumah sakit dan tempat penolong yang dapat segera dihubungi dalam keadaan darurat.
e. Pembiayaan keselamatan dan kesehatan kerja
Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diantisipasi sejak dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya suatu pekerjaan konstruksi.
Sehingga pada saat pelelangan menjadi salah satu item pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang. Selanjutnya Penyedia Jasa harus melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penyediaan prasarana, sumberdaya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar, oleh karena itu baik Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini agar dapat melakukan langkah persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya.
2. Ketentuan Teknis a. Aspek lingkungan
Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek lingkungan, Penyedia Jasa harus mendapatkan persetujuan dari direksi pekerjaan.
b. Tempat kerja dan peralatan
Ketentuan teknis pada tempat kerja dan peralatan pada suatu proyek terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut :
1) Pintu masuk dan keluar
a) Pintu masuk dan keluar darurat harus dibuat di tempat-tempat kerja.
b) Alat-alat/tempat-tempat tersebut harus diperlihara dengan baik.
2) Lampu / penerangan
a) Jika penerangan alam tidak sesuai untuk mencegah bahaya, alat- alat penerangan buatan yang cocok dan sesuai harus diadakan di seluruh tempat kerja, termasuk pada gang-gang.
b) Lampu-lampu harus aman, dan terang.
c) Lampu-lampu harus dijaga oleh petugas-petugas bila perlu mencegah bahaya apabila lampu mati/pecah.
3) Ventilasi
a) Di tempat kerja yang tertutup, harus dibuat ventilasi yang sesuai untuk mendapat udara segar.
b) Jika secara teknis tidak mungkin bisa menghilangkan debu, gas yang berbahaya, tenaga kerja harus disediakan alat pelindung diri untuk mencegah bahaya-bahaya tersebut di atas.
4) Kebersihan
a) Bahan-bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus dipindahkan ke tempat yang aman.
b) Semua paku yang menonjol harus disingkirkan atau dibengkokkan untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
c) Sisa-sisa barang alat-alat dan sampah tidak boleh dibiarkan bertumpuk di tempat kerja.
d) Tempat-tempat kerja dan gang-gang yang licin karena oli atau sebab lain harus dibersihkan atau disiram pasir, abu atau sejenisnya.
e) Alat-alat yang mudah dipindah-pindahkan setelah dipakai harus dikembalikan pada tempat penyimpanan semula.
c. Pencegahan terhadap kebakaran dan alat pemadam kebakaran
Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut :
1) Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia:
a) Alat-alat pemadam kebakaran.
b) Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar.
2) Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk menggunakan alat pemadam kebakaran.
3) Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yang berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya.
4) Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat dipindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus selalu dipelihara.
5) Peralatan pemadam kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat dan dicapai.
6) Sekurang kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di tempat-tempat sebagai berikut :
a) di setiap gedung dimana barang-barang yang mudah terbakar disimpan.
b) di tempat-tempat yang terdapat alat-alat untuk mengelas.
7) Beberapa alat pemadam kebakaran dari bahan kimia kering harus disediakan :
a) di tempat yang terdapat barang-barang/benda-benda cair yang mudah terbakar.
b) di tempat yang terdapat oli, bensin, gas dan alat-alat pemanas yang menggunakan api.
c) di tempat yang terdapat aspal dan ketel aspal.
8) Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan- kerusakan teknis.
9) Jika pipa tempat penyimpanan air (reservoir, standpipe) dipasang di suatu gedung, pipa tersebut harus :
a) dipasang di tempat yang strategis demi kelancaran pembuangan.
b) dibuatkan suatu katup pada setiap ujungnya.
c) mempunyai sambungan yang dapat digunakan Dinas Pemadam Kebakaran
d. Perlengkapan keselamatan kerja
Berbagai jenis perlengkapan kerja standar untuk melindungi pekerja dalam melaksanakan tugasnya antara lain sebagai berikut :
1) Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP.
2) Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
3) Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
4) Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai.
5) Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya.
6) Penutup telinga, diperlukan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan alat yang mengeluarkan suara yang keras/bising, misalnya pemadatan tanah dengan stamper dan sebagainya.
3. Pedoman untuk pelaku utama konstruksi a. Pedoman untuk manajemen puncak
Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk mengurangi biaya karena kecelakaan kerja, antara lain :
1) Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer lapangan. Informasi ini digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadap program keselamatan kerja yang telah diterapkan.
2) Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan kerja dengan cara yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring dan pengendalian mengenai biaya dan rencana penjadualan pekerjaan.
3) Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan mengalokasikan biaya kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan.
4) Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat memberikan jaminan bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan dalam kondisi aman.
5) Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang keselamatan kerja dan memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada masing masing divisi (bagian) untuk program keselamatan kerja.
b. Pedoman untuk manajer dan pengawas
Untuk para manajer dan pengawas, hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanan pekerjaan bidang konstruksi :
1) Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja konstruksi sehingga harus menerapkan berbagai aturan, standar untuk meningkatkan K3, juga harus mendorong personil untuk memperbaiki sikap dan kesadaran terhadap K3 melalui komunikasi yang baik, organisasi yang baik, persuasi dan pendidikan, menghargai pekerja untuk tindakan-tindakan aman, serta menetapkan target yang realistis untuk K3.
2) Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerjaan seperti dengan memasukkan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari perencanaan pekerjaan dan memberikan dukungan yang positif.
3) Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan hubungan yang erat dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk menghindari terjadi kecelakaan dan permasalahan dalam proyek konstruksi. Manajer dapat melakukannya dengan cara
a) Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan mengusahakan agar mereka berkenalan akrab dengan personil dari pekerjaan lainnya dan hendaknya memberikan perhatian yang khusus terhadap pekerja yang baru, terutama pada hari- harinya yang pertama.
b) Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor, karena dengan mengerjakan hal itu, kita akan dapat memahami mengenai titik sudut pandang pari pekerja. Cara ini bukanlah mempunyai maksud untuk merusak (“merongrong”) kewibawaan pihak mandor, tetapi lebih mengarah untuk memastikan bahwa pihak pekerja itu telah diperlakukan secara adil (wajar).
c) Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor tetapi juga harus mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun (sebagai manusia) dapat membuat kesalahan.
Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengizinkan para mandor untuk memilih para pekerjanya sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan yang tunggal untuk memberhentikan pekerja).
c. Pedoman untuk mandor
Mandor dapat mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam
pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi dengan :
1) Memperlakukan pekerja yang baru dengan cara yang berbeda, misalnya dengan tidak membiarkan pekerja yang baru itu bekerja sendiri secara langsung atau tidak menempatkannya bersama-sama dengan pekerja yang lama dan kemudian membiarkannya begitu saja.
2) Mengurangi tekanan terhadap pekerjanya, misalnya dengan tidak memberikan target produktivitas yang tinggi tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerjanya.
Selanjutnya manajemen puncak dapat membantu para mandor untuk mengurangi kecelakaan kerja dengan cara berikut ini :
1) Secara pribadi memberikan penekanan mengenai tingkat kepentingan dari keselamatan kerja melalui hubungan mereka yang tidak formal maupun yang formal dengan para mandor di lapangan.
2) Memberikan penekanan mengenai keselamatan kerja dalam rapat pada tataran perusahaan.
d. Pedoman untuk pekerja
Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain adalah :
1) Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan kerja.
2) Tidak melakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang mendukung.
3) Taat pada aturan yang telah ditetapkan.
4) Memahami program keselamatan dan kesehatan kerja.
5) Memahami lingkup kerja yang diberikan.
Q. Pengawasan
1. Setiap saat Direksi harus dapat dengan mudah mengawasi, memeriksa dan menguji setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan, Kontraktor/penyedia barang/jasa harus mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan.
2. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetap luput dari Pengawasan Direksi menjadi tanggung jawab Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa. Pekerjaan tersebut jika diperlukan harus segera dibuka sebagian atau seluruhnya.
3. Jika Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa perlu melaksanakan pekerjaan diluar jam kerja normal sehingga diperlukan Pengawasan oleh Direksi, maka segala biaya untuk itu menjadi beban Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
Permohonan oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa untuk mengadakan pemeriksaan tersebut harus dengan surat disampaikan kepada Direksi Proyek
yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas.
4. Wewenang dalam memberikan keputusan yang berada ditangan petugas- petugas Direksi adalah terbatas pada soal-soal yang jelas tercantum/dimasukan didalam gambar - gambar dan RKS dan risalah penjelasan. Penyimpangan dari padanya haruslah seizin Pemilik Proyek.
R. Pemeriksaan dan Penyediaan Bahan dan Barang
1. Bila dalam RKS disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan barang, maka ini dimaksudkan menunjukkan standard minimal mutu/kualitas bahan dan barang yang digunakan.
2. Setiap barang dan bahan yang ada digunakan harus disampaikan kepada Direksi oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa untuk mendapatkan persetujuan Pemilik Proyek. Waktu penyampaiannya dilaksanakan jauh sebelum pekerjaannya dimulai.
3. Setiap usulan penggunaan nama dan pabrik serta pembuatan dari suatu bahan dan barang harus mendapat rekomendasi dari Direksi berdasarkan petunjuk dalam RKS serta gambar-gambar dan risalah penjelasan selanjutnya usulan tersebut diteruskan untuk mendapatkan perstujuan dari Pemilik Proyek.
4. Contoh bahan dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus diadakan atas biaya Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa setelah disetujui oleh Pemilik Proyek atau Direksi , maka bahan dan barang tersebut seperti di atas yang akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan nanti.
5. Contoh bahan dan barang tersebut disimpan oleh Direksi untuk dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai dengan contoh baik kualitas maupun sifatnya.
6. Dalam pengajuan harga penawaran, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus sudah memasukan sejauh keperluan biaya untuk pengujian berbagai bahan dan barang. Tanpa mengingat jumlah tersebut, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa tetap bertangung jawab pula atas biaya pengajuan bahan dan barang yang tidak memenuhi syarat atas perintah Pemilik Proyek atau Direksi .
S. Rencana Kerja & Syarat Serta Gambar Kerja
1. Gambar-gambar detail merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan pada RKS ini.
2. Jika terdapat perbedaan-perbedaan antara gambar-gambar dengan RKS, Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan mengajukan pertanyaan tertulis kepada Direksi dan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan pula mentaati dan mengikuti keputusan Direksi Proyek yang ditunjuk oleh
Pemberi Tugas.
3. Ukuran-ukuran yang terdapat dalam gambar yang terbesar dan terakhirlah yang berlaku, dan ukuran dengan angka adalah yang harus diikuti dari pada ukuran skala dari gambar-gambar, tapi jika mungkin ukuran ini harus mengambil dari pekerjaan yang sudah selesai.
4. Jika terdapat kekurangan penjelasan-penjelasan dalam gambar atau diperlukan gambar tambahan/gambar detail untuk membesarkan gambar- gambar, atau untuk memungkinkan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan ketentuan, maka Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus dapat membuat gambar tersebut dan dibuat 3 (tiga) rangkap gambar atas biaya Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
5. Apabila ada hal-hal yang disebutkan berulang pada gambar-gambar, RKS atau Dokumen Kontrak lainnya, yang berlainan dan atau penjelasan- penjelasannya bertentangan, maka ini harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu terhadap yang lain, tetapi untuk lebih menegaskan masalahnya. Kalau hal yang menyangkut kelainan harus diinformasikan kepada Direksi untuk mendapatkan keputusannya. RKS, Daftar Volume Pekerjaan (BQ), gambar serta Berita Acara penjelasan Pekerjaan adalah bagian yang saling melengkapi satu sama lain dan sesuatu yang termuat didalamnya bersifat mengikat.
T. Penjelasan Perbedaan Dokumen
1. Bila ada perbedaan ukuran dan atau penjelasan-penjelasan atau tidak sesuai antara gambar yang berlainan bidang/jenisnya, maka pekerjaan tidak boleh laksanakan dan harus diinformasikan kepada Direksi untuk mendapatkan kepastian mengenai gambar yang dipergunakan.
2. Dalam hal terdapat perbedaan antara : a. Surat Perjanjian/Kontrak.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan tambahan serta perubahannya sebagaimana tercantum dalam Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan.
c. Gambar Kerja dan tambahan serta perubahannya sebagaimana tercantum dalam Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan.
d. Surat Penawaran Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa berikut lampiran- lampirannya, maka :
didahulukan atas 2.
didahulukan atas 3.
didahulukan atas 4.
Dan kemudian baru 4.
e. Jika suatu pekerjaan tidak terdapat dalam ketentuan uraian rencana kerja dan syarat-syarat tetapi terdapat dalam gambar kerja, maka yang terakhir tersebut berlaku penuh. Sedangkan bila terjadi perbedaan ukuran dan material antara gambar kerja dan gambar kerja yang lebih detail, maka yang digunakan sebagai patokan adalah pada gambar detail. Apabila dalam pelaksanaan ketentuan tersebut diatas masih terdapat keragu- raguan, maka akan ditetapkan berdasarkan nilai teknis yang lebih tinggi.
U. Gambar Pelaksanaan (Shop Drawing) 1. Shop Drawing
a. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa harus membuat gambar pelaksanaan guna pelaksanaan di lapangan yang harus dibuat berdasarkan gambar- gambar kerja dan disampaikan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan.
b. Pekerjaan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa belum dapat dimulai sebelum gambar pelaksanaan disetujui Direksi .
c. Direksi harus mempunyai waktu yang cukup untuk meneliti gambar pelaksanaan yang diusulkan oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
d. Persetujuan terhadap gambar pelaksanaan bukan berarti menghilangkan tanggung jawab pihak Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa terhadap pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Kelambatan atas proses ini tidak berarti Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa mendapat perpanjangan waktu pelaksanaan.
e. Gambar tersebut diatas harus dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya dan semua biaya pembuatannya ditanggung oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
2. Gambar Yang Berubah Dari Rencana
a. Gambar-gambar yang dapat berubah dengan perintah tertulis Pemilik Proyek berdasarkan pertimbangan Direksi .
b. Perubahan rancangan ini harus digambarkan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pemilik Proyek, yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar-gambar dan gambar perubahan rancangan.
c. Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya (gambar asli).
d. Gambar perubahan yang disetujui oleh Pemilik Proyek atau Direksi kemudian dilampirkan dalam Berita Acara Pekerjaan Tambah Kurang.
3. Gambar Yang Sesuai Dengan Kenyataan
a. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa pada akhir pekerjaannya harus membuat gambar-gambar terakhir sesuai dengan yang terpasang atau yang telah dilaksanakan (as built drawing/as installed drawing). Gambar yang sesuai dengan kenyataan tersebut harus disetujui Direksi.
b. Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya (gambar asli) dan semua biaya pembuatannya ditanggung oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa.
V. Kerusakan Bagian Pekerjaan Oleh Pelaksana/ Kontraktor/ Penyedia Barang/ Jasa/ Sub-Kontraktor/ Penyedia Barang/ Jasa
1. Setiap bagian pekerjaan yang berhubungan dari Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa satu dengan Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa lain, harus selalu dalam koordinasi yang baik, agar kerusakan dari masing-masing bidang pekerjaannya dapat dihindari.
2. Bila kerusakan bagian bangunan tidak bisa dihindari Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa yang bersangkutan diwajibkan memperbaiki bagian yang rusak tersebut seperti keadaan semula dinilai dan disetujui Pemilik Proyek atau Direksi secara tertulis.
W. Penyerahan Pertama
Pada akhirnya pekerjaan menjelang penyerahan pertama :
1. Semua bangunan sementara dibongkar setelah mendapat ijin dari Pemilik Proyek atau Direksi. Tiap bagian pekerjaan harus dalam keadaan baik, bersih utuh tanpa cacat. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan menyerahkan kepada Pemilik Proyek atau Direksi berupa :
(tiga) set gambar "as built drawing" dan seluruh pekerjaan yang dilaksanakannya termasuk gambar perubahan dari rencana.
3 (tiga) album photo berwarna.
2. Membersihkan atau membuang sisa-sisa bahan, sampah dan lain-lain yang tidak berguna pada pelaksanaan pembangunan.
X. Perihal Lainnya
1. Gudang Sementara & Perlengkapan Personil
a. Direksi Keet beserta Kantor Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa ditanggung oleh Kontraktor/ Penyedia Barang/Jasa. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa diwajibkan merawat peralatan milik Pemilik Proyek (bila ada) serta menanggung biaya perawatan peralatan serta pemakaian listrik selama berlangsungnya pekerjaan.
b. Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib mempunyai gudang sementara tempat penyimpanan. Material harus terlindung dengan baik. Gudang dilengkapi dengan pintu serta kunci secukupnya. Gudang dibongkar setelah mendapat persetujuan dari Direksi .
c. Perlengkapan Kantor Kelengkapan kantor Direksi keet harus disediakan oleh Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa. Perlengkapan Personil Direksi Kontraktor/Penyedia Barang/Jasa wajib menyediakan perlengkapan kerja personil untuk pelaksanaan pekerjaan proyek.
2. Pengamanan Barang-Barang Yang Diadakan
a. Selama barang-barang yang diadakan belum terpasang, kontraktor/penyedia barang wajib mempunyai gudang untuk menampung sementara barang yang dipesan tanpa adanya tambahan biaya.
b. Keutuhan dan keamanan barang-barang tersebut belum dipasang masih menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa.
Y. Unsur Pekerjaan Yang Disebutkan Kembali
Apabila dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis ini ada bagian- bagian/bab-bab yang menyebutkan kembali setiap unsur pekerjaan pada item/ayat lain, maka ini bukan berarti menghilangkan item/ayat tersebut tetapi dengan pengertian lebih menegaskan.
BAB II
PERSYARATAN TEKNIS
I. Persiapan
A. Pekerjaan Persiapan 1. Pemberitahuan
a. Sebelum memulai pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan harus memberitahukan kepada Konsultan Direksi guna pemeriksaan awal dan izin Pelaksana Pekerjaan.
b. Waktu pemberitahuan 2 X 24 jam sebelum memulai Pekerjaan.
2. Pemeriksaan
Pelaksana sebelumnya harus yakin akan kesiapan lokasi dan segala akibat yang mungkin dapat timbul dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Persetujuan izin memulai pelaksanaan Pekerjaan setelah pemeriksaan kondisi lokasi bersama- sama Konsultan Direksi dan Pelaksana Pekerjaan.
3. Pemutusan Jalur-jalur lnstalasi
a. Amankan jalur-ialur instalasi air, listrik, gas atau instatasi lain di lapangan sebelum pekerjaan pembongkaran dimulai. Cara memutus aliran dan menutup jalur dengan izin Konsultan Direksi
b. Penguasa setempat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
4. Pengamanan Peralatan
Pelaksana pekerjaan harus mengamankan/melindungi peratatan kantor yang ada di dalam ruangan dari kerusakan atau cacat lainnya akibat Pekerjaan pembongkaran, jika hal tersebut di atas terjadi, maka segala perbaikannya menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan.
5. Mobilisasi/Demobilisasi Bahan Peralatan
a. Mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.
b. Mempersiapkan fasilitas seperti kantor/direksi keet, gudang, dan , gudang, dan sebagainya. sebagainya.
c. Mendatangkan personil dan tenaga kerja lapangan.
d. Mobilisasi peralatan terkait dan personil penyedia barang/jasa dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan.
e. Mobilisasi pengangkatan bahan dan alat dari lantai dasar ke lantai 5.
6. Demobiliasi Bahan dan Peralatan
Pelaksana pekerjaan mengembalikan kondisi semula area yang telah dipakai untuk pemindahan barang maupun tempat untuk pengerjaan.
B. Pekerjaan Arsitektur
1. Pekerjaan Backdrop Stage, Stage/Panggung, Ruang Kontrol a. Umum
Pekerjaan yang mencakup pembuatan rangka stage/panggung (pengelasan), pelapisan dan dekorasi stage/panggung, Ruang Kontrol.
Ketinggian rangka panggung dari peil lantai adalah 30 cm.
b. Lingkup Pekerjaan
Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan pembuatan rangka stage/panggung, sesuai dengan detail yang ditunjukkan pada gambar maupun Bill Of Quantities :
1) Pasang rangka backdrop stage menggunakan besi hollow galvanis ukuran 40 X 60 mm tebal 1,2 dan besi baja hollow galvanis 40 X 40 mm tebal 1,2 mm sesuai dengan gambar.
2) Rangka di kunci dengan conector bawah menggunakan angkur/plat besi ditanam dilantai dengan pengunci dynabolt mour baut Ø 13 mm.
3) Rangka bagian atas dikunci dengan menyesuaikan atap eksisting bangunangan menggunakan mour dan baut.
4) Pasang penutup rangka backdrop menggunakan multiplek/plywood dengan ketebalan 9 mm finishing HPL (Taco) 0,7 mm. Ultimate HPL Woodgrain warna sesuai gambar coklat, hitam dan krem.
5) Pasang Rangka Stage/Panggung Besi Baja Hollow Galvanis 40x40 mm tebal 1,2 mm, .
6) Pembuatan ruang control sesuai ukuran dengan rangka hollow galvanis 40X60 mm dan 40 X 40 mm dengan ketebalan 1,2 mm. dan untuk penutup bagian luar menggunakan multiplek/plywood 9 mm dengan finishing HPL Taco.
7) Ruangka control dipasang jendela mati/M dari bahan alumunium 4 inc YKK, tebal kaca 5 cm dengan dimensi sesuai gambar DED.
8) Kaca dilapisi dengan stiker oneway sesuai dengan warna HPL.
9) Pembuatan rigging stage/panggung dengan rangka besi 40 X 40 m, ketebalan 1,2 mm dengan penyambung antar rangka mengunakan pengelasan dan pengunci menggunakan dynabolt Ø13 mm.
10)Lantai stage menggunakan multiplek 12 mm, dengan lapisan atas underlayer dan finishing karpet Crown warna coklat gelap.
c. Persyaratan Bahan
Rangka stage/panggung dari Besi Baja Hollow Galvanis uk. 40x40 mm, dan besi Baja Hollow Galvanis Uk. 40 X 60 dengan ketebalan 1,2 mm.
Penutup rangka lantai adalah Multiplek/Plywood tebal 9 mm dengan
finishing penutup : karpet (termasuk underlayer).
Pasang Underlayer Foam/Pelapis Bawah Karpet Panggung Underlayer Tebal 1,2 mm Material Dasar : SBR - Latex, backing ,
Pasang Karpet Panggung Crowinet Warna Merah (CR 670) Merk Crown.
Dekorasi backdrop sesuai dengan gambar dengan motif (rumah lebah) dengan bahan multiplek, dan hiasan lampu LED.
Pemasangan lampu LED Acrylic dengan warna biru muda.
Pemasangan LED TEXT “PASCASARJANA FAKULTAS PETERNAKAN”
dengan ukurna Panjang 3 meter, dan tinggi 16 cm dengan warna lampu dan acrylic biru muda.
Pemasangan Foto Presiden dan Wakil Presiden dengan bingkai kayu sesuai dengan ukuran yang tertera di DED.
d. Syarat Pelaksanaan
Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan dalam buku ini.
Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian.
Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh Perencana/Supervisi.
Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan, diberi tanda untuk mudah diketahui, tanda-tanda tidak boleh menggunakan kapur.
e. Pemasangan Rangka Besi Baja Hollow Galvanis
Semua pekerjaan harus dirakit dan dipasang sesuai dengan gambar rencana dan shop drawing yang sudah disetujui Konsultan Pengawas dan dilaksanakan oleh Penyedia/Kontraktor yang mempunyai tenaga ahli di bidang pekerjaan ini. Sebelum pemasangan rangka partisi dibuat tanda/marking terlebih dahulu di atas bidang lantai sesuai gambar rencana dan diajukan untuk diperiksa terlebih dahulu oleh Konsultan Pengawas. Pada kegiatan pabrikasi, pemotongan besi hendaknya dijauhkan dari meterial aluminium untuk menghindari penempelan debu besi pada permukaannya
Untuk pekerjaan pengelasan penggunaan non activated gas (argon).
Dilaksanakan dari arah bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata. Pengelasan harus rapi untuk memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan gambar serta tidak meyebabkan deformasi material.
Detail-detail pada setiap pertemuan harus rapi, halus dan rata bersih dari goresan atau cacat.
Pada setiap pertemuan besi galvanis dengan beton, dinding dan sebagainya harus diberi lapisan kedap air yang memakai seal elastis ex Thiokol.
Besi yang dipasang bagian bawah di baut dengan angkur yag kuat dan di tanam lalu di cor sesuai dengan gambar. Rangka besi hollow harus siku, tegak, kaku dan kuat.
Pada saat keseluruhan rangka besi hollow terpasang sesuai gambar rencana, sebelum difinishing dengan karpet, perlu diperhatikan pula mengenai jalur-jalur instalasi listrik (kabel-kabel stop kontak) dan instalasi sound system (kabel-kabel mic conference) sebagai pendukung meja panggung. Kabel instalasi-instalasi tersebut ditempatkan sedemikan rupa di dalam rangka panggung dibawah lantai panggung.
Untuk kemanan, kabel instalasi listrik menggunakan kabel jenis NYM 2x2,5 dengan menggunakan terminal jika terjadi sambungan pada kabelnya dan diteruskan ke lantai panggung untuk disambungkan ke stop kontak yang beradapada meja panggung.
Pemasangan instalasi listrik pada rangka panggung harus diperhatikan dengan teliti dan mempertimbangkan tingkat keamanan karena material rangka dari besi notabene sangat responsive pada aliran listrik. Sebelum memasang instalasi listrik pada rangka panggung hendaknya melaporkan dan meminta persetujuan dari Pengawas pekerjaan.
2. Pekerjaan Backdrop Stage/Panggung a. Umum
Pekerjaan yang mencakup pembuatan rangka backdrop stage, pelapisan dan dekorasi backdrop stage, pembuatan accessories stage, dan pembuatan ruang control.
b. Lingkup Pekerjaan
Bagian ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan pembuatan rangka backdrop, pintu sesuai dengan detail yang ditunjukkan pada gambar maupun Bill Of Quantities :
1) Pasang Rangka Backdrop besi hollow galvanis 40x60 dan 40x40 mm, 2) Pasang Dekorasi panel Backdrop dan bracket besi cabinet videotron.
3) Pasang rangka ruang control.
4) Pasang rangka jendela almunium dan kaca 5) Pasang pintu ruang operator
6) Pasang meja custom ruang operator.
7) Pasang dinding backdrop mulitiplex finish HPL.
8) Pasang dinding ruang operator multiplex finish HPL.
9) Pasang aksesoris backdrop (gambar presiden, gambar wakil presiden, gambar Garuda Pancasila, arcrylic letter lampu LED).
10) Pasang kaca ruang operator c. Persyaratan Bahan
1) Rangka backdrop dan ruang control dari hollow 40x60 mm dan 40x40 mm, dengan ketebalan 1,2 mm.
2) Penutup backdrop adalah multiplek/plywood 9 mm pelapis HPL.
3) High Pressure Laminate (HPL) yang dipakai adalah Taco motif kayu dan warna solid atau setara, warna sesuai dengan skema warna dan material yang dikeluarkan oleh Perencana.
4) Tebal HPL yang disyaratkan adalah minimum 0,8 mm, Untuk finishing HPL dengan profit post forming adalah dengan ketebalan maksimal 0,8 mm.
5) Kusen untuk jendela ruang operator menggunakan Aluminium jenis extrusion merk YKK.
6) Kaca ruang operator menggunakan kaca Reflective Glass / One Way produksi Asahimas dengan ketebalan 5 mm.
7) Meja ruang operator menggunakan bahan multiplek tebal 12 mm dengan pelapis HPL.
8) Pintu ruang operator adalah menggunakan multiplek dan rangka kayu yang bebas dari cacat retak dan pecah (terbuat dari kayu solid) dengan motif HPL sesuai backdrop (kamuflase), dilengkapi dengan accessories yang dipakai yaitu handle pintu, engsel, kunci setara dekson.
9) Bahan dekorasi ornament dari acrylic finishing laser sesuai gambar yang tertera dengan lebar 100 cm dan ketebalan 2 mm.
d. Syarat Pelaksanaan
1) Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan dalam buku ini.
2) Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian.
3) Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh Perencana/Supervisi.
4) Bahan yang telah terpasang harus dilindungai dari kerusakan dan banturan, diberi tanda untuk mudah dikethaui, tanda-tanda tidak boleh menggunakan kapur.
5) Pemasangan rangka backdrop sesuai dengan gambar dimensi, dibagian bawah.
6) Pemotongan multilek dan HPL harus diseuskan ukuran rangka.
7) Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, bebas dari goresan/gompel (Chipping)
e. Pemasangan Rangka Besi Backdrop dan Ruang Operator
1) Semua pekerjaan harus dirakit dan dipasang sesuai dengan gambar rencana dan shop drawing yang sudah disetujui Konsultan Pengawas dan dilaksanakan oleh Penyedia/Kontraktor yang mempunyai tenaga ahli di bidang pekerjaan ini.
2) Sebelum pemasangan rangka partisi dibuat tanda/marking terlebih dahulu di atasbidang lantai sesuai gambar rencana dan diajukan untuk diperiksa terlebih dahuluoleh Konsultan Pengawas.
3) Pada kegiatan pabrikasi, pemotongan besi hendaknya dijauhkan dari meterial aluminium untuk menghindari penempelan debu besi pada permukaannya
4) Untuk pekerjaan pengelasan penggunaan non activated gas (argon).
Dilaksanakan dari arah bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata. Pengelasan harus rapi untuk memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan gambar serta tidak meyebabkan deformasi material.
5) Detail-detail pada setiap pertemuan harus rapi, halus dan rata bersih dari goresan atau cacat.
6) Pada setiap pertemuan besi galvanis dengan beton, dinding dan sebagainya harus diberi lapisan kedap air yang memakai seal elastis ex thiokol.
7) Besi yang dipasang bagian bawah di baut dengan angkur yag kuat dan di tanam lalu di cor sesuai dengan gambar. Modul rangka vertikal hollow untuk back drop adalah setiap berjarak peras = 100 cm.
Rangka besi hollow harus siku, tegak, kaku dan kuat.
f. Backdrop Multiplex dan Accessories
Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan peil), termasuk mempelajari bentuk, pola lay-out / penempatan, cara pemasangan, mekanis medan detail-detail sesuai gambar.
Juga terlebih dahulu harus memeriksa untuk dikoordinasikan dengan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan partisi, diantaranya adalah :
• Pekerjaan Instalasi pada dinding- Pekerjaan kosen, dan lain sebagainya yang terkait dalam terlaksananya pekerjaan ini.
• Multiplex yang dipasang adalah yang telah dipilih dengan baik, bentuk dan ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang retak, gompal atau cacat-cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
• Bahan penutup multiplex dengan mutu bahan seperti yang telah dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
• Penutup partisi dipasang dengan sekrup khusus, dengan menggunakan alat bor listrik dan setiap pemasangan masing-masing sekrup sejajar minimal berjarak 30 cm.
• Setelah panel board terpasang, bidang permukaan partisi harus rata, lurus dan siku, dan antara unit-unit tidak terlihat bergelombang dan sambungan.
• Untuk menguji kesikuan/kerataan bidang partisi, dilakukan dengan menggunakan waterpas khusus, dan diperiksa bersama-sama Konsultan Pengawas.
• Finishing HPL :- Proses laminasi sebaiknya dipress secara hydrolis (High Pressure system ) dibengkel/work-shop Kontraktor.
• Arah serat dari HPL, sesuai yang ditunjukkan dalam gambar rencana/desain.
• Permukaan HPL dilarang keras diamplas.
• Pemasangan ornament berukuran lebar 100 cm dengan background hitam, dan acrylic berwarna putih, sesuai dengan bentuk ornament gambar. Bagian ornament dekorasi di tempel dengan dengan menggunakan baut dan presisi. Bahan yang terbuat dari acrylic finishing laser dengan ketebalan 2 mm.
• Pemasangan tulisan acrylic 3 dimensi menyala (LED Letter) dengan ukuran yang sesuai gambar dengan dimensi 4 meter dan lebar 25 cm dengan tulisan huruf kapital “FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERISTAS BRAWIJAYA”, dengan warna Lampu LED menyala warna biru, dipasang secara kuat dengan di skrup ke bakdrop.
• Pemasangan tulisan acrylic memakai jenis font yang jelas.
• Pemasangan gambar foto presiden, wakil presiden dibingkai dari kayu dengan menyesuaikan ukuran backdrop, dan pada bagian tengah dipasang Loga PANCASILA yang terbuat dari acrylic.
g. Jendela dan Pintu Kamuflase Ruang Kontrol
1) Pemasangan alumunium dan kaca untuk jendela 1 dan jendela 2 dipasang rapi dari sambungan vertikal maupun horizontal, sambungan sudut maupun silang, demikian juga pengkombinasian profil-profil aluminium harus dipasang sempurna (bila perlu dengan skrup-skrup pengaku)
2) Sebelum memasang kaca, semua kotoran dan bekas-bekas minyak harus dibersihkan sehingga tidak mengganggu perletakan. Kaca-kaca