Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
(RTBL)
R T B L
Pedoman Umum dalam Perencanaan Tata Bangunan dan Lingkungan merupakan
panduan dalam merancang dan
membangun suatu lingkungan/kawasan;
yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan
serta penataan lingkungan.
Hal ini terkait dengan upaya untuk membuat suatu desain fisik dan spasial pada sebuah kawasan yang dapat meningkatkan kualitas fisik lingkunganya, seperti yang dikemukakan oleh Shirvani, Urban Design is the part of the planning process that deals with the physical quality of the environment. ………
it is the physical and spatial design of the environment (Shirvani, 1985, p.5-44).
Tujuan Pembuatan RTBL
antara lain:
• Menghindari pertumbuhan kawasan yang tidak terarah dan tidak terkendali; serta mendorong ke arah keseragaman wajah/rupa kota
• Mempertahankan Keunggulan Spesifik suatu kawasan sebagai kawasan yang berjati diri
Contoh kawasan spesifik dengan lay-out site plan mempunyai bentuk radial
Lingkup Penataan RTBL
1. Perbaikan kawasan, misal seperti penataan lingkungan permukiman kumuh/nelayan , Perbaikan desa-pusat
pertumbuhan, Perbaikan kawasan, Pelestarian kawasan
2. Pengembangan kembali kawasan, misal seperti
peremajaan kawasan, pengembangan kawasan terpadu, dsb
3. Pembangunan baru kawasan, seperti pembangunan kawasan permukiman (kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun), pembangunan kawasan terpadu, dsb
4. Pelestarian/Perlindungan kawasan, seperti
pengendalian kawasan pelestarian, revitalisasi kawasan, dsb
Manfaat Penataan RTBL
antara lain:
• Mewujudkan kesatuan karakter dan meningkatkan kualitas bangunan gedung dan lingkungan/kawasan
• Mengendalikan pertumbuhan fisik suatu lingkungan/kawasan
• Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
Komponen-Komponen Rancangan:
untuk mewujudkan tujuan dan manfaat dalam merancang tata bangunan dan lingkungan perlu di uraiakan aspek-aspek apa saja yang perlu di perhatikan, seperti:
1. Struktur Peruntukan Lahan
2. Intensitas Pemanfaatan Lahan 3. Tata Bangunan
4. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung 5. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau 6. Tata Kualitas Lingkungan
7. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan
1. Struktur Peruntukan Lahan
mencakup:• Peruntukan Lahan Makro (land-use)
• Peruntukan Lahan Mikro (lebih rinci)
• Peruntukan lantai basement, lantai dasar, maupun lantai atas
• Peruntukan lahan tertentu
Contoh: Peruntukan di bantaran sungai
2. Intensitas Pemanfaatan Lahan
mencakup aspek:• Pengaturan Blok Lingkungan;
• Pengaturan Kaveling;
• Pengaturan Bangunan;
• Pengaturan Ketinggian & Elevasi Lantai Bangunan
Contoh: Pengaturan GSB pada penataan hunian
3. Tata Bangunan
mencakup aspek:• Pengaturan Blok Lingkungan
• Pengaturan Kaveling
• Pengaturan Bangunan
• Pengaturan Ketinggian & Elevasi Lantai Bangunan
Contoh: penataan blok plan hunian Maisonette
4. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
meliputi:• Jaringan Jalan & Pergerakan
• Sirkulasi Kendaraan Umum
• Sirkulasi Kendaraan Pribadi
• Sirkulasi Kendaraan Umum Informal Setempat
• Pergerakan Transit
• Parkir
• Jalur Servis Lingkungan
• Sirkulasi Pejalan Kaki & Sepeda
• Jalur Penghubung Terpadu
Contoh: jalur pedestrian yang dilengkapi dengan halte dan street furniture lainnya
5. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau
meliputi :• Ruang Terbuka Umum;
• Ruang Terbuka Pribadi;
• Ruang Terbuka Pribadi Untuk Umum;
• Pepohonan & Tata Hijau;
• Bentang Alam;
• Jalur Hijau
Contoh: Ruang Terbuka Umum
• Adalah Ruang yang karakter fisiknya terbuka, bebas dan mudah diakses
publik/umum,
karena bukan milik pihak tertentu
• Diterapkan pada desain taman kota
6. Tata Kualitas Lingkungan
akan menghasilkan
• Konsep Identitas Lingkungan
• Konsep Orientasi Lingkungan dan
• Wajah Jalan
Contoh: Karakter lingkungan yang ramah lingkungan, dengan adanya ruang terbuka hijau yang cukup
7. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan
• Jaringan Air Bersih
• Jaringan Air Limbah & Air Kotor
• Jaringan Drainase
• Jaringan Persampahan
• Jaringan Listrik
• Jaringan Telepon
• Jaringan Pengamanan Kebakaran
• Jaringan Jalur Evakuasi.
Contoh: Sistem drainase menggunakan sumur resapan yang ditempatkan di tengah jalan