STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENGATASI KESULITAN BACA TULIS AL-QUR’AN
DENGAN APLIKASI CINTA QUR’AN DI KELAS VIII SMPN 2 JABIREN RAYA
Heni Rianti
Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya E-mail: [email protected]
Abstract
Penelitian ini bertolak dari adanya masalah strategi guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 2 Jabiren Raya, ada anak yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, ada anak yang bisa membaca Al-Qur’an, bahkan ada anak yang tidak bisa mengenal huruf dan menulisnya. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimana strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan baca tulis Al-Qur’an Pada Siswa SMPN 2 Jabiren Raya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana strategi guru Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SMPN 2 Jabiren Raya dalam mengatasi kesulitan baca tulis al-Qur’an, Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan strategi guru Pendidikan Agama Islam pada siswa SMPN 2 Jabiren Raya, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, subjek penelitian, 1 orang guru Pendidikan Agama Islam, informan delapan belas orang siswa kelas VIII.
Teknik pengumpulan data : 1. Wawancara, 2. Observasi, 3. Dokumentasi, teknik pengabsahan data, dan teknik analisis data menggunakan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kesulitan membaca Al-Qur’an dengan menggunakan aplikasi android yaitu aplikasi Cinta Qur’an cukup bagus, dengan menggunakan strategi ini lebih afektif menekankan kepada siswa agar lebih aktif lagi dikelas dan agar bisa memahami setiap hurufnya serta bagaimana cara baca dan menulisnya.
Kata kunci: strategi, guru PAI, baca tulis Al-Qur’an
Pendahuluan
Guru atau pendidik, merupakan salah satu penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Inilah sebabnya mengapa setiap inovasi pendidikan, terutama perbaikan kurikulum dan sumber daya manusia akibat upaya pendidikan, selalu dikaitkan dengan faktor guru. Ini menunjukan peran guru dalam pendidikan. ( Basyirudin, 2002: 20)
Strategi pembelajaran merupakan suatu alat atau perantara yang berguna
komunikasi antara guru dan peserta didik. Menurut Sardiman A. M.
mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan. Maksudnya tidak lain bahwa kegiatan pendidikan dan pengajaran itu suatu peristiwa yang terikat, terarah pada tujuan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan peserta didik menerima dan memahami pelajaran yang disampaikan. Strategi pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan dalam mempelajari Al-Qur’an, khususnya dalam hal baca tulis Al- Qur’an. Membaca ayat-ayat suci al- Qur’an bukanlah pekerjaan atau beban sebagaimana kegiatan lain yang sering dikerjakan setiap hari, melainkan merupakan sebuah tuntunan dan kebutuhan setiap umat Islam sebagai jati diri.
(Badwilan, 2008: 1).
Membaca Al-Quran bukan saja merupakan ibadah, tetapi juga menjadi obat penawar bagi orang yang gelisah hatinya. Maka dari itu tidak mengherankan lagi membaca Al-Quran bagi setiap muslim di manapun ia berada telah menjadi tradisi. Keutamaannya telah dikenal luas, dapat mendatangkan ketenangan dan kedamaian jiwa. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al- Fushshilat 44:
اَل اَنْيِذَّلا َو ۗ ا ءۤاَفِش َّو ىًدُه ا ْوُنَمٰا اَنْيِذَّلِل اَوُه اْلُق ا ۗ ا يِب َرَع َّوا يِمَجْعََ۬اَء ا ۗ ا هُتٰيٰا اْتَل ِ صُف اَل ْوَل ا ْوُلاَقَّل اًّياِمَجْعَا اًنٰا ْرُق اُهٰناْلَعَجاْوَل َو ا دْيِعَب ا ناَكَّم اْناِم اَن ْوَداَنُي اَكِٕىٰۤلوُا ا ىًمَع اْمِهْيَلَعاَوُه َّوا رْق َواْمِهِناَذٰاا ْيِف اَن ْوُنِم ْؤُي
Artinya: ”Dan Jikalau Kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat- ayatnya?" Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka.
Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh".
Membaca Al-Qur’an dihukumi sebagai ibadah yang dilipat gandakan dari setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca sebagaimana hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu
satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi, no.
2910. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih)
Kemudian juga pada aspek kegiatan menulis Al-Qur’an yang dilakukan peserta didik berguna untuk memahami dan mencatat teks atau lambang bahasa dalam AlQur’an yang ditulis dengan huruf arab atau Hijaiyah, yang bertujuan untuk mampu mengenal, membaca huruf, kata serta kalimat dan potongan-potongan ayat alQur’an dengan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.
Anjuran Mendidik dalam hal menulis Al-Qur’an Selain menyeru anak membaca Al Qur’an oleh Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya mendidik anak menulis huruf-huruf Al Qur’an. Anak diharapkan memiliki kemampuan menulis (kitabah) Al Qur’an dengan baik dan benar, baik dengan cara imla’ ataupun dengan cara menyalin (nask) dari mushaf.
Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Qalam : 1
ا َن ْو ُرُطْسَي اَم َواِمَلَقْلا َو اۤن
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis” Kata “Al-Qalam” menyeru kepada umat manusia untuk menulis dan mencatat (mengikat makna dan monumenkan gagasan). Kitab suci Al Qur’an sendiri diberikan nama lain yang tidak kalah terkenalnya, yaitu Al Kitab yang berarti sesuatu yang tertulis.
Tersirat dari nama ini pentingnya memelihara Al Qur’an dengan menggalakkan kegiatan tulis menulis. Hasan bin Ali r.a berpendapat,“Barang siapa yang tidak mampu menghafal, hendaklah dia mencatat atau menuliskannya”.Cara Menulis Huruf Al Qur’an (Huruf Arab) Ada beberapa cara penulisan dalam Al Qur’an, yaitu: 1) Penulisan huruf Arab dimulai dari arah sebelah kanan ke kiri,2) Huruf-huruf itu ada yang dapat menyambung dan disambung, ada yang bisa disambung tetapi tidak bisa menyambung. Di antara huruf hijaiyyah di bawah ini adalah huruf-huruf yang dapat disambung tetapi tidak dapat menyambung. 3 و از ار ذ د ا) Masing-masing mempunyai bentuk huruf sesuai posisinya (di awal, di tengah maupun di akhir) 4) Semua huruf Arab adalah konsonan, termasuk alif, waw dan ya (sering disebut huruf illat), maka mereka memerlukan tanda vokal (syakkal).
Beberapa indikator yang harus dikuasai dalam menulis Al Qur’an, antara lain:
1) Menulis huruf tunggal, 2) Menulis huruf berharakat 3), Menuliskan huruf sambung terdiri dari beberapa huruf, kalimat (kata) dan beberapa kalimat, 4) Menyalin ayat Al Qur’an dengan melihat teks Al Qur’an maupun dilakukan secara imla atau dikte. Pelaksanaannya di sini guru PAI mengajarkan kepada peserta didik menulis huruf hijaiyah mulai dari Alif (ا (sampai (ي(. Guru juga
mengenalkan bahwa, menulis huruf hijaiyah dimulai dari sebelah kanan ke sebelah kiri. Dan juga guru menjelaskan cara menulis alif dari atas kebawah begitu juga cara menulis huruf lainnya.setelah siswa terampil menulis huruf hijaiyah baru siswa disuruh untuk menulis huruf hijaiyah terpisah beserta tanda bacanya. Sehingga tercapai indikator dari pembelajaran. Dengan demikian, indikator ketercapaian menulis pada tahap ini, di upayakan agar siswa mampu : a) Menuliskan huruf – huruf hijaiyah dengan baik, tepat, dan rapi. b) Menuliskan huruf – huruf hijaiyah secara terpisah lengkap dengan tanda bacanya dengan baik, tepat, dan rapi. c) Menulis huruf – huruf hijaiyah bersambung dan tanda bacanya, 2) Menulis huruf hijaiyah bersambung dengan tanda bacanya. Guru mengenalkan mana huruf hijaiyah yang bisa disambung dan yang tidak bisa disambung. Dan juga bagaimana cara menyambung huruf pada awal, tengah dan akhir kalimat dalam suatu ayat. Dengan begitu maka siswa akan dapat mencapai indikator ini. Dengan demikian, indikator ketercapaian menulis pada tahap ini, di upayakan agar siswa mampu : a) Menuliskan huruf – huruf hijaiyah secara bersambung lengkap dengan tanda bacanya dengan baik, tepat, dan rapi. b) Menuliskan kalimat pendek teks arab dengan tanda bacanya dengan baik, tepat, dan rapi. c) Menulis surah – surah Juz’ Amaa dan hadits-hadits dan tanda bacanya. 3) Menulis surah-surah pada juz ’amaa dn hadits-hadits pilihan beserta tanda bacanya, karena siswa telah menguasai cara penulisannya. Dengan demikian indikator ketercapaian menulis pada tahap ini, di upayakan agar siswa mampu: a) Menuliskan ayat- ayat Al Qur’an dan hadits dengan baik, tepat, dan rapi. b) Menulis surat-surat dalam juz ‘amaa dan hadits-hadits pilihan yang menjadi materi pelajaran dengan baik, tepat dan rapi.(Lutfi,2011:22)
Penyebab dari kurang lancarnya peserta didik dalam membaca dan menulis al-Qur’an diantaranya karena kurangnya kreatifitas guru ketika proses pembelajaran . Dengan seperti itu strategi guru sangat diperlukan terutama guru PAI untuk mengatasi permasalahan peserta didik yang belum bisa dan belum lancar membaca dan menulis al-Qur’an. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru PAI dalam mengatasi kesulitan membaca dan menulis al-Qur’an siswa di SMPN 2 Jabiren Raya khususnya kelas VIII.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dimaksudkan untuk mengetahui dan mengambarkan tentang strategi guru dalam mengatasi kesulitan membaca dan menulis Al-Qur’an pada siswa kelas
VIII SMPN 2 Jabiren Raya. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah Mendeskripsikan bentuk strategi guru PAI mengatasi kesulitan baca tulis al-qur’an menggunakan aplikasi android (Cinta Qur’an) siswa kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya.
Metode/Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dimaksudkan untuk mengetahui dan mengambarkan tentang strategi guru dalam mengatasi kesulitan membaca dan menulis Al-Qur’an pada siswa kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan
“pendekatan kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik, etnografi, interaksionis simbolik, perspektif ke dalam, etnometodologi, fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris (studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksi, dan visual) yang menggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif.
Identifikasi Subbagian
Subjek dalam penelitian ini adalah 1 orang guru yang mengajar mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an dan siswa yang berada di kelas VIII pada SMPN 2 Jabiren Raya. Objek dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran baca tulis Al-qur’an dan siswa yang berada di kelas VIII pada SMPN 2 Jabiren Raya.
Alokasi waktu dalam penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan terhitung dari tanggal 21 Juli – 21 Agustus 2023. Adapun tempat penelitian di SMPN 2 Jabiren Raya jalan Lintas Kalimantan Km. 35 desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau, Propinsi Kalimantan Tengah. Prosedur penelitian ini digunakan sebagaimana pendapat Moleong, terdiri dari tahap : pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data. (Arikunto, 1998: 99) Sebagaimana dijelaskan berikut : 1. Pra-lapangan, 2.
Pekerjaan lapangan, 3. Analisis data. Indikator keberhasilan PTK didasarkan kepada ketentuan : 1. Kemampuan anak dalam motorik halus dikategorikan berhasil dengan baik minimal 80 %.,2. Kemampuan anak dalam motorik halus dikategorikan sedang apabila hasil mencapai 50%-79%,3. Kemampuan anak dalam motorik halus dikategorikan kurang apabila hasil hanya mencapai < 50%.
Data yang berkenaan dengan bagaimana strategi guru PAI mengatasi kesulitan baca tulis al-qur’an dengan aplikasi cinta qur’an di kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya dengan dibatasi pada peserta didik kelas VIII saja. Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperolah dari sumber : dokumen SMPN 2 Jabiren Raya seperti sejarah berdirinya SMPN 2 Jabiren Raya, visi misi, dan data warga sekolah. menggunakan teknik purposive sampling. Objek penelitian ini yaitu upaya strategi guru PAI mengatasi kesulitan baca tulis al-qur’an dengan aplikasi cinta qur’an di Kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya di Desa Tumbang Nusa sebanyak 18 orang anak. Sedangkan sumber sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui perantara dan umumnya berasal dari buku, manuskrip dan foto melalui sumber yang dipublikasikan. Misalnya buku-buku berkaitan tentang strategi guru PAI mengatasi kesulitan baca tulis al-qur’an dengan aplikasi cinta qur’an di kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya yakni kesulitan baca tulis Al-qur’an yang menjadi fokus penelitian ini, visi misi SMPN 2 Jabiren Raya di Desa Tumbang Nusa, foto-foto yang berhubungan dengan fokus penelitian. Untuk mendapatkan data yang valid maka peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain : 1.Wawancara, 2.Observasi, 3.
Dokumentasi.
Karakteristik Peserta (Subjek)
Sumber primer dimaksud adalah langsung dari subjek penelitian ini adalah 18 peserta didik SMP di Desa Tumbang Nusa dalam menentukan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Sebagaimana pendapat Arikunto “bertujuan tertentu berdasarkan pertimbangan dengan menggunakan syarat yang harus dipenuhi”. Adapun ciri-ciri subjek penelitian ini adalah : 1.
Siswa tersebut berdomisili di Desa Tumbang Nusa, 2. Pekerjaan orang tua/ibu pedagang/IRT, 3. Ketersediaan subjek yang sesuai dengan penelitian
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian pembelajaran siklus I, diterapkan model demonstrasi/praktik dengan melibatkan peserta didik dalam proses eksplorasi dan penemuan mengenai kesulitan baca tulis Qur’an pada surah Q.S. ar- Rum/30:41, Ibrahim/14:32, dan az- Zukhruf/43:13. Peserta didik diberikan tugas-tugas untuk mencari informasi melalui referensi buku, sumber daring, dan diskusi kelompok. pada akhir siklus I, terdapat beberapa kendala yang diidentifikasi, seperti sebagian peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menemukan informasi yang relevan dan terstruktur. Selain itu, beberapa siswa cenderung bergantung pada panduan guru dalam menyelesaikan tugas-tugas eksplorasi.
Siklus ke II, diterapkan model pembelajaran dengan menggunakan aplikasi cinta Qur’an. Pada siklus II peneliti melaksanakan tindakan sesuai perencanaan yang dibuat sebelumnya, setelah melakukan refleksi pada siklus sebelumnya yaitu siklus I.
Tahap awal adalah perencanaan, dimana peneliti dan sekaligus guru mata pelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) mengembangkan rencana tindakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Sebelum melakukan tindakan peneliti dan guru mata pelajaran menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model cinta Qur’an pada pembelajaran surah Q.S. ar- Rum/30:41, Ibrahim/14:32, dan az- Zukhruf/43:13 (2x pertemuan). Sebagai alat penunjang, model pembelajaran cinta Qur’an peneliti menyiapkan perlengkapan pembelajaran berupa sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan. Peneliti juga menyusun instrument tes siklus II, lembar observasi, catatan lapangan, lembar keaktifan siswa dan lembar pengamatan pertemuan.
Siklus II ini diawali dengan pretest selama 15 menit. Kemudian guru memimpin siswa-siswi untuk berdoa terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai. Tak lupa guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Selanjutnya guru mulai menjelaskan materi pembelajaran. Lalu guru membagi siswa menjadi 4 kelompok heterogen. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk membawa hp android ke sekolah dan membuka aplikasi Cinta Qur’an yang berisi kata kunci atau informasi atau kata kunci mengenai hukum tajwid lam jalalah dan Ra yang ada secara acak kepada setiap kelompok. Kemudian menjelaskan pengertian hukum tajwid lam jalalah dan Ra, ciri-ciri hukum tajwid lam jalalah, dan contoh- contoh hukum tajwid lam jalalah. Guru meminta setiap kelompok untuk mencari kata kunci yang sesuai dengan pasangan kata pada aplikasi siswa yang paling cepat menemukan akan mendapatkan reward. Karena waktu yang terrsedia tidak mencukupi, maka dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya, yaitu pertemuan kedua.
Pertemuan kedua melanjutkan materi pertemuan sebelumnya yakni mendiskusikan dan menyimpulkan dari kategori yang terkumpul serta mempresentasikan hasil diskusi. Sebelum dimulai, guru menginformasikan kepada siswa bahwa materi yang akan dipelajari hari ini terkait dengan materi kemarin yaitu materi hukum tajwid lam jalalah dan Ra, dan memberitahukan kepada siswa bahwa pembelajaran hari ini akan dilakukan dengan diskusi dan presentasi hasil.
Guru meminta siswa untuk berkumpul dengan kelompoknya masing- masing, bagi yang belum selesai menyebutkan mana yang dibaca tebal atau tipis diberi waktu oleh guru untuk segera menyelesaikannya. Bagi kelompok yang sudah selesai kembali mendiskusikan kategori dari yang sudah dipahami tersebut dan memberi kesimpulan. Pada saat diskusi siswa sudah mengalami
peningkatan keaktifan dalam pembelajaran dan diskusi, dan tidak terlalu canggung lagi seperti sebelumnya. Hal ini terlihat dari kerja sama kelompok dan ketika siswa saling memberikan usulan kepada teman yang lain. Setelah itu guru meminta siswa beserta kelompok untuk maju kedepan kelas dan mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Ketika siswa sedang memberikan presentasi kelompoknya didepan kelas, guru dan siswa lain turut menyimak dan guru memberikan beberapa hal yang kurang atau menambahkan terkait dengan materi pembelajaran. dan pada saat giliran maju untuk memberikan presentasi didepan kelas, siswa tidak lagi disuruh atau dipaksa untuk maju kedepan kelas dan siswa terlihat tidak lagi malu- malu ketika memberikan presentasi.
Selanjutnya, guru melakukan evaluasi dan refleksi untuk menyamakan persepsi dengan menjelaskan kembali materi yang telah didiskusikan.
Kemudian guru memberi tes akhir selama 15 menit untuk mengetahui indikator keberhasilan. 5 menit terakhir guru memberi apresiasi dan motivasi siswa yang rajin dan gemar membaca Al-Qur’an. Guru menutup pelajaran dengan membaca doa dan mengucapkan salam. Pada pembelajaran kali ini siswa kelihatan lebih aktif dan lebih paham dibandingkan pertemuan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan keaktifan siswa ketika membuka fitur-fitur pada aplikasi cinta Qur’an .
Setiap tindakan pembelajaran yang digunakan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran telah sesuai dengan penggunaaan model pembelajaran menggunakan aplikasi cinta Qur’an. Hal ini ditandai dengan semangat belajar siswa dan keterlibatan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga kondisi pembelajaran lebih kondusif dan efektif serta upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII pada siklus II ini dicapai sesuai indikator keberhasilan. Berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran melalui lembar observasi sudak baik dalam menerapkan model pembelajaran menggunakan aplikasi cinta Qur’an. Hasil belajar siswa kelas VIII di SMPN 2 Jabiren Raya sudah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan hasil tes pada skilus I.
Karena hal ini juga metode pembiasaan perlu direfleksikan kembali oleh guru PAI di SMPN 2 Jabiren Raya terutama dalam hal baca tulis Qur’an ini.
Kondisi seperti ini diketahui dapat menjadi satu halangan atau kendala besar dalam mempelajari serta pengamalan Al-Qur’an yang dilakukan setiap harinya.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan wawancara dan observasi tentang strategi guru PAI dalam mengatasi kesulitan baca tulis al-qur‟an dengan aplikasi cinta
qur’an di kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
Strategi guru PAI mengatasi kesulitan baca tulis al-qur’an dengan aplikasi cinta qur’an di kelas VIII SMPN 2 Jabiren Raya yaitu Guru PAI di sekolah tersebut mempersiapkannya dengan menyusun perencanaan yang berupa menentukan tujuan yang akan dicapai, memilih pendekatan, menetapkan prosedur, memilih metode, serta menentukan indikator keberhasilan. Hal ini dilakukan agar langkah tempuh guru jelas dan sesuai dengan arah tujuan yang diharapkan.
Sebagai implementasinya, guru PAI mengoptimalkan penggunaan metode pembelajaran tersebut dan melakukan upaya lainnya yang dapat mendukung untuk meningkatkan kemampuan baca tulis al-qur’an pada peserta didik. Terbukti lumayan berhasil
Referensi
Rici Ratnasari, (Skripsi. 2020), Strategi Guru PAI Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Sesuai Hukum Tajwid Siswa di SMPN 16 Kota Bengkulu.
Rici Ratnasari, (Skripsi, 2020), dengan judul Strategi Guru PAI Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Sesuai Hukum Tajwid Siswa di SMPN 16 Kota Bengkulu.
Putri Illayati Harianto, (Skripsi, 2018), Strategi Guru PAI Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kelas X SMKN 1 Blitar.
Nurfaida, (Jurnal 2023), Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an dengan Metode Drill berbasis aplikasi salaam siswa SMKN 1 Wajo.
Nilna Sa’adah, (Skripsi 2018) Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Al-qur’an Siswa di SMK Negeri 5 Palangka Raya.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:
Rineka Cipta, Cet. Kesebelas, 1998.
Usman, Basyirudin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Pres. 2002.
Salim Badwilan, Ahmad, Seni Menghafal al-Qur’an, Solo: Wacana Ilmiah Press, 2008.
A.M., Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Pres, 1990.
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.
Moleong, Lexy. J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.
Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi FTIK, Palangka Raya: IAIN Palangka Raya, 2017.
Rahman, Agus, (2018)Strategi Guru Al-Quran Hadist Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Al-Quran Siswa Mts Negeri 4 Tulungagung