• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

N/A
N/A
Mu'allimien Banjaran

Academic year: 2023

Membagikan "KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Keselamatan Kerja

Keselamatan merujuk kepada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang. Tujuan utama program keselamatan kerja yang efektif di organisasi adalah mencegah kecelakaan dan cedera yang terkait dengan tempat kerja. Tempat kerja menurut Husni (2001), adalah setiap tempat yang di dalamnya terdapat 3 (tiga) unsur, yaitu:

1. Adanya suatu usaha, baik itu usaha yang bersifat ekonomis maupun usaha sosial.

2. Adanya sumber bahaya.

3. Adanya tenaga kerja yang berkerja di dalamnya, baik secara terus menerus maupun sewaktu-waktu.

Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 05 Tahun 1996 tentang sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, dinyatakan bahwa sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (Sistem Manajemen K3) adalah bagian dari manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja. Sistem ini digunakan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja demi tercapainya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Sedangkan tempat kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja tersebut adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha, dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, di udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Di Indonesia, pengaturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja telah dimulai semenjak Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu dengan dikeluarkannya Ordonantie Nomor 647 Tahun 1925 tentang pembatasan pekerjaan anak dan wanita pada waktu malam hari dan Ordonantie Nomor 87 Tahun 1926 tentang pekerjaan anak dan orang muda di kapal. Selain itu

(2)

Pemerintah Hindia Belanda juga meratifikasi beberapa konvensi organisasi buruh internasional (ILO), yaitu:

1. Konvensi Nomor 4 tentang pekerjaan wanita pada malam hari;

2. Konvensi Nomor 5 tentang usia terendah bagi anak untuk dapat bekerja di perusahan perindustrian;

3. Konvensi Nomor 7 tentang usia terendah bagi anak untuk bekerja di kapal; dan

4. Konvensi Nomor 15 tentang usia terendah bagi orang muda untuk dapat bekerja sebagai tukang api atau tukang batu bara.

Peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersifat tidak menyeluruh, karena hanya berlaku di beberapa tempat dan golongan, sehingga menimbulkan pluralisme hukum.

Setelah kemerdekaan RI, pada pemerintahan Republik Indonesia Serikat, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang kerja yang berlaku hanya di ibukota RIS, yaitu Yogyakarta. Dan setelah Indonesia kembali ke dalam bentuk Negara Kesatuan, UU tersebut diberlakukan untuk seluruh wilayah Republik Indonesia (RI) sebagai Undang Undang Pokok yang memuat aturan dasar tentang pekerjaan anak; pekerjan orang muda;

pekerjaan wanita; waktu kerja; istirahat dan tempat kerja serta perumahan bagi buruh.

Selanjutnya, pada Tahun 1970, pemerintah Indonesia mengeluarkan UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Dan untuk melaksanakan UU No 1 Tahun 1970 tersebut pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksanaan, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau disingkat Sistem Manajemen K3. Tujuan dan sasaran Sistem Manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja yang melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan selalu terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Program manajemen keselamatan kerja yang efektif terdiri atas:

1. Tanggung jawab dan komitmen perusahaan.

2. Kebijakan dan disiplin keselamatan kerja.

3. Komunikasi dan pelatihan keselamatan kerja.

4. Komite keselamatan kerja.

(3)

5. Inspeksi, penyelidikan kecelakaan kerja, dan riset.

6. Evaluasi terhadap usaha-usaha keselamatan kerja.

Cara Mengukur Keselamatan Kerja

Ada dua metode pengukuran keselamatan organisasi yang telah diterima secara meluas dan telah digunakan dalam rangka pengkajian kasus kecelakaan di tempat kerja di Indonesia.

Pertama, tingkat kekerapan (Frequency Rate). Tingkat kekerapan digunakan untuk menunjukkan seberapa sering kejadian yang menyebabkan karyawan luka atau cacat . Luka atau cacat karyawan tersebut menyebabkan seseorang tidak dapat masuk kerja satu hari atau lebih setelah terjadinya kecelakaan kerja. Kedua, tingkat keparahan menunjukkan seberapa parah suatu peristiwa kecelakaan kerja, yaitu dengan menghitung lamanya waktu karyawan menderita luka-luka sehingga tidak dapat masuk bekerja. Rumus untuk menghitung tingkat kekerapan dan tingkat keparahan adalah sebagai berikut.

Tingkat kekerapan = Jumlah kecelakaan kerja x 1.000.000 Jumlah jam kerja pekerja setahun

Tingkat keparahan = Jumlah hari hilang x 1.000.000 Jumlah jam kerja pekerja setahun

Tinggi tingkat kekerapan ataupun keparahan tersebut baru bermakna jika dibandingkan dengan hal yang sama yang terjadi pada departemen atau divisi lain dalam suatu organisasi untuk tahun sebelumnya, atau dibandingkan dengan organisasi yang berbeda. Melalui pembandingan tersebut, maka prestasi keselamatan kerja suatu departemen atau organisasi dapat dievaluasi dengan baik.

Saudara mahasiswa yang budiman. Inti dari suatu program keselamatan kerja organisasional adalah pencegahan terhadap kecelakaan kerja. Jadi, sebagian besar program keselamatan kerja dirancang untuk mempertahankan suatu sikap keselamatan kerja dan menghindari kecelakaan kerja agar tetap berada dalam benak setiap karyawan. Di samping itu, program lain dapat juga digunakan terutama untuk membuat karyawan lebih sadar terhadap pentingnya keselamatan kerja. Menurut Byars dan Rue (1997), saat ini ada empat elemen dasar yang paling sukses dalam program keselamatan kerja, yaitu:

(4)

1. Program harus mendapat dukungan yang tulus baik dari manajemen puncak maupun manajemen menengah.

2. Harus dinyatakan secara jelas bahwa keselamatan kerja menjadi tanggung jawab manajer operasi. Seluruh manajer operasi harus menganggap bahwa keselamatan kerja menjadi bagian integral dalam tugas mereka.

3. Sikap positif terhadap keselamatan kerja harus ada dan terpelihara. Semua karyawan harus percaya bahwa program keselamatan kerja adalah bermanfaat dan membuahkan hasil.

4. Setiap orang atau departemen harus menguasai program keselamatan kerja dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya.

Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja dapat didefinisikan sebagai bebas dari penyakit. Lingkungan kerja seringkali dapat menyebabkan penyakit. Adanya risiko kesehatan seperti risiko fisik maupun biologis, racun, bahan kimia, dan debu yang menyebabkan kanker dan kondisi kerja yang penuh stres menempatkan karyawan pada risiko kesehatan di tempat kerja.

Definisi lain kesehatan kerja adalah kondisi fisik, mental dan sosial yang sejahtera (Ivancevich, 1992). Titik berat dari definisi ini adalah pada hubungan antara badan, pikiran dan pola sosial. Contoh, karyawan yang kompeten, tetapi selalu merasa tertekan (stres) dan memiliki kepercayaan diri yang rendah, sama saja kondisinya dengan kondisi orang yang terluka atau sakit, sehingga tidak produktif. Oleh karena itu, manajer harus menyadari bahwa mereka perlu menaruh perhatian pada kesehatan umum karyawan termasuk kesehatan jiwanya. Mereka harus menyelenggarakan program-program yang dapat membantu meningkatkan kesehatan karyawan, baik kesehatan badan maupun jiwa. Ada dua program yang dapat diselenggarakan oleh suatu organisasi, yaitu program kesehatan preventif dan manajemen stres.

Program perawatan kesehatan preventif mancakup pengeluaran untuk membangun fasilitas yang mambantu perawatan mandiri karyawan secara lebih baik (Ivancevich, 1992). Program preventif atau pendekatan sehat (wellness approach), memberikan dorongan kepada karyawan untuk membuat perubahan gaya hidup pada saat itu juga melalui pemberian gizi

(5)

yang lebih baik, program olahraga secara teratur, tidak merokok dan minum alkohol, bimbingan stres dan pemeriksaan fisik secara teratur setahun sekali.

Enam langkah perubahan perilaku, yaitu kesadaran, pendidikan, insentif, program, tindakan secara mandiri dan tindak lanjut serta dukungan. Setiap pekerja dibuat sadar melalui perkiraan biaya kesehatan, yaitu merupakan evaluasi secara statistik mengenai risiko kesehatan karyawan secara individual. Program penyadaran karyawan tersebut termasuk berbagai saran untuk mengurangi risiko dan perubahan perilaku agar dapat hidup lebih lama dan lebih sehat.

Pendekatan preventif tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, terutama jika pendekatan tersebut diadopsi tanpa benar-benar memahami adanya tuntutan terhadap komitmen manajer dan komunikasi antara pekerja dan manajer. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa program preventif bukanlah program yang secara instan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan, tetapi program tersebut akan memberikan manfaat perusahaan dalam jangka panjang.

Saudara mahasiswa yang budiman. Bahwa kesehatan karyawan adalah meliputi kesehatan fisik, mental dan sosial. Menurut Miner dan Crane (1995), kesehatan emosional atau psikologis adalah stres, yaitu kondisi internal individu yang mempersepsikan adanya ancaman terhadap kesejahteraan jasmani dan rohaninya. Pengertian stres tersebut menekankan suatu persepsi dan evaluasi seseorang tentang stimuli berbahaya yang potensial, dan menganggap persepsi ancaman tersebut akan muncul dari suatu perbandingan antara tuntutan yang dibebankan atas individu dan kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Program manajemen stres mepunyai hubungan yang erat dengan program kesehatan fisik karyawan. Menurut Miner dan Crane (1995), program tersebtu dapat direncanakan dan ditawarkan di rumah dengan ditangani oleh seorang konsultan. Termasuk dalam program ini adalah prosedur pengendoran otot melalui berbagai macam cara seperti, meditasi, belajar bagaimana merekayasa lingkungan seseorang untuk mengurangi stres melalui pendekatan seperti manajemen waktu, dan mejadi lebih tegas dalam berpendirian, belajar keahlian dalam

(6)

meminimalkan stres dalam suatu kondisi, atau mengurangi kecenderungan seseorang membesar-besarkan hal-hal yang dapat menyebabkan stres.

Banyak perusahaan pada saat ini menyediakan program manajemen stres yang berfokus pada teknik relaksasi. Inovasi yang paling akhir adalah mengenalkan komputerisasi program manajemen stres yang memungkinkan karyawan melakukan sendiri program tersebut.

Program ini relatif mahal, di samping program manajemen stres, perusahaan dapat menawarkan apa yang disebut dengan dukungan sosial.

Dukungan sosial dari atasan, teman sekerja, keluarga dan teman dapat menolong tingkat stres seseorang, karena karyawan yang bersangkutan merasa bahwa orang lain siap membantunya, sehingga dia tidak merasa sendirian sepanjang waktu. Intinya, seseorang merasa lebih baik dan kuat karena tantangan dapat dihadapi bersama-sama. Dukungan emosional merupakan bagian dari suatu proses dukungan sosial dimana pekerja dapat menyandarkan diri kepadanya, pekerja merasa mendapatkan dorongan, dan pekerja merasa ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya atau kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Dukungan bersifat informasi juga dapat diberikan. Pihak lain dapat memberikan pengetahuan tertentu untuk menanggulangi stres dan untuk menghadapi ketidakpastian. Meskipun secara formal perusahaan jarang menggunakan dukungan sosial sebagai program untuk mengurangi stres, secara informal supervisor dan teman sekerja harus melakukannya setiap hari.

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam perundang-undangan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, khususnya Pasal 3

1) Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan peraturan menteri nomor PER 05/MEN/1996.

Menurut PERMENAKER 05/MEN/1996, definisi dari sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang

05/ Men/ 1996 pasal 2, sebagai tujuan dan sasaran dari sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah menciptakan suatu sistem dan keselamatan dan

Oleh karena itu dilakukan perancangan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER.. SBS merupakan perusahaan

Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Per.05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, bahwa yang dimaksud Sistem Manajemen

(Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012) Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: 05/MEN/1996 Bab 1 Pasal 1 menyebutkan bahwa Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan menciptakan sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi