Menurut Notoadmodjo (2012), tergantung pada bentuk respon terhadap stimulusnya, perilaku dibedakan menjadi dua, yaitu: . 1) Perilaku terselubung. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi biasanya mempunyai perilaku yang otomatis positif karena orang tersebut pasti akan berpikir matang-matang sebelum melakukan sesuatu dan mengetahui apa akibatnya. Identifikasi hal-hal yang bersifat penguatan berupa hadiah atau imbalan atas perilaku yang akan dibentuk.
Kemudian komponen-komponen tersebut disusun dalam urutan yang benar sehingga mengarah pada terbentuknya perilaku yang dimaksud. Perilaku sehat merupakan respon seseorang (organisme) terhadap rangsangan atau objek yang berkaitan dengan penyakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan (Notoadmodjo, 2012).
Domain Perilaku
Pengetahuan diartikan sebagai hafalan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tingkat pengetahuan ini mencakup menghafal sesuatu yang spesifik dari seluruh materi yang dipelajari atau stimulus yang paling rendah. Oleh karena itu, pengetahuan merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Penerapan diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi dan kondisi sebenarnya. Analisis adalah kemampuan menguraikan suatu materi atau objek ke dalam komponen-komponennya, namun tetap dalam suatu struktur organisasi dan masih berkaitan satu sama lain.
Sintesis mengacu pada kemampuan untuk menempatkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi bentuk baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan menyusun formulasi baru dan formulasi yang sudah ada.
Pengukuran Perilaku 1. Data pengetahuan
Suatu subjek atau orang melakukan sesuatu secara otomatis atau memperhatikannya, sehingga disebut praktek atau tindakan mekanis. Artinya, apa yang dilakukan bukan sekadar rutinitas atau mekanisme, melainkan perubahan yang dilakukan, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas. Dalam hal ini siswa melakukan kebiasaan tersebut secara langsung atau sudah sebelum siswa belajar tentang pilihan makanan sehat dari pembelajaran di sekolah (Notoadmodjo, 2012).
Hasil akhir dijumlahkan, dan hasil pengukuran tindakan pencegahan karies gigi adalah baik (skor=8), buruk (skor=6-7) dan kurang baik (skor=<6), skala yang digunakan adalah ordinal (Utami, 2017).
Konsep Karies gigi .1 Pengertian Gigi Karies
- Faktor-faktor karies gigi
- Proses Terjadinya Gigi karies
- Klasifikasi karies gigi
- Tanda dan gejala Gigi Karies Gejala karies gigi umumnya adalah
- Pencegahan Gigi Karies
Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi (alur, fisura dan daerah interproksimal) dan akan menyebar ke daerah pulpa. Karies gigi merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu agen, host, substrat dan waktu. Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme, pada karbohidrat sukrosa dan laktosa yang terdapat pada makanan seperti susu, permen dan coklat, sehingga membantu metabolisme bakteri yang dapat difermentasi membentuk asam dan penurunan pH di bawah. pH kritis. akibatnya terjadi demineralisasi jaringan keras gigi (Indrayanti, 2019).
Karies gigi adalah suatu kondisi gigi yang tidak normal yang ditandai dengan perubahan warna gigi, gigi menghitam, dan terkadang kerusakan atau kehilangan gigi. Karies gigi disebabkan oleh sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi, yang akhirnya menyebabkan pengapuran pada gigi. Karies gigi menyebabkan hilangnya daya kunyah dan gangguan pencernaan pada anak sehingga mengakibatkan pertumbuhan gigi kurang optimal (Indrayanti, 2019).
Proses terjadinya karies gigi diawali dengan rusaknya jaringan email gigi hingga menjadi lunak dan akhirnya menyebabkan gigi berlubang. Kejadian karies gigi disebabkan oleh sinergi ketiga faktor tersebut dan didukung oleh faktor keempat yaitu faktor waktu (Wiworo, 2015). Makanan jenis ini bersifat lunak, manis dan lengket serta mudah menempel pada permukaan gigi dan sela-sela gigi, yang jika tidak ditangani akan menghasilkan banyak asam sehingga meningkatkan risiko terjadinya karies.
Selain itu, kebiasaan terlalu sering mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat juga mempengaruhi terjadinya karies gigi. Setiap kali seseorang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat, beberapa bakteri penyebab karies gigi di rongga mulut akan mulai memproduksi asam sehingga terjadi demineralisasi yang berlangsung 20-30 menit setelah makan. Karies gigi dapat terjadi apabila terdapat empat faktor utama yaitu gigi, substrat, mikroorganisme dan waktu.
Pada anak prasekolah proses karies gigi terjadi karena beberapa faktor seperti faktor makanan, faktor kebersihan mulut, mikroorganisme, struktur gigi dan air liur (Indrayanti, 2019). Karies gigi pada anak biasanya ditandai dengan beberapa tanda awal pembusukan seperti adanya bercak putih berkapur, seiring dengan perkembangannya, bercak putih berkapur tersebut akan berubah warna menjadi coklat atau hitam dan akhirnya berubah menjadi gigi berlubang atau berlubang.
Konsep Anak Usia Prasekolah .1 Definisi Anak Usia Prasekolah
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Prasekolah .1 Pertumbuhan anak prasekolah
- Perkembangan anak usia prasekolah
Secara khusus tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75-7,5 sentimeter setiap bulannya, semua gigi sulung akan muncul pada usia 3 tahun (Rusilanti, Mutiara, & Yeni, 2015). Perkembangan yang terjadi pada anak prasekolah meliputi 8 aspek, antara lain: perkembangan motorik halus, perkembangan motorik kasar, perkembangan bahasa, perkembangan psikososial, perkembangan psikoseksual, perkembangan kognitif, perkembangan moral, perkembangan emosi (Rusilanti, Mutiara, & Yeni, 2015). a) Perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik kasar meliputi lompat dan jalan cepat, memanjat, mengendarai sepeda roda tiga, berenang, lompat tali, keseimbangan di pagar, sepatu roda, dan menari.
Untuk meningkatkan komunikasi, anak perlu meningkatkan kemampuannya dalam memahami apa yang dikatakan orang lain. Anak akan mulai berinisiatif belajar untuk aktif mencari pengalaman baru dalam melakukan aktivitasnya, dan jika pada saat ini dilarang atau dicegah maka akan tumbuh rasa bersalah dalam diri anak. e) Perkembangan psikoseksual. Erikson melihat perkembangan psikoseksual sebagai berikut, kepuasan pada anak terletak pada rangsangan autoerotic yaitu meraba-raba, merasakan kenikmatan pada beberapa area organ tubuhnya.
Anak laki-laki cenderung lebih menyukai ibunya dibandingkan ayahnya, dan sebaliknya, anak perempuan lebih menyukai ayahnya. f) Perkembangan kognitif. Menurut Piaget, dengan berkembangnya kapasitas kognitif anak selanjutnya, anak belum mampu mengoperasionalkan apa yang dipikirkan dalam benak anak. Perkembangan anak masih bersifat egosentris, seperti dalam penelitian Piaget, anak selalu bersifat egosentris, seperti anak akan memilih sesuatu atau yang ukurannya besar, walaupun isinya sedikit. Pada titik ini pemikiran transduktif memandang segala sesuatunya sama, misalnya jika laki-laki dalam keluarga adalah ayah, maka semua laki-laki adalah ayah. Pemikiran kedua adalah animisme yang selalu menunjukkan adanya benda mati, misalnya jika seorang anak memukul benda mati maka anak tersebut akan menabrak benda tersebut. g) Perkembangan moral.
Anak-anak menentukan bahwa perilaku yang benar terdiri dari sesuatu yang memuaskan kebutuhannya sendiri dan terkadang kebutuhan orang lain. h) Perkembangan emosi. Pada usia 4 tahun, anak mulai menyadari dirinya sendiri, bahwa dirinya (self) berbeda dengan saya (orang atau benda lain). Jika lingkungan tidak mengakui harga dirinya, seperti memperlakukan anak dengan kasar atau kurang kasih sayang, maka anak akan mengembangkan sikap keras kepala, perlawanan, atau menyerah secara terpaksa.
Pertumbuhan Gigi Anak Usia Prasekolah
Konsep Peran Ibu
Orang tua berperan dalam merawat anak sesuai perilaku kesehatan, seperti memastikan pemberian ASI eksklusif yang baik dan benar, serta memberikan makanan dan minuman yang sehat dan sesuai usia. Orang tua hendaknya mampu memberikan pendidikan salah satunya pendidikan kesehatan agar mereka mandiri dan bertanggung jawab terhadap permasalahan kesehatan. Contohnya seperti mengajari anak menyikat gigi, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mengajari anak makan makanan sehat dan mengurangi makanan manis, dll.
Peran orang tua sebagai pemberi semangat adalah dengan memberikan dukungan, motivasi dan pujian kepada anak agar anak semangat dan terus menjaga kesehatannya sesuai dengan ajaran orang tuanya. Sebaiknya orang tua memantau perilaku anaknya untuk mencegah penyakit, seperti mengawasi anak saat makan, menggosok gigi, memberi susu, dan lain-lain. (Eddy & Mutiara, 2015). Dalam menjaga kesehatan gigi anak, orang tua perlu mengetahui berbagai hal mengenai kesehatan gigi dan mulut.
Untuk menjaga kesehatan gigi, sebaiknya orang tua mengajarkan anaknya untuk menyikat gigi sedini mungkin.Usia terbaik untuk belajar menyikat gigi adalah usia 2 tahun. Sebaiknya orang tua menyediakan sikat gigi yang ukurannya sesuai dengan usia anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride (Eddy & Mutiara, 2015). Ajari anak Anda untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari, yaitu pagi sebelum sarapan dan malam sebelum tidur.
Selain itu, orang tua sebaiknya memberi tahu makanan dan minuman apa saja yang dapat merusak gigi dan usahakan untuk tidak terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman tersebut. Sebaiknya orang tua memeriksakan gigi anaknya ke dokter gigi sejak dini, yaitu sejak usia 2 tahun, dan tidak hanya sekedar membawa anaknya ke dokter gigi karena mempunyai keluhan. Orang tua juga harus bisa aktif memantau gigi dan mulut anaknya, seperti mencari gigi berlubang, karang gigi, gigi goyang, dan pertumbuhan gigi tidak normal (gigi tumbuh berlapis, gigi berjejal, dll) (Eddy & Mutiara, 2015).
Konsep Teori Keperawatan Johnson .1 Biografi Dorothy E. Johnson
- Konsep Utama Teori Dorthy E. Johnson ( Definisi-definisi)
- System Perilaku (Behavioral System)
- Subsistem
- Model Konsep Dan Teori Keperawatan Johnson
- Asumsi-Asumsi
Pengetahuan tentang bagian-bagian sistem perilaku didukung dalam ilmu perilaku, namun literatur empiris mendukung gagasan bahwa sistem perilaku adalah keseluruhan yang belum dikembangkan. Manusia merupakan makhluk yang utuh dan terdiri dari 2 sistem yaitu sistem biologis dan sistem perilaku tertentu. Selain itu, masyarakat berusaha menjaga keseimbangan di bagian-bagian tersebut melalui regulasi dan adaptasi terhadap kekuatan yang mempengaruhinya (Alligood, 2014).
Manusia sebagai sistem perilaku mengupayakan stabilitas dan keseimbangan melalui keberhasilan pengaturan dan penyesuaian di berbagai tingkatan demi efisiensi dan efektivitas suatu fungsi. Sebagai suatu sistem, terdapat komponen-komponen subsistem yang membentuk sistem tersebut, termasuk komponen-komponen subsistem yang menurut Johnson membentuk suatu sistem perilaku. Ingestion, yaitu berkaitan dengan bagaimana, kapan, bagaimana dan berapa banyak makan dan minum sebagai subsistem perilaku.
Ekskresi mengacu pada bagaimana, kapan, bagaimana dan jumlah zat yang tidak dibutuhkan tubuh secara logis dihilangkan sebagai subsistem perilaku. Berdasarkan subsistem-subsistem tersebut di atas maka akan terbentuk suatu sistem perilaku individu, sehingga Johnson berpendapat bahwa dalam mengatasi permasalahan tersebut, keperawatan harus mampu berperan sebagai pengatur untuk menyeimbangkan sistem perilaku tersebut. Johnson melihat manusia sebagai suatu sistem perilaku dengan pola, pengulangan, dan cara berperilaku yang bertujuan dan berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam teori Johnson, lingkungan terdiri dari semua faktor yang bukan merupakan bagian dari sistem perilaku individu, namun mempengaruhi sistem tersebut dan dapat dimanipulasi oleh perawat untuk mencapai tujuan kesehatan pasien. Sistem perilaku berupaya menjaga keseimbangan sebagai respons terhadap faktor lingkungan dengan mengatur dan beradaptasi terhadap kekuatan yang menyertainya. Kekuatan lingkungan yang berlebihan mengganggu keseimbangan sistem perilaku dan mengancam stabilitas manusia, sehingga diperlukan jumlah energi yang tidak menentu untuk memulihkan keseimbangan sistem di bawah tekanan.