• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Mata Kuliah Biota Laut (Semester 2)

N/A
N/A
Mailani Itnayra

Academic year: 2025

Membagikan "Tugas Mata Kuliah Biota Laut (Semester 2)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SPESIES PLANKTON

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Laut Dosen Pengampu : Oktora Susanti, S.Pi., M.Si.

Disusun Oleh:

Mailani Dwi Aryanti 2014221018

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

I.

LATAR BELAKANG

Biologi laut adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang ekosistem makhluk hidup di samudra. Didalam laut terdapat makhluk hidup dari yang terkecil sampai yang terbesar. Salah satu makhluk hidup yang terkecil yaitu plankton. Plankon adalah salah satu organisme baik tumbuhan maupun hewan yang hidup dalam zona samudra, laut, dan air tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Plankton hidup didaerah pesisir pantai yang terdapat kandungan garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Hal ini sangat penting karena memungkinkan plankton untuk tetap terus hidup. Jenis plankton terbagi menjadi dua, yaitu fitoplankton dan zooplankton.

Foraminifera atau biasa disingkat forem merupakan salah satu spesies yang termasuk dalam organisme fitoplankton. Foraminifera adalah protista amoebid dengan pseudopodia. Foraminifera memiliki dua siklus kehidupan, ada yang hidup di dasar laut (bentos) dan ada yang hidup di perairan (plankton), tetapi sebagian besar hidup di laut. Beberapa spesies foram merupakan parasit, menginfeksi spons, moluska, koral, atau foraminifera lain. Strategi parasit dari foraminifera dapat bervariasi; beberapa merupakan ektoparasit, menggunakan pseudopodia untuk mencuri makanan dari inang, sementara beberapa menggali melalui cangkang atau dinding tubuh inangnya untuk mekakan jaringan lunaknya.

Aspek paling mencolok dari foraminifera adalah cangkangnya yang keras, yang disebut sebagai test. Test dapat terdiri dari beberapa ruang, dan dapat tersusun dari protein, sedimen, partikel, kalsit, aragonit, atau silika. Namun terdapat pula beberapa foraminifera yang tidak memiliki test secara keseluruhan. Sejumlah foram memiliki alga uniseluler sebagai endosimbion, dari berbagai garis

keturunan seperti alga hijau, alga merah, alga coklat, diatom, dan dinoflagelata.

Siklus hidup foraminifera secara umum melibatkan pergantian antara generasi haploid dan diploid, walaupun sebagian besar keduanya memiliki bentuk yang serupa.

(3)

II.

PEMBAHASAN

A. Foraminifera

Foraminifera atau disingkat foram, adalah grup besar protista amoeboid dengan pseudopodia. Dalam sains modern, istilah foraminifera digunakan sebagai bentuk tunggal atau jamak dari kelompok ini dan seringkali ditulis dalam lowercase. Pada beberapa genus, cangkang dari foraminifera tersusun dari kitin. Sebagian besar foraminifera hidup di laut, mayoritas hidup di dasar laut (bentos), dan beberapa hidup mengapung di perairan (plankton). Beberapa diketahui hidup di perairan air tawar, dan beberapa spesies diketahui hidup di terestrial dan telah teridentifikasi melalui analisis molekuler dari DNA ribosomal.

Foraminifera umumnya menghasilkan cangkang (test) yang dapat terdiri dari satu ruang atau lebih, dan beberapa memiliki struktur yang rumit. Cangkang ini umumnya terbuat dari kalsium karbonat (CaCO3) atau partikel sedimen yang teraglutinasi. Lebih dari 50.000 spesies sudah diketahui, diantaranya merupakan spesies hidup 10.000 dan 40.000 merupakan fosil.

(4)

Foraminifera umumnya berukuran kurang dari 1 mm, namun beberapa memiliki ukuran yang lebih besar. Spesies terbesar dari Foraminifera dapat mencapai ukuran hingga 20 cm.

B. Taksonomi

Posisi taksonomi dari Foraminifera bervariasi sejak Schultze pada tahun 1854, menempatkan Foraminifera seagai ordo. Loeblich dan Tappan (1992),

menempatkan Foraminifera kembali sebagai suatu kelas seperti yang digunakan sekarang. Foraminifera biasanya dikelompokkan dalam Protozoa, pada kingdom Protista. foraminifera termasuk dalam kelompok utama dalam Protozoa yang dikenal sebagai Rhizaria. Sebelumnya, Foraminifera secara umum dikelompokkan bersama dengan amoeboid lain sebagai filum Rhizopodea (atau Sarcodina) dalam kelas Granuloreticulosa. Beberapa taksonomi menempatkan Foraminifera pada suatu filum tersendiri dan setara dengan amoeboid Sarcodina di mana mereka ditempatkan sebelumnya.

C. Anatomi

Aspek paling mencolok dari foraminifera adalah cangkangnya yang keras, yang disebut sebagai test. Test dapat terdiri dari beberapa ruang, dan dapat tersusun dari protein, sedimen, partikel, kalsit, aragonit, atau silika. Namun terdapat pula beberapa foraminifera yang tidak memiliki test secara keseluruhan. Organel sel foraminifera terletak di dalam ffterjadi transfer materi dari pseudopodia ke sel internal dan sebaliknya.

Sel foraminifera dibagi menjadi endoplasma granular dan ektoplasma transparan tempat jaring pseudopodial muncul melalui lubang atau melalui banyak perforasi dalam test. Karakteristik unik dari foraminifera adalah memiliki granuloreticulose pseudopodia, yaitu pseudopodia yang berbentuk granular pada mikroskop,

pseudopodia ini sering melakukan pemanjangan dan dapat terpisah lalu tergabung kembali satu sama lain. Granuloreticulose pseudopodia dapat diperpanjang dan ditarik kembali agar sesuai dengan kebutuhan sel. Pseudopod digunakan untuk

(5)

lokomosi, penahan, eksresi, pembentukan test, dan penangkapan makanan, yang merupakan organisme kecil seperti diatom atau bakteri

Selain dengan test, sel foraminifera juga didukung dengan sitoskeleton dari mikrotubulus, yang disusun secara longgar tanpa struktur yang terlihat pada amoeboid lainnya. Foram telah mengembangkan mekanisme seluler khusus untuk merakit dan membongkar mikrotubulus dengan cepat, sehingga memungkinkan pembentukan dan retraksi yang cepat dari pseudopedia yang memanjang.

Anatomi dari nukleus foraminifera sangat beragam. Beberapa spesies foraminifera memiliki beberapa vakuola kosong yang besar. Kegunaan dari vakuola ini belum jelas, namun diduga berfungsi sebagai reservoir dari nitrat.

D. Ekologi

Foraminifera modern umumnya merupakan organisme laut, namun individu foraminifera yang hidup juga telah ditemukan di air payau, sungai dan bahkan habitat terestrial. Sebagian besar dari spesies foraminifera hidup sebagai bentos, dan 40 morfospesies hidup sebagai plankton. Sebagian besar foraminifera

plankton yang ditemukan merupakan Globigerinina, suatu garis keturunan dalam Rotaliida. Namun, sedikitnya terdapat satu garis keturunan Rotaliid lain yang masih ada, yaitu Neogallitellia, yang kemungkinan secara independen berevolusi sehingga memiliki gaya hidup planktonik. Telah diduga bahwa beberapa fosil Jurassic dari foraminifera telah berevolusi secara independen sehingga memiliki gaya hidup planktonik, dan diperkirakan merupakan anggota dari Robertinida.

Sejumlah foram memiliki alga uniseluler sebagai endosimbion, dari berbagai garis keturunan seperti alga hijau, alga merah, alga coklat, diatom, dan dinoflagelata.

Beberapa foram merupakan kleptoplastik, mempertahankan kloroplas dari alga endosimbion yang tertelan untuk melakukan fotosintesis. Sebagian besar foraminifera merupakan heterotrof, mengonsumsi organisme lebih kecil dan senyawa organik, beberapa spesies yang lebih kecil merupakan predator dari fitodetritus, sedangkan beberapa yang lain merupakan predator diatom.

(6)

Beberapa spesies foram merupakan parasit, menginfeksi spons, moluska, koral, atau foraminifera lain. Strategi parasit dari foraminifera dapat bervariasi, beberapa merupakan ektoparasit, menggunakan pseudopodia untuk mencuri makanan dari inang, sementara beberapa menggali melalui cangkang atau dinding tubuh inangnya untuk memakan jaringan lunaknya. Foraminifera merupakan mangsa bagi organisme yang berukuran lebih besar, seperti invertebrata, ikan, burung pantai, dan foraminifera lainnya. Telah diduga bahwa pada beberapa kasus predasi, predator dapat lebih tertarik dengan kalsium dari cangkang foram dibandingkan organisme foram sendiri. Beberapa spesies siput akuatik diketahui memangsa foraminifera secara selektif, bahkan seringkali lebih memilih spesies individu.

Foraminifera ditemukan di bagian terdalam dari samudra seperti Palung Mariana, termasuk Kedalaman Challenger, bagian terdalam yang diketahui. Pada

kedalaman ini, di bawah kedalaman laut di mana laju tersedianya kalsium

karbonat lebih lambat dibandingkan laju pelarutannya, sehingga tidak ada kalsium karbonat yang tersedia di kedalaman ini. Foraminifera yang ditemukan di

Kedalaman Challenger tidak memiliki karbonat pada test, namun memiliki dua materi organik.

E. Reproduksi

Siklus hidup foraminifera secara umum melibatkan pergantian antara generasi haploid dan diploid, walaupun sebagian besar keduanya memiliki bentuk yang serupa. Pada bentuk gamont (bentuk seksual), secara umum foraminifera memiliki satu nuklues, sedangkan agamont (bentuk aseksual) cenderung memiliki beberapa nukleus.Gamont, atau bentuk haploid yang bereproduksi secara seksual, haploid atau gamont awalnya memiliki nukleus tunggal, dan mengalami pembelahan untuk menghasilkan sejumlah gamet yang umumnya memiliki dua flagela.

Diploid atau agamont memiliki lebih dari satu nukleus atau disebut sebagai multinucleate, dan kemudian melalui peristiwa meiosis terjadi pembelahan untuk menghasilkan gamont baru. Beberapa ronde reproduksi aseksual antara generasi seksual tidak jarang terjadi dalam bentuk bentik. Maturasi dan reproduksi terjadi

(7)

lebih lambat pada air yang lebih sejuk dan lebih dalam; kondisi ini juga menyebabkan forman tumbuh lebih besar.

F. Manfaat

1. Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut

Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda.

Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam.

2. Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala Geologi)

Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup.

Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es.

3. Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi.

Banyak spesies foraminifera dalam skala biostratigrafi mempunyai kisaran hidup yang pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya pada lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli

paleontologi dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh selama pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi dan

lingkungan saat batuan tersebut terben-uk. Sejak 1920-an industri perminyakan memanfaatkan jasa penelitian mikropaleontologi dari seorang ahli mikrofosil.

Kontrol stratigrafi dengan menggunakan fosil foraminifera memberikan

sumbangan yang berharga dalam mengarahkan suatu pengeboran ke arah samping

(8)

pada horison yang mengandung minyak bumi guna meningkatkan produktifikas minyak.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia.org. (2009, 7 Februari). Foraminifera. Diakses pada 26 April 2021, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Foraminifera#cite_note-:0-3

D5d.org. Manfaat Foraminifera. Diakses 26 April 2021, dari http://d5d.org/manfaat-foraminifera

Referensi

Dokumen terkait

Pertama, Evaluasi sistem distribusi tenaga listrik yang meliputi penyaluran tenaga listrik, gardu induk, jaringan distribusi, gardu distribusi dan saluran tenaga listrik ke

Plagiarisme juga mencakup oto-plagiarisme yaitu memasukkan kata-kata/kalimat/ide sendiri yang berasal dari tugas/makalah yang telah dikumpulkan untuk penilaian dengan

Mengacu Gambar 1, Taylor dan kawan-kawan (1985) telah mempelajari toksisitas boron terhadap ikan uji, dimana dalam penelitian tersebut diambil ikan spesies Limanda limanda (Dab)

Deskripsi Mata Kuliah Mata kuliah ini akan memberikan wawasan filosofis, teoritis, dan praktis mengenai penerapan psikologi dalam setting pendidikan yaitu dengan

Berdasarkan permasalahan yang ada kami menganalisis Sistem Informasi Apotek Sungai Bambu pada bisnis proses pelayanan dokter, penjualan obat resep dan tanpa resep,

Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan

Pancasila adalah dasar Negara serta dasar hukum tertinggi di Indonesia, karena kedudukan pancasila sebagai dasar, maka dalam pembuatan pembukaan UUD 1945 maupun

Makalah Tugas Akhir Semester ini digunakan untuk memenuhi tugas dari Mata Kuliah Mobile Programming, seabagai syarat lulusnya matkul