faktor risiko

Top PDF faktor risiko:

Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Wanita Usia   45 Tahun (Studi Kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Wanita Usia 45 Tahun (Studi Kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Saran : Wanita sebaiknya melakukan aktivitas fisik intensitas sedang (misalnya berjalan cepat) minimal 30 menit terus-menerus perhari setiap hari. Modifikasi gaya hidup dan farmakoterapi harus dilakukan pada wanita yang mempunyai faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi. Pemberian aspirin rutin dapat dipertimbangkan pada wanita usia >65 tahun jika keuntungan (menurunkan risiko serangan jantung dan stroke) lebih besar daripada risiko kemungkinan perdarahan. Menopausal therapy, suplementasi antioksidan, asam folat (dengan atau tanpa suplementasi B6 dan B12), dan penggunaan aspirin rutin pada wanita usia <65 tahun sebaiknya tidak dilakukan untuk prevensi penyakit kardiovaskuler primer atau sekunder. Penyuluhan dan penelitian lanjutan tentang penyakit kardiovaskuler (prevensi dan terapi) seharusnya menjadi prioritas.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA WANITA USIA SUBUR KOTA SEMARANG TAHUN 2015 (studi kasus di Puskesmas Ngaliyan, Puskesmas Poncol dan Puskesmas Purwoyoso Kota Semarang) - UDiNus Repository

FAKTOR RISIKO KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA WANITA USIA SUBUR KOTA SEMARANG TAHUN 2015 (studi kasus di Puskesmas Ngaliyan, Puskesmas Poncol dan Puskesmas Purwoyoso Kota Semarang) - UDiNus Repository

Kanker payudara termasuk dalam penyakit multifaktorial, demikian juga penyebab kanker ini belum diketahui dengan jelas. Adanya faktor risiko yang menjadi latar belakang penyakit ini sangat mempengaruhi insidensi kanker payudara, diantaranya faktor risiko wanita yang menyusui memiliki risiko terkena kanker payudara lebih kecil dibandingkan dengan wanita yang tidak menyusui, 1,6 begitu juga umur menopause, dimana wanita yang memiliki usia menopause sebelum umur 45 tahun memiliki risiko kanker payudara hanya setengahnya dibandingkan dengan wanita dengan usia menopause > 55 tahun. 1
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Insidensi dan Faktor Faktor Risiko Terja

Insidensi dan Faktor Faktor Risiko Terja

Sedangkan untuk faktor risiko terjadinya SCD, hanya sedikit informasi yang tersedia tentang hal tersebut. Hal ini karena, berdasarkan laporan-laporan dari satu senter studi, insidensi kematian jantung mendadak pada KMD pediatrik adalah rendah. Konsekuensinya, belum ada kriteria yang konsisten untuk pemasangan ICD sebagai prevensi primer SCD pada anak-anak dengan KMD. 3

5 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010 dan 2011

Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010 dan 2011

Faktor risiko akne vulgaris adalah keturunan, keseimbangan hormon, makanan, kebersihan, dan penggunaan kosmetik. Keturunan dinilai sebagai faktor risiko jika salah satu orang tua responden menderita akne dan salah satu orang tua memiliki skar akne pada wajahnya. Keseimbangan hormon dinilai sebagai faktor risiko bila responden menderita akne tiap masa perimenstrual; atau mengalami kecemasan, stres, dan tekanan emosi. Makanan dinilai sebagai faktor risiko bila responden menderita akne setelah mengkonsumsi cokelat atau lemak; serta akne sembuh bila responden menghindari konsumsi cokelat atau lemak. Kebersihan dinilai sebagai faktor risiko bila akne berkurang dengan rutin membersihkan wajah; serta bertambah bila responden jarang membersihkan wajah. Penggunaan kosmetik dinilai sebagai faktor risiko bila responden mengalami kekambuhan akne pada saat penggunaan kosmetik; atau saat mengganti kosmetik dengan merk lain; atau menggunakan kosmetik yang baru pertama kali dipakai.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Beberapa Faktor Risiko Terhadap Terjadinya Penyakit Hepatitis C di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012 - 2013 Chapter III VI

Hubungan Antara Beberapa Faktor Risiko Terhadap Terjadinya Penyakit Hepatitis C di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012 - 2013 Chapter III VI

Pada rentang usia 18-40 tahun dijumpai faktor risiko terbanyak adalah penggunaan jarum suntik dan riwayat tato / tindik dengan masing-masing sebanyak 4 orang (12.5%), dan yang terendah adalah transfusi darah dan riwayat alkohol sebanyak 1 orang (3.1%). Tohme (2012) mengatakan, meskipun praktik pemakaian tato / tindik telah hadir selama ribuan tahun, jumlah pemakainya telah meningkat selama dekade terakhir, khususnya di kalangan pemuda dan dewasa muda. Sebuah survey diantara orang-orang yang berusia 18-50 tahun di Inggris menemukan bahwa 24% responden memiliki setidaknya 1 buah tato dan 14% pernah memakai tindik di tubuh mereka.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010, dan 2011

Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010, dan 2011

Faktor risiko akne vulgaris adalah keturunan, keseimbangan hormon, makanan, kebersihan, dan penggunaan kosmetik. Keturunan dinilai sebagai faktor risiko jika salah satu orang tua responden menderita akne dan salah satu orang tua memiliki skar akne pada wajahnya. Keseimbangan hormon dinilai sebagai faktor risiko bila responden menderita akne tiap masa perimenstrual; atau mengalami kecemasan, stres, dan tekanan emosi. Makanan dinilai sebagai faktor risiko bila responden menderita akne setelah mengkonsumsi cokelat atau lemak; serta akne sembuh bila responden menghindari konsumsi cokelat atau lemak. Kebersihan dinilai sebagai faktor risiko bila akne berkurang dengan rutin membersihkan wajah; serta bertambah bila responden jarang membersihkan wajah. Penggunaan kosmetik dinilai sebagai faktor risiko bila responden mengalami kekambuhan akne pada saat penggunaan kosmetik; atau saat mengganti kosmetik dengan merk lain; atau menggunakan kosmetik yang baru pertama kali dipakai.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Gambaran Prevalensi Faktor Risiko Penyebaran HIV/AIDS di RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2012-2013

Gambaran Prevalensi Faktor Risiko Penyebaran HIV/AIDS di RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2012-2013

Dari hasil penelitian ini juga didapati adanya faktor risiko baru yang tidak tertulis dalam kerangka konsep penelitian pada bab sebelumnya. Adapun faktor risiko tersebut adalah pisau cukur, tattoo dan tindik. Faktor risiko pisau cukur adalah yang mana pada penggunaan pisau cukur yang secara bergantian dengan menggunakan alat cukur yang menggunakan pisau silet. Tatto adalah tindakan pemasukan tinta dibawah kulit yang memiliki nilai seni. Terjangkitnya pasien dari tattoo yaitu dengan melakukan proses penatoan yang tidak higienis dan penggunaan jarum tatto yang tidak diganti dengan kata lain secara bergantian. Tindik merupakan penusukan pada organ tubuh manusia seperti telinga, hidung, alis mata, bibir, lidah ,dan lain sebagainya, yang digunakan untuk memasukkan benda-benda yang dianggap bernilai seni seperti emas, perak dan sebagainya. Tertularnya pasien melalui tindik dikarenakan penggunaan alat tindik yang secara bergantian dan kurang higienis. Adapun hal yang mendasari terjangkitnya melalui ketiga faktor risiko ini yaitu dikarenakan kontak dengan mukosa tubuh dan juga kontak dengan darah yang terjadi akibat proses pelaksanaan dari masing-masing faktor risiko ini.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010, dan 2011

Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010, dan 2011

Faktor risiko akne vulgaris adalah keturunan, keseimbangan hormon, makanan, kebersihan, dan penggunaan kosmetik. Keturunan dinilai sebagai faktor risiko jika salah satu orang tua responden menderita akne dan salah satu orang tua memiliki skar akne pada wajahnya. Keseimbangan hormon dinilai sebagai faktor risiko bila responden menderita akne tiap masa perimenstrual; atau mengalami kecemasan, stres, dan tekanan emosi. Makanan dinilai sebagai faktor risiko bila responden menderita akne setelah mengkonsumsi cokelat atau lemak; serta akne sembuh bila responden menghindari konsumsi cokelat atau lemak. Kebersihan dinilai sebagai faktor risiko bila akne berkurang dengan rutin membersihkan wajah; serta bertambah bila responden jarang membersihkan wajah. Penggunaan kosmetik dinilai sebagai faktor risiko bila responden mengalami kekambuhan akne pada saat penggunaan kosmetik; atau saat mengganti kosmetik dengan merk lain; atau menggunakan kosmetik yang baru pertama kali dipakai.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO AUTISME

FAKTOR RISIKO AUTISME

Autisme merupakan gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak yang angka kejadiannya terus meningkat serta merupakan kasus yang paling cepat pertambahan jumlah penyandangnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Provinsi Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terdapat jumlah penyandang autisme cukup besar. Kabupaten Jember termasuk daerah yang banyak terdapat penyandang autisme. Di tempat terapi A tercatat sebanyak 5 anak autisme, Cahaya Nurani Resource Center sebanyak 3 anak autisme, di tempat terapi X terdapat sebanyak 13 anak autisme di tahun 2013 meningkat menjadi 22 anak autisme di tahun 2014 dan di sekolah dasar luar biasa Y sebanyak 14 anak autisme ditahun 2013 menjadi 19 anak autisme di tahun 2014. Terlihat sangat jelas terjadi peningkatan setiap tahunnya. Oleh sebab itu diperlukan kajian khusus mengenai faktor risiko apa saja yang menyebabkan autisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko autisme di tempat terapi X dan Sekoah Dasar Luar Biasa Y Kabupaten Jember tahun 2014.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA  FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI.

FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI.

Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh hasil faktor-faktor risiko yang mempengaruhi biaya tenaga kerja pada proyek konstruksi, dimana faktor risiko tertinggi adalah kelebihan perekrutan tenaga kerja dengan nilai mean 4,94, diikuti oleh kurang tepat dalam penempatan tenaga kerja dengan nilai mean 3,67, kualitas mandor yang kurang baik dengan nilai mean 3,37, pengetahuan dan pengalaman pekerja kurang dalam menjalankan spesifikasi kerja dengan nilai mean 3,18, pembayaran tenaga kerja yang lebih ahli dan tenaga kerja yang tersedia lebih mahal dari yang dianggarkan dengan nilai mean 3,06, kurang atau tidak adanya pelatihan untuk pekerja dengan nilai mean 2,96, keterlambatan dalam penyediaan tenaga kerja dengan nilai mean 2,95 dan yang terendah adalah kesulitan dalam mencari tenaga kerja dengan nilai mean 2,93.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PREVALENSI FAKTOR RISIKO

PREVALENSI FAKTOR RISIKO

Faktor risiko umur lebih 50 tahun 57%. Proses penuaan akan membuat elastisitas pembuluh darah menurun dan terjadi pengapuran yang meningkatkan kecenderungan terjadinya tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan penyebab terbanyak kedua dari gagal ginjal kronik. Orang yang memliki lebih besar terkena hipertensi antara lain usia tua (Santoso,2009). Pria dewasa usia lebih dari 60 tahun sering ditemukan hipertropi prostat yang menyebabkan obstruksi aliran urin yang menekan pelvis ginjal dan ureter. Obstruksi juga dapat disebabkan adanya striktur uretra dan neoplasma. Obstruksi menyebabkan infeksi ginjal dan memicu terjadinya gagal ginjal (Price dan Wilson,2006).
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA KARYAWAN  PT. PUPUK KALIMANTAN  HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA KARYAWAN PT. PUPUK KALIMANTAN TIMUR.

HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA KARYAWAN PT. PUPUK KALIMANTAN HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA KARYAWAN PT. PUPUK KALIMANTAN TIMUR.

Latar Belakang. Coronary artery disease (CAD) juga disebut penyakit jantung koroner, adalah suatu kondisi dimana plak terbentuk di dalam arteri koroner. Plak terdiri dari lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lain yang ditemukan dalam darah. Ketika plak terbentuk di arteri, kondisi ini disebut aterosklerosis. The American Heart Association telah mengidentifikasi beberapa faktor risiko Penyakit Jantung Koroner: faktor risiko utama yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin, keturunan), faktor risiko utama dapat diubah (merokok, kolesterol darah tinggi, hipertensi, fisik kurang aktif, obesitas / overweight, diabetes mellitus), faktor lain (stress, alkohol, diet dan nutrisi).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 | Suhartiningtyas | Insisiva Dental Journal 575 1806 1 PB

Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 | Suhartiningtyas | Insisiva Dental Journal 575 1806 1 PB

Status nutrisi, jenis kelamin, dan kebi- asaan merokok bukan sebagai faktor risiko PKR manis pada DM tipe 2. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Floch (1989) bahwa, status nutrisi dan jenis kelamin tampaknya tidak memiliki pengaruh terha- dap PKR karena status nutrisi dan jenis kelamin tidak terkait dengan diabetes. Hasil sedikit berbeda untuk kebiasaan merokok antara penelitian ini dengan penelitian se- belumnya. Penelitian sebelumnya menye- butkan merokok mempengaruhi PKR meskipun pengaruh tersebut tidak signifi- kan. Perbedaan hasil ini mungkin disebab- kan penetapan kriteria kelompok yang memiliki kebiasaan merokok, kurang tepat karena pasien DM tipe 2 yang pernah merokok/mantan merokok dianggap seba- gai perokok. Kemungkinan lain adalah konsumsi jumlah rokok perhari juga tidak diamati secara rinci. Padahal kedua faktor tersebut dapat berpengaruh pada PKR, seperti pendapat Vennemann (2008) bahwa merokok lebih dari 20 batang/hari yang memiliki peningkatan risiko untuk PKR.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH FAKTOR RISIKO TERHADAP FUNGSI PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR BERDASARKAN PEMERIKSAAN DISTORTION PRODUCT OAE.

PENGARUH FAKTOR RISIKO TERHADAP FUNGSI PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR BERDASARKAN PEMERIKSAAN DISTORTION PRODUCT OAE.

Tabel 1. Distribusi jenis kelamin bayi baru lahir yang diteliti ........................... 23 Tabel 2. Distribusi ada / tidak adanya faktor risiko ............................................ 23 Tabel 3. Distribusi faktor risiko yang diderita bayi ............................................ 24 Tabel 4a. Distribusi hasil pemeriksaan DPOAE pada 746 bayi baru lahir selama

5 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Risiko Terhadap Kejadian Stroke di RSUP H. Adam Malik Medan

Analisis Faktor Risiko Terhadap Kejadian Stroke di RSUP H. Adam Malik Medan

Stroke merupakan penyakit neurologis yang paling sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan tepat. Upaya pencegahan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengurangi angka kejadian stroke. Upaya pencegahan baru dapat dilakukan jika kita mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan kejadian stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stroke, bagaimana hubungan faktor risikos stroke terhadap kejadian stroke, dan faktor risiko stroke mana yang paling dominan terhadap kejadian stroke. Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan. Desain Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan jumlah sampel sebanyak 66 Orang. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Dari hasil analisis bivariat, faktor risiko yang berhubungan terhadap kejadian stroke yang memiliki nilai signifikan <0,05 adalah hipertensi (0,001), riwayat penyakit jantung (0,024). Hasil analisis multivariat, faktor risiko stroke yang dominan terhadap kejadian stroke adalah hipertensi dengan nilai signifikan (0,006) dan OR (5,389). Saran peneliti bagi masyarakat yang belum terkena stroke, mulailah mengontrol tekanan darah agar tidak terjadi hipertensi dan menjaga kesehatan jantung, karena riwayat hipertensi dan riwayat penyakit jantung berhubungan dengan kejadian stroke.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  PENENTUAN PERINGKAT FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA PROYEK DI JAWA TENGAH.

KESIMPULAN DAN SARAN PENENTUAN PERINGKAT FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA PROYEK DI JAWA TENGAH.

1. Berdasarkan nilai mean (rata-rata), didapatkan hasil peringkat dari faktor- faktor risiko dalam rekrutmen tenaga kerja yang mempengaruhi biaya tenaga kerja pada proyek di jawa tengah. Faktor risiko dalam rekrutmen tenaga kerja yang paling berpengaruh terhadap biaya tenaga kerja atau faktor risiko yang ada di peringkat 1 (satu) adalah salah satu faktor risiko dari sumber risiko kurang tepat dalam penempatan tenaga kerja yaitu faktor kinerja tidak sesuai dengan yang diharapkan dengan nilai mean sebesar 4,6563. Dan peringkat terendah atau peringkat 25 (dua puluh lima) adalah salah satu faktor risiko dari sumber risiko pembayaran tenaga kerja yang lebih ahli yaitu faktor tambahan waktu untuk merekrutnya dengan nilai mean sebesar 1,5313.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Toksoplasmosis pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran dan kematian pada bayi yang dilahirkan, hal ini dikarenakan terjadinya infeksi pada saat bayi dalam kandungan. Berdasarkan SDKI tahun 2007, tercatat 35% ibu hamil mengalami toksoplasma. Tahun 2008 kejadian toksoplasma pada ibu hamil meningkat menjadi 47%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Toksoplasma pada ibu hamil di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau tahun 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mengalami infeksi toksoplasma yaitu sebanyak 30 orang. Pada penelitian ini seluruh populasi dijadikan sebagai subjek yaitu 30 orang (kelompok kasus) dan 30 orang kelompok (kontrol). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain case control. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian toksoplasmosis yaitu variabel pendidikan. Hasil analisis multivariat, didapatkan OR dari variabel pendidikan adalah 4.344 (CI 95% : 1.804-16.427) artinya ibu hamil dengan pendidikan rendah beresiko 4 kali mengalami toksoplasmosis daripada ibu hamil yang berpendidikan tinggi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Dyah Ayu Pratiwi, 6450405503 (2011) Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Katarak Senilis (Studi Kasus di Balai Kesehatan Indera Masyarakat Kota Semarang Tahun 2011). Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Fibrilasi Atrium dengan Stroke Iskemik di RSUD DR. Moewardi.

PENDAHULUAN Hubungan Fibrilasi Atrium dengan Stroke Iskemik di RSUD DR. Moewardi.

Kejadian penyakit stroke sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi antara lain bertambahnya usia, jenis kelamin, jenis ras, geografi serta faktor yang bisa dimodifikasi yaitu penyakit jantung, diabetes melitus, merokok, aktivitas kurang, dan kebiasaan makan yang buruk (Setyopranoto, 2011). Penyakit jantung yang dapat menjadi faktor risiko stroke dibagi menjadi faktor risiko tinggi, misalnya fibrilasi atrium (WHO, 2007) dan risiko sedang, misalnya atrial flutter (Sembiring, 2010).

4 Baca lebih lajut

Karakterisitik Penderita Stroke Rawat Inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Tahun 2014-2015

Karakterisitik Penderita Stroke Rawat Inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Tahun 2014-2015

Kepada penderita stroke agar segera mendapatkan pelayanan kesehatan ≤6 jam apabila timbul serangan stroke dan bagi stroke yang mempunyai faktor risiko seperti hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes mellitus agar melakukan kontrol kesehatan secara berkala dan teratur. Bagi pihak rumah sakit perlu menambah SDM, sarana dan prasarana dan melengkapi pencatatan data karakteristik penderita stroke berdasarkan pendidikan, pekerjaan dan status perkawinan.

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...