faktor risiko

Top PDF faktor risiko:

FAKTOR RISIKO AUTISME

FAKTOR RISIKO AUTISME

Autisme merupakan gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak yang angka kejadiannya terus meningkat serta merupakan kasus yang paling cepat pertambahan jumlah penyandangnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Provinsi Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terdapat jumlah penyandang autisme cukup besar. Kabupaten Jember termasuk daerah yang banyak terdapat penyandang autisme. Di tempat terapi A tercatat sebanyak 5 anak autisme, Cahaya Nurani Resource Center sebanyak 3 anak autisme, di tempat terapi X terdapat sebanyak 13 anak autisme di tahun 2013 meningkat menjadi 22 anak autisme di tahun 2014 dan di sekolah dasar luar biasa Y sebanyak 14 anak autisme ditahun 2013 menjadi 19 anak autisme di tahun 2014. Terlihat sangat jelas terjadi peningkatan setiap tahunnya. Oleh sebab itu diperlukan kajian khusus mengenai faktor risiko apa saja yang menyebabkan autisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko autisme di tempat terapi X dan Sekoah Dasar Luar Biasa Y Kabupaten Jember tahun 2014.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Risiko Terhadap Kejadian Stroke di RSUP H. Adam Malik Medan

Analisis Faktor Risiko Terhadap Kejadian Stroke di RSUP H. Adam Malik Medan

Stroke merupakan penyakit neurologis yang paling sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan tepat. Upaya pencegahan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengurangi angka kejadian stroke. Upaya pencegahan baru dapat dilakukan jika kita mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan kejadian stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stroke, bagaimana hubungan faktor risikos stroke terhadap kejadian stroke, dan faktor risiko stroke mana yang paling dominan terhadap kejadian stroke. Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan. Desain Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan jumlah sampel sebanyak 66 Orang. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Dari hasil analisis bivariat, faktor risiko yang berhubungan terhadap kejadian stroke yang memiliki nilai signifikan <0,05 adalah hipertensi (0,001), riwayat penyakit jantung (0,024). Hasil analisis multivariat, faktor risiko stroke yang dominan terhadap kejadian stroke adalah hipertensi dengan nilai signifikan (0,006) dan OR (5,389). Saran peneliti bagi masyarakat yang belum terkena stroke, mulailah mengontrol tekanan darah agar tidak terjadi hipertensi dan menjaga kesehatan jantung, karena riwayat hipertensi dan riwayat penyakit jantung berhubungan dengan kejadian stroke.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Insidensi dan Faktor Faktor Risiko Terja

Insidensi dan Faktor Faktor Risiko Terja

Definisi SCD (sebagai luaran primer) yang dipakai pada studi ini adalah kematian yang muncul <1 jam setelah onset kejadian kardiak simtomatik. Data kronologi kematian diambil dari rekam medis. Laporan- laporan otopsi dan ringkasan-ringkasan catatan kematian telah diteliti untuk memastikan kesesuaiannya dengan klasifikasi SCD yang telah ditentukan. Semua data kematian yang ditemukan lalu dikategorikan menjadi tiga, yaitu: SCD, kematian jantung non-SCD, serta kematian dengan sebab tidak diketahui. Sebanyak 56 pasien dengan sebab kematian tidak diketahui tidak diikutkan dalam analisis faktor risiko. Selain angka kematian, luaran lain yang dicatat adalah angka kesintasan baik dengan transplantasi jantung maupun tanpa even terapi apapun (no event). 3
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PREVALENSI FAKTOR RISIKO

PREVALENSI FAKTOR RISIKO

Menurut Norris dan Nissenson (2008) bahwa prevalensi CKD bervariasi faktor risiko utama seperti diabetes , hipertensi , albuminuria di sosial ekonomi , jenis kelamin , dan kelompok etnis memainkan peran penting dalam perkembangan prevalensi dan komplikasi CKD. Australian Institute of Health and Welfare (AIHW) telah melakukan sistematisasi faktor risiko kejadian penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (ESRD) di Australia. Faktor risiko ESRD di Australia dibagi menjadi empat kelompok yaitu: (1) faktor lingkungan-sosial yang meliputi status sosial ekonomi, lingkungan fisik dan ketersediaan lembaga pelayanan kesehatan, 2) faktor risiko biomedik, meliputi antara lain diabetes, hipertensi, obesitas, sindroma metabolisma, infeksi saluran kencing, batu ginjal dan batu saluran kencing, glomerulonefritis, infeksi streptokokus dan keracunan obat; 3) faktor risiko perilaku, meliputi antara lain merokok atau pengguna tembakau, kurang gerak dan olah raga serta kekurangan makanan dan 4) faktor predisposisi, meliputi antara lain umur, jenis kelamin, ras atau etnis, riwayat keluarga dan genetik (AIHW,2005).
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Gambaran Prevalensi Faktor Risiko Penyebaran HIV/AIDS di RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2012-2013

Gambaran Prevalensi Faktor Risiko Penyebaran HIV/AIDS di RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2012-2013

Dari hasil penelitian ini juga didapati adanya faktor risiko baru yang tidak tertulis dalam kerangka konsep penelitian pada bab sebelumnya. Adapun faktor risiko tersebut adalah pisau cukur, tattoo dan tindik. Faktor risiko pisau cukur adalah yang mana pada penggunaan pisau cukur yang secara bergantian dengan menggunakan alat cukur yang menggunakan pisau silet. Tatto adalah tindakan pemasukan tinta dibawah kulit yang memiliki nilai seni. Terjangkitnya pasien dari tattoo yaitu dengan melakukan proses penatoan yang tidak higienis dan penggunaan jarum tatto yang tidak diganti dengan kata lain secara bergantian. Tindik merupakan penusukan pada organ tubuh manusia seperti telinga, hidung, alis mata, bibir, lidah ,dan lain sebagainya, yang digunakan untuk memasukkan benda-benda yang dianggap bernilai seni seperti emas, perak dan sebagainya. Tertularnya pasien melalui tindik dikarenakan penggunaan alat tindik yang secara bergantian dan kurang higienis. Adapun hal yang mendasari terjangkitnya melalui ketiga faktor risiko ini yaitu dikarenakan kontak dengan mukosa tubuh dan juga kontak dengan darah yang terjadi akibat proses pelaksanaan dari masing-masing faktor risiko ini.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Minimal Intervensi di Kedokteran Gigi Ba

Minimal Intervensi di Kedokteran Gigi Ba

Penilaian risiko bayi atau balita secara individual dalam mengembangkan karies berfungsi sebagai dasar bagi penyedia layanan kesehatan dan orang tua / pengasuh untuk mengidentifikasi dan memahami faktor risiko ECC pada anak. Penilaian risiko karies yang sistematis berfungsi sebagai panduan bagi dokter gigi untuk merancang protokol pengobatan dan pencegahan untuk anak-anak yang sudah menderita penyakit dan anak-anak yang berisiko. Untuk hasil yang optimal, penilaian risiko karies harus dilakukan sedini mungkin, dan sebaiknya sebelum onset proses penyakit. Karena karies pada gigi sulung adalah predictor yang kuat dari karies pada gigi permanen, penilaian dan pengelolaan risiko karies sangat penting, demikian juga tindak lanjut berikutnya. 29,30 Konsep keseimbangan karies menunjukkan bahwa
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Karakterisitik Penderita Stroke Rawat Inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Tahun 2014-2015

Karakterisitik Penderita Stroke Rawat Inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Tahun 2014-2015

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh proporsi tertinggi pada kelompok umur 55-64 tahun (41,9), laki-laki (55,2%), suku Mandailing (91,4%), pendidikan SLTA (25,7%), pekerjaan petani (51,4%), status kawin (61%), hipertensi (44,8%), onset serangan ≤6 jam (89,5%), serangan stroke awal (97,1%), belum melakukan pemeriksaan CT Scan (69,5%), stroke Iskemik (68,6%), hemiparesis dextra (54,5%), lama rawatan terbanyak ≤7 hari (92,4%), BPJS (86,7%), dirujuk ke rumah sakit lain (53,4%), dan Case Fatality Rate (CFR) stroke sebesar 15,24% . Tidak ada perbedaan proporsi umur berdasarkan faktor risiko (p=0,206), jenis kelamin berdasarkan faktor risiko (p=0,400), faktor risiko berdasarkan tipe stroke (p=1,000), onset serangan berdasarkan tipe stroke (p=0,662), onset serangan berdasarkan letak kelumpuhan (p=0,986), tipe stroke berdasarkan letak kelumpuhan (p=1,000), lama rawatan berdasarkan tipe stroke (p=0,998) dan onset serangan berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,871). Ada perbedaan pemeriksaan CT Scan berdasarkan jenis serangan stroke (p=0,026) dan tipe stroke berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,001).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Karakterisitik Penderita Stroke Rawat Inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Tahun 2014-2015

Karakterisitik Penderita Stroke Rawat Inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Tahun 2014-2015

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh proporsi tertinggi pada kelompok umur 55-64 tahun (41,9), laki-laki (55,2%), suku Mandailing (91,4%), pendidikan SLTA (25,7%), pekerjaan petani (51,4%), status kawin (61%), hipertensi (44,8%), onset serangan ≤6 jam (89,5%), serangan stroke awal (97,1%), belum melakukan pemeriksaan CT Scan (69,5%), stroke Iskemik (68,6%), hemiparesis dextra (54,5%), lama rawatan terbanyak ≤7 hari (92,4%), BPJS (86,7%), dirujuk ke rumah sakit lain (53,4%), dan Case Fatality Rate (CFR) stroke sebesar 15,24% . Tidak ada perbedaan proporsi umur berdasarkan faktor risiko (p=0,206), jenis kelamin berdasarkan faktor risiko (p=0,400), faktor risiko berdasarkan tipe stroke (p=1,000), onset serangan berdasarkan tipe stroke (p=0,662), onset serangan berdasarkan letak kelumpuhan (p=0,986), tipe stroke berdasarkan letak kelumpuhan (p=1,000), lama rawatan berdasarkan tipe stroke (p=0,998) dan onset serangan berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,871). Ada perbedaan pemeriksaan CT Scan berdasarkan jenis serangan stroke (p=0,026) dan tipe stroke berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,001).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

TAPPDF.COM  PDF DOWNLOAD FAKTORFAKTOR RISIKO PASIEN DIABETES MELITUS 1 PB

TAPPDF.COM PDF DOWNLOAD FAKTORFAKTOR RISIKO PASIEN DIABETES MELITUS 1 PB

Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian DM. Dapat diketahui bahwa jumlah yang memiliki pola makan tidak sehat sedikit lebih banyak pada kelompok kasus. Pendugaan faktor risiko pola makan diketahui bahwa OR sebesar 1,06 yang artinya probabilitas untuk terjadinya DM pada orang dengan pola makan tidak sehat dan pola makan sehat adalah lebih kurang sama atau 1 banding 1. Selanjutnya dari nilai PAR diketahui sekitar 6% kasus DM dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko adanya pola makan yang tidak sehat. Pola makan (dietary habits) yang tidak sehat, seperti makan-makanan yang berlebihan atau kelebihan zat-zat nutrisi seperti karbohidrat merupakan faktor risiko untuk terjadi DM. Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola kepribadian dengan kejadian DM. Dapat diketahui pula bahwa jumlah yang memiliki kepribadian tipe A lebih banyak pada kelompok kasus. Pendugaan faktor risiko pola kepribadian responden diperoleh bahwa OR sebesar 50,4 yang artinya probabilitas untuk terjadinya DM pada orang dengan tipe kepribadian A/B dan B dan tipe kepribadian A adalah lebih kurang 1 banding 50 dimana dari nilai PAR diperoleh sekitar 98% (kasus DM dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko adanya pola kepribadian tipe A). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa orang dengan aktivitas fisik yang kurang dan mengalami stres psikososial serta individu dengan gaya hidup yang agresif, selalu berkompetisi (type A personality) atau biasa juga disebut dengan sedentary person merupakan faktor risiko menderita DM (pre-diabetic risk factor). 8
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Wisnu W G2A008196 Lap

Wisnu W G2A008196 Lap

Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya osteoporosis, yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain adalah usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, riwayat fraktur, sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain adalah indeks massa tubuh, konsumsi alkohol, merokok, hormon endogen seperti estrogen, menopause dini, aktifitas fisik, penyakit sistemik, dan penggunaan steroid jangka panjang. 5 Masalah yang dihadapi ketika seseorang mengalami osteoporosis tidak hanya karena penurunan kualitas dan fungsi hidup individu, tetapi juga masalah biaya kesehatan ketika terjadi fraktur dan meningkatnya mortalitas. 6, 7
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Dyah Ayu Pratiwi, 6450405503 (2011) Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Katarak Senilis (Studi Kasus di Balai Kesehatan Indera Masyarakat Kota Semarang Tahun 2011). Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

2 Baca lebih lajut

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Ke

Toksoplasmosis pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran dan kematian pada bayi yang dilahirkan, hal ini dikarenakan terjadinya infeksi pada saat bayi dalam kandungan. Berdasarkan SDKI tahun 2007, tercatat 35% ibu hamil mengalami toksoplasma. Tahun 2008 kejadian toksoplasma pada ibu hamil meningkat menjadi 47%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Toksoplasma pada ibu hamil di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau tahun 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mengalami infeksi toksoplasma yaitu sebanyak 30 orang. Pada penelitian ini seluruh populasi dijadikan sebagai subjek yaitu 30 orang (kelompok kasus) dan 30 orang kelompok (kontrol). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain case control. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian toksoplasmosis yaitu variabel pendidikan. Hasil analisis multivariat, didapatkan OR dari variabel pendidikan adalah 4.344 (CI 95% : 1.804-16.427) artinya ibu hamil dengan pendidikan rendah beresiko 4 kali mengalami toksoplasmosis daripada ibu hamil yang berpendidikan tinggi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Wanita Usia   45 Tahun (Studi Kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Wanita Usia 45 Tahun (Studi Kasus di RSUP Dr. Kariadi Semarang) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Tujuan penelitian adalah untuk menentukan besarnya pengaruh faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi terhadap kejadian PJK pada wanita usia >45 tahun. Adapun faktor-faktor risiko yang akan diteliti yaitu : penuaan, riwayat penyakit keluarga, hipertensi, diabetes mellitus, kebiasaan merokok, obesitas, keadaan sosioekonomi, pengetahuan tentang penyakit jantung, pola diet tidak sehat, inaktivitas fisik, dislipidemia, menopause, riwayat penggunaan kontrasepsi oral. Seluruh faktor risiko ini ditentukan pengaruh hubungannya secara sendiri-sendiri dan secara bersama-sama terhadap kejadian PJK pada wanita usia >45 tahun.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita HIV AIDS yang Berobat Jalan di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015

Karakteristik Penderita HIV AIDS yang Berobat Jalan di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015

Hasil Penelitian menunjukkan proporsi penderita HIV/AIDS yang berobat jalan paling banyak pada kelompok umur 30-39 tahun yaitu laki- laki (34,8%), Suku Batak (49,6%), SLTA (67,8%), wiraswasta (42,1%), menikah (46,7%), dan daerah tempat tinggal di wilayah Kota Medan (84,4%), heteroseksual (64,3%), penderita yang mempunyai infeksi oportunistik (70,6%), TB Paru/Kelenjar (61,0%), jumlah CD4 terakhir 200-499 µl (47,1%), tahap terapi ARV lini 1 (64,9%). Tidak ada perbedaan proporsi jenis kelamin berdasarkan faktor risiko penularan (p=0,098), pekerjaan berdasarkan faktor risiko penularan (p=0,725), status pernikahan berdasarkan faktor risiko penularan (p=0,188), umur berdasarkan infeksi oportunistik (p=0,522), jenis kelamin berdasarkan infeksi oportunistik (p=0,817) serta ada perbedaan proporsi pendidikan berdasarkan faktor risiko penularan (p=0,026).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA WANITA USIA SUBUR KOTA SEMARANG TAHUN 2015 (studi kasus di Puskesmas Ngaliyan, Puskesmas Poncol dan Puskesmas Purwoyoso Kota Semarang) - UDiNus Repository

FAKTOR RISIKO KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA WANITA USIA SUBUR KOTA SEMARANG TAHUN 2015 (studi kasus di Puskesmas Ngaliyan, Puskesmas Poncol dan Puskesmas Purwoyoso Kota Semarang) - UDiNus Repository

Menurut data Global Burden Cancer (GLOBOCAN) tahun 2012 diketahui bahwa kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan persentase kasus baru (setelah dikontrol oleh umur) tertinggi, yaitu sebesar 43,3%, dan persentase kematian (setelah dikontrol oleh umur) akibat kanker payudara sebesar 12,9%. 4 Keganasan kanker payudara adalah salah satu penyebab kematian terbesar pada wanita, meskipun kanker ini dapat menyerang kelompok pria. Tetapi, kanker ini sangat jarang ditemukan pada pria, hanya sekitar 1% saja jika dibandingkan dengan wanita. Dengan kata lain, wanita memiliki risiko 100 kali lebih besar terkena kanker payudara dibanding pria. 1
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  PENENTUAN PERINGKAT FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA PROYEK DI JAWA TENGAH.

KESIMPULAN DAN SARAN PENENTUAN PERINGKAT FAKTOR RISIKO DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA YANG MEMPENGARUHI BIAYA TENAGA KERJA PADA PROYEK DI JAWA TENGAH.

1. Berdasarkan nilai mean (rata-rata), didapatkan hasil peringkat dari faktor- faktor risiko dalam rekrutmen tenaga kerja yang mempengaruhi biaya tenaga kerja pada proyek di jawa tengah. Faktor risiko dalam rekrutmen tenaga kerja yang paling berpengaruh terhadap biaya tenaga kerja atau faktor risiko yang ada di peringkat 1 (satu) adalah salah satu faktor risiko dari sumber risiko kurang tepat dalam penempatan tenaga kerja yaitu faktor kinerja tidak sesuai dengan yang diharapkan dengan nilai mean sebesar 4,6563. Dan peringkat terendah atau peringkat 25 (dua puluh lima) adalah salah satu faktor risiko dari sumber risiko pembayaran tenaga kerja yang lebih ahli yaitu faktor tambahan waktu untuk merekrutnya dengan nilai mean sebesar 1,5313.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Manajemen Risiko Terhadap Biaya Dan Waktu Pada Pekerjaan Struktur Gedung Bertingkat Tinggi (Studi Kasus Pembangunan Apartemen Grand Jati Junction)

Manajemen Risiko Terhadap Biaya Dan Waktu Pada Pekerjaan Struktur Gedung Bertingkat Tinggi (Studi Kasus Pembangunan Apartemen Grand Jati Junction)

Risiko pada setiap proyek konstruksi pasti ada, risiko yang tidak terkendali akan menjadi masalah dan menimbulkan kerugian pada proyek akibat dari pembengkakan biaya (cost overrun) dan keterlambatan pelakasanaan pekerjaan. Oleh karena itu untuk mengelola risiko perlu dilakukan manajemen risiko sehingga proyek tersebut dapat bertahan, atau barangkali mengoptimalkan risiko. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang dominan, seberapa besar level risiko yang terjadi dan respon yang diberikan terhadap risiko- risiko yang dominan terhadap kinerja biaya dan waktu pada pekerjaan struktur dari proyek Pembangunan Apartemen Grand Jati Junction. Pada penelitian ini, kuesioner disebar kepada pihak kontraktor pada proyek tersebut untuk mengetahui frekuensi dan dampak risiko. Dari hasil penelitian ini didapat 8 faktor yang menjadi faktor risiko yang dominan dengan level yang bervariasi (berbeda-beda) tergantung dari kompleksitas pekerjaannya dan situasi kondisi pada saat pelaksanaan masing-masing tahapan pekerjaan, yaitu: Curah hujan yang melebihi estimasi BMKG, Muka Air tanah lebih tinggi dari hasil penyelidikan tanah, Inflasi/kenaikan harga yang melebihi estimasi awal, Subkontraktor kurang berkualitas, Produktivitas peralatan rendah, Keterlambatan pengiriman material, Pekerjaan lain yang mendahului masih terlambat, Sistem pengendalian biaya dan waktu yang lemah menyebabkan keterlambatan dan penambahan biaya. Kemudian diperoleh respon risiko berupa tindakan pencegahan untuk mencegah atau meminimalisir risiko tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hubungan Antara Beberapa Faktor Risiko Terhadap Terjadinya Penyakit Hepatitis C di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012 - 2013 Chapter III VI

Hubungan Antara Beberapa Faktor Risiko Terhadap Terjadinya Penyakit Hepatitis C di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012 - 2013 Chapter III VI

Dari hasil penelitian ini berdasarkan hasil perhitungan Chi-square Test diperoleh nilai p=0.016 (p<0.05), maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Hasil ini memiliki makna bahwa ada hubungan yang signifikan antara transfusi darah dengan kejadian hepatitis C. Gheorghe, et al,. (2010), pada penelitiannya juga didapati adanya hubungan yang bermakna antara transfusi darah dengan kejadian Hepatitis C (p=0.0001). Risiko infeksi melalui transfusi pada tahun 2012 sekitar 0,001% per unit transfusi, atau sekitar 0,075% per penerima (ALF, 2012). Berdasarkan WHO’s Global Database of Blood Safety diperkirakan 43% produk darah di negara berkembang tidak mendapatkan skrining HCV yang adekuat (WHO, 2014).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

20708 ID faktor faktor yang berpengaruh terhadap risiko kehamilan 4 terlalu 4 t pada wani

20708 ID faktor faktor yang berpengaruh terhadap risiko kehamilan 4 terlalu 4 t pada wani

Keterbatasan variabel yang ditanyakan dalam Riskesdas 2013 juga menjadi keterbatasan data dalam analisis ini. Adapun variabel yang dianalisis adalah variabel karakteristik ibu (umur saat ini, umur saat menikah pertama kali, umur saat melahirkan anak terakhir, pendidikan dan pekerjaan ibu dan ayah), status ekonomi, riwayat kehamilan dan kelahiran anak terakhir, daerah tempat tinggal, penggunaan KB, pemberian ASI, dan akses ke fasilitas kesehatan. Untuk mengetahui faktor risiko kehamilan 4-T (4 terlalu) maka dalam analisis ini ditetapkan variabel dependen adalah komposit dari umur saat melahirkan (untuk menentukan terlalu tua atau terlalu muda) dan jumlah anak yang telah dilahirkan (untuk menentukan terlalu banyak) serta jarak kelahiran antara anak terakhir dan anak sebelumnya (untuk menentukan terlalu sering).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB IV . METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV . METODOLOGI PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, nilai m terbesar adalah 145. Nilai m tersebut hanya untuk kelompok dengan faktor risiko, karena penelitian ini merupakan penelitian pada kelompok dengan faktor risiko dan tanpa faktor risiko, maka nilai sampel tersebut dikalikan dua sehingga didapatkan hasil jumlah sampel yang baik dalam penelitian ini adalah 290 responden. Karena jumlah perawat ruang rawat inap Rumah Sakit Bhayangkara berjumlah 42 orang, maka peneliti memutuskan untuk mengambil seluruh jumlah sampel ini untuk dijadikan sebagai responden.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...