Kata kunci: Hasil Belajar

Top PDF Kata kunci: Hasil Belajar:

Kata Kunci Hasil belajar matematika

Kata Kunci Hasil belajar matematika

Sebagai anak didik bahkan berpendapat bahwa pelajaran berhitung adalah “momoknya” pelajaran. Karena itulah, diperlukan suatu metode belajar yang tepat sehingga dapat meningkatkan daya serap anak didik pada pelajaran berhitung.Berdasarkan hal di atas, maka penulis berusaha membuat suatu metode yang tepat, dan sekaligus melakukan penelitian, sampai seberapa jauhkah daya serap anak terhadap pelajaran berhitung dengan menggunakan metode diskusi. Dari hasil penelitian ini, nantinya dapat diketahui peningkatan prestasi dan nilai yang diperolah anak didik. Karena seperti diketahui, dengan menggunakan metode ini , anak didik dituntut untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar, sehingga nantinya anak didik terbiasa untuk berfikir dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Kata Kunci: Gambar Bergerak, Gambar Diam, Hasil Belajar PENDAHULUAN - PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BERGERAK DENGAN GAMBAR DIAM

Kata Kunci: Gambar Bergerak, Gambar Diam, Hasil Belajar PENDAHULUAN - PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BERGERAK DENGAN GAMBAR DIAM

Karena media secara verbal saja sulit dipahami oleh peserta didik. Adanya media visual berupa gambar diam dapat membantu peserta didik dalam menerima pelajaran dan juga memahaminya. Penggunaan media gambar statis seperti fotografi, bagan, grafik dan kartun dapat membantu pembelajaran fisika di sekolah. Adinata (2015) dalam hasil penelitiannya berpendapat bahwa “Kehadiran gambar dalam kegiatan pembelajaran akan memberi nuansa baru. Ia dapat menjadi perangsang atau menjadi stimulan saat kegiatan pembelajaran”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mana yang lebih baik digunakan untuk belajar materi fluida dinamis antara media gambar bergerak dengan gambar diam.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kata Kunci: efektifitas, model pembelajaran inkuiri, hasil belajar PPKn Pendahuluan - FEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PPKn SISWA

Kata Kunci: efektifitas, model pembelajaran inkuiri, hasil belajar PPKn Pendahuluan - FEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PPKn SISWA

Berdasarkan observasi pada tindakan keempat ini, ternyata semua kelompok (100%) sudah menunjukkan unjuk kerja yang semakin membaik. Hal ini ditandai oleh, misalnya, dalam hal ketergantungan yang positif dan sharing ide, mereka sudah mampu memperlihatkannya antara lain sebagian anggota kelompok mencari literature yang relevan dengan tugas kelompok di rak- rak buku perpustakaan; tatkala literature yang dimaksud sudah diperoleh mereka mendiskusikannya dengan anggota kelompok lain untuk menentukan, apakah literature itu cocok dengan tugas kelompoknya atau tidak. Kalau cocok, maka beberapa anggota kelompok membuka-buka halaman buku tersebut, mencari bagian dari isi buku itu yang relevan dengan tugas yang tengah mereka kerjakan, untuk mereka kutip atau tulis di secarik kertas yang sudah mereka persiapkan untuk itu. Kalau tidak cocok, maka mereka kembali lagi ke rak-rak buku untuk mencari lagi literature yang relevan dengan tugas kelompoknya. Begitu seterusnya, sehingga seluruh tugas kelompok dapat mereka tuntaskan. Dari sini, juga terlihat adanya akuntabilitas individu anggota kelompok, misalnya, ada anggota kelompok yang sangat mahir mengoperasikan komputer (mengetik menggunakan program aplikasi computer semisal Microsoft Word atau Corel Draw) maka dia dipercaya oleh anggota kelompok lainnya untuk menyelesaikan laporan tugas kelompoknya. Begitu pula ketua dan sekretaris kelompok sibuk mengkoordinasikan dan mengontrol anggota kelompoknya, umpamanya, ada anggota kelompok yang bermain-main atau melihat-lihat literature yang tidak ada kaitannya dengan tugas kelompok, maka mereka segera menegurnya dengan mengingatkan kembali akan tujuan pokok mereka datang ke perpustakaan itu. Dengan begitu, teamwork yang kompak tampak menonjol di sini. Hasil dialog kreatif antara guru dengan siswa pun menyiratkan hal yang senada. Meskipun kelihatannya unjuk kerja kelompok sudah menunjukkan hasil yang baik, namun guru mencoba mencari tahu barangkali masih ditemukan adanya kendala dan persoalan yang mungkin terjadi pada tindakan keempat ini.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kata Kunci: Discovery Learning, Hasil Belajar, Skill Representasi Matematis PENDAHULUAN - PENGARUH SKILL REPRESENTASI MATEMATIS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL DISCOVERY LEARNING

Kata Kunci: Discovery Learning, Hasil Belajar, Skill Representasi Matematis PENDAHULUAN - PENGARUH SKILL REPRESENTASI MATEMATIS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL DISCOVERY LEARNING

Melihat kontribusi skill represen- tasi matematis terhadap hasil belajar dalam ranah kognitif masih tergolong rendah, salah satu penyebab yang me- nyebabkan pengaruh kontribusi skill representasi matematis rendah adalah masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam merepre- sentasikan materi fisika secara mate- matis yang sedang dipelajari. Kesulitan siswa dalam merepresentasikan perma- salahan fisika terlihat pada kemampuan siswa dalam merepresentasikan bentuk gambar atau diagram untuk mengubah- nya dalam bentuk matematis, kesulitan ini disebabkan oleh kurang mampunya siswa menggambarkan dan menentu- kan arah gaya yang bekerja pada suatu benda pada materi Hukum Newton tentang Gerak, sehingga dapat menye- babkan siswa salah menentukan tanda positif atau negatif pada gaya yang bekerja pada benda dalam menentukan persamaan matematis. Selain itu, siswa juga masih kesulitan dalam memindahkan ruas suatu persamaan dan siswa juga masih kesulitan dalam merepresentasikan soal secara mate-matis ketika diberikan soal berupa pernyataan (verbal).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kata kunci : pembelajaran kooperatif, jigsaw, hasil belajar Pendahuluan - PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIKA PENELITIAN PENDIDIKAN

Kata kunci : pembelajaran kooperatif, jigsaw, hasil belajar Pendahuluan - PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIKA PENELITIAN PENDIDIKAN

Pembelajaran kooperatif sendiri memiliki beberapa tipe, salah satu diantaranya adalah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Seperti dikutip Emildadiany (2008:4) dari Anita Lie (2007) dalam bukunya Cooperative Learning bahwa Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Dalam model pembelajaran ini, mahasiswa belajar dalam kelompok kecil (berkelompok) yang terdiri dari 4–5 orang secara heterogen dan bekerja sama yang saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kata-kata kunci: konsep diri, Hasil Belajar IPS

Kata-kata kunci: konsep diri, Hasil Belajar IPS

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinasi konsep diri dengan hasil belajar IPS. Penelitian ini dilakukan pada semester genap SMP Negeri 3 Singaraja. Subjek penelitian diambil secara proportional random sampling sebanyak 186 orang dari 360 orang populasi. Data hasil belajar diambil melalui tes hasil belajar, data konsep diri diukur dengan kuesioner model skala Likert. Data dianalisis dengan korelasi product moment. Penelitian menemukan terdapat determinasi langsung antara konsep diri dengan hasil belajar IPS sebesar 15,0% dengan (r = 0,387 ; ρ = 0,029) Keadaan ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPS dikontribusi oleh konsep diri.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kata kunci: standardisasi penilaian, learning continuum hasil belajar,

Kata kunci: standardisasi penilaian, learning continuum hasil belajar,

Penelitian ini bertujuan mengembangkan panduan acuan standardisasi penilaian hasil belajar berbasis sekolah, kasus pada mata pelajaran Biologi dan Bahasa Indonesia di SMA. Hasil yang dicapai yakni tersusunnya panduan standardisasi penilaian yang terdiri dari (a) learning continuum Biologi dan Bahasa Indonesia SMA yang telah ditelaah pakar terkait, (b) Panduan Penyusunan Butir Tes Pola Konvergen dan Divergen, dan (3) Panduan Analisis Data Pengukuran Pendidikan menggunakan Program Quest dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Ketiga- nya sudah divalidasi melalui kegiatan diseminasi kepada para guru Biologi dan Bahasa Indonesia di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat pada tahun kedua. Kemudian divalidasi lagi melalui kegiatan diseminasi kepada para widyaiswara di LPMP DI Yogyakarta, Jawa tengah, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat pada tahun ketiga. Oleh karena itu, ketiga perangkat tersebut sudah dapat dijadikan pegangan bagi para praktisi di lapangan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Kata-kata kunci: kuantum, video pembelajaran, psikomotorik

Kata-kata kunci: kuantum, video pembelajaran, psikomotorik

Desain Pembelajaran Kuantum untuk Meningkatkan Hasil Belajar Psikomotorik Quantum Teaching merupakan suatu pembelajaran yang memadukan unsur seni dan pencapaian-pencapaian terarah pada semua mata pelajaran. Menurut DePorter, et al (2011: 37) menyatakan bahwa “ Quantum Teaching sebuah model yang diperumpamakan seperti sebuah simfoni, ada banyak unsur yang menjadi pengalaman bermusik dimana unsur-unsur tersebut dibagi menjadi dua kategori, yaitu: konteks dan isi”. Secara filosofis Quantum Teaching memiliki tiga kata kunci, yaitu: 1) Quantum merupakan interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, QT dengan demikian adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar dimana interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain; 2) Pemercepatan belajar, menyingkirkan hambatan yang mungkin menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pembelajaran yang sesuai, penyajian efektif dan keterlibatan aktif; 3) Fasilitasi, memudahkan segala hal.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPA Siswa Melalui Model Problem Based Learning di Kelas 5 SDN Kutowinangun 11

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPA Siswa Melalui Model Problem Based Learning di Kelas 5 SDN Kutowinangun 11

Ari Parimpasa “Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa melalui model Problem Based Learning di kelas 5 SDN Kutowinangun 11” Tugas Akhir Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Pembimbing I Drs.Suroso, M.Pd,. Pembimbing II Yustinus, M.Pd. Kata kunci: Problem Based Learning, Keaktifan Belajar, Hasil Belajar IPA

15 Baca lebih lajut

2. Jurnal Bioedukatika Merti 9 14

2. Jurnal Bioedukatika Merti 9 14

dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain adalah guru dan siswa. Selain itu, peran guru sebagai fasilitator, mediator dan motivator bertugas menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan pengetahuannya dengan fasilitas yang ada. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terbatas dengan guru mata pelajaran biologi di SMAN 2 Wates, media pembelajaran yang tersedia di laboratorium biologi SMAN 2 Wates masih terbatas khususnya multimedia interaktif materi sistem saraf. Sedangkan hasil observasi dan wawancara terbatas terhadap siswa, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi biologi khususnya materi sistem saraf. Hal ini disebabkan karena materi ini sifatnya sulit divisualisasikan atau objeknya sulit untuk dihadirkan Kata kunci : pengembangan, multimedia interaktif, motivasi belajar, hasil belajar
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kata-kata kunci : Motivasi Berprestasi, Sikap Guru Terhadap Manajemen

Kata-kata kunci : Motivasi Berprestasi, Sikap Guru Terhadap Manajemen

Di lingkungan sistem persekolahan, konsep mutu pendidikan dipersepsi berbeda-beda oleh berbagai pihak. Menurut persepsi kebanyakan orang (orang tua dan masyarakat pada umumnya), mutu pendidikan di sekolah secara sederhana dilihat dan perolehan nilai atau angka yang dicapai seperti ditunjukkan dalam hasil-hasil ulangan dan ujian. Sekolah dianggap bermutu apabila para siswanya, sebagian besar atau seluruhnya, memperoleh nilai/angka yang tinggi, sehingga berpeluang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai atau angka tersebut diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar, yang dapat dipercaya menggambarkan derajat perubahan tingkah laku atau penguasaan kemampuan yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, hasil pendidikan yang bermutu memiliki nuansa kuantitatif dan kualitatif. Artinya, di samping ditunjukkan oleh indikator seberapa banyak siswa yang berprestasi sebagaimana dilihat dalam perolehan angka/nilai yang tinggi, juga ditunjukkan oleh seberapa baik kepemilikan mutu pribadi para siswanya, seperti tampak dalam kepercayaan diri, kemandirian, disiplin, kerja keras dan ulet, terampil, berbudi-pekerti, beriman dan bertaqwa, tanggung jawab sosial dan kebangsaan, apresiasi, dan lain sebagainya. Analisis di atas memberikan pemahaman yang jelas bahwa konsep sekolah efektif berkaitan langsung dengan mutu kinerja sekolah.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Kata-kata kunci : inovasi, fullday school

Kata-kata kunci : inovasi, fullday school

Dari aktivitas tersebut, dapat mengembangkan karakter positif bagi siswa SD. Sejalan dengan hal tersebut Ryan & Lickona (1992; Taylor, 2017) menyatakan bahwa, pengembangan karakter dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Untuk itu, pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik, jika semua potensi yang ada pada anak dikembangkan. Anak didik dibantu mengerti nilai yang mau dilakukan (pengetahuan), dibantu menjadi tertarik pada nilai itu (afeksi), dan akhirnya dibantu untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua potensi itu harus terus dikembangkan dalam proses pendidikan, sehingga anak menjadi semakin berkembang utuh (Khusniati, 2012; Hidayati, 2013).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA SISWA YANG MENGGUNAKAN STRATEGI QUANTUM TEACHING DAN MENGGUNAKAN STRATEGI MIND MAPS DI KELAS V SDN 104607 SEI ROTAN T.A 2013/2014.

PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA SISWA YANG MENGGUNAKAN STRATEGI QUANTUM TEACHING DAN MENGGUNAKAN STRATEGI MIND MAPS DI KELAS V SDN 104607 SEI ROTAN T.A 2013/2014.

DePorter (2010: 39-40), menjelaskan bahwa TANDUR yaitu : (1) Tumbuhkan minat dengan memuaskan, yakni apakah manfaat pembelajaran tersebut bagi guru dan murid; (2) Alami, yakni ciptakan dan datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa; (3) Namai, untuk ini harus disediakan kata kunci, konsep, model rumus, strategi yang kemudian menjadi sebuah masukan bagi siswa; (4) Demonstrasikan, yakni sediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu; (5) Ulangi, yakni tunjukkan kepada para siswa tentang cara-cara mengulang materi dan menegaskan “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”; (6) Rayakan, yakni pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kata Kunci : kecerdasan emosi, religiuitas

Kata Kunci : kecerdasan emosi, religiuitas

Hal ini didukung oleh hasil wawancara peneliti pada salah seorang siswa akselerasi disalah satu SMAN di Kota Malang yang menyatakan kelelahan akan jadwal belajar yang ada sehingga mengulur waktu untuk memulai mengerjakan tugas ataupun mempelajari pelajaran untuk ujian keesokan hariannya yang terkadang membuat penyesalan tersendiri karena tidak memiliki waktu untuk mengevaluasi hasil kerja sebelum mengumpulkan tugas. Selain itu, terdapat pula seorang siswa akselerasi yang menyatakan melakukan penundaan karena melakukan aktifitas lain selain aktifitas sekolah karena bosan dengan kegiatan belajar yang ada.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kata-kata kunci: fonologi, fon, fonem, bahasa Korea

Kata-kata kunci: fonologi, fon, fonem, bahasa Korea

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fonologi bahasa Korea. Bahasa Korea memiliki fonem /i/, /i:/, /e/, /e:/, /u/, /u:/, /ŭ/, /o/, /o:/, /ŏ/, /a/, /a:/, /b/, /p/, /d/, /t/, /j/, /c/, /g/, /k/, /m/, /n/, /ŋ/, /s/, /x/, /h/, /č/, /l/, /r/, /y/, /w/; /ṫ/, dan /ṗ/; diftong [Ia], [Iŏ], dan [Iu]; serta serta struktur suku kata V, VK, KV, KVK, KVV, KKV, dan KVKK. Fonem bahasa Korea berupa fonem vokal /i/, /e/, /u/, /o/, dan /a/ berdistribusi secara lengkap. Namun, fonem /e/ hanya berdistribusi di tengah dan akhir kata saja. Diftong [Ia] dan [Iu] berdistribusi di tengah kata, sementara fonem [Iŏ] terdapat di tengah dan akhir kata.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MENENTUKAN KATA-KATA KUNCI DAN KETERAMPILAN MEMBACA.

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MENENTUKAN KATA-KATA KUNCI DAN KETERAMPILAN MEMBACA.

Keterbatasan kemampuan siswa dalam pemahaman membaca dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti menentukan kata kunci dalam sebuah kalimat, motivasi dalam membaca, kebiasaan membaca, minimnya pengetahuan kosakata serta waktu yang dibutuhkan dalam membaca sebuah teks. Pada dasarnya faktor-faktor kemampuan siswa dalam pemahaman membaca itu akan berbeda satu sama lain. Siswa dapat memahami sebuah teks karena ada pengaruh kosakata yang diketahuinya. Setiap kalimat terdiri dari beberapa unsur kata yang membangunnya. Dari kata-kata itulah siswa dapat mengerti arti kalimat tersebut, namun siswa tidak harus mengetahui arti setiap kata.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (10). doc

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (10). doc

Tanjungbalai sebanyak 30 orang, dengan rincian 12 orang siswa perempuan dan 18 orang siswa laki-laki. Instrumen pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah menggunakan test, angket dan observasi. Rentang nilai untuk tes adalah 1-100. Teknik analisa data yang digunakan adalah menggunakan perhitungan jumlah nilai yang diperoleh siswa dibagi jumlah nilai total dikalikan dengan seratus kemudian perhitungan data menggunakan pengelompokan nilai rata-rata siswa, persentase siswa yang tuntas dan persentase jumlah siswa yang belum tuntas. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat peningkatan hasi belajar dengan menerapkan pendekatan pembelajaran cara belajar siswa aktif dengan hasil sebagai berikut: (1) terdapat peningkatan rata- rata hasil belajar siswa, dimana pada tes awal rata-rata hasil belajar siswa adalah 52,33, pada siklus I meningkatkan menjadi 64,67 kemudian pada siklus II
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH MATERI HUKUM PERKAWINAN MELALUI METODE DISCOVERY LEARNING PADA SISWA KELAS XI KEAGAMAAN MADRASAH ALIYAH ALMANAR BENER KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2017/2018 - Test Repository

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH MATERI HUKUM PERKAWINAN MELALUI METODE DISCOVERY LEARNING PADA SISWA KELAS XI KEAGAMAAN MADRASAH ALIYAH ALMANAR BENER KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2017/2018 - Test Repository

Belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, dan keterampilan (Dalyono, 1997). Menurut Rogers dalam Dalyono (1997) belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar tersebut. Suradi dalam Sardiman (2001) juga menyatakan bahwa salah satu ciri terjadinya proses belajar adalah ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Jadi suatu siswa dikatakan telah mengalami belajar jika siswa tersebut ikut terlibat secara langsung atau mengalami sendiri proses pembelajaran sehingga dalam diri siswa tersebut terjadi perubahan baik dalam hal penambahan pengetahuan, keterampilan maupun terjadi perubahan tingkah laku ataupun sikap.
Baca lebih lanjut

200 Baca lebih lajut

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DENGAN MODEL STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISIONS) BERBANTU MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS IV SD 3 BULUNG KULON

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DENGAN MODEL STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISIONS) BERBANTU MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS IV SD 3 BULUNG KULON

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan guru, dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SD N 3 Bulung Kulon dengan diterapkannya model pembelajaran STAD berbantu media gambarmateri perkembangan teknologi.Hasil belajar merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar. STAD adalah kegiatan belajar mengajar dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil dengan level kemampuan akademik yang berbeda-beda saling bekerjasama untuk menyelesaikan lembar kegiatan. Media gambar adalah media visual termasuk foto, lukisan atau gambar, dan sketsa (gambar garis). Hipotesis tindakan dalam penelitian adalah peningkatan keterampilan guru dan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD N 3 Bulung Kulon dengan diterapkannya model pembelajaran STAD berbantu media gambar dalam pembelajaran IPS materi perkembangan teknologi.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kata kunci: Knowledge Management System,

Kata kunci: Knowledge Management System,

Knowledge Manageent System (KMS) saat ini sudah menjadi sebuah keharusan bagi semua organisasi. Transformasi ilmu merupakan faktor utama untuk menciptakan keunggulan. Dengan mengacu pada penelitian sebelumnya bahwa knowledge management strategy yaitu strategi kodifikasi (tacit knowledge) dan strategi personalisasi (explicit knowledge) mempunyai korelasi terhadap proses penjaminan mutu perguruan tinggi, maka pengembangan KMS menjadi hal penting. Metode yang digunakan adalah metode penelitian lapangan (field research) yaitu dengan mengamati bagaimana proses penjaminan mutu berlangsung. Hasil pengamatan tersebut kemudian akan dikodifikasi dan dianalisis sebagai dasar untuk merancang spesifikasi kebutuhan perangkat lunak KMS. Dokumentasi dilakukan dengan mengacu pada IEEE Standard 830 (1998) yang berisi rekomendasi praktis bagi spesifikasi kebutuhan perangkat lunak
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...