kecemasan menghadapi kematian

Top PDF kecemasan menghadapi kematian:

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Inakaka Ambon T1 462010005 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Inakaka Ambon T1 462010005 BAB IV

Berdasarkan pada tabelanalisa korelasi, diperoleh koefisien korelasi antara dukungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi kematian sebesar 0,605 dengan signifikan = 0,000 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi kematian pada lansia.

12 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Inakaka Ambon

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Inakaka Ambon

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan dukungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi kematian pada lansia di Panti Inakaka Ambon. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis metode kuantitatif survei. Dari penelitian yang dari 37 responden sebanyak 19 responden mengatakan bahwa dukungan sosial keluarga sangat kurang dan 14 responden mengatakan bahwa kecemasan dalam menghadapi kematian sangat tinggi. Dari nilai korelasi sebesar 0,605 dengan nilai signifikan= 0,000 (p<0,005) dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ada hubungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi kematian pada lansia.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia 1. Pengertian Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia - BAB II SKRIPSI DANIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia 1. Pengertian Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia - BAB II SKRIPSI DANIA

dingin, pusing, sulit berbicara, merasa sensitif atau mudah marah. Dimana ketika lansia memunculkan perilaku tersebut maka dukungan sosial keluarga yaitu dukungan emosional seperti halnya keluarga memperhatikan perkembangan kesehatan lansia, keluarga selalu mendengarkan curahan hati lansia dan jika lansia merasa penat dengan rutinitas dipanti, keluarga selalu menghiburnya dengan senang hati seperti memberikan semangat untuk lansia agar tidak memikirkan sesuatu hal yang menyebabkan lansia sakitdan pengertian dari lingkungan sosial akan mengurangi kecemasannya dalam menghadapi kematian. Kondisi ini akan membantu lansia untuk dapat mengembangkan pandangan positif terhadap apa yang telah mereka capai, jika demikian ia akan merasa lebih utuh dan puas sehingga ia akan lebih menerima dirinya dengan positif. Lansia yang memandang dirinya secara positif akan merasa nyaman, damai dan bahagia (Kaloeti & Hartati, 2017).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI KEMATIAN PADA LANSIA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI KEMATIAN PADA LANSIA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN

Safrilsyah, Rizka, Jasmadi, & Barmawi. (2011). Hubungan religusitas dan kecemasan menghadapi kematian pada kelompok lanjut usia di panti jompo meuligoe jroh naguna banda aceh. Aceh development international conference 2011 (ADIC 2011), 26-28 March 2011.

9 Baca lebih lajut

Kecemasan Pada Lansia Dalam Menghadapi Kematian Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Lansia (Penelitian Pada anggota Paguyuban Lansia Gusiayu RS Panti Rahayu Purwodadi).

Kecemasan Pada Lansia Dalam Menghadapi Kematian Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Lansia (Penelitian Pada anggota Paguyuban Lansia Gusiayu RS Panti Rahayu Purwodadi).

untuk dapat sampai kepada keadaan yang lebih baik. Terkadang orang harus melalui peristiwa yang menyakitkan dan membutuhkan banyak pengorbanan. Kecemasan lanjut usia menghadapi kematiannya dapat terjadi karena adanya trauma atau hal-hal lain yang berhubungan dengan rangkaian proses tersebut. Melihat kenyataan yang terjadi, kecemasan menghadapi kematian memang pernah dirasakan oleh para lansia, namun bagaimana proses munculnya kecemasan tersebut belum dapat diketahui. Apakah kecemasan tersebut sangat mengganggu atau justru dapat menjadikan kekuatan dalam diri lanjut usia untuk mempertinggi kesadaran dirinya. Ada begitu banyak alasan yang mengakibatkan tidak tenang dalam menghadapi kematian. Satu fakta yang paling penting adalah bahwa mati, belakangan ini menjadi lebih mangerikan dalam berbagai hal, yaitu lebih kesepian, bersifat mekanis, dan menjadi tidak manusiawi; disaat yang sama bahkan sulit untuk menentukan kapan saat kematian terjadi (Ross, 1998:10). Seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Elizabeth Kubler-Ross pada pasien saat menjelang ajal di rumah sakit yang ditulis dalam bukunya On Death And Dying dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menghadapi kematian kebanyakan dari pasien rumah sakit yang diteliti mengalami proses yang dimulai dari tahap pertama yaitu penyangkalan dan pengasingan diri, tahap kedua marah, tahap ketiga menawar, tahap keempat depresi, dan tahap kelima menerima.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

BAB I SKRIPSI DANIA

BAB I SKRIPSI DANIA

Kecemasan menghadapi kematian adalah ketakutan, kekhawatiran yang terkait dengan kematian atau sekarat (Newfield, Hinz, Tilley, Sridaromont & Maramba, 2007). Kecemasan menghadapi kematian mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu pertama ciri fisik meliputi jantung berdebar, kegelisahan, kegugupan, dada sesak, gangguan pencernaan, nafsu makan berkurang, keringat dingin, pusing, sulit berbicara, merasa sensitif atau mudah marah, merasa lemas dan badan terasa kaku. Kedua ciri perilaku meliputi perilaku menghindar, perilaku melekat & dependen dan ketiga ciri kognitif meliputi khawatir tentang sesuatu yang sepele, perasaan takut dengan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, khawatir akan ditinggal sendiri, sulit berkonsentrasi dan ketidakmampuan menghadapi masalah (Nevid, Rathus & Greene, 2005).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KECEMASAN LANSIA MENGHADAPI KEMATIAN

KECEMASAN LANSIA MENGHADAPI KEMATIAN

menghadapi kematian tinggi dan sisanya 35 orang (55,56%) memiliki kecemasan menghadapi kematian rendah. Dan dari lansia dengan kecemasan menghadapi kematian tinggi diketahui bahwa: (1) Sebab/alasan lansia cemas yaitu karena khawatir dengan keadaan keluarga yang ditinggalkan, ibadah kurang karena banyak dosa/kesalahan yang diperbuat, takut pada proses menjelang ajal dan kehidupan setelah mati, serta takut menderita sakit yang lama dan mati dalam keadaan sendirian tanpa seorangpun yang tahu. (2) Reaksi fisik yang dialami berupa kepala pusing, jantung berdebar-debar, gemetar, nafsu makan berkurang, nafas terasa sesak, berkeringat dingin, badan terasa lemas. Reaksi psikologis berupa: perasaaan tidak menyenangkan (khawatir, takut, gelisah, bingung), perilaku jadi sering merenung/melamun, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, gugup serta tidak bersemangat beraktivitas. Dan hal tersebut akhirnya menyebabkan lansia
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN - HUBUNGAN KEAKTIFAN MENGIKUTI ORGANISASI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA DI UNIKA SOEGIJAPRANATA - Unika Repository

BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN - HUBUNGAN KEAKTIFAN MENGIKUTI ORGANISASI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA DI UNIKA SOEGIJAPRANATA - Unika Repository

Penelitian ini menggunakan dua macam alat ukur, yaitu skala keaktifan mengikuti organisasi dan skala kecemasan menghadapi dunia kerja. Penyusunan alat ukur dimulai dengan menentukan aspek-aspek dari setiap variabel yang nantinya akan digunakan sebagai alat ukur untuk menyusun skala psikologi sesuai dengan teori yang telah dikemukakan.

Baca lebih lajut

KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA ATLET FUTSAL  Kecemasan Menghadapi Pertandingan Pada Atlet Futsal.

KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA ATLET FUTSAL Kecemasan Menghadapi Pertandingan Pada Atlet Futsal.

bahwa dampak dari kecemasan yang dialami menyebabkan munculnya reaksi- reaksi seperti berkurangnya konsentrasi dalam pertandingan dan fisik menjadi mudah lelah. Menurut hasil observasi yang telah dilakukan, informan mengalami muntah-muntah dan kelelahan saat pertandingan masih berjalan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gunarsa, Satiadarma, & Soekasah (1996), yang menyatakan bahwa kecemasan menyebabkan atlet terpaksa memfokuskan energi psikofisiknya untuk mengembalikan kondisinya ke keadaan seimbang. Hal ini menyebabkan konsentrasi atlet untuk menghadapi lawan menjadi berkurang. Munculnya gangguan kecemasan yang kompleks pada atlet membuat keadaan menjadi lebih buruk karena fokus perhatian atlet menjadi terpecah-pecah pada saat yang bersamaan yang menyebabkan atlet harus menggunakan energi yang berlebihan untuk mencapai keadaan psikofisik yang seimbang. Penggunaan energi berlebihan menyebabkan atlet dengan cepat mengalami kelelahan, sehingga kondisinya dengan cepat akan menurun dan penampilannya menjadi buruk. Gunarsa (2008) menyatakan, pemakaian energi atlet yang sedang mengalami cemas berlebih menjadi boros. Ketika dalam kondisi kelelahan dan kehilangan fokus, informan mengatakan akan lebih rentan melakukan kesalahan-kesalahan teknis dalam pertandingan yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gunarsa, Satiadarma, & Soekasah (1996) yang mengatakan bahwa dampak kecemasan dan ketegangan terhadap penampilan atlet akan secara bertingkat berakibat negatif. Apabila tingkat kecemasan tinggi akan mempengaruhi peregangan otot-otot yang berpengaruh pula terhadap kemampuan teknisnya, sehingga penampilan atau permainan menjadi lebih buruk. Selanjutnya, alam pikiran semakin terganggu dan muncul berbagai pikiran negatif, misalnya ketakutan akan kalah dan kembali muncul kecemasan baru.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KECEMASAN MENGHADAPI KEMATIAN PADA PASIEN PENDERITA KANKER SERVIKS DI RUMAH SEHAT GRIYA BALUR MURIA KUDUS SKRIPSI

KECEMASAN MENGHADAPI KEMATIAN PADA PASIEN PENDERITA KANKER SERVIKS DI RUMAH SEHAT GRIYA BALUR MURIA KUDUS SKRIPSI

Tujuan dari penelitian skripsi ini adalah untuk menganalisis faktor penyebab kecemasan menghadapi kematian, dan reaksi psikologis penderita kanker serviks dalam menyikapi kecemasan menghadapi kematian pada pasien penderita kanker serviks di Rumah Sehat Griya Balur Muria Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi.

19 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kecemasan Mahasiswa Sarjana Keperawatan Saat Menghadapi Ujian Osca Komprehensif Di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Kecemasan Mahasiswa Sarjana Keperawatan Saat Menghadapi Ujian Osca Komprehensif Di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pentingnya mengetahui kecemasan pada mahasiswa yang menghadapi OSCA. Maka dilakukan wawancara pada 10 mahasiswa semester II dan IV Sarjana Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dari 10 mahasiswa tersebut melaporkan bahwa walaupun sudah belajar dari rumah, menghafal urutan prosedur dengan benar dan lancar, tetapi ketika memasuki ruang ujian dan melaksanakan ujian mereka menjadi lupa karena cemas, menjadi panik karena waktu yang diberikan kurang, banyaknya materi yang harus dipelajari, menjadi bloking dan saat melakukan tindakan dosen berkomentar yang membuat mereka gugup, sehingga menyebabkan kegagalan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA ATLET FUTSAL  Kecemasan Menghadapi Pertandingan Pada Atlet Futsal.

KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA ATLET FUTSAL Kecemasan Menghadapi Pertandingan Pada Atlet Futsal.

Kecemasan dalam menghadapi pertandingan dialami oleh hampir setiap atlet, demikian juga dengan atlet futsal. Kecemasan yang terlalu tinggi akan menyebabkan seorang atlet mengalami ketakutan berlebihan dalam setiap pertandingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengetahui kecemasan menghadapi pertandingan pada atlet futsal. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian ini adalah atlet futsal yang memiliki kecemasan tinggi yang telah dipilih melalui survey awal terhadap atlet futsal di Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan kecemasan pada atlet futsal disebabkan karena lawan yang dihadapi memiliki kekuatan atau peringkat yang lebih tinggi, banyaknya penonton yang menyaksikan dan ketakutan kegagalan dalam pertandingan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kecemasan pada atlet futsal berasal dari diri sendiri seperti; atlet melakukan relaksasi dan melakukan terapi yang mampu mengalihkan kecemasan. Sementara itu, upaya dari luar diri sendiri dilakukan oleh keluarga, teman dan orang-orang yang berada di sekitar. Peran pelatih dalam memberikan motivasi mampu mengurangi kecemasan yang dialami oleh atlet futsal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ejournal.psikologi.fisip unmul.ac.id Kebermaknaan Hidup dan Kecemasan dalam Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Werdha Samarinda Rizk

ejournal.psikologi.fisip unmul.ac.id Kebermaknaan Hidup dan Kecemasan dalam Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Werdha Samarinda Rizk

Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui apa saja yang telah di lakukan para lansia dalam memaknai kehidupan dan kecemasan dalam menghadapi kematian di Panti Werdha Samarinda. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Peneliti menggunakan teknik snowball sampling, metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara mendalam dan menggunakan tes DASS untuk mengukur tingkat kecemasan tiga subjek lansia yaitu subjek SM berusia 72 tahun dengan tingkat kecemasan sangat berat, subjek A berusia 70 tahun dengan kecemasan sangat berat dan subjek T berusia 65 tahun dengan kecemasan ringan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERNIKAHAN  Hubungan Antara Religiusitas Dengan Kecemasan Menghadapi Pernikahan.

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERNIKAHAN Hubungan Antara Religiusitas Dengan Kecemasan Menghadapi Pernikahan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikatakan oleh suwanti (2003), sebagian besar penyebab dari rasa cemas menghadapi pernikahan adalah kurangnya rasa religiusitas yang tinggi, belum matangnya kehidupan emosi serta belum berkembangnya sikap madiri dalam menghadapi berbagai persoalan. Hal ini senada dengan pendapat Thoules (dikutip dalam farohah, 2008) bahwa religiusitas mempengaruhi kecemasan seseorang terhadap kebutuhan cinta kasih. Serta menurut jones & Francis (2004) dalam jurnal penelitiannya pada skala kecemasan yang mencapai suatu koefisien 70 dengan instrumen psychometric homogen dan undimensional dan penghitungan rata-rata p-value 0,125 menghasilkan bahwa pada perspektif psikologis terdapat hubungan hipotesis korelasi yang negatif antara religiusitas dan kecemasan. Ancok (2004) bahwa keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia, aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas yang lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Jadi walaupun seseorang belum menikah, namun jika mempraktekan agamanya secara menyeluruh kecemasan akan berkurang. Purwanto (2011) islam diartikan sebagai ketundukan atau kepasrahan dan berserah diri kepada tuhan yang maha esa. Orang berserah memunculkan sikap tenang, karena kita menyerahkan diri kepada sesuatu yang mampu yaitu Allah SWT.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kecemasan dalam menghadapi kematian ditinjau dari religiositas pada lansia - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Kecemasan dalam menghadapi kematian ditinjau dari religiositas pada lansia - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Kematian dan Kegiatan Sosial………………………. 51 Tabel 4.15 Tabulasi Data antara Religiositas dan Jenis Kelamin... 52 Tabel 4,16 Tabulasi Data antara Religiositas dan Usia…………. 53 Tabel 4.17 Tabulasi Data antara Religiositas dan Status

20 Baca lebih lajut

Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia Ditinjau dari Tipe Kepribadian

Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia Ditinjau dari Tipe Kepribadian

beranekaragam namun khas yang dilakukan oleh tiap individu (Hall & Lindzey, 1993). Dengan kata lain kepribadian adalah semua corak kebiasaan yang dilakukan oleh manusia yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Sifat kepribadian seseorang saat muda diartikan sebagai cerminan dari kepribadian lansia, dengan memahami kepribadian lansia tentu akan memudahkan kaum muda atau masyarakat umum dan anggota keluarga dari lansia dalam memperlakukan lansia. Namun, pada kenyataannya tidak semua kepribadian lansia berfungsi secara baik. Bisa dilihat secara nyata, bagaimana lansia dalam menghadapi kematian. Berbagai hal yang lansia rasakan seperti khawatir, bingung, dan takut. Menurut Kuntjoro (2002), perkembangan kepribadian itu bersifat dinamis artinya selama individu masih tetap belajar dan bertambah pengetahuan, pengalaman serta keterampilannya, ia akan semakin matang dan mantap.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

KECEMASAN LANSIA MENGHADAPI KEMATIAN (Studi Kasus Pada Lansia Yang Mengalami Penyakit Kronis)

KECEMASAN LANSIA MENGHADAPI KEMATIAN (Studi Kasus Pada Lansia Yang Mengalami Penyakit Kronis)

menimbulkan masalah) adalah tahap lanjut usia (lansia). Dalam proses ini terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik, psikologis dan sosial yang saling berhubungan. Proses perubahan atau penurunan tersebut menimbulkan kecemasan-kecemasan pada lansia, diantaranya kecemasan dalam menghadapi kematian. Karena itu, bagaimanakah kecemasan lansia dalam menghadapi kematian merupakan masalah yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk

Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan antara Tingkat Spiritualitas dengan Kesiapan Lanjut Usia dalam Menghadapi Kematian Di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan antara Tingkat Spiritualitas dengan Kesiapan Lanjut Usia dalam Menghadapi Kematian Di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura.

Wahyuningsih, Sri. (2014). Hubungan Shalat Terhadap Kesiapan Menghadapi Kematian Pada Lanjut usia Di Wilayah Kelurahan Gondrong Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang. Skripsi Ilmiah. Jakarta : Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan antara Tingkat Spiritualitas dengan Kesiapan Lanjut Usia dalam Menghadapi Kematian Di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura.

PENDAHULUAN Hubungan antara Tingkat Spiritualitas dengan Kesiapan Lanjut Usia dalam Menghadapi Kematian Di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura.

Penurunan kondisi tubuh dan penurunan kemampuan fisik yang dialami oleh lanjut usia, menyebabkan lanjut usia menganggap bahwa hal ini merupakan suatu bencana, karena kematian dapat menjemput nyawa mereka setiap waktu. Sebagian dari lanjut usia merasa belum siap untuk menghadapi kematian, sehingga mereka merasa cemas, takut, dan frustasi menanti datangnya kematian. Seperti yang dikatakan Maryam dkk (2008), bahwa jika pada saat kondisi fisik semakin menurun dan lanjut usia tidak dapat menyesuaikan diri, maka lansia akan merasa tidak siap dalam menghadapi kematian.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...