Produksi tempe

Top PDF Produksi tempe:

Dinamika populasi dan keragaman Bakteri Asam Laktat (BAL) dan khamir selama produksi tempe

Dinamika populasi dan keragaman Bakteri Asam Laktat (BAL) dan khamir selama produksi tempe

39 produksi tempe di kedua pengrajin (Gambar 5). Perbedaan keragaman filotipe disetiap tahap produksi tempe tersebut disebabkan perbedaan perlakuan. Perlakuan selama produksi tempe berbeda di antara masing-masing tahap produksi tempe dan antara tahap yang sama pada metode yang berbeda. Seperti contoh tahap T1 atau perendaman kedelai pada kedua metode produksi tempe. Pada metode A perendaman kedelai dilakukan segera setelah kedelai dimasak (tanpa proses pengelupasan kulit dan pencucian), namun pada tahap yang sama pada metode B, kedelai direndam setelah dimasak, dilanjutkan dengan pengelupasan kulit dan pencucian. Kondisi kedelai di antara kedua sampel juga berbeda, pada metode A masih terlindung kulit kedelai, sementara pada metode B bebas dari kulit dan bersih. Kontak antara pekerja, peralatan dan lingkungan sekitar dengan sistem produksi tempe juga berbeda, pada metode A rendah sementara metode B tinggi. Perbedaan perlakuan, waktu dan kondisi sampel antara kedua metode A dan B memiliki dampak pada keragaman BAL dan khamir disetiap tahap antara dua metode produksi tempe. Kasus ini mirip dengan gaya hidup yang berbeda dan selama pengobatan antibiotik yang berdampak pada perbedaan mikroflora saluran pencernaan dan analisis T-RFLP mampu memantau perubahan ini (Jernberg et al. 2005; Dicksved el al. 2007). Selain itu perbedaan dalam pengolahan selama produksi tempe menpengaruhi kondisi lingkungan sekitar BAL dan khamir dalam ekosistem produksi tempe. Komposisi mikrob (termasuk filotipe BAL dan khamir) dalam tempe tradisional ditentukan oleh faktor-faktor ekologi (Nout and Kiers 2005).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal berpengaruh negative dan signifikan terhadap produksi tempe, Bahan baku berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi tempe, Tenaga kerja berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap produksi tempe. Modal, bahan baku dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi tempe secara simultan, dan dalam analisis statistik diketahui bahwa semakin besar modal yang digunakan maka produksi semakin menurun. Hal ini merupakan kelemahan dari industri tempe yang berada di wilayah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat. Oleh karena itu strategi pengembangan usaha yang tepat untuk diterapkan pada produksi tempe di wilayah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat berdasarkan analisis SWOT adalah strategi WO. Strategi WO yaitu strategi untuk memperkecil kelemahan dan memanfaatkan peluang yang ada.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Produksi yang berada di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat sebagian besar adalah produksi tempe. Produksi tempe kebanyakan dilakukan oleh industri rumah tangga. Tempe merupakan makanan yang terbuat dari biji kedelai atau beberapa bahan lain yang diproses melalui fermentasi yang secara umum dikenal sebagai “ ragi tempe”. Lewat proses fermentasi ini, biji kedelai mengalami proses penguraian menjadi senyawa sederhana sehingga mudah dicerna.

12 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Produksi tempe kebanyakan dilakukan oleh industri rumah tangga. Metode dalam memproduksi tempe umumnya menggunakan cara-cara yang tradisional, sementara itu daya beli masyarakat untuk produk ini relatif tinggi. Hal ini disebabkan adanya suatu persaingan antara industri yang besar memiliki modal besar dan teknologi canggih di bandingkan dengan industri rumah tangga yang memiliki modal kecil dan teknologi yang terbatas. Upaya yang dilakukan agar industri rumah tangga dapat berkembang maka perlu dilakukan kerja sama antara industri besar, menengah dan kecil. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memasok bantuan berupa bahan baku dan bahan pembantu serta alat-alat untuk meningkatkan produksi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERBAIKAN SISTEM PEREBUSAN KACANG KEDELAI PADA USAHA PRODUKSI TEMPE

PERBAIKAN SISTEM PEREBUSAN KACANG KEDELAI PADA USAHA PRODUKSI TEMPE

Dari kedua kajian tersebut didapatkan kesepakatan bahwa dari penulis akan memberikan bantuan sebuah paket teknologi berupa dapur pembakaran serbuk kayu serta mesin pengepres serbuk kayu yang mampu mensuplai kalor pada kapasitas produksi tempe sebesar 160 kg/hari. Sebelum paket teknologi diserahkan ke industri mitra, maka akan dilakukan pengujian awal. Kegiatan ini bertujuan untuk mengathui secara praktis dari mesin yang dirancang. Selain itu juga mennelusuri jika ada kekurangan ataupun kelemahan, sedemikian hingga dapat dilakukan perbaikan seperlunya.

10 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal berpengaruh negative dan signifikan terhadap produksi tempe, Bahan baku berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi tempe, Tenaga kerja berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap produksi tempe. Modal, bahan baku dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi tempe secara simultan, dan dalam analisis statistik diketahui bahwa semakin besar modal yang digunakan maka produksi semakin menurun. Hal ini merupakan kelemahan dari industri tempe yang berada di wilayah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat. Oleh karena itu strategi pengembangan usaha yang tepat untuk diterapkan pada produksi tempe di wilayah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat berdasarkan analisis SWOT adalah strategi WO. Strategi WO yaitu strategi untuk memperkecil kelemahan dan memanfaatkan peluang yang ada.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN MODEL NONLINEAR MENGGUNAKAN SEPARABLE PROGRAMMING DENGAN ALGORITMA GENETIKA PADA PRODUKSI TEMPE.

PENYELESAIAN MODEL NONLINEAR MENGGUNAKAN SEPARABLE PROGRAMMING DENGAN ALGORITMA GENETIKA PADA PRODUKSI TEMPE.

Optimisasi banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dalam bidang industri. Para pelaku industri kebanyakan menerapkan optimasi untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum atau mengeluarkan biaya produksi yang minimum. Sebagai salah satu industri rumahan, Tempe Murni masih mengalami kesulitan dalam mengelola produksinya. Tujuan dari penelitian ini adalah membentuk model matematika dalam pengoptimalan biaya produksi Tempe Murni selama satu bulan dan menyelesaikan model menggunakan separable programming dengan algoritma genetika.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Hasil Uji Heterokedastisitas Hasil Uji Regresi Linear Berganda Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficient s t Sig... Koefisien Determinasi R-Square Uji F ANO[r]

11 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Menurut (Fahmi, 2014:2) Produksi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan baik berbentuk barang ( goods ) maupun jasa ( services ) dalam suatu periode tertentu yang selanjutnya dihitung sebagai nilai tambah bagi perusahaan. Bentuk hasil produksi dengan kategori barang ( goods ) dan jasa ( services ) sangat tergantung pada kategori aktivitas bisnis yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan. Jika perusahaan manufacture (pabrik) sudah jelas produksi yang dihasilkan dalam bentuk barang sedangkan untuk bisnis perhotelan, travel, pendidikan adalah berbentuk jasa barang bersifat tangible asset dan jasa bersifat intangible asset .
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Industri Kecil Di Wilayah Segitiga Industri Di Jawa Timur Surabaya, Sidoarjo Dan Gresik.. Mujiningsih, Indah Mega.[r]

3 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI TEMPE DI KECAMATAN GENTENG

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI TEMPE DI KECAMATAN GENTENG

Penelitian tersebut didukung oleh Mujianto (2013) tentang Analisis Faktor yang Mempengaruhi Proses Produksi Tempe Produk UMKM di Kabupaten Sidoarjo bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tempe dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan fungsi Cobb- Douglas menghasilkan faktor yang mempengaruhi produksi tempe adalah kedelai impor, tenaga kerja, ragi dan terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi produksi yaitu air, tungku kayu bakar, pengupas kulit, fermentasi. Kedelai impor mempunyai ukuran yang lebih besar dari kedelai lokal sehingga dengan menggunakan kedelai import akan meningkatkan ukuran tempe, air sumur digunakan dalam proses pencucian kedelai yang akan diolah menjadi tempe, ketersediaan air yang cukup dapat menjamin kebersihan dari produk tempe yang diproduksi, ragi digunakan untuk mengfermentasi kedelai menjadi tempe, tungku kayu bakar dapat menghemat biaya dalam proses pembakaran, pengupas kulit kedelai dilakukan ketika terjadi proses perendaman kedelai setelah perebusan, dan tenaga kerja sebagai pelaku dalam pembuatan tempe pada agroindustri tempe
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA APRILIYANTI NINGTIYAS AGROTEKNOLOGI 2018

DAFTAR PUSTAKA APRILIYANTI NINGTIYAS AGROTEKNOLOGI 2018

Sukardi, W., dan Purwaningsih, I. 2008. Uji Coba Penggunaan Inokulum Tempe dari Kapang Rhizopus oryzae dengan Substrat Tepung beras dan Ubi Kayu pada Unit Produksi Tempe Sanan Kodya Malang. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol 9 (9):207-215.

6 Baca lebih lajut

KAJ I AN AGRI BI S NI S KEDELAI PADA S ENTRA AGROINDUSTRI TEMPE DAN KERIPIK TEMPE “SANAN” ANGGOTA PRIMKOPTI “BANGKIT USAHA” MALANG

KAJ I AN AGRI BI S NI S KEDELAI PADA S ENTRA AGROINDUSTRI TEMPE DAN KERIPIK TEMPE “SANAN” ANGGOTA PRIMKOPTI “BANGKIT USAHA” MALANG

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pengadaan input kedelai oleh pengrajin tempe berasal dari koperasi Primkopti “Bangkit Usaha”. Sedangkan pengadaan input tempe oleh pengrajin keripik tempe berasal dari pengrajin tempe dan merupakan hasil produksi tempe sendiri. (2) Faktor&faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada agroindustri tempe adalah bahan baku kedelai, tenaga kerja, ragi, dan bahan bakar. Faktor&faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada agroindustri keripik tempe adalah bahan baku tempe, tenaga kerja, bahan bakar, tepung (tepung beras dan tepung kanji), minyak goreng. (3) Harga pokok produksi tempe sebesar Rp. 4.541,32/Kg. Sedangkan harga pokok produksi keripik tempe sebesar Rp. 18.611,28/Kg. (4) Nilai tambah kedelai pada agroindustri tempe adalah positif ditunjukkan dengan nilai sebesar Rp 9.853,48 per kilogram bahan baku kedelai. Sedangkan nilai tambah tempe pada agroindustri keripik tempe juga positif ditunjukkan dengan nilai sebesar Rp 22.661,30 per kilogram bahan baku tempe.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Uji Kadar Protein Dan Organoleptik Yoghurt Tempe Dengan Penambahan Ekstrak Buah Nangka (Artocarpus heterophyllus) Dan Konsentrasi Starter Yang Berbeda.

PENDAHULUAN Uji Kadar Protein Dan Organoleptik Yoghurt Tempe Dengan Penambahan Ekstrak Buah Nangka (Artocarpus heterophyllus) Dan Konsentrasi Starter Yang Berbeda.

Tempe segar tidak dapat disimpan lama, tempe hanya tahan selama 2x24 jam lewat masa itu kapang tempe mati dan selanjutnya akan tumbuh bakteri atau mikroba perombak protein akibatnya tempe cepat busuk, oleh karena itu produk tempe harus segera dipasarkan setelah masa panen. Daya tahan yang terlalu singkat menyebabkan pemasarannya sangat terbatas. Pemanfaatan olahan tempe juga sangat sederhana padahal produksi tempe melimpah, saat ini di Indonesia terdapat sekitar 81 ribu usaha pembuatan tempe yang memproduksi 2,4 juta ton tempe pertahun dan merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia (Badan Standarisasi Nasional,2012). Produk olahan tempe dikalangan masyarakat biasanya hanya digoreng untuk lauk, oseng-oseng, bacem, kripik dan disayur. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan diversifikasi tempe menjadi produk olahan yang dapat
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Esiensi Alokatif Dan Pendapatan Pada Industri Tempe Di Kabupaten Klaten (Efficiency Allocative And Income On Tempeh Industry In Klaten Regency)

Esiensi Alokatif Dan Pendapatan Pada Industri Tempe Di Kabupaten Klaten (Efficiency Allocative And Income On Tempeh Industry In Klaten Regency)

Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap hasil produksi tempe adalah kedelai, ragi dan pembungkus daun. Kondisi skala usaha berada dalam decreasing return to scale. Penggunaan faktor-faktor produksi pada usaha produksi tempe bungkus di Kabupaten Klaten belum m e n c a p a i e  s i e n s i a l o k a t i f . Penggunaan faktor produksi kedelai perlu ditambah untuk meningkatkan keuntungan dan penggunaan ragi juga dapat ditambahkan sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Penggunaan pembungkus daun, kayu bakar, dan tenaga kerja perlu dikurangi untuk m e m i n i m a l k a n b i a y a p r o d u k s i . Pembungkusan tempe dengan daun pisang dapat dilakukan tanpa berlapis- l a p i s s e h i n g g a l e b i h e  s i e n . Penggunaan kayu bakar dan tenaga kerja akan lebih esien jika volume produksi diperbesar minimal setara dengan kapasitas peralatan produksi. Rata-rata pendapatan pengrajin tempe atas biaya tunai per bulan sebesar Rp. 3.242.721,36 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp. 2.296.689,11. Nilai R/C ratio atas biaya tunai maupun nilai R/C ratio atas biaya total adalah sebesar 1,37 dan 1,21 sehingga usaha produksi tempe di K a b u p a t e n K l a t e n m a s i h menguntungkan dan layak dijalankan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Sistem Manajemen Lingkungan Reduce Indus

Sistem Manajemen Lingkungan Reduce Indus

meningkatkan daya saing produk di pasar dengan menerapkan konsep 7R, yaitu : Re- think, Reduction, Reuse, Recycle, Refine, Recovery , dan Retrive to Energy . Dan apapun masalahnya, langkah awal untuk bisa mengatasi kerusakan lingkungan akibat limbah adalah dengan cara „Reduce’ dalam arti mengurangi atau mereduksi limbah yang dikeluarkan akibat proses produksi. Reduce adalah sebuah tindakan mengurangi limbah dengan cara Reuse (pemakaian ulang) atau bisa dengan Recycle (daur ulang). Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana limbah produksi tempe diproses melalui penguraian anaerob kemudian diikuti proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob, sehingga diharapkan konsentrasi COD dari air olahan yang dihasilkan turun menjadi 60 ppm, sehingga jika dibuang tidak lagi mencemari lingkungan sekitarnya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

kandungan nutrisi dan potensi pemanfaatan koro benguk

kandungan nutrisi dan potensi pemanfaatan koro benguk

Biji Benguk memiliki ukuran kira-kira sebesar kelereng dengan bentuk sedikit lonjong dan agak pipih. Biji benguk berwarna abu-abu hingga kehitaman. Dalam satu kulit (polong) Benguk biasanya berisi 3-5 biji Benguk. Biji-biji tersebut dapat diolah menjadi Tempe Benguk dengan cara pengolahan sama seperti pembuatan tempe kedelai. Mula-mula biji Benguk yang telah tua dan telah dikeringkan direbus atau dikukus. Setelah itu bibi-biji Benguk dicuci sambil diiles (diinjak-injak) sehingga terkelupas kulit arinya dan air berwarna hitam dari biji Benguk dapat terperas keluar (hilang). Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga kacang Benguk bersih. Sesudah itu kacang Benguk diiris-iris (dirajang). Usai dirajang kacang Benguk kemudian ditiriskan dalam tampah dan diberi jamur tempe (usar). Tempe Benguk inilah bahan utama pembuatan Besengek Tempe Benguk yang menjadi salah satu makanan khas Kabupaten Kulo Progo. Untuk membuat Besengek Tempe Benguk kecuali bahan baku Tempe Benguk perlu dipersiapkan pula bumbu-bumbu seperti gula jawa, bawang putih, bawang merah, lengkuas, jahe, garam, ketumbar, daun sereh, santan encer, santan kental, dan daun salam.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

MESIN PENGIRIS TEMPE DENGAN MULTI ROTARY BLADE

MESIN PENGIRIS TEMPE DENGAN MULTI ROTARY BLADE

Kita tahu bahwa tempe merupakan jenis makanan yang mengandung nilai gizi dan harganya terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Dan dalam penyajiannya tempe tidak terbatas pada satu penyajian akan tetapi berbagai macam jenis penyajiannya antara lain dalam bentuk kripik tempe.

1 Baca lebih lajut

Produksi Asam Laktat Dalam Fermentasi Anerob Limbah Air Kedelai Dari Industri Tempe.

Produksi Asam Laktat Dalam Fermentasi Anerob Limbah Air Kedelai Dari Industri Tempe.

Produksi asam laktat merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Asam laktat merupakan produk akhir dari aktivitas bakteri dalam memecahkan karbohidrat yang terlarut (Moran, 1996). Rataan kandungan asam laktat setiap perlakuan berkisar antara 12,90 – 16,64%. Kandungan asam laktat tertinggi diperoleh pada perlakuan fermentasi ananerob limbah rebusan air tempe dengan penambahan lumpur kecap sebanyak 10%, dan terendah pada fermentasi anaerob air rebusan tempe dengan penambahan lumpur kecap sebanyak 2,5%. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa penambahan lumpur kecap berpengaruh nyata terhadap kandungan asam laktat air rebusan hasil fermentasi (P < 0,05). Produksi asam laktat meningkat dengan meningkatnya penambahan lumpur kecap. Hal ini menandakan bahwa lumpur kecap merupakan aditif yang kaya mengandung karbohidrat terlarut. Lumpur kecap mempunyai komposisi nutrisi sebagai berikut: kandungan air 12,58%, abu 4,15%, protein kasar 2,6%, serat kasar 0,98%, lemak kasar 2,15%, BETN 77,54%, TDN 85,29% (hasil analisis Laboratorium Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, 2008).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...