Vaksin polio

Top PDF Vaksin polio:

A PILOT PROJECT ON INACTIVATED POLIO VACCINE IN YOGYAKARTA PROVINCE: THE COVERAGE AND TIMELINESS PILOT PROJECT VAKSIN POLIO INAKTIF DI PROPINSI YOGYAKARTA: | Sutomo | Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2507 4265 1 SM

A PILOT PROJECT ON INACTIVATED POLIO VACCINE IN YOGYAKARTA PROVINCE: THE COVERAGE AND TIMELINESS PILOT PROJECT VAKSIN POLIO INAKTIF DI PROPINSI YOGYAKARTA: | Sutomo | Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2507 4265 1 SM

2003 dipergunakan untuk pengolahan dan analisis data. Hasil: Sebanyak 426 anak ikut dalam penelitian, mencakup 215 anak di perkotaan dan 211 anak di pedesaan. Cakupan imunisasi IPV untuk dosis 1-4 masing-masing 100%, 99,8%, 99,3%, dan 96,7%. Tidak ada perbedaan cakupan berdasarkan lokasi perkotaan/pedesaan, tingkat pendidikan orang tua, jumlah anak, dan jarak ke tempat layanan imunisasi. Angka cakupan tersebut hampir sama dengan yang didapat pada survey tahun 2004 ketika propinsi ini masih menggunakan vaksin polio oral. Rerata umur pemberian IPV dosis 1-4 masing-masing 2,3; 3,5; 4,4; dan 9,4 bulan. Lebih dari 95% anak mendapat imunisasi IPV pada umur yang tepat.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIFITAS SARI JERUK NIPIS (Citrusaurantiifolia) DALAM MENURUNKAN SUHU TUBUH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI DENGAN VAKSIN POLIO

UJI EFEKTIFITAS SARI JERUK NIPIS (Citrusaurantiifolia) DALAM MENURUNKAN SUHU TUBUH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI DENGAN VAKSIN POLIO

aurantiifolia) dalam menurunkan suhu tubuh tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan vaksin polio. Jenis penelitian ini termasuk dalam true-eksperimen. Parameter yang digunakan adalah suhu tubuh. Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 25 ekor, terbagi atas 5 perlakuan dan 5 ulangan. Rencana percobaan menggunakan RAL. Analisis data dengan ANAVA dan di uji BNT.

1 Baca lebih lajut

Penelitian Tentang Perilaku Kerjasama dalam Bekerja pada Karyawan Produksi Vaksin Polio PT. X (Persero) Bandung dan Penyusunan Rencana Intervensi Peningkatan Perilaku Kerjasama Karyawan.

Penelitian Tentang Perilaku Kerjasama dalam Bekerja pada Karyawan Produksi Vaksin Polio PT. X (Persero) Bandung dan Penyusunan Rencana Intervensi Peningkatan Perilaku Kerjasama Karyawan.

Bagian Produksi Vaksin Polio berada dibawah Divisi Produksi Vaksin Virus yang memiliki bagian selain produksi vaksin polio, yaitu bagian produksi vaksin campak dan bagian produksi media. Bagian Produksi Vaksin Polio dipimpin oleh seorang Kepala Bagian dan memiliki tiga Seksi yaitu, Seksi Persiapan Produksi Vaksin Polio, Seksi Pembiakan Sel Vaksin Polio dan Seksi Penyelesaian Akhir Produksi Vaksin Polio. Jumlah personil di Bagian Produksi Vaksin Polio adalah 64 orang. Untuk Bagian Produksi Vaksin Campak, terdiri dari dua seksi yaitu Produksi Vaksin Campak dan Penyelesaian Akhir Vaksin Campak dengan jumlah personil adalah orang. Untuk Bagian Produksi Media, terdiri dari dua seksi yaitu Media Virus dan Media Bakteri dengan jumlah personil adalah orang. Dalam penelitian ini, peneliti memilih Bagian Produksi Vaksin Polio sebagai sampel penelitian karena bagian ini merupakan ujung tombak dari PT. X dan menjadi penyumbang omzet terbesar bagi perusahaan.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Kumpulan Fatwa MUI tentang Makanan dan Minuman serta Lainnya | PUSTAKA MADRASAH vaksin polio khusus

Kumpulan Fatwa MUI tentang Makanan dan Minuman serta Lainnya | PUSTAKA MADRASAH vaksin polio khusus

2. bahwa dalam program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 2002 ini terdapat sejumlah anak Balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistim kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik, IPV); 3. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang

3 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DENGAN

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DENGAN

terdapat sekitar 350 ribu kasus polio di seluruh dunia. Meskipun pada tahun 2000, polio belum terbasmi, tetapi jumlah kasusnya telah berkurang hingga di bawah 500. Polio tidak ada lagi di Asia Timur, Amerika Latin, Timur Tengah atau Eropa, tetapi masih terdapat di Nigeria, dan sejumlah kecil di India dan Pakistan. India telah melakukan usaha pemberantasan polio yang cukup sukses. Sedangkan di Nigeria, penyakit ini masih terus berjangkit karena pemerintah yang berkuasa mencurigai vaksin polio yang diberikan dapat mengurangi fertilitas dan menyebarkan HIV. Tahun 2004, pemerintah Nigeria meminta WHO untuk melakukan vaksinasi lagi setelah penyakit polio kembali menyebar ke seluruh Nigeria dan 10 negara tetangganya. Konflik internal dan perang saudara di Sudan dan Pantai Gading juga mempersulit pemberian vaksin polio.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Perancangan Sarana Terapi Bagi Penderita Polio Paralitik - Ubaya Repository

Perancangan Sarana Terapi Bagi Penderita Polio Paralitik - Ubaya Repository

menyebabkan kelumpuhan pada salah satu kaki (sebagian besar) atau pada kedua kaki (pada sebagian kecil). Vaksin polio pada tahun 1955 dan 1962 dengan demikian maka rata-rata penderita polio berumur 50 – 60 tahun . Perawatan pendukung untuk mencegah komplikasi dan membuat penderita merasa lebih nyaman, seperti terapi fisik untuk mencegah hilangnya fungsi otot. Kursi roda disarankan oleh beberapa alhi terapi sebagai alat bantu. Namun kursi roda membuat kaki tidak berjalan sehingga penggunaan yang cukup lama dapat menghilangkan fungsi otot. Terapi fisik ada 2 jenis yaitu terapi fisik aktif dan pasif. Terapi fisik aktif yaitu dengan dilakukan oleh penderita polio itu sendiri dengan melakukan gerakan yang ringan misalnya berjalan, berlari kecil atau melakukan olah raga peregangan otot. Terapi pasif dilakukan pada terapis. Maka dari situlah dibutuhkan sarana untuk terapi sekaligus alat bantu berjalan untuk usia 50-60 tahun. Untuk merancang sarana terapi dan alat bantu berjalan menggunakan metode kuantitatif yaitu wawancara dengan penderita polio untuk menerima masukan desain kursi roda. Kemudian di dapatkan desain akhir yaitu kursi roda yang dapat diatur kelebarannya dengan sistem teleskopik dan dapat digunakan sebagai sarana terapi bagi penderita polio.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Apa itu vaksin

Apa itu vaksin

negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat. Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun 1988. Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : “Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti- bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya. Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerjasama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

091920 AKJ 2005 07 22 Hari Anak Nasional

091920 AKJ 2005 07 22 Hari Anak Nasional

WHO melaporkan temuan 45 kasus polio baru di Indonesia / sehingga jumlah anak yang mengalami penyakit polio di Indonesia sampai saat ini / sebanyak 111 orang // Mereka berasal dari Banten / jawa Barat / Jakarta dan satu ditemukan di Sumatera //dengan masalah kesehatan ini / sudah tentu akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perekembangan anak / sebagai penerus generasi bangsa //

1 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN PERILAKU PASCA IMUNISASI POLIO PADA BAYI DI PUSKESMAS SUKOHARJO

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN PERILAKU PASCA IMUNISASI POLIO PADA BAYI DI PUSKESMAS SUKOHARJO

Penelitian ini mendukung pendapat dari Gondrowahyuhono (2002), pengetahuan ibu tentang imunisasi polio akan memberikan dampak positif terhadap efektifitas imunisasi polio, dimana ibu yang mempunyai pengetahuan baik tentang imunisasi polio tidak akan memberikan ASI kepada bayinya sesaat sebelum dan sesudah pemberian imuniasai polio. ASI mengandung zat antipoliomelitik yang dapat mempengaruhi efektifitas vaksinasi polio dengan OPV (Oral Polio Vaksin). Hasil pemeriksaan ASI menunjukkan pada masa laktasi minggu I (kolustrum) semua ibu mempunyai ASI mengandung zat antipoliomelitik dan menurun dengan bertambahnya masa laktasi bulan IV. Anak yang berumur lebih dari 3 bulan dapat diberikan ASI sesaat sebelum dan sesudah vaksinasi dengan OPV, karena pada saat tersebut zat antipoliomelitik sudah tidak ada dalam ASI (atau kalau ada titernya sangat rendah, sehingga tidak mampu menetralisir virus vaksin dalam usus anak).
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

sear polio research report 2015

sear polio research report 2015

The polio eradication programme in the WHO South-East Asia Region achieved a historic milestone when the Region was certiied polio-free in March 2014. With this achievement, 80% of the world’s population now lives in certiied polio-free areas. Strategic innovations and tactical interventions were implemented in the Region to overcome the various challenges during the journey towards polio eradication. These strategies were driven by data generated through surveillance and monitoring systems and guided by multiple research studies conducted in the Region. Research conducted by way of clinical trials on polio vaccines, serological surveys and analytical studies led to policy changes and ine-tuning of strategies that ultimately led to a polio-free Region. Even the most complex research studies were completed successfully and reliable evidence generated to guide policy decisions.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN WAKTU PEMBERIAN IMUNISASI POLIO DI PUSKESMAS JETIS YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN WAKTU PEMBERIAN IMUNISASI POLIO DI PUSKESMAS J

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN WAKTU PEMBERIAN IMUNISASI POLIO DI PUSKESMAS JETIS YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN WAKTU PEMBERIAN IMUNISASI POLIO DI PUSKESMAS J

penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tentang imunisasi polio dalam kategori sedang, ini artinya responden belum sepenuhnya mendayagunakan seluruh indera yang dimiliki oleh responden untuk meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi polio.

12 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio Dengan Perilaku Ibu Pasca Pemberian Imunisasi Polio Pada Bayi Di Desa Mancang Wilayah Kerja Puskesmas Selesai, Kab. Langkat Tahun 2014

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio Dengan Perilaku Ibu Pasca Pemberian Imunisasi Polio Pada Bayi Di Desa Mancang Wilayah Kerja Puskesmas Selesai, Kab. Langkat Tahun 2014

Menurut Nelson (2006 dalam Widayati 2009, ¶ 5), Penting bagi orang tua untuk mengetahui mengapa, kapan, dimana, dan berapa kali anak harus diimunisasi. Kendala utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam sistem perawatan kesehatan yaitu rendahnya kesadaran dan tidak adanya kebutuhan masyarakat pada imunisasi. Jalan masuk ke pelayanan imunisasi tidak akurat, melalaikan peluang untuk pemberian vaksin dan sumber yang akurat untuk kesehatan masyarakat dan program pencegahan. Pemberian imunisasi pada bayi dan anak tidak hanya memberi pencegahan penyakit pada anak tersebut tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas karena dapat mencegah penularan penyakit untuk anak lain, oleh karena itu pengetahuan dan sikap orang tua terutama ibu sangat penting untuk memahami tentang manfaat imunisasi bagi anak Indonesia.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

REKAYASA GENETIKA untuk mengtasi masalah

REKAYASA GENETIKA untuk mengtasi masalah

Rekayasa Genetika- September 2016 Hal tersebut dapat kita tinjau dari berbagai proyek rekayasa genetika yang telah sukses terutama dalam sejumlah bidang rekayasa tumbuhan dan hewan dalam hal untuk penyediaan kebutuhan pangan manusia. Tantangan dan prospek pengembangan rekayasa genetika kedepan justru akan mengarah ke aplikasinya yang lebih luas ke manusia itu sendiri terutama untuk aplikasi dibidang kesehatan. Produksi vaksin dengan memanfaatkan teknik rekayasa genetika telah banyak membantu riset dan pengembangan sejumlah vaksin baru, baru-baru ini sedang dikembangkan juga vaksin untuk menangani wabah Ebola, Zika, dan virus H7N9 yang berpotensi menjadi penyakit pandemic secara global.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Upaya Eradikasi Polio Di Indonesia

Upaya Eradikasi Polio Di Indonesia

Poliomyelitis is an acute infectious disease involve motor neuron of the spinal cord and brain and results in an asymmetric flaccid paralysis of the voluntary muscles. Although poliomyelitis caused by wild virus has been eradicated from the western since 1994, its remains a problem in developing countries.With widespread immunization, poliomyelitis has become preventable, and recurrent major epidemics are no longer encountered. Wisdom background and eradicate poliomyelitis strategy in Indonesia is agreement of World Health Assembly 1988 specifying reaching of global eradicate polio goals in the year 2000.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN KEPATUHAN IBU MELAKSANAKAN IMUNISASI POLIO PADA BAYI DI DESA KRAGAN GONDANGREJO KARANGANNYAR.

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN KEPATUHAN IBU MELAKSANAKAN IMUNISASI POLIO PADA BAYI DI DESA KRAGAN GONDANGREJO KARANGANNYAR.

Kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi polio adalah suatu perilaku, sedangkan Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya. Selain itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku (Notoatmodjo, 2003: 13-14). Sehingga dalam hal ini tingginya tingkat kepatuhan melaksanakan imunisasi polio pada bayi di Desa Kragan sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan tentang imunisasi yang baik.

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Cakupan Imunisasi Polio Pada Bayi Antara Puskesmas Di Desa Dan Di Kota Di Kabupaten Sukoharjo Periode Juli 2015 Sampai Juni 2016.

PENDAHULUAN Perbedaan Cakupan Imunisasi Polio Pada Bayi Antara Puskesmas Di Desa Dan Di Kota Di Kabupaten Sukoharjo Periode Juli 2015 Sampai Juni 2016.

kegiatan yaitu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio, penggantian vaksin trivalent Oral Polio Vaccine (tOPV) ke bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV) dan introduksi Inactivated Polio Vaccine (IPV). Pada akhir tahun 2020 diharapkan penyakit polio telah berhasil dihapus dari seluruh dunia (KESMAS, 2016).

7 Baca lebih lajut

Maksum Radji Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Departemen Farmasi FMIPA-UI, Depok, 16424

Maksum Radji Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Departemen Farmasi FMIPA-UI, Depok, 16424

M ekanisme A ksi V aksin DNA Mekanisme vaksin DNA dalam merang sang sistem imun ad alah setelah plasmid DNA disuntikkan ke dalam jaringan maka plasmid DNA akan bereplikasi secara otonom dan memproduksi protein asing atau an- tigen yang dikode oleh gen vaksin. A ntigen ini langsung d apat men- stimulasi sel B yang kemudian dapat memp ro d uksi antibo d i terhad ap entig en atau p ro tein asing y ang dikode oleh plasmid DNA. Sel yang mengandung antigen asing tersebut kemudian dapat bersifat sebagai sel penyaji antigen ( antigen presenting cells ), yang kemudian dapat melalui jalur-jalur tertentu, baik melalui jalur major histocompatibility complex (MHC) I pada sel CD8+T atau MHC II pada sel CD4+T, sehingga mengalami pro- ses yang berbeda dalam merangsang sistem imunutas tubuh. Protein asing juga dapat langsung masuk ke dalam suatu sel penyaji lainnya misalnya sel dendritik, sehingga dengan demikian selain dapat merangsang sistem imun humo ral jug a d ap at merang sang sistem imun selular. Karena proses pembentukan antigen oleh sel hospes setelah vaksinasi DNA menyerupai produksi antigen pada saat terinfeksi d eng an mikro o rg anisme secara alamiah, maka respo n imun yang terjadi akibat vaksinasi DNA sama dengan respon imun yang diinduksi oleh mikroorganisme patogen. Gambar 1. Struktur dan elemen
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENYAKIT MENULAR DI INDONESIA

PENYAKIT MENULAR DI INDONESIA

Sebelum dilakukan vaksinasi terhadap rubella tahun 1969, pendemic rubella terjadi setiap 6-9 tahun, yang puncaknya terjadi pada musim semi. Sejak tahun 1969, ketika vaksin untuk rubella dilakukan , anak-anak secara rutin divaksinasi , membantu mencegah penyebaran

167 Baca lebih lajut

MENJAMIN KUALITAS VAKSIN DENGAN MANAJEMEN RANTAI DINGIN

MENJAMIN KUALITAS VAKSIN DENGAN MANAJEMEN RANTAI DINGIN

1. Man atau sumber daya manusia di tingkat puskesmas minimal mempunyai tenaga yang bertugas sebagai petugas imunisasi dan pengelola cold chain dengan standar kualifikasi tenaga minimal SMA atau SMK yang telah mengikuti pelatihan cold chain. Rumah Sakit dan Rumah Bersalin serta pelayanan imunisasi pada praktek swasta lainnya, pada prinsipnya hampir sama dengan di Puskesmas. Pelayanan imunisasi dilaksanakan oleh tenaga profesional/terlatih. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan dan atau ketrampilan petugas pengelola vaksin perlu dilakukan pelatihan. Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan merupakan faktor yang dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). Studi tentang pengelolaan vaksin di Vancouver (2006) menunjukan bahwa dengan pengetahuan yang baik dan ditindaklanjuti dengan praktik pengelolaan vaksin yang baik akan menurunkan jumlah vaksin yang rusak. Pada penelitian tersebut dari 170 responden hanya 23% petugas dengan pengetahuan memuaskan, dan 49% unit pelayanan ditemukan vaksin yang rusak .Program pelatihan dapat mempengaruhi perilaku kerja dalam dua cara dan yang paling jelas adalah dengan langsung memperbaiki ketrampilan yang diperlukan petugas agar berhasil menyelesaikannya pekerjaannya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 722 documents...