Top PDF HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN PERILAKU MAKAN SAYUR ANAK PRASEKOLAH TK BAITUL MAKMUR SENGKALING MALANG

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN PERILAKU MAKAN SAYUR ANAK PRASEKOLAH TK BAITUL MAKMUR SENGKALING MALANG

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN PERILAKU MAKAN SAYUR ANAK PRASEKOLAH TK BAITUL MAKMUR SENGKALING MALANG

Judul Skripsi : Hubungan antara Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Perilaku Makan Sayur Anak Prasekolah Di TK Baitul Makmur Sengkaling Malang Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

27 Baca lebih lajut

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Dan (1)

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Dan (1)

Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 19. Variabel-variabel penelitian terlebih dahulu diuji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Sminornov dan didapatkan hasil persebaran datanya tidak normal. Selanjutnya, hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri dianalisis menggunakan uji korelasi spearman. Pada uji ini dikatakan signifikan jika nilai p < 0.05.

20 Baca lebih lajut

ABSTRAK HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN OBESITAS PADA ANAK USIA TAHUN

ABSTRAK HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN OBESITAS PADA ANAK USIA TAHUN

ABSTRAK HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN OBESITAS PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak sering dikaitkan dengan kebiasaan anak mengkonsumsi makanan cepat saji yang berlebihan. Kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dianggap menjadi faktor utama timbulnya obesitas pada masyarakat terutama pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan cepat saji (frekuensi, jumlah, dan pendamping makanan) terhadap obesitas pada anak usia 10-12 tahun.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Faktor Genetik dengan Gizi Lebih pada Anak TK Al Furqan Kabupaten Jember

Hubungan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Faktor Genetik dengan Gizi Lebih pada Anak TK Al Furqan Kabupaten Jember

Hubungan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Faktor Genetik dengan Gizi Lebih pada Anak TK Al Furqan Kabupaten Jember; Ikha Martha Sandy, 042110101028; 2008; 91 halaman; Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.

9 Baca lebih lajut

PUBLIKASI KARYA ILMIAH HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI  DENGAN  HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD DR. MOEWARDI.

PUBLIKASI KARYA ILMIAH HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD DR. MOEWARDI.

Berdasarkan uraian sebelumnya, adanya pengaruh makanan cepat saji terhadap penyakit jantung koroner serta belum adanya penelitian mengenai hal tersebut di RSUD Dr. Moewardi. Peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi.

14 Baca lebih lajut

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Status Gizi Siswa Sekolah Menengah Atas

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Status Gizi Siswa Sekolah Menengah Atas

Keywords : fast-food, nutritional status, pocket money Abstrak Konsumsi makanan cepat saji merupakan salah satu implikasi dari perilaku buruk remaja yang disebabkan oleh penggunaan uang saku yang tidak tepat. Masalah gizi remaja sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan konsumsi fast food dan uang saku terhadap status gizi remaja SMA Negeri di Surakarta, merupakan penelitian analitik-observasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja SMA negeri yang dipilih secara random sampling yang memenuhi kriteria sebanyak 146 orang. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik menggunakan Chi-square menunjukkan bahwa p value 0,01 untuk makanan cepat saji kecil sedangkan p untuk uang saku 0,41 lebih besar dari = 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara fast food dengan status gizi, tetapi tidak ada hubungan antara uang jajan dengan status gizi remaja SMA negeri di Surakarta.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

HUBUNGAN POLA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DAN HIPERTENSI: SEBUAH PENELITIAN BERSKALA NASIONAL DI INDONESIA

HUBUNGAN POLA KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DAN HIPERTENSI: SEBUAH PENELITIAN BERSKALA NASIONAL DI INDONESIA

Hipertensi merupakan silent killer yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang mengandung tinggi natrium, tinggi lemak, tinggi sodium, tinggi gula dan MSG menjadi penyebab kejadian hipertensi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi hubungan pola konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari The Indonesian Family Live Survey gelombang 5 (IFLS-5). Skema pengambilan sampel dalam survei ini didasarkan pada skema pengambilan survei IFLS gelombang 1, yang dilakukan secara bertingkat berdasarkan propinsi dan wilayah perkotaan dan pedesaan. Sampel diambil secara acak pada skala rumah tangga. Terpilih 13 propinsi sebagai sampel yang merepresentasikan 83% dari total populasi serta mencerminkan keanekaragaman budaya serta sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Analisis data menggunakan multivariate regresi logistik. Dari 12.105 responden, mayoritas responden sering mengkonsumsi makanan cepat saji (73%). Analisis multivariat menunjukan bahwa orang yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan secara signifikan terhadap kejadian hipertensi (AdjOR = 1,02; CI 95% = 0,65-1,61; p>0,05). Namun responden berjenis kelamin laki-laki dan yang bekerja secara signifikan berhubungan dengan hipertensi. Pola konsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan terhadap kejadian hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia. Meskipun begitu konsumsi makanan cepat saji berlebih perlu menjadi perhatian bagi masyarakat agar terhindar dari hipertensi. Diharapkan ada pembuktian hubungan antara makanan cepat saji dengan hipertensi dengan metode lain seperti case control dengan menambahkan berbagai variabel-variabel lain yang kemungkinkan merupakan faktor risiko terhadap kejadian hipertensi.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI  DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN  HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD DR. MOEWARDI.

HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD DR. MOEWARDI.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode crossectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik consequtive sampling. Subjek penelitian sebanyak 37 pasien penyakit jantung koroner, berusia 40-65 tahun. Data kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan FFQ. Data penyakit jantung koroner dilihat dari catatan rekam medik pasien. Penelitian ini menggunakan uji statistik Fisher’s Exact.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan, Uang Saku, Dan Peer Group Dengan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji Pada Remaja Putri

Hubungan Pengetahuan, Uang Saku, Dan Peer Group Dengan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji Pada Remaja Putri

Variabel lain yang diteliti dalam penelitian ini adalah jumlah uang saku. Rata-rata uang saku subjek per hari yaitu sebesar 11471±6585,5. Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa korelasi frekuensi konsumsi makanan cepat saji dengan uang saku memiliki hubungan yang bermakna secara statistik (p<0,05). Hal ini sesuai dengan penelitian Novasari yang menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara uang saku dengan perilaku konsumsi makanan cepat saji. 19 Namun hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Mulyasari yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara besar uang saku dengan frekuensi konsumsi western fast food pada remaja. 21
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD DR.

HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD DR.

Hasil: Diantara pasien yang sering konsumsi makanan cepat saji, 76% dari mereka memiliki penyakit jantung koroner. Sementara itu, mereka yang jarang mengkonsumsi makanan cepat saji, 66,7% dari mereka tidak memiliki penyakit jantung koroner. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian penyakit jantung koroner (p =0,027).

18 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Status Gizi pada Remaja Usia 13-15 tahun di SMP St.Yoseph Medan

Hubungan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Status Gizi pada Remaja Usia 13-15 tahun di SMP St.Yoseph Medan

ABSTRAK Prevalensi obesitas dan gizi lebih pada remaja semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan berat badan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain yaitu genetik, aktifitas fisik dan gaya hidup individu tersebut. Pada zaman globalisasi sekarang, masyarakat lebih cenderung untuk mengkonsumsi makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh dan karbohidrat tetapi rendah zat-zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan frekuensi konsumsi makanan cepat saji dengan status gizi pada remaja usia 13-15 tahun di SMP St. Yoseph Medan.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Tempat Tinggal Pada Mahasiswa FIK dan FT Universitas Muhamammadiyah Surakarta

Hubungan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Tempat Tinggal Pada Mahasiswa FIK dan FT Universitas Muhamammadiyah Surakarta

Pada mahasiswa yang bertempat tinggal di kos alasan memilih untuk mengonsumsi fastfood yaitu cepat, praktis dan kenyang lebih lama. Penelitian mengenai hubungan frekuensi konsumsi makanan cepat saji (fastfood) dengan tempat tinggal masih sangat jarang terutama pada mahasiswa, karena mahasiswa merupakan konsumen fastfood paling tinggi terutama pada mahasiswa yang bertempat tinggal di kos dan yang memiliki orang tua sibuk sehingga tidak sempat masak. Hal ini sesuai dengan teori Proverawati (2010), bahwa seringnya mengonsumsi fastfood dapat menaikkan status sosial mahasiswa, menaikkan gengsi dan tidak ketinggalan globalitas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Myhre (2013), bahwa mengonsumsi makanan di restoran (diluar rumah) memiliki kandungan gizi yang rendah terutama serat dan tinggi kalori serta gula sehingga menyebabkan konsumen mengalami gizi lebih bahkan obesitas.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON IKLAN MAKANAN DI TELEVISI DENGAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI SISWA SMK PANCA BUDI 2 MEDAN.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON IKLAN MAKANAN DI TELEVISI DENGAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI SISWA SMK PANCA BUDI 2 MEDAN.

Pada dasarnya, usia remaja sejalan dengan usia siswa sekolah menengah. Usia rata-rata siswa sekolah menengah adalah 16-19 tahun. Pada usia inilah mereka menghabiskan waktu untuk mencari jati diri dan mencoba hal-hal baru, terutama dalam hal makan. Salah satu penggolongan sekolah menengah adalah sekolah menengah kejuruan atau biasa disebut dengan SMK. SMK Panca Budi 2 Medan merupakan salah satu SMK swasta yang ada di Kota Medan. SMK ini letaknya sangat strategis, dimana banyak outlet-outlet yang menjual makanan cepat saji disekitar sekolah dan juga dekat dengan beberapa mall yang di dalamnya terdapat restoran-restoran makanan cepat saji (fast food). Hal ini tidak menutup kemungkinan akan banyaknya siswa yang cenderung mengkonsumsi makanan cepat saji setelah jam berakhir sekolah.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Tingkat Aktivitas Fisik terhadap Obesitas pada Kelompok Usia Tahun

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Tingkat Aktivitas Fisik terhadap Obesitas pada Kelompok Usia Tahun

Kata kunci: aktivitas fisik, makanan cepat saji, obesitas, remaja dan tidak perlu menunggu waktu lagi semenjak makanan dipesan sampai dengan disajikan. Kehadiran fast food dalam industri makanan di Indonesia bisa mempengaruhi pola makan para remaja di kota. Beberapa tahun terakhir ini, banyak didirikan tempat-tempat penjualan fast food di beberapa kota besar di Indonesia terutama di tempat yang strategis di Mall, supermarket bahkan bermunculan di pinggiran jalan. Fast food ditawarkan dengan harga yang terjangkau oleh kantong-kantong remaja, selain karena pelayanan yang cepat dan ramah, kepercayaan, kenyamanan dan promosi yang menarik, kebiasaan mengkonsumsi
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Terhadap Kejadian Akne Vulgaris pada Mahasiswa FK USU Stambuk 2007

Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Terhadap Kejadian Akne Vulgaris pada Mahasiswa FK USU Stambuk 2007

Penelitian tentang efek makanan terhadap akne vulgaris sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1946 oleh Steiner yang melakukan observasi pada penduduk Okinawa yang daerahnya terisolasi dari dunia luar dan tidak didapati adanya akne vulgaris. Pada tahun 1967, Findlay melakukan pengamatan terhadap prevalensi akne vulgaris pada penduduk Afrika Selatan yang tidak mengkonsumsi dan yang mengkonsumsi makanan cepat saji dan didapati hasil 16% untuk penduduk yang tidak mengkonsumsi dan 45% untuk yang mengkonsumsi. Sulzberger, 1969, melakukan uji trial pertama terhadap efek coklat terhadap eksaserbasi akne vulgaris, dan tidak dijumpai adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, tetapi belakangan penelitian ini ditolak karena kandungan coklat bar dan plasebo yang digunakan sama. 1971, Schaefer selama 30 tahun melihat adanya peningkatan prevalnsi akne pada Suku Inuit di Eskimo setelah mereka mengadopsi gaya hidup barat. 1981, Bechelli melakukan survei pada anak 6-16 tahum dengan responden sebanyak 9955, dan hanya didapati prevalensi akne vulgaris sekitar 2,7%. Freye, 1998, melihat adanya perbedaan prevalensi penduduk tradisional Suku Pruvian dengan penduduk perkotaannya dan didapati perbedaan prevalensi sebesar 28% dan 43%. 2002, Cordein melakukan pengamatan pada penduduk Kitavan, dan didapati prevalensi akne sangat rendah.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

KEBIASAAN MAKAN SAYUR DAN BUAH IBU SAAT KEHAMILAN KAITANNYA DENGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH ANAK USIA PRASEKOLAH

KEBIASAAN MAKAN SAYUR DAN BUAH IBU SAAT KEHAMILAN KAITANNYA DENGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH ANAK USIA PRASEKOLAH

Pengaruh kebiasaan konsumsi sayur dan buah bahkan dapat dimulai pada masa kehamilan. Men- nella et al. (2001) menjelaskan bahwa flavors (rasa) pada diet ibu saat masa kehamilan dapat diteruskan kepada janin melalui cairan amniotik dan selanjut- nya diteruskan kembali setelah bayi lahir yang mulai mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI). Studi eksperimental yang dilakukan oleh Mennella et al. (2001) menun- jukkan bahwa rasa wortel yang diberikan kepada ibu saat trimester ketiga kehamilan dapat dikenal dengan baik oleh bayinya saat mulai diberi makanan tambahan dengan rasa wortel dibandingkan dengan bayi yang ibunya tidak mengonsumsi wortel saat kehamilan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti kesukaan dan preferensi sayur dan buah ibu saat hamil yang dikaitkan dengan kebiasaan ma- kan sayur dan buah anak usia prasekolah. Secara
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh modifikasi sayur terhadap porsi konsumsi sayur anak prasekolah

Pengaruh modifikasi sayur terhadap porsi konsumsi sayur anak prasekolah

mengunakan teknik non probability sampling, dengan menggunakan metode purposive sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik non parametris yaitu uji Wilcoxon untuk data kurang dari 30. 10 Alat pengumpulan data yang digunakan diantaranya timbangan makanan digital, lembar data dan diskualifikasi responden, serta lembar data observasi porsi konsumsi sayur anak sebelum dan sesudah modifikasi sayur. Pengambilan data pada penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi karakteristik responden sesuai dengan kriteria inklusi dengan melakukan kegiatan sebagai berikut : 1) Peneliti memberikan lembar data dan diskualifikasi responden kepada anak yang harus diisi oleh orang tua. Lembar ini berisi data anak dan pertanyaan- pertanyaan sesuai dengan kriteria inklusi. 2) Peneliti mengambil kembali lembar diskualifikasi yang telah diisi dan memilih responden berdasarkan hasil tersebut. Peneliti memilih 17 anak yang sesuai dengan kriteria inklusi untuk menjadi sampel.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN SIAP SAJI DENGAN BB PADA ANAK USIA PRASEKOLAH TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK AZ-ZUMAR RUBARU SUMENEP

HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN SIAP SAJI DENGAN BB PADA ANAK USIA PRASEKOLAH TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK AZ-ZUMAR RUBARU SUMENEP

Latar Belakang : Makanan siap saji dewasa ini menjadi alternative pilihan yang semakin sering dilakukan oleh orang tua ( ibu ) dalam memberikan asupan makanan kepada anaknya karena selain cepat disajikan, rasanya juga disukai anak-anak. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian makanan siap saji dengan BB pada anak usia prasekolah terhadap status gizi anak usia prasekolah di TK Az-Zumar Rubaru Sumenep.

6 Baca lebih lajut

ANALISIS DISKRIMINAN TERHADAP PERILAKU MAHASISWA DALAM MENGKONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI

ANALISIS DISKRIMINAN TERHADAP PERILAKU MAHASISWA DALAM MENGKONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI

Pengelompokan dilakukan menggunakan analisis diskriminan, yaitu teknik multivariat untuk memisahkan objek-objek dalam kelompok yang berbeda dan mengelompokkan objek baru kedalam kelompok-kelompok tersebut. Analisis diskriminan bertujuan untuk mengenali faktor-faktor yang dapat membedakan dua kelompok atau lebih. Berdasarkan hasil dari pengujian terhadap mahasiswa dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, didapat faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu lebih praktis dan cepat, bentuk penyajian yang menarik, harga terjangkau, lokasi strategis, dan pelayanan yang memuaskan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERILAKU KONSUMSI MAKANAN JAJANAN DENGAN BERAT BADAN ANAK PRASEKOLAH DI TK TARBIYATUSH SHIBYAN DESA GAYAMAN MOJOANYAR MOJOKERTO

PERILAKU KONSUMSI MAKANAN JAJANAN DENGAN BERAT BADAN ANAK PRASEKOLAH DI TK TARBIYATUSH SHIBYAN DESA GAYAMAN MOJOANYAR MOJOKERTO

Berat badan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perilaku dalam hal konsumsi makanan. Perilaku hidup sehat merupakan perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya salah satunya yaitu makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang di sini dalam arti kualitas (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh), dan kuantitas dalam arti jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi juga tidak lebih) (Notoatmodjo, 2007). Pada masa kanak-kanak biasanya anak memakan makanan yang dimakan oleh keluarganya. Kualitas diet mereka bergantung pada luasnya rentang pola makan keluarga dan orang tua cenderung tidak mengetahui apa yang dimakan anaknya ketika mereka di luar rumah. Restoran siap saji yang tersedia dimana-mana, pengaruh media massa dan godaan keberagaman makanan cepat saji yang sangat besar memudahkan anak untuk mongonsumsi makanan tanpa kalori yang tidak meningkatkan pertumbuhan seperti gula, zat tepung, dan lemak yang berlebihan. Makanan tinggi kalori yang tersedia dengan mudah dan dikombinasikan dengan kecenderungan aktivitas yang kurang melibatkan gerak tubuh menjadi faktor yang berperan dalam peningkatan prevalensi obesitas pada masa kanak-kanak (Donna L Wong, 2009).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...