Top PDF Kedudukan Ahli Waris yang Penerima Hibah dari Orang Tua terhadap Ahli Waris Lainnya pada Proses Pembagian Waris

Kedudukan Ahli Waris yang Penerima Hibah dari Orang Tua terhadap Ahli Waris Lainnya pada Proses Pembagian Waris

Kedudukan Ahli Waris yang Penerima Hibah dari Orang Tua terhadap Ahli Waris Lainnya pada Proses Pembagian Waris

Apabila hibah ditarik kembali maka hibah yang sudah diberikan itu harus dikembalikan kepada pemberi hibah. Tentunya penarikan (pembatalan) hibah ini harus melalui prosedur di pengadilan sebagai jalan penegakan hukum. Berdasarkan KUHPerdata pelaksanaan hibah harus melalui prosedur akta otentik. Artinya proses pemberian hibah harus dibuktikan dengan akta notaris, bila tidak maka itu menjadi batal. Pasal 1683 berbunyi : “tiada suatu hibah mengikat penghibah, atau menerbitkan sesuatu akibat yang bagaimanapun, selain mulai hari penghibahan itu dengan kata-kata yang tegas telah diterima oleh si penerima hibah sendiri atau oleh seorang yang dengan suatu akta otentik oleh si penerima hibah itu telah dikuasakan untuk menerima penghibahan-penghibahan yang telah diberikan kepada si penerima hibah atau akan diberikan kepadanya di kemudian hari. Jika penerimaan tersebut tidak telah dilakukan didalam surat hibah sendiri, maka itu akan dapat dilakukan didalam suatu akta otentik teremduian, yang aslinya harus disimpan, asalkan yang demikian itu dilakukan di waktu si penghibah masih hidup, dalam hal mana penghibahan, terhadap orang yang belakangan disebut ini, hanya akan berlaku sejak hari penerimaan itu diberitahukan kepadanya”. 19
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kedudukan Ahli Waris pada Perkawinan Poligami

Kedudukan Ahli Waris pada Perkawinan Poligami

Perkawinan poligami adalah suatu ikatan perkawinan yang salah satu pihak dimana laki-laki memiliki/mengawini beberapa lawan jenis diwaktu yang bersamaan. Dan kedudukan anak dalam perkawinan ini sah hubungan hukumnya sepanjang perkawinan ini tercatat dan dilakukan sesuai dengan syarat-syarat sah dari perkawinan. Dalam pembagian harta waris dari anak yang dilahirkan dari perkawinan poligami ditentukan asal mula harta apakah harta yang ditinggalkan orang tua merupakan harta bawaan atau harta bermasa dari hasil perkawinan.Dalam pasal 94 ayat (1) Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dimana pelaksanaan harta waris dalam perkawinan dapat dilakukan atas kesepakatan antar semua pihak ahli waris. Hal ini akan memberi banyak keuntungan bagi semua ahli waris. Apabila tidak tercapai kesepakatan maka pembagian harta waris dalam perkawinan poligami dapat dilakukan dengan pengajuan gugatan kewarisan di Pengadilan. Adapun hambatan dalam pembagian waris dalam perkawinan poligami tersebut disebabkan karena tidak tercatatnya perkawinan dalam perkawinan poligami, dan perkawinan poligami tidak pernah melakukan perjanjian perkawinan dan bermusyawarah untuk pembagian waris sering terjadi hambatan dikarenakan atau diakibatkan sering terjadi ketidak adilan dalam perkawinan poligami.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Terhadap Kedudukan Akta Wasiat Yang Tidak Diketahui Oleh Ahli Waris Dan Penerima Wasiat

Analisis Yuridis Terhadap Kedudukan Akta Wasiat Yang Tidak Diketahui Oleh Ahli Waris Dan Penerima Wasiat

Pada umumnya dalam proses pembuatan wasiat, pemberi wasiat sering kali tidak memberitahu kepada ahli warisnya ataupun kepada penerima wasiat akan adanya wasiat yang dibuat oleh pemberi wasiat. Tidak adanya kewajiban bagi pemberi wasiat untuk memberitahukan adanya wasiat yang akan dia buat menjadikan pemberi wasiat dapat langsung menghadap ke notaris untuk membuat atau sekedar menyimpan dan mendaftarkan akta wasiatnya. Akibatnya setelah terbukanya warisan, seringkali ahli waris dan penerima wasiat tidak mengetahui adanya wasiat itu. Kemungkinan ini menimbulkan permasalahan tersendiri dalam hukum kewarisan terutama apabila, sudah dilaksanakannya pembagian warisan secara ab intestato sedangkan dikemudian hari terdapat wasiat yang dibuat oleh pewaris atau pemberi wasiat kepada seseorang penerima wasiat.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS PENGGANTI MENURUT H

KEDUDUKAN AHLI WARIS PENGGANTI MENURUT H

Dari itu dapat dipahami bahwa ada suatu ketentuan yang berlaku disaat pembagian harta warisan, jika ada pihak lain selain ahli waris yang hadir ketika itu dari kalangan kerabat, fakir, miskin dan anak yatim, mereka harus dimuliakan dan diberikan sedikit harta. Jika dalam suatu keluarga terdapat anak angkat, tentu saja ia akan hadir atau dianggap hadir dalam pembagian harta warisan orang tua angkat, karena dia telah menjadi bagian dari keluarga tersebut. Maka kewajiban ahli waris adalah memuliakan anak angkat tersebut dan memberikan sedikit harta kepadanya, jika sebelumnya ia tidak pernah menerima hibah atau wasiat dari pewaris (orang tua angkat).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HAK AHLI WARIS YANG MURTAD DALAM PEMBAGIAN WARIS DITINJAU DARI KOMPILASI HUKUM ISLAM

HAK AHLI WARIS YANG MURTAD DALAM PEMBAGIAN WARIS DITINJAU DARI KOMPILASI HUKUM ISLAM

Kesimpulan dari permasalahan diatas adalah pertama, Islam menegaskan bahwa perbedaan suatu agama yang terjadi antara pewaris dan ahli waris merupakan suatu penghalang dari suatu kewarisan. Hal tersbut terdapat pada pasal 171 poin b yang menyatakan “perwaris adalah orang yang saat meninggalnya atau saat dinyatakan meninggal berdasar putusan pengadilan beragama islam dan meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan”. Dalam pasal yang sama 171 poin c menyatakan “ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris beragama islam dan tidak karena hukum menjadi ahli waris. Kedudukan ahli waris yang telah murtad adalah menjadi penghalang bagi dirinya untuk mendapatkan harta warisan dari pewaris hal ini dikarenakan bahwa pembagian harta warisan harus diberikan kepada para ahli waris yang beragama Islam dan seperti yang dihadistkan Baginda Rasulullah S.A.W bahwa Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi harta orang kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi harta muslim." (HR.Bukhari dan Muslim). Kedua, Seorang anak yang telah menjadi Murtad dapat menerima bagian dari harta warisan dengan jalan hibah jadi hak yang dapat diterima oleh anak yang telah murtad terhadap harta warisan dari pewaris yang beragama Islam adalah dengan melalui hibah, dan yang ketiga besarnya hibah sebesar-besarnya 1/3 dari harta pemberi hibah dan pemberian hibah harus diberikan pada saat pewaris masih hidup dengan bagian paling banyak sebesar 1/3 dari harta pewaris.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki, 8 Sedangkan waris adalah segala apa dan bagaimana berbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal akan beralih kepada orang lain yang masih hidup. Tetapi melihat fenomena praktek masyarakat Indonesia dapat dilihat adanya hubungan atau keterkaitan antara hibah dan waris. Misalnya penerimaan hibah memiliki akibat sendiri dalam memperhitungkan harta warisan, hubungan antara penerimaan hibah maupun proses pembagian harta warisan sangat bervariasi. Hukum menetapkan demikian, untuk menjamin hak-hak para ahli waris dan pihak lain secara keseluruhan dan ruang lingkup kewarisan, yaitu hibah wajib diperhitungkan. Maksudnya benda-benda yang pernah diberikan si pewaris sewaktu masih hidup kepada ahli waris, keturunan garis lurus kebawah pada waktu pembagian harta warisan nanti harus diperhatikan atau dimaksudkan kembali ke dalam harta warisan oleh segenap ahli warisnya, seperti yang diuraikan dalam Pasal 1086 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hubungan hibah dengan waris juga dinyatakan secara jelas di dalam Kompilasi Hukum Islam dalam Buku II tentang Kewarisan, BAB IV tentang Hibah seperti Pasal 211 Kompilasi Hukum Islam dinyatakan, bahwa dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN KEPONAKAN SEBAGAI AHLI WARIS PENGGANTI DALAM SENGKETA WARIS MELAWAN ANAK ANGKAT PENERIMA WASIAT WAJIBAH Ika Febriasari

KEDUDUKAN KEPONAKAN SEBAGAI AHLI WARIS PENGGANTI DALAM SENGKETA WARIS MELAWAN ANAK ANGKAT PENERIMA WASIAT WAJIBAH Ika Febriasari

Pengangkatan anak umumnya dilakukan oleh berbagai kalangan dalam masyarakat guna memenuhi keinginan manusia untuk menyalurkan kasih sayangnya kepada anak yang dirasakan akan merupakan kelanjutan hidupnya. 14 Hukum Islam mengatur mengenai pengangkatan anak, yaitu dalam Pasal 171 huruf h KHI, yang menyatakan : “ Anak angkat adalah anak dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan, dan sebagai beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan”. Hal ini berarti agama Islam mengenal pengangkatan anak, namun
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

Pada dasarnya penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh praktek waris beda agama yang amat pelik di zaman modern, lebih- lebih ketika terjadi yang ahli waris ternyata memeluk agama yang berbeda dengan orang tua kandungnya, seperti banyak kasus di beberapa tempat di dunia, termasuk di Indonesia. Timbul perdebatan antara beberapa ulama tentang ahli waris yang beda agama dengan pewaris. Ada ulama yang mengatakan bahwa ahli waris yang beda agama dengan pewaris tidak berhak mendapatkan harta waris, ada pula ulama yang mengatakan bahwa ahli waris yang beda agama dengan pewaris boleh mendapatkan warisan. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti dan membahasnya dalam suatu karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul “KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HAR TA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM.”
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

benda dari suatu angkatan manusia pada turunannya dimana proses itu telah mulai dan waktu orang tua masih hidup. Proses meninggalnya pewaris tersebut tidak menjadi akut oleh sebab orang tua meninggal. Memang meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu, akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut. Proses itu berjalan terus hingga angkatan baru yang dibentuk dengan mencar dan mentasnya anak-anak yang merupakan keluarga-keluarga baru, mempunyai dasar kehidupan materiil sendiri dengan barang-barang dari harta peninggalan orang tuanya sebagai fundamen. 69
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

Pada dasarnya penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh praktek waris beda agama yang amat pelik di zaman modern, lebih- lebih ketika terjadi yang ahli waris ternyata memeluk agama yang berbeda dengan orang tua kandungnya, seperti banyak kasus di beberapa tempat di dunia, termasuk di Indonesia. Timbul perdebatan antara beberapa ulama tentang ahli waris yang beda agama dengan pewaris. Ada ulama yang mengatakan bahwa ahli waris yang beda agama dengan pewaris tidak berhak mendapatkan harta waris, ada pula ulama yang mengatakan bahwa ahli waris yang beda agama dengan pewaris boleh mendapatkan warisan. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti dan membahasnya dalam suatu karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul “KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HAR TA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM.”
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kedudukan Keponakan Sebagai Ahli Waris Pengganti Dalam Sengketa Waris Melawan Anak Angkat Penerima Wasiat Wajibah

Kedudukan Keponakan Sebagai Ahli Waris Pengganti Dalam Sengketa Waris Melawan Anak Angkat Penerima Wasiat Wajibah

Pengangkatan anak umumnya dilakukan oleh berbagai kalangan dalam masyarakat guna memenuhi keinginan manusia untuk menyalurkan kasih sayangnya kepada anak yang dirasakan akan merupakan kelanjutan hidupnya. 13 Hukum Islam mengatur mengenai pengangkatan anak, yaitu dalam Pasal 171 huruf h KHI, yang menyatakan : “Anak angkat adalah anak dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan, dan sebagai beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan”. Hal ini berarti agama Islam mengenal pengangkatan anak, namun orang tua angkat hanya berkewajiban pemberian biaya pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan, dan sebagainya. Sehingga anak angkat hanya memperoleh hak atas kesejahteraan dari orang tua angkat. Anak angkat tidak mempunyai hak mewaris harta orang tua angkatnya. Selain itu pengangkatan anak harus berdasarkan pada putusan pengadilan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

MAKALAH Ahli Waris Dan Kewajiban Ahli Wa

MAKALAH Ahli Waris Dan Kewajiban Ahli Wa

Artinya : “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah; Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S An-Nisaa’ : 176). 2
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DI BALI.

KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DI BALI.

Masyarakat Bali pada umumnya dalam melaksanakan upacara pernikahan pihak purusa (laki-laki) memiliki peran andil yang sangat besar dibandingkan dengan pihak pradana (perempuan). Tetapi pada upacara perkawinan Gelahang Bareng/Negen tidak seperti pada umumnya. Perkawinan Gelahang Bareng/Negen adalah salah satu sistem perkawinan di Bali yang berbeda dari biasanya karena baik suami maupun istri bertindak sebagai purusa. perkawinan Gelahang Bareng/Negen merupakan pergeseran budaya dan pengecualian aturan dari sistem kekeluargaan di Bali yang bersifat patrilinial yang apabila dilaksanakan akan berpengaruh pada sistem kewarisan dan sistem kekeluargaan. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis dan merumuskan, memahami dan memperoleh gambaran hak waris pelaku dan anak-anak serta kedudukan pasangan dan anak yang lahir dari Perkawinan Gelahang Bareng/Negen di Daerah Bali dalam perspektif hukum adat Bali.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

HAK WARIS BAGI AHLI WARIS YANG HILANG (MAFQUD) DALAM PEMBAGIAN WARISAN MENURUT HUKUM ISLAM

HAK WARIS BAGI AHLI WARIS YANG HILANG (MAFQUD) DALAM PEMBAGIAN WARISAN MENURUT HUKUM ISLAM

1. Hukum waris Islam tidak mengatur mengenai status hukum ahli waris yang hilang (mafqud), baik di dalam Al-Qur’an, Al-Hadist, maupun dalam undang- undang yang berlaku di Indonesia, namun hal ini diatur dalam fiqih faraidh. Ada dua pertimbangan hukum yang dapat digunakan dalam mencari kejelasan status hukum mafqud, yaitu berdasarkan bukti-bukti autentik yang dapat diterima secara syar’i dan berdasarkan batas waktu lamanya kepergian mafqud untuk menghukumi/menetapkan kematian orang yang hilang. Berdasar beberapa pertimbangan di atas, pada akhirnya untuk menetapkan status hukum mafqud diserahkan kepada ijtihad hakim. Penetapan yang demikian baru dipandang memiliki kekuatan hukum, jika diselesaikan oleh pihak Pengadilan Agama. Ternyata mengenai penetapan wafatnya mafqud yang merupakan kewenangan hakim dalam kajian fiqih Islam ini ada kesesuaian dengan ketentuan mafqud yang tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Penentuan seseorang sebagai telah mafqud adalah berdasarkan pada tanggal atau waktu ditemuinya bukti kuat tentang kematian mafqud bersangkutan atau pada saat hakim menetapkan wafatnya mafqud. Jika penentuan itu berdasarkan pada ijtihad atau persangkaan, Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa waktu wafatnya mafqud dianggap sejak tanggal hilangnya mafqud bersangkutan, sedangkan Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa mafqud dianggap telah wafat sejak tanggal pernyataan kewafatannya.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS ATAS AHLI WARIS PENGGANTI DALAM HUKUM WARIS

TINJAUAN YURIDIS ATAS AHLI WARIS PENGGANTI DALAM HUKUM WARIS

Anak zina pada dasarnya tidak mendapat warisan dari pewaris, tetapi anak zina hanya berhak untuk mendapatkan nafkah seperlunyaa. Nafkah diatur selaras dengan kemampuan bapak atau ibunya, dan dikaitkan dengan jumlah dan keadaan para ahli waris yang sah. Ahli waris tidak hanya berhak atas harta peninggalan atau harta warisan pewaris, tetapi juga berkewajiban menyelesaikan utang-utang dan wasiatnya. Sebelum harta peninggalan atau harta warisan dibagi, utang-utang dan wasiat pewaris harus diselesaikan terlebih dahulu. Pengeluaraan untuk menyelesaikan utang-utang dan wasiat tersebut harus disisihkan dulu dari harta peninggalan sebelum dibagikan kepada ahli waris yang berhak. Hak daan kewajiban ahli waris timbul setelah pewaris meninggal dunia, hak dan kewajiban tersebut didasarkan pada hubungan perkawinan, hubungan darah dan surat wasiat yang diatur didalam Undang-Undang Perdata, Agama dan Hukum Adat. Akan tetapi, legataris bukanlah ahli waris walaupun dia berhak atas harta peninggalan pewaris karena bagiannya terbatas pada hak atas benda tertentu tanpa kewajiban. 11
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENETAPAN AHLI WARIS DAN PEMBAGIAN HARTA PENINGGALAN BERDASARKAN HUKUM WARIS MENURUT KUHPerdata.

PENETAPAN AHLI WARIS DAN PEMBAGIAN HARTA PENINGGALAN BERDASARKAN HUKUM WARIS MENURUT KUHPerdata.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PENETAPAN AHLI WARIS DAN PEMBAGIAN HARTA PENINGGALAN BERDASARKAN HUKUM WARIS MENURUT KUHPerdata Studi Kasus Putusan PN Nomor[r]

1 Baca lebih lajut

Hibah Kepada Ahli Waris tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pa Stabat Nomor 207/pdt.g/2013/pa.stb)

Hibah Kepada Ahli Waris tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pa Stabat Nomor 207/pdt.g/2013/pa.stb)

Jika Pembatalan dilakukan setelah berkas diterima oleh Kantor Pertanahan setempat (dalam proses pendaftaran), maka harus diajukan permohonan terlebih dahulu untuk membatalkannya atau menarik kembali berkas.Hal ini bisa dilakukan jika mereka yang bertransaksi sepakat untuk melakukan pembatalan secara damai.Tapi jika tidak terjadi kesepakatan di antara mereka, terlebih dahulu harus ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Setelah keluar surat Persetujuan dari Kantor Pertanahan, surat tersebut diterima kemudian dibuat akta Pembatalan dengan akta Notaris. Jika terjadi pembatalan seperti ini dan sudah ada pembayaran BPHTB dan atau PPh, maka hal tersebut sudah merupakan resiko yang harus ditanggung oleh para penghadap sendiri. 32
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam maka pemberian hibah harus berdasarkan persetujuan anak-anaknya dan tidak boleh melebihi dari 1/3 hartanya, dan jika ada ahli waris yang merasa haknya dirugikan maka dapat menuntutnya ke Pengadilan, dan hibah atas barang bergerak dan barang tidak bergerak harus dilakukan dihadapan Notaris/PPAT, maka berdasarkan hal tersebut yang terjadi pada kasus ini adalah hibah yang dilakukan tanpa persetujuan ahli waris dan dibuat tanpa dihadapan Notaris/Pejabat Pembuat Akta Tanah Hibah yang hal inilah yang mendorong penelitian ini dilakukan yaitu Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207/Pdt.G/2013/PA.Stb).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207 Pdt.G 2013 P.A.Stabat)

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam maka pemberian hibah harus berdasarkan persetujuan anak-anaknya dan tidak boleh melebihi dari 1/3 hartanya, dan jika ada ahli waris yang merasa haknya dirugikan maka dapat menuntutnya ke Pengadilan, dan hibah atas barang bergerak dan barang tidak bergerak harus dilakukan dihadapan Notaris/PPAT, maka berdasarkan hal tersebut yang terjadi pada kasus ini adalah hibah yang dilakukan tanpa persetujuan ahli waris dan dibuat tanpa dihadapan Notaris/Pejabat Pembuat Akta Tanah Hibah yang hal inilah yang mendorong penelitian ini dilakukan yaitu Hibah Kepada Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Lain (Studi Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 207/Pdt.G/2013/PA.Stb).
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Ahli Waris Pengganti

Ahli Waris Pengganti

Mengutip Amir Syarifuddin yang memberikan pernyataan bahwa dalam hukum kewarisan mayoritas pendapat mengatakan, cucu yang berhak menduduki anak yaitu cucu melalui anak laki-laki bukan melalui anak perempuan. Demikian juga ketika ada anak saudara yang menduduki saudaranya yaitu dari saudara anak laki-laki saja bukan yang perempuan. Sedangkan ada pikiran lain yang mengatakan tidak ada bedanya terkait penggantian kedudukan ahli waris antara laki-laki dan perempuan. Maka, antara laki-laki ataupun perempuan berhak atas warisan dari kakek atapun neneknya. Pendapat mayoritas, dalam haknya memposisikan cucu sebagai cucu secara langsung dan tidaklah secara penuh menduduki posisi ayahnya seperti tertera pada KUH Perdata sebagai plaarsvervulling. Kewarisan anak mengenai kedudukannya serta urutannya lebih dahulu daripada cucu, sehingga cucu selalu ter-mahjūb apabila terdapat anak yang masih hidup, entah anak itu dari ayahnya sendiri atau saudara ayahnya. Maka, cucu ketika ayahnya terlebih dahulu meninggal tidaklah mempunyai hak untuk mendapatkan warisan dari kakeknya, apabila terdapat paman yang masih hidup. Maksudnya penggantian tidak sepenuhnya berfungsi sebagaimana tertera dalam KUH Perdata. 69
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects