Top PDF KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PELAYANAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DI KOTA SURAKARTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAH DAERAH.

KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PELAYANAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DI KOTA SURAKARTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAH DAERAH.

KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PELAYANAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DI KOTA SURAKARTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAH DAERAH.

Muhammad Mukhtarrija, E0011205, AUTHORITY OF LOCAL GOVERNMENT IN THE EMPLOYMENT FIELD SERVICES IN SURAKARTA CITY BASED ON LAW NUMBER: 23 OF 2014 REGARDING LOCAL GOVERNMENT. Skripsi: The Faculty of Law, Sebelas Maret University, Surakarta 2016.

10 Baca lebih lajut

KEWENANGAN CAMAT DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH - UNIB Scholar Repository

KEWENANGAN CAMAT DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH - UNIB Scholar Repository

pemerintahan umum yaitu: “urusan pemerintahan yang meliputi bidang -bidang ketentraman dan ketertiban, politik, koordinasi, pengawasan dan urusan pemerintahan lainnya yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu Instansi dan tidak termasuk urusan rumah tangga Daerah”. Urusan pemerintahan umum ini diselenggarakan oleh setiap kepala wilayah pada setiap tingkatan sebagai wakil pemerintah pusat di daerah dalam rangka melaksanakan asas dekonsentrasi. Tetapi sekarang hanya menjalankan tugas umum pemerintahan yang meliputi: kewenangan melakukan koordinasi yang meliputi lima bidang kegiatan, kewenangan melakukan pembinaan serta kewenangan melaksanakan pelayanan kepada masyarakat. Perubahan status camat dari kepala wilayah menjadi perangkat daerah dengan fungsi utama menangani urusan otonomi daerah yang dilimpahkan, serta menyelenggarakan tugas umum pemerintahan ini, ternyata membawa perubahan yang fundamental bagi Camat dan institusi kecamatan itu sendiri. Dan perubahan status Camat dari kepala wilayah menjadi perangkat daerah membawa perubahan juga terhadap hubungan Camat dengan Kepala Desa. Saat ini secara struktural setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Camat tidak lagi sebagai atasan, dan sebaliknya Kepala Desa juga bukan sebagai bawahan Camat. Camat merupakan mitra kerja Kepala Desa, dimana hubungan antara Camat dan Kepala Desa merupakan hubungan koordinatif. Hubungan Camat dengan instansi vertikal dan kelurahan adalah hubungan koordinatif dan fasilitatif. Hal inilah yang menyebabkan hambatan normatif terhadap kewenangan yang dijalankan Camat. Sebenarnya, sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Camat merupakan koordinator di wilayah kecamatannya. Namun dalam prakteknya koordinasi tetap saja sulit dilakukan. Baik Lurah maupun aparatur dinas teknis merasa bahwa Camat bukan atasan mereka, sehingga mereka bisa tidak menaatinya.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

PERANAN PEMERINTAH DALAM PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN DI KOTA DENPASAR YANG BERDASARKAN ASAS GOOD GOVERNANCE.

PERANAN PEMERINTAH DALAM PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN DI KOTA DENPASAR YANG BERDASARKAN ASAS GOOD GOVERNANCE.

Selain itu berdasarkan atas kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah mengenai pelayanan publik khususnya dalam bidang perizinan, dalam Pasal 350 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa kepala daerah diwajibkan untuk memberikan pelayanan perizinan.Termasuk pula Kota Denpasar yang merupakan kota pada Provinsi Bali yang terdiri atas 788.589 penduduk, 2 yang tentunya membutuhkan pelayanan perizinan yang lebih menyeluruh dan terstruktur. Maka daripada hal tersebut perlu diketahui bagaimana peranan dan usaha pemerintah Kota Denpasar dalam melaksanakan pelayanan perizinannya sebaik mungkin kepada masyarakat dan bagaimana meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan perizinan untuk mewujudkan Good Governance.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Atas Pengawasan Pemerintah Daerah Pada Kawasan Ekonomi Khusus Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah

Analisis Yuridis Atas Pengawasan Pemerintah Daerah Pada Kawasan Ekonomi Khusus Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah

Pemberian kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan keputusan politik untuk menjalankan otonomi daerah diatur melalui Undang-Undang No. 23 Tahun 2014. Sedangkan Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip NKRI sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Pasal 9 ayat (1) Undang-undang No. 23 Tahun 2014 mengklasifikasikan urusan pemerintahan yang terdiri atas urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan pemerintahan umum. Selanjutnya dalam Pasal 9 ayat (3) menyatakan bahwa urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 9 ayat (4) menyatakan urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan ke Daerah menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

MK TOLAK GUGATAN, PENGELOLAAN SMA SMK DIPASTIKAN TETAP DITANGANI PROVINSI | PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

MK TOLAK GUGATAN, PENGELOLAAN SMA SMK DIPASTIKAN TETAP DITANGANI PROVINSI | PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Berkenan dengan rencana implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 pada tahun 2017 di mana pendidikan menengah akan bergeser kewenanganya, pengelohannya dari pemerintah kota/kabupaten ke provinsi yang khawatirkan adalah apa yang telah uraikan di atas akan sulit dipenuhi dan sulit rasakan, mengingat Provinsi Jawa Timur sangat luas jangkauanya. Jumlah siswanya sedemikian banyak, jumlah gurunya juga sangat banyak, di samping persoalan-persoalan yang menyertai penyelenggaraan pendidikan yang demikan kompleksnya. Dengan rentang kembali yang demikian luas dan jumlah populasi siswa, guru demikian besar, khawatir penyelenggaraan pendidikan menengah tidak sama dengan yang saat ini dirasakan, bahkan dikhawatirkan justru menurun. Di samping itu, juga diragukan apakah komitmen pembuat keputusan yang terdapat di Kota Blitar saat ini. Mengingat untuk melaksanakan komitmen sebagaimana yang telah diuraikan oleh Pemerintah Kota Blitar dan yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Blitar saat ini membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Adapun Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan memberlakukan khusus untuk Kota Blitar, dirasa daerah lain akan meminta perlakuan yang sama. Apabila demikan kejadianya, maka semakin khawatir akan semakin kecilnya kemungkinan untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat di dalam layanan pendidikan;
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PENUTUP  REHABILITASI SOSIAL TERHADAP PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

PENUTUP REHABILITASI SOSIAL TERHADAP PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

1. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan dalam melaksanakan rehabilitasi sosial menurut ketentuan menjadi dua kewenangan yang berbeda, yaitu Pemerintah pusat mempunyai kewenangan untuk melakukan rehabilitasi sosial bekas korban penyalahgunaan napza, Daerah Provinsi mempunyai kewenangan untuk melakukan rehabilitasi sosial bukan/tidak termasuk bekas korban penyalahgunaan napza, dan Daerah Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan untuk melakukan rehabilitasi sosial bukan/tidak termasuk bekas korban penyalahgunaan napza.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kewenangan Pemerintah Daerah Di Bidang Pertanahan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Analisis Terhadap Kewenangan Bidang Pertanahan Antara Pemerintah Kota Batam Dan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam)

Kewenangan Pemerintah Daerah Di Bidang Pertanahan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Analisis Terhadap Kewenangan Bidang Pertanahan Antara Pemerintah Kota Batam Dan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam)

kewenangannya kapada ketua Otorita. Pengembangan Dasar Industri Pulau Batam. Pasal 14 UndangUndang No. 32 Tahun 2004 penanggung dasar disebutkan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota yang diantaranya adalah pelayanan pertanahan UndangUndang No. 32 Tahun 2004 tersebut tidak memberikan penjelasan secara lebih terperinci seperti apa bentuk dan mekanisme pelayanan pertanahan sehingga menimbulkan interprestasi yang beragama. Meskipun pemerintah kota Batam sebagai institusi pemerintahan yang otonom dengan berdasarkan kekuatan UndangUndang No. 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan di bidang pertanahan disamping kewenangan lainnya yaitu mengurus dan melaksanakan roda pemerintahan, namun perlu dicatat bahwa Pulau Batam merupakan salah satu daerah yang memiliki kekhususan dengan keberadaan Otorita Batam yang merupakan prionir pembangunan di Pulau Batam. Oleh karena itu perlu adanya peraturan khusus, untuk mengatur batas – batas kewenangan antara pemerintah Kota Batam dengan Otorita Batam termasuk kewenangan dan bidang
Baca lebih lanjut

129 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Atas Pengawasan Pemerintah Daerah Pada Kawasan Ekonomi Khusus Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah

Analisis Yuridis Atas Pengawasan Pemerintah Daerah Pada Kawasan Ekonomi Khusus Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah

Dalam hal lokasi KEK yang diusulkan oleh kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah dan tanahnya telah dibebaskan, dapat diberikan hak guna bangunan atau hak pakai di atas hak pengelolaan untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun serta diperbarui untuk jangka waktu 30 (tiga puluh lima) tahun, dan untuk hak pakai diberikan untuk jangka waktu 25 (dua puluh lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun serta diperbarui untuk jangka waktu 25 (dua puluh lima) tahun. Perpanjangan dan pembaharuan tersebut diberikan pada saat pelaku usaha telah beroperasi secara komersial. Orang asing/badan usaha asing di KEK pariwisata dapat memiliki hunian/properti yang berdiri sendiri dibangun atas bidang tanah yang dikuasai berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah seperti;
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS KEWENANGAN PENYELENGGARAAN PELABUHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH Oleh: Mochamad Abduh Hamzah ABS

ANALISIS YURIDIS KEWENANGAN PENYELENGGARAAN PELABUHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH Oleh: Mochamad Abduh Hamzah ABS

Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, pengaturan untuk bidang kepelabuhanan memuat ketentuan mengenai penghapusan monopoli dalam penyelenggaran pelabuhan, pemisahan antara fungsi regulator dan operator serta memberikan peran serta Pemerintah Daerah dan swasta secara proporsional di dalam penyelenggaraan kepelabuhanan. Kemudian berkaitan dengan aspek kewenangan penyelenggara pelabuhan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan. Namun dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tersebut, secara substantif bertentangan dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang pada prinsipnya bertentangan/ tidak sesuai/ tidak serasi dengan jiwa maupun semangat pelaksanaan Otonomi Daerah. Dalam penyelenggaraan pelabuhan tersebut, sampai saat ini masih tetap dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah mempunyai kepentingan terhadap kewenangan penyelenggaraan pelabuhan seperti pemerataan pendapatan setiap wilayah. Dalam hal lain, terlihat bahwa Pemerintah Pusat tetap melakukan intervensi dalam pengelolaan kewenangan penyelenggaraan pelabuhan. Pemerintah Pusat menilai bahwa Pemerintah Daerah belum mempunyai kesiapan dan pengalaman yang cukup dalam penyelenggaraan pelabuhan. Berdasarkan hal tersebut, maka terjadi suatu penarikan kewenangan oleh pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah terkait penyelenggaraan kepelabuhanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya tarik-menarik kewenangan pelabuhan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu berkaitan dengan tarik-menarik kepentingan kewenangan pengurusan pelabuhan regional, kepentingan pajak dan retribusi dan kepentingan penyelenggaraan pelabuhan internasional. Upaya pemerintah daerah untuk mendapat hak kewenangan pengelolaan pelabuhan, secara umum dapat dilakukan melalui strategi formal (melalui DPR, asosiasi, dan lobby) dan melalui strategi informal (melalui wacana, dan opini publik).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENUTUP  EFEKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK BIDANG KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL PADA PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK.

PENUTUP EFEKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK BIDANG KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL PADA PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK.

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pelayanan publik bidang kependudukan dan catatan sipil pada pemerintah Kabupaten Kulon Progo setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik telah berjalan secara efektif, hal tersebut ditunjukkan dengan kinerja dinas kependudukan dan catatan sipil Kabupaten Kulon Progo yang telah berjalan dengan baik, terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil, terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik, terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan, serta terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perda 11 Thn 2010 Ttg Pengelolaan keudaerah

Perda 11 Thn 2010 Ttg Pengelolaan keudaerah

(1) BLUD dibentuk bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan masyarakat dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktifitas, dan penerapan praktek bisnis yang sehat. (2) Kekayaan BLUD merupakan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan

43 Baca lebih lajut

Tinjauan Hukum tentang Pelayanan Publik di Bidang Pertanahan ( Studi Kasus Pada Kantor BPN Kabupaten Deli Serdang )

Tinjauan Hukum tentang Pelayanan Publik di Bidang Pertanahan ( Studi Kasus Pada Kantor BPN Kabupaten Deli Serdang )

Pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai literatur hukum, himpunan peraturan peraturan-peraturan hukum, teori-teori ilmiah dan sejumlah tulisan serta peraturan pemerintah terutama yang menyangkut mengenai judul penulis. Dalam rangka pengumpulan data-data melalui penelitian kepustakaan maka penulis meneliti melalui sumber bacaan yang berhubungan dengan judul skripsi ini, yang bersifat teoritis ilmiah yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan menganalisa masalah-masalah yang dihadapi. Penelitian yang dilakukan dengan membaca serta menganalisa peraturan perundang-undangan maupun dokumentasi lainnya seperti: karya ilmiah para sarjana, majalah, surat kabar, internet maupun sumber teoritis lainnya yang berkaitan dengan materi skripsi yang diajukan.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BADUNG DALAM MEMPERSIAPKAN TENAGA KERJA MENYONGSONG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN.

PENUTUP PERAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BADUNG DALAM MEMPERSIAPKAN TENAGA KERJA MENYONGSONG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN.

Dengan adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, membuka peluang bagi Pemerintah Daerah khususnya di Kabupaten Badung untuk melakukan inovasi daerah dengan [r]

29 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK ULAYAT ATAS TANAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DI DESA COLOL KECAMATAN POCORANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR (STUDI KASUS).

PENDAHULUAN PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK ULAYAT ATAS TANAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DI DESA COLOL KECAMATAN POCORANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR (STUDI KASUS).

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai dengan melakukan pembabatan tanaman kopi masyarakat hukum adat Colol, disinyalir untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yaitu dalam rangka penertiban dan pengamanan hutan negara (Kertas Posisi Tim Advokasi untuk Rakyat Manggarai, 2004:4). Tentu saja kebijakan tersebut merupakan sesuatu yang ironis dengan melakukan pembabatan tanaman kopi yang secara turun temurun telah dibudidayakan oleh masyarakat setempat.

18 Baca lebih lajut

ANALISIS FUNGSI PENGAWASAN LEGISLATIF (DPRD) TERHADAP KEBIJAKAN ANGGARAN DANA KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015

ANALISIS FUNGSI PENGAWASAN LEGISLATIF (DPRD) TERHADAP KEBIJAKAN ANGGARAN DANA KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015

Tabel di atas menjelaskan tentang realisasi dan serapan dana keistimewaan dari tahun 2013-2015, seperti yang dapat kita lihat bersama bahwa dari total pendapatan danais belum dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Total anggaran Danais DIY 2015 berjumlah Rp. 547.500 Miliar. Pencarian Danais 2015 terbagi menjadi tiga tahap, Tahap pertama sebesar 25 persen, dari total anggaran yakni Rp. 136.800 miliar, selanjutnya tahap kedua sebesar 55 persen, yakni Rp. 301.097.00 miliar dan tahap ketiga adalah 20 persen dari anggaran. 17 Untuk dapat mencairkan tahapan berikutnya, anggaran tahap sebelumnya harus terserap 80 persen. Penyerapan Dana Keistimewaan (Danais) Daerah istimewa Yogyakarta tahap dua hingga bulan september 2015 baru 43 persen dari total anggaran tahap dua sebesar Rp.301.097 Miliar. 18 Padahal, pemerintah Provinsi DIY menargetkan penyerapan anggaran mencapai 80 persen, paling lambat bulan oktober. Hal ini dikarenakan minimnya serapan danais menurut Aris Eko, Kepala Bidang Anggaran Belanja Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

Naskah Akademis Pemmerintah Kabupaten Jembrana tentang Pelayanan Publik.

Naskah Akademis Pemmerintah Kabupaten Jembrana tentang Pelayanan Publik.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Moenir (1998:41) bahwa “hak atas pelayanan itu sifatnya sudah universal, berlaku terhadap siapa saja yang berkepentingan atas hak itu, dan oleh organisasi apa pun juga yang tugasnya menyelenggarakan pelayanan.” Tugas pemerintah adalah untuk melayani dan mengatur masyarakat, menurut Thoha (1995:4) bahwa :Tugas pelayan lebih menekankan kepada mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan publik, memperisngkat waktu proses pelaksanaan urusan publik. Sedangkan tugas mengatur lebih menekankan kepada kekuasan atau power yang melekat pada posisi jabatan birokrasi
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

Perlindungan Warisan Budaya Daerah Menur

Perlindungan Warisan Budaya Daerah Menur

Selain itu, Unit Pelaksana Teknis yang merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Pusat seperti Balai Pelestraian Peninggalan Purbakala (BP3), Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, atau Balai Arkeologi tidak termasuk yang diserahkan kewenangannya kepada Pemerintah Daerah. Namun Undang-Undang Cagar Budaya memberi peluang bagi Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mendirikan atau membubarkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) menurut kebutuhan. Daerah bahkan diberi tugas untuk menetapkan, menghapus, atau melakukan peringkat kepentingan terhadap ca-gar budaya yang berada di wilayah administrasinya masing-masing.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Penelitian Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kabupaten Jembrana tentang Pelayanan Publik.

Penelitian Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kabupaten Jembrana tentang Pelayanan Publik.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Moenir (1998:41) bahwa “hak atas pelayanan itu sifatnya sudah universal, berlaku terhadap siapa saja yang berkepentingan atas hak itu, dan oleh organisasi apa pun juga yang tugasnya menyelenggarakan pelayanan.” Tugas pemerintah adalah untuk melayani dan mengatur masyarakat, menurut Thoha (1995:4) bahwa :Tugas pelayan lebih menekankan kepada mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan publik, memperisngkat waktu proses pelaksanaan urusan publik. Sedangkan tugas mengatur lebih menekankan kepada kekuasan atau power yang melekat pada posisi jabatan birokrasi
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Perpu2 2014PerubahanUU23 2014PemerintahDaerah

Perpu2 2014PerubahanUU23 2014PemerintahDaerah

Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang mengatur pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung maka perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

6 Baca lebih lajut

PELIMPAHAN SEBAGIAN KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT DIBIDANG PERTANAHAN KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA SEBAGAI WUJUD KEBIJAKAN NASIONAL DIBIDANG PERTANAHAN.

PELIMPAHAN SEBAGIAN KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT DIBIDANG PERTANAHAN KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA SEBAGAI WUJUD KEBIJAKAN NASIONAL DIBIDANG PERTANAHAN.

wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam daerah Provinsi, Kabupaten dan daerah Kota yang ketiganya berstatus daerah otonom. Pada dasarnya daerah otonom tidak bertingkat yang satu dengan yang lain tidak mempunyai hubungan sub-ordinasi. Daerah provinsi bukan merupakan pemerintah atasan dari daerah Kabupaten dan Kota. Dengan demikian, daerah Provinsi, daerah Kabupaten dan daerah Kota tidak mempunyai hubungan hierarki. Hal ini berbeda dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang mengatur bahwa Kabupaten/Kota adalah dub-ordinasi dari provinsi atau dengan kata lain Gubernur adalah atasan dari Bupati/Walikota dan Gubernur (sebagai kepala daerah) adalah bawahan dari Presiden.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...