Top PDF Pengembangan Infrastruktur Transportasi di indonesia

Pengembangan Infrastruktur Transportasi di indonesia

Pengembangan Infrastruktur Transportasi di indonesia

Istilah transportasi berkelanjutan sendiri berkembang sejalan dengan munculnya terminologi pembangunan berkelanjutan pada tahun 1987 (World Commission on Environment and Development, United Nation). Secara khusus transportasi berkelanjutan diartikan sebagai “upaya untuk memenuhi kebutuhan mobilitas transportasi generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mobilitasnya”. OECD (1994) juga mengeluarkan definisi yang sedikit berbeda yaitu: “Transportasi berkelanjutan merupakan suatu transportasi yang tidak menimbulkan dampak yang membahayakan kesehatan masyarakat atau ekosistem dan dapat memenuhi kebutuhan mobilitas yang ada secara konsisten dengan memperhatikan: (a) penggunaan sumberdaya terbarukan pada tingkat yang lebih rendah dari tingkat regenerasinya; dan (b) penggunaan sumber daya tidak terbarukan pada tingkat yang lebih rendah dari tingkat pengembangan sumberdaya alternatif yang terbarukan.”
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis Risiko Saham Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di Bursa Efek Indonesia

Analisis Risiko Saham Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di Bursa Efek Indonesia

lembaga keuangan, pasar modal, vendor financing, dan lain lain. Namun hal ini akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi yang berlaku, tingkat suku bunga, faktor-faktor keuangan, dan usaha lainnya, dimana sebagian besar tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan dan bergantung pada akses yang dimiliki perusahaan untuk mendapatkan sumber pembiayaan tersebut. Keterbatasan pendanaan ini akan berdampak pada penurunan kemampuan bersaing sehingga berpengaruh pada kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil operasional, dan prospek usaha perusahaan yang pada akhirnya mengakibatkan menurunnya tingkat keuntungan perusahaan. Instrumen kebijakan pemerintah dalam hal ini adalah Departemen Komunikasi dan Informatika, yang merupakan departemen teknis yang berwenang menetapkan kebijakan sektor telekomunikasi, disamping Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia yang berwenang menetapkan regulasi dan mekanisme bisnis telekomunikasi. Perubahan regulasi dan kebijakan Pemerintah ini tidak selamanya dapat menguntungkan perusahaan, namun sebaliknya dapat juga merugikan perusahaan.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

Strategi peningkatan investasi swasta di Kabupaten Bogor

Strategi peningkatan investasi swasta di Kabupaten Bogor

dengan nilai investasi sebesar Rp 301 juta, meliputi PMDN sebanyak 4 proyek dengan nilai investasi Rp 125,5 milyar PMA sebanyak 9 proyek dengan nilai investasi USD 20,5 juta dan Non PMA/PMDN 1 proyek dengan nilai investasi Rp 50 milyar. Penurunan ini terlihat dari grafik turun naiknya jumlah investasi setiap tahun dan nilai proyek yang menurun. Selanjutnya investor lebih fokus pada industri pengolahan minyak dan gas serta pertanian dan belum pada sektor- sektor lainnya. Selain itu hasil analisis tentang daya saing investasi menunjukan bahwa prioritas elemen faktor kekuatan yang paling mempengaruhi daya saing investasi Kabupaten Indramayu secara berurutan yaitu potensi ekonomi (0,351), zona dan kluster industri (0,246), dukungan birokrasi (0,164), jumlah tenaga kerja (0,104), letak strategis dan luas wilayah (0,076), dan budaya daerah (0,060). Prioritas elemen faktor kelemahan yang paling mempengaruhi daya saing investasi Kabupaten Indramayu secara berurutan yaitu kualitas infrastruktur rendah (0,378), kualitas SDM yang rendah (0,252), kurangnya promosi (0,160), pemekaran Kabupaten Indramayu (0,115), dan perda yang bermasalah (0,115). Prioritas elemen faktor peluang yang paling mempengaruhi daya saing investasi Kabupaten Indramayu secara berurutan yaitu pengembangan transportasi darat Jakarta – Cirebon (0,498), pembangunan Pelabuhan Samudera Cirebon (0,367), dan pembangunan Bendungan Jatigede Sumedang (0,135). Prioritas elemen faktor ancaman yang paling mempengaruhi daya saing investasi Kabupaten Indramayu secara berurutan yaitu adanya Persaingan dengan daerah lain (0,443), rendahnya dukungan perbankan (0,387), dan lambatnya penerbitan SPM (0,169).
Baca lebih lanjut

286 Baca lebih lajut

Analisis Risiko Saham Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di Bursa Efek Indonesia

Analisis Risiko Saham Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di Bursa Efek Indonesia

energi .0025158 .0063844 1.000 -.016998 .022030 telekomunikasi -.0029902 .0053415 1.000 -.019317 .013336 transportasi -.0003190 .0047586 1.000 -.014864 .014226 konstruksi nonbangunan -.0023204 .0053415 1.000 -.018647 .014006 telekomunikasi energi .0055060 .0053415 1.000 -.010821 .021833

18 Baca lebih lajut

BAB III ARAHAN KEBIJAKAN DAN RENSTRA - DOCRPIJM 1506587293Lap III Bab 3 Arahan Kebijakan dan Renstra RPIJM Nira R3

BAB III ARAHAN KEBIJAKAN DAN RENSTRA - DOCRPIJM 1506587293Lap III Bab 3 Arahan Kebijakan dan Renstra RPIJM Nira R3

3.1.2.2. Pendekatan Pembangunan Melalui Pengembangan Wilayah Terhadap arah kebijakan umum PUPR tersebut, sasaran strategis yang dilakukan adalah melalui perencanaan, pemrograman, dan pembangunan infrastruktur PUPR melalui pendekatan wilayah. Dalam konteks pengembangan wilayah mengingat sangat luasnya wilayah nasional Indonesia, untuk memudahkan pengelolaannya, pengembangan wilayah dibagi menurut wilayah Pulau/Kepulauan yang dikelompokkan ke dalam beberapa tipe wilayah pengembangan yang diistilahkan “Wilayah Pengembangan Strategis (WPS)” yang di dalamnya melingkupi kawasan perkotaan, kawasan industri, dan kawasan maritim berdasarkan pada tema atau potensi per pulau (Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Papua, Pulau Kalimantan, Pulau Bali dan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Pulau Sulawesi). Dalam struktur organisasi Kementerian PUPR, bidang tersebut ditangani oleh Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) sebagi unit khusus yang berfungsi untuk menterpadukan perencanaan, pemrograman dan penganggaran berbasis pengembangan wilayah.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Moderating di Bursa Efek Indonesia

Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Moderating di Bursa Efek Indonesia

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, likuiditas, struktur aktiva, growth opportunity, dan non debt tax shield terhadap struktur modal yang dimoderasi oleh ukuran perusahaan pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Populasi penelitian ini sebanyak 50 perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi di Bursa Efek Indonesia. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampel jenuh. Data penelitian diperoleh dari laporan keuangan yang telah dipublikasikan dan diunduh dari website BEI yaitu www.idx.co.id dan website perusahaan terkait. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, analisis regresi data panel, dan Moderated Regression Analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan sebagai variabel moderating bersifat memperkuat hubungan antara profitabilitas, likuiditas, struktur aktiva, growth opportunity, dan non debt tax shield terhadap struktur modal. Ukuran perusahaan merupakan pemoderasi homologizer. Growth opportunity berpengaruh positif dan signifikan. terhadap struktur modal. Profitabilitas, likuiditas, dan non debt tax shield berpengaruh negatif dan tidak signifikan. Kemudian, struktur aktiva menunjukkan pengaruh positif dan tidak signifikan.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

BAB III RENCANA TATA RUANG WILAYAH SEBAGAI ARAHAN SPASIAL RPI2-JM 3.1. RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN) 3.1.1. Tujuan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional 3.1.1.1. Tujuan dan Strategi - DOCRPIJM 4280a4aee6 BAB IIIBAB 3 RTRW Sebagai Arah

BAB III RENCANA TATA RUANG WILAYAH SEBAGAI ARAHAN SPASIAL RPI2-JM 3.1. RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN) 3.1.1. Tujuan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional 3.1.1.1. Tujuan dan Strategi - DOCRPIJM 4280a4aee6 BAB IIIBAB 3 RTRW Sebagai Arah

Strategi pengembangan struktur ruang untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan infrastruktur transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu da[r]

14 Baca lebih lajut

BAB III RENCANA TATA RUANG WILAYAH SEBAGAI ARAHAN SPASIAL RPI2-JM 3.1. RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN) 3.1.1. Tujuan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional 3.1.1.1. Tujuan dan Strategi - DOCRPIJM 7e7fadebdd BAB IIIBAB 3 RTRW Sebagai Arah

BAB III RENCANA TATA RUANG WILAYAH SEBAGAI ARAHAN SPASIAL RPI2-JM 3.1. RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN) 3.1.1. Tujuan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional 3.1.1.1. Tujuan dan Strategi - DOCRPIJM 7e7fadebdd BAB IIIBAB 3 RTRW Sebagai Arah

h. membuka dan meningkatkan aksesibilitas kawasan perdesaan ke pusat pertumbuhan. Strategi pengembangan struktur ruang untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan infrastruktur transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud meliputi: a. meningkatkan sistem prasarana transportasi darat untuk ke-lancaran proses koleksi

14 Baca lebih lajut

UNDANGAN PEMBUKTIAN KUALIFIKASI

UNDANGAN PEMBUKTIAN KUALIFIKASI

Perihal: Undangan Pembuktian Kualifikasi Paket Pekerjaan Studi Pengembangan dan Pemetaan Jaringan Infrastruktur Transportasi di Kota Jayapura, Sehubungan dengan hasil evaluasi kualifikasi paket Pekerjaan Studi Pengembangan dan Pemetaan Jaringan Infrastruktur Transportasi di Kota Jayapura Tahun Anggaran 2015, maka dengan ini Pokja/ULP mengundang saudara dalam rangka pembuktian kualifikasi yang akan diadakan pada :

1 Baca lebih lajut

LPSE Kota Jayapura

LPSE Kota Jayapura

Sehubungan dengan hasil Evaluasi Penawaran dan Pembuktian Kualifikasi paket Pekerjaan Studi Pengembangan dan Pemetaan Jaringan Infrastruktur Transportasi di Kota Jayapura, maka dengan ini Pokja/ULP mengundang saudara dalam rangka Klarifikasi Teknis dan Negosiasi Harga yang akan diadakan pada :

1 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETEPATAN WAKTU PELAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan pada Perusahaan Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi yang terdaftar di Indeks Saham Syariah Indones

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETEPATAN WAKTU PELAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan pada Perusahaan Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi yang terdaftar di Indeks Saham Syariah Indones

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 55 perusahaan sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang terdaftar pada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2013-2015. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Faktor-faktor tersebut kemudian diuji dengan menggunakan alat analisis regresi logistik dengan tingkat signifikansi 5%.

19 Baca lebih lajut

Pengaruh struktur corporate governance dan Intellectual capital (ic) terhadap kinerja keuangan Perusahaan infrastruktur, utilitas, dan Transportasi di bursa efek indonesia

Pengaruh struktur corporate governance dan Intellectual capital (ic) terhadap kinerja keuangan Perusahaan infrastruktur, utilitas, dan Transportasi di bursa efek indonesia

The methods which were used for the data collection were through the documentation study to collect supporting data from literatures, journals and reference books to get ideas about the issues, and also gathered relevant secondary data from financial reports which were published by Indonesia Stock Exchange. The methods which were used for data analysis were descriptive analysis and multiple linear regression.

2 Baca lebih lajut

Pembangunan Infrastruktur Transportasi u docx

Pembangunan Infrastruktur Transportasi u docx

Isu kebijakan pengembangan sistem transportasi sekarang dan ke depan adalah bagaimana setiap negara memainkan perannya dalam bingkai sistem transportasi berkelanjutan (sustainable transportation). Wacana ini berawal dari keprihatinan akan interaksi antara transportasi dan lingkungan. Kesadaran bahwa kualitas lingkungan telah terpengaruh secara luar biasa oleh aktivitas transportasi, yang terus berakumulasi dengan berjalannya waktu, membangkitkan perhatian banyak kalangan akan “kekeliruan” yang telah dipraktekkan selama ini dalam penentuan kebijakan dan perencanaan. Praktek pengelolaan infrastruktur transportasi di satu pihak serta kebutuhan masyarakat untuk melaksanakan aktivitasnya di pihak lain tidak mungkin diteruskan seperti sebelumnya, melainkan perlu diamati dengan “kacamata” yang berbeda. Biaya yang harus ditangggung oleh masyarakat dalam melakukan perjalanan tidak hanya sekedar out-of-pocket costs, melainkan juga dampaknya terhadap lingkungan. Ide pengembangan transportasi berkelanjutan merupakan bagian esensial dari masalah pembangunan berkelanjutan (sustainable debevelopment).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh struktur corporate governance dan Intellectual capital (ic) terhadap kinerja keuangan Perusahaan infrastruktur, utilitas, dan Transportasi di bursa efek indonesia

Pengaruh struktur corporate governance dan Intellectual capital (ic) terhadap kinerja keuangan Perusahaan infrastruktur, utilitas, dan Transportasi di bursa efek indonesia

The methods which were used for the data collection were through the documentation study to collect supporting data from literatures, journals and reference books to get ideas about the issues, and also gathered relevant secondary data from financial reports which were published by Indonesia Stock Exchange. The methods which were used for data analysis were descriptive analysis and multiple linear regression.

11 Baca lebih lajut

RELASI LOKALITAS DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR INDONESIA TAHUN 2005-2015

RELASI LOKALITAS DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR INDONESIA TAHUN 2005-2015

Pembangunan infrastruktur kurang memperhitungkan aspek lokalitas karena komunikasi lintas budaya tidak banyak terjalin secara dua arah namun hanya sekedar kebijakan langsung dari pusat ke daerah. Hal ini ditunjukkan dengan ketimpangan antara konsep di kebijakan pemerintah dan penerapannya di masyarakat lokal. Pada sisi transportasi, pembangunan berbasis lokalitas hanya berhenti pada akses saja tanpa memperhitungkan kesejahteraan dan pemerataan masyarakat setempat. Pemerintah masih menganut pandangan bahwa terbukanya akses akan sekaligus mendorong kesejahteraan lokal padahal hal itu hanyalah sekedar efek samping daripada tujuan utama yang ingin diraih. Pada aspek struktur sosial, pembangunan infrastruktur seringkali harus berujung konflik antara pemerintah atau perusahaan dengan masyarakat lokal. Represi pun seringkali dilakukan hanya untuk melancarkan pembangunan infrastruktur daripada dialog antar budaya dengan masyarakat lokal. Pada bidang pendidikan, masalah pemerataan hanya difokuskan pada akses pendidikan daripada akomodasi muatan lokal dalam bahasa dan kekerabatan sosial. Pembangunan berbasis kuantitas masih menjadi dasar dalam pendidikan daripada peningkatan kualitas. Pembangunan infrastruktur di Indonesia pun ternyata masih menganggap lokalitas sebagai objek daripada aspek utama yang harusnya dibangun.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODA TRANSPORTASI BBG UNTUK SEKTOR TRANSPORTASI DI PANTURA

PENGEMBANGAN MODA TRANSPORTASI BBG UNTUK SEKTOR TRANSPORTASI DI PANTURA

Total cadangan gas bumi Indonesia adalah sebesar 182,50 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF), terdiri atas 94,78 TSCF cadangan terbukti dan 87,73 TSCF cadangan potensial. Dari total cadangan gas bumi tersebut 29,70% berada di Kepulauan Natuna, 23,08% berada di Pulau Sumatera, dan sisanya berada di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa. Cadangan gas bumi di Pulau Jawa sebagian besar berada di Jawa Barat dan Jawa Timur, masing-masing sebesar 6,04 TSCF di Jawa Barat dan 4,46 TSCF di Jawa Timur. Di Jawa Barat, ladang gas bumi sebagaian besar tersebar di lepas pantai utara. Disamping cadangan gas bumi tersebut, terdapat ladang gas bumi marginal yang merupakan sumber gas bumi yang tidak ekonomis bila dieksploitasi dengan teknologi yang ada saat ini. Berdasarkan data dari Pertamina ladang gas bumi marginal di Pantura mencapai 1.913 Billion Standard Cubic Feet (BSCF) seperti terlihat pada Tabel 2. Ladang gas marginal sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh struktur corporate governance dan Intellectual capital (ic) terhadap kinerja keuangan Perusahaan infrastruktur, utilitas, dan Transportasi di bursa efek indonesia

Pengaruh struktur corporate governance dan Intellectual capital (ic) terhadap kinerja keuangan Perusahaan infrastruktur, utilitas, dan Transportasi di bursa efek indonesia

17 Cardig Aero Services – CASS 5 Desember 2011 18 Centris Multipersada Pratama – CMPP 8 Desember 1994 19 Garuda Indonesia – GIAA 11 Februari 2011 20 Humpuss Intermoda Transportasi – HITS 15 Desember 1997 21 Indonesia Air Transport – IATA 13 September 2006

14 Baca lebih lajut

Pembangunan Infrastruktur Transportasi u (1)

Pembangunan Infrastruktur Transportasi u (1)

Isi-isu strategis lebih lanjut yang menyangkut perubahan iklim dirumuskan di Bali (United Nations Climate Change Conference, 2007, 180 negara). Pada konferensi ini negara-negara yg berpartisipasi mengadopsi Bali Roadmap sebagai proses dalam 2 tahun menuju suatu kesepakatan mengikat tahun 2009 di Copenhagen, Denmark. Bali Roadmap terdiri dari beberapa keputusan yang memberikan arahan untuk mencapai kondisi iklim yang lebih aman pada masa yang akan datang. Copenhagen Climate Conference (CCC, Desember 2009, 193 negara) sebagai tindak lanjut dari Konferensi Bali dilaksanakan untuk menyepakati protokol baru - Copenhagen Protocol - untuk menggantikan Kyoto Protocol dalam upaya mencegah pemanasan global dan perubahan iklim dengan target mengurangi emisi dunia setengahnya sampai dengan 2050. CCC gagal menyepakati suatu kesepakatan yang mengikat (a legally binding pact), namun muncul kesepakatan 193 negara peserta untuk mengurangi emisi gas rumah kaca untuk mencegah kenaikan suhu global tidak lebih dari 2 o C menjelang 2020 yang mana negara peserta secara individual menetapkan target masing- masing. Pertemuan lanjutan dilaksanakan di Cancun, Mexico (Desember 2010), yang hasilnya berupa kesepakatan pengembangan Green Climate Fund dan Climate Technology Center, serta berusaha untuk mendapatkan komitmen untuk perioda ke-dua bagi Kyoto Protocol. Pertemuan berikutnya direncanakan di Durban, Afrika Selatan, Desember 2011, untuk merumuskan langkah lanjut atas Kyoto Protocol, Bali Action Plan, dan Cancun Agreements.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kualitas infrastruktur transportasi dan kelembagaan serta pengaruhnya terhadap perdagangan internasional Indonesia

Kualitas infrastruktur transportasi dan kelembagaan serta pengaruhnya terhadap perdagangan internasional Indonesia

Ristianingrum (1999) dalam penelitiannya terkait permintaan, penawaran dan efisiensi jasa transportasi laut sebagai upaya mengurangi defisit transaksi berjalan menunjukkan masih rendahnya daya saing pelayaran nasional yang ditunjukkan dengan pangsa muatan luar negeri yang sangat rendah yaitu sekitar 2.5 persen (1995). Rendahnya daya saing ini terkait dengan terbatasnya armada pelayaran, rendahnya teknologi kapal, tingginya ongkos angkut, terbatasnya jaringan pelayaran, dan rendahnya kualitas pelayaran yang meliputi frekuensi pelayaran yang murah, regulasi yang kurang mendukung, skedul yang belum tepat, waktu transit lama dan rendahnya keterampilan awak kapal. Hasil lainnya menunjukkan bahwa kebijakan Inpres No. 4 Tahun 1985 telah mengakibatkan menurunnya permintaan jasa pelayaran nasional, sementara penawaran jasa pelayaran nasional dipengaruhi oleh kebijakan scrapping kapal dan nilai tukar. Hasil pengujian efisiensi industri jasa pelayaran nasional menunjukkan bahwa alokasi penggunaan input belum optimal. Dengan kata lain penggunaan input belum efisien. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya muatan yang diangkut dan rendahnya kualitas tenaga kerja, sehingga industri jasa pelayaran nasional berada pada kondisi decreasing return to scale. Hasil lainnya menunjukkan bahwa peningkatan harga ekspor, peningkatan pendapatan nasional, dan penurunan nilai tukar akan berdampak pada peningkatan jumlah ekspor dan impor yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan jasa pelayaran nasional, namun penawaran jasa pelayaran nasional menurun.
Baca lebih lanjut

208 Baca lebih lajut

PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN I

PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN I

adakah yang pernah mencoba menghitung berapa biaya yang terbuang ? Analisa 2014, memberitakan kerugian biaya sosial saja akibat kemacetan lalulintas di Medan mencapai Rp. 5,2 Triliun per tahun. Angka Rp. 68 triliun dan Rp. 5,2 Triliun cukup besar, dan bila dialokasikan untuk membantu kesejahteraan masyarakat, pendidikan, kesehatan dan atau untuk membangun infrastruktur dan fasilitas umum begitu besar manfaatnya. Oleh karena itu, untuk pengembangan wilayah kota Medan yang lebih baik di masa yang akan datang, perlu diketahui pengaruh peran partisipasi masyarakat, pembangunan infrastruktur transportasi, dan transportasi berkelanjutan yang terintegrasi dengan baik, agar mampu membawa keberhasilan pengembangan wilayah kota Medan dengan manfaat yang lebih optimal bagi semua pihak dalam dimensi jangka panjang.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...