Top PDF PENGOBATAN MALARIA DENGAN KOMBINASI ARTEMISININ'

Pengobatan Malaria Kombinasi Artemisinin (ACT) Di Provinsi Papua Barat Tahun 2013

Pengobatan Malaria Kombinasi Artemisinin (ACT) Di Provinsi Papua Barat Tahun 2013

Secara singkat, penelitian ini memberikan informasi bahwa jenis malaria yang paling banyak ditemukan adalah jenis Malaria Tertiana sebanyak 51% yang disebabkan oleh Plasmodium vivax. Setelah dianalisis, pemberian obat antimalaria tidak bergantung pada jenis malaria, sehingga dapat disimpulkan obat antimalaria kombinasi ACT sesuai untuk jenis malaria apa saja. Deteksi dini yang dilakukan 60.2% penduduk Provinsi Papua Barat dalam 24 jam pertama saat penderita menderita panas dapat dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan bahwa deteksi dini mampu mengurangi angka kesakitan malaria. Penduduk Papua Barat sangat memperhatikan akan pentingnya pengobatan untuk malaria dengan dibuktikannya bahwa terdapat sebanyak 80.7% dari penduduk mengonsumsi obat kombinasi ACT selama 3 hari berturut turut. Gambaran ini memperkuat kebijakan dari program kesehatan bahwa penanganan secara tuntas sesuai dengan aturan efektifitas terapi malaria yang merujuk protokol WHO terhadap kasus malaria dapat mempercepat pemulihan dari malaria. Hasil penelitian yang dilakukan Wadana dkk, 2016 bisa memberikan gambaran bahwa terapi ACT masih efektif untuk mengobati malaria pada anak di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Informasi yang diperoleh dari tulisan ini, sebanyak 47.7% responden pernah mendapat pengobatan obat program kombinasi ACT, namun jumlah tersebut tidak berbeda jauh dengan responden yang tidak pernah mendapat obat program kombinasi ACT, yang berarti antara
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Fraksi Air Kulit Manggis (Garcinia mangostana) dan Artemisinin Terhadap Parasitemia Pada Mencit Yang Diinokulasi Plasmodium berghei.

Pengaruh Fraksi Air Kulit Manggis (Garcinia mangostana) dan Artemisinin Terhadap Parasitemia Pada Mencit Yang Diinokulasi Plasmodium berghei.

Malaria merupakan penyakit infeksi yang banyak diderita oleh penduduk di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Terapi kombinasi artemisinin (artemisinin-based combination therapy/ACT) merupakan pengobatan malaria di daerah endemis. Artemisinin dalam mekanisme kerja antimalarianya memproduksi radikal bebas untuk membunuh parasit. Oleh karena itu, diberikan antioksidan kuat, misalnya kulit manggis. Kulit manggis mengandung xanthone yang merupakan antioksidan kuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur/menilai kulit manggis sebagai antioksidan dan kombinasinya dengan artemisinin dalam menurunkan derajat parasitemia malaria pada mencit yang diinokulasi Plasmodium berghei.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat- Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada pengobatan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi pada anak

Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat- Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada pengobatan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi pada anak

kerja yang berbeda dan target biokimiawi parasit yang berbeda pula. 18,19 Pengobatan dengan kombinasi sepuluh kali lipat lebih mahal dari obat standar bila dilihat dari segi biaya. Artemisinin dipilih sebagai basis terapi kombinasi malaria dikarenakan 98% sangat efektif pada daerah yang resistensi, respon terapi cepat, dapat ditoleransi baik, efek samping minimal, kemampuannya menurunkan parasitemia lebih cepat sepuluh kali daripada obat antimalaria lainnya. 20 Dua juta kasus dilaporkan telah diobati tanpa ada efek toksik, diabsorpsi cepat melalui oral, dapat mengurangi karier gametosit dan belum ada laporan resistensi walaupun sudah lama digunakan di negara Cina, waktu paruh pendek dan aktivitasnya luas dan sangat kuat. 11 Derivat artemisinin adalah artemeter, artesunat, dihydroartemisinin, artemotil. Uji klinik kombinasi artemisinin dengan sulfadoksin-pirimetamin untuk pengobatan Malaria falsiparum di Papua menunjukkan resiko kegagalan pengobatan dengan kombinasi jauh lebih kecil (RR=0.3) dibandingkan dengan hanya sulfadoksin- pirimetamin. 21
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat- Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada pengobatan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi pada anak

Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat- Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada pengobatan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi pada anak

Latar belakang. Saat ini kombinasi antimalaria termasuk artemisinin sering tidak sesuai secara farmakokinetika sehingga berpotensi untuk resistensi. Untuk itu penilaian terhadap kombinasi artemisinin dengan obat yang mempunyai waktu paruh yang pendek diperlukan dalam pengobatan Malaria Falciparum tanpa komplikasi pada anak.

16 Baca lebih lajut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA - Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat- Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada pengobatan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi pada anak

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA - Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat- Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada pengobatan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi pada anak

kerja yang berbeda dan target biokimiawi parasit yang berbeda pula. 18,19 Pengobatan dengan kombinasi sepuluh kali lipat lebih mahal dari obat standar bila dilihat dari segi biaya. Artemisinin dipilih sebagai basis terapi kombinasi malaria dikarenakan 98% sangat efektif pada daerah yang resistensi, respon terapi cepat, dapat ditoleransi baik, efek samping minimal, kemampuannya menurunkan parasitemia lebih cepat sepuluh kali daripada obat antimalaria lainnya. 20 Dua juta kasus dilaporkan telah diobati tanpa ada efek toksik, diabsorpsi cepat melalui oral, dapat mengurangi karier gametosit dan belum ada laporan resistensi walaupun sudah lama digunakan di negara Cina, waktu paruh pendek dan aktivitasnya luas dan sangat kuat. 11 Derivat artemisinin adalah artemeter, artesunat, dihydroartemisinin, artemotil. Uji klinik kombinasi artemisinin dengan sulfadoksin-pirimetamin untuk pengobatan Malaria falsiparum di Papua menunjukkan resiko kegagalan pengobatan dengan kombinasi jauh lebih kecil (RR=0.3) dibandingkan dengan hanya sulfadoksin- pirimetamin. 21
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengobatan Malaria Pada Orang Dewasa Dan Ibu Hamil

Pengobatan Malaria Pada Orang Dewasa Dan Ibu Hamil

Obat alternatif malaria berat yaitu kina hidroklorida parenteral. Kina per infus masih merupakan obat alternatif untuk malaria berat pada daerah yang tidak tersedia derivate artemisinin parenteral dan pada ibu hamil trimester pertama. Obat ini dikemas dalam bentuk ampul kina hidroklorida 25%. Satu ampul berisi 500mg/2ml. Dosis dan cara pemberian kina pada orang dewasa termasuk untuk ibu hamil loading dose 20 mg/kgBB dilarutkan dalam 500 ml dextrose 5% atau NaCl 0,9% diberikan selama 4 jam pertama. Selanjutnya selama 4 jam kedua hanya diberikan cairan dextrose 5% atau NaCl 0,9%. Setelah itu diberikan kina dengan dosis maintenance 10mg/kgBB dalam larutan 500 ml dextrose 5% atau NaCl selama 4 jam. Empat jam selanjutnya, hanya diberikan lagi cairan dextrose 5% atau NaCl 0,9%. Setelah itu diberikan lagi dosis maintenance seperti diatas sampai penderita dapat minum kina per oral. Apabila sudah sadar/dapat minum, obat pemberian kina i.v diganti dengan kina tablet per oral dengan dosis 10mg/kgBB/kali, pemberian 3 kali sehari (dengan total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian kina per infus yang pertama). Kina tidak boleh diberikan secara bolus intra vena, karena toksik bagi jantung dan dapat menimbulkan kematian. Pada penderita dengan gagal ginjal, dosis maintenance kina diturunkan 1/3-1/2 nya. Pada hari pertama pemberian kina oral, berikan primakuin dengan dosis 0,75mg/kgBB. Dosis kina maksimum dewasa 2000mg/hari. Hipoglikemia dapat terjadi pada pemberian kina parenteral oleh karena itu dianjurkan pemberiannya dalam dextrose 5%.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Kata kunci: resistensi obat anti-malaria, artemisinin-combination therapy (ACT), malaria

Kata kunci: resistensi obat anti-malaria, artemisinin-combination therapy (ACT), malaria

Tujuan studi ini adalah untuk menjelaskan mekanisme resistensi parasit malaria dan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menghadapi munculnya strain parasit yang resisten terhadap artemisinin. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan. Resistensi P.falciparum terhadap obat-obat anti malaria disebabkan oleh perubahan spontan yang terjadi pada beberapa gen seperti P.falciparum multi drug resistance1 (Pfmdr1), P.falciparum chloroquine transporter (Pfcrt), P.falciparum dihydropteroate synthase (Pfdhps), P.falciparum dihydrofolate reductase (Pfdhfr), and P.falciparum multidrug resistance-associated proteins (Pfmrp). Penyebaran resistensi tersebut dipengaruhi oleh tingkat transmisi di sebuah wilayah. WHO telah menjalankan usaha untuk menanggulangi penyebaran resistensi tersebut misalnya dengan merekomendasikan penghentian monoterapi artemisinin, dan pemberian anti malaria setelah konfirmasi laboratorium. Selain itu, perlu adanya penggunaan obat kombinasi, produksi rejimen dosis tetap, dan pengembangan obat anti malaria baru. Kesimpulan dari hasil studi ini ialah munculnya malaria resisten terhadap artemisinin akan menghambat usaha eradikasi malaria karena itu diperlukan usaha-usaha untuk menanggulanginya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ARTESUNAT-AMODIAKUIN (Artesdiakuin) PADA PENGOBATAN MALARIA TANPA KOMPLIKASI DI PUSKESMAS PENYANDINGAN DAN TANJUNG LENGKAYAP KABUPATEN OKU

EVALUASI PENGGUNAAN ARTESUNAT-AMODIAKUIN (Artesdiakuin) PADA PENGOBATAN MALARIA TANPA KOMPLIKASI DI PUSKESMAS PENYANDINGAN DAN TANJUNG LENGKAYAP KABUPATEN OKU

Sebanyak 3 orang (13%) penderita P falciparum mengalami kegagalan pengobatan dini (KPD). Terapi yang diberikan yaitu kombinasi artesunat-amodiakuin dengan pemberian selama 3 hari dan primakuin yang diberikan pada hari pertama untuk penderita P. falciparum. Primakuin merupakan gametosidal yang kuat terhadap 4 spesies malaria dan biasanya digunakan untuk eradikasi plasmadium gametosit P falciparum. Setelah pemberian per oral primakuin diabsorbsi dengan baik dan mencapai puncak plasma dalam waktu 1-2 jam. Waktu paruh primakuin plasma 3-6 jam dan hanya sebagian kecil yang menetap setelah 24 jam. (9) Munculnya P. falciparum
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Profil Penggunaan Obat Tradisional Pada Masyarakat Di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan Tahun 2013.

DAFTAR PUSTAKA Profil Penggunaan Obat Tradisional Pada Masyarakat Di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan Tahun 2013.

Mahruzar, R., 2009, Ekstrak Herbal Sambiloto Tunggal Dibanding Kombinasi dengan Klorkuin pada Pengobatan Malaria Falciparum Tanpa Komplikasi, Tesis, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakult[r]

4 Baca lebih lajut

RESPON KLINIS DAN PARASITOLOGIS DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN PADA SUBYEK MALARIA FALSIPARUM DAN MALARIA VIVAKS PADA HARI KE-3 KUNJUNGAN ULANG

RESPON KLINIS DAN PARASITOLOGIS DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN PADA SUBYEK MALARIA FALSIPARUM DAN MALARIA VIVAKS PADA HARI KE-3 KUNJUNGAN ULANG

Kondisi pada 3 hari pertama pengobatan DHP merupakan masa penting karena apabila terjadi kekambuhan klinis (demam) dan parasitologis pada hari ke-1 hingga hari ke-3 kunjungan ulang (H1-H3) maka terjadi kemungkinan Kegagalan Pengobatan Dini (early treatment failure/ETF) yang merupakan tanda terjadinya resistensi terhadap obat antimalaria. WHO mendefinisikan adanya kecurigaan resistensi terhadap derivate artemisinin apabila ditemukan parasit pada 10% kasus setelah 3 hari pengobatan. 5 Penelitian di Rwanda dan Papua New Guinea telah menemukan 10% kasus yang masih ditemukan parasit pada 3 hari pengobatan dengan ACT. 4 Artikel ini khusus membahas itu dilakukan analisis mendalam respon klinis dan parasitologis khusus pada H3 subyek malaria falsiparum dan malaria vivaks yang mendapat pengobatan DHP di Kalimantan dan Sulawesi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Asam L Askorbat Meningkatkan Aktivitas Antimalaria Artemisinin Bergantung Konsentrasi - L Ascorbic Acid Concentration Dependently Increases Anti Malaria Activity Of Artemisinin.

Asam L Askorbat Meningkatkan Aktivitas Antimalaria Artemisinin Bergantung Konsentrasi - L Ascorbic Acid Concentration Dependently Increases Anti Malaria Activity Of Artemisinin.

Artemisinin, sebagai suatu senyawa endoperoksida siklik (seskuisterpen lakton), mempunyai efikasi antimalaria yang sangat ampuh terhadap Plasmodium yang multi resisten. Mekanisme kerja artemisinin sebagai antimalaria masih belum jelas, tetapi perannya dalam produksi carbon centered free radical setelah bereaksi dengan heme telah diketahui. Dengan terjadinya alur permeasi baru pada membran eritrosit yang terparasitisasi, diharapkan asam L askorbat sebagai suatu antioksidan yang hidrofilik tidak akan men embus membran tersebut. Oleh ka rena itu, suplementasi asam askorbat pada pengobatan menggunakan artemisinin perlu dipelajari, apakah asam askorbat tersebut mempengaruhi aktivitas antimalaria obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek berbagai konsentrasi asam askorbat terhadap Plasmodium falciparum yang diinkubasi dengan artemisinin in vitro.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KELUHAN DAN KEPATUHAN PENDERITA MALARIA TERHADAP PENGOBATAN MALARIA ARTESUNAT- AMODIAKUIN DI KALIMANTAN DAN SULAWESI

KELUHAN DAN KEPATUHAN PENDERITA MALARIA TERHADAP PENGOBATAN MALARIA ARTESUNAT- AMODIAKUIN DI KALIMANTAN DAN SULAWESI

Resistensi obat merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, khususnya dalam pengendalian penyakit menular termasuk program pemberantasan malaria di Indonesia. Sejak tahun 2004, Program Pemberantasan Malaria menggunakan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) yaitu kombinasi Artesunat dan Amodiakuin (AS+AQ) untuk pengobatan malaria falciparum dan vivax tanpa komplikasi sebagai pengganti obat malaria klorokuin yang telah resisten. Sejak itu implementasi AS+AQ belum pernah dievaluasi. Telah dilaporkan bahwa cakupan AS+AQ adalah 33,7% kemungkinan karena ketidakpatuhan pasien akibat keluhan yang ditimbulkan dan formula obat yang tidak tunggal (fixed dose). Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan mengevaluasi keluhan dan kepatuhan subyek yang mendapatkan pengobatan AS+AQ pada penderita malaria falciparum, vivax dan campuran falciparum- vivax di puskesmas sentinel di Kalimantan dan Sulawesi. Desain penelitian adalah potong lintang
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Usia dan Jenis Kelamin Terhadap Efikasi ACT (Artemisinin-Based Combination Therapy) Pada Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi Di Kabupaten Bangka Barat, Januari-Juni 2009.

Pengaruh Usia dan Jenis Kelamin Terhadap Efikasi ACT (Artemisinin-Based Combination Therapy) Pada Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi Di Kabupaten Bangka Barat, Januari-Juni 2009.

ACT atau Artemisinin-based Combination Therapy adalah terapi kombinasi yang direkomendasikan sebagai lini pertama karena berefikasi tinggi pada pengobatan malaria (WHO, 2008). Artemisinin dipilih sebagai basis terapi kombinasi malaria yang penting saat ini dikarenakan kemampuan untuk menurunkan parasitemia lebih cepat dari pada obat antimalaria lainnya (MSF Reports, 2003). Penggunaan ACT yang global telah menyebabkan kegagalan pengobatan sebanyak 0-10% (WHO, 2008). Kegagalan pengobatan bersangkutan dengan usia dan jenis kelamin penderita malaria. Usia yang lebih banyak mengalami kegagalan pengobatan adalah anak-anak, sedangkan jenis kelamin yang lebih banyak mengalami kegagalan pengobatan adalah wanita (PAPDI, 2008).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Gambaran Tersangka Penderita Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Panyabungan Jae Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

Gambaran Tersangka Penderita Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Panyabungan Jae Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

OAM (Obat Anti Malaria) hanya diberikan pada penderita malaria positif atau ditemukan parasit malaria dalam darah penderita. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat adalah komponen yang utama dari strategi global pada pemberantasan malaria. Penggunaan obat yang tepat dari obat anti malaria tidak hanya mempersingkat lamanya penyakit malaria tetapi juga menurunkan insiden dari komplikasi dan kematian. Selain itu persyaratan obat anti malaria yang ideal adalah obat mempunyai efek terhadap semua jenis dan stadium parasit, cara pemakaian yang mudah, harga terjangkau dan ketersediaan, serta efek samping ringan dan toksisitas rendah. Walaupun kelompok derivat artemisinin (ACT) sudah dianjurkan digunakan di seluruh dunia, namun tidak dapat membunuh semua stadium parasit (parasit dalam hati atau hipnozoit dan gametosit matang (Harijanto, 2009).
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

Variasi pengobatan malaria rumah tangga di enam provinsi endemis malaria di Indonesia

Variasi pengobatan malaria rumah tangga di enam provinsi endemis malaria di Indonesia

Abstract. Indonesia is targeted to be free of malaria in 2030 and its success is determined by the effectiveness of treatment. Riskesdas 2013 shows the effective treatment of malaria rate as 45.5%. Nationally, only 33.7% of malaria patients received the Artemisinin-based Combination Therapy (ACTs). A further analysis to Riskesdas 2013 data was performed to describe the malaria treatment variation at household-level in six provinces in Indonesia, which are Bengkulu, Maluku, North Maluku, East Nusa Tenggara, Papua, and West Papua. Data of name, type, and sources of drugs, as well as household characteristics was analysed. Total of 287 households that meet the criteria of storing and using drugs for malaria treatment was analysed. The result shows 66 types of drugs with varied sources, including 15 antimalarial drugs (i.e. ACTs, chloroquine, and sulphadoxin-pyrimethamin). Most drugs were obtained from pharmacies and drug shops/ stalls, both in urban and rural areas. Most of the poorest households choose drugstore / stalls (46.7%) for medication. On the other hand, for the wealthier groups, pharmacy is an option to get malaria drugs (48.6%). This research reveals the persistence of resistance from anti-malarial drugs (CQ and SP) in almost all sources, including drugs from official health facilities and health workers. This diverse consumption encourages an effective monitoring, evaluation, and strengthening cross-sector participation to improve knowledge, partnership between community and private sector, and the use of information technology to enhance antimalarial drugs supply management in primary health care. An appropriate form of intervention is substantial to improve the malaria treatment coverage in Indonesia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kombinasi Kina Tetrasiklin Pada Pengobatan Malaria Falciparum Tanpa Komplikasi di Daerah Resisten

Kombinasi Kina Tetrasiklin Pada Pengobatan Malaria Falciparum Tanpa Komplikasi di Daerah Resisten

Sedangk an m alar ia falcipar um dengan k om plik asi um um ny a digolongk an sebagai m alar ia ber at y ang m enur ut WHO di defenisik an sebagai infek si Plasm odium falcipar um st adi[r]

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...