Top PDF II PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM TAHAP PRA PENUNTUTAN.

I B PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM TAHAP PRA PENUNTUTAN.

I B PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM TAHAP PRA PENUNTUTAN.

4Hak adalah kekuasaan atau wewenang yang dimiilk i seseorang untuk... Bahanhukump irme radalah:..[r]

15 Baca lebih lajut

/M PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM TAHAP PRA PENUNTUTAN.

/M PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM TAHAP PRA PENUNTUTAN.

9 Semua sahabat-sahabatku yang telah mendukungku dan senan itasa.[r]

12 Baca lebih lajut

PENELITIAN HUKUM PERANAN HAKIM PRA PERADILAN DALAM PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA PERKARA PIDANA.

PENELITIAN HUKUM PERANAN HAKIM PRA PERADILAN DALAM PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA PERKARA PIDANA.

Hasil penelitian menunjukkan peranan hakim pra peradilan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak tersangka perkara pidana (a) melakukan pengujian terhadap sah atau tidaknya suatu penangkapan dan penahanan, (b) melakukan pengujian terhadap sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan, (c) memutuskan ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkarapidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan

13 Baca lebih lajut

PENUTUP PERANAN HAKIM PRA PERADILAN DALAM PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA PERKARA PIDANA.

PENUTUP PERANAN HAKIM PRA PERADILAN DALAM PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA PERKARA PIDANA.

Berdasarkan identifikasi masalah, tujuan penelitian dan hasil penelitian serta pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa peranan hakim adalah memeriksa dan memutus permohonan praperadilan serta menyelenggaran praperadilan oleh hakim yang ditunjuk oleh ketua hakim Pengadilan negeri dengan dibantu oleh seorang panitera dan dalam hal sah tidak nya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan dan penuntutan diajukan oleh tersangka, keluarganya dan pihak lain atas kuasanya. Hal itu tersebut dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak tersangka perkara pidana seperti yang dimaksud dalam pasal 79, 80, 81 KUHAP berhak meminta ganti kerugian dan atau rehabilitasi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN PERANAN HAKIM PRA PERADILAN DALAM PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA PERKARA PIDANA.

PENDAHULUAN PERANAN HAKIM PRA PERADILAN DALAM PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA PERKARA PIDANA.

Hakim sebagai pihak yang menjadi penengah ketika negara melalui jaksa melakukan penuntutan kepada seorang warga negara yang didakwakan telah melakukan pelanggaran di bidang hukum publik (pidana) melawan warga negara. Sebagai pihak penengah hakim akan memutus guna menyelesaikan pertentangan hukum yang ada. Independensi dan netralitas hakim sangat penting guna menjaga agar persidangan berlangsung adil dan tidak memihak (imparsial). Tugas seorang hakim sangatlah berat karena harus memutus berdasarkan pertimbangan keadilan. Putusan hakim nantinya dapat menetukan nasib seseorang. Hakim dapat dikatakan sebagai wakil Tuhan karena hakim dianggap dapat menentukan hidup dan matinya seseorang melalui putusan-putusannya. 4
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN.

PENUTUP PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN.

Implementasi perlindungan hak-hak tersangka dalam pada tingkat penyidikan diwilayah Polresta Yogyakarta, pada prinsipnya telah diimplementasikan sesuai dengan yang diamanatkan undang-undang yaitu KUHAP, misalnya adanya pendampingan perkara oleh penasehat hukum ditahan sesuai dengan batas waktu yang diatur, di beri hak mengajukan pra peradilan jika mendapat perlakuan yang dinilai melawan hukum oleh petugas. Kelemahan dalam implementasi ini masih sering ditemukannya hal-hal kecil yang berupa penyiksaan fisik dalam tahap penyidikan.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HAK HAK TERSANGKA KORUPSI PADA TAHAP PENYIDIKAN DAN PENUNTUTAN OLEH KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

PERLINDUNGAN HAK HAK TERSANGKA KORUPSI PADA TAHAP PENYIDIKAN DAN PENUNTUTAN OLEH KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

Dan satu lagi kasus yang berada di Pelabuhan Panjang. Perwakilan buruh pelabuhan, Edi meminta kejaksaan dan kepolisian menelisik lebih dalam dugaan korupsi itu. Pasalnya, persoalan tersebut sudah menahun karena sejak 2009 sampai 2016 tak kunjung ada penuntasan. Selain dugaan korupsi, lanjut dia, status tersangka yang disandang ketua koperasi juga diminta ada kejelasan proses hukum."Aparat penegak hukum juga terkadang terlalu antusias dalam penetapan tersangka, namun tidak di ikuti dengan kesiapan data dan bukti-bukti yang akurat," tegas Edi dalam orasinya di kantor Kejati Lampung.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM   PROSES PENYIDIKAN   Perlindungan Hukum Bagi Tersangka Dalam Proses Penyidikan.

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN Perlindungan Hukum Bagi Tersangka Dalam Proses Penyidikan.

dalam proses penyidikan. Wawancara adalah situasi peran antara pribadi bertatap muka, ketika seseorang yaitu pewawancara mengajukan pertanyaan yang di rancang untuk memperoleh jawaban yang benar dan pasti dengan masalah penelitian kepada seseorang responden. 4 Dalam penelitian ini yang dijadikan responden adalah penyidik POLRI dan Advokad. Metode Analisis Data, dipergunakan teknik deskriptif analisis, yaitu dengan mendeskripsikan bahan hukum terlebih dahulu kemudian menganalisa melalui teknik analisis sebagai berikut : (a) Teknik deskriptif, yaitu uraian apa adanya terhadap suatu kondisi atau posisi dari preposisi-preposisi hukum atau non hukum, (b) Teknik evaluatif, yaitu melakukan penilaian dan mengevaluasi, tepat atau tidak tepat, benar atau tidak benar, sah atau tidak sah terhadap suatu pandangan, preposisi, pernyataan, rumusan norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder, (c) Teknik interpretatif, yaitu menafsirkan dengan menggunakan teknik-teknik penafsiran terhadap adanya norma kabur yang melandasi pemberlakuan permintaan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, (d) Feknik Argumentatif, yaitu penilaian yang didasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran hukum.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN.

Cara-cara kekerasan menurut ketentuan KUHAP tidak dapat dibenarkan karena merupakan tindakan yang melanggar hukum. Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana telah memberikan jaminan hukum atas diri tersangka guna mendapat perlindungan atas hak-haknya dan mendapat perlakuan yang adil di depan hukum, pembuktian salah atau tidaknya seorang tersangka atau terdakwa harus dilakukan didepan sidang Pengadilan yang terbuka untuk umum. Oleh karena itu Wirjono Prodjodikoro berpendapat, bahwa kepentingan hukum dari individu dalam hal ini adalah pihak yang memperoleh tindakan penangkapan serta penahanan atas tersangka harus diperhatikan serta harus dilindungi, jangan sampai mendapat tindakan sewenang-wenang dari petugas penegak hukum. 2
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM   PROSES PENYIDIKAN   Perlindungan Hukum Bagi Tersangka Dalam Proses Penyidikan.

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN Perlindungan Hukum Bagi Tersangka Dalam Proses Penyidikan.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih serta penyayang yang telah melimpahkan segala nikmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN.

11 Baca lebih lajut

STUDI KOMPARASI PERLINDUNGAN HUKUM HAK HAK TERSANGKA TERDAKWA MENURUT INTERNAL SECURITY ACT ( ISA) MALAYSIA DAN KITAB UNDANG UNDANG HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA

STUDI KOMPARASI PERLINDUNGAN HUKUM HAK HAK TERSANGKA TERDAKWA MENURUT INTERNAL SECURITY ACT ( ISA) MALAYSIA DAN KITAB UNDANG UNDANG HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA

Sement ara it u di M alaysia, kebijakan pemerint ah M alaysia dalam usaha melaw an kejahat an Negara diw ujudkan dengan menerbit kan Akt a Keamanan Dalam Negeri t ahun 1960 at au yang dikenal dengan Int ernal Securit y Act (ISA) M alaysia t ahun 1960. Int ernal Securit y Act M alaysia merupakan produk hukum peninggalan kolonial Inggris yang aw alnya dibent uk unt uk menangkis ancaman kom unisme. Int ernal Securit y Act M alaysia juga merupakan produk polit ik hukum yang dit ujukan unt uk menegaskan w ew enang negara berhadapan dengan kebebasan sipil dalam sit uasi khusus dan memaksa unt uk menjamin keamanan nasional (ht t p:/ / w w w .propat ria.or.id/ / ). Ket ent uan yang t erdapat dalam Int ernal Securit y Act M alaysia mengalami perubahan/ amandemen pada t ahun 1988. Amandemen t ersebut menunjukkan karakt er ot orit er ISA dan menut up ruang bagi peninjauan kembali at as put usan yang t elah dibuat oleh M ent eri Dalam Negeri at au Yang Dipert uan Agung dengan hak diskresi menurut ISA.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

PENERAPAN REHABILITASI SOSIAL TERHADAP KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (Studi Peraturan Bersama Mahkamah Agung Nomor : 01/PB/MA/III/2014)

PENERAPAN REHABILITASI SOSIAL TERHADAP KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (Studi Peraturan Bersama Mahkamah Agung Nomor : 01/PB/MA/III/2014)

Narkotika golongan III sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 6 ayat (1) huruf c Undang-undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika adalah narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan dalam ketergantungan. Kegunaan narkotika ini adalah sama dengan narkotika golongan II yaitu untuk pelayanan kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara memproduksi dan menyalurkannya yang diatur dalam satu ketentuan yang sama dengan narkotika golongan II. Salah satu narkotika golongan II yang sangat populer adalah kodein. Kodein ini ditemukan pada opium mentah sebagai kotoran dari sejumlah morfin.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN KORBAN (SAKSI) SEBAGAI SARANA MENUJU PROSES PERADILAN PIDANA YANG JUJUR DAN ADIL

PERLINDUNGAN KORBAN (SAKSI) SEBAGAI SARANA MENUJU PROSES PERADILAN PIDANA YANG JUJUR DAN ADIL

Pada hakekatnya ada tiga pihak yang harus diperhatikan dan dilindungi secara proposional dan berkeadilan dalam sistem peradilan pidana, yaitu korban tindak pidana dan/atau keluarganya, pelaku dan masyarakat luas (termasuk negara). Jika kepentingan korban tidak mendapat perhatian yang semestinya maka akan mudah korban atau pihak lain yang berkepentingan melakukan perbuatan main hakim sendiri. Sedang pelaku, sebagai anggota masyarakat yang kebetulan melakukan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku perlu mendapat perhatian dan perlindungan agar tidak menjadi korban perbuatan main hakim sendiri, serta perlu disadarkan agar menyadari kesalahannya dan menjadi warga masyarakat yang baik. Hal itu dilakukan dengan cara mengadili apakah kesalahannya benar-benar terbukti atau tidak. Bila tidak terbukti harus dibebaskan, jika terbukti bersalah secara hukum harus dikenakan pidana sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERSANGKA YANG TERTANGKAP TANGAN OLEH KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (POLRI) - repository perpustakaan

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERSANGKA YANG TERTANGKAP TANGAN OLEH KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (POLRI) - repository perpustakaan

antara lain: Praperadilan, Mendapat bantuan hukum dan memilih sendiri kuasa hukumnya, pendampingan kuasa hukum saat proses pemeriksaan tersangka,memberitahukan hak-hak tersangka, Pengamanan saat tertangkap tangan oleh polisi, Praduga tak bersalah(presumption of innocence).Dalam rangka menegakkan serta memaksimalkan bentuk perlindungan hukum terhadap tersangka yang tertangkap tangan oleh Polri, Penyidik perlu memperhatikan prosedur penangkapan tersangka sesuai denga SOP dan ketentuan perundang- undangan Indonesia, meningkatkan pemahaman tentang hak-hak tersangka sehingga dapat memberikan perlindungan hukum kepada terangka terutama tersangka yang tertangkap tangan, dalam hal tersangka yang tertangkap tangan oleh Polri kurang mengetahui hak-hak yang dimilikinya, maka penyidik harus menerangkan atau menjelaskan hal tersebut kepada tersangka.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BANTUAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM PROSES PERADILAN PIDANA PADA TINGKAT PENYIDIKAN DI MAPOLRESTA PADANG.

BANTUAN HUKUM BAGI TERSANGKA DALAM PROSES PERADILAN PIDANA PADA TINGKAT PENYIDIKAN DI MAPOLRESTA PADANG.

Dalam Sistem Peradilan Pidana sangatlah penting keselarasan diantara para penegak aparat hukum, namun rapuhnya sinkronisasi struktural antar lembaga sub sistem Peradilan Pidana dapat jelas terlihat manakala lembaga penyidikan membiarkan penyidikan dilaksanakan secara berlarut-larut (undue delay). Akibatnya pelimpahan perkara kepada penuntut umum dan persidangan perkara berlarut-larut, sementara tersangka dan terpidana ditahan. Pada saat perkara disidangkan, seringkali terjadi sisa masa penahanan terdakwa sudah hampir berakhir. Untuk mencegah terdakwa bebas demi hukum karena masa penahanannya sudah berakhir, sementara perkara belum selesai diperiksa, sidang dilaksanakan secara marathon, saksi-saksi tidak dihadirkan untuk diperiksa, tetapi hanya BAP nya yang dibacakan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM/ SKRIPSI  PERAN KEJAKSAAN DAN KEPOLISIAN DALAM KORDINASI MELENGKAPI BERITA ACARA PEMERIKSAAN PADA TAHAP PRA-PENUNTUTAN.

PENULISAN HUKUM/ SKRIPSI PERAN KEJAKSAAN DAN KEPOLISIAN DALAM KORDINASI MELENGKAPI BERITA ACARA PEMERIKSAAN PADA TAHAP PRA-PENUNTUTAN.

13. Buat kawan-kawan di Lembaga Pers Mahasiswa das Sein Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Trimakasih telah menjadi sahabat terbaik penulis selama kuliah Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta; 14. Buat kawan-kawan Lembaga Belajar Mahasiswa (LBM), Perhimpuan

13 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM HAK-HAK TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DI POLSEK UJUNG PANDANG

PERLINDUNGAN HUKUM HAK-HAK TERSANGKA DALAM PROSES PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM DI POLSEK UJUNG PANDANG

Lembaga-lembaga hukum yang berhubungan dengan HAM saat ini sangat banyak sekali, meliputi Komnas HAM, Peradilan HAM, Kepolisian, dll. Dan ada juga lembaga yang dibentuk melalui Undang-undang maupun swasta. Tujuan dari setiap lembaga yang ada yaitu untuk terciptanya dan terjaganya HAM di negara Indonesia agar tidak terjadi pelanggaran HAM seperti jaman dulu. Walaupun sudah ada undang-undang yang dibentuk untuk menjamin HAM setelah reformasi, masih banyak tindak pelanggaran HAM yang terjadi di masyarakat yang dilakukan oleh pejabat ataupun warga negara sendiri. Sehingga nilai dari substansi Undang-undang HAM yang sudah dibentuk tersebut perlu di sosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat memahami bahwa HAM sekarang lebih dilindungi daripada ere orde sebelumnya.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN KEWENANGAN PENYIDIK DIREKTORAT RESERSE NARKOBA DALAM PROSES PEMERIKSAAN TERSANGKA DI TINGKAT PENYIDIKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA (Studi Kepolisian Daerah Sumatera Barat) - Repositori Universitas And

PELAKSANAAN KEWENANGAN PENYIDIK DIREKTORAT RESERSE NARKOBA DALAM PROSES PEMERIKSAAN TERSANGKA DI TINGKAT PENYIDIKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA (Studi Kepolisian Daerah Sumatera Barat) - Repositori Universitas And

PELAKSANAAN KEWENANGAN PENYIDIK DIREKTORAT RESERSE NARKOBA DALAM PROSES PEMERIKSAAN TERSANGKA DI TINGKAT PENYIDIKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN HAK-HAK TERSANGKA [r]

1 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI  Pelaksanaan Praperadilan Yang Diajukan Oleh Pihak Ketiga Terhadap Penghentian Penyidikan Oleh Jaksa Penuntut Umum Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Pengadilan Negeri Boyolali).

NASKAH PUBLIKASI Pelaksanaan Praperadilan Yang Diajukan Oleh Pihak Ketiga Terhadap Penghentian Penyidikan Oleh Jaksa Penuntut Umum Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Pengadilan Negeri Boyolali).

Hakim pengadilan negeri boyolali dalam putusan No. 01/Pra/2012/PN.BYL berdasarkan bukti-bukti yang ada secara formil terbukti tindakan Termohon bukan merupakan tindakan penghentian penyidikan. Termohon tidak pernah mengeluarkan surat penetetapan penghentian penyidikan (SP3) bahkan surat perintah penyidikan yang sudah pernah dikeluarkan telah dan sedang ditindaklanjuti serta proses penyidikan masih terus berjalan sehingga tindakan Termohon tersebut bukanlah sebagai tindakan penghentian penyidikan. Logika hukumnya jelas disebut dengan penghentian penyidikan apabila setelah dikeluarkannya surat perintah penyidikan dan kemudian dikeluarkan SP3 (surat penetetapan penghentian penyidikan) secara formil jelas bahwa tindakan termohon merupakan tindakan penghentian penyidikan. Berdasarkan KUHAP yang melakukan penyidikan dan menentukan seseorang menjadi tersangka adalah merupakan kewenangan penyidik. Hakim tidak dapat meminta penyidik untuk
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...