Top PDF Praktek Keluarga Berencana (Kb) pada Pasangan Usia Subur Muda Paritas Rendah (Pus Mupar)

Praktek Keluarga Berencana (Kb) pada Pasangan Usia Subur Muda Paritas Rendah (Pus Mupar)

Praktek Keluarga Berencana (Kb) pada Pasangan Usia Subur Muda Paritas Rendah (Pus Mupar)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Praktek Keluarga Berencana (KB) pada Pasangan Usia Subur Muda Paritas Rendah (PUS MUPAR) di Dusun Gunung Batu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini adalah penelitian populasi, dengan jumlah populasi yaitu seluruh PUS MUPAR di Dusun Gunung Batu berjumlah 27. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tabel persentase satu arah dan tabel silang (cross tab). Hasil penelitian menunjukkan (1) umur PUS MUPAR tergolong muda yaitu (20-24 tahun) dan sebagian besar (96,3 persen) memiliki rata-rata jumlah anak lahir KLGXS VHGLNLW \DLWX ” DQDN 7LQJNDW SHQJHWDKXDQ 386 083$5 WHQWDQJ keluarga berencana tergolong rendah. (3) Jenis alat kontrasepsi yang digunakan PUS MUPAR sebagian besar (92,6 persen) menggunakan jenis Non MKJP, dan ODPD SHQJJXQDDQ DODW NRQWUDVHSVL \DLWX ” WDKXQ
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PRAKTEK KELUARGA BERENCANA (KB) PADA PASANGAN USIA SUBUR MUDA PARITAS RENDAH (PUS MUPAR) DI DUSUN GUNUNG BATU DESA PAMPANGAN KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN

PRAKTEK KELUARGA BERENCANA (KB) PADA PASANGAN USIA SUBUR MUDA PARITAS RENDAH (PUS MUPAR) DI DUSUN GUNUNG BATU DESA PAMPANGAN KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Praktek Keluarga Berencana (KB) pada Pasangan Usia Subur Muda Paritas Rendah (PUS MUPAR) di Dusun Gunung Batu Desa Pampangan Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Tahun 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini adalah penelitian populasi, dengan jumlah populasi yaitu seluruh PUS MUPAR di Dusun Gunung Batu berjumlah 27 PUS MUPAR. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tabel persentase satu arah dan tabel silang (cross tab).
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Determinan Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur Menjadi Akseptor Keluarga Berencana Di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015

Determinan Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur Menjadi Akseptor Keluarga Berencana Di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015

Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk terbanyak di antara negara ASEAN dengan Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate (TFR) 2,6 %. Di Indonesia ada 15 provinsi yang cakupannya KB nya dibawah cakupan nasional. Provinsi Aceh merupakan salah satu yang memiliki cakupan KB rendah. Kabupaten Aceh Barat terutama di Kecamatan Arongan Lambalek merupakan salah satu daerah di Provinsi Aceh jumlah penduduk yang cenderung mengalami peningkatan dari 11.436 jiwa meningkat menjadi 12.257 jiwa dengan jumlah PUS yang tidak menjadi akseptor KB sebanyak 573 PUS. Rendahnya cakupan aseptor KB di Kecamatan Arongan Lambalek belum diketahuinya faktor penyebab pasti PUS tidak menjadi akseptor KB. Adapun tujuan penelitian untuk menganalisis determinan ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur (PUS) menjadi akseptor Keluarga Berencana (KB) di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

UNMED NEED KELUARGA BERENCANA PADA PASANGAN USIA SUBUR DI KECAMATAN PADANG BARAT TAHUN 2015

UNMED NEED KELUARGA BERENCANA PADA PASANGAN USIA SUBUR DI KECAMATAN PADANG BARAT TAHUN 2015

Hasil penelitian berdasarkan jenis peker­ jaan ditemukan sebagian besar responden (77,0%) adalah ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga, dan diantaranya banyak yang menggunakan KB. Hasil analisis hubungan pekerjaan dengan unmet need menunjukkan ti­ dak adanya hubungan yang signifikan. Propor­ si unmet need ditemukan lebih tinggi pada ibu yang bekerja. Lebih tingginya proporsi unmet need pada ibu bekerja lebih cenderung karena adanya kesibukan dan kurangnya kesempatan dalam mengakses alat kontrasepsi. Kesadaran ibu yang tidak bekerja untuk menggunakan KB didasari oleh perekonomian mereka yang rendah, sehingga mereka berfikir untuk me­ ngatur jumlah kelahiran. (10­11)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan  Keikutsertaan Pasangan Usia Subur Terhadap  Program Keluarga  Berencana Di Kabupaten Gowa

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keikutsertaan Pasangan Usia Subur Terhadap Program Keluarga Berencana Di Kabupaten Gowa

Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar menumbuhkan rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan keba- hagiaan batin. Program Keluarga Berencana (KB) juga dimaksudkan untuk menjadi salah satu stretegi dalam mengurangi angka kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T yaitu Terlalu muda melahirkan (di bawah umur 20 tahun), Terlalu sering mela- hirkan, Terlalu dekat jarak melahirkan, dan Terlalu tua melahirkan (di atas umur 35 ta- hun) (Kemenkes RI, 2018).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA(Studi Pada Pasangan Usia Subur (PUS)di Lingkungan Randegan RW 01 Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto)

IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA(Studi Pada Pasangan Usia Subur (PUS)di Lingkungan Randegan RW 01 Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto)

Bapak Surya Chandra Surapaty selaku Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada hari Senin tanggal 28 Maret 2016. Terpilihnya Lingkungan Randegan RW 01 karena mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1.127 jiwa, terdiri dari jumlah penduduk laki-laki 572 orang dan penduduk wanita 555 orang. (sumber: Inventarisasi data kampung KB Lingkungan Randegan RW 01, 2015.) Dari ke-6 sasaran program Kampung Keluarga Berencana peneliti menfokuskan satu sasaran yaitu Pasangan Usia Subur (PUS). Pasangan usia subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang istrinya berkisar berumur 15-49 tahun, dan secara operasional pula pasangan suami istri suami istri yang istrinya berumur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 49 tahun tetapi belum menopause. Dimana pasangan suami istri sudah cukup matang dalam segala hal terlebih organ reproduksinya sudah berfungsi dengan baik, tetapi dibedakan dengan perempuan usia subur yang berstatus janda atau cerai. (Sumber: Modul diklat teknis program Kampung Keluarga Berencana bagi tim Desa, 2016). Dimana Lingkungan Randegan RW 01 dalam keikutsertaan dan kesadaraan untuk menjadi akseptor program KB sangat rendah.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan Pasangan Usia Subur (PUS) Tentang Keluarga Berencana (KB) dengan Pelaksanaan KB di Kecamatan Sei Kanan Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Hubungan Pengetahuan Pasangan Usia Subur (PUS) Tentang Keluarga Berencana (KB) dengan Pelaksanaan KB di Kecamatan Sei Kanan Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap 100 Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi responden di Kecamatan Sei Kanan Kabupaten Labuhanbatu Selatan menggambarkan bahwa lebih dari setengah dari jumlah keseluruhan responden dalam penelitian memiliki pengetahuan yang rendah atau kurang tentang KB. Sebagian besar Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi responden juga tidak terdaftar sebagai akseptor dalam KB. Berdasarkan analisa statistik Spearman’s rho diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Determinan Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur Menjadi Akseptor Keluarga Berencana Di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015

Determinan Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur Menjadi Akseptor Keluarga Berencana Di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015

Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk terbanyak di antara negara ASEAN dengan Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate (TFR) 2,6 %. Di Indonesia ada 15 provinsi yang cakupannya KB nya dibawah cakupan nasional. Provinsi Aceh merupakan salah satu yang memiliki cakupan KB rendah. Kabupaten Aceh Barat terutama di Kecamatan Arongan Lambalek merupakan salah satu daerah di Provinsi Aceh jumlah penduduk yang cenderung mengalami peningkatan dari 11.436 jiwa meningkat menjadi 12.257 jiwa dengan jumlah PUS yang tidak menjadi akseptor KB sebanyak 573 PUS. Rendahnya cakupan aseptor KB di Kecamatan Arongan Lambalek belum diketahuinya faktor penyebab pasti PUS tidak menjadi akseptor KB. Adapun tujuan penelitian untuk menganalisis determinan ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur (PUS) menjadi akseptor Keluarga Berencana (KB) di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Persepsi Pasangan Usia Subur terhadap Program Keluarga Berencana (Kb) di Desa Sungai Kuning Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi

Persepsi Pasangan Usia Subur terhadap Program Keluarga Berencana (Kb) di Desa Sungai Kuning Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi

tidak mengikuti Program KB adalah faktor lingkungan fisik yaitu penyampaian informasi Program KB yaitu informasi yang diberikan petugas kesehatan tidak begitu dipahami oleh Pasangan Usia Subur dan juga ketidakingintahuan dan ketidakinginan dari Pasangan Usia Subur itu sendiri untuk ikut Program KB tersebut. Dan Faktor Ekonomi yaitu tingkat pendapatan Pasangan Usia Subur rendah dan tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli alat kontrasepsi yang akan digunakan. Serta Faktor Pengaruh Suami yaitu larangan dari suami Pasangan Usia Subur selain itu diantar Pasangan Usia Subur ada yang menginginkan mempunyai anak banyak dan menginginkan seorang anak laki-laki ataupun seorang anak perempuan, selain itu diantara Pasangan Usia Subur ada yang berprofesi sebagai seorang ustadz, yang mengatakan bahwa ber-KB hukumnya haram karena dilarang dalam agama islam.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Determinan Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur Menjadi Akseptor Keluarga Berencana Di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015

Determinan Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur Menjadi Akseptor Keluarga Berencana Di Kecamatan Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015

Untuk menekan angka pertumbuhan di indonesia yang terlalu tinggi negara menerbitkan Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan dalam rangka mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia 15-49 tahun. Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T yaitu terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun). Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan, dan cara- cara bagi laki-laki dan perempuan untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak (Depkes RI, 2014).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pasangan Usia Subur Terhadap Ketidakikutseraan Dalam Program Keluarga Berencana Di Desa Salaon Dolok Kabupaten Samosir Tahun 2013

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pasangan Usia Subur Terhadap Ketidakikutseraan Dalam Program Keluarga Berencana Di Desa Salaon Dolok Kabupaten Samosir Tahun 2013

Sikap responden yang mayoritas tidak baik berhubungan pula dengan pendidikan yang lebih banyak pada kategori pendidikan dasar dan tingkat pengetahuan yang juga mayoritas pada kategori rendah, sehingga berpengaruh terhadap pola pikir dan bertindak termasuk dalam pemakaian alat kotrasepsi. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi alat kontrasepsi dan KB, pengertian alat kontrasepsi dan manfaatnya, serta kesediaannya mendatangi tempat pelayanan, fasilitas dan sarananya, juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakanbahwa diperoleh hubungan yang bermakna antara sikap dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0,000).
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

RESPON PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KELUARGA BERENCANA GRATIS DI KELURAHAN DWIKORA KECAMATAN MEDAN HELVETIA TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH

RESPON PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KELUARGA BERENCANA GRATIS DI KELURAHAN DWIKORA KECAMATAN MEDAN HELVETIA TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH

Respon adalah persepsi, sikap, ataupun tindakan terhadap suatu objek yang dapat dilihat melalui proses pemahaman, penilaian, pengaruh atau penolakan, suka atau tidak suka serta pemanfaatan terhadap objek tersebut. PUS adalah pasangan suami istri yang istrinya berusia 15-49 tahun. KB Gratis adalah salah satu program BKKBN dalam memberikan pelayanan KB tanpa dipungut biaya apapun. Faktor- faktor yang memengaruhi PUS menjadi akseptor KB adalah faktor pendidikan, faktor pengetahuan, faktor paritas dan faktor budaya (kepercayaan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pasangan usia subur terhadap program Keluarga Berencana gratis di Kelurahan Dwikora Kecamatan Helvetia. Metode penelitian ini bersifat deskriptif. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah 544 PUS di wilayah Kelurahan Dwikora. Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti tentang Respon Pasangan Usia Subur Tentang Keluarga Berencana Gratis di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan Tahun 2015 adalah persepsi PUS Tentang KB Gratis di Kelurahan Dwikora mayoritas negatif sebanyak 46 responden (86,2%), Sikap PUS Tentang KB Gratis mayoritas negatif sebanyak 47 responden (87,0%), partisipasi PUS Tentang KB Gratis di Kelurahan Dwikora mayoritas negatif sebanyak 50 responden (92,6%).Kesimpulan dari penelitian Pasangan Usia Subur Tentang Keluarga Berencana Gratis di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan Tahun 2015 adalah negatif. Saran dari penelitian ini adalah Menyarankan PUS terutama kepada istri agar lebih meningkatkan kesadaran diri akan pentingnya ber KB dan meningkatkan pengetahuannya dengan cara mengikuti penyuluhan yang dilakukan petugas KB.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Respon Pasangan Usia Subur (Pus) terhadap Program Keluarga Berencana (Kb) di Desa Tanjung Belit Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis

Respon Pasangan Usia Subur (Pus) terhadap Program Keluarga Berencana (Kb) di Desa Tanjung Belit Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis

Alasan penelitian mengambil di Desa Tanjung Belit Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis karena Wilayah ini terlihat sangat rendah partisipasi masyarakatnya dalam program KB dibandingkan desa lainnya, sehingga sangat berpengaruh terhadap jumlah penduduk. Hal tersebut tentunya akan berdampak bagi sektor kehidupan lain. Hal yang sering tidak terungkap adalah bagaimana respnden penduduk sendiri terhadap program Keluarga Berencana, bagaimana pemahaman penduduk tentang program ini dan apa saja faktor yang mempengaruhi respon pasangan usia subur terhadap program KB yang menyebabkan masih rendahnya partisipasi mereka terhadap program KB tersebut.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur (Pus) dalam Program Keluarga Berencana di Kecamatan Pujud Kabupaten Rokan Hilir

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur (Pus) dalam Program Keluarga Berencana di Kecamatan Pujud Kabupaten Rokan Hilir

Tujuan pendewasaan usia perkawinan selain untuk mengendalikan kelahiran,oleh karena semakin tua usia orang kawin berarti semakin sedikit waktu masa reproduktif yang dimiliki oleh Pasangan Usia Subur (PUS), juga bermanfaat untuk mengurangi resiko kehamilan. Resiko yang mungkin dapat terjadi pada ibu yang yang telalu muda untuk hamil antara lain: keguguran, tekanan darah tinggi, keracunan kehamilan, timbulnya kesulitan persalinan, bayi berat lahir rendah, membesarnya air seni ke vagina, keluarnya gas dan feses ke vagina atau bisa kanker leher rahim (BKKBN, 2006:2). Anjuran melalui program KB yang disarankan dalam pendewasaan usia perkawinan adalah meningkatkan batas usia perkawinan minimal usia 20 tahun untuk perempuan dan minimal usia 25 tahun untuk pria (BKKBN, 1992;21). 6
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL PENYULUHAN KB INTERAKTIF PASANGAN USIA SUBUR PARITAS RENDAH (PUSMUAR)

PENGEMBANGAN MODEL PENYULUHAN KB INTERAKTIF PASANGAN USIA SUBUR PARITAS RENDAH (PUSMUAR)

Sejak tahun 2004, pasca kebijakan desentralisasi di Indonesia, pelaksanaan program KB diserahkan ke daerah masing-masing sehingga seringkali tidak menjadi prioritas daerah. Hal ini dikhawatirkan akan menurunkan pemahaman dan kesadaran PUS Muda Paritas Rendah (dan juga kaum pria) terhadap program KB. Tujuan penelitian: (1) mengetahui pemahaman PUSMUPAR dan kaum pria saat ini terhadap program KB, (2) menyusun program penyuluhan KB interaktif. Metode penelitian dengan participatory action research.Pengumpulan data dilakukan dengan 2 tahap, 1) menggunakan metode survei dengan menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan 2)sosialisasi model, persiapan dan implementasi model, dengan metode aksi dan pendampingan. Hasil penelitian tahap pertama :1) Pemahaman PUSMUPAR tentang konsep NKKBS:sebanyak 73% pemahaman dasar responden baik, 70% sudah mendapat info tentang KB, 70 % pengetahuan tentang tujuan KB baik, 52 % hambatan tentang KB kecil dans ebanyak 80 % responden memiliki persepsi nilai anak yang baik, 40 % responden adalah KB aktif, 31 % responden memiliki penguasaan TI baik,76% sosial budaya mendukung, 2)Keikutsertaan Pria pada Program KB:Kondom 10%, Vasektomi 5%,), 3) Tersusun Media Pembelajaran Interaktif (MPI) KB. Hasil penelitian tahap kedua: model media penyuluhan interaktif yang diimplementasikan dipahami oleh masyarakat. Disarankan tersusunnya Media Pembelajaran Interaktif dapat digunakan untuk meningkatkan Keikutsertaan Pria pada Program KB.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PASANGAN USIA MUDA TERHADAP PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA GIRIPANGGUNG

PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PASANGAN USIA MUDA TERHADAP PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA GIRIPANGGUNG

Tujuan yang ketiga mengenai praktek partisipasi pasangan usia muda dalam program keluarga berencana. Untuk membentuk tujuan ketiga ini terdapat beberap tema antara lain akses pelayanan KB, biaya pelayanan KB, periode waktu keikutsertaan KB, intensitas keikutsertaan pelaksanakan KB, sikap terhadap informasi KB dan kendala keikutsertaan KB. Setelah mengurai keseluruhan tema yang ada maka dapat ditariklah suatu konsep yaitu konsep mengenai masyarakat sadar KB. Masyarakat khususnya masyarakat pasangan usia muda pada penlitian ini merupakan subjek utama untuk mengukur tingkat keikutsertaan pasangan usia muda pada pelaksanakan KB. Segala kemajuan maupun kemunduran pada program KB ditentukan juga oleh masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, sehingga dalam meningkatkan pelaksanakan kegiatan KB di Desa Giripanggung diperlukan kesadaran masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan program KB.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PASANGAN USIA MUDA TERHADAP PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA GIRIPANGGUNG

PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PASANGAN USIA MUDA TERHADAP PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA GIRIPANGGUNG

Tujuan yang ketiga mengenai praktek partisipasi pasangan usia muda dalam program keluarga berencana. Untuk membentuk tujuan ketiga ini terdapat beberap tema antara lain akses pelayanan KB, biaya pelayanan KB, periode waktu keikutsertaan KB, intensitas keikutsertaan pelaksanakan KB, sikap terhadap informasi KB dan kendala keikutsertaan KB. Setelah mengurai keseluruhan tema yang ada maka dapat ditariklah suatu konsep yaitu konsep mengenai masyarakat sadar KB. Masyarakat khususnya masyarakat pasangan usia muda pada penlitian ini merupakan subjek utama untuk mengukur tingkat keikutsertaan pasangan usia muda pada pelaksanakan KB. Segala kemajuan maupun kemunduran pada program KB ditentukan juga oleh masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, sehingga dalam meningkatkan pelaksanakan kegiatan KB di Desa Giripanggung diperlukan kesadaran masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan program KB.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pasangan Usia Subur Terhadap Ketidakikutseraan Dalam Program Keluarga Berencana Di Desa Salaon Dolok Kabupaten Samosir Tahun 2013

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pasangan Usia Subur Terhadap Ketidakikutseraan Dalam Program Keluarga Berencana Di Desa Salaon Dolok Kabupaten Samosir Tahun 2013

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior) , untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap alat kontrasepsi harus mendapat konfirmasi dari suaminya, dan ada fasilitas yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat memakai alat kontrasepsi. Selain fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain, misalnya dari suami atau istri, orangtua atau mertua, dan lain-lain. Beberapa tingkatan praktek adalah:
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Respon Pasangan Usia Subur terhadap Program Keluarga Berencana Gratis di Kelurahan Delima Kecamatan Tampan

Respon Pasangan Usia Subur terhadap Program Keluarga Berencana Gratis di Kelurahan Delima Kecamatan Tampan

Masalah yang akan dihadapi oleh keluarga yang memiliki anak dalam jumlah banyak terutama yang jarak kelahirannya tidak diatur adalah peningkatan resiko terjadinya pendarahan ibu hamil pada trisemester ketiga, angka kematian bayi meningkat, ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk merawat diri dan anaknya, serta terganggunya proses perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan kurang gizi, berat badan lahir rendah (BBLR) dan lahir prematur (BKKBN, 2007).

11 Baca lebih lajut

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG

Memperhatikan uraian di atas dapatlah dikatakan bahwa demografi mempelajari aspek kependudukan yang statis dan dinamis. Seperti sebuah mata uang (coin) yang mempunyai dua sisi, aspek kependudukan yang statis menempati sisi yang satu dan aspek yang dinamis menempati sisi yang lain. Kedua komponen di atas saling pengaruh mempengaruhi. Sebagai misal, tingginya tingkat fertilitas di suatu daerah, berpengaruh kepada tingginya persentase penduduk usia muda. Demografi tidaklah mempelajari penduduk sebagai individu, tetapi penduduk sebagai suatu kumpulan (aggregates atau collection). Jadi yang dimaksud dengan penduduk dalam kajian demografi adalah sekelompok orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah.
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects