Top PDF Proses Klorinasi untuk Menurunkan Kandungan Sianida dan Nilai KOK pada Limbah Cair Tepung Tapioka

Proses Klorinasi untuk Menurunkan Kandungan Sianida dan Nilai KOK pada Limbah Cair Tepung Tapioka

Proses Klorinasi untuk Menurunkan Kandungan Sianida dan Nilai KOK pada Limbah Cair Tepung Tapioka

Intisari: Telah dilakukan pengolahan limbah cair tepung tapioka menggunakan proses klorinasi dengan Ca(OCl) 2 . Parameter yang dievaluasi adalah berat optimum Ca(OCl) 2 , pH optimum, dan waktu kontak optimum antara Ca(OCl) 2 dengan limbah cair tepung tapioka dalam menurunkan kandungan sianida dan nilai KOK limbah cair. Variasi berat Ca(OCl) 2 yang digunakan adalah 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 mg; variasi pH adalah 7, 8, 9, 10, 11; dan variasi waktu kontak yaitu 0; 0,5; 1; 1,5; 2 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum proses klorinasi, kandungan sianida adalah 51,77 mg/L dan nilai KOK limbah cair adalah 9953,01 mg/L; sedangkan setelah proses klorinasi pada kondisi optimum (berat Ca(OCl) 2 5 mg, pH 8, dan waktu kontak 1 jam), diperoleh kandungan sianida sebesar 30,08 mg/L dengan efektivitas penurunan 41,88% dan nilai KOK limbah cair adalah 1092,09 mg/L dengan efektivitas penurunan 89,02%.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ADSORPSI SIANIDA PADA LIMBAH INDUSTRI TEPUNG TAPIOKA MENGGUNAKAN SERBUK SEKAM PADI

ADSORPSI SIANIDA PADA LIMBAH INDUSTRI TEPUNG TAPIOKA MENGGUNAKAN SERBUK SEKAM PADI

Industri tepung tapioka merupakan salah satu industri yang menghasilkan buangan limbah beracun berupa limbah padat dan limbah cair (Riyanti, 2010).Kandungan zat beracun dalam limbah cair industri tepung tapioka salah satunya yaitu asam sianida (HCN). Beberapa metode untuk mengurangi kadar sianida dalam limbah cair industri tepung tapioka antara lain dengan memanfaatkan media filtran untuk proses filtrasi limbah cair industri tepung tapioka (Bangun, 2007), metode adsorpsi juga dapat digunakan untuk mengurangi kadar sianida dalam limbah cair industri tepung tapioka sebagaimana yang telah dilakukan Rumidatul (2006) dengan memanfaatkan karbon aktif sebagai adsorben sianida dalam limbah cair industri tepung tapioka.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH KEPALA UDANG TERHADAP PENINGKATAN KANDUNGAN N, P, K DAN pH LIMBAH CAIR TAPIOKA SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR

PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH KEPALA UDANG TERHADAP PENINGKATAN KANDUNGAN N, P, K DAN pH LIMBAH CAIR TAPIOKA SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR

Provinsi Lampung merupakan sentra penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia dengan produksi rata-rata mencapai 9 juta ton pertahun, produksi tersebut diperoleh dari 66 pabrik yang tersebar dibeberapa daerah Lampung dengan luas lahan ubi kayu mencapai 366.830 Ha (Harjono, 2013). Semua pabrik tapioka tersebut menghasilkan limbah padat dan cair. Limbah cair tapioka yang dihasilkan dari proses pembuatan tepung tapioka dapat menurunkan kualitas perairan sungai bila tidak dikendalikan, karena industri tapioka membutuhkan banyak air dalam prosesnya. Sebagai contoh satu ton ubi kayu membutuhkan air 6 sampai 9 m 3 untuk memprosesnya menjadi tepung tapioka, proses perendaman dan mengekstrak pati tapioka. Air dari proses tersebut langsung dibuang sebagai limbah cair industri ke perairan sungai (Kartansanjaya dkk., 2010).
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Penentuan Nilai Parameter Kinetika Proses Dalam Perombakan Secara Anaerobik Limbah Cair Industri Gula, Tepung Tapioka, Dan Minyak Kelapa Sawit Menggunakan 4 Reaktor Uasb

Penentuan Nilai Parameter Kinetika Proses Dalam Perombakan Secara Anaerobik Limbah Cair Industri Gula, Tepung Tapioka, Dan Minyak Kelapa Sawit Menggunakan 4 Reaktor Uasb

Industri gula tebu, industri tepung tapioka dan industri pengolahan minyak kelapa sawit menghasilkan limbah cair dalam jumlah besar dengan konsentrasi karbon masing-masing sebesar ± 4.000 mg COD/L, ± 30.000 mg COD/L dan 50.000 mg COD/L. Digunakam Reaktor UASB sebanyak 4 buah reaktor dengan tujuan untuk meningkatkan reduksi COD dan jumlah gas yang dihasilkan. Pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi COD influent yaitu 10.000, 15.000, 20.000, 25.000, 35.000 dan 45.000 mg/L. Pada penelitian ini dilakukan analisis pada masing-masing limbah cair dan limbah cair campuran diukur nilai pH, COD, BOD, kandungan zat padat (TSS), dan tingkat kekeruhan pada influent dan efluentnya. Efisiensi reduksi COD limbah cair campuran yang dihasilkan sangat baik, hingga mencapai rentang 90,17%-98,64%. Akumulasi
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Preklorinasi Terhadap Proses Start Up Pengolahan Limbah Cair Tapioka Sistem Anaerobic Baffled Reactor

Pengaruh Preklorinasi Terhadap Proses Start Up Pengolahan Limbah Cair Tapioka Sistem Anaerobic Baffled Reactor

Tingginya kandungan sianida dalam limbah cair tapioka ditengarai dapat menjadi inhibitor bagi proses pengolahan biologi. Keberadaan sianida dapat mengakibatkan lebih lamanya waktu start up diperlukan untuk memperoleh kultur bakteri dalam reaktor anaerob yang dapat bekerja stabil menurunkan kadar polutan dan memperlambat proses dekomposisi senyawa organik. Kajian mengenai pengaruh preklorinasi fresh feed terhadap proses start up operasi Anaerobic Baffled Reactor 2 baffle perlu dilakukan. Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahapan utama yaitu inokulasi benih lumpur, preklorinasi fresh feed dan operasi start up secara batch sampai tercapai kadar COD efluen yang stabil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair tapioka dengan COD influen 8000 mg/L dan pH 4,84 memerlukan 9 hari start up dengan COD efluen 954 mg/L. Peningkatan pH influen menjadi 8 mampu menghasilkan kadar COD efluen 347 mg/L dalam 6 hari start up. Preklorinasi terhadap fresh feed dengan penambahan kalsium hipoklorit berdasar perbandingan rasio mol klor dan sianida sebesar 1:1 dapat mengurangi waktu start up hingga hanya menjadi 5 hari dan menurunnya COD efluen hingga mencapai kadar 230 mg/L.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KAJIAN PROSES ELEKTROKOAGULASI UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

KAJIAN PROSES ELEKTROKOAGULASI UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

kadar zat padat terlarut (TSS). Data pengaruh kuat arus terhadap karakteristik penurunan kadar TSS dalam limbah pada berbagai waktu proses elektrokoagulasi dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5. Dari Gambar 4 dan Gambar 5 diperoleh data bahwa kuat arus berpengaruh terhadap nilai penurunan kadar TSS dalam limbah. Semakin besar nilai kuat arus yang diberikan akan terjadi penurunan kadar TSS dalam limbah atau nilai efisiensi elektrogoagulasinya semakin besar. Hal ini juga terjadi pada perubahan waktu proses, semakin lama waktu prosesnya akan dihasilkan penurunan kadar TSS yang semakin besar. Dari data yang diperoleh kondisi terbaik untuk mereduksi TSS adalah pada kuat arus 5,0 ampere dengan waktu kontak selama 120 menit, yaitu menghasilkan efisiensi elektrokoagulasi (penurunan kadar TSS) sebesar 80,24 % dengan nilai TSS dalam efluen sebesar 39,528 mg/L.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Cara pengolahan limbah cair brown crepe untuk menurunkan bahan pencemar

Cara pengolahan limbah cair brown crepe untuk menurunkan bahan pencemar

yang berlaku. Koagulasi didefinisikan sebagai proses destabilisasi muatan koloid padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus dengan suatu koagulan yang dapat diendapkan. Flokulasi merupakan proses pembentukan flok, yang pada dasarnya merupakan pengelompokkan atau aglomerasi antara partikel dengan koagulan dengan pengadukan yang lambat (Risdianto, 2007; Suherman & Sumawijaya, 2013). Terbentuknya flok-flok halus adalah proses pencampuran bahan kimia (koagulan) dengan air baku sehingga membentuk campuran yang homogen. Flok-flok kecil terdiri dari partikel- partikel koloid yang menggumpal dan selanjutnya membentuk flok yang lebih besar untuk bisa mengendap yang disebut proses pengendapan (Hakim et al., 2016).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Abu Tandan Kosong Kelapa Sawit  Untuk Menurunkan Kandungan Minyak/Lemak   BOD Dan COD Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Pemanfaatan Abu Tandan Kosong Kelapa Sawit Untuk Menurunkan Kandungan Minyak/Lemak BOD Dan COD Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

keberhasilan usaha perkebunan kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh adalah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit dari Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting peranannya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya. Perlu diketahui bahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah yang diolah dalam pabrik (Wardhanu, 2009).
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Mesin proses pengolahan tepung tapioka s

Mesin proses pengolahan tepung tapioka s

menggunakan modal sendiri dan sebagian menggunakan modal dari perbankan dan bantuan dari BUMN serta kemitraan. Di Indonesia, industri tepung tapioka memiliki asosiasi, yaitu Assosiasi Tepung Tapioka Indonesia (ATTI) yang berpusat di Jakarta. Keberadaan asosiasi ini belum begitu dirasakan oleh pihak-pihak terkait terutama petani yang tidak dapat menikmati harga singkong sesuai dengan kesepakatan antara pemda, petani dan pengusaha. Sementara pengusaha tidak dapat memperoleh bahan baku secara langsung dari petani. Asosiasi ini diharapkan dapat berperan dalam pengendalian harga pasar tepung tapioka, harga bahan baku serta akses permodalan bagi
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

OPTIMASI KECEPATAN PENGADUKAN PADA PROSES ADSORPSI LIMBAH CAIR LAUNDRY UNTUK MENURUNKAN KADAR SURFAKTAN MENGGUNAKAN BATU BARA

OPTIMASI KECEPATAN PENGADUKAN PADA PROSES ADSORPSI LIMBAH CAIR LAUNDRY UNTUK MENURUNKAN KADAR SURFAKTAN MENGGUNAKAN BATU BARA

adsorben. ( Faust & Aly, 1929 ). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan adsorpsi dan berapa banyak adsorbat yang dapat diserap oleh adsorben. Cheremisinoff dalam Yuniarto menjabarkan beberapa faktor – faktor tersebut antara lain Karakteristik Adsorban. Faktor yang cukup penting dalam proses adsorpsi ialah karakteristik media adsorban yang meliputi luas permukaan, ukuran partikel, komposisi kimia dan lain – lain. Namun pada proses adsorpsi faktor yang paling dominan ialah luas permukaan spesifik dan ukuran partikel. Pada umumnya jumlah adsorpsi yang terjadi per berat unit adsorban akan semakin besar bila media adsorban semakin luas spesifikasinya atau dapat dikatakan bahwa kapasitas adsorpsi berbanding lurus dengan permukaan spesifik media. Distribusi ukuran partikel menentukan distribusi ukuran molekul yang dapat masuk ke dalam media untuk diadsopsi. Ukuran partikel umumnya dibedakan menjadi dua yaitu makropori dan mikropori. Dikarenakan penyerapan molekul adsorbat dari mikropori lebih banyak dibandingkan makropori, maka ukuran molekul adsorbat yang lebih kecil akan lebih banyak diadsorpsi dapipada molekul adsorbat yang lebih besar.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

V.  SIMPULAN DAN SARAN  KEMAMPUAN Pseudomonas aeruginosa DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN FOSFAT LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT.

V. SIMPULAN DAN SARAN KEMAMPUAN Pseudomonas aeruginosa DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN FOSFAT LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT.

Wagner, M, Alexander L, Regina N, Ulrike P, Natuschka L, and Holger D., 2007, Microbial Community Composition and Function in Wastewater Treatment Plants , Antonie van Leeuwenhoek, Vol. 81, p. 665-680. Waluyo, P. 2009. Kajian Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit dan SNI

36 Baca lebih lajut

OPTIMASI KECEPATAN PENGADUKAN PADA PROSES ADSORPSI LIMBAH CAIR LAUNDRY UNTUK MENURUNKAN KADAR SURFAKTAN MENGGUNAKAN BATU BARA

OPTIMASI KECEPATAN PENGADUKAN PADA PROSES ADSORPSI LIMBAH CAIR LAUNDRY UNTUK MENURUNKAN KADAR SURFAKTAN MENGGUNAKAN BATU BARA

Dererjen merupakan salah satu bahan pencemar lingkungan yang sulit untuk di degradasi. Surfaktan merupakan salah satu bahan aditif yang sangat berpengaruh terhadap daya kerja deterjen. Alkil Benzen Sulfanoat (ABS) adalah penyusun surfaktan yang sulit di degradasi. Senyawa tersebut banyak digunakan pada deterjen di Indonesia. Pemakaian deterjen yang berlebih menyebabkan meningkatnya konsentrasi surfaktan pada lingkungan. Berdasarkan PERDA PemProv KALTIM No.2 Tahun 2011, konsentrasi surfaktan pada lingkungan adalah 5 ppm. Batubara merupakan barang tambang yang memiliki kemampuan yang cukup baik dalam proses adsorpsi pada zat organik atau anorganik. Batubara juga digunakan sebagai bahan dasar karbon aktif. Tujuan penelitan ini ialah untuk mengetahui pengaruh variasi kecepatan pengadukan terhadap penurunan kadar surfaktan pada limbah cair laundry dengan metode adsorpsi menggunakan batubara agar sesuai dengan standar baku mutu air limbah. Sebelum proses adsorpsi berlangsung terlebih dahulu di lakukan uji daya serap karbon aktif yang menghasilkan kemampuan serap sebesar 24,2424%. Variasi kecepatan yang digunakan ialah 100, 150, 200,250 dan 300 rpm dengan konsentrasi awal limbah sebesar 25,4902 ppm. Persentase penurunan tertinggi didapatkan pada kecepatan pengadukan 250 rpm sebesar 80,3922% dimana konsentrasi surfaktan menjadi 4,9981 ppm.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN ECENG GONDOK  (EICHORNIA CRASSIPES) UNTUK  MENURUNKAN KANDUNGAN  COD(CHEMICAL OXYGEN DEMOND),  pH, BAU, DAN WARNA PADA LIMBAH  CAIR TAHU

PEMANFAATAN ECENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) UNTUK MENURUNKAN KANDUNGAN COD(CHEMICAL OXYGEN DEMOND), pH, BAU, DAN WARNA PADA LIMBAH CAIR TAHU

Limbah cair tahu pada tahap awal- hari kedua sangat berbau. Pada proses yang sesungguhnya di lapangan, perlu banyak bak untuk menerapkan sistem pengolahan dengan menggunakan eceng gondok. Untuk menghemat jumlah bak selama proses pengolahan maka, limbah industri tahu yang berupa cair dapat dimanfaatkan sebagai pembuatan bio-gas. Bio- gas sendiri adalah gas pembusukan bahan organik oleh bakteri dalam kondisi anaerob. Gas bio tersebut campuran dari berbagai gas antara lain: CH4 (54-70%), CO2(27-45%), O2(1-4%), N2(0,5-3%), CO(1%) dan H2S. Campuran gas ini mudah terbakar bila kandungan CH4 (Methana) melebihi 50%. Air limbah industri tahu ini mempunyai kandungan Methana (CH4) lebih dari 50% sehingga sangat memungkinkan untuk bahan sumber energi gas Bio-gas. Untuk daerah tropis seperti Indonesia, Kontruksi fixed Domed Digester (Digester Permanen).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PABRIK ASAM SITRAT DARI TEPUNG TAPIOKA DENGAN PROSES FERMENTASI.

PABRIK ASAM SITRAT DARI TEPUNG TAPIOKA DENGAN PROSES FERMENTASI.

Sampai sekitar tahun 1969 atau 1970, Aspergillus niger dianggap sebagai satu-satunya asam sitrat dalam skala industry. Pada tahun 1970, sebuah inovasi baru yang mendemonstrasikan bahwa produksi asam sitrat dapat dilakukan dengan menggunakan yeast seperti Candida guilliermondii yang mengandung glukosa atau molasses hitam pekat yang ekuivalen dengan sejumlah glukosa. Waktu fermentasi lebih singkat daripada Aspergillus niger. Penggunaan strai candida sangat efektif untuk pembuatan asam sitrat dari hidrokarbon, dimana konversi yang dihasilkan dapat mencapai lebih dari 10%. Secara umum proses submerged fermentation membutuhkan suplai energy yang cukup banyak, karena mencakup proses pengadukan, aerasi, serta pendinginan. Kebutuhan energy berkisar 8 – 16 MJ/m 3 (28,5 – 57 Btu/gal).
Baca lebih lanjut

225 Baca lebih lajut

PABRIK ASAM SITRAT DARI TEPUNG TAPIOKA DENGAN PROSES FERMENTASI

PABRIK ASAM SITRAT DARI TEPUNG TAPIOKA DENGAN PROSES FERMENTASI

Dalam proses ini mikroorganisme Aspergillus niger ditumbuhkan dengan mendispersikannya dalam media cair. Bejana fermentasi tersusun atas tangki - tangki steril yang berkpasitas beberapa ratus kubik meter (1000 galon) dengan dilengkapi pengaduk mekanik serta pemasukan sejumlah udara steril. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh amelung-perquin, dimana produksi asam sitrat dengan proses biakan celup mempertimbangkan penggunaan phospat yang terbatas. Dalam prakteknya spora kapang diproduksi dibawah control akseptik sehingga tenaga kestreilannya. Tahapan fermentasi biakan celup ini ada dua yaitu tahap perkembangan miselia dan tahap fermentasi. Sebagian kecil bahan baku digunakan sebagai inokulum fermentor.sebagian besar yang lain digunakan tahapn utama dalam fermentor. Inokulum yang terbentuk ditransfer secara aseptic
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Kandungan Hara Pupuk Organik Cair Limbah

Kandungan Hara Pupuk Organik Cair Limbah

Permintaan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan perkapita, peningkatan kesadaran masyarakat akan kecukupan gizi, dan berkembangn[r]

20 Baca lebih lajut

Efektifitas Karbon Aktif Kulit Singkong Untuk Menurunkan Kadar Biological Oksigen Demand (Bod) Dan Total Suspended Solid (Tss) Air Limbah Pabrik Tepung Tapioka

Efektifitas Karbon Aktif Kulit Singkong Untuk Menurunkan Kadar Biological Oksigen Demand (Bod) Dan Total Suspended Solid (Tss) Air Limbah Pabrik Tepung Tapioka

ini diakibatkan karena, karbon aktif kulit singkong yang dimasukkan ke dalam limbah merupakan padatan-padatan yang sangat halus. Air limbah yang diaduk bersama dengan karbon aktif kemudian disaring dengan kertas penyaring. Pada saat penyaringan, padatan-padatan halus dari karbon aktif dan air limbah yang tidak dapat tersaring akan lolos. Hasil penyaringan inilah yang kemudian diperiksa kadar TSS nya. Jadi, semakin banyak konsentrasi karbon aktif yang dimasukkan ke dalam limbah maka kadar TSS nya juga semakin meningkat karena jumlah padatannya yang semakin besar. Atau dengan kata lain jika tidak seimbang perbandingan antara air limbah dengan karbon aktif maka akan menimbulkan kejenuhan yang akan mengurangi keefektifan proses penyerapan. Dari hasil pengukuran BOD dan TSS tersebut diketahui bahwa konsentrasi 1 gr karbon aktif adalah konsentrasi yang paling optimum untuk 200 ml air limbah untuk menurunkan kadar BOD dan TSS.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects