Top PDF Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp.)

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp.)

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp.)

Proses penurunan mutu ikan segar terutama diawali dengan proses perombakan oleh aktivitas enzim yang secara alami terdapat di dalam ikan. Salah satu jenis enzim yang berperan penting dalam proses kemunduran mutu ikan adalah enzim-enzim pengurai protein seperti katepsin, calpain dan kolagenase. Enzim proteolitik ini dapat menyebabkan timbulnya akumulasi metabolit, perubahan citarasa, dan pelunakan tekstur, terbentuknya komponen volatil serta peningkatan jumlah bakteri yang akhirnya menimbulkan kebusukan. Katepsin merupakan kelompok dari sistein proteinase diantaranya katepsin B dan L yang dapat menyebabkan terjadinya pelunakan daging (softening) pada ikan. Interaksi antara sistein protease dan inhibitornya telah menjadi tujuan beberapa penelitian pada dua dekade ini. Inhibitor spesifik dari sistein protease yang berupa molekul protein, sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya proteolisis yang destruktif. Inhibitor protease pada ikan diperkirakan dapat melakukan perlindungan dari mikrooganisme, proses embriogenesis pada regulasi pertumbuhan awal embrio. Saat ini terdapat permintaan yang kuat terhadap protease inhibitor alami yang dapat digunakan untuk mencegah proses kemunduran pada daging ikan dan produk berbasis surimi. Beberapa inhibitor protease telah dicoba ditambahkan ke dalam daging ikan untuk menjelaskan peranan enzim pada proses pelunakan daging saat post mortem.
Baca lebih lanjut

156 Baca lebih lajut

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp)

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp)

Proses penurunan mutu ikan segar terutama diawali dengan proses perombakan oleh aktivitas enzim yang secara alami terdapat di dalam ikan. Salah satu jenis enzim yang berperan penting dalam proses kemunduran mutu ikan adalah enzim-enzim pengurai protein seperti katepsin, calpain dan kolagenase. Enzim proteolitik ini dapat menyebabkan timbulnya akumulasi metabolit, perubahan citarasa, dan pelunakan tekstur, terbentuknya komponen volatil serta peningkatan jumlah bakteri yang akhirnya menimbulkan kebusukan. Katepsin merupakan kelompok dari sistein proteinase diantaranya katepsin B dan L yang dapat menyebabkan terjadinya pelunakan daging (softening) pada ikan. Interaksi antara sistein protease dan inhibitornya telah menjadi tujuan beberapa penelitian pada dua dekade ini. Inhibitor spesifik dari sistein protease yang berupa molekul protein, sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya proteolisis yang destruktif. Inhibitor protease pada ikan diperkirakan dapat melakukan perlindungan dari mikrooganisme, proses embriogenesis pada regulasi pertumbuhan awal embrio. Saat ini terdapat permintaan yang kuat terhadap protease inhibitor alami yang dapat digunakan untuk mencegah proses kemunduran pada daging ikan dan produk berbasis surimi. Beberapa inhibitor protease telah dicoba ditambahkan ke dalam daging ikan untuk menjelaskan peranan enzim pada proses pelunakan daging saat post mortem.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Purifikasi dan Karakterisasi Kolagenase dari Organ Dalam Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal)

Purifikasi dan Karakterisasi Kolagenase dari Organ Dalam Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal)

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi aktivitas enzim adalah konsentrasi enzim, substrat, produk, senyawa inhibitor dan aktivator, pH dan jenis pelarut yang terdapat pada lingkungan, kekuatan ion dan suhu (Suhartono 1989). Karakterisasi kolagenase dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat katalitik enzim sehingga dapat diketahui pula kondisi optimum aktivitas enzim. Kolagenase dari berbagai sumber, mempunyai sifat-sifat katalitik yang berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor seperti spesies, umur, jenis makanan, kualitas air, suhu lingkungan. Perbedaan sifat katalitik enzim juga terdapat pada spesies yang sama yang disebabkan oleh faktor interspesies. Faktor-faktor tersebut antara lain umur, ukuran jenis kelamin, fase spawning, riwayat spawning, komposisi makanan, riwayat stress dan lain-lain (Haard 2000). Perbedaan sifat- sifat katalitik kolagenase dari berbagai sumber, termasuk mikroorganisme disajikan pada Tabel 9.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

PURIFIKASI PARSIAL DAN KARAKTERISASI ENZIM KATEPSIN DARI IKAN BANDENG (Chanos Chanos Forskall)

PURIFIKASI PARSIAL DAN KARAKTERISASI ENZIM KATEPSIN DARI IKAN BANDENG (Chanos Chanos Forskall)

Enzim katepsin memiliki aktivitas spesiik optimum pada pH 4 sebesar 11,5523 U/mg (Gambar 4), hal ini sesuai dengan pendapat Aoki et al. (2000) bahwa enzim katepsin aktif pada pH asam, sementara penelitian yang dilakukan Toyohara et al. (2006) pada daging ikan mas, katepsin A memiliki pH optimum 5. Penelitian yang dilakukan oleh Balti et al. (2010) terhadap katepsin D yang berasal dari hepatopankreas sotong memiliki aktivitas spesiik optimum pada pH 3. Penelitian yang dilakukan oleh Krause et al. (2010) terhadap enzim katepsin D yang berasal dari daging burung unta (Musculus ilioibularis) menyebutkan katepsin D memiliki aktivitas optimal pada pH 4. Penelitian lain yang dilakukan oleh Jiang et al. (2002) terhadap katepsin D ikan tongkol dan ikan bandeng, menyatakan katepsin D memiliki aktivitas
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERANAN INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) UNTUK MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

PERANAN INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) UNTUK MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

Penentuan fase post mortem ikan yaitu prerigor, rigor mortis, postrigor, dan busuk dilakukan secara organoleptik menggunakan score sheet yang telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dengan SNI 01-2346-2006 (BSN 2006). Pengamatan secara organoleptik ini meliputi beberapa parameter, yaitu keadaan mata, insang, lendir permukaan badan, daging, bau, dan tekstur. Kondisi prerigor ikan bandeng dengan dan tanpa perendaman inhibitor (kontrol) terjadi pada penyimpanan selama 0 jam (0 hari). Fase rigor mortis pada ikan bandeng dengan perendaman inhibitor dan kontrol dicapai setelah penyimpanan selama 96 jam (4 hari). Fase postrigor ikan bandeng dengan perendaman inhibitor terjadi
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

MANAJEMEN PEMBESARAN IKAN BANDENG ( Chanos chanos) DENGAN SISTEM SEMI INTENSIF DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA PRAKTEK KERJA LAPANG PROGRAM STUDI S-1 BUDIDAYA PERAIRAN

MANAJEMEN PEMBESARAN IKAN BANDENG ( Chanos chanos) DENGAN SISTEM SEMI INTENSIF DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA PRAKTEK KERJA LAPANG PROGRAM STUDI S-1 BUDIDAYA PERAIRAN

Puji syukur penulis panjatkan kehdirat Alloh SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapang tentang manajemenpembesaranikanbandeng ( Chanos chanos ) dengansistem semiintensifdengan tepat waktu. Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara pada tanggal 20 Januari sampai 06 Februari 2015.

14 Baca lebih lajut

Analisis Deskriptif Kemunduran Mutu Kulit Ikan Bandeng (Chanos chanos) selama Penyimpanan Suhu Chilling melalui Pengamatan Histologis

Analisis Deskriptif Kemunduran Mutu Kulit Ikan Bandeng (Chanos chanos) selama Penyimpanan Suhu Chilling melalui Pengamatan Histologis

Fase rigormortis (Gambar 8) adalah fase yang terjadi ketika ikan mengalami kekakuan (kekejangan). Morkore (2006) menyatakan bahwa pada fase ini terjadi akumulasi asam laktat yang menyebabkan terjadinya penurunan pH serta mulainya proses autolisis atau penghancuran diri sendiri akibat aktivitas enzim. Hasil pengamatan sajian histologi kulit ikan bandeng pada fase rigormortis menunjukkan warna merah yang lebih pekat dibandingkan dengan fase prerigor. Hal ini diduga disebabkan jaringan ikan menyerap pewarna eosin secara dominan karena jaringan bersifat asam. Cormack (1994) menyatakan bahwa kedalaman warna asidofil sangat tergantung pada pH yang dipakai selama pewarnaan. Pada pH asam tersedia lebih banyak ion bermuatan positif untuk menyerap eosin.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

EVALUASI KADAR CEMARAN Pb dan Cd DALAM IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA DAERAH PERIKANAN  Evaluasi Kadar Cemaran Pb Dan Cd Dalam Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Pada Daerah Perikanan Di Sekitar Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Dengan Metode Spektrofo

EVALUASI KADAR CEMARAN Pb dan Cd DALAM IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA DAERAH PERIKANAN Evaluasi Kadar Cemaran Pb Dan Cd Dalam Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Pada Daerah Perikanan Di Sekitar Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Dengan Metode Spektrofo

Stasiun 1 merupakan tempat yang terdekat dengan pembuangan limbah industri dan pelabuhan (Gambar 3), sehingga ditemukan kadar Pb dan Cd. Kadar stasiun 1 lebih rendah dimungkinkan karena penanaman ikan Bandeng ( Chanos chanos ) dari pembibitan sampai pemanenan pada musim penghujan, Nwabueze (2011) menyatakan bahwa musim kemarau mengakibatkan pemekatan konsentrasi, sehingga jumlah air di sungai berkurang dan konsentrasi logam berat meningkat, begitu juga sebaliknya. Stasiun 2 mengandung logam Pb dan Cd dikarenakan perikanan dekat dengan pertemuan antara laut dengan aliran sungai Banjir Kanal Timur Semarang (Gambar 3). Industri yang beroperasi di sekitar
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Filtrat Bawang Putih (Allium sativum Linn.) dan Lama Penyimpanan Terhadap Jumlah Koloni Bakteri pada Fillet Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsk) Sebagai Sumber Belajar Biologi.

Pengaruh Filtrat Bawang Putih (Allium sativum Linn.) dan Lama Penyimpanan Terhadap Jumlah Koloni Bakteri pada Fillet Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsk) Sebagai Sumber Belajar Biologi.

Bahan pengawet yang pada umumnya ditambahkan untuk mencegah bakteri pada fillet adalah natrium nitrit (Aliyah, 2004). Penambahan bahan pengawet pada fillet ikan seperti nitrit dalam dosis yang tidak tepat dalam menyebabkan penyakit degeneratif (Masirah, 2004) dan dapat menimbulkan komponen toksik (nitrosamine) yang berbahaya bagi kesehatan (Muchtadi, 2005). Timbulnya senyawa nitrosamine diduga sebagai penyebab timbulnya kanker sehingga sering dihindari penggunaannya (Hadiwiyoto, 1993). Berdasarkan hal tersebut, penelitian untuk mencegah kerusakan ikan akibat aktivitas mikroba menggunakan bahan alami mulai dikembangkan karena dinilai lebih aman bagi kesehatan.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Kitosan Sebagai Edible Coating Pada Otak-Otak Bandeng (Chanos Chanos Forskal) Yang Dikemas Vakum

Kitosan Sebagai Edible Coating Pada Otak-Otak Bandeng (Chanos Chanos Forskal) Yang Dikemas Vakum

Ikan bandeng (Chanos chanos) termasuk ikan bertulang keras (teleostei) dan berdaging putih susu. Struktur daging padat dengan banyak duri halus diantara dagingnya, terutama daging disekitar ekor. Ikan bandeng termasuk ikan yang berukuran besar, berwarna keperakan dan bagian punggung biru kehitaman, memiliki bentuk tubuh memanjang seperti torpedo dengan sirip ekor bercabang sebagai tanda bahwa ikan bandeng tergolong perenang cepat. Kelopak mata menutup keseluruhan mata. Ikan ini memiliki mulut yang kecil, terminal, giginya sedikit dan memiliki tulang penutup insang tambahan sebanyak empat buah. Bentuk sisiknya tipis, kecil, serta tidak mempunyai secute pada bagian perut. Tidak mempunyai jari-jari sirip berbisa, dengan satu sirip punggung yang terletak dipertengahan badan dan sirip perut berbentuk abdominal (Kimura et al. 2000). Morfologi ikan bandeng dapat dilihat pada Gambar 1.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

EVALUASI KADAR CEMARAN Pb dan Cd DALAM IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA DAERAH PERIKANAN DI SEKITAR KAWASAN PELABUHAN TANJUNG EMAS  Evaluasi Kadar Cemaran Pb Dan Cd Dalam Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Pada Daerah Perikanan Di Sekitar Kawasan Pelabuhan Tan

EVALUASI KADAR CEMARAN Pb dan Cd DALAM IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA DAERAH PERIKANAN DI SEKITAR KAWASAN PELABUHAN TANJUNG EMAS Evaluasi Kadar Cemaran Pb Dan Cd Dalam Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Pada Daerah Perikanan Di Sekitar Kawasan Pelabuhan Tan

Segala puji bagi Allah S.W.T, karena atas limpahan karunia-Nya penulis mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “EVALUASI KADAR CEMARAN Pb dan Cd DALAM IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA DAERAH PERIKANAN DI SEKITAR KAWASAN PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM” ini dengan baik.

12 Baca lebih lajut

ANALISIS FINANSIAL PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA TAMBAK TRADISIONAL DENGAN SISTEM POLIKULTUR DAN MONOKULTUR DI KECAMATAN MULYOREJO, SURABAYA, JAWA TIMUR Repository - UNAIR REPOSITORY

ANALISIS FINANSIAL PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA TAMBAK TRADISIONAL DENGAN SISTEM POLIKULTUR DAN MONOKULTUR DI KECAMATAN MULYOREJO, SURABAYA, JAWA TIMUR Repository - UNAIR REPOSITORY

ASMAUL HUSNIYAH. Analisis Finansial Pembesaran Ikan Bandeng ( Chanos chanos ) pada Tambak Tradisional dengan Sistem Monokultur dan Polikultur di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur. Dosen Pembimbing Prof. Moch. Amin Alamsjah. Ir., M. Si., Ph.D dan Kustiawan Tri Pursetyo. S.Pi., M. Vet

14 Baca lebih lajut

PENGARUH BERBAGAI METODE DAN LAMA PENGOL (1)

PENGARUH BERBAGAI METODE DAN LAMA PENGOL (1)

Penulisan skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam skripsi ini penulis mengambil judul “Pengaruh Berbagai Metode dan Lama Pengolahan terhadap Kandungan Protein dan Lemak Ikan bandeng (Chanos chanos Forks) “

13 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN BANDENG

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN BANDENG

Interaksi antara sistein protease dan inhibitornya telah menjadi tujuan beberapa penelitian pada dua dekade ini. Inhibitor spesiik dari sistein protease sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya proteolitik yang destruktif dan juga dapat dimanfaatkan pada proses terapi dan pada berbagai bahan penelitian. Pengertian yang mendalam pada interaksi sistein proteinase dan inhibitornya dapat memberikan informasi penting untuk mengkontrol aktivitas proteolitik (Hultman 2003). Inhibitor sistein proteinase yang secara luas tersebar pada jaringan hewan dan cairan tubuh, merupakan suatu molekul protein yang terdiri dari 100 sampai 120 deret asam amino dengan adanya jembatan disulida dan residu karbohidrat (Otto dan Schirmeister 1997).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pemurnian dan karakterisasi enzim katepsin dari ikan bandeng (Chanos chanos Forskall)

Pemurnian dan karakterisasi enzim katepsin dari ikan bandeng (Chanos chanos Forskall)

Karakterisasi konsentrasi subtrat dilakukan dengan mengubah konsentrasi substrat hemoglobin dengan variasi konsentrasi (½%, 1%, 1 ½%, 2%, 2 ½%, 3%, 3 ½%, 4%, dan 4 ½% (b/v)). Pada waktu pengujian, hemoglobin sebagai substratnya dibuat dengan konsentrasi ½%, 1%, 1 ½%, 2%, 2 ½%, 3%, 3 ½%, 4%, dan 4 ½% (b/v) pH 2. Sebanyak 0,5 mL dari larutan substrat, 0,1 mL larutan buffer Tris pH 7,4 diinkubasi dengan 0,1 mL larutan enzim pada variasi suhu (20, 30, 40, 50, 60, 70 °C) selama 10 menit. Reaksi dihentikan dengan penambahan 2 mL TCA 5% (w/v). Campuran disaring dan 1 mL filtrat hasil hasil penyaringan ditambah dengan 1 mL pereaksi folin. Selanjutnya diinkubasi kembali pada suhu 37 °C selama 20 menit. Campuran kemudian diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 750 nm. Selain itu, dilakukan pula pengukuran untuk larutan blanko dan larutan standar dengan prosedur yang sama seperti larutan sampel hanya untuk larutan blanko dan larutan standar enzimnya digantikan dengan akuades dan tirosin.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Masyarakat Iktiologi Indonesia Substitusi tepung ikan dengan tepung maggot terhadap retensi nutrisi, komposisi tubuh, dan efisiensi pakan ikan bandeng (Chanos chanos Forskal)

Masyarakat Iktiologi Indonesia Substitusi tepung ikan dengan tepung maggot terhadap retensi nutrisi, komposisi tubuh, dan efisiensi pakan ikan bandeng (Chanos chanos Forskal)

protein, retensi lemak, dan retensi energi terlebih dahulu ditransformasi arcsin, karena data tidak memenuhi asumsi untuk penerapan analisis ra- gam, yaitu: galat percobaan bebas satu sama lain dan menyebar normal, selain itu skala pengukur- an harus bersifat aditif. Transformasi arcsin digu- nakan dalam analisis data karena data dalam ben- tuk persentase (Steel & Torrie, 1993). Apabila berdasarkan hasil analisis ragam terbukti bahwa perlakuan berpengaruh nyata maka akan dilanjut- kan dengan uji W-Tukey untuk menentukan sub- stitusi tepung ikan dengan tepung maggot yang menghasilkan respon terbaik terhadap parameter- parameter yang diukur (Steel & Torrie, 1993). Kualitas pakan dianalisis secara deskriptif sesuai kebutuhan ikan bandeng. Kualitas air juga diana- lisis secara deskriptif sesuai kelayakan untuk per- tumbuhan dan kelangsungan hidup ikan bandeng.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...