Top PDF Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

dipahami karena biosintesis lateks pada tanaman karet berlangsung pada sel-sel pembuluh lateks. jumlah dan diameter pembuluh lateks merupakan variabel yang memiliki korelasi positif dengan potensi produksi lateks. Selain itu perbedaan kualitas penyadap memiliki peranan penting dalam menghasilkan jumlah lateks yang baik serta kontinuitas yang juga diduga dapat mempengaruhi kualitas kulit sadapan pada jangka panjang jika tidak dilakukan dengan benar dapat mengakibatkan kering alur sadap. Hal ini sesuai dengan Purwaningrum, et al (2016) yang menyatakan bahwa setiap klon memiliki karakter fisiologi yang berbeda sehingga diperlukan sistem sadap (penggalian produksi) yang berbeda pula. Penyadapan yang tidak berdasarkan tipelogi klonal akan menyebabkan terjadinya penyadapan yang berlebihan (over exploitation) atau kekurangan intensitas eksploitasi (under exploitation). Kesalahan dalam penyadapan akan membawa akibat yang sangat merugikan baik bagi pohon itu sendiri maupun bagi produksinya. Hal ini akan menyebabkan pemborosan pemakaian dan kerusakan kulit yang akan berdampak pada pemendekan umur ekonomis tanaman, penurunan produksi sehingga mengakibatkan kerugian perusahaan.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Dari total area perkebunan di Indonesia tersebut ada lebih 3,4 juta hektar perkebunan karet di Indonesia, 85% di antaranya (2,9 juta hektar) merupakan perkebunan karet yang dikelola oleh rakyat atau petani skala kecil dan sisanya dikelola oleh perkebunan besar milik negara atau swasta (Rohmah, 2015). Namun produksi karet rakyat masih rendah 600-650 kg kk/ha/thn. Meskipun demikian, peranan Indonesia sebagai produsen karet alam dunia masih dapat diraih kembali dengan memperbaiki teknik budidaya dan tehnik penyadapan serta pascapanen, sehingga produktivitas dan kualitasnya dapat ditingkatkan lebih optimal (Damanik et al, 2010).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap kadar padatan total % seluruh penyadapan.. Total Produksi Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi total produksi gr/cm/sadap seluru[r]

24 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Dalimunte, V. H. 2009. Penentuan Kandungan Padatan Total ( % TSC ) Lateks Pekat dan Pengaruhnya Terhadap Kekuatan Tarik Benang Karet di PT. IKN, Medan. Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Medan.

2 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Lateks adalah cairan bewarna putih susu yang merupakan sistem koloid yang kompleks yang terdiri dari partikel – partikel karet dan partikel bukan karet. Sebelum terkontaminasi atau tercampur dengan bahan – bahan lain lateks mempunyai pH normal, yaitu 6,9 – 7,0 cair dan bersifat koloid yang stabil. Lateks merupakan salah satu bahan baku yang digunakan untuk pembuatan benang karet, sebelum lateks digunakan dalam proses produksi, lateks tersebut terlebih dahulu dipekatkan dan disebut lateks pekat (Dalimunte, 2009).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi di bawah bidang sadap. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, stimulan ekstrak 50 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 100 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 150 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 200 g kulit buah pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu aplikasi berpengaruh nyata dalam meningkatkan produksi lateks dan klon tanaman karet dalam berbagai waktu aplikasiberpengaruh nyata dalammeningkatkan produksi lateks, sedangkan perlakuan stimulan pada klon dalam berbagai waktu aplikasi berpengaruh tidak nyata dalam peningkatan produksi lateks. Klon PB 260 adalah klon yang mengalami peningkatan produksi tertinggi akibat pemberian stimulan. Stimulan ekstrak 100 g kulit buah pisang adalah stimulan yang cenderung meningkatkan produksi lateks lebih tinggi dibandingkan stimulan ekstrak 50 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 150 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 200 g kulit buah pisang dan tanpa stimulan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Klon adalah tanaman yang didapat dari hasil perbanyakan vegetatif atau aseksual. Kelebihan klon antara lain tumbuhnya tanaman lebih seragam, umur produksinya lebih cepat, dan jumlah lateks yang dihasilkan lebih banyak. Akan tetapi, klon juga memiliki kekurangan seperti daya tahan terhadap hama penyakit tidak sama, serta lingkungan mempengaruhi pertumbuhan klon (Setiawan, 2013).

8 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan penyakit kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit dikonsumsi oleh petani rakyat, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada beberapa klon tanaman karet terhadap pemberian berbagai sumber hormon etilen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 hingga Februari 2014 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama, waktu aplikasi kedua, waktu aplikasi ketiga, dan waktu aplikasi keempat, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118, klon PB 260, klon klon IRR 42, klon IRR 39 dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, etephon ethrel, etephon SP1, ekstrak kulit pisang, dan ekstrak kulit nenas. Pengamatan parameter adalah volume lateks, kadar padatan total, dan total produksi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen.. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian[r]

4 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Tabel Hasil Pengamatan Parameter Berat Lateks g Penyadapan Pertama Transformasi�y Perlakuan Berat Lateks g Total Rataan Lampiran 4.. Tabel Hasil Analisis Sidik Ragam Data Parameter Ber[r]

25 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan penyakit kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit dikonsumsi oleh petani rakyat, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada beberapa klon tanaman karet terhadap pemberian berbagai sumber hormon etilen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 hingga Februari 2014 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama, waktu aplikasi kedua, waktu aplikasi ketiga, dan waktu aplikasi keempat, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118, klon PB 260, klon klon IRR 42, klon IRR 39 dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, etephon ethrel, etephon SP1, ekstrak kulit pisang, dan ekstrak kulit nenas. Pengamatan parameter adalah volume lateks, kadar padatan total, dan total produksi.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Permasalahan karet Indonesia adalah rendahnya produktivitas dan mutu karet yang dihasilkan, khususnya oleh petani karet rakyat.MenurutSyakir et.al, 2010, hal ini disebabkan olehteknik budidaya dan sistem eksploitasi yang masih kurang baik. Sistem ekploitasi tanaman karet adalah sistem pengambilan lateks yang mengikuti aturan-aturan tertentu dengan tujuan memperoleh produksi tinggi.Bahan perangsang yang biasa dipakai untuk perangsangan dengan cara oles adalah stimulan. Penggunaan stimulan bertujuan untuk meningkatkan produksi lateks dan untuk menekan biaya eksploitasi.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, sementara ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, 50, 100, 150, dan 200 g stimulan etilen ekstrak kulit pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Dari hasil percobaan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dalam berbagai konsentrasi yang diaplikasikan pada dua klon quick starter didapati bahwa produksi karet mengalami penurunan pada penyadapan ke 2 dan ke 3. Hal ini diduga karena pada saat penelitian sedang berlangsung keadaan cuaca sedang musim kemarau, yang turut mempengaruhi kondisi tanaman karet. Musim kemarau mengakibatkan tanaman karet memasuki masa gugur daun yang mengganggu proses transpirasi tanaman sehingga produksi menjadi menurun. Ardika (2011) menyatakan bahwa pada saat terjadi gugur daun, kecenderungan penurunan produksi mulai terjadi. Pengguguran daun terjadi karena adanya respon alami dari dalam tubuh tanaman karena terbatasnya ketersediaan air tanah guna mengurangi terjadinya penguapan(transpirasi). Berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun Hujan Balai Penelitian Karet Sungai Putih Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang curah hujan mulai dari bulan November 2015 hingga Februari 2016 hanya sebesar 173 mm, sementara menurut Damanik, et al (2010) mengatakan bahwa tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.000-2.500 mm/tahun dengan hari hujan 100 s/d 150 HH/tahun yang merata sepanjang tahun.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, sementara ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, 50, 100, 150, dan 200 g stimulan etilen ekstrak kulit pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Sistem sadap pada budidaya karet terdiri dari intensitas sadap, panjang irisan sadap, frekuensi sadap dan stimulan (Junaidi dan Kuswanhadi, 1998). Sebagai contoh, panjang irisan sadap S/2 d/3 umum digunakan untuk klon PB 235, PB 260, RRIM 203, RRIM 527 dan PB 255 (Hong ,1989; Sumarmadji, 2000). Hal yang sama juga dilaporkan oleh Siregar et al., (2007) yang menyatakan bahwa untuk klon QS dirancang dengan panjang irisan S/4U ET 2.5%, sedangkan untuk klon SS dengan penyadapan irisan ganda (double cut) 2x S/4DU d3.ET2.5%.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

BPM 1 dan PB 260 belum menunjukkan cekaman eksploitasi yang berlebihan yang tercermin dari kadar tiol 0.30-0.48. Selama satu tahun pengujian pemberian semua perlakuan sistem eksploitasi pada klon BPM 1 dan PB 260 belum menunjukkan cekaman berlebihan yang tercermin dari kadar tiol pada kisaran 0,30 - 0,48.

4 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Kesalahan aplikasi stimulan dan sistem sadap karet, akan menimbulkan dampak terhadap produksi yang semakin menurun dan singkatnya umur ekonomi tanaman. Sumarmadji dan Atmaningsih, (2013) menyatakan kesalahan dalam sistem eksploitasi seperti panjang irisan dan frekuensi sadap, serta aplikasi stimulant dalam jangka panjang akan menurun produktivitas, sekaligus mempersingkat umur ekonomis. Penggunaan stimulan yang berlebihan dapat menginduksi penyimpangan proses metabolisme, seperti penebalan kulit batang, nekrosis, terbentuknya retakan pada kulit, dan timbulnya bagian tidak produktif pada irisan eksploitasi (Paranjothy et al., 1979). Pemakaian etepon yang melampaui kebutuhan juga mengakibatkan berhentinya aliran lateks yang disebabkan oleh koagulasi partikel karet yang dikenal dengan istilah KAS (Tistama 2009).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

3. Denah percobaan lokasi Kebun Sungei Putih, PT. Perkebunan Nusantara III di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian 25 m di atas permukaan laut dan jenis tanah Ultisol……………………………………………………………... 121 4. Kecepatan Aliran Lateks Lateks klon BPM1 dengan perlakuan sistem sadap pada bulan Basah……………………………..…… 122 5. Kecepatan Aliran Lateks Lateks klon BPM1 dengan perlakuan sistem sadapi pada bulan Kering………………………………… 123
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...