• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adaptasi Kelembagaan

Dalam dokumen Politik Layar Terkembang (Halaman 65-68)

ada masa periode kepemimpinan Ajib Shah, gerakan reformasi telah mulai berjalan di semua daerah tidak terkecuali di Sumatera Utara pada tahun 1997. Situasi politik nasional mengalami ketidakpastian, demonstrasi terjadi di Jakarta dan berbagai daerah. Pemerintahan Soeharto kemudian memerlukan dukungan politik dari lembaga-lembaga masyarakat, tidak terkecuali Pemuda Pancasila, untuk mempertahankan posisinya. Gerakan mendesak tuntutan agar Soeharto mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia terjadi puncaknya pada 21 Mei 1998. Setelah itu, guliran reformasi menjadi pembicaraan umum di masyarakat dan mengubah tatanan politik Orde Baru yang berlangsung sejak 32 tahun silam. Pada masa transisi itulah, Pemuda Pancasila mereposisi keberadaannya dari organisasi pemuda pendukung Orde Baru menjadi organisasi masyarakat yang independen.60

Kebijakan organisasi yang diputuskan secara nasional itu kemudian berlaku di daerah-daerah. Di Sumatera Utara proses perubahan dan penyesuaian di beberapa bidang organisasi berjalan secara normal. Materi perubahan yang paling penting adalah mengenai aspirasi politik Pemuda Pancasila yang tidak lagi diberikan kepada Golongan Karya dan membebaskan pilihan politik organisasi. Beberapa tokoh senior Pemuda Pancasila, terutama yang aktif di Golongan Karya, mulai harus menentukan sikap politik pribadinya akibat keputusan ini. Tidak lama setelah itu, beberapa tokoh Pemuda Pancasila mendeklarasikan berdirinya Partai Patriot Pancasila.

Seluruh anggota, simpatisan, kader, dan tokoh senior Pemuda Pancasila juga harus disosialisasikan mengenai keputusan organisasi. Di satu sisi, pendirian Partai Patriot Pancasila yang digagas oleh tokoh Pemuda Pancasila harus mendapatkan dukungan dari seluruh jajaran anggota organisasi Pemuda Pancasila. Tetapi, di sisi

       

60

Loren Ryter menjelaskan bahwa Pemuda Pancasila adalah organisasi terakhir yang menunjukkan loyalitasnya kepada rezim Soeharto. Lihat Ryter. 1998. Loc. Cit. 66, Oktober.

lain sikap independensi Pemuda Pancasila masih menjadi pedoman organisasi untuk tidak mendukung salah satu partai politik. Di samping itu, dinamika internal terkait dengan perkelahian anggota Pemuda Pancasila dengan Ikatan Pemuda Karya juga sering terjadi. Situasi tersebut juga membutuhkan perhatian serius bagi ketua DPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara saat itu, sehingga beban tugas yang harus diselesaikan oleh ketua wilayah menjadi bertambah.

Pada saat tugas konsolidasi organisasi harus dilakukan, sebagai keputusan baru pada awal-awal reformasi, justru pimpinan Pemuda Pancasila di Sumatera Utara mengundurkan diri. Mundurnya Ajib Shah sebagai ketua DPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara menjadi “catatan pinggir” tersendiri dalam sejarah organisasi Pemuda Pancasila Sumatera Utara. Pada masa kepemimpinan Ajib lah konsolidasi internal berjalan dan komunikasi dengan pihak eksternal semakin baik. Namun, pada masa kepemimpinannya juga, konflik kekerasan seperti perkelahian, penculikan, bahkan pembunuhan semakin sering terjadi khususnya antara anggota Pemuda Pancasila dengan Ikatan Pemuda Karya.

Berbagai macam sebab terjadinya perkelahian antara anggota organisasi itu mulai dari perebutan lahan atau daerah tertentu hingga hanya disebabkan pandangan mata. Tetapi, para pimpinannya masih bisa saling bertegur sapa dan duduk bersama di satu meja. Ketika itu pula tidak jarang aparat keamanan seperti unsur tentara melalui Komando Daerah Militer (Kodam) Bukit Barisan dan Kepolisian Daerah (Polada) Sumatera Utara memanggil pimpinan kedua organisasi untuk menertibkan para anggotanya. Motifnya selalu terkait dengan eksistensi organisasi yang bisa diraih di daerah tertentu untuk kepentingan anggota dan kelancaran program organisasi.

Ajib Shah dikenal sebagai sosok, yang karir organisasinya bermula dari Pemuda Pancasila, aktif sebagai kader Golkar dan pernah menjadi anggota DPRD Kota Medan dan terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dalam Pemilu 2009. Sebagai politisi Golkar, pada masa Orde Baru, tentu Ajib Shah memiliki jaringan yang luas terutama di kalangan ABRI saat itu. Untuk meminimalisir perselisihan dan perkelahian di antara anggota Pemuda Pancasila dan Ikatan Pemuda Karya banyak cara yang bisa dilakukan oleh Ajib Shah. Namun, keinginan untuk mengundurkan diri lebih besar ketimbang menyelesaikan satu periode kepemimpinan di Pemuda Pancasila.

Ajib Shah sendiri mengatakan bahwa pengunduran dirinya disebabkan karena ia ingin lebih berkonsentrasi untuk pengembangan usahanya di Jakarta sekaligus berkarir sebagai politisi di Partai Golkar.61 Pada saat itu pula, terjadi perubahan politik di Jakarta dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia dan melalui Musyawarah Besar (Mubes) Pemuda Pancasila tahun 1999 di Cikopo, Puncak, menyatakan bahwa Pemuda Pancasila sebagai organisasi independen dalam menyalurkan aspriasi politiknya.

Setelah Ajib Shah menyatakan pengunduran dirinya sebagai Ketua Presidium Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara, maka digelar musyawarah luar biasa (muswilub). Saat musyawarah itu berlangsung terpilihlah Donald Sidabalok sebagai ketua wilayah. Terpilihnya Donald juga mendapatkan dukungan dari pendukung Ajib Shah. Donald adalah figur yang bergabung di Pemuda Pancasila Sumatera Utara pada tahun 1982. Merantau di Jakarta dan bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Tanjung Periok pada tahun 1977, Donald sudah mengenal Pemuda Pancasila, dan sekembalinya ke Medan menjadi Ketua Ranting Pemuda Pancasila di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan. Sejak muda kehidupan jalanan yang keras telah dikenal oleh Donald, karena itu pula tidak sulit baginya untuk beraktivitas di Pemuda Pancasila. Karir organisasi di Pemuda Pancasila dijalaninya mulai dari pimpinan tingkat ranting hingga provinsi. Pada tahun 1997 pernah menjadi salah satu calon ketua Dewan Pimpinan Cabang Kota Medan, tapi kalah dalam pemilihan.

Selain aktif di Pemuda Pancasila, profesi Donald sehari-harinya adalah wartawan. Sebagai jurnalis, tentu banyak hal yang bisa dikerjakan oleh Donald terutama untuk memberitakan peristiwa yang harus diberitakan di media lokal atau justru menghindarinya dari pemberitaan. Di samping itu, Donald juga tidak tertarik untuk berprofesi sebagai politisi meskipun Golkar dan Partai Patriot Pancasila – pada waktu itu – menawarinya untuk menjadi calon anggota legislatif. Atas dasar itu pula, pencalonan Donald sebagai Ketua Wilayah Pemuda Pancasila dalam Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) Pemuda Pancasila Sumatera Utara tidak memiliki penolakan dari para pemilik suara di Pemuda Pancasila.

       

61

Keterangan diperoleh dari wawancara dengan Ajib Shah, 20 Oktober 2011, di kantor DPRD Provinsi Sumatera Utara, pukul 12.30 Wib.

Pada masa kepemimpinan Donald, kekerasan di lapangan seperti soal judi, perebutan lahan, penguasaan perparkiran semakin meningkat. Pertentangan Pemuda Pancasila dengan organisasi Ikatan Pemuda Karya (IPK) hampir setiap hari terjadi di antara anggota kedua organisasi itu. Di kalangan anggota organisasi, Donald, dikenal sebagai sosok pemimpin yang selalu memperhatikan anggotanya ketika berhadapan dengan penegak hukum seperti polisi atau anggota TNI. Oleh karena kedekatannya dengan anggota Pemuda Pancasila dan para pengurus pusat di Jakarta, beliau terpilih kembali dalam Musyawarah X, yang berlangsung pada 26-27 Juni 2002 di Sibolga, sebagai Ketua Wilayah Pemuda Pancasila Provinsi Sumatera Utara.

Pada periode kedua kepemimpinanya, Donald mulai dituntut untuk bisa menyesuaikan proses transformasi dari perubahan politik yang terjadi di Indonesia. Proses transformasi itu menyebutkan bahwa Pemuda Pancasila bukan lagi disebut

sebagai organisasi yang berorientasi kepemudaan melainkan organisasi

kemasyarakatan. Selain itu, aspirasi politik dari Pemuda Pancasila bukan lagi disalurkan ke Partai Golongan Karya, namun membebaskan anggotanya untuk menentukan pilihan partai politik apapun yang sesuai dengan keinginannya.62 Atas dasar kebijakan strategis organisasi ini, maka tuntutan dari beberapa tokoh penting Pemuda Pancasila pun semakin kuat kepada Donald Sidabalok agar menjaga organisasi tetap independen dari kekuatan apapun. Donald pun tetap merespons itu sebagai bentuk tanggung jawab kepemimpinannya terutama pada saat digelarnya musyawarah cabang sebagai bentuk konsolidasi organisasi untuk tetap menjaga independensinya.

Dalam dokumen Politik Layar Terkembang (Halaman 65-68)