• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan yang Terbelah

Dalam dokumen Politik Layar Terkembang (Halaman 55-58)

Konstelasi organisasi pemuda di Sumatera Utara sedikit berbeda dengan sebagian besar kota lain di Indonesia. Pada masa Orde Baru, sudah menjadi rahasia umum bahwa kekuasaan organisasi pemuda berakar dari kedekatan mereka dengan komandan militer lokal. Perlindungan militer yang terbesar diberikan kepada Pemuda Pancasila ketimbang organisasi pemuda lainnya di Sumatera Utara. Hal ini memungkinkan mereka untuk menjalankan segala aktivitas yang menguntungkan

       

55

karena mendapat perlindungan dari militer. Saat militer mengalami kesulitan untuk mengendalikan aktivitas Pemuda Pancasila berkaitan dengan keuntungan ekonomi, maka harus ada penyeimbang organisasi pemuda lainnya yang dibentuk oleh kalangan tentara sendiri.

Oloan Panggabean, yang sering disapa Olo, adalah anggota Pemuda Pancasila yang memiliki bisnis perjudian di kota Medan dipilih oleh beberapa petinggi militer sebagai figur yang mampu menandingi kekuatan Pemuda Pancasila. Sejak akhir tahun 1970, Olo pernah mengajak Ucok Majestik untuk ikut memberikan dukungan bisnis judi yang dikelola dengan beberapa temannya. Ketika itu, Olo pun kemudian menawarkan imbalan yang cukup besar kepada Ucok Majestik berupa uang yang akan diterima setiap bulan jika bersedia memberikan jaminan keamanan dari masyarakat.56

Setelah berdiri IPK (Ikatan Pemuda Karya) tahun 1987, Pemuda Pancasila sepertinya mendapatkan saingan dalam sumber kehidupan yang berada di jalanan seperti pengusaan areal/lahan atau wilayah untuk mendapatkan uang. Wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh anggota Pemuda Pancasila, tetapi harus berbagi dengan anggota IPK. Perebutan penguasaan wilayah pun terjadi hingga menimbulkan benturan kekerasan fisik seperti perkelahian, penculikan, bahkan pembunuhan. Pertikaian yang terjadi pada umumnya berada di tempat yang banyak menghasilkan uang, misalnya lahan parkir kendaraan, pasar atau tempat pedagang yang banyak berjualan dan pusat-pusat perbelanjaan.

Selain karena penguasaan lahan, pertikaian terjadi karena alasan mempertahankan eksistensi organisasi masing-masing. Masing-masing anggota IPK dan Pemuda Pancasila harus menjatuhkan pihak lawan dan harus menang di setiap perlawanan. Kemenangan di setiap pertikaian akan dianggap sebagai kemenangan organisasi dan kelompok yang menang akan disegani pihak lain. Anggota dari kedua organisasi ini apabila terkena musibah seperti kena bacok, tikaman atau meninggal dunia akan mendapatkan bantuan dana dari organisasinya masing-masing. Loyalitas anggota dari satu kelompok akan terlihat saat mereka dihadapkan pada satu masalah

       

56

Wawancara dengan Yan Paruhuman Lubis atau Ucok Majestik (Pini Sepuh Pemuda Pancasila), 5 November 2011, pukul 15.05 Wib di rumah pribadinya, Perumnas Helvetia Medan. Ucok Majestik dengan tegas menolak tawaran Olo Panggabean dengan alasan yang lebih disebabkan karena pertimbangan agama dan keinginan Ucok Majestik untuk membina generasi muda di Kota Medan yang bebas dari unsur judi.

yang besar dan membawa-bawa nama organisasi. Maka saat itulah rasa kebersamaan muncul.

Penyebab lain dari pertikaian antara IPK dan Pemuda Pancasila adalah karena rebutan lahan pekerjaan. Adanya kecemburuan dan sakit hati dari para anggota IPK yang banyak dipekerjakan menjadi penjaga pabrik dan satuan pengaman di perusahaan yang ada di sekitar kota Medan. Akibatnya, anggota Pemuda Pancasila menjadi tersaingi oleh kehadiran anggota IPK dan merasa sakit hati karena kehadiran anggota dari kelompok lain yang mengambil tempat kerjanya. Banyak anggota Pemuda Pancasila yang berpindah ke IPK karena merasa tidak diperhatikan oleh pimpinan organisasi dan akhirnya menggembosi keberadaan organisasi Pemuda Pancasila.

Dampak dari pertikaian antara IPK dan Pemuda Pancasila menyebabkan masyarakat menjadi antipati atau benci dan merasa ketakutan terhadap keberadaan kedua organisasi ini. Sering terjadi apabila ada keributan atau perkelahian, masyarakat yang selalu memberikan informasi kepada pihak keamanan agar cepat mengambil tindakan yang dianggap dapat meredam keributan tersebut. Beberapa kelompok masyarakat telah membuat kesepakatan di antara mereka, apabila aparat keamanan tidak dapat mengambil tindakan tegas maka masyarakat yang akan bertindak untuk melawan kelompok pemuda yang telah menimbulkan keonaran dan kekacauan di sekitar daerah mereka tinggal ataupun daerah tempat mereka berjualan.57

Olo Panggabean yang low profile, pemimpin IPK yang lama berkuasa, dikenal, disegani dan ditakuti di Sumatera Utara (di Medan selalu dipuja-puja oleh lingkaran orang dalamnya). Kedudukannya dalam masyarakat diperkuat dengan semacam tindakan amal untuk orang-orang yang tidak mampu. Di bawah kepemimpinan Olo, demikian dia biasa dikenal, IPK bahkan segera menjadi organisasi yang sama kuatnya dengan Pemuda Pancasila yang ditinggalkannya tahun 1978. Anggota lapisan bawah dan menengah dari kedua organisasi ini secara rutin terlibat dalam persaingan brutal untuk memperebutkan kendali atas dunia kekerasan di Medan. Ironisnya, sementara anggota lapisan bawah dan menengahnya bertarung, pemimpin puncaknya malah muncul sebagai sekutu yang akrab di tubuh Golkar.

       

57

Beberapa penyebab pertikaian kedua organisasi pemuda itu dapat dibaca di tulisan Nina Karina. 2008. “Dinamika Sosial Politik Organisasi Pemuda Pancasila di Sumatera Utara”. Tesis. Magister Studi Pembangunan FISIP USU. Medan. hal. 105.

Meskipun Olo telah menyerahkan posisi puncak IPK kepada kader kepercayaannya, namun ia masih dianggap sebagai ‘godfather’ utama kota Medan hingga akhir hayatnya tahun 2008.58

Hubungan Pemuda Pancasila dan IPK dengan militer memungkinkan mereka untuk menjalankan aktivitas yang sangat menguntungkan secara ekonomi. Melalui penguasaan beberapa sektor ekonomi di Sumatera Utara, kedua organisasi pemuda tersebut memiliki dukungan dana untuk melakukan kegiatan organisasi. Perubahan kedudukan militer sejak reformasi tidak berarti juga memutuskan keterkaitan ini. Pada satu kesempatan, polisi membalas pembunuhan salah satu anggota kesatuannya oleh IPK dengan cara menembaki rumah kediaman Olo. Namun, polisi “ditegur” oleh pihak militer atas perintah bos dunia kriminal itu.59

Dalam dokumen Politik Layar Terkembang (Halaman 55-58)