• Tidak ada hasil yang ditemukan

Advokasi Berbasis Data Kesejahteraan Lokal Desa

Secara umum advokasi adalah aksi-aksi sosial, politik, dan kultural yang dilakukan secara sistematis dan terencana untuk mengubah kebijakan publik dalam rangka melindungi hak-hak rakyat dan menghindari bencana buatan manusia. Menurut sosiologi, aksi berbeda dengan perilaku. Aksi mengandung tujuan dan dilakukan secara sadar. Sedangkan perilaku bisa terjadi tanpa tujuan dan tanpa sadar (Abercrombie et.al. 1988:2). Advokasi mengajak masyarakat untuk menjadi subyek dalam perubahan sosial, serta turut mengendalikan perkembangan yang terjadi pada diri mereka.

Meskipun advokasi ditujukan ke arah perubahan pada kebijakan, bukan berarti advokasi adalah melawan atau menyerang pihak pembuat kebijakan. Perlu diingat bahwa dalam advokasi yang dibutuhkan adalah aliansi. Semakin besar dukungan semakin baik. Pendekatan dilakukan dengan menyampaikan bukti termasuk hasil riset mengenai isu yang dimunculkan.

Salah satu desa yang melakukan pemetaan kesejahteraan ber- dasarkan indikator lokal pada tahun 2015 adalah Gumelem Kulon. Namun di tahun 2016, dari 3 desa dampingan Infest Yogyakarta di Kabupan Banjarnegara, hanya Gumelem Kulon yang memanfaatkan data kesejahteraan lokal sebagai basis data perbaikan daftar penerima bantuan iuran dan bantuan lainnya. Data kesejahteraan lokal dinilai Pemdes dan warga sebagai data yang cukup valid karena dihasilkan dari rangkaian proses pendataan partisipatif berdasarkan kolaborasi elemen yang ada di desa. Meskipun dimotori oleh kelompok perempuan tapi dalam pelaksanaan pendataan tetap merangkul warga lainnya melalui

kolaborasi kelompok perempuan, warga, pemuda, BPD, perangkat pemerintahan desa, dan kelembagaan lain di Gumelem Kulon.

Advokasi jaminan kesehatan yang dilakukan oleh komunitas perempuan pembaru Desa Gumelem Kulon berbasis data kesejahteraan lokal. Data ini dihasilkan secara partisipatif oleh kelompok perempuan bersama warga dan perangkat desa. Mereka merumuskan kesepakatan indikator lokal untuk data kesejahteraan di desa. Data kesejahteraan lokal atau data kemiskinan di desa ini dilakukan secara partisipatif. Alasannya, pendataan ekonomi, kemiskinan, maupun pendataan lain sebelumnya tak valid. Hal ini terindikasi dari banyaknya kesalahan pada data kemiskinan yang digunakan untuk pembagian bantuan sosial semisal penerima bantuan iuran jaminan kesehatan, pembagian bantuan beras untuk kelompok miskin, dan pemberian bantuan langsung tunai. Selain itu desa juga tidak pernah memiliki data yang telah mereka kerjakan. Data yang telah dikumpulkan oleh desa kebanyakan disetorkan kepada lembaga supradesa terkait, seperti Badan Pusat Statistik. Posisi desa selama ini semata sebagai pendata atau petugas sensus, sementara penyelenggara pendataan adalah lembaga lain dari luar desa atau supradesa.

Oleh karena itu, tiga desa di Kabupaten Banjarnegara secara partisipatif melakukan pemetaan kesejahteraan berdasarkan indikator lokal desa. Dalam pemetaan kesejahteraan lokal, warga mendefinisikan serta merumuskan sendiri indikator-indikator kesejahteraan. Tujuan pendataan ini untuk memahami suara masyarakat tentang masalah yang dihadapi dan mengakomodasinya dalam perumusan kebijakan di desa. Pemetaan kesejahteraan di desa juga merupakan salah satu media diagnosis kesejahteraan dan strategi penanggulangannya.

Dalam proses pemetaan kesejahteraan lokal, kelompok perempuan ini melalui beberapa tahapan kegiatan. Pertama, Musdes persiapan pemetaan kesejahteraan lokal. Musdes ini telah melibatkan perwakilan kelompok perempuan yang ada di desa, perangkat pemerintahan, dan kelembagaan desa, pemuda karang taruna, tokoh agama, dan tokoh masyarakat desa.

Hal-hal yang dibahas dalam musdes adalah pentingnya pendataan kesejahteraan berdasarkan indikator lokal secara partisipatif berbasis pada kepala keluarga, kesepakatan indikator kesejahteraan lokal, baik indikator utama maupun sub-indikator, serta klasifikasi kesejahteraan (kaya, sedang, miskin, dan sangat miskin), dan instrumen survei kesejahteraan lokal. Kedua, Musdes pembentukan tim pendata dan petugas entri data yang mengikutsertakan kelompok perempuan serta perangkat pemerintahan dan kelembagaan desa. Ketiga, persiapan pelaksanaan pendataan kesejahteraan lokal oleh tim pendata yang sudah dibentuk. Keempat, pelaksanaan pendataan berbasis kepala keluarga. Kelima, proses entri data secara bertahap hingga rekapitulasi hasil pendataan kesejahteraan. Keenam, musyawarah desa hasil pendataan kesejahteraan lokal. Ketujuh, verifikasi hasil pendataan kesejahteraan lokal. Kedelapan, menarasikan laporan hasil pendataan kesejahteraan lokal yang di dalamnya berisi rekomendasi usulan untuk RPJMDesa.

Di Gentansari, disepakati 7 indikator utama dan 25 subindikator. Ketujuh indikator utama itu meliputi pendapatan, lahan, rumah, kendaraan, pendidikan, tanggungan, dan penerangan. Di Gumelem Kulon, disepakati 11 indikator utama dan 28 subindikator. Di Jatilawang, disepakati 12 indikator utama dan 31 subindikator. Dalam proses menyepakati indikator, ibu-ibu di desa bekerja lebih jeli dan detil. Dalam proses pendataan perempuan lebih cepat menyelesaikannya dibanding kaum lelaki yang sering menunda- nunda waktu. Di Gumelem Kulon, dari 65 petugas sensus, 57 orang di antaranya perempuan. Begitu pun di Gentansari dan Jatilawang, kelompok perempuan lebih dominan dibandingkan dengan laki- laki. Pendataan kesejateraan lokal juga berbasis jumlah kepala keluarga, bukan jumlah rumah tangga. Dibandingkan data Badan Pusat Statistik, hasil data kesejahteraan lokal dinilai warga lebih valid dan sesuai dengan kondisi warga desa. Hal ini bukan hanya karena indikator kesejahteraan ditentukan sendiri oleh warga, tapi juga dalam

prosesnya terkonfirmasi oleh responden, keluarga, tetangga, dan ketua RT. Sehingga kemungkinannya sangat kecil ketika ada warga yang menyembunyikan informasi terkait kekayaannya dan lain-lain.

Komunitas Perempuan Pembaharu Desa di wilayah Banjarnegara, yang memanfaatkan data kesejahteraan lokal sebagai bahan rujukan penyusunan RPJMDesa dan basis data advokasi kesehatan hanya Komunitas Perempuan Pembaharu Desa di Gumelem Kulon sejak awal tahun 2016. Sementara dua desa lainnya baru memanfaatkan data kesejahteraan lokal sebagai bahan rujukan penyusunan RPJMDesa dan program bantuan lain yang ada di desa. Sebagai basis data advokasi jaminan kesehatan bagi kelompok rentan di desa, warga tidak perlu khawatir pendataan yang mereka lakukan tidak diterima. Karena dasar hukum pemetaan kesejahteraan lokal ini sudah jelas, yaitu UU Desa, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa dan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 tentang Kewenangan Desa. Salah satu tujuan pengaturan desa oleh UU Desa adalah meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat desa guna mempercepat perwujudan kesejahteraan umum. Artinya, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat harus ada pemenuhan hak-hak dasar manusia yang bermartabat. Tujuan ini penting dan harus menjadi perhatian karena faktanya masih banyak anggota masyarakat, terutama di desa, yang hidup dalam kemiskinan yang bersifat multidimensional dan multisektor.

Dengan demikian, permasalahan kemiskinan perlu penanganan yang serius dari berbagai pihak. Sementara salah satu problem besar setiap peluncuran program bantuan kemiskinan adalah protes masyarakat akibat dari penggunaan data penduduk atau rumah tangga miskin yang tidak valid, tidak objektif, dan tidak partisipatif. Permendagri Nomor 114 Tahun 2014 mengatur bahwa desa memiliki kewenangan untuk melakukan pendataan. Kewenangan itu masuk dalam bidang penyelenggaraan pemerintahan desa. Sebelum UU

Desa berlaku, kewenangan itu menjadi tugas bantuan dari supradesa. Setelah pendataan menjadi kewenangan desa, desa akan membuat prioritas program berdasarkan kebutuhan masyarakat. Salah satunya peningkatan kualitas dan akses terhadap pelayanan dasar. Dari berbagai upaya penanggulangan kemiskinan, data memiliki peran yang sangat penting karena merupakan pijakan dalam perumusan kebijakan desa.

Dengan data yang valid, hal itu diharapkan meningkatkan kualitas kebijakan publik dan rasa keadilan masyarakat. Maka penting bagi desa untuk melakukan pemutakhiran data kemisikinan. Dengan pertimbangan tersebut, solusinya adalah pemetaan kesejahteraan lokal. Hasilnya, pangkalan data kesejahteraan lokal sebagai dasar pengambilan kebijakan di tingkat desa. Data tersebut juga bisa menjadi perbaikan data penerima Kartu Perlindungan Sosial yang selama ini masih menggunakan hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011.

Perubahan data penerima bantuan iuran (PBI) untuk Jaminan Kesejahteraan Nasional secara umum mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesejahteraan Nasional. Ruang validasi, pemeriksaan kembali, dan pengusulan penerima baru PBI diatur di tingkat desa melalui musyawarah desa (musdes). Mekanisme Sistem Pengaduan Masyarakat (Sisdumas) mengakui keberadaan data lokal yang dapat digunakan untuk memverifikasi penerima PBI di tingkat desa dan kabupaten.

Di Kabupaten Banjarnegara, pelaksanaan pemetaan kesejahteraan lokal yang digerakkan oleh Komunitas Perempuan Pembaharu Desa ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (KPMD) Banjarnegara dan tiga pemerintah desa; Gumelem Kulon, Gentansari, dan Jatilawang. Pemetaan kesejahteraan berdasarkan indikator lokal desa juga menjadi pembelajaran di tingkat kabupaten dalam rangka penanggulangan kemiskinan di Banjarnegara. Data-data partisipatif

tersebut kemudian dijadikan rujukan sebagai bahan penyusunan RPJMDesa berbasis data dan usulan kelompok Marginal. Data-data tersebut, di tiap desa pada umumnya ditetapkan oleh Pemdes melalui peraturan desa tentang kewenangan desa sebagai turunan dari peraturan bupati tentang kewenangan desa. Namun dalam konteks desa-desa di Kabupaten Banjarnegara, saat ini masih dalam proses penyusunan rancangan Perdes belum mendapatkan dukungan dari peraturan bupati tentang kewenangan desa berdasarkan hak asal usul dan lokal berskala desa. Hal ini karena di tingkat kabupaten masih dalam proses perancangan Perbup, justru dari pembelajaran pengorganisasian di tiga desa ini turut mempengaruhi Pemkab dalam penyusunan Perbup. Sehingga berdasarkan praktik tahun 2015 di tiga desa ini, Perbup mulai dirancang sejak tahun 2016. Kendati demikian dalam prosesnya terkendala persoalan sosial politik, apalagi Pemerintah Banjarnegara tengah sibuk mempersiapkan pemilihan kepala daerah.

Perbup bukan harga mati. Meski belum ada peratuan bupati, Kepala Desa dan BPD dapat menambah jenis kewenangan sesuai dengan prakarsa masyarakat, kebutuhan, dan kondisi lokal desa. Selanjutnya kepala desa menetapkan peraturan tentang kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. Dalam struktur yuridis hukum positif di Indonesia, perbup kewenangan desa diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan rujukan bagi desa untuk membuat peraturan desa tentang kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. Faktanya, sebagian besar bupati belum menetapkan perbup itu sehingga terjadi kekosongan hukum di tingkat kabupaten. Termasuk data yang dihasilkan oleh warga, meskipun belum ada perbup kewenangan, namun berdasarkan kesepakatan dan penetapan dalam Musdes, maka desa tetap menetapkan data kesejahteraan lokal melalui perdes kewenangan. Praktik ini tidak hanya di Banjarnegara, namun juga di sejumlah daerah lain khususnya daerah-daerah dampingan Infest Yogyakarta.

Karena proses pendampingan tidak hanya dilakukan di tingkat desa tapi juga di tingkat kabupaten.

Strategi Advokasi Komunitas Perempuan